Menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1997

Top PDF Menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1997:

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang

Setelah dari sana kami kembali melanjutkan perjalanan. Sepa- njang jalan banyak jejak yang kami temukan di antaranya jejak tapir, jejak gajah, bekas cakaran beruang madu, dan jejak kuc- ing hutan. Selain jejak ada juga kotoran hewan yang kami temu- kan, dan ternyata kotoran hewan lebih memudahkan kita dalam mengetahui kapan hewan tersebut melewati tempat tersebut. Akhirnya masuk pada pemasangan “camera trap”. Camera trap ini berfungsi untuk meneliti keanekaragaman dan jenis-jenis satwa yang ada di hutan Tesso Nilo ini. Karena sebagian besar satwa jarang untuk menampakkan dirinya secara langsung pada manusia. Kamera ini pula yang dapat membuktikan bahwa ban- yak jenis-jenis satwa yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo ini. Pemasangannya dilakukan selama 1 bulan karena baterainya mampu bertahan selama itu dan di letak di jalur yang biasa dilalui oleh satwa liar. Untuk mengetahui fungsinya, kami juga belajar memasang camera trap ini. Kamera ini nantinya akan diikat pada pohon denagn ketinggian 50 cm atau setinggi lutut manusia. Kamera ini dapat mengambil gambar pada siang hari dan malam hari karena dilengkapi dengan infra merah. Kamera ini juga dapat mengambil gambar sejauh 20 hingga 30 meter. Benar-benar kamera yang bagus untuk sebuah penelitian. Kam- era ini sendiri sudah dipasang 3 tahun berturut-turut di Taman Nasional Tesso Nilo yaitu tahun 2005, 2007, dan 2008.
Show more

11 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Undang-Undang. Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

BAB I PENDAHULUAN. Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Undang-Undang. Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

40 Pandangan Hans Kelsen mengenai sistem hukum tersebut diatas menurut hemat kami ada benarnya, namun tentunya tidak mencakup secara menyeluruh dari apa yang dimaksud dalam sistem hukum itu sendiri. Apakah hukum hanya terbatas dalam produk yang dibuat atau dibentuk baik oleh Parlemen, kebiasaan atau putusan pengadilan? lalu bagaimana dengan kejakasaan, kepolisian dan pengacara bukankah mereka juga bagian dari penegak hukum? Lantas dimana posisi masyarakat sebagai pelakasana perintah norma dengan nilai-nilai dan harapan atas kondisi personal atau kelompok didalam kehidupan sosialnya?
Show more

77 Read more

Penerapan Sanksi Pidana terhadap Penyalahgunaan Psikotropika Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997

Penerapan Sanksi Pidana terhadap Penyalahgunaan Psikotropika Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana ketentuan yang mengatur tekait dengan Psikotropika dan bagaimana penerapan sanksi pidana bagi pengedar, pemakai dan pemilik, pengguna Psikotropika menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, maka disimpulkan: 1. Pada mulanya ketentuan pengaturan Psikotropika dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 meliputi: Psikotropika Golongan I, Golongan II, Glongan III, dan Golongan IV sesuai lapiran dalam perundang-undangan dan setelah ada perundang-undang baru yang mengatur tentang Narkotika yakni Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009, maka Psikotropika untuk golongan I dan Golongan II sudah sudah menjadi tindak pidana narkotika Golongan I. 2. Penerapan Sanksi pidana dalam Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika sesuai denhan Pasal 59 dapat di jatuhkan pidana pokok yakni pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok meliputi pidana penjara 20 tahun, pidana seumur hidup dan pidana mati sedangkan pidana tambahan untuk pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha dijatuhkan pada korporasi dan orang asingsesuai dengan kualifikasi perbuatan yang dilarang yaitu, memiliki, membawa, mengedarkan, menggunakan, Psikotropika. Kata kunci: Penerapan Sanksi Pidana, Penyalahgunaan Psikotropika
Show more

8 Read more

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Di Kota Binjai

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Di Kota Binjai

di Kota Binjai, hal ini dilakukan karena kota Binjai merupakan salah satu kota yang berusaha untuk menuju kota mandiri, maju, sejahtera dan berwawasan lingkungan. 6 Kota Binjai selain strategis, merupakan kota permukiman yang setiap tahun jumlah penduduknya meningkat, dan akan berakibat pula terhadap jumlah bangunan- bangunan yang diperuntukkan dan disesuaikan dengan sektor yang terdapat di daerah juga akan bertambah sehingga akan menimbulkan banyak masalah yang timbul dalam proses pembangunan di Kota Binjai yang berkaian dengan lingkungan hidup, baik berupa perusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena adanya berupa dikotomi pemikiran pembangunan dengan lingkungan yang menimbulkan tidak berjalan dengan baiknya clean government yang mengakibatkan program pembangunan berkelanjutan tidak berjalan sesuai dengan prinsip-perinsip pengelolaan lingkungan hidup.
Show more

154 Read more

KEDUDUKAN KEPALA DESA MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986

KEDUDUKAN KEPALA DESA MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986

Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang melaksanakann urusan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana ditentukan dalam pasal 1 sub 1 dan 2 Undang-Undang No.5 Tahun 1986 adalah pegawai negeri yakni seseorang yang diangkat dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri atau tugas negara lainnya. Oleh karena itu apabila dihubungkan dengan jabatan Kepala Desa, maka jelas bahwa Kepala Desa itu bukan merupakan Pejabat Tata Usaha Negara meskipun ia menjalankan urusan pemerintahan umum, pemerintahan daerah dan desa. Namun apabila kita perhatikan pendapat para pakar baik E.Utrecht, Prayudi.A , dan Sjachran Basah tidak memperhatikan tentang Status kepegawaian karena Kepala Desa itu sebagai administrator yang melaksanakan sebagian pekerjaan pemerintah atau fungsi administrasi, disamping alat Pemerintah baik Pusat maupun Daerah, hal ini sejalan dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014.
Show more

16 Read more

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1997

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1997

c. bahwa dengan berlakunya Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria, maka hak-hak atas tanah menurut hukum barat menjadi tidak berlaku lagi, oleh karena itu pengutan Bea Balik Nama atas pemindahan harta tetap berdasarkan Ordonansi Bea Balik Nama menurut Staatsblad 1924 Nomor 291 tidak dapat dilaksanakan;

9 Read more

View of HUKUM ZONA EKONOMI EKSKLUSIF DAN HAK INDONESIA MENURUT UNDANG-UNDANG RI NOMOR 5 TAHUN 1983

View of HUKUM ZONA EKONOMI EKSKLUSIF DAN HAK INDONESIA MENURUT UNDANG-UNDANG RI NOMOR 5 TAHUN 1983

Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak negara maritim yang ada di dunia. Sebagai negara maritim, Indonesia juga memiliki ZEE, atau yang biasa disebut dengan Zona Ekonomi Eksklusif. ZEE atau Zona Ekonomi Eksklusif di Indonesia sendiri terbilang luas, bahkan sangat luas. Luas ZEE Indonesia yang tak sempit tentu jadi sebuah tantangan tersendiri. Sebab, dengan luas yang dimilikinya, Indonesia bisa saja menjadi tempat terbaik untuk melakukan kegiatan yang condong ke kejahatan laut seperti pencurian ikan, perusakan ekosistem perairan dan sebagainya. Oleh karena hal itu, untuk melindungan keamanan, keseltarian, dan kelangsungan ekosistem di ZEE, Indonesia juga membuat Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1983 tentang tata kelola dan penegakan hukum di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif atau ZEE. Undang-undang tersebut merupakan aturan yang membahas tentang berbagai hal seputar aturan umum, penetapan batas, hak berdaulat, yurisdiksi dan kewenangan, kegiatan yang boleh dilakukan, ganti rugi, penegakan hukum, ketetapan pidana, ketentuan nominal denda, pengajuan permohonan pelepasan tersangka yang ditahan, perizinan, pengawasan, dan berbagai hal yang bersinggungan dengan pemanfaatan, pengelolaan dan pelestarian di Zona Ekonomi Eksklusif milik Indonesia. Dengan adanya perundang-undangan ini, Indonesia sebagai salah satu negara pantai berhak dan berkewajiban melakukan hal-hal yang disebutkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983 seputar tata kelola dan penegakan hukum di Zona Ekonomi Eksklusif. Di luar daripada itu, perundang-undangan ini juga bertujuan untuk melaksanakan hak Indonesia sebagai salah satu negara yang berdaulat.
Show more

16 Read more

undang undang ri nomor 5 tahun 1960 tentang pokok pokok dasar agraria

undang undang ri nomor 5 tahun 1960 tentang pokok pokok dasar agraria

(2) Orang atau badan hukum yang mempunyai hak guna bangunan dan tidak lagi memenuhi syarat- syarat yang tersebut dalam ayat 1 pasal ini dalam jangka waktu 1 tahun wajib melepaskan atau mengalihkan hak itu kepada pihak lain yang memenuhi syarat. Ketentuan ini berlaku juga terhadap pihak yang memperoleh hak guna bangunan, jika ia tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Jika hak guna bangunan yang bersangkutan tidak dilepaskan atau dialihkan dalam jangka waktu tersebut, maka hak itu hapus karena hukum, dengan ketentuan, bahwa hak-hak pihak lain akan diindahkan, menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Show more

16 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang di

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang di

Menurut Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang di maksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 1 Dengan kata lain, Bank dalam kegiatannya meliputi menghimpun dana, menyalurkan dana, dan memberikan jasa lainnya. Dalam hal ini Bank sebagai pelantara keuangan antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana. Oleh sebab itu diharapkan lembaga keuangan seperti perbankan dapat menjadi solusi bagi pihak yang kekurangan dana untuk menjalankan kegiatan perekonomiannya. Selain itu bank tidak hanya meningkatkan atau memperbanyak laba untuk mendapatkan keuntungan maksimal saja melainkan juga untuk membantu perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia.
Show more

11 Read more

BAB I PENDAHULUAN. ada dengan pendidikan. Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. ada dengan pendidikan. Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003

keberhasilan tujuan pendidikan bergantung pada proses belajar yang dilakukan oleh siswa b. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab- musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya). 16 Analisis dalam penelitian ini ditujukan untuk menyelidiki tingkat pemahaman siswa terhadap materi sudut dan garis. “Analisis merupakan usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya dan atau susunannya.” 17 Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat memilah integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, cara bekerja dan sistematikanya. Sedangkan menurut Benyamin S. Bloom, “analisis ialah kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks, dan mengenai bagian-bagian serta hubungannya.” 18 Dari beberapa pengertian di atas, disimpulkan bahwa analisis dalam penelitian ini merupakan upaya untuk menyelidiki suatu masalah dengan membuat sebuah tingkatan/hierarki agar masing-masing masalah tersebut dapat digambarkan secara jelas sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Show more

16 Read more

BAB I PENDAHULUAN. tersebut. Adapun pendidian menurut undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. tersebut. Adapun pendidian menurut undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003

Menurut saya pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun dan mewujudkan muatan akademis dengan kehidupan sehari hari .Maka dari itu pemebalajaran kontekstual sangat lah cocok di terapkan di dalam kehidupan sehari hari karena pada dasarnya siswa sekolah dasar lebih antusisas atau lebih senang apabila pembelajaran itu real atau nyata karena dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning siswa bisa mengikuti pembelajaran dengan kondusif karena pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang lebih mengacu kepada dunia nyata .
Show more

20 Read more

A. Jenis Narkotika menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika. - JENIS NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA

A. Jenis Narkotika menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika. - JENIS NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA

langsung atau melalui perubahan kimia. 6) Kokain mentah, semua hasil-hasil yang diperoleh dari daun koka. yang dapat diolah secara langsung untuk mendapatkan kokaina. 7) Kokaina, metil[r]

15 Read more

BAB II. A. Sebelum Undang-Undang Nomor 35 Tahun ) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika

BAB II. A. Sebelum Undang-Undang Nomor 35 Tahun ) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika

No.9 tahun 1976, tentang Narkotika. Undang-Undang tersebut antara lain mengatur berbagai hal khususnya tentang peredaran gelap (illicit traffic). Disamping itu juga diatur tentang terapi dan rehabilitasi korban narkotik (pasal 32), dengan menyebutkan secara khusus peran dari dokter dan rumah sakit terdekat sesuai petunjuk menteri kesehatan. Pada masa ini merupakan periode pertama dari perkembangan kelembagaan Badan Narkotika Nasional yang didirikan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 1971, dalam hal ini peran Badan Narkotika Nasional terdapat di dalam penjelasan pasal 34 menurut UndangUndang no 9 tahun 1976 yaitu melakukan pengawasan dan berkoordianasi dengan penyidik dalam rangka penanggulangan masalah penyalahgunaan narkotika.
Show more

17 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab IV pasal 5 ayat 3 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab IV pasal 5 ayat 3 tentang

Pemerintah provinsi menyelenggarakan paling sedikit 1 (satu) satuan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Peraturan-peraturan di atas akhirnya mendorong banyak sekolah-sekolah berlomba-lomba menyelenggarakan program akselerasi. Sampai saat ini, sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa semakin banyak program akselerasi yang sudah berjalan di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh Sekjend Asosiasi CI/BI dan Tenaga Ahli Dit. PSLB untuk Pendidikan CI/BI, di seluruh Indonesia terdapat 191 sekolah penyelenggara akselerasi yang tersebar di 22 propinsi. Data ini agak berbeda dengan data resmi Dit PSLB tahun 2007 yang menyatakan bahwa terdapat 130 sekolah tersebar di 27 propinsi dengan jumlah siswa 4510 orang. Meskipun kedua data ini berbeda, namun tampak bahwa jumlah anak CI yang terlayani jumlah masih relatif sedikit (Muhammad, 2008).
Show more

17 Read more

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI SANKSI PIDANA BAGI PEMAKAI DAN PENGEDAR NARKOTIKA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DIBANDINGKAN DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1997

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI SANKSI PIDANA BAGI PEMAKAI DAN PENGEDAR NARKOTIKA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DIBANDINGKAN DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1997

tidak langsung dengan penulisan skripsi ini. Penelusuran bahan-bahan kepustakaan dilakukan dengan mempelajari asas-asas, teori-teori, konsep-konsep, serta peraturan-peraturan yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa terdapat perbedaan dan perkembangan antara Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika yaitu adanya perbedaan sanksi pidana bagi pemakai dan pengedar narkotika. Pemakai, pecandu dan korban dapat dikenakan sanksi pidana penjara atau rehabilitasi medik dan sosial yang dibuktikan dengan adanya keterangan bahwa si pecandu dan pemakai benar-benar sebagai korban dalam peredaran gelap narkotika. Pengedar dikenakan sanksi pidana penjara dilihat dari golongan dan jenis narkotika, formulasi tersebut lebih berat mengingat bahaya yang ditimbulkan dari peredaran gelap narkotika tersebut. Dasar kebijakan formulasi sanksi pidana sesuai dengan penjelasan atas Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 yaitu tindak pidana Narkotika tidak lagi dilakukan secara perseorangan melainkan melibatkan banyak orang yang secara bersama-sama bahkan merupakan suatu sindikat. Guna peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika perlu dilakukan pembaruan terhadap Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997. Selain itu, diatur pula mengenai sanksi pidana bagi penyalahagunaan prekursor narkotika untuk pembuatan narkotika.
Show more

15 Read more

Perlindungan Hukum Terhadap Hewan Lindung Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990

Perlindungan Hukum Terhadap Hewan Lindung Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana hambatan-hambatan dalam perlindungan hukum terhadap hewan lindung di Indonesia dan bagaimana perlindungan dan penegakan hukum terhadap hewan lindung di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, maka dapat disimpulkan: 1. Hambatan dalam melakukan suatu proses perlindungan hukum terhadap pelaku kejahatan penganiayaan hewan adaalah pengaruh pemikiran oleh masyarakat atau manuisa, dimana manusia menganggap bahwa hewan langka/hewan lindung ini hanyalah makhluk biasa, tetapi sebaliknya sebagaimana manusia yang merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa mempunyai hidup yang seimbang juga dengan hewan. Perubahan ekosistem baik secara alami maupun karena pengaruh manusia yang tanpa terkendali, tentu saja akan menjadi ancaman terhadap hewan-hewan yang termasuk kategori hampir terancam ini. 2. Penerapan sanksi terhadap pelaku kejahatan melakukan penganiayaan hewan yang di lindungi sampai saat ini belum adanya kepastian hukum dalam menerapkan atau memberi sanksi yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan penganiayaan hewan langka. Bahkan ada sanksi yang diberikan tidak sesuai dengan aturan-aturan yang sudah diatur baik lewat Undang-undang No.5 Tahun 1990 dan aturan hukum lainnya. UU tersebut disebutkan dalam pasal 40 ayat (2) jika melanggar Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) seperti dikutip dibawah, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Show more

6 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Desentralisasi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Desentralisasi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang

yang disajikan sudah wajar, namun terdapat suatu penyimpangan atau kekurangan pada pos tertentu sehingga harus dikecualikan. BPK selain mengeluarkan hasil pemeriksaannya, BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Internalal (SPI) pada setiap entitas yang diperiksa, dalam terbitannya tersebut BPK menemukan adanya beberapa kelemahan SPI. Dengan adanya penemuan tersebut mengindikasikan bahwa terdapat permasalahan dalam pelaporan keuangan pemerintah daerah Kota Bandung. Temuan-temuan BPK tersebut, membuat laporan keuangan yang dihasilkan LKPD Kota Bandung dari tahun 2013-2017 masih belum sesuai harapan. Salah satu temuan tersebut terkait dengan pengelolaan atas sewa tanah dan bangunan.
Show more

12 Read more

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang Undang Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009, Sehat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang Undang Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009, Sehat

Tabel 1.1 Anggaran Kesehatan 2010 – 2015 (dalam triliun rupiah) (7) Sumber : Direktorat Jendral Anggaran Kementrian Keuangan RI (7) Dalam surat edaran Menteri Kesehatan No.1107/Menkes/E/VII/2000 menyebutkan kewenangan minimal yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota dalam bidang kesehatan salah satunya adalah perencanaan dan pengadaan obat di dalam pelayanan kesehatan dasar. Undang-undang Nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, mengakibatkan timbulnya suatu perubahan pada struktur maupun organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten termasuk organisasi Dinas Kesehatan dan perubahan dalam sistem pembiayaan atau pengadaan baik sumber dana maupun cara pengalokasian dananya. (15)
Show more

8 Read more

Show all 10000 documents...