Biaya antibiotik

Top PDF Biaya antibiotik:

STUDI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK PADA PASIEN COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

STUDI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK PADA PASIEN COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul “Studi efektivitas biaya antibiotik pada pasien Community-Acquired Pneumonia di RSUD Dr.Soetomo Surabaya” ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

18 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN KOMBINASI GENTAMISIN-SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2013-2015

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN KOMBINASI GENTAMISIN-SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2013-2015

Pola bakteri patogen penyebab pneumonia biasanya berbeda sesuai dengan distribusi umur pasien (Correa dan Starke, 1998). Penyebab tersering pada bayi usia 2-12 bulan yaitu bakteri gram positif (Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, A. streptococcus) sedangkan balita usia 13-60 bulan atau lebih penyebab tersering yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Pseudomonas, Mycoplasma pneumonia). Guideline Infectious Disease Society of America (IDSA) merekomendasikan pemilihan obat antibiotik sebagai terapi empiris pada pasien pneumonia usia 2-12 bulan yaitu ampisilin dan untuk pasien pneumonia usia 13-60 bulan atau lebih yaitu golongan sefalosporin generasi kedua dan ketiga (Smith et al., 2012). Setelah guideline dari IDSA dipublikasikan secara nasional untuk pneumonia pada anak, penggunaan sefalosporin generasi ketiga mulai menurun sedangkan penggunaan ampisilin meningkat sesuai rekomendasi pedoman terapi. Namun, besar dan kecepatan perubahan resep tersebut bervariasi di setiap rumah sakit dan lebih substansial di lembaga-lembaga yang proaktif menyebarluaskan rekomendasi pedoman terapi. Pengembangan studi tambahan diperlukan untuk mengidentifikasi strategi paling efektif di rumah sakit dalam memfasilitasi secara cepat pelaksanaan pedoman terapi (Williams et al., 2015).
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

STUDI TERAPI ANTIBIOTIK PADA PASIEN HOSPITAL- ACQUIRED PNEUMONIA DIKAITKAN DENGAN BIAYA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

STUDI TERAPI ANTIBIOTIK PADA PASIEN HOSPITAL- ACQUIRED PNEUMONIA DIKAITKAN DENGAN BIAYA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

Pneumonia nosokomial adalah pneumonia yang terjadi setelah pasien 48 jam dirawat di rumah sakit. Antibiotik merupakan terapi untuk pneumonia nosokomial. Prinsip Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi selain berdampak pada morbiditas dan mortalitas, juga memberi dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi yaitu dengan peresepan antibiotik yang mahal akan berdampak pada tidak terbelinya antibiotik oleh pasien, sehingga mengakibatkan terjadinya kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui studi terapi antibiotik pada pasien HAP dikaitkan dengan biaya di IRNA SMF Paru Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi observasional secara deskriptif dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan rekam medik periode Januari-Desember 2016. Sampel yang digunakan sebanyak 30 pasien dengan terapi antibiotik yang berbeda. Studi terapi antibiotik dilakukan dengan melakukan pengamatan profil penggunaan terapi antibiotik berdasarkan outcome perbaikan klinik kemudian dilakukan pengamatan antara outcome perbaikan klinik dengan jumlah total biaya antibiotik masing-masing. Berdasarkan data pengamatan didapatkan hasil bahwa Antibiotik yang paling banyak digunakan pada perawatan pasien HAP adalah Levofloxacin, Ceftriaxone, kombinasi Levofloxacin dengan Ceftriaxone, kombinasi Levofloxacin dengan Ceftazidim, dan kombinasi Levofloxacin dengan Meropenem. Terdapat perbedaan biaya antibiotik dengan ke lima jenis antibiotik yang digunakan. Perbedaan biaya antibiotik dengan ke lima jenis antibiotik diikuti juga perbedaan perbaikan klinik pada masing-masing antibiotik.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Empiris dan Analisis Biaya Demam Tifoid di Sebuah RS Swasta Kota Semarang

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Empiris dan Analisis Biaya Demam Tifoid di Sebuah RS Swasta Kota Semarang

ABSTRAK : Demam tifoid disebabkan bakteri Salmonella typhi dimana dalam terapi memerlukan pemakaian antibiotik yang bijaksana secara rasional. Pemakaian antibiotik irasional dapat meningkatkan mortalitas, morbiditas, penyebaran penyakit dan biaya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kesesuaian penggunaan antibiotik di sebuah RS Swasta Kota Semarang serta mengetahui hubungan antara rasionalitas penggunaan antibiotik terhadap biaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Analisis biaya dilakukan dengan menggunakan tipe farmakoekonomi Cost of Analsis (COI) berdasarkan pendekatan kejadian. Data diperoleh dari rekam medis dan faktur rekap keuangan sesuai kriteria inklusi penelitian. Data biaya yang digunakan merupakan data yang didapat dari perspektif rumah sakit. Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, rasionalitas antibiotik dengan metode Gyssens sedangkan analisis hubungan antara rasionalitas dengan biaya menggunakan uji statistika Mann Whitney. Hasil penelitian terdapat 180 kasus dengan 98 regimen antibiotik di bangsal dan 82 regimen antibiotik obat pulang. Persentase rasionalitas penggunaan antibiotik di bangsal sebesar 20,4% rasional dan 79,6% tidak rasional sedangkan rasionalitas regimen antibiotik pulang yaitu sebesar 7,3% rasional dan 92,7% tidak rasional. Ketidakrasionalan didominasi kategori IV A dan III B. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara rasionalitas terhadap biaya antibiotik (p<0,05).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK  Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

Penelitian ini bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan rekam medik, instalansi farmasi dan bagian keuangan. Kriteria inklusi yaitu pasien yang menderita demam tifoid dirawat inap, pasien yang mendapat terapi menggunakan antibiotik dengan usia 1-14 tahun. Analisis biaya dihitung dari prespektif rumah sakit, yaitu biaya medik langsung meliputi biaya pendaftaran, biaya antibiotik, biaya nonantibiotik, biaya pemeriksaan laboratorium, biaya periksa, biaya rawat inap dan biaya total. Efektivitas dihitung dari jumlah pasien yang mencapai target dibanding semua pasien yang mendapat pola terapi.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

Kasus demam tifoid pada anak – anak selama tahun 2010 di RSD dr. Soebandi berjumlah 137 pasien. 84 pasien memenuhi kriteria inklusi. Sedangkan 53 pasien termasuk dalam kriteria eksklusi. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi tiga yaitu biaya antibiotik perhari, biaya total antibiotik dan efektivitas biaya atau cost-effectiveness.

16 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2015

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2015

Pneumonia adalah suatu infeksi pada jaringan paru-paru. Terapi pneumonia yang paling penting di antaranya adalah penggunaan antibiotik, oleh karena itu dibutuhkan terapi antibiotik yang rasional sekaligus mempertimbangkan segi farmakoekonomi. Sulitnya mengidentifikasi penyebab pneumonia dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengetahui hasilnya, maka diberikan antibiotik secara empiris pada awal pengobatan, mengingat pneumonia akan menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Pilihan lini pertama terapi empiris pneumonia untuk pasien pneumonia komuniti yang dirawat inap di rumah sakit adalah floroquinolon (seperti gatifloksasin, gemifloksasin, levofloksasin, dan moksifloksasin) atau sefalosporin generasi ke-3 (seperti seftriakson dan sefotaksim) atau yang dikombinasi dengan makrolida. Antibiotik merupakan salah satu kategori biaya yang signifikan dalam anggaran farmasi di rumah sakit karena biaya antibiotik adalah sebagian besar dari seluruh anggaran di rumah sakit. Hal ini menunjukkan perlu adanya analisis efektivitas biaya antibiotik pada pasien pneumonia, maka dilakukan analisis efektivitas biaya untuk melihat gambaran dari total biaya antibiotik seftriakson dan sefotaksim. Karena belum diketahui pasti terapi antibiotik empiris yang cost effective pada pasien pneumonia di rawat inap Rumah Sakit Paru Jember.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

Kasus demam tifoid pada anak – anak selama tahun 2010 di RSD dr. Soebandi berjumlah 137 pasien. 84 pasien memenuhi kriteria inklusi. Sedangkan 53 pasien termasuk dalam kriteria eksklusi. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi tiga yaitu biaya antibiotik perhari, biaya total antibiotik dan efektivitas biaya atau cost-effectiveness.

16 Baca lebih lajut

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Golongan obat yang paling banyak digunakan di dunia adalah antibiotik. Diperkirakan lebih dari seperempat anggaran rumah sakit dibelanjakan untuk kebutuhan antibiotik. Pemakaian antibiotik di negara-negara berkembang sering tidak terkontrol. Penggunaan antibiotik yang rasional harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu tepat indikasi, tepat dosis, tepat frekuensi penggunaan dan tepat durasi penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik berdasarkan jenis antibiotik dan rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik rawat jalan di RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

NADIA LUTHFIA' ADANI 22010111120034 Lap.KTI Bab4

NADIA LUTHFIA' ADANI 22010111120034 Lap.KTI Bab4

4 Frekuensi penggunaan antibiotik 5 Lama pemberian antibiotik 6 Cara pemberian antibiotik 7 Jenis penggunaan antibiotik empirik /profilaksis /definitif 8 Data demografi usia, berat b[r]

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

infeksi bakteriologis sebesar 59%, 28% untuk non-bakteriologis, dan 13% untuk profilaksis. Hampir semua antibiotik diresepkan untuk pasien infeksi bakteriologis, sehingga untuk infeksi pernafasan hanya 49% dari semua antibiotik yang digunakan. Pencegahan infeksi saluran pernafasan adalah hal yang efektif untuk mengurangi penggunaan antibiotik. Fauziyah et al ., (2011) mengatakan bahwa belum ada pedoman yang baku untuk lama penggunaan antibiotik empiris, tetapi setelah diberikan antibiotik empiris sebaiknya dilakukan evaluasi selama 48-72 jam, jika tidak menunjukkan adanya perbaikan maka pemberian antibiotik dapat diganti, jika menunjukkan perbaikan maka pemberian antibiotik dapat dilanjutkan sampai pasien sembuh dan pemberian antibiotik dihentikan setelah 7 hari. Penelitian menurut Luciana et al ., (2015) data 410 pasien dari ICU pemberian antibiotik pada terapi empiris sebanyak 805 dan 107 berdasarkan terapi definitif. Pemberian antibiotik empiris sebanyak 596 yang tidak pantas dan pada terapi definitif 84 yang tidak pantas. Faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian dalam pemilihan antibiotik adalah tempat infeksi, kondisi komorbiditas dan status ekonomi pasien.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU  Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH APENDISITIS DI RSUD PEKANBARU Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Apendisitis Di Rsud Pekanbaru Pada Tahun 2010.

Antibiotik sefalosporin dengan aktivitas anerob seperti sefositin atau sefotetan saat ini dapat digunakan sebagai antibiotik profilaksis pilihan pertama dengan terapi dosis tunggal digunakan untuk bedah apendisitis non perforasi dan tanpa komplikasi (Wells, 2000), sedangkan kombinasi sefositin dan metronidazol terbukti efektif untuk mengurangi infeksi dengan komplikasi septik pada apendisitis sebelum dan sesudah pembedahan (Lau WY et al, 2000) namun, antibiotik jenis ini tidak direkomendasikan untuk profilaksis bedah apendisitis di RSUD DR.Soetomo.

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pola Kuman Dan Resistensinyaterhadap Antibiotik Pada Pasien Infeksi Pasca Bedah Orthopedi Di Rsud Dr. Moewardi Tahun 2014.

PENDAHULUAN Pola Kuman Dan Resistensinyaterhadap Antibiotik Pada Pasien Infeksi Pasca Bedah Orthopedi Di Rsud Dr. Moewardi Tahun 2014.

Terjadinya infeksi dalam bedah orthopedi merupakan masalah yang serius, karena hal ini dapat berpengaruh pada kepentingan klinis dan gejala yang lebih serius, seperti meningkatnya risiko morbiditas, mortalitas, biaya perawatan dan pengulangan pembedahan (Purghel et al., 2006 & Greene et al., 2010). Biaya yang diperlukan dalam keadaan infeksi dapat menjadi tiga kali lipat dibandingkan dengan pasien yang tidak terinfeksi (Pollard et al., 2006 cit Greene et al., 2010). Pada beberapa penelitian menunjukkan tingginya kasus infeksi luka operasi pada bedah orthopedi, seperti penelitian yang dilakukan oleh Khosravi et al. (2009), terjadi kejadian infeksi sebesar 93,9% dari jumlah pasien, sedangkan pada penelitian Kaprisyah (2014), sebesar 8% kejadian infeksi pada fraktur tertutup serta 29,4% terjadi pada fraktur tebuka (Rochanan, 2003). Pada penelitian yang dilakukan oleh Olsen et al. (2008) menunjukkan infeksi pada operasi tulang belakang menyebabkan 78% pasien menjalani operasi ulang. Infeksi pada pasca bedah orthopedi dapat disebabkan oleh bakteri, seperti Staphylococcus aureus,
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan Ketepatan Switch Therapy Terhadap Kesembuhan Luka, Lama Rawatan dan Biaya Pengobatan Antibiotik Pasien Apendisitis

Hubungan Ketepatan Switch Therapy Terhadap Kesembuhan Luka, Lama Rawatan dan Biaya Pengobatan Antibiotik Pasien Apendisitis

ABSTRAK: Switch therapy antibiotik merupakan penggantian terapi antibiotik intravena ke oral. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan ketepatan switch therapy terhadap kesembuhan luka, lama rawatan dan biaya pengobatan antibiotik pasien. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data medical record dan pengamatan langsung pada pasien (penilaian luka secara makroskopis). Metode t-test digunakan untuk melihat hubungan ketepatan switch therapy terhadap kesembuhan luka, lama rawatan dan biaya pengobatan antibiotik pasien. Kebermaknaan diambil pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai kesembuhan luka pasien yang mendapatkan ketidaktepatan switch therapy tidak berbeda nyata dengan nilai kesembuhan luka pasien yang mendapatkan ketepatan switch therapy (P>0,05). Akan tetapi, lama rawatan pasien yang mendapatkan switch therapy yang tepat lebih pendek secara nyata dibandingkan dengan lama rawatan pasien yang mendapatkan switch therapy tidak tepat (P<0,05). Selanjutnya biaya pengobatan antibiotik pasien tepat switch therapy lebih rendah dibandingkan biaya pengobatan antibiotik pasien tidak tepat switch therapy (P<0,05). Ini berarti bahwa switch therapy yang tepat akan memberikan clinical outcome yang lebih efisien, terutama dalam hal lama rawatan dan biaya pengobatan antibiotik.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik diare dengan metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta tahun 2016-2017 - USD Repository

Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik diare dengan metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Yogyakarta tahun 2016-2017 - USD Repository

Pada kasus 22, pasien menerima antibiotik cefadroxil pada hari pertama saja kemudian dilanjutkan dengan cefixime selama rawat inap karena setelah menggunakan cefadroxil tidak ada perubahan klinis yang dialami oleh pasien. Namun yang diambil contoh kategori IV A (terdapat alternatif antibiotik yang lebih efektif) adalah cefadroxil. Pasien terdiagnosis gastroenteritis akut sehingga perlu diberikan terapi dengan antibiotik. Tidak didapatkan literatur yang menyatakan bahwa cefadroxil merupakan salah satu pilihan obat untuk gastroenteritis akut sehingga adanya antibiotik yang lebih efektif yaitu cefixime karena merupakan salah satu pilihan obat untuk gastroenteritis akut (Ikatan Dokter Indonesia, 2015). Pemilihan cefixime juga mengandalkan penilaian klinis pihak rumah sakit melalui wawancara dengan Apoteker karena tingkat keberhasilan terapi lebih tercapai dan merupakan salah satu pilihan antibiotik di RSUD Kota Yogyakarta untuk pasien dengan gastroenteritis akut. Berdasarkan evaluasi diatas, terdapat antibiotik lain yang lebih efektif yaitu cefixime sehingga cefadroxil masuk dalam kategori ini. 12. Penggunaan antibiotik tidak diindikasikan (kategori V)
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik pada Pengunjung Apotek di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

PENDAHULUAN Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik pada Pengunjung Apotek di Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.Artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk inangnya (Setiabudy, et al, 2009).

10 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP SUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014 - 2015.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK CEFTRIAXONE PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP SUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2014 - 2015.

Menurut Rybak dan Aesehlimann (2005) pada umumnya leukosit merupakan komponen tubuh yang aktif melawan terhadap penginfeksi sehingga hal ini menjadi penting dalam hal penegakan diagnosa terhadap adanya kasus infeksi, pilihan terapi obat yang sesuai atau untuk memantau perkembangan pasien. Secara prinsip leukosit melindungi tubuh dari penginfeksi yang kemungkinan bersumber dari bakteri , virus, ataupun jamur. Tingginya kadar leukosit menunjukan adanya infeksi sehingga menjadi indikasi pemberian obat antibiotik. Antibiotik berperan mematikan atau menghambat petumbuhan bakteri penyebab infeksi. Sesudah bakteri berhasil dimatikan ataupun dihambat maka jumlah bakteri akan berkurang dengan demikian kadar leukosit yang tinggi sesudah terjadinya infeksi akan kembali normal. Tubuh tidak lagi memproduksi
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Apa Antibiotik Buat Sipilis Di Apotik Um

Apa Antibiotik Buat Sipilis Di Apotik Um

Apa Antibiotik Buat Sipilis Di Apotik Umum ~ Jangan biarkan penyakit sipilis anda semakin parah, Sipilis yang tidak segera di obati bisa merusak otak, sistem kardiovaskular, dan organ dalam tubuh. Lebih dari itu, memiliki sipilis berarti meningkatkan bahaya terinfeksi HIV/AIDS setidaknya 2-5 kali lipat.

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

PENDAHULUAN Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

Studi farmakoekonomi memiliki empat tipe dasar yaitu, meliputi cost- minimization analysis, cost-effectiveness analysis, cost-benefit analysis dan cost- utility analysis. Cost-effectiveness analysis (CEA) merupakan bentuk analisis ekonomi yang dilakukan dengan mendefinisikan, menilai dan membandingkan sumber daya yang digunakan (input) dengan konsekuensi dari pelayanan (output) antara dua atau lebih alternatif. Input dalam CEA diukur dalam unit fisik dan dinilai dalam unit moneter, biaya ditetapkan berdasar perspektif penelitian (misal, pemerintah, pasien, pihak ketiga atau masyarakat). Perbedaan CEA dengan analisis farmakoekonomi yang lain adalah pengukuran outcome dinilai dalam bentuk non-moneter, yaitu unit natural dari perbaikan kesehatan, misalnya nilai laboratorium klinik, years of life saved atau pencegahan penyakit (Voogenberg, 2001).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN POLA KUMAN PADA PASIEN SEPSIS DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG.

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN POLA KUMAN PADA PASIEN SEPSIS DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG.

Sepsis, respon inflamasi sistemik yang disebabkan oleh infeksi, merupakan salah satu masalah utama dalam dunia kesehatan karena terjadi peningkatan insidensi, tingginya angka kematian dan besarnya biaya pengobatan. Terapi antibiotik harus segera dimulai saat diagnosis sepsis ditegakkan dan harus diberikan secara tepat untuk menghindari resistensi, mengurangi resiko mortalitas dan menurunkan biaya perawatan, maka diperlukan suatu studi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pada pasien sepsis, yang meliputi karakteristik pasien sepsis, pola sumber infeksi, hasil biakan kuman, sensitivitas kuman, penggunaan antibiotik dan pembuatan petunjuk terapi antibiotik empiris berdasarkan kuman dan sumber infeksi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada bagian rekam medis, dengan kriteria inklusi adalah pasien yang didiagnosis sepsis, dewasa dan dirawat inap selama periode Januari 2009 – Maret 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber infeksi terbanyak berasal dari saluran pernafasan, sedangkan kuman yang paling banyak terdeteksi adalah Escherichia coli (4,41%), Streptococcus viridans (4,41%) dan Candida sp. (4,41%); terdapat 31 jenis antibiotik yang digunakan, dimana terdapat 21 jenis antibiotik yang digunakan pada segmen terbanyak dengan tingkat resistensi yang relatif tinggi; antibiotik yang banyak digunakan adalah meropenem (14,29%), levofloxacin (14,29%) dan ceftriaxone (10,48%); petunjuk terapi antibiotik empiris dibuat berdasarkan sensitivitas kuman dan sumber infeksi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects