ANAK PRASEKOLAH

Top PDF ANAK PRASEKOLAH:

PROSES STIMULASI LITERASI ANAK PRASEKOLAH OLEH GURU  Proses Stimulasi Literasi Anak Prasekolah Oleh Guru.

PROSES STIMULASI LITERASI ANAK PRASEKOLAH OLEH GURU Proses Stimulasi Literasi Anak Prasekolah Oleh Guru.

UNESCO menunjukkan minat membaca masyarakat Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia sehingga menunjukkan minat masyarakat Indonesia dalam membaca dan menulis masih terbilang rendah, oleh karena itu kebiasaan membaca harus diperkenalkan pada anak, namun terjadi pro dan kontra memperkenalkan membaca, menulis dan berhitung pada anak prasekolah. Literasi yang merupakan kemampuan membaca dan menulis pada anak menjadi salah satu keterampilan keaksaraan yang dimiliki oleh anak prasekolah, guru Taman Kanak-Kanak mempersiapkan keterampilan ini untuk anak memasuki pendidikan lebih lanjut, karena keterampilan tersebut menjadi syarat dalam tes Penerimaan Siswa Baru (PSB) dibeberapa Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana stimulasi yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan literasi anak prasekolah, dan untuk mengetahui faktor yang mendukung serta faktor yang menghambat stimulasi literasi anak prasekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis yang datanya dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kepada 4 guru di TK Aisyiyah 14 Danukusuman, Serengan, Surakarta, 1 diantaranya sebagai Kepala Sekolah dan lainnya sebagai wali kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru TK Aisyiyah 14 Danukusuman melakukan stimulasi literasi untuk anak usia 4 hingga 6 tahun, stimulasi yang dilakukan oleh guru menggunakan berbagai alat peraga dengan menerapkan variasi metode literasi berupa metode meniru huruf, metode membaca suku kata, serta metode belajar sambil bermain berupa kegiatan membuat bentuk karya menggunakan bahan cair, menari dan bernyanyi. Dari berbagai metode tersebut, metode belajar sambil bermain adalah yang sesuai sedangkan metode membaca suku kata adalah metode yang kurang sesuai bagi anak. Selain itu stimulasi literasi dilakukan secara klasikal dan individual. Stimulasi klasikal dengan membuat prakarya atau mengenalkan alat peraga kemudian melakukan kegiatan membaca dan menulis lalu bernyanyi dan menari mengelilingi ruang kelas. Stimulasi individual dengan melakukan pendekatan pribadi kemudian mengeja huruf dan mengenalkan aneka bentuk huruf dengan menggerakkan tangan anak, membuat garis lengkung, gerakan maju-mundur ataupun gerakan ke kiri-kanan hingga membentuk suatu huruf, dengan bimbingan individual tersebut tercipta kualitas komunikasi yang interaktif karena terjadi interaksi dua arah antara guru dengan murid.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Dukungan Keluarga dalam Hospitalisasi Anak Prasekolah di Rumah Sakit Umum Daerah Langsa

Dukungan Keluarga dalam Hospitalisasi Anak Prasekolah di Rumah Sakit Umum Daerah Langsa

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal dalam satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.Keberadaan keluarga sangatlah penting bagi anak. Dukungan keluarga dapat mempengaruhi kehidupan dan kesehatan anak. Hal ini dapat telihat bila dukungan keluarga sangat baik maka pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil, tetapi bila dukungan pada anak kurang baik, maka anak akan mengalami hambatan pada dirinya dan dapat menggangu psikologis anak. Pada anak usia pra sekolah, kecemasan paling besar dialami adalah ketika anak dalam kondisi sakit. Hospitalisasi anak dapat dilakukan keluarga dengan memberikan dukungan. Keluarga memiliki fungsi dukungan yaitu dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan isntrumental dan dukungan emosional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dukungan keluarga dalam hospitalisasi anak di Rumah Sakit Umum Daerah Langsa. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada 3 November 2011 sampai 3 Januari 2012. Berdasarkan teknik total sampling diperoleh sampel sebanyak 50 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori dukungan yang paling banyak diberikan keluarga dalam hospitalisasi anak usia prasekolah adalah dukungan penilaian. Dukungan keluarga secara keseluruhan diperoleh hasil mayoritas dukungan keluarga dikatakan baik yaitu 46 responden (92%). Kemudian untuk dukungan keluarga yang cukup berjumlah 4 responden (8%) dan tidak ada keluarga yang memberikan dukungan yang buruk. Disarankan kepada perawat anak khususnya agar dapat memfasilitasi keluarga dalam memberikan dukungan kepada anak yang menjalani proses hospitalisasi seperti membuat taman bermain dan membuat suasana rumah sakit menjadi disukai anak-anak dengan gambar-gambar kartun didinding supaya anak prasekolah tetap mendapatkan perkembangan yang baik dan merasa nyaman dirumah sakit.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

PERAN IBU DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK PRASEKOLAH  Peran Ibu Dalam Menumbuhkan Minat Literasi Pada Anak Prasekolah.

PERAN IBU DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK PRASEKOLAH Peran Ibu Dalam Menumbuhkan Minat Literasi Pada Anak Prasekolah.

Dixon dkk., (2014) menyebutkan bahwa kegiatan literasi di rumah dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari kegiatan bercerita secara lisan, percakapan kegiatan sehar-hari dengan anak serta tersedia bahan baca cetak untuk membaca. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Hapsari (2016) mengungkapkan bahwa kesadaran dan pemahaman orangtua terhadap pentingnya stimulasi literasi menjadi dasar dalam mengembangkan kemampuan literasi anak. Berdasarkan paparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pentingnya peran ibu dalam menumbuhkan literasi pada anak prasekolah. Peran ibu dalam menumbuhkan minat literasi pada anak prasekolah yaitu berupa kesedian dan keterlibatan ibu dalam melakukan kegaitan-kegiatan literasi yang lebih banyak dilakukan dirumah, diantaranya menyediakan buku-buku bacaan, alat tulis dirumah, membacakan buku cerita kemudian anak diminta untuk menceritkan suatu kisah, bercakap ketika anak bermain, melakukan kegiatan literasi bersama misalnya membaca dan menulis bersama. Aktivitas-akitivitas tersebut dapat dilakukan ibu dengan acuan belajar sambil bermain sehingga tidak menimbulkan rasa jenuh pada anak.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENGARUH MENDENGARKAN DONGENG TERHADAP KEMAMPUAN BAHASA PADA ANAK PRASEKOLAH

PENGARUH MENDENGARKAN DONGENG TERHADAP KEMAMPUAN BAHASA PADA ANAK PRASEKOLAH

Bagi anak prasekolah bahasa dapat digunakan untuk mengapresiasikan keinginan mereka dan mengutarakan perasaan mereka. Jika dalam masa bayi, anak hanya menangis untuk mengutarakan perasaan, maka lain halnya pada anak prasekolah. Mereka dapat menggunakan kosa kata yang mereka miliki untuk mengutarakan perasaan serta emosi mereka. Hasil dari aktivitas berfikir anak akan diapresiasikan dengan bahasa, dan berbagai perasaan yang melingkupi anak akan ditampilkan dengan kemampuan bahasanya pula (Wiyani, 2014). Vygotsky (1986) memandang bahwa pikiran bergantung pada bahasa. Menurut Vygotsky bahasa merupakan salah satu alat budaya yang paling penting dan perantara terjadinya semakin besar, bahasa didapatkan melalui proses belajar. Operasi-operasi mental diyakini mewujud dalam struktur bahasa dan perkembangan kognitif dihasilkan internalisasi bahasa sebagai berikut; a) pada awalnya pikiran dan bahasa berkembang sebagai dua sistem yang terpisah, b) sebelum usia sekitar dua tahun, anak menggunakan kata-kata secara sosial, yaitu untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hingga titik ini kognisi anak tidak terisi dengan bahasa, c) pada usia sekitar dua tahun, pikiran dan bahasa telah bergabung. Bahasa yang pada awalnya menyertai interaksi sosial diinternalisasi untuk memberikan suatu bahasa bagi pikiran. Bahasa yang terinternalisasi ini kemudian dapat memandu tindakan-tindakan dan pikiran anak (Upton, 2012).
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

PROSES STIMULASI LITERASI ANAK PRASEKOLAH OLEH GURU  Proses Stimulasi Literasi Anak Prasekolah Oleh Guru.

PROSES STIMULASI LITERASI ANAK PRASEKOLAH OLEH GURU Proses Stimulasi Literasi Anak Prasekolah Oleh Guru.

UNESCO menunjukkan minat membaca masyarakat Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia sehingga menunjukkan minat masyarakat Indonesia dalam membaca dan menulis masih terbilang rendah, oleh karena itu kebiasaan membaca harus diperkenalkan pada anak, namun terjadi pro dan kontra memperkenalkan membaca, menulis dan berhitung pada anak prasekolah. Literasi yang merupakan kemampuan membaca dan menulis pada anak menjadi salah satu keterampilan keaksaraan yang dimiliki oleh anak prasekolah, guru Taman Kanak-Kanak mempersiapkan keterampilan ini untuk anak memasuki pendidikan lebih lanjut, karena keterampilan tersebut menjadi syarat dalam tes Penerimaan Siswa Baru (PSB) dibeberapa Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana stimulasi yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan literasi anak prasekolah, dan untuk mengetahui faktor yang mendukung serta faktor yang menghambat stimulasi literasi anak prasekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis yang datanya dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kepada 4 guru di TK Aisyiyah 14 Danukusuman, Serengan, Surakarta, 1 diantaranya sebagai Kepala Sekolah dan lainnya sebagai wali kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru TK Aisyiyah 14 Danukusuman melakukan stimulasi literasi untuk anak usia 4 hingga 6 tahun, stimulasi yang dilakukan oleh guru menggunakan berbagai alat peraga dengan menerapkan variasi metode literasi berupa metode meniru huruf, metode membaca suku kata, serta metode belajar sambil bermain berupa kegiatan membuat bentuk karya menggunakan bahan cair, menari dan bernyanyi. Dari berbagai metode tersebut, metode belajar sambil bermain adalah yang sesuai sedangkan metode membaca suku kata adalah metode yang kurang sesuai bagi anak. Selain itu stimulasi literasi dilakukan secara klasikal dan individual. Stimulasi klasikal dengan membuat prakarya atau mengenalkan alat peraga kemudian melakukan kegiatan membaca dan menulis lalu bernyanyi dan menari mengelilingi ruang kelas. Stimulasi individual dengan melakukan pendekatan pribadi kemudian mengeja huruf dan mengenalkan aneka bentuk huruf dengan menggerakkan tangan anak, membuat garis lengkung, gerakan maju-mundur ataupun gerakan ke kiri-kanan hingga membentuk suatu huruf, dengan bimbingan individual tersebut tercipta kualitas komunikasi yang interaktif karena terjadi interaksi dua arah antara guru dengan murid.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Proses Stimulasi Literasi Anak Prasekolah Oleh Guru.

PENDAHULUAN Proses Stimulasi Literasi Anak Prasekolah Oleh Guru.

dini yang semakin berkembang memperlihatkan bahwa dalam sebuah pembelajaran terdapat bermacam-macam karakteristik anak usia dini yang berbeda-beda dalam hal kemampuan literasi (baca-tulis) (Amariana, 2012). Untuk meningkatkan kemampuan literasi anak prasekolah dapat melalui beberapa stimulasi. Hasil penelitian awal, berupa wawancara dan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti kepada 5 responden di TK BM pada tahun 2016 memperlihatkan adanya beberapa cara yang dilakukan guru dalam stimulasi literasi pada anak prasekolah. Di TK tersebut ±3 guru memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini, disetiap kelas terdiri dari 2 pengajar, yaitu guru wali kelas dan guru pendamping dengan jumlah anak didik ±20 siswa.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK PRASEKOLAH MELALUI PERMAINAN KONSTRUKTIF

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK PRASEKOLAH MELALUI PERMAINAN KONSTRUKTIF

Dari hasil penelitian yang telah dianalisa dapat diketahui bahwa subyek AM mengalami kenaikan sebesar 20 point pada saat diberikan post test, TR mengalami kenaikan sebanyak 24 point dan yang terakhir AL mengalami kenaikan sebesar 16 point. Ini berarti bahwa ada peningkatan kemampuan membaca pada anak prasekolah setelah diberikan permainan konstruktif.

2 Baca lebih lajut

                          PERAN IBU DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK PRASEKOLAH  Peran Ibu Dalam Menumbuhkan Minat Literasi Pada Anak Prasekolah.

PERAN IBU DALAM MENUMBUHKAN MINAT LITERASI PADA ANAK PRASEKOLAH Peran Ibu Dalam Menumbuhkan Minat Literasi Pada Anak Prasekolah.

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran ibu dalam menumbuhkan minat literasi pada anak prasekolah. Kriteria informan dalam penelitian ini (a) ibu yang memiliki anak prasekoah (ibu pekerja dan ibu rumah tangga) (b) anak bersekolah di TK Aisyiyah 14 Danukusuman Serengan, Surakarta (c) tinggal dengan anaknya. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan bahan audiovisual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan ibu memiliki kesedian untuk menumbuhkan minat literasi. Ibu yang berprofesi sebagai ibu pekerja berperan mendampingi dan menungu anak belajar serta membantu proses pemilihan media belajar. Sedangkan untuk ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga mengajari dan mengulang materi pelajaran di rumah, membacakan buku cerita dan menyeimbangkan materi belajar antara dirumah dan disekolah. Kesadaran untuk menumbuhkan minat literasi pada anak prasekolah lebih menonjol pada ibu rumah tangga. Keterlibatan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga lebih kepada mengarahkan, membimbing, dan menyediakan waktu untuk anak. Kegiatan literasi membaca buku dan menulis dirumah dengan rentang ± 10-15 menit memberikan pemahaman sejak dini untuk mulai menumbuhkan minat literasi anak. Faktor pendukung peran ibu dalam menumbuhkan minat literasi anak meliputi faktor kematangan usia anak untuk menerima stimulus, kemampuan anak, metode dan media yang digunakan serta fasilitas penunjang kegiatan literasi. Faktor penghambat peran ibu dalam menumbuhkan minat literasi anak yaitu berasal dari kendala ibu dan kendala anak. Kendala yang dialami ibu diantaranya mudah marah, kurang sabar serta harus mengingatkan anak terkait huruf alfabet, sedangkan kendala anak diantaranya anak mudah lelah dan jenuh dan kurang fokus.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Kata kunci: stimulasi dini, perkembangan kemandirian, anak-anak prasekolah

Kata kunci: stimulasi dini, perkembangan kemandirian, anak-anak prasekolah

Ibu berperan aktif dalam merangsang perkembangan anaknya, stimulasi yang dilakukan akan mempengaruhi perkembangan anak sesuai usianya, karena lima tahun pertama kehidupan adalah masa yang sangat sensitif terhadap lingkungan. Jenis penelitian ini adalah analisis dari studi korelasi. Populasi adalah semua anak pra-sekolah pada anak usia dini Aisyiyah, Waung, Kecamatan Baron, Nganjuk, menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Variabel bebas adalah stimulasi dini, sedangkan variabel dependen adalah pengembangan kemandirian anak prasekolah ini. Data analisis adalah Chi Square. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara stimulasi dini dengan perkembangan kemandirian pada anak-anak pra-sekolah pada anak usia dini Aisyiyah, Waung, Kecamatan Baron, Nganjuk. Sehingga ibu Balita diharapkan dapat memberikan cukup perhatian dan waktu untuk mengawasi dan memberikan stimulasi dini untuk Balita mereka, sehingga perkembangan kemandirian Balita akan sesuai dengan usianya.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Model Multisensori: Solusi Stimulasi Literasi Anak Prasekolah | Ruhaena | Jurnal Psikologi 6942 20269 1 PB

Model Multisensori: Solusi Stimulasi Literasi Anak Prasekolah | Ruhaena | Jurnal Psikologi 6942 20269 1 PB

Aktivitas literasi anak bersama orang tua dapat menjadi stimulasi penting dalam kemampuan literasi anak prasekolah dijelaskan dengan teori sosio-kultural Vygotsky. Proses pencapaian kemampuan bahasa dan literasi anak prasekolah dilihat sebagai hasil interaksi sosial. Artinya kemampuan ini dicapai karena terjadi interaksi sosial dengan hadir seseorang yang memiliki kemampuan, pengetahuan lebih dari anak seperti orang tua atau pengasuh yang memberikan panduan secara verbal untuk mengembangkan kemampuan aktual anak menjadi lebih baik (zona of proximal). Orang dewasa menstrukturkan aktivitas untuk memung- kinkan anak terlibat dalam perilaku yang lebih kompleks dari yang bisa mereka lakukan sendiri. Dalam aktivitas ini tercipta kesempatan anak untuk belajar melalui imitasi, instruksi dari orang tua, serta kooperatif. Orang tua menstruktur- kan aktivitas literasi anak dan mengajak anak untuk berpartisipasi aktif dalam interaksi sosial terkait baca tulis seperti membaca buku, menulis pesan, dan memi- lih buku yang menarik untuk dibeli.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian ISPA pada Anak Prasekolah di Kampung Pemulung Tangerang Selatan

Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian ISPA pada Anak Prasekolah di Kampung Pemulung Tangerang Selatan

Perkembangan menurut teori antara lain Perkembangan Kognitif (Piaget) tahap pra operasional yaitu anak belum dapat mengoperasionalkan apa yang dipikirkan melalui tindakan, perkembangan anak masih egosentris. Perkembangan Psikoseksual (Sigmund Freud) yaitu fase Phallic, dimana fase ini anak akan senang jika selalu memegang alat genitalia, kecenderungan anak akan dekat dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin. Sifat egosentris yang tinggi pada anak dan interaksi social sudah mulai tumbuh (Riyadi, 2009). Perkembangan psikososial (Erikson) tahap inisiatif versus rasa bersalah yaitu anak akan memulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam melakukan aktivitasnya, dan apabila pada tahap ini anak dilarang atau dicegah maka akan tumbuh perasaan bersalah pada diri anak (Hidayat, 2008)
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

PENGARUH BERMAIN PURA-PURA TERHADAP KREATIVITAS ANAK PRASEKOLAH

PENGARUH BERMAIN PURA-PURA TERHADAP KREATIVITAS ANAK PRASEKOLAH

Bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak. Tedjasaputra (dalam Pramujaningtyas, 2010) menyatakan bahwa bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan diri, bereksplorasi, mempraktekan dan mendapat bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Dengan demikian, mereka dapat mengambil keputusan, memilih, menentukan, mencipta, memasang, membongkar, mengembalikan, mencoba, mengeluarkan pendapat, memecahkan masalah, mengerjakan secara tuntas, bekerjasama dengan teman dan mengalami berbagai macam perasaan.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK PRASEKOLAH (Studi pada Ekspresi Emosi Anak Prasekolah)

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK PRASEKOLAH (Studi pada Ekspresi Emosi Anak Prasekolah)

Karena dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal kepada orang lain, dengan fungsi sebagai alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain[r]

2 Baca lebih lajut

BAB VI Anak Prasekolah

BAB VI Anak Prasekolah

Pemahaman Gender Pada usia kurang lebih 2 tahun, anak menggunakan istilah yang berkaitan dengan gender seperti "anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu,", dan cenderung menunju[r]

23 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN TUBUH lingkar

PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN TUBUH lingkar

Olahraga Aktivitas fisik yang rutin sebaiknya dilakukan sehari-hari bagi anak-anak. Rekomendasi bagi aktivitas fisik anak prasekolah adalah dua jam per hari, terdiri dari satu jam aktivitas terstruktur dan satu jam aktivitas tidak terstruktur. Kehidupan anak-anak harus dipusatkan pada aktivitas , bukan makanan.

3 Baca lebih lajut

Konsumsi Sayur, Buah, dan Sumbangannya Terhadap Kecukupan Serat Anak Usia Prasekolah Pada Keluarga Nelayan di Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai Tahun 2016

Konsumsi Sayur, Buah, dan Sumbangannya Terhadap Kecukupan Serat Anak Usia Prasekolah Pada Keluarga Nelayan di Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai Tahun 2016

Output spss Statistics Jenis Kelamin Anak Prasekolah N Valid 76 Missing 0 Jenis kelamin Anak Prasekolah Frequency Percent Valid Percent Cumulative Umur Anak Prasekolah N Valid [r]

18 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Upaya meningkatkan Motorik Halus Melalui Metode Mewarnai Gambar Di TK Pertiwi gayamprit Kelompok B.

PENDAHULUAN Upaya meningkatkan Motorik Halus Melalui Metode Mewarnai Gambar Di TK Pertiwi gayamprit Kelompok B.

Peningkatan mutu pendidikan berlaku menyeluruh, termasuk di dalamnya Pendidikan Taman Kanak-Kanak. Taman kanak-kanak merupakan pendidikan prasekolah atau tempat bermain anak-anak sambil belajar dan dibimbing secara formal. Berpegang pada konsep pengajaran pada anak usia anak prasekolah yaitu bermain sambil belajar maka pelaksanaan proses belajar mengajar pada anak usia pra sekolah adalah melalui kegiatan bermain yang menggunakan alat bantu dan metode belajar yang sesuai dengan minat, kemampuan dan tingkat perkembangan anak. Kegiatan bermain yang dilakukan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga diharapkan anak dapat mengembangakan aspek-aspek intelektual secara dini.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI TOUCH AND TALK TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOLAH YANG  Pengaruh Terapi Touch And Talk Terhadap Kecemasan Anak Usia Prasekolah Yang Mengalami Tindakan Invasif Di Rsud Dr. Moewardi Surakarta.

PENGARUH TERAPI TOUCH AND TALK TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOLAH YANG Pengaruh Terapi Touch And Talk Terhadap Kecemasan Anak Usia Prasekolah Yang Mengalami Tindakan Invasif Di Rsud Dr. Moewardi Surakarta.

Kondisi cemas yang terjadi pada anak yang menjalani hospitalisasi dan mendapatkan tindakan invasif harus mendapat perhatian khusus dan segera diatasi. Bagi anak usia prasekolah (3-5 tahun) menjalani hospitalisasi dan mengalami tindakan invasif merupakan suatu keadaan krisis disebabkan karena adanya perubahan status kesehatan, lingkungan, faktor keluarga, kebiasaan atau prosedur yang dapat menimbulkan nyeri dan kehilangan kemandirian pada anak. Kondisi cemas yang terjadi pada anak akan menghambat dan menyulitkan proses pengobatan yang berdampak terhadap penyembuhan pada anak sehingga memperpanjang masa rawatan dan dapat beresiko terkena komplikasi dari infeksi nosokomial dan menimbulkan trauma paska hospitalisasi. Anak usia prasekolah menganggap sakit adalah sesuatu hal yang menakutkan, kehilangan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang, serta tidak menyenangkan. Perawatan anak di rumah sakit perlu adanya peran serta keluarga dalam proses pengobatan dan kecemasan anak. salah satu terapi agar mengurangi kecemasan anak yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah terapi touch and talk . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi touch and talk terhadap kecemasan anak usia prasekolah yang mengalami tindakan invasif di RSUD Dr. Moewardi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan quasy eksperimen dan rancangan nonequivalent control group design. Sampel penelitian adalah 15 anak prasekolah sebagai kelompok eksperimen yaitu kelompok yang diberikan terapi touch and talk dan 15 anak prasekolah sebagai kelompok kontrol yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data diperoleh dari lembar observasi kecemasan menggunakan checklist di adaptasi dari teori Stuart and Sudden . Analisis data dilakukan dengan menggunakan independen sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji independen sample t-test diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata kecemasan anak prasekolah pre test antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol ( p-value = 0,449) dan terdapat perbedaan rata-rata kecemasan anak prasekolah post test antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol ( p-value = 0,000).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Kemampuan Bersosialisasi Dan Kematangan Emosional Antara Anak Pra Sekolah Dengan Paud Dan Tanpa Paud Di Desa Kedungupit Sragen.

PENDAHULUAN Perbedaan Kemampuan Bersosialisasi Dan Kematangan Emosional Antara Anak Pra Sekolah Dengan Paud Dan Tanpa Paud Di Desa Kedungupit Sragen.

Anak prasekolah yang tidak memiliki dasar kemampuan sosialisasi pada usia 6 tahun cenderung akan bermasalah dalam sosialisasi ketika dewasa (Ladd dalam Komariah, 2012). Anak yang kemampuan sosialisasinya rendah sering mengalami kemunduran prestasi akademik, banyak kasus tidak naik kelas, kurang aktif dalam pergaulan dengan teman dan kurang mampu untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Sehingga dapat diartikan bahwa anak yang kemampuan sosialisasinya kurang, tidak mampu bereaksi sesuai harapan lingkungan sosial dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (Ibung, 2009).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...