Luas lahan usahatani karet petani responden

Top PDF Luas lahan usahatani karet petani responden:

Lampiran 1. Identitas, Luas Lahan dan Jumlah Bentangan Usahatani Rumput Laut Responden di Kepulauan Tanakeke

Lampiran 1. Identitas, Luas Lahan dan Jumlah Bentangan Usahatani Rumput Laut Responden di Kepulauan Tanakeke

Usahatani Rumput Laut Pada Saat Produksi Rumput Laut Turun Sebesar 30 Persen di Kepulauan Tanakeke, 2011.. Saluran Pemasaran Rumput Laut di Kepulauan Tanakeke, Tahun 2011. Besar) = Rp 5[r]

26 Baca lebih lajut

ANALISIS USAHATANI BAWANG MERAH LAHAN SEMPIT DIBANDINGKAN DENGAN LAHAN LUAS

ANALISIS USAHATANI BAWANG MERAH LAHAN SEMPIT DIBANDINGKAN DENGAN LAHAN LUAS

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 yang bertujuan untuk menganalisis perkembangan produktivitas bawang merah di Simalungun, menganalisis perbedaan karakteristik petani usahatani bawang merah lahan sempit dan luas, menganalisis perbandingan pengaruh biaya input (bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja) terhadap penerimaan usahatani bawang merah lahan sempit dan luas, menganalisis perbandingan pendapatan dan kelayakan usahatani bawang merah pada lahan sempit dan luas di Desa Ujung Saribu. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive yaitu daerah dipilih secara sengaja karena Desa Ujung Saribu merupakan salah satu desa yang sudah lama membudidayakan bawang merah. Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori Bailey. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji U Man Whitney, regresi, analisis pendapatan dan analisis kelayakan (BEP, R/C, dan B/C). Hasil penelitian menunjukkan produktivitas bawang merah di Simalungun mengalami fluktuasi; terdapat perbedaan karakteristik pada pengalaman bertani; penerimaan usahatani bawang merah lahan sempit dipengaruhi oleh biaya input sebesar 96 % dan lahan luas sebesar 95 %; pendapatan usahatani bawang merah per hektar pada lahan luas lebih besar dibandingkan lahan sempit; usahatani bawang merah secara ekonomi layak untuk diusahakan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

DIVERSIFIKASI USAHATANI DAN TINGKAT PENDAPATAN PETANI DI LAHAN SAWAH

DIVERSIFIKASI USAHATANI DAN TINGKAT PENDAPATAN PETANI DI LAHAN SAWAH

Dominannya pengusahaan petani dengan pola tanam padi-padi-bera di desa irigasi teknis kabupaten Indramayu ini terkait dengan adanya budaya petani yang cenderung menikmati waktu santai dan terdapat kecenderungan hidup berfoya-foya dalam bentuk penyelenggaraan pesta. Adanya penguasaan lahan yang memusat pada sekelompok orang di desa ini juga mendorong dominanasi pola tanam padi-padi-bera. Petani berlahan luas cenderung menerapkan pola tersebut dengan alasan (1) walaupun keuntungan usahatani padi per satuan luas relatif rendah dibanding usahatani nonpadi, namun karena skala pengusahaan yang luas dapat menyumbang pendapatan rumah tangga yang tinggi, (2) usahatani padi risiko kegagalan (dari sisi teknis serangan OPT maupun ekonomi dari sisi harga) relatif rendah dibanding non padi, dan (3) lahan perlu diistirahatkan pada MK II agar hasil padi pada MH berikutnya cukup tinggi (Supriyati dan Rachman, 2003).
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

KAJIAN FINANSIAL USAHATANI HUTAN RAKYAT PADA BEBERAPA STRATA LUAS KEPEMILIKAN LAHAN

KAJIAN FINANSIAL USAHATANI HUTAN RAKYAT PADA BEBERAPA STRATA LUAS KEPEMILIKAN LAHAN

Banyak kajian menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat di Pulau Jawa didominasi dengan pola tumpangsari.. Contoh kasus pengelolaan hutan rakyat di Gunung Kidul sebagian besar menggunakan pola tumpangsari, karena kepemilikan lahan petani relatif sempit dengan berbagai kepentingan dalam penggunaan lahan. Bentuk tumpangsari merupakan alternatif yang mampu menampung berbagai kepentingan tersebut. Pertimbangan tersedianya tenaga kerja dari anggota keluarga juga diperhitungkan dalam penentuan kombinasi tanaman. Dengan pola tumpangsari, diharapkan produktivitas lahan meningkat dan petani dapat memperoleh pendapatan dari hasil panen secara berurutan dan berkesinambungan sepanjang tahun, dari jenis-jenis tanaman yang diusahakan. Hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya paceklik (Tim Arupa, 2002).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS KOMPETENSI PETANI DAN LUAS LAHAN, SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI DI PROVINSI LAMPUNG

ANALISIS KOMPETENSI PETANI DAN LUAS LAHAN, SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI DI PROVINSI LAMPUNG

Sedangkan petani yang menguasai lahan yang sempit maka hasil produksinya juga sedikit dan akan memperoleh penghasilan yang rendah pula karena jumlah tanaman yang ditanam oleh petani menjadi berkurang. Luas lahan selain terkait skala usaha juga berkaitan dengan tingkat efisiensi penggunaan input dalam usahatani padi. Usahatani padi pada lahan yang sempit cenderung tidak efisien dalam penggunaan input seperti benih, pupuk, pestisida dan lainnya. Hal ini tentunya dapat menurunkan pendapatan petani karena penggunaan input yang berlebihan belum tentu berbanding lurus dengan hasil produksi dan pendapatan yang akan diterima petani. Sedangkan pada lahan yang terlalu luas juga dapat menurunkan tingkat optimalisasi lahan akibat dari lemahnya pengawasan dan terbatasnya permodalan yang dimiliki sehingga input yang diterapkan tidak mencapai titik optimal dan akhirnya berdampak kepada pendapatan yang nantinya akan diterima petani.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Efektifitas Penambahan Lahan USAhatani Mete Dalam Peningkatan Pendapatan Petani

Efektifitas Penambahan Lahan USAhatani Mete Dalam Peningkatan Pendapatan Petani

Lahan usahatani yang sempit merupakan faktor utama penyebab kemiskinan di wilayah pedesaan. Reformasi agraria dengan redistribusi lahan sering dianggap sebagai jalan efektif untuk mengatasi kemiskinan. Pengalaman di beberapa negara ternyata tidak selalu demikian. Mengingat bahwa wilayah usahatani mete merupakan wilayah yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pengaruh penambahan lahan usahatani mete terhadap peningkatan pandapatan petani di dua wilayah dengan kondisi agribisnis yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2002 di Propinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu sentra produksi mete yang dapat dijadikan gambaran kondisi Indonesia. Kabupaten Buton mewakili kondisi agribisnis yang belum berkembang dan Kendari mewakili yang berkembang (dua kabupaten yang terbesar populasi rumah tangga mete). Pengambilan contoh acak sederhana digunakan untuk menarik contoh responden dengan satuan contoh usahatani mete, masing-masing 156 dan 136 untuk Buton dan Kendari. Data dianalisis melalui regresi, dengan variabel independen luas lahan usahatani (L) dan variabel dependen pendapatan usahatani (I), diperoleh fungsi derivatifnya terhadap L untuk Buton ∂IB/∂LB = 131.925LB 2
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS PENAMBAHAN LAHAN USAHATANI METE DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI

EFEKTIFITAS PENAMBAHAN LAHAN USAHATANI METE DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI

Lahan usahatani yang sempit merupakan faktor utama penyebab kemiskinan di wilayah pedesaan. Reformasi agraria dengan redistribusi lahan sering dianggap sebagai jalan efektif untuk mengatasi kemiskinan. Pengalaman di beberapa negara ternyata tidak selalu demikian. Mengingat bahwa wilayah usahatani mete merupakan wilayah yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pengaruh penambahan lahan usahatani mete terhadap peningkatan pandapatan petani di dua wilayah dengan kondisi agribisnis yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2002 di Propinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu sentra produksi mete yang dapat dijadikan gambaran kondisi Indonesia. Kabupaten Buton mewakili kondisi agribisnis yang belum berkembang dan Kendari mewakili yang berkembang (dua kabupaten yang terbesar populasi rumah tangga mete). Pengambilan contoh acak sederhana digunakan untuk menarik contoh responden dengan satuan contoh usahatani mete, masing-masing 156 dan 136 untuk Buton dan Kendari. Data dianalisis melalui regresi, dengan variabel independen luas lahan usahatani (L) dan variabel dependen pendapatan usahatani (I), diperoleh fungsi derivatifnya terhadap L untuk Buton ∂I B /∂L B =
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Harga, Biaya Produksi, dan Luas Lahan Terhadap Pendapatan Petani Karet di Desa Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara

Pengaruh Harga, Biaya Produksi, dan Luas Lahan Terhadap Pendapatan Petani Karet di Desa Sukarame Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara

Indonesia sebagai negara agraris merupakan negara yang aktif dalam sektor pertanian, salah satu sektor pertanian di Indonesia adalah pertanian karet. Tanaman karet adalah salah satu tanaman komoditas ekspor yang ada di Indonesia. Tanaman ini cukup menjanjikan bagi pendapatan negara karena tanaman ini menjadi incaran para investor luar negeri. Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi penghasil karet dunia. Iklim dan lingkungan yang ada di Indonesia juga cukup mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman karet. Prospek perkebunan karet di Indonesia di masa mendatang cukup menjanjikan, oleh karena itu prospek ini harus didukung dengan cara pengembangan perkebunan karet yang dapat dilakukan dengan cara peningkatan produksi lahan dan teknologi, peningkatan mutu dengan pengolahan yang lebih baik. Upaya pengembangan perkebunan karet diharapkan dapat membantu dalam pemasaran sehingga mampu mencakup pasar yang lebih luas.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

ANALISIS RISIKO BERBAGAI LUAS PENGUSAHAAN LAHAN PADA USAHATANI PADI ORGANIK DAN KONVENSIONAL

ANALISIS RISIKO BERBAGAI LUAS PENGUSAHAAN LAHAN PADA USAHATANI PADI ORGANIK DAN KONVENSIONAL

Berdasarkan Tabel 5, tampak secara umum semakin luas lahan usahatani padi, maka semakin kecil risiko yang dihadapi, dilihat dari koefisien variasi produksi. Hal ini terjadi karena petani berlahan luas semakin berhati-hati dalam menge- lola usahataninya, baik pada usahatani padi sistem organik maupun usahatani padi sistem konven- sional. Kebiasaan petani organik untuk berga- bung dalam kelompok tani organik menjadi salah satu bukti adanya upaya petani untuk mengurangi risiko usahatani dengan saling bekerjasama, ber- tukar informasi dalam pengelolaan usahataninya dengan sesama petani. Petani padi konvensional berlahan luas juga cenderung lebih aktif dalam mencari informasi teknologi benih, pengendalian pengganggu tanaman, dan pupuk kimia dibanding- kan petani berlahan sempit, sehingga risiko usaha- taninya rendah. Fenomena dan hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa petani
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

INTERCROPPING SORGUM DAN KEDELAI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN DAN PENDAPATAN USAHATANI KARET

INTERCROPPING SORGUM DAN KEDELAI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN DAN PENDAPATAN USAHATANI KARET

Perubahan iklim telah menyebabkan perubahan pola curah hujan sehingga para petani akan semakin sulit untuk menentukan kapan untuk mulai menanam. Salah satu wilayah yang [r]

416 Baca lebih lajut

Peningkatan Produktivitas Lahan dan Pendapatan Petani Melalui Tanaman Sela Pangan Berbasis Karet

Peningkatan Produktivitas Lahan dan Pendapatan Petani Melalui Tanaman Sela Pangan Berbasis Karet

Lahan di antara tanaman karet belum menghasilkan (TBM) berpotensi untuk peningkatan produksi pangan seperti padi gogo, jagung, dan kedelai. Lahan tersebut sebagai pengganti luasan yang menyusut dari lahan sawah. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Ditjenbun, (2015), luas areal perkebunan karet di Indonesia mencapai 3,6 juta Ha dengan 13% dari total areal merupakan areal TBM berumur 1-3 tahun dengan rata-rata peremajaan karet per tahun di Indonesia sekitar 24.700 Ha. Tanaman sela berdampak positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman karet, bahkan dengan adanya pemupukan dan pemeliharaan tanaman sela pertumbuhan lilit batang karet lebih baik dibandingkan dengan sistem monokultur (Wibawa dan Rosyid, 1995; Pathiratna et al., 2005; Anwar, 2006; Pathiratna, 2006; Ferryet al., 2013; Pansak, 2015; Sahuri dan Rosyid, 2015; Sahuri et al., 2016; Sahuri, 2017). Penanaman tanaman sela di antara tanaman karet juga dapat menekan pertumbuhan gulma (Syawal, 2010; Sahuri dan Rosyid, 2015). Keuntungan penanaman tanaman pangan sebagai tanaman sela karet antara lain: 1) meningkatkan produktivitas lahan karet, 2) efisiensi biaya usahatani, karena biaya usahatani untuk pemeliharaan tanaman karet dapat dilakukan bersama- sama dengan pemeliharaan tanaman sela, 3) meningkatkan pendapatan petani, dan 4) petani dapat menyediakan kebutuhan pangan sendiri (Rosyid, 2007; Ogwuche et al., 2012; Sahuri dan Rosyid, 2015; Sahuri, 2017). Pola tanaman pangan seperti padi gogo, jagung, dan kedelai dapat diusahakan sebagai tanaman sela di antara tanaman karet berjarak tanam 6 m x 3 m atau 7 m x 3 m sampai dengan tanaman karet berumur 1-2 tahun (Rosyid, 2006;2007; Rosyid et al., 2012; Sahuri dan Rosyid, 2015, Sahuri, 2017). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di negara lain seperti India, Srilangka, Vietnam, Laos, Cina dan Filipina (Rodrigo et al., 2004;
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Luas Lahan Usaha Tani dan Kesejateraan Petani: Eksistensi Petani Gurem dan Urgensi Kebijakan Reforma Agraria

Luas Lahan Usaha Tani dan Kesejateraan Petani: Eksistensi Petani Gurem dan Urgensi Kebijakan Reforma Agraria

efisiensi produksi yang sama (Peterson, 1997). Argumen skala ekonomi mempengaruhi efisiensi produksi hanya berlaku pada kegiatan industri, bukan pada kegiatan pertanian. Bahkan menurut Rosset (1999), terdapat bukti yang menunjukkan hubungan terbalik antara luas lahan dan produktivitas. Berdasarkan hasil-hasil kajian tersebut, Sudaryanto et al. (2009) menyimpulkan bahwa ukuran usahatani tidak menjadi masalah pada tataran implementasi usahatani. Permasalahan sempitnya penguasaan lahan usahatani lebih pada aspek pemenuhan kebutuhan rumah tangga dari hasil usahatani. Usahatani lahan sempit, meskipun dilakukan secara intensif tetap tidak akan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga perlu upaya tambahan pendapatan dari sumber lain. Hasil kajian PATANAS (Susilowati et al., 2010; Sudaryanto dan Sumaryanto, 2008) juga memperlihatkan bahwa dengan adanya kecenderungan penurunan luas penguasaan lahan, pangsa pendapatan rumah tangga dari sektor pertanian terhadap total pendapatan juga cenderung menurun. Konsekuensi lebih lanjut adalah meningkatnya alokasi curahan kerja non pertanian sebagai pekerjaan sampingan dan meningkatnya arus urbanisasi. Terdapat hubungan terbalik secara nyata antara luas usahatani dengan peluang migrasi ke kota. Tingginya tingkat urbanisasi yang tanpa dibarengi dengan ketrampilan memadai akan menjadi beban sosial dan ekonomi perkotaan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Luas Lahan Usaha Tani Dan Kesejateraan Petani: Eksistensi Petani Gurem Dan Urgensi Kebijakan Reforma Agraria

Luas Lahan Usaha Tani Dan Kesejateraan Petani: Eksistensi Petani Gurem Dan Urgensi Kebijakan Reforma Agraria

efisiensi produksi yang sama (Peterson, 1997). Argumen skala ekonomi mempengaruhi efisiensi produksi hanya berlaku pada kegiatan industri, bukan pada kegiatan pertanian. Bahkan menurut Rosset (1999), terdapat bukti yang menunjukkan hubungan terbalik antara luas lahan dan produktivitas. Berdasarkan hasil-hasil kajian tersebut, Sudaryanto et al. (2009) menyimpulkan bahwa ukuran usahatani tidak menjadi masalah pada tataran implementasi usahatani. Permasalahan sempitnya penguasaan lahan usahatani lebih pada aspek pemenuhan kebutuhan rumah tangga dari hasil usahatani. Usahatani lahan sempit, meskipun dilakukan secara intensif tetap tidak akan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga perlu upaya tambahan pendapatan dari sumber lain. Hasil kajian PATANAS (Susilowati et al., 2010; Sudaryanto dan Sumaryanto, 2008) juga memperlihatkan bahwa dengan adanya kecenderungan penurunan luas penguasaan lahan, pangsa pendapatan rumah tangga dari sektor pertanian terhadap total pendapatan juga cenderung menurun. Konsekuensi lebih lanjut adalah meningkatnya alokasi curahan kerja non pertanian sebagai pekerjaan sampingan dan meningkatnya arus urbanisasi. Terdapat hubungan terbalik secara nyata antara luas usahatani dengan peluang migrasi ke kota. Tingginya tingkat urbanisasi yang tanpa dibarengi dengan ketrampilan memadai akan menjadi beban sosial dan ekonomi perkotaan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perilaku Petani Dalam Konservasi Lahan Pada USAhatani Kakao Di Kecamatan Poso Pesisir Utara

Perilaku Petani Dalam Konservasi Lahan Pada USAhatani Kakao Di Kecamatan Poso Pesisir Utara

Menurut Green dalam Sutrisno (2006) dalam teori penaksiran perilaku menyebutkan bahwa kegiatan atau perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor adat istiadat, kepercayaan dan kebiasaan masyarakat serta faktor pendidikan, pekerjaan, luas dan status kepemilikan tanah, pendapatan, budaya, strata sosial dan informasi. Penerapan konservasi lahan dapat dianggap sebagai salah satu perilaku atau tindakan petani dalam mengelola atau memperlakukan alam lingkungannya.

6 Baca lebih lajut

Dampak Penerapan Teknologi Usahatani Kedelai di Agrosistem Lahan Kering terhadap Pendapatan Petani

Dampak Penerapan Teknologi Usahatani Kedelai di Agrosistem Lahan Kering terhadap Pendapatan Petani

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia. Produksi kedelai dalam negeri terus menurun seiring dengan merosotnya areal tanam. Untuk mencukupi permintaan kedelai dalam negeri yang terus meningkat pemerintah melakukan impor. Dilihat dari segi petani, merosotnya luas areal tanam kedelai menunjukkan kurangnya partisipasi petani untuk menanam kedelai. Oleh karena itu, upaya meningkatkan produksi kedelai nasional dalam rangka menuju swasembada, bukan hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga perlu strategi menggalang partisipasi petani dalam peningkatan produksi kedelai. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kabupaten Garut , Propinsi .Iawa Barat pada bulan Mei 2009 dengan menggunakan metoda survey. Data dikumpr-rlkan dengan melakukan wawancara terhadap 64 orang petani contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi budidaya kedelai masih dibawah teknologi yang dianjurkan pemerintah. Di lain pihak, pelaksanaan kegiatan usahatani kedelai di tingkat petani adalah layak diusahakan karena nilai imbangan pendapatan dan biaya (R/C) adalah lebih dari satu.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

DAMPAK PENERAPAN TEKNOLOGI USAHATANI KEDELAI DI AGROSISTEM LAHAN KERING TERHADAP PENDAPATAN PETANI

DAMPAK PENERAPAN TEKNOLOGI USAHATANI KEDELAI DI AGROSISTEM LAHAN KERING TERHADAP PENDAPATAN PETANI

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia. Produksi kedelai dalam negeri terus menurun seiring dengan merosotnya areal tanam. Untuk mencukupi permintaan kedelai dalam negeri yang terus meningkat pemerintah melakukan impor. Dilihat dari segi petani, merosotnya luas areal tanam kedelai menunjukkan kurangnya partisipasi petani untuk menanam kedelai. Oleh karena itu, upaya meningkatkan produksi kedelai nasional dalam rangka menuju swasembada, bukan hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga perlu strategi menggalang partisipasi petani dalam peningkatan produksi kedelai. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kabupaten Garut , Propinsi .Iawa Barat pada bulan Mei 2009 dengan menggunakan metoda survey. Data dikumpr-rlkan dengan melakukan wawancara terhadap 64 orang petani contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi budidaya kedelai masih dibawah teknologi yang dianjurkan pemerintah. Di lain pihak, pelaksanaan kegiatan usahatani kedelai di tingkat petani adalah layak diusahakan karena nilai imbangan pendapatan dan biaya (R/C) adalah lebih dari satu.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERILAKU PETANI DALAM KONSERVASI LAHAN PADA USAHATANI KAKAO DI KECAMATAN POSO PESISIR UTARA

PERILAKU PETANI DALAM KONSERVASI LAHAN PADA USAHATANI KAKAO DI KECAMATAN POSO PESISIR UTARA

39 Menurut Green dalam Sutrisno (2006) dalam teori penaksiran perilaku menyebutkan bahwa kegiatan atau perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor adat istiadat, kepercayaan dan kebiasaan masyarakat serta faktor pendidikan, pekerjaan, luas dan status kepemilikan tanah, pendapatan, budaya, strata sosial dan informasi. Penerapan konservasi lahan dapat dianggap sebagai salah satu perilaku atau tindakan petani dalam mengelola atau memperlakukan alam lingkungannya.

6 Baca lebih lajut

PILIHAN PETANI PADA KELEMBAGAAN LAHAN USAHATANI TANAMAN PANGAN DI PARANGGUPITO KABUPATEN WONOGIRI

PILIHAN PETANI PADA KELEMBAGAAN LAHAN USAHATANI TANAMAN PANGAN DI PARANGGUPITO KABUPATEN WONOGIRI

Abstrak: Pemilihan lahan kelembagaan di pertanian tanaman bagi petani dapat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi para petani yang bekerja di bidang kelembagaan. Kelembagaan lahan di peternakan adalah penting, sehingga adalah sebuah kebutuhan untuk mengetahui tanah kelembagaan yang saat ini ada di suatu daerah bersama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan tanah kelembagaan bagi petani.Penelitian ini dirancang untuk menjawab permasalahan penelitian sebagai berikut: (1) untuk mengeksplorasi dan menjelaskan luas lahan kering kelembagaan penelitian dalam kondisi saat ini, dan (2) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan lahan kering kelembagaan pada tanaman pertanian. Lokasi penelitian digunakan daerah pedesaan miskin yang berada jauh dari kota, Bandungan dan Dusun Parang Kulon Hamlet, Paranggupito Kabupaten, wilayah selatan Kabupaten Wonogiri, ± 70 km dari Ibukota Wonogiri. Pemilihan lokasi yang relatif jauh dari kota dimaksudkan untuk mendapatkan informasi lengkap tentang tanah kelembagaan. Ada 32 rumah tangga pertanian di kedua dusun yang memiliki kerja sama di tanah kelembagaan sebagai responden. Penelitian ini dilakukan mendalam survei dan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerjasama di atas lahan tanah kelembagaan ada gadai,sewa, 'sakap', dan pinjaman. Berbagai faktor yang mempengaruhi pilihan petani di daerah kelembagaan diketahui, yaitu: posisi tawar petani yang bekerja
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

POLA TUMPANG SARI KARET-PADI PADA TINGKAT PETANI DI LAHAN PASANG SURUT

POLA TUMPANG SARI KARET-PADI PADA TINGKAT PETANI DI LAHAN PASANG SURUT

Usahatani padi sebagai tanaman sela karet berpengaruh terhadap pertumbuhan lilit batang karet, meningkatkan produktivitas lahan, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan pemeliharaan tanaman karet. Pengkajian dilaksanakan di lahan pasang surut tipe luapan C Air Sugihan, Sumatera Selatan pada bulan Juni dan Oktober 2014. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan karet pola tumpangsari padi, hasil padi sebagai tanaman sela karet dan pendapatan petani pola tumpangsari karet-padi di daerah pasang surut. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pertumbuhan lilit batang karet klon PB 260 umur 3 tahun pola tumpangsari karet-padi dengan sistem bedengan 16,52% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan lilit batang karet monokultur tanpa sistem bedengan. Produksi padi sebagai tanaman sela karet adalah 2.800 kg/ha GKG. Usahatani padi sebagai tanaman sela karet pada saat harga rendah masih menguntungkan dengan R/C ratio 1,46, sedangkan pada saat harga tinggi sangat menguntungkan dengan R/C ratio 1,94. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani padi sebagai tanaman sela karet di daerah pasang surut secara ekonomis menguntungkan dan layak untuk dikembangkan, terutama pada areal karet rakyat. Pola tumpangsari karet-padi di daerah pasang surut sebaiknya dilakukan dengan sistem bedengan yaitu memberikan air irigasi, membuat tinggi muka air tetap agar lapisan di bawah perakaran tanaman karet dan padi dalam kondisi jenuh air sehingga mampu menekan keracunan pirit (FeS2). Selain itu, memperbaiki unsur hara serta menggunakan klon dan varietas yang adaptif untuk meningkatkan produktivitas tanaman karet dan padi.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...