KONSOLIDASI NASIONAL PERCEPATAN PELAKSANAAN
RENCANA AKSI NASIONAL
GENDER DAN PERUBAHAN IKLIM (RAN GPI)
Veronica Tan
Wakil Menteri PPPA RI
Jakarta, 17 Juni 2025
Perubahan iklim memberikan dampak yang berbeda terhadap Laki-laki dan Perempuan
Perempuan kerap menanggung beban yang tidak seimbang akibat peran gender, kerentanan ekonomi, serta keterbatasan akses mereka
terhadap sumber daya.
DAMPAK → tidak proporsional dan diperparah oleh
ketimpangan gender yang telah ada, sehingga memperkuat kerentanan yang sudah dialami oleh perempuan.
Ketimpangan gender yang bersifat historis dan struktural —memengaruhi sejauhmana
perempuan dan anak perempuan dapat
memimpin, mengambil keputusan, bertindak, dan mengembangkan solusi untuk mengatasi
perubahan iklim.
Mengapa dampaknya berbeda…?
• Perempuan dan anak perempuan yang tinggal di daerah terpencil → memikul tanggung jawab yang tidak seimbang dalam menjamin ketersediaan pangan, air, energi, serta
sumber daya penting lainnya, di samping peran
pengasuhan terhadap anak-anak dan lansia yang ada di dalam keluarga mereka.
• Perempuan dan anak perempuan lebih rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim.
• Contoh: perempuan dan anak perempuan seringkali menjadi kelompok yang paling terdampak ketika terjadi gelombang panas, kekeringan, badai hebat, atau bencana iklim ekstrem lainnya.
5 Sasaran Utama RPJPN 2025-2045
Komitmen Persetujuan Paris pada Conference of Parties (COP)-21 United Nations Framework
Convention on Climate Change (UNFCCC) Tahun
2015, Indonesia terus mengupayakan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
Kegiatan pembangunan rendah karbon di berbagai
sektor terutama berupa aksi berbasis lahan, energi, dan
limbah yang telah dilakukan dari tahun 2010-2021 telah
berdampak pada penurunan emisi GRK.
PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PERUBAHAN IKLIM
ISU PERUBAHAN IKLIM
ISU GENDER
RPJPN 2025-2045: “Pengarusutamaan Gender”
sebagai salah satu (dari lima) Prinsip Pembangunan dalam
RPJPN 2025-2045
RPJMN 2025-2029: “Pengarusutamaan Gender”
sebagai salah satu (dari 4) Prinsip Pembangunan
1. Gender dan Inklusi Sosial 2. SDGs
3. Transformasi Digital
4. Pembangunan Berketahanan Iklim
dan Pembangunan Rendah Karbon
• Sektor Energi
• Sektor Industri
• Sektor Kelautan dan Perikanan
• Sektor Pangan dan Pertanian
• Sektor Kesehatan
• Sektor Kehutanan
• Sektor Pariwisata
• Sektor Transportasi
• Penggunaan Lahan
• Masalah Limbah dan Sampah
• Penerapan Ekonomi Sirkuler
• dan sektor lainnya yang terkait
UNFCCC → “Gender and Climate Change”
untuk pertama kalinya pada COP-
27 di Egypt tahun 2022
RPJPN 2025-2045: terjadinya kenaikan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) berdampak pada kenaikan permukaan laut → berpotensi menyebabkan
kerugian ekonomi secara signifikan dan
mengakibatkan 319 kabupaten/kota memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi.
Potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim mencapai sekitar Rp544 triliun tahun 2020-2024, dan diperkirakan kerugian ekonomi akan terus
meningkat apabila tidak dibangun ketahanan ekologi
yang memadai.
RAN-GPI
merupakan komitmen Indonesia melaksanakan strategi Pengarusutamaan Gender dalam pembangunan untuk mendorong peningkatan akses dan partisipasi penuh, bermakna dan setara bagi perempuan dalam aksi iklim.
disusun berdasarkan komitmen Pemerintah melaksanakan Lima Work Programme of Gender (LWPG) COP ke-27 di Egypt 2022 dan diperkuat
dalam COP ke-28 di Dubai 2023; Enhanced Nationally Determined
Contributions (ENDC), Indonesia Long-term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050), Sustainable Development Goals
(SDGs), dll…
Salah satu tujuan kebijakan utama ENDC yang sejalan dengan Perjanjian Paris adalah
mempromosikan, menghargai, dan
mempertimbangkan hak asasi manusia termasuk persamaan akses dan kesempatan bagi perempuan
dan kelompok rentan serta kesetaraan antar-
generasi dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, melalui pengarusutamaan isu gender ke
dalam kebijakan nasional dan sub-nasional
perubahan iklim.
Arah Kebijakan RAN GPI
menggunakan kerangka pengarusutamaan gender ke dalam sektor- sektor strategis berkaitan dengan perubahan iklim di Indonesia, yaitu:
✓ Peningkatan Kapasitas, Manajemen Pengetahuan dan Komunikasi;
✓ Kesetaraan Gender, Partisipasi dan Kepemimpinan Perempuan;
✓ Koherensi dan Koordinasi;
✓ Implementasi dan Sarana Implementasi Responsif Gender; dan
✓ Monitoring dan Pelaporan.
Akselerasi Percepatan Pelaksanaan RAN-GPI
- bukan tugas satu lembaga → sinergi
- gender mainstreaming dan climate change mainstreaming
→ parallel
- dilakukan pada 7 tahap pembangunan, mulai dari
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, audit, hingga tahap pelaporan pembangunan aksi perubahan iklim
- penggerak/champions implementasi RAN-GPI
- pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan
Pelaksanaan RAN-GPI → SC, TC, Pokja
7 Sektor Strategis RAN-GPI
1) Ketahanan Pangan, Pertanian Berkelanjutan, Air dan Irigasi;
2) Tutupan Hutan dan Lahan, Pencegahan Deforestasi/Degradasi Hutan, Penghutanan Kembali, Perbaikan Lahan Kritis,
Pengelolaan Air Gambut, Restorasi Lahan Gambut;
3) Energi Baru Terbarukan, Efisiensi Energi, Konservasi Energi (EBTKE) untuk Rumah Tangga dan Usaha, Pengelolaan Limbah dan Sampah, Kesehatan Lingkungan;
4) Industri dan Ekonomi Hijau, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Inovasi;
5) Ketahanan terhadap Bencana dan Dukungan untuk Perbaikan Kerusakan dan Kehilangan;
6) Ketahanan Sosial, Budaya, Kesehatan, Perlindungan Sosial dan Perlindungan Hak Anak, dan
7) Kelautan, Pesisir dan Ekonomi Biru.
ANALISIS GENDER
1. ISU GENDER
2. FAKTOR PENYEBAB
(dari adanya Isu Gender) 3. RENCANA AKSI
(untuk mengatasi Faktor Penyebab dari Isu Gender) 4. PD yang berperan
RENSTRA K/L
BAB I: PENDAHULUAN
BAB II: VISI, MISI DAN TUJUAN K/L BAB III: ARAH KEBIJAKAN,
STRATEGI, KERANGKA REGULASI, DAN KERANGKA KELEMBAGAAN BAB IV: TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN
BAB V: PENUTUP
WHAT NEXT…?
KONSOLIDASI NASIONAL merupakan forum untuk menegaskan kembali pentingnya kerjasama, kolaborasi
dan sinergi untuk mempercepat pelaksanaan RAN-GPI:
1. Memastikan seluruh materi RAN-GPI terintegrasi ke dalam RENSTRA 2025-2029 dan Renja tahunan dari setiap K/L
pengampu, serta dijabarkan juga ke dalam Renstra dan Renja Unit Kerja Eselon I dan II.
2. Membentuk SATUAN TUGAS PERCEPATAN PELAKSANAAN RAN-GPI, yang terdiri dari Eselon I dan II dari setiap K/L
pengampu.
Perempuan Berdaya
Anak Terlindungi
Indonesia Emas 2045