• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of EVALUASI PUPUK NITROGEN LEPAS LAMBAT PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of EVALUASI PUPUK NITROGEN LEPAS LAMBAT PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

http://jtsl.ub.ac.id 95

EVALUASI PUPUK NITROGEN LEPAS LAMBAT PADA TANAMAN JAGUNG ( Zea mays L.)

Evaluation of Slow Release Nitrogen Fertilizers for Corn ( Zea mays L.)

Dwi Ulya Agustina, Fahmi Arief Rahman, Slamet Supriyadi

*

, Catur Wasonowati

Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura

* Penulis korespondensi: [email protected]

Abstrak

Pupuk lepas lambat mampu menyediakan unsur hara dengan lebih efisien, unsur hara dilepaskan dan tersedia secara perlahan sehingga berpotensi untuk diserap oleh tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa pupuk N lepas lambat terhadap pertumbuhan dan hasil jagung (Zea mays L.) di tanah berpasir. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan acak lengkap non faktorial. Perlakuan yang diberikan ada 6 taraf yaitu P0 (pupuk urea uncoated, diaplikasikan dalam satu kali aplikasi), P1 (pupuk urea uncoated, dibagi tiga kali aplikasi), P2 (pupuk urea dengan salut bentonit), P3 (pupuk urea dengan salut biochar), P4 (pupuk urea berlapis batubara), dan P5 (pupuk urea berlapis kompos biochar), semua pupuk urea lapis diaplikasikan satu kali pada awal pertumbuhan jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk N lepas lambat tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang tongkol, diameter, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji, umur bunga. Pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 42 HST, jumlah daun pada umur 14 HST dan 56 HST, serta luas daun pada umur 28 HST dan 56 HST. Seluruh pupuk urea terlapis sama efektifnya dengan pupuk urea tidak terlapisi terhadap pertumbuhan dan pertumbuhan tanaman. hasil jagung.

Kata kunci : jagung, tanah berpasir, pupuk N slow release

Abstract

Slow-release fertilizer can provide nutrients more efficiently; nutrients are released and available slowly so that they have the potential to be absorbed by plants. This study aimed to investigate the effects of several slow-release N fertilizers on the growth and yield of corn (Zea mays L.) in sandy soil. This research was carried out in the greenhouse and laboratory of the Faculty of Agriculture, University of Trunojoyo Madura. The experiment was arranged on a non-factorial completely randomized design. There were six treatment levels, namely P0 (uncoated urea fertilizer, applied into one application), P1 (uncoated urea fertilizer, split into three times applications), P2 (urea fertilizer with bentonite coating), P3 (urea fertilizer with biochar coating), P4 (urea fertilizer with coal coating), and P5 (urea fertilizer with biochar compost coating). All coated urea fertilizers were applied one time at the early growth of corn. The results showed that the application of slow-release N fertilizer had no significant effect on plant height, number of leaves, leaf area, cob length, diameter, plant fresh weight, plant dry weight, seed weight per plant, 100 seed weight, and flower age. However, the application of slow-release N fertilizer had a very significant effect on plant height at 42 DAP, the number of leaves at 14 DAP and 56 DAP, and leaf area at 28 DAP and 56 DAP. All coated urea fertilizers were as effective as uncoated urea on the growth and yield of corn.

Keywords: corn, sandy soil, slow-release N fertilizer

(2)

http://jtsl.ub.ac.id 96

Pendahuluan

Unsur N merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak.

Kebutuhan N tanaman dipenuhi dengan pemberian pupuk urea (CO(NH2)2, dengan kandungan N 46%

(tertinggi diantara pupuk N lainnya), hal ini berarti di dalam 100 kg pupuk urea terdapat sebanyak- banyaknya 46 kg nitrogen (Beig et al., 2020). Urea memiliki kekurangan yaitu urea bersifat higroskopis dan mudah mengalami perubahan fisik sehingga efisiensi pemupukannya kurang baik dan mudah hilang (Pranata et al., 2020). Ada tiga hal yang menyebabkan hilangnya nitrogen dari tanah yaitu nitrogen dapat hilang karena tercuci bersama air drainase, penguapan, dan diserap oleh tanaman.

Kehilangan nitrogen melalui penguapan mencapai 70% tergantung pada KTK tanah dan tinggi genangan (Yuliani et al., 2017). Tingginya kehilangan N dari urea kemungkinan disebabkan oleh hidrolisis cepat yang dikatalisis oleh urease (Zuraida, 2014), sehingga ketersediaan N tidak sinkron dengan serapan tanaman, akibatnya N hilang lewat pencucian atau penguapan. Apabila tidak ada kemajuan teknologi untuk mengatasi hal tersebut dapat berpotensi mengganggu ketahanan pangan, salah satunya produksi jagung.

Produksi Jagung (Zea mays L.) sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara terutama nitrogen (N). Kebutuhan N tanaman jagung biasanya dipenuhi dengan pemupukan N dari urea. Namun, pada kenyataannya sebagian besar nitrogen dalam urea tidak dapat diserap oleh tanaman dan hilang berupa gas (Trenkel, 2010). N mudah tercuci dalam bentuk nitrat (NO3-), menguap ke udara dalam bentuk gas amoniak (NH3), dan emisi N2O yang akan memberikan dampak terhadap lingkungan (Wulan dan Maharani, 2017).

Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi serapan N adalah dengan membuat pupuk N dalam bentuk pupuk N lepas lambat. Pupuk lepas lambat mampu menyediakan hara secara lebih efisien, yaitu unsur hara terlepas dan tersedia secara perlahan sehingga lebih berpotensi diserap oleh tanaman.

Penggunaan pupuk urea slow release (sagu-abu sekam padi-urea) berpengaruh nyata terhadap tinggi, diameter batang, serapan N dan efisiensi serapan N tanaman jagung (Zuraida, 2014).

Bahan pelapis yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentonit, biochar, batubara muda, dan kompos biochar dengan perekat amilum. Amilum digunakan sebagai perekat karena amilum memiliki daya rekat yang kuat sehingga mengurangi pelepasan nutrisi ke tanah (Deri et al., 2020). Bahan pelapis

bentonit sebagai adsorben anorganik karena memiliki kemampuan untuk menukar kation dengan permukaan tanah yang bersifat hidrofilik, sehingga mampu meningkatkan ketersediaan K-dd dan Na-dd (Rahman et al., 2022). Biochar dapat mempengaruhi sifat fisik tanah dengan meningkatkan kapasitas menahan air, sehingga dapat mengurangi run-off dan pencucian unsur hara. Selain itu, amandemen biochar juga dapat memperbaiki struktur tanah, porositas, struktur agregat tanah (Safitri, 2018), meningkatkan C organik tanah dan pertumbuhan tanaman jagung (Supriyadi et al., 2023). Bahkan residu biochar berpengaruh nyata terhadap peningkatan N total, C organik, KTK tanah dan serapan N jagung (Supriyadi et al., 2023). Batu bara muda dapat menghasilkan asam humat yang dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman (Restida et al., 2014). Asam humat mampu meningkatkan ketersediaan dan pengambilan unsur hara bagi tanaman melalui kemampuannya mengikat, menjerap dan mempertukarkan unsur hara dan air sehingga unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk proses metabolisme enzimatis maupun penyusunan jaringan berada dalam jumlah yang cukup (Hermanto et al., 2013). Kompos biochar memiliki karakteristik biochar dan kompos kemungkinan mampu mengontrol pelepasan unsur hara N akibat reaksi kimia, fisika dan biologi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa pupuk N lepas lambat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L.) di tanah berpasir.

Bahan dan Metode

Tempat dan waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2022 hingga Januari 2023, kegiatan penelitian dilakukan di green house dan di Laboratorium Pengujian Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura yang yang terletak pada ketinggian ± 5 m dpl.

Rancangan percobaan

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 6 taraf perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 24 unit percobaan. Perlakuan dalam penelitian meliputi pupuk urea tanpa pelapis dengan satu kali pengaplikasian (P0), pupuk urea tanpa pelapis dengan tiga kali pengaplikasian (P1), pupuk urea dengan pelapis bentonit (P2), pupuk urea dengan pelapis biochar (P3), pupuk urea dengan pelapis batubara (P4), pupuk urea dengan

(3)

http://jtsl.ub.ac.id 97 pelapis kompos biochar (P5). Analisis data

menggunakan analysis of variance (ANOVA) taraf α 5% dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf α 5%.

Pelaksanaan

Persiapan bahan pelapis pupuk dilakukan dengan cara menghaluskan bahan pelapis (bentonit, biochar, batubara muda, dan kompos biochar), kemudian mengayak bentonit dengan ayakan ukuran 0,5 mm agar mendapatkan hasil yang seragam.

Proses pelapisan pupuk dilakukan secara manual dengan cara bahan perekat dilarutkan sesuai dengan konsentrasi dengan pelarut aquadesilata dan diaduk merata kemudian dipanaskan sampai mengental. Setelah itu, bahan pelapis benih berupa bentonit, biochar, kompos biochar dan batubara muda dengan konsentrasi 2,5 g ditambahkan dan dicampurkan pada pupuk urea dengan konsentrasi 4 g dan perlakuan (Njudi et al., 2020). Bahan perekat dimasukkan ke dalam pupuk yang sudah diberikan bahan pelapis sambil diaduk hingga tercampur merata, kemudian dilakukan penambahan bahan pelapis dan dicampurkan secara merata. Pupuk yang telah dilapisi kemudian dikeringkan dalam oven dengan suhu 50 ̊C selama 2 jam. Media tanam yang digunakan adalah tanah pasir. Tanah dikeringanginkan, diayak menggunakan ayakan lolos 2 mm. Tanah selanjutnya dimasukkan kedalam pot berdiameter 40 cm sebanyak ±15 kg untuk tanaman jagung. Selanjutnya pemeliharaan mulai dari penyiraman sesuai dengan kebutuhan kapasitas lapang, penjarangan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pemupukan. Dosis pemupukan jagung yang digunakan berdasarkan rekomendasi Badan Litbang Pertanian (2020) yaitu pupuk urea 300 kg ha-1 (4 g tanaman-1) yang diberikan dalam bentuk pupuk

urea Slow Release (pupuk N lepas lambat). Dosis pupuk SP-36 yaitu 70 kg ha-1 (2 g t naman-1), dosis pupuk KCl yaitu 75 kg ha-1 (1 g tanaman-1), dan dosis pupuk phonska 135 kg ha-1 (2 g tanaman-1).

Pemupukan urea dengan pelapis, pupuk phonska, pupuk SP-36, dan pupuk KCl pada tanaman jagung dilakukan sebanyak satu kali yaitu pada saat tanaman berumur 10-15 HST. Pemupukan urea tanpa pelapis dilakukan sebanyak satu kali dan tiga kali, pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 10-15 HST, pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 30-35 HST, dan pemupukan ketiga dilakukan pada saat tanaman berumur 40-45 HST.

Pengamatan yang dilakukan meliputi tinggi tanaman, jumlah dan luas daun, panjang tongkol, diameter tongkol, umur muncul bunga, bobot basah dan kering tanaman, bobot biji per tanaman, dan berat 100 biji. Analisis data dilakukan setelah semua data parameter diperoleh menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk parameter berpengaruh nyata pada taraf α 5%.

Hasil dan Pembahasan

Tinggi tanaman

Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 14-84 HST, namun berpengaruh nyata pada umur 42 HST.

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada umur 42 HST rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan P1, yaitu 177,50 cm, yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan P5 namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman meningkat seiring bertambahnya umur tanaman.

Tabel 1. Rerata tinggi tanaman jagung akibat pemberian pupuk N lepas lambat.

Perlakuan Tinggi Tanaman (cm tanaman-1)

14 HST 28 HST 42 HST 56 HST 70 HST 84 HST

P0 49,13 116,13 168,13 a 189,75 212,50 218,00

P1 53,38 110,50 177,50 a 201,38 208,75 214,25

P2 52,50 110,50 175,75 a 201,75 214,13 220,00

P3 47,88 104,25 170,63 a 202,75 210,13 216,25

P4 46,00 98,25 160,00 ab 180,75 190,00 195,38

P5 49,88 96,50 141,50 b 174,13 195,75 202,75

tn tn * tn tn tn

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf α=5%, * = berpengaruh nyata, tn = berpengaruh tidak nyata.

(4)

http://jtsl.ub.ac.id 98 Pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata

terhadap parameter tinggi tanaman, tetapi pada saat tanaman jagung berumur 42 HST pupuk N lepas lambat dengan bahan pelapis kompos biochar (P5) berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman yang mana rerata tertinggi terdapat pada P1 (Tabel 1).

Made (2010) menambahkan bahwa tersedianya nitrogen yang cukup dapat menyebabkan adanya keseimbangan rasio antara daun dan akar sehingga pertumbuhan vegetatif berjalan normal dan sempurna. Unsur N merupakan unsur yang berperan dalam pembentukan klorofil yang berperan dalam aktivitas fotosintesis pada daun.

Jumlah daun

Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada umur 21-84 HST, namun berpengaruh nyata pada umur 14 dan 56 HST. Pada umur 14 HST rata-rata jumlah daun tertinggi pada perlakuan P0, yaitu 5,13 helai, yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan P4 dan P5 namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Umur 56 HST rata-rata jumlah daun tertinggi pada

perlakuan P0, yaitu 13,88 helai, yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan P4 namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena antara pupuk N yang di lapisi dan pupuk N yang tidak dilapisi memiliki efek yang sama pada tanaman yaitu mampu memenuhi kebutuhan N pada tanaman jagung, namun pada pupuk N yang dilapisi terdapat sisa (residu) di tanah dan proses pelepasannya menjadi lambat tersedia. Tersedianya N yang tinggi bagi tanaman akan mendorong pertumbuhan vegetatif terutama pertumbuhan daun tanaman (Kogoya et al., 2018). Hasil ANOVA (Tabel 2) menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat mengalami peningkatan jumlah daun sampai tanaman berumur 56 HST, pada fase ini jumlah daun akan terbuka sempurna 11 sampai daun terakhir 15-18. Perlakuan P1 dan P2 pada 14 HST dan 21 HST memiliki rerata rendah hal ini disebabkan kurangnya hara yang dapat diserap oleh tanaman. Rizqiani et al. (2007) menyatakan bahwa tanaman membutuhkan unsur hara untuk melakukan proses metabolisme, terutama pada masa vegetatif.

Tabel 2. Rerata jumlah daun akibat pemberian pupuk N lepas lambat.

Perlakuan Jumlah Daun (helai tanaman-1)

14 HST 28 HST 42 HST 56 HST 70 HST 84 HST

P0 5,13 a 6,38 8,88 13,88 a 12,38 11,75

P1 4,50 ab 6,00 6,63 12,38 ab 12,13 12,13

P2 4,88 a 6,13 7,75 13,00 a 12,13 12,00

P3 5,00 a 6,13 8,00 12,38 ab 11,88 11,75

P4 4,13 b 6,38 8,38 10,88 c 12,38 12,13

P5 4,38 b 6,25 7,75 11,50 abc 11,75 11,63

* tn tn * tn tn

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf α=5%, * = berpengaruh nyata, tn = berpengaruh tidak nyata.

Luas daun

Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata terhadap luas daun pada umur 14-84 HST, namun berpengaruh nyata pada umur 28 dan 56 HST.

Tabel 3 menunjukkan bahwa pada umur 28 HST rata-rata luas daun tertinggi pada perlakuan P0, yaitu 1344,78 cm2, yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Umur 56 HST rata-rata luas daun tertinggi pada perlakuan P0, yaitu 6782,14 cm2, yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan P5 namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Peningkatan indeks luas daun disebabkan aplikasi pupuk secara bertahap dapat menyediakan unsur N pada setiap tahap pertumbuhan tanaman. Pupuk N

memiliki peran penting dalam vase vegetatif yaitu membantu pembentukan fotosintesis yang digunakan untuk membentuk sel baru, perpanjangan sel dan penebalan jaringan.

Kemampuan akar untuk menyerap unsur hara juga lebih leluasa.

Efek dari pupuk terhadap pertumbuhan tanaman mengindikasikan bahwa antara pupuk N yang di lapisi dan pupuk N yang tidak dilapisi memiliki efek yang sama pada tanaman yaitu mampu memenuhi kebutuhan N pada tanaman jagung. Pupuk N yang dilapisi proses pelepasan N nya menjadi lambat namun masih memenuhi kebutuhan N tanaman jagung. Pupuk N yang dilapisi menjadi lebih efisien dari pada pupuk N yang tidak dilapisi, hal ini karena pada pupuk N

(5)

http://jtsl.ub.ac.id 99 yang telah dilapisi, N yang dilepaskan akan ditahan

atau dijerap oleh bahan pelapis (Peng et al., 2021) dan secara pelahan diserap oleh tanaman, sedangkan pada pupuk N yang tidak dilapisi N yang dilepaskan secara cepat dan sebagian besar yang tidak diserap tanaman akan hilang berupa gas dan tercuci. Tanaman akan menyerap N dalam bentuk amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-) (Hartono et al.,

2021). Pupuk yang dilapisi, amonium (NH4+) akan diserap oleh tanaman dan sisanya dijerap oleh bahan pelapis (Peng et al., 2021; Gao et al., 2022) dan tertinggal sebagi residu dalam tanah. Pada pupuk yang tidak dilapisi, amonium (NH4+) yang tidak diambil tanaman akan hilang dalam bentuk gas N dan NO3- tercuci.

Tabel 3. Rerata luas daun akibat pemberian pupuk N lepas lambat.

Perlakuan Luas Daun (cm2 tanaman-1)

14 HST 28 HST 42 HST 56 HST 70 HST 84 HST

P0 153,25 1344,78 a 3246,74 6782,14 a 6070,19 6070,19

P1 188,66 1119,08 b 2818,75 4987,32 a 5675,91 5675,91

P2 144,94 986,95 b 3337,55 5267,83 a 5601,03 5601,03

P3 162,98 871,13 bc 2886,78 4459,16 ab 5162,58 5162,58

P4 180,73 732,98 d 2964,84 4310,69 abc 5182,71 5182,71

P5 167,05 754,13 cd 1822,33 3616,01 c 4105,66 4105,66

tn * tn * tn tn

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf α=5%, * = berpengaruh nyata, tn = berpengaruh tidak nyata.

Panjang tongkol dan diameter tongkol

Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata terhadap panjang tongkol berkelobot, panjang tongkol tanpa kelobot, dan diameter tongkol. Rata- rata panjang tongkol berkelobot tertinggi terdapat pada perlakuan P3, yaitu 25,88 cm, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P2, yaitu 22,88 cm. Rata-rata panjang tongkol tanpa kelobot tertinggi terdapat pada perlakuan P5, yaitu 14,04 cm, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P4,

yaitu 12,81 cm. Rata-rata diameter tongkol tertinggi terdapat pada perlakuan P2, yaitu 25,56 mm, rata- rata terendah terdapat pada perlakuan P5, yaitu 24,04 mm. Unsur hara yang berperan dalam pertumbuhan generatif tanaman adalah unsur hara N dan P. Marvelia et al. (2006) mengungkapkan bahwa unsur hara N berperan dalam pembungaan, namun peran N tidak sepenting unsur hara P dalam pembentukan bunga. Peran unsur hara P dalam pembentukan bunga mempengaruhi pembentukan dan panjang tongkol, karena tongkol merupakan perkembangan dari bunga betina.

Tabel 4. Rerata panjang tongkol berkelobot, panjang tongkol tanpa kelobot, dan diameter tongkol jagung akibat pemberian pupuk N lepas lambat.

Perlakuan Panjang Tongkol Panjang Tongkol Diameter Tongkol

Berkelobot (cm) Tanpa Kelobot (cm) (mm)

P0 24,93 13,14 25,48

P1 23,69 13,16 25,35

P2 22,88 13,81 25,56

P3 25,88 13,54 24,64

P4 24,91 12,81 24,36

P5 24,63 14,04 24,04

tn tn tn

Keterangan: tn = berpengaruh tidak nyata berdasarkan DMRTpada taraf α=5%.

Bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot biji per tanaman, dan berat 100 biji Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata

terhadap bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot biji per tanaman, dan berat 100 biji.

Rata-rata bobot basah tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P1, yaitu 186,61 g, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P5, yaitu 157,94

(6)

http://jtsl.ub.ac.id 100 g. Rata-rata bobot kering tanaman tertinggi terdapat

pada perlakuan P1, yaitu 46,12 g, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P5, yaitu 34,53 g. Rata-rata bobot biji per tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P2, yaitu 49,85 g, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P0, yaitu 35,46 g. Rata-rata berat 100 biji tertinggi terdapat pada perlakuan P5, yaitu 20,68 g, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P4, yaitu 19,65 g. Perlakukan pemberian pupuk lepas lambat memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap parameter bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot biji per tanaman, dan berat 100 biji (Tabel 4). Hal ini diduga karena antara pupuk N yang di lapisi dan pupuk N yang tidak dilapisi memiliki efek yang sama pada tanaman yaitu mampu memenuhi kebutuhan N pada tanaman jagung.

Peningkatan bobot kering tanaman dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis. Daun merupakan bagian tumbuhan yang berperan aktif

dalam fotosintesis. Hayati (2006) menyatakan bahwa peningkatan jumlah atau luas daun meningkatkan kapasitas fotosintesis. Fotosintesis yang efisien akan meningkatkan bahan kering tanaman. Daun merupakan bagian tumbuhan yang dapat melakukan fotosintesis. Bobot kering tanaman juga dipengaruhi oleh kadar lengas tanah (kandungan air yang terdapat dalam pori tanah).

Bobot biji pada tanaman jagung bervariasi sesuai dengan varietas masing-masing. Varietas yang berbeda menunjukkan respon yang berbeda pula terhadap parameter bobot biji (Sutresna et al., 2016).

Berdasarkan hasil ANOVA, perlakuan pupuk N lepas lambat memberikan pengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot biji dan bobot 100 biji.

Produksi tanaman jagung sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara terutama nitrogen (N).

Penyebab utama pemupukan N yang kurang efisien adalah hilangnya N dari sistem tanaman-tanah melalui pencucian.

Tabel 5. Rerata bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, bobot biji per tanaman, dan berat 100 biji akibat pemberian pupuk N lepas lambat.

Perlakuan Bobot Basah Bobot Kering Bobot Biji Berat 100 Biji

Tanaman (g) Tanaman (g) Per Tanaman (g) (g)

P0 171,59 42,06 35,46 20,39

P1 186,61 46,12 39,21 20,02

P2 181,61 44,73 49,85 20,41

P3 178,04 41,18 39,13 20,35

P4 184,71 43,65 41,80 19,65

P5 157,94 34,53 42,50 20,68

tn tn tn tn

Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata berdasarkan DMRT pada taraf α=5%.

Umur muncul bunga

Hasil ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N lepas lambat berpengaruh tidak nyata terhadap umur muncul bunga jantan dan umur muncul bunga betina. Rata-rata umur bunga jantan tertinggi terdapat pada perlakuan P5, yaitu 46,75 HST, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P0, yaitu 43,25 HST. Rata-rata umur bunga betina tertinggi terdapat pada perlakuan P4, yaitu 54,88 HST, rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P0, yaitu 52,25 HST. Keberhasilan atau efisiensi penyerbukan pada tanaman jagung dapat ditentukan oleh umur berbunga jantan, umur berbunga betina dan jarak waktu pembungaan jantan dan betina. Keadaan ini disebabkan oleh peralihan dari masa vegetatif ke masa generatif yang ditandai dengan keluarnya bunga, selain ditentukan oleh faktor lingkungan (faktor luar) juga ditentukkan oleh faktor dalam tanaman. Seperti

yang dikemukakan oleh Gardner et al. (1991) bahwa pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan genetik.

Hasil penelitian ini mengindikasikan pupuk N lepas lambat yang diberikan sekali sama efektifnya dengan pupuk N tanpa pelapis yang diberikan dalam 3 kali aplikasi. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan N tanaman jagung yang ditanam di tanah pasiran dapat terpenuhi oleh pupuk N yang dilapisi. Pupuk N yang dilapisi, proses pelepasan N dari pupuk yang dilapisi menjadi lambat karena efek bahan pelapis, namun masih memenuhi kebutuhan N tanaman jagung, berarti pupuk N yang dilapisi menjadi lebih efisien daripada pupuk N yang tidak dilapisi dalam pelepasan N, hal ini karena pada pupuk N yang dilapisi, N yang dilepaskan sebagain diserap tanaman dan sisanya dijerap oleh bahan pelapis (Peng et al., 2021; Gao et al., 2022) sehingga terhindar dari pencucian dan oksidasi menjadi

(7)

http://jtsl.ub.ac.id 101 NO3-, sedangkan pada pupuk N yang tidak dilapisi

N yang dilepaskan secara cepat dan sebagian besar yang tidak diserap tanaman akan hilang berupa gas N dan atau NO3- tercuci. Di segi waktu aplikasi, pupuk N lambat tersedia memberikan keuntungan, karena hanya diberikan sekali. Hasil penelitian pot ini perlu dikembangkan lebih lanjut di lahan, menggunakan dua bahan pelapis bentonit dan

kompos biochar, dan dosis urea divariasi 100% dan 80%. Penelitian lanjutan ini penting untuk mempelajari lebih lanjut efektivitas pelapis dan efisiensi serapan N dan agronomi dari aplikasi pupuk lepas lambat, sehingga dapat dihasilkan teknologi pupuk lepas lambat untuk tanaman jagung di Madura.

Tabel 6. Rerata umur muncul bunga (HST) akibat pemberian pupuk N lepas lambat.

Perlakuan Umur Muncul Bunga Umur Muncul Bunga

Jantan (HST) Betina (HST)

P0 43,25 52,25

P1 45,63 54,50

P2 44,25 53,38

P3 44,63 54,25

P4 45,75 54,88

P5 46,75 53,38

tn tn

Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata berdasarkan DMRTpada taraf α=5%.

Kesimpulan

Perlakuan pupuk N lepas lambat pada tanaman jagung (Zea mays L.) di tanah pasiran berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada pengamatan 42 HST, jumlah daun pada pengamatan 14 dan 56 HST, dan luas daun pada pengamatan 28 dan 56 HST. Pemberian pupuk N lepas lambat pada tanaman jagung berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lain yang diamati. Pemberian pupuk dengan pelapis lebih efektif dibandingkan dengan pemupukan konvensional (3 kali aplikasi).

Perlakuan pupuk N lepas lambat pada tanaman jagung (Zea mays L.) di tanah pasiran dalam penelitian ini menunjukkan nilai tertinggi yaitu pada perlakuan P2 (pupuk urea dengan pelapis bentonit).

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas Trunojoyo Madura yang mendanai pelaksanaan penelitian.

Daftar Pustaka

Badan Litbang Pertanian. 2020. Laporan tahunan Badan Penelitian dan Pemngembangan Pertanian.

Kementerian Pertanian.

Beig, B., Niazi. M.B.K., Jahan. Z., Hussain. A., Zia. M.H.

and Mehran. M.T. 2020. Coating material for slow release of nitrogen from urea fertilizer. Journal of Plant Nutrition 43(10):1510-1533.

Deri, A., Iskandar, T. dan Anggraini. S.P.A. 2020. Optimasi kadar abu pada campuran biochar dengan pupuk NPK

melalui metode coating. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Industri, Lingkungan dan Infrastruktur. 3, C3.1-C3.6. Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. 22 Agustus 2020.

Gao, Y., Fang, Z., Van Zwieten, L., Bolan, N., Dong, D., Quin, B.F., Meng, J., Li, F., Wu, F., Wang, H. and Chen, W. 2022. A critical review of biochar-based nitrogen fertilizers and their effects on crop production and the environment. Biochar 4(36):1-19.

Gardner, F.P., Pearce, R.B. and Mitchell, R.L. 1991.

Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia.

Jakarta.

Hartono, A., Nugroho, B., Nadalia, D. dan Ramadhani, A.

2021. Dinamika pelepasan nitrogen empat jenis pupuk urea pada kondisi tanah tergenang. Jurnal Ilmu Tanaman dan Lingkungan 23(2):66-71.

Hayati, N. 2006). Pertumbuhan dan hasil jagung manis pada berbagai waktu aplikasi bokashi limbah kulit buah kakao dan pupuk anorganik. Jurnal Agroland 13(3):256-259.

Hermanto, D., Dharmayani, N.K.T. dan Kurnianingsih, R.

2013. Pengaruh asam humat sebagai pelengkap pupuk terhadap ketersediaan dan pengambilan nutrien pada tanaman jagung di lahan kering Kec. Bayan Kabupaten Lombok Utara NTB. Ilmu Pertanian (16(2):28-41.

Kogoya, T., Dharma, I.P. dan Sutedja, I.N. 2018. Pengaruh pemberian dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan tanaman bayam cabut putih (Amaranthus tricolor L.).

Jurnal Agroekoteknologi Tropika 7(4):575-584.

Made, U. 2010. Respons berbagai populasi tanaman jagung manis (Zea mays saccharata) terhadap pemberian pupuk urea. Jurnal Agroland 17(2):138-143.

Marvelia, A. Darmanti, S. dan Parman, S. 2006. Produksi tanaman jagung manis (Zea mays saccharatha) yang diperlakukan dengan kompos kascing dengan dosis yang berbeda. Buletin Anatomi dan Fisiologi 14(2):7-16.

(8)

http://jtsl.ub.ac.id 102 Njudi, S.K., Iskandar, T. dan Anggraini. S.P.A. 2020.

Efisiensi pelapisan amilum terhadap campuran biochar tongkol jagung dengan pupuk NPK melalui metode coating. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Industri, Lingkungan dan Insfrastruktur. 3, C5.1-C5.6.

Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. 22 Agustus 2020.

Peng, J., Han, X., Li, N., Chen, K., Yang, J., Zhan, X., Luo, P. and Liu, N. 2021. Combined application of biochar with fertilizer promotes nitrogen uptake in maize by increasing nitrogen retention in soil. Biochar 3:367-379.

Pranata, A.J. and Simanjuntak, B.H. 2020. Efek penggunaan asam humat leonardit sebagai pelapis urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.).

Gontor Agrotech Science Jornal 6(1):17-33.

Rahman, F.A., Slamet S. dan Ronny M. 2022. Pengaruh biochar dan bentonit-teraktivasi asam terhadap sifat kimia tanah lempung liat berpasir Bangkalan. Jurnal Agroekotek 14(1):80-92.

Restida, M., Sarno, dan Ginting, Y.C. 2014. Pengaruh pemberian asam humat (berasal dari batubata muda) dan pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicm esculentum Mill). Jurnal Agrotek 2(3):482-486.

Rizqiani, N.F., Ambarwati, E. dan Yuwono, N.W. 2007.

Pengaruh dosis dan frekuensi pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil buncis (Phaseolus vulgaris L.) dataran rendah. Ilmu Pertanian 14(2):113- 128.

Safitri, I.N., Setiawati, T. dan Bowo, C. 2018. Biochar dan kompos untuk peningkatan sifat fisika tanah dan efisiensi penggunaan air. Techno: Jurnal Penelitian 07(01): 116-125.

Supriyadi, S., Rahman, F.A., Yuhardi, E. dan Rahmah, R.D.

2023. Pengaruh residu biochar sekam padi dan pupuk kandang sapi terhadap N total dan serapan N oleh jagung (Zea mays L.). Jurnal Agroteknologi 15(1):117- 128.

Supriyadi, S., Rahman, F.A., Yuhardi, E. dan Umam, C.

2023. Serapan N, P, dan K pada jagung Madura-3 di tanah lempung liat berpasir diameliorasi biochar dan bentonit-teraktivasi asam. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan 10(2):185-190.

Sutresna, I.W., Aryana, I.G.P.M. dan Gunartha, I.G.E.P.

2016. Evaluasi genotipe jagung (Zea mays L.) unggul pada lingkungan tumbuh dengan perbaikan teknologi budidaya. Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) UNMAS Denpasar. Bali. 29-30 Agustus 2016. Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 678-684.

Trenkel. M.E. 2010. Slow-and Controlled-Release and Stabilized Fertilizers:An Option for Enhancing Nutrient Use Efficiency in Agriculture. International Fertilizer Industry Association (IFA), Paris.

Wulan, L.F.E. dan Maharani, D.K. 2017). Pemanfaatan kitosan-silika sebagai matriks pada pembuatan pupuk urea slow release. Unesa Journal of Chemistry 6(1):73- 75.

Yuliani, S., Useng, D. dan Achmad, M. 2017. Analisis kandungan nitrogen tanah sawah menggunakan spektrometer. Jurnal AgriTechno 10(2):188-202.

Zuraida. 2014. Sintesis dan uji kinerja pupuk urea slow release pada pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.). Program Studi Pendidikan Kimia. Universitas Syiah Kuala.

Referensi

Dokumen terkait

Rekapitulasi hasil analisis ragam untuk respon tanaman jagung manis terhadap kombinasi pupuk anorganik dan pupuk

Dalam penelitian ini usaha yang dilakukan untuk meningkatkan serapan N tanaman jagung dari pupuk urea yaitu dengan memodifikasi pupuk urea dalam bentuk pelet

terdapat perbedaan yang nyata dari taraf perlakuan pupuk organik yang diberikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung manis, dimana makin tinggi jumlah

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kompos jerami jagung dan pemberian 100 % pupuk anorganik dapat meningkatkan produksi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh pupuk bokashi terhadap hasil tanaman jagung yaitu bobot

Hasil penelitian menunjukan bahwa Perlakuan konsentrasi pupuk organik cair (POC) berpengaruh terhadap tinggi tanaman 28 HST, Jumlah Daun 35 dan 42 HST, diameter tongkol

Adapun judul dari skripsi ini adalah “ Pengaruh Pupuk Kandang Kelinci Pada Pupuk Urea Terhadap Ketersediaan N-Total Dan Pertumbuhan Tanaman Jagung ( Zea mays

Perlakuan pengelolaan pupuk dengan pupuk organik dan anorganik pada tanaman Jagung Manado Kuning, tidak berpengaruh yang nyata terhadap panjang tongkol, diameter tongkol