Minyak Atsiri Jahe

Top PDF Minyak Atsiri Jahe:

this PDF file Toxisitas temephos, minyak atsiri jahe ​(Zingiber officinale Roxb)​, dan ​Bacillus thuringiensis ssp. israelensis​ (Bti) terhadap larva nyamuk ​Ae. aegypti​ dari Sumatra Utara | Sihotang | Berita Kedokteran Masyarakat 2 PB

this PDF file Toxisitas temephos, minyak atsiri jahe ​(Zingiber officinale Roxb)​, dan ​Bacillus thuringiensis ssp. israelensis​ (Bti) terhadap larva nyamuk ​Ae. aegypti​ dari Sumatra Utara | Sihotang | Berita Kedokteran Masyarakat 2 PB

litian eksperimental murni dengan rancangan​           ​ True   experimental laboratory studies with randomized           post-test only control group design           dilakukan de-     ngan menggunakan larva instar III           ​ Ae. aegypti       se- bagai subyek penelitian. Mortalitas larva dicatat             setelah pajanan dengan dosis diagnostik temefos             (0.02ppm) selama 24 jam untuk menetapkan status               resistensi. Analisis probit digunakan untuk menen-             butukan   median lethal time       ​(LT50), dan rasio resis-         tensi larva dari lapangan dengan larva strain               rentan. Konsentrasi uji toksisitas Bti adalah 0,01,               0,013, 0,017, 0,02, 0,03 and 0,04 mL/L dan konsen-                   trasi uji toxisitas minyak atsiri jahe 66,6, 99,9,                 133,2, 166,5, 199,8 and 266,4 ppm.             ​Hasil:   ​larva​  Ae.   aegypti   terbukti resisten terhadap to temefos           dengan RR 1,9 < 5. Nilai LC50 dan LC90 Bti                     berturut-turut 0,014; 0,024 mL/L. Nilai LC50 dan               LC90 minyak atsiri jahe berturut-turut 65,6ppm             dan 129,1 ppm.       ​Simpulan:​   ​Larvae   ​ Ae. aegypti     ​dari   Deli Serdang Sumatra Utara terbukti resisten             terhadap temephos dengan kriteria resistensi           rendah. Bakteri Bti dan minyak atsiri jahe toxik                 terhadap larva ​ Ae. aegypti ​. 
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANTI-EMETIK MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale) PADA OTOT POLOS ILEUM MARMUT (Cavia cobaya) TERISOLASI: STUDI IN SILICO DAN IN VITRO PADA RESEPTOR ASETILKOLIN MUSKARINIK 3

UJI AKTIVITAS ANTI-EMETIK MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale) PADA OTOT POLOS ILEUM MARMUT (Cavia cobaya) TERISOLASI: STUDI IN SILICO DAN IN VITRO PADA RESEPTOR ASETILKOLIN MUSKARINIK 3

Anti-emetik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi rasa mual dan muntah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senyawa golongan minyak atsiri Jahe (Zingiber officinale) terhadap kontraksi otot polos ileum yang diinduksi agonis asetilkolin. Metode yang digunakan adalah in silico dan in vitro, yaitu melakukan molecular docking dengan aplikasi AutoDockTools dan percobaan pada otot polos ileum marmut (Cavia cobaya) menggunakan alat organbath. Analisis molecular docking ini berupa perbandingan skor docking dari ligan asli (Tiotropium), senyawa uji (Zingiberene) dan obat pembanding (Atropin). Minyak atsiri Jahe diberikan dengan dosis 1 dan 1,25 ppm, agonisnya diberikan dengan seri kadar asetilkolin 10 -8 - 10 -2 M. Pada uji in vitro ini juga dipelajari sifat
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

PENGARUH KOMBINASI NISIN DENGAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum), JAHE EMPRIT (Zingiber officinale var. roscoe) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale var. officinale) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN MIKROBIA PEMBUSUK DAN PATOGEN - UNS

PENGARUH KOMBINASI NISIN DENGAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum), JAHE EMPRIT (Zingiber officinale var. roscoe) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale var. officinale) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN MIKROBIA PEMBUSUK DAN PATOGEN - UNS

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas kehendak dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Pengaruh Kombinasi Nisin dengan Minyak Atsiri Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum), Jahe Emprit (Zingiber officinale var. roscoe) dan Jahe Gajah (Zingiber officinale var. officinale) Dalam Menghambat Pertumbuhan Mikrobia Pembusuk dan Patogen ” . Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S-1) pada Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tahu - ANALISIS KANDUNGAN KIMIA MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI PADA TAHU PUTIH DAN DAGING AYAM - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tahu - ANALISIS KANDUNGAN KIMIA MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI PADA TAHU PUTIH DAN DAGING AYAM - repository perpustakaan

Jahe kering mempunyai kadar air 7-12%, minyak atsiri 1-3%, oleoresin 5-10%, pati 50-55%, sejumlah kecil protein, dan serat lemak sampai 70%. Aroma jahe sangat tergantung pada kandungan minyak atsiri (1-3%). Variasi komponen kimia dalam minyak atsiri jahe bukan saja dikarenakan varietasnya tetapi juga kondisi iklim, musim, geografi lingkungan, tingkat ketuaan, adaptasi metabolit dari tanaman, kondisi destilasi, dan bagian yang dianalisis (Wang et al., 2009).

8 Baca lebih lajut

INKORPORASI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH DAN LENGKUAS MERAH PADA EDIBLE FILM TAPIOKA.

INKORPORASI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH DAN LENGKUAS MERAH PADA EDIBLE FILM TAPIOKA.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah serta pengaruh inkorporasi minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah terhadap aktivitas antimikroba dan karakteristik sensori edible film tapioka. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan terhadap bakteri Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens sedangkan karakteristik sensori diuji dengan metode perbandingan jamak dan metode hedonik. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan sebesar 16.61% untuk minyak atsiri jahe merah dan 22.22% untuk minyak atsiri lengkuas merah. Aktivitas antimikroba edible film dengan inkorporasi 0.1% minyak atsiri jahe merah mampu menghambat Pseudomonas putida sebesar 2.45 cm dan Pseudomonas fluorescens sebesar 1.92 cm sedangkan inkorporasi dengan minyak atsiri lengkuas merah masing-masing menghambat sebesar 2.35 cm dan 2.42 cm (diameter edible film 1.3 cm). Berdasarkan uji perbandingan jamak diketahui bahwa edible film dengan inkorporasi masing-masing 1% minyak atsiri mempunyai karakteristik yang masih mendekati edible film tanpa minyak atsiri dan juga disukai panelis. Oleh karena itu dengan hasil ini maka dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang aplikasi edible film ini sebagai pengemas aktif.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung Dan Paru-Paru Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Pemberian Aromaterapi Minyak Atsiri Jahe (Zingiber Officinale).

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung Dan Paru-Paru Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Pemberian Aromaterapi Minyak Atsiri Jahe (Zingiber Officinale).

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) terhadap gambaran histopatologi sinus hidung dan paru-paru tikus putih (Rattus norvegicus). Enam ekor tikus dengan asumsi sehat sistem pernafasannya dibagi menjadi dua kelompok, kelompok perlakuan (P) diberi inhalasi minyak atsiri jahe selama lima minggu, sedangkan kelompok kontrol (K) tidak diberi apa-apa. Secara umum, sinus hidung tikus kelompok kontrol maupun perlakuan mengalami sinusitis suppuratif akut dan paru-parunya mengalami pneumonia interstisialis. Berdasarkan perubahan histopatologi dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri jahe tidak memperbaiki kerusakan pada rongga sinus hidung maupun paru-paru tikus.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Peningkatan Pendapatan Usaha Mitra Penyulingan Minyak Atsiri Jahe Sistem Uap Tidak Langsung

Peningkatan Pendapatan Usaha Mitra Penyulingan Minyak Atsiri Jahe Sistem Uap Tidak Langsung

Abstrak-Olahan jahe yang telah dilakukan oleh salah satu UKM pengolah jahe di Provinsi Lampung adalah dengan melakukan pengolahan sederhana berupa proses serta sortasi dan perajangan tetapi mampu menembus Uni Eropa yaitu di Spanyol dan Portugal. Dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari produk jahe yang dihasilkan, UKM pengolah jahe telah melakukan upaya awal pengembangan produk olahan jahe dengan mengolahnya menjadi minyak atsiri jahe (ginger oil) melalui 3 macam proses penyulingan yaitu metode penyulingan dengan air (perebusan), penyulingan dengan air dan uap (pengukusan) dan penyulingan dengan uap air. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi peningkatan pendapatan usaha mitra penyulingan minyak atsiri jahe dengan metode uap tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan sebesar Rp. 27.000.000,- setelah menerapkan penyulingan metode uap tidak langsung.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Alat Destilasi Vakum Minyak Atsiri Jahe T1 612008601 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Alat Destilasi Vakum Minyak Atsiri Jahe T1 612008601 BAB V

Berdasarkan hasil pengujian penyulingan yang berlangsung selama 2,5 - 3 jam dengan berat jahe emprit 3 kg diperoleh hasil minyak atsiri 63,5 gram dengan rendemen minyak atsiri jahe sebes[r]

1 Baca lebih lajut

Pengaruh Minyak Atsiri Jahe Merah dan Lengkuas Merah pada Edible Coating Terhadap Kualitas Fillet Ikan Patin | Utami | Agritech 9535 17620 1 PB

Pengaruh Minyak Atsiri Jahe Merah dan Lengkuas Merah pada Edible Coating Terhadap Kualitas Fillet Ikan Patin | Utami | Agritech 9535 17620 1 PB

Nilai pH dengan berbagai konsentrasi minyak atsiri jahe merah ditunjukkan pada Gambar 4.a. Pada awal penyimpanan nilai pH fillet ikan patin pada konsentrasi 0%; 0,1% dan 1% adalah 5,95; 6,04 dan 6,41. Selama penyimpanan, nilai pH fillet ikan patin mengalami peningkatan secara signifikan (p<0,05) dengan kecepatan yang bervariasi. Peningkatan pH pada sampel perlakuan 1% lebih rendah (6,41 menjadi 6,77) dibandingkan sampel 0% (5,95 menjadi 6,68) (Gambar 4.a). Pada awal penyimpanan, nilai pH fillet ikan patin perlakuan minyak atsiri lengkuas merah juga tidak berbeda nyata akibat perlakuan konsentrasi yang diberikan (Gambar 4.b). Tetapi pada penyimpanan hari ke-6 nilai pH pada konsentrasi 0% sebesar 6,6 dan 0,1% sebesar 6,8 menunjukan nilai pH yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 1% sebesar 6,5 (p<0,05) (Gambar 4.b). Peningkatan pH disebabkan oleh peningkatan produksi komponen basa volatile seperti ammonia, dan trimetilamin akibat aktivitas enzim internal ikan dan mikrobia (Chamarana dkk., 2012). Ghaly dkk., (2010) menyatakan bahwa sejumlah enzim protease ditemukan dalam daging ikan. Enzim protease terkait dengan dekomposisi protein menjadi ammonia (Mohan dkk., 2008). Katabolisme asam amino daging ikan oleh mikrobia juga menghasilkan akumulasi ammonia, dan trimetilamin (Goulas dan Kontominas, 2007). Bakteri Pseudomonas yang dilaporkan Noseda dkk. (2012) sebagai mikrobia pembusuk yang ditemukan dalam fillet ikan patin termasuk bakteri proteolitik yang mampu mendegradasi protein menjadi peptida dan asam amino serta mendegradasinya lebih lanjut menjadi indol, amina, asam, komponen sulfida dan ammonia (Fraser dan Sumar, 1998).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DALAM PEMISAHAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum)

PENERAPAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DALAM PEMISAHAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum)

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan semakin meningkatnya usaha untuk mengetahui cara memperoleh minyak atsiri dan pendayagunaannya dalam kehidupan manusia. Minyak atsiri dapat diisolasi dari berbagai jenis tanaman, salah satunya dengan cara penyulingan (Rumondang, 2004). Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri tersebut adalah rimpang jahe merah. Jahe merah (Zinggiber officinale var. rubrum) merupakan salah satu tanaman khas di Indonesia. Kandungan oleoresin pada rimpang jahe merah akan memberikan rasa pedas, sedangkan minyak atsiri di dalamnya akan menghasilkan aroma yang khas. Minyak atsiri jahe dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, parfum, dan aroma terapi pada industri farmasi, pada industri makanan digunakan sebagai bahan penyedap (Wulandari, 2010).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Efektivitas Antibakteri Kombinasi Minyak Atsiri Zingiber officinale var. Rubrum dan Alpinia purpurata K. Schum dan Aplikasinya Pada Model Pangan

Efektivitas Antibakteri Kombinasi Minyak Atsiri Zingiber officinale var. Rubrum dan Alpinia purpurata K. Schum dan Aplikasinya Pada Model Pangan

Bakteri Gram positif mempunyai dinding sel yang mengandung 90% peptidoglikan serta lapisan tipis asam teikoat dan asam teikuronat yang bermuatan negatif, sedangkan dinding sel bakteri Gram negatif hanya mengandung 5-20% peptidoglikan, dan dilapisi protein, lipopolisakarida, fosfolipid, serta lipoprotein. Dinding sel bakteri Gram positif banyak mengandung asam amino alanin yang bersifat hidrofobik, sehingga lebih mampu mengikat senyawa non-polar seperti minyak atsiri dibandingkan dengan pada bakteri Gram negatif yang lebih banyak mengandung sisi hidrofilik seperti karboksil, amino dan hidroksil (Jay et al. 2005). Mekanisme kerusakan dinding dan membran sel pada Gram positif dan Gram negatif disebabkan akumulasi minyak atsiri pada dinding sel yang menginduksi terbentuknya pori, dan mengubah permeabilitas membran sehingga komponen antibakteri dapat masuk ke dalam sel dan menyebabkan kebocoran komponen intraseluler seperti asam nukleat dan protein (Carson et al. 2002). Menurut Oussalah et al. (2006), minyak atsiri dapat mencapai periplasma bakteri Gram-negatif melalui protein porin dari membran luar. Komponen aktif pada kombinasi minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah kemungkinan dapat memecah ikatan β -1.4 antara asam N-asetilglukosamin (NAG) dan N- asetilmuramat (NAM) pada peptidoglikan, mempengaruhi enzim-enzim yang berperan pada sintesis peptidoglikan, juga dapat mempengaruhi kondisi kationik dan hidrofobisitas membran (Davidson et al. 2005). Seperti halnya senyawa antibakteri yang hanya aktif terhadap bakteri Gram positif (misalnya bakteriosin), efektivitas terhadap bakteri Gram negatif bisa ditingkatkan dengan merusak membran luar, misalnya kombinasi dengan Ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA) (Visscher et al. 2011).
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

PENGARUH TEBAL IRISAN DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMAN DAN KUALITAS MINYAK ATSIRIJAHE VARIETAS GAJAH (Zingiber officinale Rosc varr.)

PENGARUH TEBAL IRISAN DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMAN DAN KUALITAS MINYAK ATSIRIJAHE VARIETAS GAJAH (Zingiber officinale Rosc varr.)

Jenis penelitian adalah eksperimen sungguhan dengan menggunakan RAL 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian diuji dengan statistik Anava 2 jalur dan uji lanjut dengan uji BNT menunjukkan bahwa tebal irisan dan lama pengeringan berpengaruh terhadap rendemen dari minyak atsiri jahe gajah. Rendemen yang paling banyak hasilnya adalah pada perlakuan tebal irisan 4 mm dan lama pengeringan 24 jam (A2B2) dengan rendemen total sebanyak 3,1 ml. dan terendah didapat pada perlakuan tebal irisan 6 mm dan lama pengeringan 36 jam (A3B3) dengan rendemen total sebanyak 1,9 ml, hal ini jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol yang
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) 2.1.5 Klasifikasi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) - UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale Roxb.) TERHADAP PERTUMBUHAN Aeromonas hydrophila GPl-04 SECARA IN-VITR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) 2.1.5 Klasifikasi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) - UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale Roxb.) TERHADAP PERTUMBUHAN Aeromonas hydrophila GPl-04 SECARA IN-VITR

Jahe kering mempunyai kadar air 7-12%, minyak atsiri 1-3%, oleoresin 5- 10%, pati 50-55%, sejumlah kecil protein, dan serat lemak sampai 70%. Aroma jahe sangat tergantung pada kandungan minyak atsirinya (1-3%). Adanya variasi komponen kimia dalam minyak atsiri jahe bukan saja dikarenakan varietasnya tetapi juga kondisi iklim, musim, geografi lingkungan, tingkat ketuaan, adaptasi metabolit dari tanaman, kondisi destilasi, dan bagian yang dianalisa (Wang et al., 2009).

20 Baca lebih lajut

ANALISIS KANDUNGAN DAN UJI ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI RIMPANG JAHE (Zingiber officinale) DAN KUNYIT (Curcuma domestica) YANG DIEKSTRAKSI DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DAN DISTILASI UAP

ANALISIS KANDUNGAN DAN UJI ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI RIMPANG JAHE (Zingiber officinale) DAN KUNYIT (Curcuma domestica) YANG DIEKSTRAKSI DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DAN DISTILASI UAP

Masyarakat Indonesia sudah mengenal dan memakai tumbuhan berkhasiat obat untuk penanggulangan masalah kesehatan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern menyentuh masyarakat. Jahe dan kunyit merupakan tanaman obat yang banyak digunakan untuk menanggulangi tujuan tersebut. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa minyak atsiri jahe dan kunyit berpotensi besar sebagai agen antimikroba (Ponglux et al.,1987).

17 Baca lebih lajut

University of Lampung | LPPM-UNILA Institutional Repository (LPPM-UNILA-IR)

University of Lampung | LPPM-UNILA Institutional Repository (LPPM-UNILA-IR)

Berdasarkan besarnya potensi bahan baku dan kendala yang dihadapi oleh CV. Nusantara Spices maka diperlukan adanya strategi pengembangan agar agroindustri minyak atsiri jahe dan kunyit yang akan didirikan nantinya dapat bertahan dan terus berkembang. Menurut Rangkuti (2006), penentuan suatu strategi didasarkan pada hasil analisis terhadap faktor-faktor yang berpengaruh yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Analisis yang digunakan dalam menentukan strategi pengembangan pada

5 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK BEBERAPA MINYAK ATSIRI FAMILI ZINGIBERACEAE DALAM PERDAGANGAN

KARAKTERISTIK BEBERAPA MINYAK ATSIRI FAMILI ZINGIBERACEAE DALAM PERDAGANGAN

Hasil analisis minyak jahe dari ke- tiga sumber yang berbeda tersebut ter- nyata tidak dapat memenuhi persyaratan karakteristik mutu yang ditentukan pada standar internasional (Tabel 2). Dari semua parameter mutu yang ditentukan, ternyata nilai putaran optik minyak sa- ngat berbeda dengan standar yang ber- laku, dimana besaran putaran optik yang dikehendaki bernilai negatif (), semen- tara angka yang diperoleh dari ketiga contoh minyak jahe tersebut bernilai po- sitif (). Menurut informasi dari bebe- rapa eksportir minyak atsiri, minyak atsiri jahe dari Indonesia selalu menun- jukkan angka putaran optik yang positif (), sehingga agak sulit diterima di pasar internasional (Konsultasi pribadi, 2005). Hal ini didukung oleh Anon (2005) yang menunjukkan bahwa seluruh sampel mi-
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN POTENSI KOMBINASI MINYAK ATSIRI CENGKIH (Syzigium aromaticum) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale Roscoe) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA DAGING AYAM SEGAR

IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN POTENSI KOMBINASI MINYAK ATSIRI CENGKIH (Syzigium aromaticum) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale Roscoe) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA DAGING AYAM SEGAR

Minyak atsiri cengkih (Syzygium aromaticum) dan jahe gajah (Zingiber officinale R.) memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komponen kimia yang terkandung dalam minyak atsiri cengkih dan jahe gajah serta mengetahui perbandingan potensi kombinasi minyak atsiri cengkih dan minyak jahe gajah sebagai pengawet alami pada daging ayam segar dibandingkan dengan penggunaannya secara tunggal. Minyak atsiri cengkih dan jahe gajah diperoleh dengan metode hidrodestilasi. Identifikasi komponen kimia dengan metode Gas Chromatography-Mass Spectrophotometer (GC-MS). Uji potensi minyak atsiri sebagai pengawet alami pada daging ayam segar dilakukan dengan pengamatan jumlah koloni bakteri pada kultur media Nutrient Agar (NA) dan uji organoleptis pada daging ayam yang telah diawetkan pada waktu penyimpanan hingga 15 hari. Komponen kimia minyak atsiri cengkih yang dominan yaitu eugenol (67%), trans- β -kariofilen (25,64%) dan humulen (2,66%) dengan kandungan golongan senyawa terbesar yaitu golongan fenol. Pada minyak atsiri jahe gajah komponen kimia yang dominan yaitu α-kurkumena (30,12%), kampena (13,93%), zingiberena (13,82%) dan β -sesquifellandrena (12,38%) dengan kandungan golongan senyawa terbesar yaitu hidrokarbon. Penggunaan kombinasi minyak atsiri cengkih dan jahe gajah dengan perbandingan konsentrasi 2:0,2% memiliki potensi pengawetan daging ayam yang setara dengan penggunaan minyak atsiri cengkih 1% tetapi lebih baik dibandingkan dengan penggunaan minyak atsiri jahe gajah 1% berdasarkan nilai AUC total dari kurva hubungan jumlah koloni bakteri terhadap waktu penyimpanan dan organoleptis daging ayam yang telah diawetkan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Identifikasi Komponen Kimia Minyak                            Atsiri Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officunale Rosc.) Dan Uji Aktivitas Antibakteri

Identifikasi Komponen Kimia Minyak Atsiri Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officunale Rosc.) Dan Uji Aktivitas Antibakteri

Penelitian mengenai komponen minyak rimpang jahe sudah pernah dilakukan oleh Setyawan dengan membandingkan kadar minyak atsiri pada tiga jenis jahe (Zingiber officinale Rosc.) yakni jahe gajah, jahe emprit dan jahe merah. Metode yang digunakan adalah destilasi air (Hidrodestilasi) untuk mendapatkan minyak atsiri dari rimpang jahe emprit dan untuk mengetahui kandungan minyak atsiri jahe emprit dilakukan uji secara GC-MS untuk menentukan identitas setiap senyawa yang dihasilkan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kadar minyak atsiri jahe gajah, merah dan emprit secara berturut-turut adalah 2%, 2,5% dan 2,5%. Jumlah senyawa minyak atsiri ketiga secara berturut-turut adalah 18,18 dan 14 senyawa antara lain α -pinen, kamfen, eukaliptol, borneol, sitral, benzene, 2,6-oktadiena, karyofilen dan farnesen.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung dan Paru-paru Tikus Putih ( R(/ I Ius non-cgicus) Pasca Pem berian Aromaterapi Min yak A tsiri Jahe (Zingihcr o!Jicinole)

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung dan Paru-paru Tikus Putih ( R(/ I Ius non-cgicus) Pasca Pem berian Aromaterapi Min yak A tsiri Jahe (Zingihcr o!Jicinole)

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) terhadap gambaran histopatologi sinus hidung dan paru-paru tikus putih (Rattus norvegicus). Enam ekor tikus dengan asumsi sehat sistem pernafasannya dibagi menjadi dua kelompok, kelompok perlakuan (P) diberi inhalasi minyak atsiri jahe selama lima minggu, sedangkan kelompok kontrol (K) tidak diberi apa-apa. Secara umum, sinus hidung tikus kelompok kontrol maupun perlakuan mengalami sinusitis suppuratif akut dan paru-parunya mengalami pneumonia interstisialis. Berdasarkan perubahan histopatologi dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri jahe tidak memperbaiki kerusakan pada rongga sinus hidung maupun paru-paru tikus.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...