• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yusuf AS 14804241039 UNY SKRIPSI

N/A
N/A
Tin F

Academic year: 2023

Membagikan "Yusuf AS 14804241039 UNY SKRIPSI"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

Judul topik: LEMBAGA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI: STUDI KASUS EKONOMI DI NEGARA ANGGOTA ASEAN, 2008-2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak institusi terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008-2015.

Gambar 1. GDP per kapita di ASEAN Tahun 2008-2015 (constant 2010 US$)  Gambar  1  menunjukkan  bahwa  Singapura  merupakan  negara  dengan  GDP  per  kapita  paling  tinggi  dibandingkan  dengan  negara  anggota  ASEAN  yang  lain,  yakni  rata-rata  sebes
Gambar 1. GDP per kapita di ASEAN Tahun 2008-2015 (constant 2010 US$) Gambar 1 menunjukkan bahwa Singapura merupakan negara dengan GDP per kapita paling tinggi dibandingkan dengan negara anggota ASEAN yang lain, yakni rata-rata sebes

Identifikasi Masalah

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah negara-negara anggota ASEAN, dan pengaruh institusi terhadap pertumbuhan ekonomi diukur dengan dua indikator, yaitu indikator suara dan tanggung jawab dan indikator supremasi hukum. Sebagaimana telah dijelaskan, pengaruh institusi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam penelitian ini diukur dengan indikator voice and accountability dan indikator rule of law.

Rumusan Masalah

Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Bagaimana pengaruh faktor selain institusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN tahun 2008-2015.

Tujuan Penelitian

Pertumbuhan Ekonomi

Selain itu, perubahan teknologi merupakan bagian dari proses pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari dalam (endogen). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Menurut Arsyad (2010), pertumbuhan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh empat faktor utama.

Gambar 3. Skema Proses Perkembangan Ekonomi Schumpeter  4)  Teori Harrod-Domar
Gambar 3. Skema Proses Perkembangan Ekonomi Schumpeter 4) Teori Harrod-Domar

Institusi

Perkembangan penelitian mengenai peran institusi dalam pembangunan ekonomi telah melahirkan cabang ilmu ekonomi baru yang dikenal dengan istilah ekonomi institusional. Menurut Arsyad (2010), ekonomi institusional merupakan cabang ilmu ekonomi yang mempelajari pengaruh dan peran institusi terhadap kinerja perekonomian. Dalam literatur ekonomi, terdapat dua jenis ekonomi institusional, yaitu Old Institutional Economics (OIE) dan New Institutional Economics (NIE).

Ostrom (1986) mendefinisikan lembaga sebagai aturan dan tanda yang digunakan sebagai pedoman bagi anggota suatu kelompok masyarakat untuk mengatur hubungan yang saling mengikat atau saling bergantung di antara mereka. 1991) mendefinisikan institusi sebagai aturan (batasan) yang diciptakan oleh masyarakat untuk mengatur dan membentuk interaksi politik, sosial dan ekonomi. Aturan tersebut terdiri dari aturan informal (adat istiadat, tradisi, norma sosial dan agama) dan aturan formal (konstitusi, undang-undang, peraturan dan hak milik). Namun definisi institusi yang paling sering dijadikan acuan oleh para ekonom adalah definisi yang diberikan oleh Douglas C.

Pelanggaran terhadap aturan informal akan dikenakan sanksi sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Sementara itu, Rodrik (2000) mengatakan ada lima jenis institusi yang sangat diperlukan agar perekonomian suatu negara dapat berfungsi dengan baik.

Institusi dan Pertumbuhan Ekonomi

Negara-negara dengan institusi yang baik akan lebih mampu mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien sehingga perekonomiannya dapat berkinerja lebih baik, sehingga selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kualitas institusi yang diukur dengan variabel kebebasan sipil, kualitas pemerintahan dan jumlah pemain veto berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Di negara maju, pendidikan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun di negara berkembang berdampak positif.

Stabilitas pemerintahan, profil investasi, pengendalian korupsi, hukum dan ketertiban, akuntabilitas demokrasi dan kualitas birokrasi berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari beberapa teori tersebut, dapat ditentukan model yang paling tepat untuk menjelaskan bagaimana institusi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam penelitian ini. Institusi yang baik mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien sehingga perekonomian berjalan lebih baik dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Indikator kelembagaan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dengan nilai konstan pertumbuhan PDB per kapita dalam USD untuk tahun 2010. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Nawaz (2015) yang mempelajari dampak kelembagaan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data panel perkiraan di 56 negara dari tahun 1981 hingga 2010.

Tabel 1. Penelitian yang Relevan
Tabel 1. Penelitian yang Relevan

Populasi

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Bank Dunia dan United Nations Development Programme.

Variabel Penelitian

Variabel Terikat (dependent variable)

Variabel penjelas dalam penelitian ini adalah suara dan akuntabilitas, supremasi hukum, belanja pemerintah, inflasi, modal fisik, modal manusia dan lag PDB per kapita.

Definisi Operasional Variabel

  • Pertumbuhan Ekonomi (GGDP)
  • Modal Manusia (HC)
  • Inflasi (INF)
  • Pengeluaran Pemerintah (GOV)

Variabel lag PDB per kapita pada penelitian ini diukur menggunakan data PDB per kapita tahun sebelumnya (t-1). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif dengan menggunakan data panel. Data cross-sectional dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari negara-negara anggota ASEAN, sedangkan data time series dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari tahun 2008-2015.

Tahun 2008-2015 dipilih sebagai tahun penelitian karena pada tahun 2008 terjadi krisis ekonomi global yang memberikan dampak negatif terhadap negara-negara di kawasan Asia Tenggara. LAG_GDPPC = Variabel lag PDB per kapita HC = Variabel modal manusia PC = Variabel modal fisik INF = Variabel inflasi.

Teknik Analisis Data

Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Rata-rata tertinggi variabel pertumbuhan ekonomi diciptakan oleh negara Myanmar yaitu sebesar 7,49 persen, sedangkan rata-ratanya terendah. Rata-rata tertinggi pada variabel suara dan tanggung jawab dihasilkan oleh Indonesia yaitu sebesar 0,05 dan rata-rata terendah dihasilkan oleh Myanmar yaitu -1,74. Rerata tertinggi untuk variabel supremasi hukum dihasilkan oleh Singapura sebesar 1,69 dan mean terendah dihasilkan oleh Myanmar sebesar -1,38.

Rata-rata variabel human capital terbesar dihasilkan oleh Singapura yaitu 91,25, sedangkan mean terkecil dihasilkan oleh Myanmar yaitu 53,50. Rata-rata terbesar pada variabel modal fisik dihasilkan oleh Singapura yaitu sebesar 18,56 persen, sedangkan rata-rata terkecil dihasilkan oleh Singapura. Rata-rata variabel inflasi terbesar dihasilkan oleh Vietnam masing-masing sebesar 9,80 persen, sedangkan rata-rata terkecil dihasilkan oleh Brunei Darussalam masing-masing sebesar 0,72 persen.

Rata-rata variabel pengeluaran pemerintah terbesar dihasilkan oleh negara Brunei Darussalam yaitu sebesar 20,80 persen, sedangkan rata-rata terkecil dihasilkan oleh negara Kamboja yaitu masing-masing sebesar 5,79 persen. Selain itu, nilai minimum variabel pengeluaran pemerintah juga dihasilkan oleh negara Kamboja pada tahun 2015 yaitu sebesar 5,40 persen, sedangkan nilai maksimum variabel pengeluaran pemerintah masing-masing dihasilkan oleh negara Brunei Darussalam pada tahun 2015.

Tabel 2. Kriteria Pengujian Durbin Watson
Tabel 2. Kriteria Pengujian Durbin Watson

Analisis Data

Uji Spesifikasi Model

Berdasarkan hasil estimasi uji Chow diatas terlihat nilai probabilitas Chi-square sebesar 0.0000021 atau lebih kecil dari 0.05 maka H0 ditolak dan model yang akan digunakan adalah model fixed-effect. Apabila model yang dipilih merupakan fixed effect maka perlu dilakukan pengujian lebih lanjut yaitu uji Hausman. Berdasarkan hasil estimasi uji Hausman di atas terlihat nilai probabilitas random cross section sebesar 0,0000002 atau kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tetap.

Berdasarkan pengujian spesifikasi model, dapat disimpulkan bahwa model yang dipilih dalam penelitian ini adalah model fixed-effect. Berdasarkan hasil uji normalitas di atas, nilai probabilitas Jarque-Bera sebesar 0,057307 atau lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa residu dalam penelitian ini berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji multikolinearitas di atas terlihat bahwa seluruh nilai koefisien korelasi antar variabel independen kurang dari 0,8, kecuali variabel LAW, LAG_GDPPC dan HC.

Berdasarkan hasil uji Durbin Watson yang dilakukan diperoleh nilai Durbin Watson Statistics sebesar 2,1598 dengan nilai dL. Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas di atas diperoleh nilai probabilitas seluruh variabel lebih dari α = 5% atau lebih dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model.

Tabel 5. Hasil Estimasi Uji Hausman
Tabel 5. Hasil Estimasi Uji Hausman

Analisis Data Panel

Uji t digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Suatu variabel independen dikatakan mempunyai pengaruh apabila nilai probabilitas variabel yang diperoleh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang digunakan. Berdasarkan hasil estimasi data panel yang peneliti uraikan sebelumnya, ditemukan bahwa secara individual variabel rule of law, lag GDP per kapita, modal fisik, inflasi dan belanja pemerintah berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan variabel suara dan akuntabilitas dan sumber daya manusia berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. modal secara individual tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Nilai probabilitas ini kurang dari tingkat signifikansi 5% atau kurang dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Variabel suara dan akuntabilitas, supremasi hukum, lag PDB per kapita, modal manusia, modal fisik, inflasi, dan belanja pemerintah secara bersama-sama mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Nilai koefisien determinasi (R2) mempunyai kelemahan mendasar yaitu adanya bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan dalam model.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kekuatan seluruh variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen adalah sebesar 62,83 persen. Berdasarkan hasil estimasi data panel yang telah peneliti jelaskan sebelumnya, selanjutnya peneliti akan menjelaskan variabel-variabel independen dalam model yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara anggota ASEAN tahun 2008-2015.

Tabel 9. Hasil Estimasi FEM Setelah Uji Asumsi Klasik
Tabel 9. Hasil Estimasi FEM Setelah Uji Asumsi Klasik

Pengaruh Institusi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Penelitian yang dilakukan Nawaz menggunakan periode tahun 1981 hingga tahun 2010, sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan periode tahun 2008 hingga tahun 2015. Selain itu, berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa nilai mean variabel suara dan akuntabilitas adalah -0,76. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pemungutan suara dan akuntabilitas di negara-negara anggota ASEAN masih sangat buruk, sehingga variabel ini tidak dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Berdasarkan hasil estimasi data panel yang peneliti jelaskan sebelumnya, diperoleh nilai koefisien variabel negara hukum sebesar 5,6730 dengan nilai probabilitas sebesar 0,0972 atau kurang dari tingkat signifikansi 10%. Artinya variabel rule of law berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN tahun 2008-2015. Nilai positif dari variabel koefisien LAW menunjukkan bahwa jika indeks supremasi hukum meningkat sebesar 1 poin, maka pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN akan meningkat sebesar 5,6730 persen.

Peraturan hukum yang baik pada suatu negara akan mengurangi tingkat ketidakpastian investasi dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap investasi sehingga akan mendorong kegiatan dunia usaha dan pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebaliknya jika supremasi hukum di suatu negara lemah, maka biaya transaksi pasti akan meningkat dan perusahaan swasta akan beroperasi dalam skala kecil bahkan tidak menutup kemungkinan akan melakukan tindakan korupsi atau tindak pidana dalam menjalankan usahanya.

Pengaruh Faktor Selain Institusi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi a. Lag GDP per Kapita (LAG_GDPPC)

Bisa jadi kondisi stabil seperti inilah yang menyebabkan variabel lag PDB per kapita berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara anggota ASEAN. Artinya variabel human capital tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN pada tahun 2008-2015. Artinya variabel modal fisik berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN tahun 2008-2015.

Nilai koefisien PC yang positif menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN akan meningkat sebesar 0,7137 persen jika modal fisik meningkat sebesar 1 persen. Artinya variabel inflasi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN selama tahun 2008–2015. Artinya variabel pengeluaran pemerintah berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN selama tahun 2008–2015.

Nilai koefisien GOV yang negatif menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN akan menurun sebesar -0,4582 persen jika belanja pemerintah meningkat sebesar 1 persen. Institusi indikator suara dan akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN tahun 2008-2015 Institusi indikator rule of law berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara anggota ASEAN tahun 2008-2015.

PDB tertunda per per kapita berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008-2015.

Gambar

Gambar 1. GDP per kapita di ASEAN Tahun 2008-2015 (constant 2010 US$)  Gambar  1  menunjukkan  bahwa  Singapura  merupakan  negara  dengan  GDP  per  kapita  paling  tinggi  dibandingkan  dengan  negara  anggota  ASEAN  yang  lain,  yakni  rata-rata  sebes
Gambar 2. Rata-rata Kualitas Institusi di ASEAN Tahun 2008-2015  Gambar  2  menunjukkan  bahwa  Brunei  Darussalam,  Malaysia,  dan  Singapura  memiliki  indeks  kualitas  institusi  yang  baik  dengan  nilai  rata-rata  tiap negara sebesar 0.63, 0.32 dan
Gambar 3. Skema Proses Perkembangan Ekonomi Schumpeter  4)  Teori Harrod-Domar
Gambar 4. Skema Proses Pertumbuhan Solow-Swan  6)  Teori Pertumbuhan Endogen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ekspor, penerimaan pariwisata, dan nilai tukar terhadap pertumbuhan ekonomi di lima negara anggota ASEAN (Association of

Kerja sama Asean di bidang ekonomi diantaranya dengan dibangunya pabrik abu soda yang didirikan di negara ….. Tiga negara anggota

NiIai indeks Pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi, tingkat persepsi korupsi, dan tingkat pengangguran di negara-negara ASEAN yang menunjukan angka Iebih baik pada setiap

Masyarakat Ekonomi Asean adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota Asean

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara variabel FDI dan pertumbuhan ekonomi di negara anggota ASEAN khususnya Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura

Beberapa data mengenai pertumbuhan ekonomi, government effectiveness, political stability and absence of violence, regulatory quality dan voice and accountability di

Memasuki tahun 2018, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai diberlakukan untuk negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan bentuk

Selain itu, kemampuan ekonomi yang tidak sama diantara negara-negara akibat perluasan negara anggota ASEAN juga akan menjadi tantangan lain bagi kerjasama ASEAN di bidang ekonomi