• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of METODOLOGI PENDIDIKAN HASYIM ASY’ARI (NAHDATUL ULAMA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of METODOLOGI PENDIDIKAN HASYIM ASY’ARI (NAHDATUL ULAMA)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

METODOLOGI PENDIDIKAN HASYIM ASY’ARI (NAHDATUL ULAMA)

Rafik1, Kaharuddin2

1, 2, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Corresponding Author: Rafik, Kaharuddin, E-mail: [email protected], [email protected]

ARTICLE INFO Article history:

Received 23, Januari, 2023

Revised 15, Pebruari, 2023

Accepted 25, Maret, 2023

ABSTRAK

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari tentang metodologi pendidikan (Nahdatul Ulama). Pendekatan kajian diprogram dengan pendekatan kepustakaan, dimana data investigasi dihimpun dari sumber literature. Untuk pengambilan data yaitu dengan menghimpun rujukan tentang ranah kajian, selanjutnya menelisik karya pihak yang diteliti, kemudian megumpulkan karya dari sumber dan pihak lain berkenaan pandangan pihak yang diteliti. Setelah terkumpul selanjutnya data penelitian diulas memakai pendekatan interpretasi atau analisis konsep.

Kesimpulan penelitian ini menyebutkan pandangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari tentang metodologi pendidikan (Nahdatul Ulama) dan pengaplikasianya dapat ditinjau dalam:

Pertama, metodologi pendidikan. Kedua, proses dan evaluasi pengajaran pendidikan Islam. Ketiga, tujuan pendidikan Islam dan konsep pendidikan menurut Hasyim Asy’ari. Keempat, kurikulum dan bahan ajar metodologi pendidikan Hadratus syaikh Hasyim Asy’ari.

Kata Kunci: Metodologi Pendidikan Hasyim Asy’ary

How to Cite : Rafik, R., & Kaharuddin, K. (2023). METODOLOGI PENDIDIKAN HASYIM ASY’ARI (NAHDATUL ULAMA). TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 7(1), 42-59.

DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid.v7i1.1204

Journal Homepage : https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/tajdid This is an open access article under the CC BY SA license

: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

PENDAHULUAN

endidikan Islam pada hakekatnya merupakan proses transformasi ke arah yang konstruktif. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, perubahan positif dilakukan melalui cara-cara seperti dakwah. Kegiatan yang ditujukan untuk menyebarkan keyakinan Islam kepada masyarakat dikenal sebagai dakwah. Kehidupan sehari-hari umat Islam telah melahirkan dan menciptakan pendidikan Islam. Pertumbuhan ini berbentuk tata cara pengajaran yang dilakukan dengan menyebut Nama Sang Pencipta.

Oleh karena itu, pendidikan Islam bergantung pada tingkat ketaqwaan dan keyakinan seseorang terhadap prinsip-prinsip agama Islam. Hal ini sesuai dengan definisi Marimba tentang pendidikan Islam. Dia mengklaim bahwa pendidikan agama Islam terdiri dari memberikan pendidikan jasmani dan rohani berdasarkan aturan agama Islam sehingga

P

(2)

kepribadian utama dapat dibentuk sesuai dengan norma-norma Islam. KH. Hasyim Asy'ari adalah salah satu tokoh sejarah Islam yang berjasa dalam pendidikan Islam.

Ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama, adalah KH.

Hasyim Asy’ari. Namun, kepribadian dan ketenarannya tidak hanya dibawa oleh pekerjaannya sebagai pemimpin NU: mereka juga disebabkan oleh fakta bahwa dia adalah seorang ulama dan guru pendidikan Islam terkemuka.1 Gagasan KH. Hasyim Asy'ari, khususnya dengan ilmu hadits, serta pemikirannya tentang tasawuf dan fikih.

Akibat sistem pendidikan Barat (Imperialis Belanda) yang diterapkan di Indonesia saat itu, lingkungan pendidikan pada masa itu mulai mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat, mengubah kebiasaan lama (tradisional) menjadi bentuk baru (modern).

Aspek pendidikan dalam konsep pendidikan yang sangat menarik perhatian KH.

Hasyim Asy'ari dikenal dengan pola pikirnya yang mengutamakan pengajaran dan pembelajaran. Penekanan bahwa sarjana ada sebagai manusia dengan informasi mendapat tempat tinggi dalam argumen ini kuat.2 KH. Hasyim Asy'ari mengemukakan gagasan bahwa Allah meninggikan orang-orang yang berakal dan beriman untuk membenarkan derajat para pencari ilmu dan ulama yang ditinggikan.

Berpijak pada pemahaman ini perlunya karya sastra yang menggali adab dalam menuntut ilmu, K.H. Hasyim Asy'ari menulis buku Adabul 'Alim wal Muta'alim yang diterjemahkan oleh M. Tholut Mughni sebagai Meraih Sukses Belajar Mengajar 2011.

Orang harus berperilaku terhormat ketika mencari informasi karena itu adalah ikhtiar agama yang sangat mulia. K.H. Hasyim Asy'ari tampaknya menginginkan praktik keagamaan dibarengi dengan perilaku sosial yang santun dalam situasi seperti ini.

Secara total, ada empat Bab dalam buku Adabul 'Alim wal Muta'alim, yang diterjemahkan oleh M. Tholut Mughni sebagai Meraih Sukses Belajar dan Mengajar.

Pentingnya ilmu pengetahuan, pengajaran, dan pembelajaran akademisi adalah pertama:

tiga etika guru, empat etika berbasis sarana, dan kedua etika siswa atau murid.3

Menurut Hasyim Asy'ari, pendidikan adalah ibadah dalam mengejar keridhaan Allah, yang memungkinkan manusia memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Akibatnya, pendidikan harus dirancang untuk mempromosikan dan menegakkan prinsip-prinsip Islam. Bukan hanya untuk menghilangkan kebodohan.

Umat manusia harus dapat memperoleh manfaat dari pendidikan, yang mengarah pada kebahagiaan duniawi dan abadi. Prinsip dan norma Islam harus dikembangkan dan dilestarikan melalui pendidikan bagi warga negara masa depan. Umat Islam harus maju jika tidak ingin ditipu oleh orang lain dan harus berjalan sesuai dengan prinsip dan standar Islam.

1 Dhevin M.Q Agus Puspita W, Pemikiran Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari (jember, 2019).

Error! Bookmark not defined.Error! Bookmark not defined.2 M. F Amiruddin, “Konsep Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari.,” Dirasah: Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam 1, no. 1 (2018): 17–31.

3 Hasyim Asy’ari, Menggapai Sukses Dalam Belajar Dan Mengajar, Terj. M. Tholut Mughni (Jombang (Jombang, 2011), hlm. 3-4.

(3)

PEMBAHASAN

Cendekiawan KH. Hasyim Asy'ari peduli dengan pendidikan. Dia sangat berkomitmen pada bidang pendidikan dan memiliki pengetahuan yang sesuai. Anda boleh menggambarkan beliau sebagai seorang ulama yang toleran atau moderat dalam bidang pendidikan karena beliau menyesuaikan pendidikan dengan zaman dan tidak hanya berkonsentrasi pada pelajaran agama.

Konsep KH dalam pendidikan Berawal dari anggapan bahwa manusia adalah khalifah bumi dan hamba Allah SWT, Hasyim Asy'ari mengembangkan filosofinya.

Manusia harus mampu mengaktualisasikan seluruh potensi dirinya secara seimbang, termasuk rasio, energi, emosi, dan faktor lainnya, agar dapat mewujudkan dan berhasil dalam pelaksanaan kedua tugas tersebut. Asuhannya, sekolahnya, dan iklim sosiokultural dan politik pada zamannya semuanya berdampak signifikan pada konsepsinya tentang pendidikan. Tempat tinggalnya di tengah penggulingan kolonial dan penyebaran Islam di Timur Tengah. Salah satu pendiri pondok pesantren adalah KH. Hasyim Asy'ari. Selain memiliki pendapat dalam berbagai bidang, antara lain sebagai teologi, tasawuf, fikih, dan pendidikan. Bahkan, masyarakat Indonesia tampaknya lebih menganggapnya sebagai pionir yang menjalin hubungan dengan tradisionalisme negara. Dia kemudian menjadi terkenal karena mendirikan Nahdatul Ulama, lembaga sosial keagamaan terbesar di Indonesia.

Berpijak pada Al-Qur'an sebagai paradigmanya dan wahyu Allah SWT, K.H.

Hasyim Asy'ari mengembangkan sistem pendidikan menyeluruh yang membahas ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengelolaan sistem pendidikan Islam harus menumbuhkan sejumlah nilai, seperti nilai teosentris, nilai pengabdian dan kerelawanan, nilai kearifan dan kesederhanaan, nilai kemasyarakatan dan kebersamaan, dan nilai keberkahan pemimpin (kyai).

Metodologi pendidikan Hasyim Asy’ari

Metode dapat dilihat sebagai langkah-langkah yang diambil sepanjang jalan untuk mencapai tujuan atau sebagai pola, gaya, atau desain. Kata "metode" dan "metodologi"

keduanya berasal dari kata Yunani "meta" dan "hodos", yang masing-masing berarti

"melalui" dan "jalan".4 Istilah “metode” disebut dalam bahasa Arab sebagai manhaj, tarekat, dan al-wasilah. Jalan adalah al-thoriqoh, sistem adalah manhaj, dan perantara atau mediator adalah al-wasilah.5

Umar menegaskan bahwa untuk menerapkan teknik pendidikan Islam, diperlukan desain yang unik untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang dimaksud. 2) Menggunakan metode Tazkiyah (pemurnian), 3) Pendekatan mukjizat, 4) Pendekatan Ta'lim al-kitab dan Ta'lim al-hikmah, dan 5) Pendekatan Islah.6 An-Nahlavi mengklaim bahwa sementara ini dapat dilakukan dengan 1) mendidik masyarakat dengan metode Hiwar Qurani dan Nabawi, 2) mendidik masyarakat dengan Al-Qur'an dan cerita

4 Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung: al-Ma’a, n.d.).

5 Nata, Filsafat Pendidikan Islam I. Jakarta: Logos Wacana Ilmu (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, n.d.).

6 Umar, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, n.d.).

(4)

Nabawi, 3) mendidik masyarakat dengan Amtsal (perumpamaan) Qur'ani, Pendidikan dengan Uswah Jalur Hasanah, Tadrib, Ibrah dan Mauidzah Hasanah, serta metode Targhib dan Tarhib adalah empat opsi berikutnya.7

Pesantren Tabuireng menerapkan metode pendidikan sorogan dan bandongan sejak berdirinya hingga tahun 1916. Sistem pendidikan ini tidak mengenal jenjang kelas. Dengan beralih buku yang dibaca sebelumnya, kelas dinaikkan (khatam).

Pengetahuan agama Arab dan Islam adalah satu-satunya topik yang dibahas. Bahasa pengajarannya adalah bahasa Jawa tulisan pegon (tulisan Arab Jawa). Metode tersebut tidak terlepas pada Surah An-nahal ayat 125, tentang metode pengajaran dalam al- quran.8

KH. Hasyim Asy'Ari, lulusan Makkah yang mempelajari sistem Sorogan dan Bandongan, terus menggunakan pendekatan ini hingga kembali ke negara asalnya.

Tidak ada pilihan lain yang tersedia karena beberapa pendekatan pembelajaran modern tidak diketahui pada saat itu. Berbicara tentang pesantren, KH. Hasyim Asy'Ari menjelaskan metode yang digunakan adalah konvensional, khususnya sistem sorogan, bandongan, dan wetonan, dengan kajian utama kitab-kitab klasik. Metode yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan, materi, dan lingkungan pendidikan.9

a. Metode Sorogan

Istilah "sorog" dalam bahasa Jawa "sorog" berarti mendorong. Metode ini dikenal dengan sebutan sorogan karena para santri melakukan pengajaran tatap muka dengan kiai atau ustadz sambil menawarkan untuk membaca atau belajar bersama mereka. Penulis mengklaim bahwa metode tatap muka adalah metode sorogan bahasa keren. Siswa memberikan buku atau hal lain untuk dipelajari oleh guru atau kiai mereka secara bergiliran sebagai metode pengajaran.

Gagasan sistem modul, pembelajaran individu, pembelajaran komprehensif (master learning), dan pertumbuhan berkelanjutan adalah semua komponen dari pendekatan ini, yang berfokus pada peningkatan bakat individu. Karena diyakini bermanfaat dalam mendidik santri agar lebih aktif, metode sorogan masih digunakan di sebagian besar pesantren tradisional. Dengan metode ini, guru dapat menilai tingkat bakat dan pemahaman masing-masing siswa terhadap suatu mata pelajaran yang berkaitan dengan sorogan secara individual.

Hal ini memungkinkan untuk mengetahui berbagai aspek kemampuan siswa.

Selain itu, seorang guru dapat memantau, mengevaluasi, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menguasai materi akademik dengan pendekatan sorogan. b. Metode Bandongan

Dari segi bahasa, bandongan digambarkan sebagai "pengajaran dalam bentuk kelas (di sekolah agama)" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Teknik bandongan merupakan metode utama yang digunakan dalam sistem pengajaran di pondok pesantren, menurut Zamakhsyari Dhofier, yang merupakan salah satu pakar yang

7 An-Nahlawi Abdurrahman, Prinsip-Prinsip Dan Metoda Pendidikan Islam Dalam Keluarga, Di Sekolah, Dan Di Masyarakat, Alih Bahasa, Herry Noer Ali (Jakarta: Gema Insani Press., n.d.).

8 Nasaruddin, “Metode Pengajaran Dalam Perpektif Al-Quran (Tinjauan Q.S. An-Nahl Ayat 125),” n.d.

9 Drs. Abdul Had, “Sehimpun Cerita, Cinta Dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara,” n.d.

(5)

mendefinisikan kata tersebut. Dalam sistem ini, seorang guru membaca, menafsirkan, menjelaskan, dan sering memeriksa teks-teks Islam berbahasa Arab sebagai sekelompok siswa (antara 5 dan 500 siswa) mendengarkan.10 Setiap siswa memperhatikan dengan cermat bukunya sendiri dan mencatat kata-kata dan konsep yang menurut mereka menantang untuk dipahami. Istilah “halaqah” untuk kelas dalam sistem bandongan ini mengacu pada sekelompok murid yang belajar bersama di bawah arahan seorang guru.

Sedangkan metode bandongan adalah suatu teknik dimana seorang kyai membacakan kitab pada waktu tertentu dan santri membawa kitab yang sama, kemudian santri mendengarkan dan menyimak bacaan kyai, demikian menurut Imran Arifin dalam bukunya Kepemimpinan Kyai, sebagaimana dikemukakan Armai Arief.11 Artinya pelaksanaan pembelajaran ini dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh kyai atau pondok pesantren, dimana seorang kyai atau ustad membaca, menerjemahkan, dan mengkaji kitab tersebut. Istilah bandongan sering juga disebut dengan weton, yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Ada kalanya para santri mendengarkan bacaan kyai dalam jumlah yang banyak.12

Seorang siswa tidak diharuskan untuk menunjukkan pemahamannya tentang materi pelajaran di bawah sistem bandongan. Para kyai memiliki tradisi membaca dan menerjemahkan teks-teks dari karya-karya terkenal ini dengan cepat sambil mengabaikan untuk menafsirkan kata-kata yang jelas. Kyai dapat menyelesaikan buku-buku pendek dalam beberapa minggu dengan menggunakan metode ini.

Metode bandongan dikhususkan bagi kalangan kelas menengah dan kelas atas, serta mereka yang telah berhasil dalam sistem sorogan yang sangat menantang, yang digunakan di pesantren. Pesantren besar mayoritas sering menyediakan berbagai halaqah (kelas bandongan) yang diadakan setiap hari dan mengajarkan literatur mulai dari tingkat dasar hingga tinggi (kecuali pada hari Jumat karena dalam tradisi pesantren hari Jumat adalah hari libur), dari sholat subuh sampai larut malam. Sistem yang berkembang di pesantren, dimana kyai sering menugaskan santri senior untuk mengajar di kelas halaqah, memungkinkan diadakannya kelas bandongan ini.

Sebutan ustadz diberikan kepada santri senior yang ditugaskan untuk mengajar (pengajar). Para guru besar yang dikenal sebagai asatidz ini dapat dibagi menjadi dua kelompok: junior (ustadz muda) dan senior, yang biasanya mengambil kelas musyawarah. Beberapa ustadz senior yang mampu mengajarkan kitab-kitab utama dan berpengalaman melakukannya untuk diberi julukan "kyai muda".

Aspek teknis-metodis tidak diabaikan sementara aspek substantif diutamakan.

Aspek yang paling mendasar berkaitan dengan teologi pendidikan, yang menekankan penggunaan istilah "manusia yang dinamis". Yang kami maksud dengan "manusia dinamis" adalah orang-orang yang, dalam sikapnya, berakal sehat, bertanggung

10 Imam Nurhadi; Hari Subiantoro; Nafik Ummurul Hadi, “Pemberdayaan Masyarakat Pondok Pesantren Untuk Meningkatkan Minat Masyarakat: Studi Kasus Pemberdayaan Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Munjungan,” Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam VIII, no. 1 (2018): 142–53.

11 Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pres, 2002).

12 Fuadah, “Manajemen Pembelajaran Di Pondok Pesantren,” Jurnal Isema Islamic Educational Management 2, no. 2 (2017).

(6)

jawab, selalu mengambil inisiatif dan berusaha, maju, berubah, dan berkembang ke arah tingkatan (kaml) yang lebih tinggi. Dalam proses memperjuangkan kesempurnaan, citra manusia yang dinamis kadang-kadang ditandai dengan pencapaian yang signifikan dan bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain dan juga untuk lingkungannya. Jumlah keseluruhan dari pencapaian ini untuk mengungkapkan tingkat kesempurnaan manusia seseorang. Oleh karena itu, orang dinamis identik dengan kemajuan karena mereka tidak dapat mentolerir kondisi stagnan (huml) atau berhenti (jumd) dan terus melihat ke depan (optimisme).

Bertolak dari sini, pembaruan dilanjutkan dengan mengadakan semacam apa yang disebut dengan reaktualisasi dan reposisi.13 Hal ini dilakukan agar lembaga pendidikan Islam dapat melaksanakan tugasnya seefektif mungkin dan memenuhi tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Reaktualisasi adalah upaya untuk memperkuat prinsip-prinsip kemaslahatan yang telah lama dijunjung oleh lembaga pendidikan Islam dan sesuai dengan kondisi kekinian, sekaligus mengatasi segala kekurangan yang mungkin ada, dengan cara mengikutsertakan masyarakat secara efektif dalam pelaksanaannya. Sedangkan repositioning bertujuan untuk mengatur atau merumuskan kembali kedudukan lembaga pendidikan Islam yang menekankan pada nilai-nilai demokrasi, toleransi, pluralisme, akhlak mulia, penguatan iman dan taqwa, serta pembinaan kerjasama, disamping mengajarkan ilmu-ilmu agama (tafaqquh fa al-dn). ) dan pengetahuan dan keterampilan umum lainnya (teknologi).

Reformasi pendidikan NU merupakan cerminan dari modernitas pendidik pondok pesantren dan dimaksudkan untuk memaksimalkan kegiatan pengajaran pendidikan Islam di era kontemporer dan melengkapi sistem lembaga pendidikan tradisional (pesantren) saat ini, yang telah merosot karena menjadi dimakan. Hal ini berfungsi sebagai katalis untuk meningkatkan standar pengajaran di tingkat yang lebih rendah sehingga lebih maju dan membantu mengisi dan memperkaya seluruh sistem pendidikan di tanah air.

Buku KH Hasim Asyari memang memberikan salah satu model pembelajaran yang cocok yang dapat membantu mengembangkan dan imajinatif dalam konsep Nahdlatul Ulama. Strategi terintegrasi untuk mencegah model pembelajaran dari stagnasi dan untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul ketika siswa atau siswa berjuang untuk memahami informasi yang disampaikan oleh guru.

Metode itu antara lain adalah hafalan, metode ceramah, metode diskusi metode Tanya jawab dan metode Tahdzib Wa targhib (menasihati dan menegur).

a. Medode Hafalan

Mentasih (memperbaiki/menyimakkan/menyetorkan hafalan) terlebih dahulu di hadapan pendidik atau temanya yang diyakini kepintaranya. Seperti yang dirisalahkan beliau:

Seorang siswa harus menghafal (memeriksa kebenaran teks) pelajaran yang dibacanya di depan guru atau orang lain yang akrab dengan bacaan jika mereka bermaksud menghafal teks atau bacaan. Diharapkan agar terhindar dari kesalahan

13 Rizal, “Konsep Pembaharuan Pendidikan Agama Islam Menurut Nahdatul Ulama,” Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia 1, no. 2 (2022): 83–94.

(7)

redaksional atau substantif teks sebagai hasil dari upaya tersebut. Setelah itu, jika dia sudah hafal teksnya, dia harus selalu memperkuat ingatannya dengan mengulanginya secara berurutan.14

b. Metode Ceramah

Dalam metode ini menjadi perhatian KH. Hasyim Asyari dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Hindari memberikan penjelasan yang panjang dan membosankan; di sisi lain, jangan terlalu ringkas, karena ini akan menghalangi Anda untuk langsung ke intinya. Dalam teks-teksnya, ini terbukti:

“Hindari memberikan penjelasan yang terlalu panjang karena pendengar akan bosan dan hindari meringkas penjelasan sedemikian rupa sehingga banyak poin penting yang hilang. Guru harus mengetahui keadaan dan kesehatan siswanya.”

2) Tidak terlalu tergesa-gesa dalam menjelaskan sehingga penjelasanya dapat disimak dan dipikirkan oleh siswanya. Hal ini nampak dalam tulisan beliau:

“Penjelasan tidak boleh disampaikan terlalu cepat (terburu-buru), tetapi agak lambat sehingga mereka yang mendengarkan dapat memperhatikan dan memberikan pemikiran yang signifikan.” Mulailah dengan materi krusial jika ada banyak diskusi dalam konten yang disediakan”.

c. Metode diskusi.

Menurut KH. Hasyim Asyari, siswa harus berkonsultasi dengan teman sebaya tentang kesulitan saat ini (waqi'iyah) untuk mengembangkan definisi, mendukungnya, dan mencari keuntungan (makna tersembunyi) pembiasaan d. Metode Tahzib Wa Targib (menasihati dan menegur) dengan baik terhadap anak

didik yang bandel. Sebagaimana yang diungkapkan beliau dalam perkatanya:

“Pelajar harus menerima peringatan keras jika mereka melanggar batas etika yang harus ditegakkan saat mereka menghadiri majlis. Misalnya, tidak mengindahkan peringatan dan instruksi, terlibat dalam kegiatan yang tidak berguna, menunjukkan rasa tidak hormat kepada senior dan siswa lain, dan tidur, berbicara, tertawa, atau bercanda dengan siswa lain.”

e. Metode Tanya Jawab

Sebagaimana yang diungkapkan beliau dalam perkatanya, seperti berikut:

Senantiasa menanyakan pelajaran yang sulit, minta untuk difahamkan atas pelajaran yang tidak bisa difahaminya dengan bahasa yang lembut dan sopan.

KH. Wahid Hasyim menciptakan lingkungan dialogis untuk belajar. Namun demikian, beliau menekankan hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang pembelajar, yaitu akhlak dan etika untuk menghormati dan menghargai seorang ulama. Terutama di lingkungan pesantren di mana pengajaran dilakukan dengan cara yang unik. Kyai adalah panutan moral yang memegang posisi yang melampaui seorang ulama. Kyai dianggap mengajarkan akhlak sekaligus ilmu karena hal ini.

Para santri sangat menghargai Kyai karena hal tersebut.

Proses dan Evaluasi Pengajaran Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari

14 KH. Hasyim Asy‟ar, Adab Al-„Alim Wa al-Muta‟allim (Jombang: Maktabah At Turas Al Islam, 1994).

(8)

Secara umum, KH. Hasyim Asy'ari tidak secara khusus membahas metode dan sistem pembelajaran dalam karyanya, namun jika melihat pelaksanaan Pesantren Tebuireng, Anda akan melihat bahwa ia lebih dulu mengadopsi corak pendidikan Islam klasik, yaitu sistem personal atau halaqah. Hal ini memberikan penekanan yang kuat pada pengajaran kitab-kitab klasik ketika mengajarkan Islam. Arifin mengklaim bahwa pengajaran ini mengandung kekurangan, sedangkan pendekatan pengajaran buku tradisional termasuk kekurangannya:15

1. Orientasi keilmuan lebih di titik beratkan pada kajian ilmu-ilmu terapan, seperti fiqih, tasawwuf, nahwu, sharaf. Sehingga penerapan ilmu fiqih sering menjadi lemah ketika dihadapkan pada realitas sosial.

2. Tidak adanya batasan tertentu dalam menuntut ilmu mengakibatkan berlarut-larutnya proses belajar.

3. Konsep “barokah centries” menyebabkan statisnya proses berpikir siswa.

4. Proses belajar-mengajar berjalan secara monolog (oneway traffic) sehingga kurang menunjukkan adanya intraksi dialogis.

5. Kitab-kitab klasik yang dijadikan rujukan utama yang merupakan produk-produk ulama abad pertengahan sehingga dirasa kurang adanya singkronisasi dengan dinamika kehidupan saat ini.

Sementara kelebihan yang dimiliki pada sistem pengajaran kitab-kitab klasik ini sebagai berikut:

1. Sistem pengajaran tidak terprogram secara khusus, sehingga memungkinkan bagi pelajar untuk mendalami bab tertentu sebagai spesifikasi keilmuannya.

2. Pengajaran bersifat disain sirkuler, yakni setelah para santri menerima teori-teori yang diiajarkan dalam kitab-kitab klasik kemudian langsung mempraktekkan.

3. Sistem pengajaran yang tidak mengenal jenjang dengan usia tertentu dalam penentuan kurikulum, mengakibatkan pengajaran yang bersifat belajar tuntas dan maju berkelanjutan.

4. Sistem evaluasi yang bersifat self evaluation memungkinkan suatu proses penilaian yang objektif.

5. Adanya motivasi keagamaan yang dapat memacu semangat belajar.

6. Adanya pemilahan terhadap kitab-kitab klasik yang dikaji memungkinkan proses selektifitas dalam proses pengajaran.

Komponen pendidikan dari proses pengajaran novel klasik merupakan bagian yang dianggap penting untuk keseluruhan kegiatan pengajaran. Hal ini terlihat dari sikap para santri setelah menyelesaikan studi klasikal dan dikenalkan dengan seperangkat nilai tentang keutamaan belajar, keluhuran orang yang berilmu, keutamaan orang yang menuntut ilmu, proses mewariskan. pengetahuan, dan cara menghargai orang lain. - mereka yang terlibat dalam proses mewariskan pengetahuan. (Hal yang sama terlihat dalam buku K. H. Muhammad Hasyim Asy'ari Adab al-'Alim wa al- Muta'alim, yang membahas tentang pendidikan. Sementara para santri percaya bahwa

15 Aliyah, “Pesantren Tradisional Sebagai Basis Pembelajaran Nahwu Dan Sharaf Dengan Menggunakan Kitab Kuning. Al-Ta’rib,” Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Palangka Raya 6, no. 1 (2018): 1–25.

(9)

karena prinsip-prinsip dalam teks-teks ini terlihat memiliki kekuatan spiritual, maka mematuhi semua itu tanpa syarat dianggap membawa berkah keselamatan. Tersirat bahwa keberadaan teori semacam itu menempatkan lingkungan suci di mana suatu bentuk kewajiban yang dibebankan padanya sebagai amanat dari Tuhan yang akan menjadi pewaris masa depan para ulama, sebelum murid-murid yang akan berpegang pada ajaran-ajaran klasik. teks.

Menurut kitab Adab al-Alim Wa al-muta'alim, bab IV menjelaskan etika seorang murid dalam kaitannya dengan pelajaran dan ilmunya. sering mengulang tajuk "tsumma yahfazu" di halaman 44 dan 46. Salah satu tema yang berulang adalah bahwa Kyai Hasyim Asy'ari lebih menyukai pendekatan hafalan dalam mengadopsi strategi pengajaran. Selain itu, Kyai Hasyim Asy'ari menggunakan metode sorogan dan bandongan. Pendekatan lain adalah dengan membuat sistem musyawarah dengan bantuan beberapa santri senior, dengan maksud untuk mengembangkan calon ulama di setiap daerah. Dalam waktu belajar-mengajar, metode yang di terapkan relatif panjang dibandingkan dengan pembelajaran masyarakat modern yang lebih praktis-pragmatis.

Pada akhirnya, KH. Hasyim Asy’ari dalam penerapan metode pembelajaran masih meyakini dengan tradisi pembelajarn pada era klasik dan abad pertengahan yaitu metode pembelajaran yang masih relatif konvensional.

Tujuan dan Konsep Pendidikan Islam Menurut Hasyim Asy’ari

Tindakan pertama atau titik awal dalam memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya adalah tujuannya. Tujuan pendidikan nasional dan Islam harus dipertimbangkan ketika menetapkan tujuan. Hal ini berguna untuk mengkoordinasikan tujuan kelembagaan, nasional, dan agama yang berkaitan dengan pendidikan. Sehingga dapat mempengaruhi seberapa kompeten lulusan pesantren yang bereputasi dan sukses.

Berikut adalah Tujuan Hasyim Asy'ari untuk pendidikan Islam dan lembaganya:

1. Tujuan Pendidikan Islam

Hasyim Asy'ari berpendapat bahwa pendidikan adalah ibadah dalam arti mencari keridhaan Allah SWT, yang menghasilkan kebahagiaan baik duniawi maupun surgawi bagi manusia. Oleh karena itu, pembelajaran harus dirancang untuk memajukan dan menegakkan prinsip-prinsip Islam daripada hanya untuk menghilangkan kebodohan.16

Umat manusia harus dapat memperoleh manfaat dari pendidikan dan bergerak menuju kebahagiaan duniawi dan abadi. Prinsip dan norma Islam harus dikembangkan dan dilestarikan melalui pendidikan bagi warga negara masa depan.

Umat Islam harus maju jika tidak ingin ditipu oleh orang lain dan harus berjalan sesuai dengan prinsip dan standar Islam. Prinsip-prinsip Islam ini dapat membantu seseorang menemukan kebahagiaan baik sekarang maupun di akhirat.17

Gagasan Hadratus Syekh berpesan kepada para guru saat ini untuk fokus menanamkan prinsip-prinsip Islam kepada murid-muridnya daripada hanya

16 Kurniawan, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Ar-Ruzz Media., 2011).

17 Nasaruddin Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, and Bustomi Arisandi, “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah,” Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (March 26, 2023): 143–67, https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

(10)

memberikan pengetahuan, sehingga murid dapat melindungi diri dari pengaruh modernitas yang merusak. Siswa akan mendapatkan kepuasan melalui kontrol ini dalam kehidupan ini maupun selanjutnya.

2. Tujuan Institusional

Tujuan khusus kelembagaan atau jenis/tingkat adalah tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi untuk dirinya sendiri. Setiap lembaga memiliki tujuan internal yang berasal dari dan diarahkan pada tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Tujuan berikut ditetapkan untuk lembaga di bawah K.H. kepemimpinan Hasyim Asy'ari:

a. Tujuan Pesantren Tebuireng

Tiga puluh tahun pertama, tujuan pendidikan Tebuireng ialah untuk mendidik calon.18 Oleh karena itu, K.H. Hasyim Asy’ari membuka kelas musyawarah yang memiliki sistem penyaringan yang ketat. Sistem yang dikembangkan ini sangatlah efekfif dalam melahirkan ulama-ulama.

b. Tujuan Madrasah Tebuireng

Agar santri kelak menjadi “cendekiawan intelektual” (ulama yang menguasai ilmu umum) dan “cendekiawan intelektual”, didirikanlah madrasah di Pesantren Tebuireng (lulusan ilmu umum yang juga menguasai ilmu agama Islam). Tujuan ini dirancang untuk berubah untuk memenuhi tuntutan dan standar masyarakat. Mengingat tidak semua orang tua menyekolahkan anaknya ke Pondok Pesantren Tebuireng untuk menjadi sarjana. Orang tua menginginkan anak-anak mereka memiliki kecerdasan akademik dan spiritual.

Kurikulum dan Bahan Belajar Metodologi Pendidikan Hasyim Asy’ari

Hasyim Asy’Ari berpendapat bahwa Al-Qur'an dan Hadits harus dijadikan sebagai sumber utama ketika mencari materi pendidikan, khususnya untuk pelajaran agama Islam. Dia mengklaim bahwa Al-Qur'an adalah asal dari semua pengetahuan, ibu dari pengetahuan, dan pengetahuan yang paling signifikan dari semua jenis informasi dalam Kitab Adabul Ta'lim wal Muta'alim. Bahkan sebelum ada pengetahuan, Al- Qur'an telah memberikan penjelasannya dengan mendukung kejadian-kejadian alam.

Salah satu pilar ilmu syari'ah yaitu Al-Qur'an dan hadits terkait dengan gambaran umum masing-masing cabang ilmu. Al-Qur'an, di sisi lain, memberikan penjelasan atas berbagai persoalan yang muncul baik di kehidupan ini maupun di akhirat. “Barangsiapa yang menggunakan dasar hadis, maka dalilnya kokoh,” kata Imam asy-Syafi'i dalam fatwanya.19

KH. Hasyim Asy'ari dianggap sebagai orang pertama yang berhasil memadukan tradisionalisme gaya salafi yang ditemukan di pesantren dengan budaya Barat. Data pendukung tiga ciri utama budaya pesantren berikut menjadi landasan argumentasi peneliti ini. Tradisionalisme datang lebih dulu. Dalam konteks pesantren, tradisionalisme harus dipandang sebagai upaya meneladani para ulama salaf yang masih

18 Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiya (LP3ES, 1985).

19 Sulaeman, “Maqasid Al Syari’ah; Cara Islam Menghadapi Pandemi Covid 19. Tribakti,”

Jurnal Pemikiran Keislaman 32, no. 2 (2021): 263–82.

(11)

bersungguh-sungguh dalam menegakkan prinsip-prinsip Islam agar terhindar dari bid'ah, tahayul, dan okultisme. Gerakan penduduk terdahulu yang ingin kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits ini kemudian lebih sering disebut sebagai gerakan salaf.20

Pesantren salaf, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang utamanya mengajarkan agama, menggunakan kitab-kitab klasik untuk menginformasikan kurikulumnya. Buku-buku ini mencakup bidang studi berikut: Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Balagah, dan Tajwid), Fiqh, Ushul Fiqh, Tashawuf, Tauhid, Tafsir, Hadits, Mantiq, dan Akhlak semuanya dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1) Landasan buku, 2) Buku Tingkat Menengah, dan 3) Buku Besar.21 Dan yang dikemukakan oleh KH. Hasyim Asy’ari sesuai dengan pada pasal 37 UU No. 2 tahun 1989 tersebut dinyatakan bahwa: Kurikulum disusun mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing suatu pendidikan.22

Karena perbedaan individu, irama perkembangan, dan faktor lain yang mempengaruhi perkembangan, setiap pembelajar menunjukkan berbagai perbedaan.23 Untuk mempermudah mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, instruktur harus memperhitungkan perbedaan yang dimiliki siswa. Santri itu sangat penting, kata KH Hasyim Asy'ari. Jadilah orang yang menghargai pembelajaran, baik sebagai guru, siswa, pendengar, maupun peserta didik itu sendiri. Hindari menjadi nomor lima karena akan merugikan Anda dalam jangka panjang. Malaikat akan berdoa bagi siapa saja yang bepergian untuk mencari ilmu, dan hidupnya akan diberkati.

Peningkatan kualitas siswa harus dilakukan setelah peningkatan kualitas pendidikan. Adapun tindakan yang diperlukan, KH. Hasyim Asy'ari menggambarkannya dalam bukunya Adabul 'Alim wal Muta'alim, yang diterjemahkan oleh M. Tholut Mughni. Berhasil dalam belajar dan mengajar dengan cara-cara berikut:

a. Membersihkan hati dari setiap bujukan, kotoran hati, iri, dengki, keyakinan dan pandangan yang buruk dan akhlak tercela.

b. Memperbaiki niat dalam menuntut ilmu, yakni bertujuan kepada dzat Allah SWT, mengamalkannya, Melestarikan syariat, menerangi hati, menghias batin dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

c. Semangat, antusias dan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu ketika masih muda dan dalam waktu-waktu selama masih hidup.

d. Qona’ah (menerima) dalam hal makanan dan pakaian sesuai kemampuan.

e. Membagi waktu siang dan malam serta memanfaatkan waktu luang.

20 Faiqah, “Radikalisme Islam Vs Moderasi Islam: Upaya Membangun Wajah Islam Indonesia Yang Damai. Al-Fikra,” Jurnal Ilmiah Keislaman 17, no. 1 (2018): 33–60.

21 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kia ((Jakarta:

LP3ES, 1990).

22 Suharyanto, “Pengembangan Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter (Telaah Pengembangan Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 1 (2018): 71–94.

23 Novianingsih, “Implikasi Pemahaman Guru Tentang Perbedaan Individual Peserta Didik Terhadap Pembelajaran,” Jurnal Ilmu Pendidikan., 2017.

(12)

f. Mengurangi makan dan minum. Karena kenyang itu akan mencegah ibadah dan memberatkan badan.

g. Berusaha menjaga diri dengan sifat wara’ dan hati-hati dalam segala sikap dan perbuatan.

h. Mengurangi makan makanan yang menyebabkan lemah pikiran dan lemah pancaindra seperti apel yang masih masam, kacang dan minum cuka.

i. Mengurangi tidur selama tidak ada dlorurat. Tidak menambah jam tidur melebihi delapan jam sehari semalam yang sepertiga waktu.

j. Menjauhi/mengurangi pergaulan karena mengurangi pergaulan itu salah satu hal yang penting yang harus dikerjakan oleh siswa/santri apalagi bergaul dengan lain jenis lebih-lebih bila hanya untuk bermain-main dan tidak konsentrasi pada pelajaran.

KH. Hasyim Asy’ari juga menjelaskan bagaimana dalam mempelajari ilmu agar barokah dan dipahami dengan melaksanakan etika murid terhadap guru, yang dirangkum menjadi 12, yaitu:

a. Berfikir dulu dan minta petunjuk kepada Allah kemana sebaiknya dia belajar dan berguru.

b. Bersungguh-sungguh mencari seorang guru yang betul-betul menguasai ilmu syareat dengan sempuma yang sering membahas dan begaul dengan para ulama’ pada zamannya, bukan guru yang ilmunya dari membaca saja dan tak pemah terlihat bergaul dengan guru-guru/ulama’–ulama’ yang pandai. Imam asy Asyafi’i RA berkata: Barang siapa yang belajar dari tulisan-tulisan kitab/buku (dari hasil membaca), maka dia akan menyia-nyiakan hukum.

c. Mengikuti dan melaksanakan apa yang diperintah guru, tidak pemah menyimpang dari pandangan dan pendapat guru.

d. Melihat guru dengan rasa ta’dzim dan mengagungkan, meyakini bahwa guru dalam kesempumaan derajat.

e. Mengerti hak-hak guru atas dirinya, tidak melupakan kelebihan guru, menjaga dan melindungi harga diri keturunannya, kerabatnya dan orang-orang yang dicintainya.

f. Menahan dan menyabarkan diri atas kerasnya hati serta perangai buruk yang muncul dari guru. Jangan sekali-kali hal itu mengendorkan keyakinan atas kesempumaannya.

g. Tidak mengikuti/memasuki majelis pengajian (selain pengajian umum) sebelum meminta izin pada guru/kyai, baik beliau sedang sendiri atau dengan guru/kyai lainnya.

h. Duduk di depan guru dengan sopan seperti duduk ketika tasyahud akhir tanpa meletakkan kedua tangan diatas paha atau bersila dengan tawadlu’.

i. Beretika dengan guru dengan bahasa dan kata-kata. Hendaklah murid tidak sekali- kali mengatakan kenapa atau saya tidak dapat menerima, siapa yang mengutip pendapat itu, dimana pengambilan dasar masalah ini dan kata-kata yang senada dengan tersebut.

j. Mendengarkan atau memperhatikan dengan serius apa yang sedang disampaikan guru baik berupa ilmu atau dalil atau syair sekalipun ia (murid) sudah hafal seakan akan belum pernah mendengar sama sekali.

(13)

k. Tidak menyertai dan mendahului guru (sebelum diperintah) dalam menguraikan dan menjelaskan suatu masalah atau menjawab pertanyaan sekalipun dia mampu dan tidak menunjukkan sikap sudah mengerti akan masalah tersebut.

l. Ketika guru memberi sesuatu, hendaklah diterima dengan tangan kanan.

Selain hal diatas KH. Hasyim Asy’ari juga menerangkan bagaimana perilaku peserta didik dengan peserta didik lainya.

a. Seorang murid harus mempunyai jiwa tawakkal, jangan sampai mementingkan dan rnenyibukkan diri dalam urusan rejeki.

b. Menjauhkan diri dari orang-orang yang banyak bicara, dengan orang-orang yang suka membuat kerusakan/keresahan, ahli maksiat dan orang yang selalu berbuat hal- hal yang negatif, sebab pergaulan itu pasti membawa pengaruh.

c. Saling mencintai, menolong dan mendorong serta saling mengingatkan dengan murid-murid yang lain baik dalam keuangan (biaya). Pelajaran atau akhlak. Sebab dengan semua ini hati akan terang dan bersinar, ilmu akan banyak berkahnya dan akan mendapat pahala yang luar biasa.

d. Bagi murid-murid yang kebetulan diberi kepandaian dan kecerdasan oleh Allah, jangan sekali-kali merasa sombong dan bangga diri tapi hendaklah bersyukur dengan menambah ketekunan belajar di samping tetap menghormati dan mencintai murid- murid yang lain. Selalu menjaga dan membina persahabatan-persahabatan yang memang dianjurkan oleh agama.

Dalam bidang pendidikan Islam, pendidik adalah mereka yang bekerja untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi emosi, kognitif, dan psikomotoriknya, agar peserta didik menjadi lebih baik.24

Pendidik juga berarti orang yang bertugas mendampingi anak dalam pertumbuhan jasmani dan rohaninya agar menjadi dewasa, mampu berdiri sendiri, menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah SWT, dan berkembang menjadi makhluk sosial yang mandiri. Di dalam kitab Adab al-‘Alim wal Muta’allim yang diterjemahkan oleh M. Tholut Mughni diterangkan seorang pendidik harus mempunyai kompetensi- kompetensi agar berhasil mendidik peserta didik diantanya:

Adapun kompetensi dan kemampuan pedagogik yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai berikut:

a. Ketika hendak mengajar hendaklah bersuci dulu dari hadats dan najis.

b. Memakai harum-haruman dan pakaian yang baik.

c. Berniat mengagungkan ilmu, menggormati syari’at.

d. Guru harus mampu melihat dan memperhatikan seluruh muridnya.

e. Menghindari banyak bergurau dalam pelajaran.

f. Tidak mengajar dalam keadaan emosi.

g. Harus menjaga kemaslahatan murid.

h. Setelah menjelaskan pelajaran, hendaknya memberikan kesempatan bagi muridnya apabila ada yang belum jelas.

i. Seorang guru harus mampu mengawasi perilaku-perilaku siswa-siswinya.

24 Ramli, “Hakikat Pendidik Dan Peserta Didik. Tarbiyah Islamiyah,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 5, no. 1 (2015).

(14)

j. Tidak boleh saling menyalahkan terhadap guru lainya.25

Sedangkan kompetensi dan kemampuan kepribadian dan sosial yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai berikut:

a. Selalu muroqobah (mengingat) Allah SWT, baik dalam kesepian maupun keramaian.

b. Selalu takut kepada Allah SWT dalam gerak, diam, ucapan dan pekerjan- pekeriaannya.

c. Selalu bersikap tenang.

d. Selalu wara’ (menjaga diri dan perkara haram).

e. Selalu tawadlu’ (rendah diri).

f. Selalu khusyuk karena Allah.

g. Mengadukan segala permasalahan hanya kepada Allah SWT.

h. Menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk wusul kepada Allah SWT dengan kata lain tidak menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk mencari keduniaan, baik pangkat, harta, sum’ah (ingin kondang), dan menandingi orang lain.

i. Tidak memuliakan dan mengagungkan orang-orang yang kaya (karena kekayaannya) dengan berjalan atau berdiri atas kedatangannya kecuali demi kebaikan atau mengurangi kerusakan-kerusakan yang ada apalagi.

j. Berakhlak zuhuddan meminimalkan harta dunia sebatas kebutuhan sehari-hari.

k. Menjauhi pekerjaan yang sifatnya hina menurut tabiat.

l. Menjauhi tempat-tempat maksiat.

m. Selalu berusaha menampakkan syiar-syiar dan hukum-hukum agama.

n. Antusias dalam mensyiarkan sunah-sunah dan agama serta perkara-perkara yang maslahah bagi umat.

o. Selalu menjaga dan melakasanakan kesunahan-kesunahan syari’at.

p. Bergaul dengan masyrakat dengan akhlak-akhlak yang mulia.

q. Mensucikan lahir dan batinnya dari akhlak-akhlak tercela.

r. Selalu bersemangat dan bernafsu dalam menambah ilmu.

s. Bila tidak mengerti tidak segan-segan bertanya kepada orang lain yang lebih rendah derajatnya dari pada dirinya.

t. Rajin membuat karangan, rangkuman dan uraian.

Dan terakhir kompetensi professional menurut KH. Hasyim Asy’ari, yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai berikut:26

a. Mengajar murid dengan niat mencari ridha Allah.

b. Menerima segala macam siswa walaupun ada yang kecerdasannya di bawah rata- rata.

c. Menyayangi peserta didik.

d. Dalam menyampaikan pelajaran harus jelas dan mudah dipahami.

e. Bersungguh dalam mengajar di kelas.

f. Mengulas pelajaran pada pertemuan sebelumnya bersama-sama dengan muridnya.

25 Syaidah, “Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Di SMA Negeri Rambipuji Tahun Ajaran 2017/2018,” Jurnal Pendidikan Ekonomi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, Ilmu Ekonomi Dan Ilmu Sosial 12, no. 2 (2018): 185–91.

26 Amiruddin, “Konsep Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari. Dirasah,” Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam 1, no. 1 (2018): 17–31.

(15)

g. Mengingatkan kepada siswanya apabila ada kesalahan dalam belajar.

h. Tidak pilih kasih terhadap murid yang pintar, tetap memperhatikan murid yang kurang pintar.

i. Selalu mengabsen dulu sebelum pelajaran dimulai, hal ini menunjukan menyayangi muridnya. Melakukan salam dan apresiasi sebelum masuk ke pelajaran inti.

KH. Hasyim Asy'ari menyarankan untuk mempelajari pelajaran terlebih dahulu karena itu adalah amal baik, kemudian mencari informasi dengan mengajukan pertanyaan sampai Anda mengerti karena itu termasuk ibadah, dan terakhir membicarakannya dengan orang lain karena jihad jika Anda mengalami kesulitan.

Hal ini sesuai dengan penjelasan yang diberikan Abu Ahmadi. Metode Diskusi adalah latihan kolektif dalam pemecahan masalah dan mencapai kesimpulan.

Selanjutnya, percakapan tidak sama dengan berdebat karena selalu terfokus pada pencarian solusi atas masalah yang menimbulkan berbagai perspektif hingga diambil keputusan yang dapat didukung oleh semua anggota kelompok.27

Salah satu alat pembelajaran adalah media pendidikan. Penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak yang dikenal sebagai media pendidikan oleh guru untuk mempercepat proses belajar mengajar dan mempromosikan komunikasi dan keterlibatan pendidikan.

Media pendidikan mempunyai peranan yang sangat dalam proses pendidikan, antara lain:

a. Dapat memperjelas penjelasan agar tidak terlalu bersifat verbalitas.

b. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang dan daya indra.

c. Membangkitkan gairah belajar siswa.

d. Dapat menarik perhatian siswa.

e. Mengatasi perbedaan persepsi dan pengalaman antara siswa.28

Dalam menggunakan dan merawat sarana pendidikan menurut KH. Hasyim Asy’ari peserta didik harus:

a. Seorang peserta didik hendaknya bersungguh-sungguh untuk dapat memiliki buku pelajaran. Kalau tidak mampu membeli sebaiknya meminjam di perpustakaan yang disediakan.

b. Bagi siswa-siswi selalu menjunjung tinggi buku dan menggunakan buku sebagaimana mestinya karena buku merupakan sumber ilmu juga.

c. Seorang murid dalam menggunakan buku atau sarana pendidikan lainya apabila sudah selesai hekndaknya dikembalikan semestinya atau pada tempatnya.

d. Sebelum mempergunakan sarana pendidikan setidaknya mengecek dulu, masih bisa digunakan dengan baik apa tidak.

e. Dalam menggunakan sarana pendidikan digunakan sebagaimana fungsinya agar tidak mudah rusak. Dan gunakan sesuai panduan sarana tersebut.29

Meninjau kontroversi seputar filosofi pedagogis KH juga tak kalah menarik.

Hasyim Asy'ari dan relevansinya dengan pendidikan Indonesia modern, yaitu inisiatif

27 Hamzah, “Penggunaan Media Sosial Di Kampus Dalam Mendukung Pembelajaran Pendidikan,” Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikas 14, no. 1 (2015): 45–70.

28 Amiruddin, “Konsep Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari. Dirasah.”

29 Asy’ari, Menggapai Sukses Dalam Belajar Dan Mengajar, Terj. M. Tholut Mughni (Jombang.

(16)

yang diambilnya di Pesantren Tebuireng untuk menggabungkan ilmu pengetahuan umum dan agama, yang melampaui ilmu pengetahuan.

Gagasan dan prakarsa pendidikan KH. Hasyim Asy'ari berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional yang digariskan dalam pasal 3 bab II UU Sisdiknas tahun 2003, diantaranya adalah berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, adalah sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini juga berkaitan dengan tujuan pendidikan internasional yang digariskan dalam pasal 3 Bab II Undang-Undang Pendidikan Internasional tahun 2003.30Pendidikan di Indonesia didefinisikan sebagai “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara,” menurut pasal 1 ayat (1) Sistem Pendidikan Nasional.31

KESIMPULAN

Secara umum, KH. Hasyim Asy'ari dan NU dikenal memegang prinsip-prinsip pendidikan yang kuat dan berkomitmen untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Mereka mempromosikan pendekatan pendidikan yang inklusif, yang mencakup aspek akademik, moral, dan spiritual dalam proses belajar-mengajar. Dalam hal metodologi pendidikan, KH. Hasim Asy’ari dan NU tidak bisa dipisahkan dan cenderung mengedepankan pendekatan yang menggabungkan ajaran agama dengan pengetahuan umum. Mereka mendorong pengembangan pemahaman agama yang kokoh sebagai landasan bagi pendidikan, tetapi juga mengakui pentingnya pengetahuan dan keterampilan lainnya untuk mempersiapkan individu yang komprehensif. NU juga memegang prinsip inklusivitas dalam pendidikan, dengan mengakui pentingnya akses dan kesempatan yang setara bagi semua individu, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau etnis. Prinsip-prinsip ini mencerminkan komitmen NU untuk memajukan pendidikan Islam yang holistik dan memberdayakan masyarakat. Hal tersebut tidak terlepas dari metodelogi dan pendekatan yang dilakukannya untuk memajukan NU Sebagai organisasi Ahlusunnah Wal Jamaah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, An-Nahlawi. Prinsip-Prinsip Dan Metoda Pendidikan Islam Dalam Keluarga, Di Sekolah, Dan Di Masyarakat, Alih Bahasa, Herry Noer Ali.

Jakarta: Gema Insani Press., n.d.

30 “Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Dan Peraturan Pemerintah RI Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Serta Wajib Belajar”

(Bandung: Citra Umbara, 2011).

31 Nashiruddin Pilo, “Pemikiran Pendidikan K.H. Muhammad Hasyim Asy’Ari,” Jurnal Ilmiah Islamic Resources 16, no. 2 (2019): 205, https://doi.org/10.33096/jiir.v16i2.31.

(17)

Aliyah. “Pesantren Tradisional Sebagai Basis Pembelajaran Nahwu Dan Sharaf Dengan Menggunakan Kitab Kuning. Al-Ta’rib.” Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Palangka Raya 6, no. 1 (2018): 1–25.

Amiruddin. “Konsep Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari. Dirasah.” Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam 1, no. 1 (2018): 17–31.

Amiruddin, M. F. “Konsep Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari.” Dirasah:

Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam 1, no. 1 (2018): 17–31.

Arief, Armai. Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pres, 2002.

Asy‟ar, KH. Hasyim. Adab Al-„Alim Wa al-Muta‟allim. Jombang: Maktabah At Turas Al Islam, 1994.

Asy’ari, Hasyim. Menggapai Sukses Dalam Belajar Dan Mengajar, Terj. M. Tholut Mughni (Jombang. Jombang, 2011.

Dhofier. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiya. LP3ES, 1985.

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kia.

(Jakarta: LP3ES, 1990.

Faiqah. “Radikalisme Islam Vs Moderasi Islam: Upaya Membangun Wajah Islam Indonesia Yang Damai. Al-Fikra.” Jurnal Ilmiah Keislaman 17, no. 1 (2018):

33–60.

Fuadah. “Manajemen Pembelajaran Di Pondok Pesantren.” Jurnal Isema Islamic Educational Management 2, no. 2 (2017).

Had, Drs. Abdul. “Sehimpun Cerita, Cinta Dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara,”

n.d.

Hadi, Imam Nurhadi; Hari Subiantoro; Nafik Ummurul. “Pemberdayaan Masyarakat Pondok Pesantren Untuk Meningkatkan Minat Masyarakat: Studi Kasus Pemberdayaan Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Munjungan.” Al-Idarah:

Jurnal Kependidikan Islam VIII, no. 1 (2018): 142–53.

Hamzah. “Penggunaan Media Sosial Di Kampus Dalam Mendukung Pembelajaran Pendidikan.” Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikas 14, no. 1 (2015): 45–70.

Kurniawan. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Ar-Ruzz Media., 2011.

Langgulung. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Bandung: al-Ma’a, n.d.

Nasaruddin, Nasaruddin. “METODE PENGAJARAN DALAM PERPEKTIF Al- QURAN (TINJAUAN Q.S. AN-NAHL AYAT 125),” n.d.

Nasaruddin, Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, and Bustomi Arisandi. “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah.” Al-Insyiroh:

Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (March 26, 2023): 143–67.

https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

Nata. Filsafat Pendidikan Islam I. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, n.d.

Novianingsih. “Implikasi Pemahaman Guru Tentang Perbedaan Individual Peserta Didik Terhadap Pembelajaran.” Jurnal Ilmu Pendidikan., 2017.

(18)

Pilo, Nashiruddin. “Pemikiran Pendidikan K.H. Muhammad Hasyim Asy’Ari.” Jurnal Ilmiah Islamic Resources 16, no. 2 (2019): 205.

https://doi.org/10.33096/jiir.v16i2.31.

Ramli. “Hakikat Pendidik Dan Peserta Didik. Tarbiyah Islamiyah.” Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 5, no. 1 (2015).

Rizal. “KONSEP PEMBAHARUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT NAHDATUL ULAMA.” Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia 1, no. 2 (2022): 83–94.

Suharyanto. “Pengembangan Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter (Telaah Pengembangan Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.” Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 1 (2018): 71–94.

Sulaeman. “Maqasid Al Syari’ah; Cara Islam Menghadapi Pandemi Covid 19.

Tribakti.” Jurnal Pemikiran Keislaman 32, no. 2 (2021): 263–82.

Syaidah. “Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Di SMA Negeri Rambipuji Tahun Ajaran 2017/2018.” Jurnal Pendidikan Ekonomi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, Ilmu Ekonomi Dan Ilmu Sosial 12, no. 2 (2018): 185–91.

Umar. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, n.d.

“Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Dan Peraturan Pemerintah RI Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Serta Wajib Belajar.” Bandung: Citra Umbara, 2011.

W, Dhevin M.Q Agus Puspita. Pemikiran Pendidikan Islam Menurut K.H. Hasyim Asy’ari. jember, 2019.

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang dipakai dalam mencari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menggunakan metode kualitatif. Lebih lanjut menurut kedua

Ini mengindikasikan bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari tidak hanya tertuju pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh peserta didik dan guru, namun juga keasamaan

Hasyim Asy’ari: Penggalang Islam Tradisional ”, (Editor) Humaidy Abdussami, Biogrofi 5 Rais ‘Am Nahdlatul Ulama’ , Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995..

Hasyim Asy’ari, dalam pelajaran, peserta didik hendaknya memperhatikan etika berikut; (1) mendahulukan ilmu yang bersi- fat Fardlu ‘ain dari pada ilmu-ilmu yang lain; (2)

Hasil penelitian menunnjukkan perbedaan bahwa: pendidikan akhlak dari kedua tokoh tersebut yaitu Hasyim Asy’ari mempunyai dua objek pembahasan yaitu guru dan

Hasyim Asy‟ari dapat diklasikasikan menjadi dua hal, yakni : pertama menjaga ketakwaan kepada Allah swt dan selalu cinta kepada Nabi, dan kedua adab atau akhlak kepada

Bait kelima terdiri atas sembilan baris yaitu, baris pertama terdiri dari empat kata dengan awalan huruf kapital, baris kedua terdiri dari tiga kata, baris ketiga terdiri dari empat

Oleh karenanya ada beberapa tugas yang harus dilakukan oleh seorang pendidik muslim tentang syarat dan sifat guru, antara lain: pertama, guru harus mengetahui karakter murid; kedua,