• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of MISCONCEPTIONS ON REDOX REACTIONS USING THE FOUR TIER TEST

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of MISCONCEPTIONS ON REDOX REACTIONS USING THE FOUR TIER TEST"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MISCONCEPTIONS ON REDOX REACTIONS USING THE FOUR TIER TEST

MISKONSEPSI PADA REAKSI REDOKS MELALUI FOUR TIER TEST

Rahmiati

1

, Ratna Kartika Irawati

2*

, Trining Puji Astutik

3

1,2,3Prodi Tadris Kimia, UIN Antasari, Banjarmasin, Indonesia

*Email: [email protected] DOI: https://doi.org/10.33752/ns.v2i2.5603

Received: 27/12/2023; Revised: 28/12/2023; Accepted: 30/12/2023

Abstract: The purpose of this research is to show the percentage of misconceptions experienced by students in class X MAN 3 Hulu Sungai Selatan by doing a four-tier test (four-level test) for each subconcept. The type of research used is descriptive statistics with a quantitative approach. The population of this study were students of class X MAN 3 Hulu Sungai Selatan with samples of class X MIA 1 and 2 totaling 63 people. The sampling technique used is purposive sampling. The data collection technique used a diagnostic test in the form of a four-tier test. The results showed that there was a misconception about the redox reaction material with an average of 33.45% which met the moderate criteria. Misconceptions of subconcepts Redox reactions are based on the gain and release of oxygen (16.67%), based on the gain and loss of electrons (39.68%), increase and decrease in oxidation number (38.10%), Oxidation number (12.70%), Oxidation-reduction reactions (44.44%), oxidizing agents and reducing agents (30.16%), and application of redox reactions (52.38%). The biggest misconception is in the sub-concept of applying redox reactions.

Keywords: Four-Tier Test; Misconception; Redox Reaction

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan persentase miskonsepsi yang dialami siswa kelas X MAN 3 Hulu Sungai Selatan dengan mengerjakan four-tier test (tes empat tingkat) untuk setiap subkonsep. Jenis penelitian yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X MAN 3 Hulu Sungai Selatan dengan sampel kelas X MIA 1 dan 2 yang berjumlah 63 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, sehingga jumlah sampel sama dengan jumlah populasi. Instrumen tes divalidasi oleh 2 orang dosen dan 1 guru yang kemudian dilakukan uji coba empirik.Teknik pengumpulan data menggunakan tes diagnostik berbentuk four-tier test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi miskonsepsi terhadap materi reaksi redoks dengan rata-rata 33,45% yang memenuhi kriteria sedang. Miskonsepsi subkonsep Reaksi redoks didasarkan pada pengikatan dan pelepasan oksigen (16,67%), berdasarkan pengikatan dan pelepasan elektron (39,68%), peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi (38,10%), Bilangan oksidasi (12,70%), Reaksi oksidasi-reduksi (44.44%), Oksidator dan reduktor (30,16%),

(2)

dan penerapan reaksi redoks (52,38%). Miskonsepsi terbesar terdapat pada subkonsep penerapan reaksi redoks.

Kata kunci: Four-Tier Test; Miskonsepsi; Reaksi Redoks

PENDAHULUAN

Miskonsepsi atau kesalahan konsep masih menjadi topik yang hangat untuk terus dikaji. Pada dasarnya, miskonsepsi merupakan kesalahan pemahaman pada suatu konsep yang dikemukakan para ilmuwan dan terjadi secara konsisten.

Dengan kata lain, miskonsepsi terjadi ketika pemahaman siswa terhadap suatu konsep, tidak sesuai dengan pembuktian teori yang sudah ada (Sofianto & Irawati, 2020). Banyak penelitian miskonsepsi yang ditujukan pada mata pelajaran sains, seperti kimia. Hubungan erat materi kimia dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari mengindikasikan mudahnya terjadi miskonsepsi pada siswa.

Mata pelajaran kimia tergolong kompleks dan memiliki banyak materi, serta konsepnya banyak yang bersifat abstrak. Konsep dalam mata pelajaran kimia berhubungan satu sama lain, dari konsep sederhana ke kompleks, dan tidak terlepas dengan sifat abstraknya (Irawati, 2014). Salah satu materi kimia yang bersifa abstrak, saling berhubungan dan sulit dipahami oleh siswa yaitu reaksi reduksi-oksidasi (redoks) (Nurlela dkk., 2017; Yuniarti dkk., 2020). Konsep dalam materi redoks harus dipahami oleh siswa dengan baik, agar dapat memahami konsep selanjutnya.

Pemahaman siswa yang kurang bahkan salah dapat mempengaruhi pemahaman konsep materi berikutnya (Irawati, 2019). Sebagai contoh, pemahaman konsep redoks merupakan pijakan awal siswa dalam memahami konsep elektrokimia, sel volta, elektrolisis dan potensial sel (Pratama, 2020). Penurunan dan kenaikan bilangan

oksidasi harus dipahami dengan baik sebelum siswa memahami konsep reaksi pada sel volta. Begitu pula dengan penyetaraan reaksi redoks, yang merupakan konsep awal dalam memahami elektrokimia secara utuh (Sasmita dkk., 2017).

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa materi redoks tergolong materi yang sulit (Nurlela dkk., 2017) sehingga membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep dengan baik yang dapat mengakibatkan terjadinya miskonsepsi.

Miskonsepsi siswa yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan turunnya pemahaman konsep siswa secara utuh dan bermakna, sehingga dapat berpengaruh pada hasil belajar siswa.

Siswa yang mengalami miskonsepsi akan terus tertancap konsep yang salah dan mengakibatkan terjadinya rantai miskonsepsi (Medina, 2022). Pada materi redoks, kebanyakan siswa mengalami miskonsepsi pada konsep penggabungan dan pelepasan oksigen (Kusumawati dkk., 2014; Nurlela dkk., 2017); konsep serah terima elektron, serta konsep oksidator dan reduktor (Siska, 2021).

Miskonsepsi siswa pada materi redoks dimungkinkan juga terjadi pada siswa kelas X di MAN 3 Hulu Sungai Selatan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil observasi awal yang menyatakan bahwa belum pernah dilakukan diagnosis miskonsepsi pada siswa di sekolah tersebut. Padahal, reaksi redoks merupakan pijakan untuk memahami materi selanjutnya. Terlebih lagi, efek pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 belum hilang. Pembelajaran

(3)

daring yang dilakukan bisa menimbulkan masalah miskonsepsi, sebab guru tidak dapat memantau siswa dalam menyelesaikan tugas secara penuh (Elvia dkk., 2021).

Siswa yang mengalami miskonsepsi akan terus tertancap konsep yang salah, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap penyebab miskonsepsi tersebut (Pratama, 2020). Inilah yang membuat identifikasi terhadap miskonsepsi yang dialami siswa sangat diperlukan. Hal ini diperlukan sedini mungkin melakukan identifikasi adanya miskonsepsi yang dialami siswa khususnya pada topik reaksi redoks agar selanjutnya dapat dilakukan perbaikan dalam pembelajaran terkait miskonsepsi yang dialami siswa (Apriadi dkk., 2018).

Cara yang digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa salah satunya dengan tes diagnostik (Auliyani dkk., 2017).

Tes diagnostik yang digunakan pada penelitian ini adalah four –tier test atau tes empat tingkat, dimana tier pertama adalah pertanyaan, tier kedua adalah tingkat keyakinan atas jawaban yang diberikan, tier ketiga berisi alasan memilih jawaban, dan tier keempat berisi tingkat keyakinan atas pilihan alasan pada tier ketiga (Diella &

Ardiansyah, 2020). Tes ini merupakan pengembangan dari Three Tier Test, dengan menampilkan keyakinan siswa pada tingkat 1 dan 3 sehingga memiliki keakuratan lebih tinggi dibandingkan jenis tes sebelumnya (Kaltakci-Gurel dkk., 2017a). Tes tersebut dapat membedakan siswa yang paham konsep, tidak paham konsep dan miskonsepsi (Irawati & Sofianto, 2019).

Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan tes diagnostik miskonsepsi pada MAN 3 Hulu Sungai Selatan menggunakan four tier test. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi miskonsepsi reaksi redoks siswa secara

tepat dan akurat sebagai dasar menentukan langkah pembelajaran selanjutnya.

METODE

Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan penelitian statistik deskriptif untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi redoks dengan menggunakan uji diagnostik four-tier (empat level). Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas X MIA MAN 3 Hulu Sungai Selatan dengan populasi X MIA 1 dan 2 yang berjumlah 63 orang. Sampling menggunakan teknik sampling jenuh dimana seluruh populasi dijadikan sampel, sehingga jumlah sampel penelitian yaitu 63 orang.

Tahapan penelitian dilakukan: (1) Prastudi dengan berkonsultasi dengan guru kimia MAN 3 Hulu Sungai Selatan;

(2) Desain alat tes yang dikembangkan dengan mengacu pada empat level dari setiap soal, yang terdiri dari: Tingkat 1 menunjukkan soal pilihan ganda yang bereaksi terhadap konsep redoks, Tingkat 2 menunjukkan keyakinan jawaban, Tingkat 3 menunjukkan alasan jawaban Tingkat 1, Tingkat 4 menunjukkan alasan jawaban dengan derajat keyakinan pada pilihan; (3) Melakukan verifikasi instrumental, dilakukan oleh dua orang dosen kimia dan seorang guru kimia. Hasil validasi isi oleh ahli dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Validasi Isi Instrumen

Validator Jumlah Skor Persentase

1 28 87,50

2 29 90,63

3 26 75,00

Rata-rata 84,38

Kriteria Sangat valid

(4) menguji instrumen kepada sampel penelitian yaitu siswa kelas X MIA 1 dan 2 MAN 3 Hulu Sungai Selatan. Hasil uji

(4)

coba instrumen diperoleh 11 soal valid dan 5 soal tidak valid. Sedangkan uji reliabilitas diperoleh rxy 0,645 dan tergolong reliabel.

(5) Dengan menghitung persentase, identifikasi kesalahpahaman yang dialami siswa dalam tes empat tingkat yang dikembangkan (Kaltakci-Gurel dkk, 2017) dengan menghitung persentase dan mengikuti pola jawaban yang telah ditentukan pada Tabel 2.

Tabel 2. Pola Jawaban Miskonsepsi Tier

(Tingkat) Jawaban Kategori

1 Salah

Miskonsepsi

2 Yakin

3 Salah

4 Yakin

Setelah ditentukan menggunakan kriteria Kaltakci (2017), selanjutnya dihitung menggunakan rumus ini.

% = Jumlah Siswa yang miskonsepsi

Jumlah sampel × 100%

Kemudian menggunakan tiga kriteria berikut berdasarkan besarnya persentase oleh Monita dan Suharto (2017) pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Kriteria Pemahaman Siswa Kriteria Persentase

Tinggi 70 < % ≤ 100 Sedang 30 < % ≤ 70 Rendah 0 < % ≤ 30

HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi miskonsepsi dilakukan berdasarkan jawaban siswa terhadap soal Reaksi Redoks yang diberikan berupa four tier test (tes empat tingkat).

Terdapat 11 soal yang dikembangkan untuk mewakili 7 sub konsep materi reaksi redoks. Hasil identifikasi ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Persentase Miskonsepsi Siswa Kelas X MAN 3 Hulu Sungai Selatan

Sub Konsep (%) Ket.

Reaksi redoks berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen 16,67 Rendah

Reaksi redoks berdasarkan transfer elektron 39,68 Sedang

Reaksi redoks berdasarkan peningatan dan penurunan bilangan oksidasi

38,10 Sedang

Penentuan bilangan oksidasi 12,70 Rendah

Reaksi oksidasi-reduksi 44,44 Sedang

Oksidator dan reduktor 30,16 Sedang

Penerapan Reaksi Redoks 52,38 Sedang

Rata Rata 33,45 Sedang

Berdasarkan Tabel 4, rata-rata miskonsepsi materi reaksi redoks oleh siswa pada four-tier test sebesar 33,45 yang merupakan golongan sedang.

Terdapat 5 subkonsep yang tergolong sedang dan 2 yang tergolong rendah.

Banyaknya subkonsep yang tergolong sedang, menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam memahami konsep reaksi redoks.

Miskonsepsi siswa yang tergolong rendah yaitu pada sub konsep reaksi

redoks berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen; dan penentuan bilangan oksidasi. Sebanyak 16,67%

siswa yang mengalami miskonsepsi pada sub konsep reaksi redoks berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen yang diawakili oleh soal no 1 dan 2. Serta sebanyak 12,70% siswa yang mengalami miskonsepsi pada sub konsep penentuan bilangan oksidasi.

Secara teoritis, reaksi oksidasi adalah kombinasi suatu unsur dengan

(5)

oksigen untuk membentuk oksida, dan pelepasan oksigen dari oksida adalah reduksi (Effendy, 2016; Fay dkk., 2020).

Misalnya, dalam reaksi pembakaran magnesium, persamaan reaksinya adalah:

2Mg(s) + O2(g) → 2MgO(s) Oksidasi terjadi dalam reaksi ini karena magnesium bergabung dengan oksigen membentuk oksida, MgO. Namun, sebanyak 15 siswa tetap menjawab reaksi reduksi.

Miskonsepsi ini juga muncul pada pertanyaan nomor 2, tentang proses berkaratnya besi. Reaksinya adalah sebagai berikut:

4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s) Proses perkaratan diklasifikasikan sebagai oksidasi (Rufaida & Qurniawati, 2014)karena besi bergabung dengan oksigen untuk membentuk oksida. Siswa kesulitan membedakan konsep reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Hal ini membuktikan dalam konsep tersebut siswa masih belum memahami dengan baik, sehingga 6 siswa pada soal nomor 1 dan 15 orang pada soal nomor 2 masih dikategorikan mengalami miskonsepsi.

Sub konsep yang juga tergolong rendah yaitu penentuan bilangan oksidasi yang disajikan pada soal nomor 5 dan 6. Pada soal nomor 5, miskonsepsi yang terjadi didasarkan pada kesalahan pada konsep sebelumnya yakni bilangan oksidasi pada ion paliatomik. Senyawa NH4NO3 terdiri dari ion NH4+ dan NO3-

(Chang & Overby, 2019). Sedangkan pada soal nomor 6, bentuk kesalahan yang terjadi adalah penentuan bilangan oksidasi dari suatu senyawa, terutama pada senyawa poliatomik seperti KClO3.

Miskonsepsi yang tergolong sedang ada pada sub konsep reaksi redoks berdasarkan transfer elektron; reaksi redoks berdasarkan peningatan dan penurunan bilangan oksidasi; reaksi

oksidasi-reduksi ; oksidator dan reduktor; serta penerapan reaksi redoks.

Dari kelima sub konsep tersebut, miskonsepsi paling rendah adalah nomor soal 8, 9, 10 pada sub konsep oksidator dan reduktor dengan persentase sebesar 30,16%. Persentase miskonsepsi paling tinggi adalah pada sub konsep penerapan reaksi redoks pada nomor soal 11.

Sub konsep reaksi redoks berdasarkan transfer elektron, serta berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi memiliki presentase miskonsepsi yang sama-sama mendekati 40% pada soal no 3 dan 4. Miskonsepsi yang teridentifikasi dari subkonsep pengikatan dan pelepasan elektron adalah siswa beranggapan bahwa reaksi oksidasi adalah reaksi yang mengikat elektron, sedangkan reaksi reduksi adalah reaksi yang melepas elektron.

Miskonsepsi tersebut ditunjukkan pada reaksi berikut:

Zn(s) + Cu2+(aq) → Zn2+(aq) + Cu(s) Banyak siswa yang memahami konsep redoks berdasarkan serah terima elektron secara terbalik. Siswa menjawab yang mengalami oksidasi Cu2+ karena menerima elektron dan Zn mengalami reduksi karena melepaskan elektron.

Hasil ini sejalan dengan penelitian Nurlela dkk., (2017) dan Wulandari dkk., (2019) yang memperoleh data serupa.

Hal yang sama juga terjadi pada subkonsep reaksi redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi. Miskonsepsi terjadi pada saat siswa menentukan jenis reaksi yang dialami oleh atom dalam senyawa antara reaksi oksidasi atau reaksi reduksi, dimana seharusnya dalam perhitungan bilangan oksidasi atom dalam senyawa adalah apabila yang akan dihitung adalah senyawa ion, maka sebelum menghitung bilangan oksidasi masing-masing atom penyusunnya harus diionisasikan

(6)

terlebih dahulu sehingga diperoleh bilangan oksidasi atom yang benar berdasarkan muatan ion-ionnya (Fay dkk., 2020). Miskonsepsi pada sub konsep ini berpengaruh dalam mengidentifikasi reaksi oksidasi reduksi.

Miskonsepsi yang terjadi pada soal di subkonsep reaksi oksidasi-reduksi didasari kesalahan konsep sebelumnya, sehingga siswa tidak dapat membedakan dengan benar reaksi redoks dengan reaksi kimia biasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rizki dkk (2020) yang juga menemukan data serupa. Miskonsepsi ini terlihat ketika siswa lebih banyak memberikan jawaban bahwa reaksi berikut adalah reaski redoks.

(1) NaOH + Ag+ → AgOH + Na+ (2) ZnO + 2HCl → ZnCl2 + H2O

Sub konsep penentuan oksidator dan reduktor pada reaksi redoks ini diberikan 3 pertanyaan berbeda dengan indikator yang sama. Sebanyak 44,44%

siswa mengalami miskonsepsi.

Oksidator mereduksi dan mengoksidasi zat lain, sedangkan reduktor mengoksidasi dan mampu mereduksi zat lain (Chang & Overby, 2019). Hasil analisis jawaban 3 soal menunjukkan bahwa banyak siswa yang beranggapan oksidator adalah zat yang mengalami oksidasi dan reduktor zat pereduksi. Ini tidak sesuai dengan teori yang ada atau dengan temuan Jannah & Utami (2019).

Pada soal nomor 11 soal yang diberikan dengan fenomena pengolahan imbah. Dari soal, diketahui bahwa reaksi yang terjadi yaitu reaksi oksidasi karena ada proses pengoksidasi bahan-bahan organik oleh bakteri heterofilik (Sya'diyah, 2021). Sebanyak 33 siswa yang mengalami miskonsepsi pada sub konsep ini dengan jawaban paling banyak adalah reaksi reduksi. Tingginya miskonsepsi yang dialami siswa pada sub konsep ini, menunjukkan bahwa siswa masih belum memahami dengan baik penerapan reaksi redoks pada kehidupan sehari-hari.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kesalahan interpretasi materi konsep reaksi redoks oleh siswa MAN 3 Hulu Sungai Selatan X MIA 1 dan MIA 2 tergolong sedang dengan rata-rata 33,45% dengan four-tier test.

Miskonsepsi yang dialami siswa tergolong sedang pada subkonsep reaksi redoks berdasarkan transfer elektron;

reaksi redoks berdasarkan kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi; reaksi redoks; zat pengoksidasi dan pereduksi;

dan penerapan reaksi redoks. Siswa memiliki miskonsepsi yang tergolong rendah pada subkonsep reaksi redoks berdasarkan penggabungan dan pelepasan oksigen; dan penentuan bilangan oksidasi.

DAFTAR RUJUKAN

Apriadi, N. N. S., Redhana, I. W., &

Suardana, I. N. 2018. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas X pada Topik Reaksi Redoks. Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 2(2),

Article 2.

https://doi.org/10.23887/jpk.v2i2.1 6617

Auliyani, A., Hanum, L., & Khaldun, I.

2017. Analisis Kesulitan

Pemahaman Siswa pada Materi Sifat Koligatif Larutan dengan Menggunakan Three-Tier Multiple Choice Diagnostic test di Kelas XII IPA 2 SMA Negeri 5 Banda Aceh.

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kimia, 2(1), Article 1.

http://www.jim.unsyiah.ac.id/pendi dikan-kimia/article/view/3403 Chang, R., & Overby, J. 2019. Chemistry

(13th ed.). McGrow-Hill.

(7)

Diella, D., & Ardiansyah, R. 2020.

Pengembangan Four-tier Diagnostic Test Konsep Ekosistem:

Validitas dan Reliabilitas instrumen: Four-tier Diagnostic Test Instrument for Ecosystem Concept: Validity and Reliability.

Biodik, 6(1), 1–11.

https://doi.org/10.22437/bio.v6i1.8 093

Effendy. 2016. Ilmu Kimia untuk Siswa SMA dan MA Kelas X. Indonesian Academic Publishing.

Elvia, R., Rohiat, S., & Ginting, S. M.

2021. Identifikasi Miskonsepsi Mahasiswa pada Pembelajaran Daring Matematika Kimia Melalui Tes Diagnostik Three Tier Multiple Choice. Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia, 8(2), 84–96.

Fay, R. C., McMurry, J., & Robinson, J.

K. 2020. Chemistry (Eight). Pearson Education, Inc.

Irawati, R. 2014. Pengaruh Model Problem Solving dan Problem Posing serta Kemampuan Awal terhadap Hasil Belajar Siswa.

Jurnal Pendidikan Sains, Query date: 2022-09-22 12:44:15.

http://download.garuda.kemdikbud.

go.id/article.php?article=1582864&

val=4795&title=The%20Effect%20 of%20Problem%20Solving%20and

%20Problem%20Posing%20Model s%20and%20Innate%20Ability%2 0to%20Students%20Achievement Irawati, R. K. 2019. Pengaruh

Pemahaman Konsep Asam Basa terhadap Konsep Hidrolisis Garam Mata Pelajaran Kimia SMA Kelas XI. THABIEA : JOURNAL OF NATURAL SCIENCE TEACHING,

2(1), Article 1.

https://doi.org/10.21043/thabiea.v2 i1.4090

Irawati, R. K., & Sofianto, E. W. N.

2019. The misconception analysis of natural science students on heat

and temperature material using four tier test. Journal of Physics:

Conference Series, 1321(3), 032104.

https://doi.org/10.1088/1742- 6596/1321/3/032104

Jannah, R. R., & Utami, L. 2019.

Identifikasi Miskonsepsi Siswa Pada Materi Reaksi Redoks Menggunakan Certainty Of Respond Indeks. Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry, 10(2), 50–60.

https://doi.org/10.22437/jisic.v10i2 .5849

Kaltakci-Gurel, D., Eryilmaz, A., &

McDermott, L. C. 2017a.

Development and Application of A Four-Tier Test to Assess Pre- Service Physics Teachers’

Misconceptions about Geometrical Optics. Research in Science &

Technological Education, 35(2), 238–260.

Kaltakci-Gurel, D., Eryilmaz, A., &

McDermott, L. C. 2017b.

Development and application of a four-tier test to assess pre-service physics teachers’ misconceptions about geometrical optics. Research in Science & Technological Education, 35(2), 238–260.

https://doi.org/10.1080/02635143.2 017.1310094

Kusumawati, I., Enawaty, E., & Lestari, I. 2014. Miskonsepsi Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Sambas pada Materi Reaksi Reduksi Oksidasi.

Jurnal Pendidikan dan …, Query date: 2023-02-09 09:34:04.

https://jurnal.untan.ac.id/index.php/

jpdpb/article/view/6002

Medina, P. 2022. Analisis Miskonsepsi Siswa Kelas X pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit serta Reaksi Oksidasi dan Reduksi dalam Pembelajaran Kimia di SMAN 8 Kota …. Eduscience Development

(8)

Journal, Query date: 2023-02-09 09:34:04.

http://ojs.ummy.ac.id/index.php/edj /article/view/101

Monita, F. A., & Suharto, B. 2017.

Identifikasi dan Analisis Miskonsepsi Siswa Menggunakan Three-Tier Multiple Choice Diagnostic Instrument pada Konsep Kesetimbangan Kimia. Quantum:

Jurnal Inovasi Pendidikan Sains,

7(1), Article 1.

https://doi.org/10.20527/quantum.v 7i1.3538

Nurlela, Kurniati, & Mawardi. 2017.

Kajian Miskonsepsi Siswa Melalui Tes Multiple Choice menggunakan Certainty of Response Index (CRI) pada Materi Reaksi Reduksi Oksidasi Kelas X MIPA SMAN 1 Pontianak. Ar-Razi Jurnal Ilmiah,

5(2), 225–238.

https://doi.org/10.29406/arz.v5i2.6 35

Pratama, S. 2020. Analisis Miskonsepsi pada Materi Sistem Reproduksi Siswa Kelas XI MAN 1 Lombok Barat Tahun Ajaran 2019/2020.

Jurnal Inovasi Pendidikan dan Sains, 1(3).

Rizki, M., Nurhadi, M., & Widiyowati, I. I. 2020. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Menurunkan Miskonsepsi Siswa tentang Konsep Reaksi Redoks. Jurnal Zarah, 8(1), Article 1.

https://doi.org/10.31629/zarah.v8i1 .1974

Rufaida, A. D., & Qurniawati, A. 2014.

Kimia Peminatan Matematika dan

Ilmu-Ilmu Alam SMA/MA Kelas X Semester 2. Intan Pariwara.

Sasmita, A., Melati, H. A., & Lestari, I.

2017. Deskripsi Kesalahan Siswa pada Konsep Reaksi Reduksi Oksidasi di Kelas X SMA Negeri 5 Pontianak. 6(12), 1–12.

https://doi.org/10.26418/jppk.v6i12 .23065

Siska, A. 2021. PROFIL MISKONSEPSI SISWA SMA MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK TWO TIER MULTIPLE CHOICE DI KOTA TASIKMALAYA PADA MATERI

REAKSI REDUKSI .

repository.upi.edu.

http://repository.upi.edu/id/eprint/6 2715

Sofianto, E. W. N., & Irawati, R. K.

2020. Upaya Meremediasi Konsep Fisika pada Materi Suhu dan Kalor.

Southeast Asian Journal of Islamic Education, 2(2), Article 2.

https://doi.org/10.21093/sajie.v2i2.

2188

Wulandari, P., Mulyani, B., & Utami, B.

2019. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Three-Tier Multiple Choice pada Materi Konsep Redoks Kelas X MIPA SMA Batik 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Kimia, 8(2), 207–216.

Yuniarti, E., Bahar, A., & Elvinawati.

2020. Analisis Miskonsepsi Siswa Pada Materi Konsep Redoks Menggunakan Certainty of Response Index (CRI) di SMA Negeri 9 KotaBengkulu. Alotrop:

Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kimia, 4(1).

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memperkuat kembali pengertian dari oksidasi dan reduksi berdasarkan konsep pelepasan dan pengikatan oksigen, mari kita lihat contoh reaksi redoks lainnya yang terjadi

Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah efektivitas model pem- belajaran NHT pada materi reaksi redoks dalam meningkatkan

The results of the study were as follows: (1) 9% of the students understood the concept, 51% of the students had a misconception, 34% of the students were lack

Hasil penelitian menunjukkan: (1) Konsep sukar adalah (a) reaksi oksidasi berdasarkan penggabungan dan pelepasan oksigen; (b) reaksi reduksi berdasarkan transfer elektron;

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Miskonsepsi siswa kelas X MIPA SMAN 2 Karanganyar terjadi pada materi reaksi redoks subkonsep pelepasan dan penerimaan elektron, penggabungan

As many as 69.5% of students experienced a misconception on the concept of "Temperature depends on material objects", and only 15.2% of students understood the concept of "Heat as an

No Answer Confidence Level Reason Confidence Level Decision 11 Wrong Not sure True Sure Lack of knowledge 12 Wrong Not sure True Not sure Lack of knowledge 13

The misconceptions obtained in Newton's law of gravity include that the gravitational attraction is only caused by the planets, the size affects the distance of the center of two mass