PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Kabupaten Polewali Mandar sendiri terdapat 96 unit usaha industri kecil (produksi tempe) dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 120 orang. Hal ini menunjukkan pentingnya faktor produksi tenaga kerja, karena dengan banyaknya industri kecil akan semakin banyak tenaga kerja yang terserap. Juga mengingat hampir semua industri kecil di Kabupaten Wonomulyo masih menggunakan mesin manual dalam proses produksinya, maka diperlukan peran tenaga kerja untuk mengolah bahan baku tempe.
Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan dua faktor produksi yaitu jumlah tenaga kerja dan modal. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk membahas masalah mengenai “Pengaruh Modal, Bahan Baku dan Tenaga Kerja Terhadap Produksi Tempe Di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar”.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sebagai bahan kajian bagi mahasiswa STIE NOBEL MAKASSAR pada umumnya dan referensi skripsi, serta sebagai insider knowledge.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan umum tentang modal
Modal kerja permanen (permanent working capital) adalah modal kerja yang harus tetap ada dalam perusahaan untuk menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang terus menerus diperlukan untuk kelancaran operasi. Modal kerja variabel yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah sesuai dengan perubahan keadaan, modal kerja variabel dapat dibedakan menjadi modal kerja musiman, modal kerja siklis dan modal kerja darurat. Hasil usaha perusahaan yaitu besarnya laba bersih yang muncul dalam perhitungan laba rugi ditambah penyusutan, jumlah ini menunjukkan besarnya modal kerja yang berasal dari usaha perusahaan.
Simpanan wajib utama serta deposito dan sebagainya yang menjadi sumber peningkatan modal kerja. Kebutuhan alat tersebut berasal dari modal kerja Menurut Siegel dalam Fahmi, sumber modal kerja adalah.
Tinjauan umum tentang tenaga kerja
Duri 2013 Pengaruh modal dan tenaga kerja terhadap produksi sepatu (studi kasus di Koperasi Produsen Sepatu Margosuryo Kota Mojokerto). Diduga tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai produksi industri tempe di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar. Artinya variabel modal, bahan baku dan tenaga kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap output industri tempe.
Hipotesis ketiga (H3) yang diajukan dalam penelitian ini adalah tenaga kerja berpengaruh terhadap nilai produksi tempe. Tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai produksi industri tempe di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar.
Tinjauan umum tentang umkm
Tinjauan umum tentang bahan baku
Bahan baku merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari produk, sehingga harga pokok barang yang digunakan untuk membuat produk mudah dihitung. Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan bakso tahu adalah daging ayam, daging sapi dan tahu. Ahyari (1989) mengatakan terdapat beberapa kerugian jika perusahaan membuat stok bahan baku yang terlalu sedikit, antara lain
Harga pembelian bahan baku tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian normal dari perusahaan yang bersangkutan. Melakukan persediaan bahan baku yang berlebihan berarti perusahaan menyiapkan dana yang signifikan.
Dari namanya saja sudah bisa dibayangkan besarnya modal dan tenaga kerja yang digunakan dalam industri rumahan. Dilihat dari karakteristiknya industri ini menggunakan modal yang relatif kecil, tenaga kerja yang digunakan tidak lebih dari 4 orang, biasanya dari anggota keluarga, peralatan yang digunakan sederhana dan bukan mesin, yang hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan hal tersebut terlihat dari karakteristiknya yaitu membutuhkan modal yang lebih besar, tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang, yang sudah menggunakan teknologi yang cukup tinggi, namun masih banyak menggunakan tenaga manusia, dan telah menerapkan manajemen meskipun masih sederhana dan sudah ada pembagian kerja, misalnya keuangan, administrasi, produksi dan pemasaran.
Industri ini meliputi industri permesinan, logam dasar dan industri kimia dasar. Industri ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memperkuat struktur ekonomi. Contoh industri ini antara lain mesin pertanian, alat konstruksi, mesin listrik, kendaraan bermotor, kereta api, kapal laut, pesawat terbang, besi bangunan, baja dan sebagainya.
Jadi jika neraca konsumen terjadi pada saat seluruh uang untuk konsumsi habis, maka neraca produsen tercapai pada saat seluruh anggaran habis untuk membeli faktor-faktor produksi. Dalam konsumsi barang, berlaku hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang, sedangkan dalam penggunaan faktor-faktor produksi, berlaku hukum hasil yang semakin berkurang. Pengertian faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel sangat erat kaitannya dengan waktu yang diperlukan untuk menambah atau mengurangi faktor produksi tersebut.
Dalam jangka panjang (long run) dan jangka sangat panjang (very long run) semua faktor produksi bersifat variabel. Pengertian produksi dengan faktor produksi satu variabel adalah pengertian membagi faktor produksi menjadi barang modal dan tenaga kerja. Isoquan (isoquant) adalah kurva yang menggambarkan kombinasi yang berbeda dari penggunaan yang efisien dari dua jenis faktor produksi variabel dengan tingkat teknologi tertentu, yang menghasilkan tingkat output yang sama.
Perubahan produksi akibat perubahan laju penggunaan faktor produksi (returns to scale) merupakan suatu konsep yang ingin menjelaskan seberapa besar perubahan produksi ketika jumlah faktor produksi berlipat ganda (double). Kurva anggaran produksi (isocost) adalah kurva yang menggambarkan kombinasi yang berbeda dari penggunaan dua jenis faktor produksi yang membutuhkan biaya yang sama. Keseimbangan produsen terjadi ketika kurva isocost (i) berpotongan dengan kurva isoquant (q) pada titik perpotongan dimana kombinasi penggunaan kedua faktor produksi akan memberikan output maksimum.
Biaya produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh faktor produksi dan bahan baku yang akan digunakan untuk membuat barang yang diproduksi perusahaan. Dalam jangka pendek terdapat faktor produksi tetap yang menimbulkan biaya tetap, yaitu biaya produksi yang besarnya tidak bergantung pada tingkat produksi. Biaya variabel total (total variable cost/TVC) adalah total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya, yang biayanya bergantung pada tingkat produksi.
Berdasarkan hasil analisis data uji F untuk ketiga variabel yaitu modal, tenaga kerja dan bahan baku hasil produksi diperoleh nilai signifikan 0,00000 < 0,05. Dengan demikian, variabel modal dan tenaga kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil produksi sepatu. Analisis pengaruh bahan baku, bahan bakar dan tenaga kerja terhadap produksi tempe di kota semarang.
Variabel bahan bakar berpengaruh signifikan terhadap produksi tempe. Variabel tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi tempe.
Bahan baku diduga berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai produksi industri tempe di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar.
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
- Jenis dan Sumber Data
- Metode Analisis data
- Definisi Operasional
Efektif dan efisien tenaga kerja dan biaya dengan mempertimbangkan pengaruh modal dan tenaga kerja terhadap produksi industri kepegawaian di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar. Untuk menyatukan persepsi dalam penelitian ini dirumuskan definisi operasional “pengaruh modal, bahan baku dan tenaga kerja terhadap produksi industri tempe di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar”. Berdasarkan tabel 4.3.4 di atas jawaban responden mengenai ketenagakerjaan rata-rata responden memberikan jawaban setuju, dapat dilihat bahwa untuk pernyataan pertama yaitu jumlah karyawan yang saya pekerjakan lebih dari 5 orang adalah rata-rata responden memberikan jawaban setuju yaitu 11 orang atau 52,38%.
Pernyataan kedua tenaga kerja yang saya gunakan berasal dari keluarga, rata-rata responden memberikan jawaban positif yaitu sebanyak 14 orang atau 66,66%. Pernyataan keempat jumlah tenaga kerja yang saya gunakan berpengaruh terhadap jumlah produksi tempe saya, rata-rata responden memberikan jawaban positif yaitu 11 orang atau 52,38%. Keahlian tenaga kerja dalam proses pencampuran bahan baku selama produksi mempengaruhi kualitas tempe yang dihasilkan oleh industri saya.
Pernyataan ketiga bahwa keahlian tenaga kerja dalam proses pencampuran bahan baku selama produksi mempengaruhi kualitas tempe yang dihasilkan oleh industri saya. Pengujian hipotesis H1, H2 dan H3 dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda untuk menguji pengaruh modal, bahan baku dan tenaga kerja terhadap produksi industri tempe. Hipotesis kedua (H2) yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahan baku berpengaruh terhadap nilai produksi tempe.
Artinya semakin tinggi angkatan kerja maka nilai produksi tempe akan meningkat, sehingga hipotesis ketiga diterima. Bahan baku berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai produksi industri tempe di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar. Dari analisis pengaruh modal, bahan baku dan tenaga kerja terhadap produksi industri sementara di Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polman, maka saran penelitian yang dapat diajukan adalah sebagai berikut.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Objek Penelitian
Pendahulu Wonomulyo adalah kawasan hutan yang dibuka pada tahun 1934 oleh para transmigran dari pulau Jawa, kemudian pada tahun 1937 mulai berstatus kecamatan. Perlahan tapi pasti, Wonomulyo berkembang menjadi pusat bisnis terpenting di Kabupaten Polman, terutama untuk hiburan dan kuliner Kota Wonomulyo sangat kental dengan budaya Jawa. Kecamatan Wonomulyo merupakan dataran rendah dengan ketinggian 15 meter di atas permukaan laut, terletak pada 03º22'51.0 Lintang Utara dan 119º12'36.4 Bujur Timur.
Luas wilayah kecamatan Wonomulyo berupa daratan seluas 72,82 dan merupakan kecamatan terluas dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Pada akhir tahun 2016, wilayah administrasi Kecamatan Wonomulyo terdiri dari tiga belas desa dan satu kelurahan. Wilayah terkecil adalah desa Sugihwaras dengan luas 2,25 km2 sedangkan wilayah terbesar adalah desa Galeso dengan luas 18,15 km2.
Kantor Kecamatan Wonomulyo terletak di wilayah desa Sidodadi dengan jarak tempuh dari desa ke ibukota kecamatan terdekat yaitu desa Banua Baru berjarak 1 km, sedangkan jarak terjauh dari desa ke ibukota kecamatan adalah 9 km. Desa Nepo. Jumlah penduduk Kabupaten Wonomulyo tahun 2016 berdasarkan proyeksi jumlah penduduk adalah 48.764 jiwa, yaitu 24.134 laki-laki dan 24.630 perempuan yang tersebar di 14 kecamatan/desa. Jumlah penduduk terbesar ada di Kelurahan Sidodadi yaitu 11.178 jiwa, sedangkan desa Bakka-bakka dengan jumlah penduduk 1.625 jiwa merupakan desa dengan jumlah penduduk terkecil.
Dengan luas wilayah 72,82 km2, kepadatan penduduk per km2 di Kecamatan Wonomulyo adalah 670 jiwa per km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga sebanyak 4 orang. Kepadatan penduduk dari 14 kecamatan/desa tersebut cukup bervariasi, dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Sidodadi yaitu sebesar 3.854 jiwa per km2, sedangkan yang terendah berada di desa Galeso, dengan kepadatan penduduk hanya 152 jiwa per km2. . Distribusi penduduk di Kecamatan Wonomulyo terpusat di Desa Sidodadi sebesar 22,9 persen, disusul Desa Sumberjo dan Desa Sugihwaras masing-masing sebesar 8,78 persen dan 8,68 persen.
Statistik Deskriptif
Pernyataan ketiga modal yang saya gunakan sangat mempengaruhi kualitas bahan baku yang saya beli untuk produksi, rata-rata jumlah responden yang memberikan jawaban setuju adalah 14 orang atau 66,66%. Pernyataan kedua adalah jumlah bahan baku yang digunakan dalam setiap proses produksi lebih dari 10 kg. Rata-rata responden memberikan jawaban positif yaitu 16 orang atau 76,19%. Pernyataan ketiga yaitu harga bahan baku mempengaruhi jumlah produksi tempe saya, rata-rata responden memberikan jawaban positif yaitu sebanyak 11 orang atau 52,38%.
Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi pengaruh modal, bahan baku dan tenaga kerja terhadap produksi agen. Pada penelitian ini dapat diartikan bahwa ketika variabel tenaga kerja (X3) meningkat sebesar satu satuan maka nilai produksi meningkat sebesar 0,260. Dengan demikian hipotesis kedua bahwa bahan baku berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai produksi terbukti atau dapat diterima . .
Artinya semakin tinggi bahan baku maka nilai produksi tempe akan meningkat, sehingga hipotesis kedua diterima.
Analisis Deskriftif Variabel
Uji Kualitas Data