Minyak Atsiri Jahe

Top PDF Minyak Atsiri Jahe:

this PDF file Toxisitas temephos, minyak atsiri jahe ​(Zingiber officinale Roxb)​, dan ​Bacillus thuringiensis ssp. israelensis​ (Bti) terhadap larva nyamuk ​Ae. aegypti​ dari Sumatra Utara | Sihotang | Berita Kedokteran Masyarakat 2 PB

this PDF file Toxisitas temephos, minyak atsiri jahe ​(Zingiber officinale Roxb)​, dan ​Bacillus thuringiensis ssp. israelensis​ (Bti) terhadap larva nyamuk ​Ae. aegypti​ dari Sumatra Utara | Sihotang | Berita Kedokteran Masyarakat 2 PB

litian eksperimental murni dengan rancangan​           ​ True   experimental laboratory studies with randomized           post-test only control group design           dilakukan de-     ngan menggunakan larva instar III           ​ Ae. aegypti       se- bagai subyek penelitian. Mortalitas larva dicatat             setelah pajanan dengan dosis diagnostik temefos             (0.02ppm) selama 24 jam untuk menetapkan status               resistensi. Analisis probit digunakan untuk menen-             butukan   median lethal time       ​(LT50), dan rasio resis-         tensi larva dari lapangan dengan larva strain               rentan. Konsentrasi uji toksisitas Bti adalah 0,01,               0,013, 0,017, 0,02, 0,03 and 0,04 mL/L dan konsen-                   trasi uji toxisitas minyak atsiri jahe 66,6, 99,9,                 133,2, 166,5, 199,8 and 266,4 ppm.             ​Hasil:   ​larva​  Ae.   aegypti   terbukti resisten terhadap to temefos           dengan RR 1,9 < 5. Nilai LC50 dan LC90 Bti                     berturut-turut 0,014; 0,024 mL/L. Nilai LC50 dan               LC90 minyak atsiri jahe berturut-turut 65,6ppm             dan 129,1 ppm.       ​Simpulan:​   ​Larvae   ​ Ae. aegypti     ​dari   Deli Serdang Sumatra Utara terbukti resisten             terhadap temephos dengan kriteria resistensi           rendah. Bakteri Bti dan minyak atsiri jahe toxik                 terhadap larva ​ Ae. aegypti ​. 
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

INKORPORASI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH DAN LENGKUAS MERAH PADA EDIBLE FILM TAPIOKA.

INKORPORASI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH DAN LENGKUAS MERAH PADA EDIBLE FILM TAPIOKA.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah serta pengaruh inkorporasi minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah terhadap aktivitas antimikroba dan karakteristik sensori edible film tapioka. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan terhadap bakteri Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens sedangkan karakteristik sensori diuji dengan metode perbandingan jamak dan metode hedonik. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan sebesar 16.61% untuk minyak atsiri jahe merah dan 22.22% untuk minyak atsiri lengkuas merah. Aktivitas antimikroba edible film dengan inkorporasi 0.1% minyak atsiri jahe merah mampu menghambat Pseudomonas putida sebesar 2.45 cm dan Pseudomonas fluorescens sebesar 1.92 cm sedangkan inkorporasi dengan minyak atsiri lengkuas merah masing-masing menghambat sebesar 2.35 cm dan 2.42 cm (diameter edible film 1.3 cm). Berdasarkan uji perbandingan jamak diketahui bahwa edible film dengan inkorporasi masing-masing 1% minyak atsiri mempunyai karakteristik yang masih mendekati edible film tanpa minyak atsiri dan juga disukai panelis. Oleh karena itu dengan hasil ini maka dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang aplikasi edible film ini sebagai pengemas aktif.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANTI-EMETIK MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale) PADA OTOT POLOS ILEUM MARMUT (Cavia cobaya) TERISOLASI: STUDI IN SILICO DAN IN VITRO PADA RESEPTOR ASETILKOLIN MUSKARINIK 3

UJI AKTIVITAS ANTI-EMETIK MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale) PADA OTOT POLOS ILEUM MARMUT (Cavia cobaya) TERISOLASI: STUDI IN SILICO DAN IN VITRO PADA RESEPTOR ASETILKOLIN MUSKARINIK 3

Muntah merupakan cara tubuh untuk mengeluarkan zat yang merugikan. Muntah dapat disebabkan karena makan atau menelan zat iritatif atau zat beracun atau makanan yang sudah rusak. Muntah bisa terjadi selama kehamilan, terutama pada minggu-minggu pertama dan pada pagi hari. Banyak obat-obatan, termasuk obat anti kanker dan pereda nyeri golongan opiat seperti morfin, dapat menyebabkan mual dan muntah. Saat ini obat-obatan tradisional banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu menyebabkan efek samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh. Sementara ini banyak orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan dengan obat sintesis. Upaya pengembangan senyawa obat bahan alam dari minyak atsiri jahe dilakukan dengan menganalisis kandungan kimia yang terdapat dalam minyak atsiri jahe dengan metode Kromatografi Gas (GC) dan Spektrofotometer Massa (MS), selanjutnya dilakukan uji in silico senyawa marker dari minyak atsiri jahe serta beberapa senyawa pembanding yang memiliki aktivitas antagonis terhadap reseptor asetilkolin muskarinik 3 (ACh M 3 ). Kemudian dilakukan uji in vitro
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

PENGARUH KOMBINASI NISIN DENGAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum), JAHE EMPRIT (Zingiber officinale var. roscoe) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale var. officinale) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN MIKROBIA PEMBUSUK DAN PATOGEN - UNS

PENGARUH KOMBINASI NISIN DENGAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum), JAHE EMPRIT (Zingiber officinale var. roscoe) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale var. officinale) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN MIKROBIA PEMBUSUK DAN PATOGEN - UNS

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas kehendak dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Pengaruh Kombinasi Nisin dengan Minyak Atsiri Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum), Jahe Emprit (Zingiber officinale var. roscoe) dan Jahe Gajah (Zingiber officinale var. officinale) Dalam Menghambat Pertumbuhan Mikrobia Pembusuk dan Patogen ” . Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S-1) pada Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Peningkatan Pendapatan Usaha Mitra Penyulingan Minyak Atsiri Jahe Sistem Uap Tidak Langsung

Peningkatan Pendapatan Usaha Mitra Penyulingan Minyak Atsiri Jahe Sistem Uap Tidak Langsung

Abstrak-Olahan jahe yang telah dilakukan oleh salah satu UKM pengolah jahe di Provinsi Lampung adalah dengan melakukan pengolahan sederhana berupa proses serta sortasi dan perajangan tetapi mampu menembus Uni Eropa yaitu di Spanyol dan Portugal. Dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari produk jahe yang dihasilkan, UKM pengolah jahe telah melakukan upaya awal pengembangan produk olahan jahe dengan mengolahnya menjadi minyak atsiri jahe (ginger oil) melalui 3 macam proses penyulingan yaitu metode penyulingan dengan air (perebusan), penyulingan dengan air dan uap (pengukusan) dan penyulingan dengan uap air. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi peningkatan pendapatan usaha mitra penyulingan minyak atsiri jahe dengan metode uap tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan sebesar Rp. 27.000.000,- setelah menerapkan penyulingan metode uap tidak langsung.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tahu - ANALISIS KANDUNGAN KIMIA MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI PADA TAHU PUTIH DAN DAGING AYAM - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tahu - ANALISIS KANDUNGAN KIMIA MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI PADA TAHU PUTIH DAN DAGING AYAM - repository perpustakaan

Minyak atsiri terdiri dari beberapa campuran senyawa kimia dan biasanya campuran tersebut sangat kompleks. Beberapa tipe senyawa organik mungkin terkandung dalam minyak atsiri, seperti hidrokarbon, alkohol, oksida, ester, aldehida dan eter. Minyak atsiri sangat sedikit sekali yang mengandung satu jenis komponen kimia yang presentasinya sangat tinggi. Komponen yang menentukan aroma minyak atsiri biasanya komponen yang presentasinya tertinggi. Kehilangan satu komponen yang prsentasinya kecil dapat memungkinkan terjadinya perubahan aroma minyak atsiri tersebut (Agusta, 2000).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung Dan Paru-Paru Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Pemberian Aromaterapi Minyak Atsiri Jahe (Zingiber Officinale).

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung Dan Paru-Paru Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Pasca Pemberian Aromaterapi Minyak Atsiri Jahe (Zingiber Officinale).

Jahe (Zingiber officinale) sudah dikenal sejak lama di Indonesia dan sejauh ini penggunaannya lebih banyak sebagai bahan baku obat herbal. Tanaman jahe memiliki rimpang (umbi) yang mengandung komponen bioaktif meliputi minyak atsiri, oleoresin, dan gingerol. Oleoresin jahe memberikan rasa hangat, sedangkan minyak atsirinya (volatile oil) memberikan rasa hangat dan aromaterapi yang menyegarkan. Gingerol jahe merupakan senyawa aktif yang dapat menurunkan kolesterol (Witantri et al. 2013). Secara tradisional, jahe memiliki kegunaan menyembuhkan beberapa penyakit seperti rematik, sakit gigi, malaria, flu, batuk, penyakit yang disebabkan infeksi, dan lain-lain. Minyak jahe bersifat analgesik, antioksidan, antiseptik, stimulan, dan anti bakteri, serta banyak dipakai dalam aromaterapi (Ma’mun dan Suhirman 2009).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DALAM PEMISAHAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum)

PENERAPAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DALAM PEMISAHAN MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale Var.Rubrum)

(Winarsi, 2014). Analisis profil aroma minyak atsiri dengan KG-SM lebih tepat karena untuk menganalisis minyak diperlukan dua tahapan pemisahan komponen campuran dalam sampel yaitu melalui kromatografi gas (KG) sedangkan tahap selanjutnya yaitu analisis dengan spektrofotometer massa (SM) yang berfungsi untuk mendeteksi masing- masing molekul komponen yang dipisahkan pada sistem krometografi gas (Wulandari, 2010). Adapun hasil analisis GC-MS yang diperoleh pada minyak atsiri jahe merah dalam penelitian ini dapat ditunjukkan pada Gambar 2.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Efektivitas Antibakteri Kombinasi Minyak Atsiri Zingiber officinale var. Rubrum dan Alpinia purpurata K. Schum dan Aplikasinya Pada Model Pangan

Efektivitas Antibakteri Kombinasi Minyak Atsiri Zingiber officinale var. Rubrum dan Alpinia purpurata K. Schum dan Aplikasinya Pada Model Pangan

Analisis karakteristik fisika-kimia dilakukan sesuai standar SNI no.06-1312-1998. Komposisi kimia dianalisis menggunakan alat GC-MS. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi cakram untuk menentukan zona hambat, serta broth microdillution untuk menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Karakteristik minyak atsiri jahe merah yang dihasilkan yaitu kuning kecoklatan, berat jenis 0.883, indeks bias 1.480, putaran optik -8.45 o , larut jernih (1:1) dalam alkohol 90%, bilangan asam 2.06, dan bilangan ester 42.45. Minyak atsiri lengkuas merah memiliki karakteristik warna kuning terang, berat jenis 0.895, indeks bias 1.496, putaran optik -9.15, larut jernih (1:1) dalam alkohol 90%, bilangan asam 1.95 dan bilangan ester 140.15. Komponen mayor minyak atsiri jahe merah terdiri dari trimethyl-heptadien-ol, ar-curcumene, camphene, carbaldehyde, β -sesquiphellandrene, dan nerol; sedangkan komponen mayor minyak atsiri lengkuas merah terdiri dari 1.8-cineole, chavicol, 9-desoxo-9-xi- hydroxy-3,5,7,8,9,12-pentaacetat-ingol, β -caryophyllene dan α -selinene. Minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah memiliki aktivitas antibakteri yang bersifat moderat terhadap bakteri patogen dan perusak pangan, dengan kisaran zona hambat rata-rata 7.17-10.33 mm dan 7.25-11.17 mm. Minyak atsiri jahe merah dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji pada nilai MIC 2.65-3.97 mg/mL dan nilai MBC 3.10-5.29 mg/mL, sedangkan minyak atsiri lengkuas merah dapat menghambat bakteri uji dengan nilai MIC 1.79-4.03 mg/mL dan nilai MBC 1.79- 4.92 mg/mL. Berdasarkan nilai MIC dan MBC, sensitivitas bakteri uji terhadap minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah menurun berturut-turut dari B. cereus > E. coli > S. Typhimurium > P. aeruginosa. Sensitivitas bakteri Gram positif dan Gram negatif terhadap kedua minyak atsiri ini menunjukkan potensi minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah untuk digunakan sebagai pengawet alami di industri pangan.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Aplikasi Minyak Jahe (Zingiber Officinale) Pada Pembuatan Hand and Body Cream

Aplikasi Minyak Jahe (Zingiber Officinale) Pada Pembuatan Hand and Body Cream

Tingkat keasaman suatu produk dapat diketahui dari nilai pH produk tersebut. Kadar keasaman untuk produk kosmetik atau produk yang digunakan untuk pemakaian luar yang berhubungan langsung dengan kulit haruslah sesuai dengan pH penerimaan kulit. Hal ini dikarenakan jika produk kosmetika tersebut memiliki nilai pH yang sangat tinggi atau sangat rendah akan menyebabkan kulit teriritasi. Menurut Warta Konsumen (1987), pH normal kulit adalah 5 – 6.5. Wasitaatmadja (1997) menjelaskan bahwa produk kosmetika sebaiknya memiliki pH sekitar 5.5, sedangkan menurut SNI Nomor 16 – 4399 – 1996 pH produk cream yang disarankan berkisar antara 4.5 – 8.0. Hasil analisa pH produk hand and body cream dengan perlakuan penambahan minyak atsiri jahe serta produk cream pembanding yang disajikan pada Lampiran 3a, menunjukkan bahwa rata – rata pH produk cream jahe yang dihasilkan berkisar antara 5.67 – 5.86. Nilai ini sesuai dengan pH penerimaan kulit dan SNI produk cream, sehingga produk tersebut dapat digunakan untuk kulit, sedangkan cream produk pembanding memiliki pH senilai 7.03, nilai ini sangat sesuai dan aman bagi kulit karena produk tersebut memiliki tingkat keasaman yang netral sehingga tidak akan menimbulkan iritasi pada kulit. Perbandingan nilai pH dari masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 16.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS KANDUNGAN DAN UJI ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI RIMPANG JAHE (Zingiber officinale) DAN KUNYIT (Curcuma domestica) YANG DIEKSTRAKSI DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DAN DISTILASI UAP

ANALISIS KANDUNGAN DAN UJI ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI RIMPANG JAHE (Zingiber officinale) DAN KUNYIT (Curcuma domestica) YANG DIEKSTRAKSI DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT DAN DISTILASI UAP

Masyarakat Indonesia sudah mengenal dan memakai tumbuhan berkhasiat obat untuk penanggulangan masalah kesehatan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern menyentuh masyarakat. Jahe dan kunyit merupakan tanaman obat yang banyak digunakan untuk menanggulangi tujuan tersebut. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa minyak atsiri jahe dan kunyit berpotensi besar sebagai agen antimikroba (Ponglux et al.,1987).

17 Baca lebih lajut

PENGARUH TEBAL IRISAN DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMAN DAN KUALITAS MINYAK ATSIRIJAHE VARIETAS GAJAH (Zingiber officinale Rosc varr.)

PENGARUH TEBAL IRISAN DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP RENDEMAN DAN KUALITAS MINYAK ATSIRIJAHE VARIETAS GAJAH (Zingiber officinale Rosc varr.)

Minyak atsiri jahe merupakan salah satu komoditi ekspor, karena minyak atsiri banyak sekali digunakan dalam industri yaitu sebagai bahan campuran kosmetika, pengobatan, makanan dan minuman. Selama ini Indonesia cukup dikenal dalam perdagangan minyak atsiri dunia karena banyaknya jenis komoditi minyak atsiri yang dihasilkan salah satuya adalah minyak atsiri jahe. Untuk mendapatkan minyak atsiri diperlukan proses penyulingan terlebih dahulu. Dalam proses penyulingan yang dilakukan oleh masyarakat bahan yang disuling tidak melalui proses
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Identifikasi Komponen Kimia Minyak                            Atsiri Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officunale Rosc.) Dan Uji Aktivitas Antibakteri

Identifikasi Komponen Kimia Minyak Atsiri Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officunale Rosc.) Dan Uji Aktivitas Antibakteri

Penelitian mengenai komponen minyak rimpang jahe sudah pernah dilakukan oleh Setyawan dengan membandingkan kadar minyak atsiri pada tiga jenis jahe (Zingiber officinale Rosc.) yakni jahe gajah, jahe emprit dan jahe merah. Metode yang digunakan adalah destilasi air (Hidrodestilasi) untuk mendapatkan minyak atsiri dari rimpang jahe emprit dan untuk mengetahui kandungan minyak atsiri jahe emprit dilakukan uji secara GC-MS untuk menentukan identitas setiap senyawa yang dihasilkan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kadar minyak atsiri jahe gajah, merah dan emprit secara berturut-turut adalah 2%, 2,5% dan 2,5%. Jumlah senyawa minyak atsiri ketiga secara berturut-turut adalah 18,18 dan 14 senyawa antara lain α -pinen, kamfen, eukaliptol, borneol, sitral, benzene, 2,6-oktadiena, karyofilen dan farnesen.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Komponen   Minyak Atsiri Bahan Segar Dan   Ekstrak Etanol Dari Ampas Rimpang   Jahe Gajah Serta Aplikasi Terhadap   Daging Ikan Nila

Aktivitas Antioksidan Komponen Minyak Atsiri Bahan Segar Dan Ekstrak Etanol Dari Ampas Rimpang Jahe Gajah Serta Aplikasi Terhadap Daging Ikan Nila

Jahe secara botani dikenal sebagai Zingiber Officinale Roscoe, dengan subkingdom Tracheobionta, subdivisi Spermatophyta, klas Monocotyledons, subklas Zingiberidae, ordo Zingiberales, sub-ordo Scimitae, family Zingiberaceae, genus Zingiber, spesies Officinale (Butt, 2011 ; Ravindran, 2005 ; Zachariah, 2008). Jahe juga merupakan tanaman khas yang memiliki gabungan dari banyak sifat dan ciri, dimana mengandung minyak volatil, minyak non-volatil, senyawa pedas, resin, pati, protein dan mineral. Komponen tertentu dari kelimpahan relatif dapat sangat bervariasi antara sampel jahe dalam kondisi segar maupun kering.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) 2.1.5 Klasifikasi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) - UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale Roxb.) TERHADAP PERTUMBUHAN Aeromonas hydrophila GPl-04 SECARA IN-VITR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) 2.1.5 Klasifikasi Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roxb.) - UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale Roxb.) TERHADAP PERTUMBUHAN Aeromonas hydrophila GPl-04 SECARA IN-VITR

lebih dari 8 unit isopren. Secara kimia, senyawa terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat di dalam sitoplasma sel tumbuhan. Kadang-kadang minyak atsiri berada di dalam sel kelenjar khusus yakni pada permukaan daun, sedangkan karetonoid terutama berhubungan dengan kloroplast di dalam daun dan kromoplast di dalam daun bunga. Terpenoid biasanya diekstraksi dari jaringan suatu tumbuhan dengan memakai pelarut seperti eter minyak bumi, eter atau kloroform dan dapat dipisahkan dengan kromatografi pada silika gel memakai pelarut tersebut. Minyak atsiri merupakan bagian utama terpenoid dan biasanya minyak atsiri menyebabkan wangi, harum, atau bau yang khas pada banyak tumbuhan (Harborne, 1987).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale var rubrum) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans.

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale var rubrum) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans.

Bahan-bahan alam banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan, termasuk dalam upaya mendukung program pelayanan kesehatan gigi. Back to nature atau kembali ke bahan alam disebabkan karena ketersediaan bahan alam yang banyak dan relatif memiliki efek samping yang lebih sedikit bila dibandingkan obat yang berasal dari bahan sintetis (Sabir, 2005). Di Indonesia, salah satu bahan alam yang banyak dihasilkan adalah jahe (Zingiber officinale) yang merupakan tanaman rempah dan obat yang sudah lama dikenal oleh masyarakat (Paimin dan Murhanoto, 2008). Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2011, produktivitas jahe secara nasional pada tahun 2011 yaitu 1,62 kg/m 2 . Di Sumatera Barat, dari 636.805 m 2 luas panen menghasilkan 2.171.861 kg jahe sehingga produktivitasnya pada tahun 2011 adalah 3,31 kg/m 2 dan merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung dan Paru-paru Tikus Putih ( R(/ I Ius non-cgicus) Pasca Pem berian Aromaterapi Min yak A tsiri Jahe (Zingihcr o!Jicinole)

Gambaran Histopatologi Sinus Hidung dan Paru-paru Tikus Putih ( R(/ I Ius non-cgicus) Pasca Pem berian Aromaterapi Min yak A tsiri Jahe (Zingihcr o!Jicinole)

Jahe (Zingiber officinale) sudah dikenal sejak lama di Indonesia dan sejauh ini penggunaannya lebih banyak sebagai bahan baku obat herbal. Tanaman jahe memiliki rimpang (umbi) yang mengandung komponen bioaktif meliputi minyak atsiri, oleoresin, dan gingerol. Oleoresin jahe memberikan rasa hangat, sedangkan minyak atsirinya (volatile oil) memberikan rasa hangat dan aromaterapi yang menyegarkan. Gingerol jahe merupakan senyawa aktif yang dapat menurunkan kolesterol (Witantri et al. 2013). Secara tradisional, jahe memiliki kegunaan menyembuhkan beberapa penyakit seperti rematik, sakit gigi, malaria, flu, batuk, penyakit yang disebabkan infeksi, dan lain-lain. Minyak jahe bersifat analgesik, antioksidan, antiseptik, stimulan, dan anti bakteri, serta banyak dipakai dalam aromaterapi (Ma’mun dan Suhirman 2009).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Edible Film Galaktomanan Yang Diinkorporasi Dengan Ekstrak Rimpang Jahe Pada Daging Ikan Nila

Aktivitas Antioksidan Edible Film Galaktomanan Yang Diinkorporasi Dengan Ekstrak Rimpang Jahe Pada Daging Ikan Nila

Komponen dibentuk pada tahap awal autoksidasi adalah hidroperoksida, dan ini juga produk dibentuk pada oksidasi katalisis lipoksigenase. Meskipun hidroperoksida adalah tidak mudah menguap dan tidak berbau, namun senyawa tersebut relatif tidak stabil dan secara spontan dapat mendekomposisi atau dalam reaksi katalis membentuk senyawa aroma yang mudah menguap, yang aromanya tak sedap. Sifat aroma tak sedap terdeteksi terutama tergantung pada komposisi asam lemak dari substrat dan tingkat oksidasi, meskipun kondisi oksidasi juga dapat mempengaruhi senyawa mudah menguap yang dihasilkan dan sifat sensorik dari minyak teroksidasi. Contoh dari oksidatif aroma tak sedap adalah rasa kacang yang tidak enak pada minyak kedelai. Aroma amis yang berkembang di minyak ikan, dan aroma logam yang terdapat pada lemak susu. Aldehida umumnya berkontribusi untuk aroma tak sedap yang berkembang selama oksidasi lipida. Selain pengembangan rasa tengik, kerusakan oksidatif lipida dapat menyebabkan pemutihan disebut radikal bebas, yang dibentuk selama oksidasi lipida. Radikal bebas juga dapat menyebabkan pengurangan kualitas gizi melalui reaksi dengan vitamin, khususnya vitamin E, yang hilang dari makanan selama aksinya sebagai antioksidan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Edible Film Galaktomanan Yang Diinkorporasi Dengan Ekstrak Rimpang Jahe Pada Daging Ikan Nila

Aktivitas Antioksidan Edible Film Galaktomanan Yang Diinkorporasi Dengan Ekstrak Rimpang Jahe Pada Daging Ikan Nila

Telah dilakukan isolasi minyak atsiri rimpang jahe segar dengan metode hidrodestilasi dan komponen kimianya dianalisis dengan GC-MS. Komponen kimia minyak atsiri utama (>3%) yang diperoleh adalah geranial (20,27%), 1,8-sineol (14,87%), neral (14,23%), kamfen (12,32%), beta-ocimene (4,26%), beta-myrcene (3,21%), zingiberen (3,0%). Selanjutnya ampas jahe kering diekstraksi dengan etanol 96% menggunakan alat soklet. Ekstrak rimpang jahe (minyak atsiri (ekstrak 1)) dan (ekstrak etanol (ekstrak 2)) ditentukan aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH radikal bebas. Nilai IC 50 diperoleh berturut-turut
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN POTENSI KOMBINASI MINYAK ATSIRI CENGKIH (Syzigium aromaticum) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale Roscoe) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA DAGING AYAM SEGAR - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN POTENSI KOMBINASI MINYAK ATSIRI CENGKIH (Syzigium aromaticum) DAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale Roscoe) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA DAGING AYAM SEGAR - repository perpustakaan

Minyak atsiri merupakan minyak volatil hasil metabolisme sekunder tumbuhan yang diperoleh dari bagian tumbuhan seperti bunga, daun, biji, kulit kayu, buah-buahan dan akar atau rimpang. Minyak atsiri mengandung campuran berbagai senyawa yaitu terpen, alkohol, aseton, fenol, asam, aldehid dan ester, yang umumnya digunakan sebagai pemberi esens (aroma) pada produk kosmetika, pemberi citarasa pada pangan, atau sebagai komponen fungsional pada produk farmasi (Rialita, 2014).

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...