21 | Jurnal Kybernan, Vol. 14, No. 1, 2023
KETERLIBATAN ANAK MUDA KOTA BEKASI DALAM KEBIJAKAN SMART CITY
INVOLVEMENT OF BEKASI CITY YOUTH IN SMART CITY POLICY
Elvira Suryani
Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Islam “45” Bekasi e-mail: [email protected]
Abstrak
Smart City (Kota Cerdas) menjadi isu besar di dunia dan di Indonesia yang berfokus pada keterlibatan peran aktif masyarakat dalam pembangunan kota dengan menggunakan pendekatan sentris. Hal ini dilakukan pemerintah untuk menjadi salah satu solusi penyelesaian berbagai permasalahan yang terjadi di perkotaan. Konsep Kota Cerdas (Smart City) ini sudah terlaksana di beberapa kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bekasi salah satunya. Latar belakang penelitian ini didasari oleh konsep Kota Cerdas tersebut yang juga sejalan dengan visi dan misi Kota Bekasi yakni untuk “Mewujudkan Bekasi Maju, Sejahtera dan Ikhsan”. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pendapat anak muda kota Bekasi terhadap kebijakan Smart City. Selain itu penelitian ini juga untuk mengetahui informasi tentang partisipasi anak muda Kota Bekasi dalam kebijakan Smart City. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan analisis data deskriptif dapat diperoleh hasil bahwa keterlibatan anak muda Kota Bekasi terhadap Kebijakan Smart City masih bersifat spontanitas. Namun belum menyadari sepenuhnya akan adanya kebijakan Smart City yang ada di Kota Bekasi. Maka, diperlukan dorongan dari pemerintah untuk memberikan pemahaman terhadap kehadiran kota cerdas di Kota Bekasi.
Kata Kunci: Smart City, partisipasi, kebijakan Abstract
Smart City is a big issue in the world and Indonesia that focuses on the involvement of the active role of the community in city development using a centric approach. This is done by the government to be one of the solutions to solve various problems that occur in urban areas. The concept of Smart City has been implemented in several major cities in Indonesia such as Jakarta, Bandung, Surabaya, and Bekasi one of them. The background of this research is based on the concept of a Smart City which is also in line with the vision and mission of Bekasi City, namely to "Realize Bekasi Advanced, Prosperous and Ikhsan". The purpose of this study is to find out the opinions of young people in Bekasi City towards Smart City policies. In addition, this study is also to find out information about the participation of Bekasi City youth in Smart City policies. By using qualitative research methods and descriptive data analysis, it can be found that the involvement of Bekasi City youth in the Smart City Policy is still spontaneous. However, it has not been fully aware of the Smart City policy in Bekasi City. Therefore, encouragement from the government is needed to provide an understanding of the presence of smart cities in Bekasi City.
Keywords: Smart City, participation, policy
I. Pendahuluan
Kemajuan teknologi dan informasi mendorong setiap orang untuk cerdas dalam memanfaatkannya. Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh teknologi tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang ada. Peningkatan kecerdasan sumber daya penggunanya juga diperlukan sehingga masalah baru dari dampak teknologi dapat diminimalisir.
Apalagi seiring dengan bertambahnya antuasiasme masyarakat yang tinggal di daerah
perkotaan, karena kota menjanjikan berbagai macam fasilitas dan janji-janji yang menggiurkan untuk menarik orang datang ke kota. Sehingga, tidak bisa dipungkiri daerah perkotaan menjadi “living centris” dan idaman banyak orang untuk mengadu nasib.
Dengan kepadatan masyarakat perkotaan menimbulkan berbagai dampak dan masalah- masalah. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan solusi cerdas untuk menanganinya.
Saat ini kota cerdas membumi di sebagian masyarakat perkotaan. Kehadiran konsep baru kota cerdas atau lebih dikenal dengan “Smart City” ini diharapkan menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah. Ujung tombak aktivitas smart city bertumpu pada masyarakat. Karena disini peran serta masyarakat dalam mewujudkan visi dan misi kehidupan sebuah kota bergantung kepada bagaimana peran serta masyarakat memberikan kontribusi baik tenaga, pikiran, dan harta yang mereka miliki tanpa komando atau tekan paksa dari pihak-pihak pemangku kebijakan.
Masalah kemacetan, sampah, tawuran, banjir, kebersihan, kenyamanan kota akan dapat terselesaikan dengan dengan konsep Smart City. Di beberapa kota besar, Smart City (Kota Cerdas) menjadi isu besar dunia dan di Indonesia yang berfokus pada keterlibatan peran aktif masyarakat dalam pembangunan kota dengan menggunakan pendekatan sentris. Hal ini dilakukan pemerintah untuk menjadi salah satu solusi penyelesaian berbagai permasalahan yang terjadi di perkotaan. Konsep Kota Cerdas (Smart City) ini sudah terlaksana di beberapa kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bekasi salah satunya.
Smart city membutuhkan manusia-manusia yang cerdas (Smart People), tidak hanya secara pendidikan, namun cerdas dalam mengelola berbagai kreativitas dan kemampuan yang mereka miliki serta kualitas interaksi sosialnya yang sudah terbentuk.
Kehidupan perkotaan yang nyaman, aman, hijau, mudah, bersahabat, ramah anak, bermartabat dan berbiaya rendah menjadi impian setiap orang. Impian itu bukan suatu yang tak mungkin untuk diwujudkan. Jalan menuju kota impian bisa terwujud apabila semua stakeholder kota punya keinginan yang kuat untuk berubah. Berbagai cara dan pendekatan sudah dicoba untuk mengatasi berbagai persoalan perkotaan. Smart city pun menjadi salah satu konsep untuk hal tersebut.
Konsep kota cerdas diharapkan bisa membantu masyarakat setempat. Bagaimana cara mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tinggal di perkotaan. Smart City memiliki sasaran bagaimana mengatasi berbagai persoalan perkotaan agar tercipta kehidupan berkualitas. Stakeholder seperti pemerintah, pengusaha, dan masyarakat menjadi bagian dari Smart City. Khususnya komunitas dari kelompok masyarakat, biasanya berasal dari kalangan anak muda. Komunitas yang muncul menjadi bagian dari kreativitas kota untuk membantu terlaksananya Smart City. Era Cyber memudahkan anak-anak muda untuk membentuk berbagai macam komunitas, tidak hanya terkait dengan hobi akan tetapi juga berkaitan dengan komunitas sosial yang lahir karena kepedulian anak muda kota Bekasi terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan dari latar belakang tersebut, Bekasi Smart City hadir untuk mewujudkan cita-cita menciptakan kehidupan yang lebih baik. Bekasi memberanikan diri
untuk melangkah dengan keterbatasan demi sebuah impian besar, Kota Bekasi yang humanis, beradab, teratur, maju dan berwawasan lingkungan.
Smart City juga sebagai platform (wadah) dan alat kolaborasi bagi berbagai pihak (industri, edukasi, pemerintah dan komunitas) untuk membantu kota memberikan pelayanan yang lebih baik kepada warganya. Dengan adanya kolaborasi yang saling tersinergi tersebut diharapkan terciptanya sebuah inovasi, produk, kreativitas, dan gagasan yang bermanfaat diterapkan pada Kota Bekasi. Maka, dalam penelitian ini akan kepada dua rumusan masalah sebagai berikut; (1) Bagaimana pelaksanaan kebijakan Smart City di Kota Bekasi?; dan (2) Bagaimana Keterlibatan anak muda Kota Bekasi dalam Kebijakan Smart City tersebut?
Adapun tujuan dari penelitian ini tentunya untuk melihat bagaimana pelaksanaan kebijakan Smart City di Kota Bekasi dan keterlibatan dari anak muda kota Bekasi sendiri dalam kebijakan Smart City. Selain itu, manfaat lain dari penelitian ini adalah tentunya diharapkan bisa memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan kota cerdas. Lalu, memberikan saran juga untuk komunitas- komunitas anak muda yang ada di kota Bekasi agar berperan serta dalam mewujudkan kota cerdas yang mereka impikan.
II. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui informasi tentang partisipasi anak muda Kota Bekasi dalam kebijakan Smart City. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan analisis data deskriptif dapat diketahui bagaimana pengetahuan dan keterlibatan anak muda kota Bekasi terhadap kebijakan Smart City. Lalu untuk melihat bagaimana pelaksanaan kebijakan Kota Cerdas di Kota Bekasi. Melalui pengamatan fenomenologis yang terjadi dan menggunakan data sekunder yang peneliti dapatkan dari berbagai sumber.
III. Hasil Penelitian
a. Smart City dan Partisipasi
Smart City atau kota cerdas mengandung pengertian yang mendalam terkait dengan sebuah kota yang menggambarkan kecerdasan yang tidak hanya berpusat dari infrastruktur saja, namun juga manusia yang ada di dalamnnya. Konsep kota cerdas adalah, ”Smart Cities are places where information of technology is combined with infrastucture, architectur everyday objects, and even our bodies to address social, economic, and environmental problems” (Anthony W Townsend 2014). Dari pengertian smart city terlihat bahwa konsep smart city adalah konsep kota yang dibangun dengan adanya kesinambungan berbagai aspek-aspek vital sebuah kota dengan beberapa karakteristik diantaranya adalah; smart economy, smart people, smart governance, smart mobility, smart environment dan smart living (Jurnal Scale vol 4 no.1, 2016 dari center of region science, Veiona UT, 2007).
Pengertian Smart economy menggambarkan bahwa ekonomi yang cerdas dalam artian peningkatan pendapatan masyarakat yang mandiri. Smart people menggambarkan
masyarakat yang cerdas dan berdaya guna, tanggap terhadap berbagai perubahan- perubahan yang ada. Smart governance menggambarkan pemerintah pun cerdas dalam mengelola, membuat kebijakan-kebijakan yang relevan dengan perubahan yang ada dimasyarakat. Smart Mobility menunjukkan bahwa fasilitas-fasilitas publik yang mendukung kota cerdas juga harus ada sebagai mobilitas masyarakat, dan smart living berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang sehat, tertib, taat aturan dan proaktif dengan berbagai perubahan yang membutuhkan partisipasi masyarakat.
Pendapat Tjokrowinoto dalam Hasibuan (2003) menyatakan bahwa pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan alasan sebagai berikut; (1) Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir dari pembangunan. Partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut. (2) Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk turut serta dalam keputusan penting yang menyangkut masyarakat; (3) Partisipasi menimbulkan umpan balik arus informasi tentang sikap, aspirasi, kebutuhan, dan kondisi lokal yang keberadaannya akan terungkap; (4) Pembangunan dilaksanakan dengan dimulai dari mana rakyat berada dan apa yang mereka miliki; (5) Partisipasi memperluas wawasan penerima proyek pembangunan; (6) Partisipasi akan memperluas jangkauan layanan pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat; (7) Partisipasi menopang pembangunan; (8) Partisipasi menyediakan lingkungan yang kondusif baik bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan; (9) Partisipasi merupakan lingkungan yang kondusif bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan; (10) Partisipasi merupakan cara efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan lokal; (11) Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalam pembangunan mereka sendiri. Sementara dalam bahasan lain, partisipasi diartikan sebagai peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberikan masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian modal atau materi serta ikut memanfaatkan atau menikmati hasil-hasil pembangunan tersebut (I Nyoman Sumaryadi, 2010:46)
b. Implementasi Kota Cerdas di Kota Bekasi
Peran serta masyarakat dalam mendukung kebijakan pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Seperti halnya Kota Bekasi yang memiliki kemauan yang kuat untuk menjadi kota yang Smart. Peran serta masyarakat yang dimaksudkan adalah khususnya kalangan anak muda sebagai generasi penerus yang memiliki kreativitas tinggi. Kelak, mereka adalah sebagai penikmat dari hasil kota cerdas tersebut.
Partisipasi merupakan elemen penting dalam sebuah manajemen pemerintahan dan pembangunan daerah. Dari sini akan terlihat muara dari kebijakan pemerintah yang dibuat. Partisipasi merupakan satu dari sembilan ciri-ciri pemerintahan yang baik (Good Governance) diantaranya adalah partisipasi masyarakat, transparansi, aturan hukum, sikap responsif, berorientasi pada konsensus, kesetaraan atau kesederajatan, efektivitas dan efesiensi, akuntabilitas, dan visi strategis. Hal ini dikehendaki pada saat ini, karena keadaan masa lalu tidak sedikit kebijakan pemerintah terhambat akibat lemahnya partisipasi dari masyarakat. Apalagi perihal yang berkenaan untuk mensejahterakan diri
mereka sendiri. Dengan adanya dorongan pemerintah untuk membantu masyarakat dalam berperan serta. Apalagi dalam era reformasi dan demokratisasi saat ini. Proses- proses perubahan lebih mengedepankan hak seseorang untuk lebih terlibat dalam pengampilan keputusan dalam kebijakan publik secara lebih baik.
Berkaitan dengan hal tersebut, apa yang sesungguhnya yang disebut sebagai partisipasi, pemaknaan sederhananya tentunya adalah peranserta atau keikutsertaan dalam berbagai kegiatan. Jika ditelaah lebih dalam, partisipasi ternyata tidak hanya sebatas ikut andil, namun ada tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Ada kerjasama dan pemahaman yang baik terhadap apa yang sedang berlangsung, sehingga masyarakat mampu melahirkan peran serta yang efektif dan mampu mendukung keinginan bersama menuju kesejahteraan. Inilah yang dimaksud dengan sikap responsif.
Dengan adanya kebijakan Smart City turut membantu pelaksanaan Good Governance. Beberapa Kebijakan Smart City ditinjau dari beberapa aspek sebagaimana yang diungkapkan oleh Cohen (2012) berikut ini.
Smart People (masyarakat yang cerdas): peningkatan kualitas sumber daya manusia beriring dengan peningkatan kualitas pendidikan. Tingkat pendidikan yang baik dapat mendorong masyarakat untuk memajukan kualitas hidupnya. Index pembangunan Manusia Kota Bekasi peringkat dua se-Jawa Barat (www.bps.go.id, akses 22 Mei 2023) setelah Kota Bandung. Kota Bekasi dalam meningkatkan sumber daya manusia, baik aparatur pemerintahan maupun masyarakat melalui peningkatan kualitas pendidikan.
Salah satunya adalah pemerintah menggratiskan pendidikan wajar 12 Tahun untuk masyarakat. Penerapan hidup yang cerdas dapat terlihat dari hal-hal yang dianggap sederhana oleh sebagian masyarakat lainya, namun memiliki dampak yang cukup besar bagi perkembangan hidup manusia selanjutnya. Seperti halnya masyarakat yang sudah tertib lalu lintas, menggalakkan budaya antri, tidak bergantung pada fasilitas publik yang ada.
Smart Governance (Pemerintahan yang cerdas). Dalam rangka meningkatkan layanan pemerintah Kota Bekasi kepada masyarakat, beberapa instansi pemerintahan sudah membuka layanan online dalam rangka mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Salah satunya adalah aplikasi smart city yang berfungsi memantau beberapa kegiatan pemerintah Kota Bekasi. Aplikasi Smart city yang diberi nama Qlue ini mampu memantau kinerja aparat pemerintahan Kota Bekasi, diantaranya adalah kemacetan lalu lintas, kejahatan atau kriminal, kebakaran, bencana, sampah, pelanggaran, jalan rusak, pengemis, kaki lima liar, pohon tumbang, fasilitas umum, parkir dan lainnya. Program yang berbasis web ini dihadirkan agar pemerintah Kota Bekasi melihat langsung keluhan masyarakat.
Aplikasi yang menampilkan data secara visual masih banyak mengalami kekurangan, seperti halnya pengguna harus menggunakan Operating System Android.
Untuk Ios, Window Phone, dan Blacberry belum tersedia. Kemudian aplikasi ini hanya mampu bekerja pada OS Android versi 4.0.
Smart Mobility (Transportasi yang cerdas). Pembangunan perekonomian dan gerak masyarakat sangat ditentukan oleh mobilisasi massa. Hal ini terkait dengan transportasi.
Bagaimana mengurai kemacetan yang terjadi dibeberapa titik, khususnya jalan-jalan
utama seperti Jalan Ahmad Yani, jalan Cut Meutia, dan Jalan Kranji. Penggunaan efektivitas transportasi publik belum memadai. Namun, ada beberapa hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota bekasi, yakni pembenahan jalan-jalan utama yang rusak.
Kemudian pemerintah juga sudah menyediakan jalur sepeda untuk masyarakat yang mengunakan sepeda setiap hari ke kantor atau kegiatan lainnya. Selain itu, ada beberapa bajaj yang digunakan sebagai transportasi antar perumahan.
Smart Living (Kehidupan yang cerdas). Kehidupan yang cerdas adalah kehidupan masyarakat yang mampu mengurai masalahnya sendiri, serta mampu mencari cara, solusi atau untuk memecahkan berbagai masalah yang terjadi di masyarakat itu sendiri.
Smart Environtment (Lingkungan yang cerdas). Lingkungan yang cerdas adalah lingkungan yang orang-orang disekitarnya sudah peduli akan kebersihan, melakukan kelestarian alam. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak buang ludah sembarangan, menebang pohon, dan lain sebagainya. Kesadaran lingkungan belum sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat kota Bekasi. Beberapa sungai-sungai di Kota Bekasi masih dipenuhi oleh sampah. Kemudian, sebagian jalan-jalan utama juga masih ada sampah. Lalu, beberapa taman kota yang diinjak-injak, coretan di dinding jembatan layang.
Smart Economy (ekonomi yang cerdas). Dari pemahaman di atas dapat dikategorikan bahwa kehidupan dalam Pemerintahan yang baik secara tidak langsung sudah memenuhi kriteria yang disampaikan dalam kebijakan smart city. Kolaborasi antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat yang telah tercipta dan terbangun dengan baik dapat memudahkan penyelenggaraan kebijakan smart city ini. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semua elemen masyarakat sudah memiliki kesadaran yang penuh bahwa kebijakan-kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah merupakan bagian dalam kehidupan mereka.
c. Keterlibatan Komunitas anak Muda Kota Bekasi
Partisipasi sering disebut sebagai ujung dari implementasi kebijakan publik, begitu juga dengan kebijakan smart city yang diterapkan oleh Kota Bekasi. Implementasi membutuhkan partisipasi, partisipasi ada masyarakat di dalamnya, khususnya kalangan pemuda yang berusia 17 sampai 25 Tahun (menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009). Keterlibatan anak muda dalam penerapan kebijakan Smart City Kota Bekasi sudah terlihat dari beberapa komunitas diantaranya komunitas regional Bekasi, Komunitas Kepenulisan Forum Lingkar Pena Bekasi, Komunitas Tangan di atas, Komunitas Bersih- Bersih Bekasi (KBB), Komunitas Gerakan Peduli Lingkungan dan lainnya. Ada sekitar 40 komunitas yang ada di Kota Bekasi hadir di HAKABE (Hari Komunitas Bekasi) seperti yang disampaikan oleh Hellen Contista, ketua HAKABE. Kegiatan yang diselenggarakan 28 September 2016 lalu ini mengajak komunitas yang ada di Kota Bekasi untuk ajang unjuk kreativitas anak muda Kota Bekasi.
Selain itu, Komunitas Bersih-Bersih Bekasi mengkampanyekan bersih itu sehat kepada masyarakat sekitar Bekasi. Kemudian adanya pembinaan bisnis anak muda yang digagas oleh Tangan di Atas. Gerakan peduli lingkungan juga tidak kalah dengan yang lainnya turut melestarikan lingkungan yang bersih, asri, sehat, harmoni dan asri. Kota
Bekasi yang masih bergulat dengan sampah, kehadiran Gerakan Peduli Lingkungan dan Komunitas Bersih-Bersih turut membantu permasalahan tersebut.
Slogan Smart City Kota Bekasi “Go Green dan Go Smart” menggambarkan bahwa fokus sentral kota Bekasi sebagai kota cerdas adalah menerapkan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman. Pembangunan tata kota kota Bekasi sepertinya sudah mulai di arahkan ke mobilitas orang disbanding mobilitas kendaraan. Beberapa ruang terbuka hijau (RTH) sudah disediakan oleh pemerintah kota Bekasi, diantaranya Taman Kota Ahmad Yani, Taman Kota Juanda, Taman Kota Alun-Alun Kota Bekasi. Pemerintah daerah kota Bekasi, selain mempercantik taman-taman kota, sekaligus menyediakan sarana berkumpulnya warga kota bekasi untuk sekedar berolah raga dan berekreasi.
Dari beberapa pengamatan peneliti di lapangan bahwa ada beberapa fasilitas publik yang sudah dibenahi oleh pemerintah daerah kota Bekasi, yakni, jalan-jalan utama yang ada di sepanjang Ahmad Yani dipenuhi beberapa sarana publik seperti, trotoar untuk pejalan kaki, taman-taman kota, tempat duduk para pejalan kaki yang sedang menunggu kendaraan. Sarana publik tersebut dapat dimanfaatkan untuk olah raga dan ajang unjuk kreativitas anak muda kota Bekasi
Selain berbagai kegiatan komunitas di atas, Pemerintah daerah kota Bekasi menerapkan kebijakan Car Free Day yang diselenggarakan setiap hari Minggu di sekitar jalan Ahmad Yani mulai dari pukul 06.00 sd. 10.00 pagi. Antuasiasme masyarakat cukup tinggi pada kegiatan Car Free Day ini. Banyak masyarakat yang memanfaatkan untuk berolah raga, ajang temu berbagai komunitas untuk sekedar berbagi pengalaman, dan sebagainya.
IV. Kesimpulan
Upaya pemerintah daerah Kota Bekasi dalam menerapkan Smart City sudah mulai tampak, mulai dari sosialisasi yang sudah digembuskan pada tahun 2014, kemudian pemerintah terus mematangkan secara konsep dalam berbagai bentuk program berbasis teknologi seperti Qlue yang bisa memantau berbagai aktivitas masyarakat dan kegiatan- kegiatan yang menjadi unggulan Kota Bekasi dalam mewujudkan smart city. Selain itu, upaya pemerintah Kota Bekasi dalam mengintegrasikan program menuju 100 smart city, Walikota Bekasi melantik sebanyak 123 dewan kota cerdas Kota Bekasi pada bulan Juli 2017. Beberapa pejabat dinas dan staf ahli instansi pemerintahan Kota Bekasi turut serta dalam kegiatan bimbingan teknis untuk mengikuti kegiatan “Menuju 100 Smart City Kota Bekasi” sebagai kegiatan tindak lanjut dari kegiatan Dewan Cerdas Kota Bekasi yang dilaksanakan di Unisma Bekasi pada 18 sampai dengan 19 Juli 2017.
Jadi dari berbagai perkembangan yang ada dari kebijakan, Smart City yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi kegiatan pembangunan memang sudah terlihat sejak tahun 2014 lalu. Perubahan-perubahan secara fisik untuk fasilitas publik mulai tampak. Kemudian penyediaan sarana publik untuk berkumpul dan berekspresi seperti kegiatan “Car Free Day” sudah dilakukan. Jika dilihat dari partisipasi anak muda yang ada di Kota Bekasi dari berbagai komunitas yang ada masih sebatas spontanitas, belum ada kaitannya dengan kebijakan Smart City. Meskipun secara tidak langsung komunitas- komunitas anak muda yang terbentuk tersebut turut membantu program pemerintah.
Namun, masih banyak persoalan yang dihadapi oleh Kota Bekasi dalam menerapkan kebijakan smart city, terutama terkait dengan sumber daya manusianya yang masih mengangap bahwa kota cerdas hanya dilihat dari sisi melek teknologi. Padahal kota cerdas pertumpu pada manusia-manusia yang ada di dalamnya juga turut cerdas. Mereka tidak bergantung pada fasilitas teknologi yang ada. Namun, manusia cerdas adalah manusia yang mampu memanfaatkan fasilitas yang ada di sekitarnya.
Konsep kota cerdas berbasis teknologi sangat memerlukan manusia-manusia yang mampu dan tanggap terhadap perubahan yang ada. Apalagi teknologi yang ada saat ini sangat cepat sekali berubah, jika manusianya tidak mampu mengikuti perkembangan tersebut, maka jauh akan tertinggal dengan masyarakat yang ada di kota-kota yang sudah maju lainnya. Bahkan bukan hal yang mustahil ketika kota Bekasi memilik jargon “Bekasi dalam genggaman” dapat terwujud, jika peran serta beberapa elemen seperti;
pemerintah, pengusaha, masyarakat dan komunitas, khususnya anak-anak muda kota Bekasi. Anak muda yang memiliki kreativitas tinggi, cepat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Untuk meningkatkan partisipasi anak muda Kota Bekasi, langkah yang tepat dilakukan oleh pemerintah daerah adalah dengan menyediakan ruang untuk berkreasi, menggandeng komunitas anak muda Kota Bekasi dengan mengintegrasikan program pemerintah yang sejalan dengan komunita anak muda yang ada di Kota Bekasi. Partisipasi anak muda Kota Bekasi sejauh ini tergerak bukan karena adanya program smart city, namun komunitas mereka terbentuk lahir dari kesadaran terhadap kondisi lingkungan yang ada. Selain itu juga berdasarkan hobi yang mereka miliki masing-masing. Ketika adanya ruang terbuka hijau atau tersedianya fasilitas berekspresi seperti taman kota, maka anak-anak muda yang memiliki hobi yang sama mudah untuk bertemu dan berkumpul. Kemudian kegiatan mereka tidak sekedar menyalurkan hobi yang mereka miliki masing-masing, akan tetapi juga berkembang ke aktivitas-aktivitas sosial lainnya.
Dengan demikian pemerintah turut terbantu dalam memecahkan sebagian masalah yang ada di kota Bekasi ini.
Referensi
Beginilah Kelebihan dan Kekurangan Aplikasi Smart City Kota Bekasi.
www.bekasiurbancity.com. diunduh pada 19 Juli 2017.
Cohen, B. (2012) the top 10 smart city in the world
Moleong, Lexi J. (2000). Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Pornamawati Wiwiek dan Ismi. (2014). Konsep Smart City dan Pengembangan Pariwisata di Kota Malang, Jurnal JIBEKA, Vol 8 No.1 Februari.
Subarsono. (2012). Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta, PT Pustaka Pelajar.
Sumaryadi, I Nyoman. (2010), Sosiologi Pemerintahan, Penerbit: Ghalia Indonesia. Bogor.
Suryani. Elvira. (2015). Efektivitas Pelaksanaan Program K3 di Kelurahan Duren Jaya Kota Bekasi. Jurnal AKP Vol 5 No.2, Agustus
Walikota Bekasi Lantik 123 Dewan Kota Cerdas Kota Bekasi. www.bekasismartcity.com diunduh pada 20 Juli 2017.