Vitamin adalah zat gizi mikro yang memiliki efek fisiologis pada berbagai respons biologis, termasuk untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Senyawa organik ini memiliki karakteristik dan sifat secara umum seperti mudah terakumulasi dalam tubuh, hanya dibutuhkan tubuh dalam jumah kecil, ada yang larut terhadap air atau hidrosoluble dan ada yang larut terhadap lemak atau liposoluble, dan vitamin ini dapat rusak oleh panas dan cahaya (Carazo et al., 2021).
Berdasarkan karakteristik yang diejlaskan diatas, vitamin berdasarkan kelarutannya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak contohnya vitamin A, D, E, dan K, yang dapat ditemukan dalam berbagai sumber makanan seperti hati, produk olahan susu, minyak ikan dan kacang-kacangan. Vitamin yang larut dalam lemak memainkan peran integral dalam banyak proses fisiologis seperti penglihatan, kesehatan tulang, fungsi kekebalan tubuh, dan koagulasi (Youness et al., 2022). Vitamin yang larut dalam air adalah mikronutrien penting dalam makanan dan penting untuk fungsi biokimia dalam fisiologi tubuh manusia.
Vitamin ini sangat penting untuk diet sehat dan memiliki peran pencegahan terhadap penyakit. Namun, keterbatasan mereka terkait dengan sensitivitas tinggi terhadap kondisi eksternal (suhu, cahaya, pH, kelembaban, oksigen) dapat menyebabkan degradasi selama pemrosesan dan penyimpanan. Vitamin yang larut terhadap air ini contohnya vitamin B kompleks dan C, yang dapat ditemukan pada sumber makanan yang mengandung air seperti buah buahan dan sayuran (Coelho et al., 2022).
Setiap vitamin memiliki fungsi atau manfaat masing-maisng terhadap tubuh manusia, contohnya vitamin C dapat membuang radikal bebas kuat dalam plasma, melindungi sel terhadap kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh ROS(reactive oxygen species), juga dapat mengurangi stress oksidatif.
Kekurangan vitamin C akan membuat tubuh rentan terhadap infeksi, respon imun yang kurang kuat, penyembuhan luka yang buruk, dan peningkatan risiko pneumonia (Makmun & Rusli ., 2020). Kemudian ada vitamin A yang berperan penting dalam penglihatan seperti rabun senja atau berkurangnya kemampuan penglihatan dibawah cahaya redup. Metabolit vitamin A, asam retinoat (RA), sangat penting untuk fungsi normal sistem kekebalan tubuh yang mempotensiasi respons antibodi. Dan terbukti meningkatkan patologi kulit photo-aged dan chronologically aged. Mereka mempromosikan pengendapan serat kolagen baru dan mencegah degradasi yang terjadi pada jenis kulit (Noh & Mustar., 2019).
Selain itu, ada juga vitamin B1, B6, B9, dan B12, sering dikonsumsi pasien gagal ginjal kronis.Vitamin-vitamin tersebut memiliki peran dalam metabolisme homosistein, yaitu dapat memicu peningkatan kadar homosistein. Selain itu vitamin ini juga berperan dalam metabolisme kalsium dan fosfat, kesehatan vaskuler, diferensiasi dan proliferasi sel. (Sanyasi et al., 2020).
Ada juga vitamin K yang memiliki fungsi utama yaitu untuk membantu pembekuan darah dalam tubuh, karena vitamin K membantu untuk pembentukan protrombin yangsangat berguna untuk membekukan darah pada saat terjadi luka (Adiarni et al., 2022). Kemudian ada vitamin E adalah sebagai antioksidan.
Antioksidan dapat menghalau serangan radikal bebas yang akan merusak sel, dengabn demikian tubuh terhindar dari kerusakan akibat serangan radikal bebas.
Beberapa penelitian menyatakan vitamin E dapat menurunkan infeksi apabila kadar vitamin E tubuh meningkat.4 Fungsi lainnya yaitu mampu melawan penuaan dini pada kulit (anti-aging). Riset menunjukkan bahwa vitamin E membantu memberikan kelembapan pada kulit (Basuki & Devitasari., 2022).
Sifat dari vitamin A yang merupakan senyawa poliisoprenoid yang mengandung cincin sikloheksenil dan mempunyai provitamin yaitu karoten dalam bentuk pigmen berwarna kuning ß karoten, yang terdiri atas dua molekul retinal yang dihubungkan pada ujung aldehid rantai karbonnya, dan dapat larut terhadap lemak, berbentuk retinoid yang termasuk retinal, asam retinoat, dan retinol, mudah terakumulasi dalam tubuh, terutama di hati dan jaringan adiposa (Triana, 2006). Selain itu, ada juga vitamin K yang merupakan vitamin yang larut terhadap lemak yang terdiri dari 3 bentuk berdasarkan struktur penyusunnya, yaitu vitamin K1 (phylloquinone), vitakim K2 (menaquinone), dan vitamin K3 (menadione).
Berbentuk serbuk kristal kecil dengan warna kuning sampai orange. Dan umumnya tahan terhadap paparan cahaya kecuai cahaya matahari langsung dan berkepanjangan (Rajagopal et al., 2022). Selanjutnya ada vitamin E yang terdiri dari tokoferol dan tokotrienol. Tokoferol dan tokotrienol dibedakan atas empat macam yaitu α, β, γ, dan δ. tidak dapat larut dalam air serta dikenal sebagai agen antioksidan. memiliki delapan molekul cincin kroman dengan gugus hidroksil alkohol dan rantai samping (12-karbon) yang mengandung dua gugus metil tengah dan dua gugus metil lagi pada akhir. memiliki sifat antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh (Basuki & Devitasari., 2022).
Ada juga Vitamin D yang termasuk dalam kelompok secosteroid larut lemak yang berasal dari kolesterol. Karakteristik secosteroid adalah adanya ikatan yg rusak pada salah satu cincin steroidnya. Karakteristik vitamin D dapat dilihat dari aktivitas hormonalnya. Dimana metabolit aktifnya disintesis di ginjal dan hati dan ditransportasikan melalui darah ke target organ dan jaringan, seperti epitel intestinal dan tulang. Vitamin ini dapat disintesis dikulit manusia, yaitu pada sintesis endogen, cholecalciferol (vitamin D3) disintesis dari 7-dehydrocholesterol di kulit pada saat terpapar sinar ultraviolet B dari sinar matahari (Dewi, 2017).
Kemudain ada vitamin C atau L-asam askorbat yang bisa menjadi antioksidan untuk menangkal radikal bebas, dapat larut dalam air (aqueous antioxidant).
Bersifat asam dengan berat molekul 176,13 dan molekul C6H8O6 dan berbentuk kristal putih yang dapat larut dalam air dan terasa asam serta tidak berbau (Safnowandi, 2022). Selanjutnya ada vitamin B Kompleks yang sifatnya larut dalam air, tidak bersifat toksik karena diekskresikan dalam urin sehingga tidak
terjadi penimbunan. Berdasarkan struktur penyusunnya vitamin B terdiri dari tiamin ( Vitamin B1), riboflavin (Vitamin B2), niasin (Vitamin B3), piridoksin (Vitamin B6), asam folat/ folasin (Vitamin B9), dan sianokobalamin (Yuniarti &
Ramadhani., 2023).
Uji Carr-Price adalah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur kuantitas vitamin A dan vitamin D. Prinsip kerja uji Carr-Price didasarkan pada reaksi antara vitamin A atau D dengan senyawa tertentu dalam reagen Carr-Price, sehingga terjadi perubahan warna yang dapat diukur secara spektrofotometri. Reagen carr-Price yang biasanya digunakan yaitu asam asetat glasial, p-aminodimetil anilin, dan asam sulfat pekat. Spektrofotometri akan menggukur nilai absorbansi yang dihasilkan oleh kompleks ini dapat digunakan untuk mengestimasi konsentrasi vitamin A atau D dalam sampel (Kildahl- Andersen et al., 2007).
Uuji benedict untuk vitamin C berkaitan dengan pemeriksaan glukosa urine yang merupakan salah satu parameter pemeriksaan urine rutin. Dimana faktor faktor pengganggu hasil urinalisis salah satunya yaitu vitamin C.
Vitamin C adalah vitamin yang dapat larut dalam air dengan sifat kelarutan (300g/L pada 20◦C) dan vitamin C tidak dapat larut pada larutan kloroform, eter dan benzena. Reagen benedict merupakan larutan campuran kompleks dari natrium sitrat(Na3C6H5O7), natrium karbonat(Na2CO3)dan pentahidrat tembaga sulfat(CuSO4.5H2O). Disini, peran tembaga (II) sulfat sebagai sumber ion Cu2+. Adapun natrium karbonat adalah media yang menyediakan suasana basa dan natrium sitrat berperan mengkomplekskan ion tembaga dengan molekul asam sitrat. Benedict biasa digunakan untuk mendeteksi adanya gula pereduksi yaitu gula yang memiliki gugus aldehida yang mampu mentransfer elektron ke senyawa lain. Zat pereduksi yang hadir dalam larutan akan mereduksi ion tembaga cupri (Cu2+) dalam reagen benedict menjadi tembaga cupro (Cu+), adanya oksida tembaga (Cu2O)yang dapat menghasilkan perubahan warna biru menjadi hijau, kuning, orange, hingga merah bata ()
Adiarni, N., Ramadhan, A. A., Zhahirah, D. N., Septiyani, F. D., Hanif, I. S., Hawari, R. M., ... & Aribah, S. (2022). PEMANFAATAN VITAMIN BAGI TUBUH MANUSIA. 1-8.
Basuki, S., & Devitasari, R. (2022). Peran Vitamin E pada Kulit. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan, 1(2), 116-126. https://doi.org/10.11594/jk-risk.01.2.6
Carazo, A., Macáková, K., Matoušová, K., Krčmová, L. K., Protti, M., & Mladěnka, P.
(2021). Vitamin A update: forms, sources, kinetics, detection, function, deficiency,
therapeutic use and toxicity. Nutrients, 13(5), 1703.
https://doi.org/10.3390%2Fnu13051703
CHUMAIROH, A. (2022). Pengaruh Variasi Penambahan Dosis Vitamin C pada Urine Terhadap Kadar Glukosa dengan Metode Benedict dan Metode Dipstick pada
Mahasiswa Universitas Binawan (Doctoral dissertation, Universitas Binawan).
https://doi.org/10.36590/jika.v4i3.361
Coelho, S.C., Estevinho, B.N. and Rocha, F., (2022). Recent advances in water-soluble vitamins delivery systems prepared by mechanical processes (electrospinning and spray-drying techniques) for food and nutraceuticals applications—A review. Foods, 11(9), p.1271. https://doi.org/10.3390%2Ffoods11091271
Dewi, Y. P. (2017). An Overview Vitamin D. Siloam Hosp, 25, 1-5.
Kildahl-Andersen, G., Naess, S. N., Aslaksen, P. B., Anthonsen, T., & Liaaen-Jensen, S.
(2007). Studies on the mechanism of the Carr–Price blue colour reaction. Organic &
Biomolecular Chemistry, 5(18), 3027-3033. https: //doi.ord/10.1039/b709535j Makmun, A., & Rusli, F. I. P. (2020). Pengaruh vitamin C terhadap sistem imun tubuh
untuk mencegah dan terapi COVID-19. Molucca Medica, 13(2), 60-64.
https://doi.org/10.30598/molmed.2020.v13.i2.60
Noh, M. F. M., & Mustar, R. D. N. G. (2019). Vitamin A in health and disease. Vitamin A, 3, 1-65. https://dx.doi.org/10.5772/intechopen.84460
Rajagopal, S., Gupta, A., Parveen, R., Shukla, N., Bhattacharya, S., Naravula, J., ... &
Suravajhala, P. (2022). Vitamin K in human health and metabolism: A nutri- genomics review. Trends in Food Science & Technology, 119, 412-427.
https://doi.org/10.1016/j.tifs.2021.12.012
Safnowandi, S. (2022). Pemanfaatan Vitamin C Alami sebagai Antioksidan pada Tubuh
Manusia. Biocaster: Jurnal Kajian Biologi, 2(1), 6-13.
https://doi.org/10.36312/bjkb.v2i1.43
Triana, V. (2006). Macam-macam vitamin dan fungsinya dalam tubuh manusia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 1(1), 40-47. https://doi.org/10.24893/jkma.v1i1.9 Yuniarti, E., & Ramadhani, S. (2023). Vitamin. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Youness, R. A., Dawoud, A., ElTahtawy, O., & Farag, M. A. (2022). Fat-soluble vitamins:
updated review of their role and orchestration in human nutrition throughout life cycle with sex differences. Nutrition & Metabolism, 19(1), 60.
https://doi.org/10.1186/s12986-022-00696-y