Membedah Praktik Manajemen PPh Badan 2024 &
2025: Jilid 1
Free Webinar/Workshop | Pratama Indomitra |
Rabu, 16 April 2025 |
Dr. Prianto Budi Saptono, Ak., CA, MBA. |
Biodata Narasumber
• Nama : Dr. Prianto Budi Saptono, Ak., CA., MBA
• Asal : Purwokerto
• Email : [email protected] | [email protected] | [email protected]
• NIDN : 0008097103 di Fak. Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI)
• Keluarga : 1 istri, 6 anak, 2 menantu, 3 cucu
• Pendidikan : D3 STAN (1993) - D4 STAN (1999) - S2 UGM (2012) - S3 FISIP UI (2020)
• Pekerjaan : • Pemeriksa di Karikpa Jakarta Enam Ditjen Pajak (1994 – 1999)
• Auditor/konsultan di KAP Kanaka Puradiredja & Rekan (1999-2004)
• Pemilik PT Pratama Indomitra dgn 115 pegawai (2010 – skrg)
• Direktur Eksekutif Pratama Institute for Fiscal Policy & Governance Studies
• Dosen S1 Fak. Ilmu Administrasi UI (Sep 2014 – skrg)
• Dosen S2 Fak. Ilmu Administrasi UI (Sep 2020 – skrg)
• Organisasi : • Ketua Pengawas IKPI (Ikatan Konsultan Pajak Indonesia) 2024-2029
• Anggota Komite Perpajakan IAPI (Institut Akuntan Publik Indonesia) 2022-2025
Weekly Free Webinar Institute for Fiscal Policy &
Governance Studies
Knowledge &
Development Center (KnDC) Digital Content
Pratama Free Webinar ini
alhamdulillah terselenggara
sebagai hasil kolaborasi
sinergis tiga divisi di
Pratama Indomitra.
Spirit Hidup
ْنِا ْمُتْ نَسْحَا ُُْ َِِْ ْمُتْ نَسْحَا
َ َ َََُُْْْا ْنِاََو ْمُُِس َََلَ
...Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri ... (QS 17:7)
ِب َءٓ َج نَم ِةَنَسَْلْٱ
ُرْشَع ۥُهَلََ َ َءٓ َج نَمََ ۖ َِلِ َثْمَأ
ِم َِِّإ ٓ ىَزُْيُ َلَََ ِةَئِ يَّسلٱِب َننَُُلَُُْْ َِ ْمََُُ َََلَْ ث
Barangsiapa berbuat kebaikan, maka mereka mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan, maka mereka dibalas seimbang
dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan
ِﺱﺎﻨﻠِﻟ ْﻢُﻬُﻌَﻔْﻧَﺃ ِﺱﺎﻨﻟﺍ ُﺮْﻴَﺧ
Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)
ُهُلَََُع َعَطَقْ ْا ُن َسِْْْلْا َت َم اَذِإ ْنِم ٍةَث َلََث ْنِم َِِّإ
ََ ٍةَُِر َج ٍةَقَدَص ُعََُ تْ نُ ُ ٍمْلَِع
ِهِب ُعْدَُ ٍحِل َص ٍدَلََََ
ُهَل ن
Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalannya,
kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang
dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh (HR. Muslim
no. 1631)
“If you would understand anything, observe its
beginning and its
development” ( Aristotle)
Spirit Hidup
Development 1 Development 2 Development 3
Development 4
1. Latar Belakang
2. Logika Dasar Pajak Berbasis Penghasilan 3. Logika Dasar Manajemen PPh
4. Pembahasan Praktik Manajemen PPh Badan 2024 & 2025
5. Pengaturan SPT PPh Badan di Coretax & PMK 81/2024
6. Serba-serbi Formulir SPT PPh Badan 2024
Agenda Pembahasan
Latar Belakang
Agenda 1
#1 Rasio Pajak di Media
Badan Penerimaan Negara Potensial Tingkatkan Rasio Pajak
Arnoldus Kristianus | 28 Feb 2025 | 10:30 WIB JAKARTA, investor.id – Pemerintah memasukkan rencana pendirian Badan Penerimaan Negara (BPN) dan peningkatan rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 23%, sebagai salah satu prioritas nasional dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024-2029. Kebijakan ini diharapkan juga bisa
sekaligus mendongkrak tax ratio.
Rasio pajak atau tax ratio adalah perbandingan penerimaan pajak terhadap PDB. Dari perhitungan
kisaran 11,52% sampai 15% dari PDB dalam RPJMN 2024-2029. Sedangkan rasio pendapatan negara secara keseluruhan ditargetkan sebesar 13,75%
sampai 18% dari PDB.
...
Sementara itu, Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute (TRI) Prianto Budi Saptono mengatakan, untuk meningkatkan penerimaan pajak maka pemerintah harus menciptakan voluntary
compliance, sehingga wajib pajak memliki tingkat
kepercayaan (trust) yang tinggi kepada otoritas pajak.
Pembenahan harus terus dilakukan di gaya
komunikasi dan pelayanan aparatur pajak kepada
wajib pajak.
#1 Rasio Pajak di Media
Badan Penerimaan Negara Potensial Tingkatkan Rasio Pajak
Arnoldus Kristianus | 28 Feb 2025 | ...sambungan .
“Dengan cara demikian dapat meningkatkan trust
wajib pajak sehingga wajib pajak secara sukarela mau lapor pajak sesuai ketentuan,” kata Prianto.
Pembenahan lainnya ada pada perbaikan layanan perpajakan berbasis digital yang ada di Coretax.
Menurut dia, DJP Kemenkeu harus terus memastikan bahwa aplikasi Coretax tidak lagi bermasalah secara bahasa pemrograman. Selain itu, DJP harus terus melakukan sosialisasi tentang penggunaan Coretax.
“Tujuannya adalah agar wajib pajak dan konsultan pajak memiliki pengalaman (user experience/UX)
yang baik ketika mereka menggunakan Coretax,” kata
Prianto.
#2 Target Penerimaan Pajak di Media
Menakar Dampak PHK Massal di Awal Tahun 2025 Terhadap Penerimaan Negara
Selasa, 04 Maret 2025 | 21:01 WIB | Reporter:
Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID JAKARTA. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di berbagai sektor industri masih berlanjut sejak 2024 dan terus berlanjut hingga awal 2025. Kasus terbaru adalah kebangkrutan PT Sritex yang menyebabkan lebih dari 10.000 karyawan
kehilangan pekerjaan pada awal Maret 2025.
Berdasarkan laporan analisis Komisi IX DPR yang membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan jaminan sosial, diperkirakan sebanyak 280.000 pekerja di sektor tekstil akan mengalami PHK
sepanjang 2025.
Pada kuartal pertama 2025, beberapa perusahaan lain juga telah melakukan PHK massal, termasuk Yamaha, KFC, dan Sanken.
Di tengah peningkatan angka pengangguran,
Kementerian Keuangan menargetkan penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 meningkat 45%
pada 2025, mencapai Rp 313,5 triliun.
Meskipun terjadi PHK massal, sejumlah pengamat
pajak menilai dampaknya terhadap penerimaan pajak
negara tidak signifikan. Hal ini karena negara tetap
memperoleh potongan dari pembayaran pesangon
para karyawan yang terkena PHK.
#2 Target Penerimaan Pajak di Media
Menakar Dampak PHK Massal di Awal Tahun 2025 Terhadap Penerimaan Negara
Selasa, 04 Maret 2025 | 21:01 WIB | ... sambungan
.
"Ketika ada PHK, seringkali pekerja yang terdampak adalah pekerja dengan upah minimum sehingga
dampaknya terhadap penerimaan PPh 21 tidak terlalu besar. Selain itu, pembayaran pesangon juga menjadi objek PPh 21, sehingga penerimaan pajak tetap terjaga,"
ujar Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, Prianto Budi Saptono, kepada Kontan, Selasa (4/3).
Prianto menambahkan bahwa prediksi gelombang PHK pada 2025 masih bersifat perkiraan. Dari sisi PPh badan, penutupan perusahaan juga tidak terlalu berdampak
karena sebagian besar perusahaan yang ditutup telah mengalami kerugian dalam beberapa tahun terakhir,
sehingga tidak memiliki kewajiban membayar PPh badan.
"Saya melihat bahwa target penerimaan pajak dari segmen PPh masih aman, sehingga pemerintah belum perlu
merevisi target penerimaan meskipun ada gelombang PHK," jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa proyeksi penerimaan PPh 2025 masih dapat mengacu pada Undang-Undang APBN 2025.
Pemerintah dapat mengoptimalkan penerimaan pajak
melalui intensifikasi, seperti penerbitan Surat Permintaan
Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan (SP2DK),
pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), serta
pemeriksaan pajak.
• Sesuai pengumuman dari DJP, seperti terlihat di gambar samping, pelaporan SPT Tahunan PPh 2024 menggunakan aplikasi sebelum Coretax, yaitu:
a. Aplikasi DJP Online, atau
b. Aplikasi yang disediakan oleh PJAP.
• Pertanyaan mendasar bagi Wajib Pajak orang pribadi adalah
bagaimana caranya agar pelaporan SPT PPh 2024 tidak memunculkan SP2DK (Surat Permintaan
Penjelasan atas Data/Keterangan)
#3 Pelaporan SPT PPh Badan 2024
#3a Permasalahan PPh Badan di 2024 & 2025
Lapor SPT PPh Badan 2024
Aman & Nyaman [Tidak
terbit SP2DK (Surat
Permintaan Penjelasan
atas Data/Keterangan),
apalagi pemeriksaan
dan sengketa pajak]
#3a Permasalahan PPh Badan di 2024 & 2025
Transaksi Perusahaan di 2025
Aman & Nyaman dari sisi Pajak Meski Sudah
Ada Coretax [Tidak terbit SP2DK, apalagi
• Ketika manajemen perusahaan berpikir bagaimana pelaporan PPh badan di setiap tahunnya aman dan nyaman, muncul risiko sengketa pajak yang harus dimitigasi.
• Menurut Prof. Dr. H.M. Hatta Ali, S.H., M.H, Ketua Mahkamah Agung RI, seperti dikutip dari Kata
Sambutan buku “Problematik
Sengketa Pajak Dalam Mekanisme Peradilan Pajak di Indonesia“
(Djatmiko, 2016):
1. Sengketa pajak yang meliputi Banding Pajak dan Gugatan Pajak melalui Pengadilan Pajak
merupakan ultimum remedium bagi pencari keadilan.
2. Sengketa tersebut terkait dengan suatu konflik antara perbedaan pandangan hukum, akuntansi dan ekonomi di dalam
mengimplementasikan kerangka pemikiran
3. Contohnya adalah sengketa mengenai konsepsi pemikiran hukum tentang penghasilan dan biaya dalam menghitung
Penghasilan Kena Pajak (PhKP).
#3a Permasalahan PPh Badan di 2024 & 2025
#3a Permasalahan PPh Badan di 2024 & 2025
Logika Dasar Pajak Berbasis Penghasilan
Agenda 2
#1 Kepastian tentang Mati & Pajak
In this world, nothing can be said
to be certain, except death and
taxes
Benjamin Franklin
#1 Kontribusi Rakyat Berupa Pajak
• Ungkapan Benjamin Franklin di dalam bahasa Perancis, yang terjemahannya terlihat di gambar samping, menggambarkan
gagasan bahwa kematian dan pajak menjadi dua hal yang pasti di dalam kehidupan manusia.
• Franklin menulis kutipan tersebut melalui suratnya ke Jean-
Baptiste Le Roy, seorang ilmuwan Prancis, pada bulan November 1789.
• Franklin merupakan tokoh
penting di dalam Revolusi Amerika karena peranannya menyusun dan menandatangani dokumen-dokumen penting
kebebasan).
• Secara sederhana, kontribusi masyarakat di suatu wilayah negara dibutuhkan agar
terkumpul dana pembangunan untuk menyejahterakan rakyat di negara tersebut.
• Kontribusi yang bersifat wajib di
atas bernama pajak.
#2 Basis Pemajakan
Tambahan Harta Konsumsi
Penghasilan
Income-based Taxation
Consumption- based Taxation
Wealth-based
Taxation
• Berdasarkan gambar di slide sebelumnya, basis pemajakan yang ada di dunia tidak terlepas dari persamaan Penghasilan = Konsumsi + Tambahan Harta.
• Apapun penghasilan yang diterima oleh seseorang akan digunakan untuk konsumsi (biaya hidup) dan investasi (tambahan harta).
• Masing-masing basis pemajakan akan memiliki pengaturan yang lebih rinci sesuai dengan
karakteristiknya melalui sebuah perumusan kebijakan yang
berujung pada norma hukum pajak agar tercipta keadilan dan kepastian hukum.
• Secara umum, ada dua basis
pemajakan utama (two leading tax bases) di dunia, yaitu:
1. Income-based taxation, dan 2. Expenditure-based taxation
atau consumption-based taxation.
#2 Basis Pemajakan
• Kebijakan pajak dituangkan ke dalam norma hukum dan
hukum itu dibuat untuk manusia karena bertujuan untuk melayani masyarakat, menciptakan keadilan,
keamanan, dan ketertiban.
• Pengaturan di dalam norma hukum berisi hak dan
kewajiban manusia agar terjadi keteraturan dan ketertiban
ketika mereka saling
berinteraksi sebagai bagian
dari “homo socius”.
• Berdasarkan logika dasar di atas, di dalam perspektif ilmu hukum, manusia (persons) itu menjadi subjek hukum dan terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Natural/physical persons (orang pribadi); dan
2. Artificial/fictitious persons (badan hukum).
#3 Subjek Pajak
Logika Dasar Manajemen PPh
Agenda 3
#1 Manajemen Pajak
Sumber: diadaptasi dari Griffin (Management, 12th Edition, 2017)
Masukan (Input) dari lingkungan:
• Sumber daya manusia
• Sumber daya keuangan
• Sumber daya fisik
• Sumber daya informasi
Keluaran (Output) berupa rencana organisasi
dilaksanakan secara:
• efektif &
• efisien.
Unsur Manajemen & Process-nya
Planning &
Decision Making
Organizing
Leading Controlling
#1 Manajemen Pajak
Pajak
?
Bayar yang seharusnya
Kepentingan DJP
Optimalisasi Penerimaan Kepentingan
Wajib Pajak
Optimalisasi Penghematan
1. Pengawasan & Konsultansi
2. Pemeriksaan & Penyidikan Pajak 3. Penagihan Pajak
1. Cara legal 1 = tax planning 2. Cara legal 2 = tax avoidance 3. Cara ilegal = tax evasion
Compliance Risk Management
Tax (Risk) Management
#2a Input Sumber Daya Manusia
Kemampuan untuk mencapai atau memahami jenis pekerjaan tertentu yang dilakukan dalam suatu organisasi
Technical skills
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan, memahami, dan memotivasi baik individu maupun kelompok
Interpersonal skills
Kemampuan untuk berpikir secara abstrak Conceptual skills
Kemampuan untuk memvisualisasikan secara maksimal respons yang tepat terhadap suatu situasi Diagnostic skills
Kemampuan untuk menyampaikan ide dan informasi secara efektif kepada orang lain dan secara efektif menerima ide dan informasi dari orang lain
Communication skills
Kemampuan untuk mengenali dan mendefinisikan masalah dan peluang dengan benar dan
• Sumber daya
informasi yang ada di ranah perpajakan adalah pengetahuan terhadap norma
hukum perpajakan di berbagai tingkatan.
• Wajib Pajak dapat menerapkan aturan pajak jika paham aturannya.
#2b Input Sumber Daya Informasi
#3 Compliance Risk Management
Sumber: Guiding Note - Compliance Risk Management: Managing and Improving Tax Compliance (OECD, 2004, hal. 8)
AR
Pemeriksa / PPNS
Transaksi Hukum Perjanjian
Standar Akuntansi Keuangan Hukum
Pajak
• Berdasarkan proses
manajemen berbasis model Input-Process-Output, yang diuraikan sebelumnya,
manajemen pajak lebih fokus pada pemanfaatan sumber daya informasi agar ada penghematan (efisiensi) sumber daya keuangan.
• Seperti terlihat di gambar samping (konsep segitiga transaksi), sumber daya informasi di dalam
manajemen pajak mencakup informasi yang melandasi transaksi sebagai objek pemajakan, yaitu:
1. Informasi kesepakatan (perjanjian) yang menjadi domain hukum perjanjian;
2. Informasi perlakuan akuntansi sesuai SAK (Standar Akuntansi Keuangan); dan
3. Informasi aturan pajak (hukum pajak).
#4 Tax Management Berbasis Segitiga Transaksi
Berdasarkan gambar di samping, setiap
perencanaan akan mencakup strategic planning (directional) yang pasti dirinci hingga operational planning (specific)
#5 Planning & Decision Making
Sumber: Management, 15th Edition – Global Edition (Robbins & Mary Coulter, 2021)
#6 Begin with the End in Mind
Pembahasan Praktik Manajemen PPh Badan 2024 & 2025
Agenda 4
#1 Manajemen PPh Badan 2024 & 2025
Manajemen PPh Badan 2025
• Jadi, WPOP harus dapat
memastikan bahwa penghasilan dan harta yang dilaporkan di SPT PPh OP harus memenuhi persamaan penghasilan =
konsumsi + tambahan harta.
• Karena unsur konsumsi tidak dilaporkan di SPT PPh OP, WPOP harus membuat
perhitungan biaya hidup rata- rata per bulan yang
disetahunkan.
menjadi instrumen pengawasan yang paling utama bagi petugas pajak untuk memastikan bahwa pelaporan PPh oleh setiap
WPOP sudah sesuai ketentuan PPh.
• Proses “data matching”
dilakukan dengan
membandingkan SPT PPh OP (yang telah dilaporkan) dengan data-data dan informasi yang kantor pajak peroleh dari
berbagai sumber.
#2a Data Matching
• Sebelum atau setelah penerapan CTAS, inti dari proses bisnis yang melandasi penerbitan suatu SP2DK tidak berubah, yaitu proses data matching (seperti terlihat di gambar samping dan gambar halaman berikut).
• Perbedaannya terletak pada pengumpulan informasi yang berbantuan komputer dan dengan teknologi informasi canggih.
• Dengan IDSS (Intelligent Decision Support System) di
CTAS, petugas pajak akan memiliki informasi yang sangat lengkap karena kemampuan interoperabilitas CTAS tersebut sehingga informasi yang tersaji untuk bahan pembuatan
SP2DK akan lebih akurat dan komprehensif.
• Satu data tunggal yang menjadi titik krusial dari proses data
matching adalah penggunaan NIK di banyak sistem informasi di berbagai institusi
pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lainnya (ILAP).
#2a Data Matching
CTAS Instansi
Pemerintah
Lembaga Asosiasi
Pihak Lainnya (termasuk pihak di LN)
• Sumber informasi dari ILAP tidak terlepas dari aturan hukum yang menjadi acuan kerja di AR, yaitu Pasal 35A UU KUP, seperti terangkum di tabel halaman berikut.
• Sebagai panduan teknisnya, Dirjen Pajak telah
menerbitkan Surat Edaran No. SE-05/PJ/2022 tentang Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak (“SE-05/2022”).
• SE-05/2022 tersebut
menyelaraskan beberapa SE
yang telah terbit sebelumnya agar ada keseragaman dan kesinambungan di dalam pelaksanaan proses bisnis pengawasan kepatuhan Wajib Pajak.
• CTAS dengan kemampuan interoperability-nya dan API- nya (Application Programming Interface) memungkinkan
proses bisnis pengawasan kepatuhan wajib pajak akan lebih efektif dan efisien.
#2a Data Matching
#2a Data Matching
No Pasal Isi Pasal
1 Pasal 35A UU KUP
(1) Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain, wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2).
(2) Dalam hal data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mencukupi, Direktur Jenderal Pajak berwenang menghimpun data dan informasi untuk kepentingan penerimaan negara yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2)
2 Penjelasan Pasal 35A UU KUP
Ayat (1)
Dalam rangka pengawasan kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment, data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang bersumber dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain sangat diperlukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Data dan informasi dimaksud adalah data dan informasi orang pribadi atau badan yang dapat menggambarkan kegiatan atau usaha, peredaran usaha, penghasilan dan/atau kekayaan yang bersangkutan, termasuk informasi mengenai nasabah debitur, data transaksi keuangan dan lalu lintas devisa, kartu kredit, serta laporan keuangan dan/atau laporan kegiatan usaha yang disampaikan kepada instansi lain di luar Direktorat Jenderal Pajak.
#2a Data Matching
No Pasal Isi Pasal
2 Penjelasan Pasal 35A UU KUP (lanjutan)
Ayat (2)
Apabila data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang diberikan oleh instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain belum mencukupi, untuk kepentingan penerimaan negara, Direktur Jenderal Pajak dapat menghimpun data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan sehubungan dengan terjadinya suatu peristiwa yang diperkirakan berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dengan memperhatikan
ketentuan tentang kerahasiaan atas data dan informasi dimaksud.
Analisis:
• Meskipun UU pajak di Indonesia sejak 1983 menerapkan self assessment system, pada kenyataannya official assessment system juga masih diterapkan.
• Kondisi di atas terjadi ketika ada pemeriksaan yang bertujuan untuk menguji kepatuhan.
• Pajak dihitung berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat
terutang menurut pemeriksa tidak disetujui Wajib Pajak.
• Perhitungan pajak terutang oleh pemeriksa mengacu pada interpretasi mereka terhadap:
1. Bukti transaksi yang sudah mereka analisis (hukum perdata), dan
2. Atutran pajak yang relevan dengan transaksi tersebut (hukum administrasi/publik).
• Karena basis pemajakannya adalah penghasilan, manajemen PPh
badan tidak terlepas dari
pemahaman terhadap aturan PPh.
• Sesuai dengan penjelasan
sebelumya, aturan PPh fokus pada penghasilan perusahaan sebagai legal persons sehingga penghasilan tersebut dapat digunakan untuk:
1. Menambah konsumsi, dan/atau 2. Menambah harta.
• Pelaporan PPh di setiap tahun akan
memunculkan masalah di kemudian hari melalui proses pengawasan kepatuhan material oleh kantor pajak berupa “data matching” jika persamaan penghasilan menjadi sbb.:
penghasilan < konsumsi + tambahan harta
dan bukan berupa:
penghasilan = konsumsi + tambahan harta.
#2b Data Matching di PPh Badan
• Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi (WPOP) dilaporkan melalui SPT (Surat Pemberitahuan) ke kantor pajak.
• Tambahan konsumsi bagi WPOP dapat teridentifikasi dari perilakunya yang terekam di media sosial
(medsos).
• Tambahan harta bagi WPOP dapat teridentifikasi melalui:
1. Aktivitas yang terekam di media sosial (misalnya home touring
dan flexing harta kekayaan), 2. Transaksi penambahan harta
yang terekam di instansi
pemerintah dengan contoh sbb.:
a. dokumen pertanahan di BPN (Badan Pertanahan Nasional), b. dokumen kendaraan (Buku
Pemilikan Kendaraan) di kantor Samsat, atau
c. dokumen saham di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia).
#2b Data Matching di PPh Badan
Pengaturan SPT PPh Badan di Coretax & PMK 81/2024
Agenda 5
• Agar dapat mengetahui dan memahami dengan mudah rincian isi pengaturan di PMK 81/2024, dapat digunakan dua asas hukum berikut:
1. titulus est lex; dan 2. rubrica est lex
• Kedua asas hukum di atas sering digunakan oleh
mahasiswa baru ketika
mereka mendapatkan buku teks baru yang tebal.
• Langkah pertama mereka adalah membaca judul
bukunya (titulus est lex), lalu membaca daftar isinya
(rubrica est lex).
• Judul PMK 81/2024 adalah Ketentuan Perpajakan dalam rangka Pelaksanaan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP).
• Daftar isi PMK 81/2024
terangkum di slide halaman
#1 Analisis atas PMK 81/2024
• Penataan ketentuan
perpajakan melalui PMK 81/2024 dilakukan untuk lingkup:
1. proses bisnis,
2. teknologi informasi, dan 3. basis data.
• Secara rinci sesuai asas hukum rubrica est lex dan sesuai Pasal 2 PMK 81/2024, ada tujuh ruang lingkup
pengaturan, seperti terangkum di tabel samping.
No Cakupan Pengaturan di PMK 81/2024
1. Tata cara pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan dan penerbitan, penandatanganan, serta pengiriman keputusan dan Dokumen Elektronik;
2. Tata cara pendaftaran Wajib Pajak, pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, dan pendaftaran Objek PBB (Pajak Bumi dan Bangunan);
3. Tata cara pembayaran dan penyetoran pajak, pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, imbalan bunga, serta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
4. Tata cara penyampaian dan pengolahan Surat Pemberitahuan;
5. Tata cara pemberian pelayanan administrasi perpajakan;
6. Ketentuan teknis pelaksanaan CTAS; dan
7. Contoh format dokumen dan contoh penghitungan, pemungutan, dan/ atau pelaporan
#1 Analisis atas PMK 81/2024
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
Bab Judul Bab/Bagian Pasal Halaman
I Ketentuan Umum 1 3 sd 26
II Ruang Lingkup 2 27
III Tata Cata Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan dan Penerbitan, Penandantangan, Serta Pengiriman keputusan, dan Dokumen Elektronik
3 sd 14 27 sd 36 IV Tata Cara Pendaftaran Wajib Pajak, Pengukuhan PKP, dan Pendaftaran Objek PBB
1 Tata Cara Pendaftaraan Wajib Pajak 15 sd 59 36 sd 58
2 Tata Cara Pengukuhan PKP 60 sd 70 59 sd 65
3 Tata Cara Pendaftaran, Pelaporan, dan Pendataan Objek PBB 71 sd 93 65 sd 78
V Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Pengembalian atas Kelebihan Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak Terutang, Imbalan Bunga, serta Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
1 Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak 94 sd 121 78 sd 99
2 Tata Cara Pengembalian atas Kelebihan Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak Terutang 122 sd 137 99 sd 112
3 Tata Cara Pemberian Imbalan Bunga 138 sd 149 112 sd 120
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
Bab Judul Bab/Bagian Pasal Halaman
VI Tata Cara Penyampaian dan Pengolahan SPT
1 Surat Pemberitahuan 161 sd 190 130 sd 150
2 Tata Cara Penyetoran, Pelaporan, dan Pengecualian Pengenaan PPh atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan, dan Perjanjian Pengikatan Jual Beli atas Tanah dan/atau Bangunan Beserta Perubahannya
191 sd 200 150 sd 158
3 Tata Cara Pembayaran dan Pelaporan PPh atas Penghasilan dari Pengalihan Real Estat dalam Skema Kontrak Investasi Kolektif Tertentu
201 sd 207 158 sd 162 4 Tata Cara Pemotongan dan Pembayaran PPh atas Penghasilan Lain Kontraktor Berupa Uplift atau
Imbalan Lain yang Sejenis dan/atau Penghasilan Kontraktor dari Pengalihan Partisipasi Interes
208 sd 216 162 sd 165 5 Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 Sehubungan dengan Pembayaran atas Penyerahan Barang
dan Kegiatan Di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha Di Bidang Lain
217 sd 225 165 sd 177 6 Penghitungan Angsuran PPh dalam Tahun Pajak Berjalan yang harus Dibayar Sendiri oleh Wajib
Pajak Baru, Bank, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa, Wajib Pajak Lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat Laporan Keuangan Berkala
226 sd 237 177 sd 183
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
Bab Judul Bab/Bagian Pasal Halaman
VI Tata Cara Penyampaian dan Pengolahan SPT
7 Pemotongan PPh Pasal 26 atas Penghasilan yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri selain Bentuk Usaha Tetap atas Penghasilan Berupa Keuntungan dari Penjualan Saham
238 sd 240 183 sd 184 8 Pemotongan PPh Pasal 26 atas Penghasilan Berupa Premi Asuransi dan Premi Reasuransi yang
Dibayar kepada Perusahaan Asuransi di Luar Negeri
241 sd 243 184 sd 186 9 Pelaksanaan Pemungutan PPh atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek 244 sd 249 186 sd 188 10 Tata Cara Penyetoran dan Pelaporan Penerimaan Negara dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak Bumi
dan/atau Gas Bumi dan Penghitungan Pajak penghasilan untuk Keperluan Pembayaran PPh Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi Berupa Volume Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi
250 sd 264 188 sd 194
11 Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Permintaan Kembali PPN Barang Bawaan Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar Negeri
265 sd 277 194 sd 201 12 Batasan Kegiatan dan Jenis Jasa Kena Pajak yang Ekspornya Dikenai PPN 278 sd 285 201 sd 206 13 Tata Cara Pengurang PPN atau PPN dan PPnBM atas Barang Kena Pajak yang Dikembalikan dan
PPN atas Jasa Kena Pajak yang Dibatalkan
286 sd 290 206 sd 210
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
Bab Judul Bab/Bagian Pasal Halaman
VI Tata Cara Penyampaian dan Pengolahan SPT
15 Penunjukan Kontraktor Kontrak Kerja Sama Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor atau Pemegang Kuasa/ Pemagang Izin Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi untuk memungut, Menyetorkan, dan Melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM, serta Tata Cara Pemungutan,
Penyetoran, dan Pelaporannya
298 sd 304 214 sd 217
16 Penunjukan Pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi untuk memungut, menyetor, dan Melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM, serta Tata Cara Pemungutan, penyetoran, dan Pelaporannya
305 sd 311 217 sd 220
17 PPN atas Penyerahan Jasa Agen Asuransi, Jasa Pialang Asuransi, dan Jasa Pialang Reasuransi 312 sd 322 221 sd 227 18 Pajak pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri 323 sd 331 227 sd 230 19 Tata Cara Penunjukan Pihak Lain, Pemungtuan, Penyetoran, dan Pelaporan PPN atas Pemanfaatan
Barang kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Luar Daerah Pabean di Dalam Daerah Pabean melalui Perdagangan Melalui Sistem Elektronik
332 sd 339 231 sd 235
20 PPN dan PPh atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto 340 sd 369 235 sd 249
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
Bab Judul Bab/Bagian Pasal Halaman
VI Tata Cara Penyampaian dan Pengolahan SPT
22 Tata Cara Pengkreditan Pajak Masukan 375 sd 381 251 sd 257
23 Tata Cara Pembuatan Faktur Pajak dan Tata cara Pembetulan atau Penggantian Faktur Pajak 382 sd 390 257 sd 261 VII Tata Cara Pemberian Pelayanan Administrasi Perpajakan
1 Penggunaan Nilai Buku atas Pengalihan dan Perolehan Harta dalam Rangka Penggabungan,
Peleburan, Pemekaran, atau Pengambilalihan Usaha 392 sd 406 261 sd 274
2 Fasilitas PPh untuk Penanaman Modal di Bidang Usaha Tertentu / atau di Daerah-daerah
Tertentu 407 sd 422 275 sd 288
3 Pemberian Fasilitas Pengurang Penghasilan Neto atas Penanaman Modal Baru atau Perluasan
Usaha pada Bidang Usaha Tertentu yang Merupakan Industri Padat Karya 423 sd 431 288 sd 294 4 Pemberian Pengurang Penghasilan Bruto atas Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Tertentu
di Indonesia 432 sd 441 294 sd 303
5 Kriteria Keahlian Tertentu serta Tata Cara Pengenaan PPh bagi Warga Negara Asing 442 sd 447 303 sd 305 6 Tata Cara Melakukan Pencatatan dan Kriteria Tertentu serta Tata cara Menyelenggarakan
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
Bab Judul Bab/Bagian Pasal Halaman
VIII Ketentuan Teknis Pelaksanaan Sistem Inti Administrasi Perpajakan 464 sd 467 314 sd 316 IX Contoh Format Dokumen Dan Contoh Penghitungan, Pemungutan, Dan/Atau Pelaporan 468 sd 471 317 sd 323
X Ketentuan Peralihan 472 sd 478 323 sd 333
XI Ketentuan Penutup 479 sd 484 333 sd 341
Analisis:
• Berdasarkan rincian pengaturan di PMK 81/2024, pelaporan SPT PPh badan sudah berbasis aplikasi Coretax.
• Informasi yang tersaji di SPT PPh Badan 2024 dan 2025 tidak mengalami perubahan karena dasar pengaturannya masih mengacu pada UU PPh (UU No. 7/1983 s.t.d.t.d. UU No.
6/2023).
• Namun demikian, proses pengawasan kepatuhan pajak sudah mengalami kemajuan signifikan karena menggunakan Coretax
yang dibekali dengan teknologi informasi termutakhir, termasuk teknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence).
• Proses pengawasan kepatuhan pajak, termasuk pengujiannya melalui pemeriksaan, tdak berbeda karena mengandalkan mekanisme data matching.
• Jadi, data/informasi yang tersaji di SPT PPh badan akan ditandingkan (matching process) dengan source documents (dokumen sumber) berupa kesepakatan bisnis (kontrak) dan dokumen transaksi.
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh format dokumen (Pasal 468)
1 Surat pernyataan belum dapat melampirkan dokumen pendukung isian Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (9)
A 2 Surat pernyataan penolakan Pendataan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) B 3 Berita acara penolakan Pendataan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (2) C 4 Surat permohonan perpanjangan jangka waktu pelunasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (5) D 5 Keputusan persetujuan perpanjangan jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (8) E 6 Keputusan penolakan perpanjangan jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (9) F 7 Surat atas permohonan Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 ayat (1) G 8 Bukti Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat (1) huruf a H 9 Surat pemberitahuan penolakan permohonan pemindahbukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat (1)
huruf b
I 10 Surat permohonan pengangsuran pembayaran Pajak Penghasilan 29 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat
(1)
J
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh format dokumen (Pasal 468)
12 Surat permohonan pengangsuran pembayaran utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (1) L 13 Surat permohonan penundaan pembayaran utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 ayat (1) M 14 Surat keputusan persetujuan pengangsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (4)
huruf a untuk Pajak Penghasilan Pasal 29
N 15 Surat keputusan persetujuan penundaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (4) huruf a untuk Pajak
Penghasilan Pasal 29,
O 16 Surat keputusan persetujuan pengangsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (4)
huruf b untuk utang pajak,
P 17 Surat keputusan persetujuan penundaan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (4) huruf b
llntuk utang pajak,
Q 18 Penolakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (3) berupa surat pemberitahuan penolakan permohonan
pengangsuran atau penundaan untuk Pajak Penghasilan 29
R 19 Penolakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) berupa pemberitahuan surat permohonan pengangsuran S
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh format dokumen (Pasal 468)
20 Penolakan se bagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) berupa pemberitahuan surat permohonan penundaan pembayaran utang pajak tidak memenuhi persyaratan
T 21 Surat keputusan penetapan kembali keputusan persetujuan pengangsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 119 ayat (2)
U 22 Surat keputusan penetapan kembali persetujuan penundaan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
119 ayat (2)
V 23 Permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 124 ayat (3), Pasal 127 ayat (3), Pasal 131 ayat (1), dan Pasal 135 ayat (1)
W 24 Surat kuasa pengembalian kelebihan pembayaran Pajak Penghasilan yang seharusnya tidak terutang dari pihak yang
dipotong atau dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 ayat (2) huruf d dan Pasal 135 ayat (2) huruf d
X 25 Dokumen pendukung bagi subjek pajak luar negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan terkait dengan
Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (2) huruf h
Y 26 Surat pemberitahuan penolakan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak Z
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh format dokumen (Pasal 468)
27 Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (1) AA 28 Pemberitahuan Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga tidak diterbitkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147
ayat (3),
BB 29 Nota penghitungan pemberian imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (5) CC 30 Nota penghitungan kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (1) DD 31 Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (1) EE 32 Permintaan konfirmasi kompensasi kelebihan pembayaran pajak ke Utang Pajak Wajib Pajak lain dan/atau Deposit
Pajak sebagait:nana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (3)
FF 33 Surat Pemberitahuan Tidak Diterbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak atau Surat Perintah Membayar
lmbalan Bunga dan permintaan pemutakhiran nomor rekening sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 ayat (2)
GG 34 Laporan Instansi Pemerintah atau pejabat yang melakukan pembayaran atau pejabat yang menyetujui tukar menukar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 198 ayat (1)
HH
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh format dokumen (Pasal 468)
35 Daftar pihak yang mengalihkan hak atas tanah dan/ atau bangunan yang dialihkan kepada Badan Usaha Milik Negara atau badan usaha milik daerah berdasar penugasan khusus sebagaimana dimaksud Pasal 198 ayat (2) huruf a dan laporan Badan Usaha Milik Negara atau badan usaha milik daerah yang mendapat penugasan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 198 ayat (2) huruf b
II
36 Laporan bulanan pejabat pembuat akta tanah dan laporan bulanan pembuatan risalah lelang atas tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 198 ayat (3)
JJ 37 Laporan mengenai perubahan atau adendum perjanjian pengikatan jual beli tanah dan/ atau bangunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 198 ayat (4)
KK 38 Surat pemberitahuan mengenai adanya pengalihan Real Estat kepada Special Purpose Company atau Kontrak
Investasi Kolektif dalam skema Kontrak Investasi Kolektif tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 huruf a
LL 39 Laporan bulanan mengenai penerbitan akta, keputusan, kesepakatan, atau risalah lelang atas pengalihan Real Estat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (3)
MM 40 Formulir laporan pengalihan Partisipasi Interes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (4), NN
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh format dokumen (Pasal 468)
42 Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Penghasilan berupa volume minyak bumi dan/ a tau gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (4)
PP 43 Pemberitahuan ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud atau ekspor Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 284 ayat (3)
44 Nota retur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 288 ayat (1) RR
45 Nota pembatalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 289 ayat (1) SS
46 Laporan realisasi investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 374 ayat (1) TT 47 Surat penyampaian laporan realisasi Penanaman Modal/ realisasi produksi, laporan realisasi Penanaman Modal, dan
pelaporan jumlah realisasi kegiatan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 420 ayat (1)
UU 48 Surat penyampaian laporan jumlah realisasi tenaga kerja Indonesia dan/ atau realisasi penanaman modal, laporan
jumlah realisasi penggunaan tenaga kerja Indonesia, dan laporan realisasi Penanaman Modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 428 ayat (1)
VV
49 Surat penyampaian laporan biaya Penelitian dan Pengembangan setiap Tahun Pajak dan laporan rincian biaya atas WW
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
A Contoh Format Dokumen (Pasal 468)
50 Surat penyampaian laporan penghitungan pemanfaatan pengurangan penghasilan bruto dan laporan penghitungan pemanfaatan tambahan pengurangan penghasilan bruto atas kegiatan Penelitian dan Pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 440 ayat (6)
XX
51 Permohonan untuk dikenai Pajak Penghasilan hanya atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Indonesia se bagaimana dimaksud dalam Pasal 446 ayat (1) menggunakan format sebagaimana
YY 52 Surat persetujuan atas permohonan pengenaan Pajak Penghasilan hanya atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh dari Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 446 ayat (4) huruf a
ZZ 53 Surat penolakan atas permohonan pengenaan Pajak Penghasilan hanya atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh dari Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 446 ayat (4) huruf b
AAA 54 Pemberitahuan penyelenggaraan Pembukuan dengan stelsel kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 458 ayat (1) BBB 55 Surat keterangan penyelenggaraan Pembukuan dengan stelsel kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 459 ayat (1), CCC B Contoh Penghitungan, Pemungutan, dan/ atau Pelaporan (Pasal 469)
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
B Contoh Penghitungan, Pemungutan, dan/ atau Pelaporan (Pasal 469)
57 Pajak atas penghasilan Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi berupa Uplift atau imbalan lain yang sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 208 ayat (1) dan Pasal 216 ayat (1)
EEE 58 Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 227 FFF 59 Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak Lainnya dan Wajib Pajak masuk bursa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 228
GGG 60 Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak Baru dalam rangka penggabungan, peleburan, dan/ atau
pengambilalihan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 236 ayat (1)
HHH 61 Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak dalam rangka pemekaran usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 236 ayat (2)
III 62 Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak Baru yang merupakan hasil perubahan bentuk badan usaha
sebagaimana dimaksud dalam pasal 236 ayat (4)
JJJ 63 Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak Baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 237 KKK 64 PPN oleh Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, perusahaan reasuransi, atau perusahaan reasuransi LLL
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
B Contoh Penghitungan, Pemungutan, dan/ atau Pelaporan (Pasal 469)
65 Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai oleh Agen Asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 318 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
MMM 66 Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan secara sekaligus atau bertahap sebagaimana dimaksud dalam Pasal
323 ayat (5)
NNN 67 PPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 343 ayat (1) dan Pajak Penghasilan Pasal 22 sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 358 ayat (9) atas jual beli Aset Kripto
OOO 68 Dividen Wajib Pajak yang menghasilkan produk selain yang diberikan fasilitas atau melakukan perluasan usaha
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 417 ayat (2) dan ayat (3)
PPP 69 Rumus penghitungan kompensasi kerugian Wajib Pajak yang mendapat fasilitas tambahan jangka waktu kompensasi
kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 418 ayat (3)
QQQ 70 Nilai pengurang penghasilan neto dalam hal terjadi penggantian aktiva sebagaimana dimaksud dalam Pasal 421 ayat
(3)
RRR 71 Rata-rata tenaga kerja Indonesia dalam suatu Tahun Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 423 ayat (4) SSS
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
B Contoh Penghitungan, Pemungutan, dan/ atau Pelaporan (Pasal 469)
73 Pengenaan PPh hanya atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 7 ayat (2)
UUU
C1 Ketentuan Lebih Lanjut (Pasal 470)
74 Penyampaian laporan realisasi investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 374 ayat (1) VVV 75 Pengkreditan Pajak Masukan pada Masa Pajak yang tidak sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 376 ayat (1) WWW 76 Pengkreditan Pajak Masukan atas Pajak Pertambahan Nilai yang Faktur Pajak yang dibuat dengan mencantumkan
identitas Pengusaha Kena Pajak orang pribadi selaku pembeli Barang Kena Pajak atau Penerima Jasa Kena Pajak berupa nama, alamat, dan Nomor Induk Kependudukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 377 ayat (2)
XXX
77 Pengkreditan Pajak Masukan sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 ayat (3)
YYY 78 Pengkreditan Pajak Masukan yang tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai yang
diberitahukan dan/ atau ditemukan pada waktu dilakukan Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 380 ayat
ZZZ
#2 Rubrica est Lex PMK 81/2024
No. Uraian Lamp.
C1 Ketentuan Lebih Lanjut (Pasal 470)
79 Pengkreditan Pajak Masukan yang ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 381 ayat (1)
AAAA 80 Bidang usaha tertentu pada daerah tertentu dengan persyaratan tertentu yang dapat diberikan fasilitas pengurangan
penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 423 ayat (3) huruf b
BBBB 81 Daftar fokus dan tema kegiatan Penelitian dan Pengembangan prioritas yang dapat diberikan fasilitas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 434 ayat (1) huruf d
CCCC 82 Pos jabatan tertentu untuk Warga Negara Asing dengan keahlian tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 443
ayat (1)
DDDD
C2 Ketentuan Lebih Lanjut (Pasal 471)
83 Barang tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 218 ayat ( 1) huruf a angka 1 butir a), barang tertentu lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 218 ayat (1) huruf a angka 1 butir b), barang berupa kedelai, gandum, dan tepung terigu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 218 ayat (1) huruf a angka 1 butir c), dan komoditas tambang
EEEE 4b
Serba-serbi Formulir SPT PPh Badan 2024
Agenda 6
#1a Formulir SPT 1771 Induk
• ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN TINTA HITAM
• BERI TANDA "X" PADA (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI
N P W P :
NAMA WAJIB PAJAK :
JENIS USAHA : KLU :
NO. TELEPON : - NO. FAKS : -
PERIODE PEMBUKUAN : s.d.
NEGARA DOMISILI KANTOR PUSAT (khusus BUT) :
TAHUN PAJAK
SPT PEMBETULAN KE-…
0 2
IDENTITAS
SPT TAHUNAN
PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN
PERHATIAN :
FORMULIR
1771
KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
• SEBELUM MENGISI, BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN
#1a Formulir SPT 1771 Induk
PEMBUKUAN / LAPORAN KEUANGAN : DIAUDIT OPINI AKUNTAN TIDAK DIAUDIT NAMA KANTOR AKUNTAN PUBLIK :
NPWP KANTOR AKUNTAN PUBLIK :
NAMA AKUNTAN PUBLIK :
N P W P AKUNTAN PUBLIK : NAMA KANTOR KONSULTAN PAJAK : N P W P KANTOR KONSULTAN PAJAK :
NAMA KONSULTAN PAJAK :
NPWP KONSULTAN PAJAK :
#1a Formulir SPT 1771 Induk
*) Pengisian kolom-kolom yang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal. 3)
1. PENGHASILAN NETO FISKAL
(Diisi dari Formulir 1771-I Nomor 8 Kolom 3) ……….
2. KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL
(Diisi dari Lampiran Khusus 2A Jumlah Kolom 8) ………
3. PENGHASILAN KENA PAJAK (1-2) ……...…..……….………..…………
4. PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT) a. Tarif PPh Ps. 17 ayat (1) Huruf b X Angka 3 ………….
b. Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b) X Angka 3 ……….
c. Tarif PPh Ps. 31E ayat (1)
(Lihat Buku Petunjuk)
5. PENGEMBALIAN / PENGURANGAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI
(PPh Ps. 24) YANG TELAH DIPERHITUNGKAN TAHUN LALU ……….
(1) (2)
RUPIAH *)
3
(3)
B. PPh TERUTANGA. PENGHASILAN KENA PAJAK
4 1
2
5
#1a Formulir SPT 1771 Induk
7. PPh DITANGGUNG PEMERINTAH (Proyek Bantuan Luar Negeri) ……..………..………..………
8. a. KREDIT PAJAK DALAM NEGERI
(Diisi dari Formulir 1771-III Jumlah Kolom 6) ……….………..…....………..………..………..……
b. KREDIT PAJAK LUAR NEGERI
(Diisi dari Lampiran Khusus 7A Jumlah Kolom 8) ……….………..………..………..………..…
c. JUMLAH ( 8a + 8b ) ……...………..….………..………
9. a. PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI b. PPh YANG LEBIH DIPOTONG / DIPUNGUT 10. PPh YANG DIBAYAR SENDIRI
a. PPh Ps. 25 BULANAN ….……..………..………..………..…………
b. STP PPh Ps. 25 (Hanya Pokok Pajak) …….….…..……….………
10b 10a 9 8b
C. KREDIT PAJAK
(6 – 7 – 8c)….
8a
8c 7
#1a Formulir SPT 1771 Induk
11. a. PPh YANG KURANG DIBAYAR (PPh Ps. 29)
b. PPh YANG LEBIH DIBAYAR (PPh Ps. 28A)
12. PPh YANG KURANG DIBAYAR PADA ANGKA 11.a DISETOR TANGGAL ………
13. PPh YANG LEBIH DIBAYAR PADA ANGKA 11.b MOHON :
a. DIRESTITUSIKAN b. DIPERHITUNGKAN DENGAN UTANG PAJAK
Pengembalian Pendahuluan (Pasal 17C atau Pasal 17D UU KUP) Khusus Restitusi untuk Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu atau Wajib Pajak
yang Memenuhi Persyaratan Tertentu:
THN (9 – 10c)….. 11
TGL BLN
D. PPh KURANG/ LEBIH BAYAR
#1a Formulir SPT 1771 Induk
Formulir 1771 Halaman 2
14. a. PENGHASILAN YANG MENJADI DASAR
PENGHITUNGAN ANGSURAN ………..………
b. KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL:
(Diisi dari Lampiran Khusus 2A Jumlah Kolom 9) .………...
c. PENGHASILAN KENA PAJAK (14a – 14b) …..………
d. PPh YANG TERUTANG
(Tarif PPh dari Bagian B Nomor 4 X 14c)
e. KREDIT PAJAK TAHUN PAJAK YANG LALU ATAS PENGHASILAN YANG TERMASUK DALAM ANGKA 14a YANG DIPOTONG / DIPUNGUT OLEH PIHAK LAIN …..……
f. PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI (14d – 14e) ………
g. PPh PASAL 25 : (1/12 X 14f) ………..…….………
14f 14e
RUPIAH
14c
14g
(1) (2)
14d 14b
(3)
E. ANGSURAN PPh PASAL 25 TAHUN BERJALAN
14a
#1a Formulir SPT 1771 Induk
15 a. PPh FINAL :
(Diisi dari Formulir 1771-IV Jumlah Bagian A Kolom 5) …..……..…
b. PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK : PENGHASILAN BRUTO
(Diisi dari Formulir 1771-IV Jumlah Bagian B Kolom 3) …..……..…..
16 a. Ada Transaksi Dalam Hubungan Istimewa dan/atau Transaksi dengan Pihak yang Merupakan Penduduk Negara Tax Haven Country.
(Wajib melampirkan Lampiran Khusus 3A, 3A-1, dan 3A-2 Buku Petunjuk Pengisian SPT )*
b. Tidak Ada Transaksi Dalam Hubungan Istimewa dan/atau Transaksi dengan Pihak yang Merupakan Penduduk Negara Tax Haven Country
G. PERNYATAAN TRANSAKSI DALAM HUBUNGAN ISTIMEWA
15a
F. PPh FINAL DAN PENGHASILAN BUKAN OBJEK PAJAK 15b
#1a Formulir SPT 1771 Induk
17 SELAIN LAMPIRAN-LAMPIRAN 1771-I, 1771-II, 1771-III, 1771-IV, 1771-V, DAN 1771-VI BERSAMA INI DILAMPIRKAN PULA :
a. SURAT SETORAN PAJAK LEMBAR KE-3 PPh PASAL 29 b. LAPORAN KEUANGAN
c. TRANSKRIP KUTIPAN ELEMEN-ELEMEN DARI LAPORAN KEUANGAN (Lampiran Khusus 8A-1 / 8A-2 / 8A-3 / 8A-4 / 8A-5 / 8A-6/ 8A-7/ 8A-8)*
d. DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL (Lampiran Khusus 1A Buku Petunjuk Pengisian SPT)*
e. PERHITUNGAN KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL (Lampiran Khusus 2A Buku Petunjuk Pengisian SPT)*
f. DAFTAR FASILITAS PENANAMAN MODAL (Lampiran Khusus 4A Buku Petunjuk Pengisian SPT)*
g. DAFTAR CABANG UTAMA PERUSAHAAN (Lampiran Khusus 5A Buku Petunjuk Pengisian SPT)*
h. SURAT SETORAN PAJAK LEMBAR KE-3 PPh PASAL 26 AYAT (4) (Khusus bagi BUT)
i. PERHITUNGAN PPh PASAL 26 AYAT (4) (Khusus BUT) (Lampiran Khusus 6A Buku Petunjuk Pengisian SPT)*
j. KREDIT PAJAK LUAR NEGERI (Lampiran Khusus 7A Buku Petunjuk Pengisian SPT)*
k. SURAT KUASA KHUSUS (Bila dikuasakan)
l. RINCIAN JUMLAH PENGHASILAN DAN PEMBAYARAN PPh FINAL PP 46/2013 PER MASA PAJAK DARI MASING-MASING TEMPAT USAHA m.
n.
H. LAMPIRAN
#1a Formulir SPT 1771 Induk
Dengan menyadari sepenuhnya akan segala akibatnya termasuk sanksi-sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, saya menyatakan bahwa apa yang telah saya beritahukan di atas beserta lampiran-lampirannya adalah benar, lengkap dan jelas.
a. WAJIB PAJAK b. KUASA c. ………, d.
(Tempat)
TANDA TANGAN DAN CAP PERUSAHAAN :
NAMA LENGKAP
PENGURUS / KUASA : e.
thn bln
tgl PERNYATAAN