penjepitan tali pusat

Top PDF penjepitan tali pusat:

PENGARUH WAKTU PENJEPITAN TALI PUSAT BAYI CUKUP BULAN TERHADAP KADAR HEMAGLOBIN DAN HEMATOKRIT BAYI PADA PERSALINAN NORMAL Study di Wilayah Puskesmas Kendal 1

PENGARUH WAKTU PENJEPITAN TALI PUSAT BAYI CUKUP BULAN TERHADAP KADAR HEMAGLOBIN DAN HEMATOKRIT BAYI PADA PERSALINAN NORMAL Study di Wilayah Puskesmas Kendal 1

ABSTRAK: Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh waktu penjepitan tali pusat bayi cukup bulan terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit bayi pada persalinan normal. Jenis penelitian eksperimen dengan rancangan randomized controlled trial design. Populasi penelitian adalah semua bayi dari ibu yang melahirkan dengan umur kehamilan 37 - 40 minggu pada persalinan spontan tanpa komplikasi di wilayah Puskesmas Kendal I Kecamatan Kota Kendal. dengan teknik pengambilan sampel random dengan 31 sampel pada masing- masing kelompok perlakuan dan kontrol. Analisis data menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian adanya pengaruh waktu penjepitan tali pusat terhadap kadar hemoglobin bayi didapatkan RR 4,40 (95% CI : 1,91 – 10,12) dan kadar hematokrit bayi baru lahir didapatkan RR 1,84 (95% CI: 1,17-2,91). Waktu penjepitan tali pusatnya 2 menit berpeluang 4,40 kali mempunyai kadar Hb ≥ 14 gr% dan waktu penjepitan tali pusatnya 2 menit berpeluang 1,84 kali mempunyai kadar Hc t ≥ 43. Kadar Hemoglobin dan Hematokrit lebih tinggi pada bayi baru lahir yang dilakukan penjepitan tali pusat ditunda 2 menit dibandingkan
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENJEPITAN TALI PUSAT DINI DAN LAMBAT DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA BAYI BARU LAHIR DI RSKIA SADEWA YOGYAKARTA TAHUN 2013 NASKAH PUBLIKASI - Perbedaan Penjepitan Tali Pusat Dini dan Lambat dengan Kadar Hemoglobin pada Bayi Baru Lahir di RSKIA Sad

PERBEDAAN PENJEPITAN TALI PUSAT DINI DAN LAMBAT DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA BAYI BARU LAHIR DI RSKIA SADEWA YOGYAKARTA TAHUN 2013 NASKAH PUBLIKASI - Perbedaan Penjepitan Tali Pusat Dini dan Lambat dengan Kadar Hemoglobin pada Bayi Baru Lahir di RSKIA Sad

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar mengetahui manfaat penundaan penjepitan tali pusat, sehingga dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada bayi baru lahir. Hal ini dapat dilakukan oleh dokter atau bidan RSKIA pada saat ibu hamil melakukan periksa dan konsultasi kehamilan. Bagi Tenaga Kesehatan menjadikan tindakan penundaan penjepitan tali pusat sebagai tindakan rutin, karena telah terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada bayi baru lahir. Bagi RSKIA Sadewa menjadikan tindakan penundaan penjepitan tali pusat sebagai Standart Operasional Prosedur. Bagi Peneliti Selanjutnya dimungkinkan untuk meneliti perbedaan antara kadar hemoglobin pada bayi baru lahir dengan penjepitan tali pusat dini dan lambat di daerah yang endemik malaria dan menambah jumlah sampel penelitian.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

pengaruh penjepitan tali pusat (Delayed Cord Clamping) terhadap hematologi bayi baru lahir

pengaruh penjepitan tali pusat (Delayed Cord Clamping) terhadap hematologi bayi baru lahir

Respirasi memegang peranan penting dalam transfer darah dari plasenta ke bayi.Penelitian menggunakan binatang, mencatat bahwa bayi domba baru lahir, kandungan darah dalam paru mengalami peningkatan dua kali lipat setelah onset respirasi. Aliran masuk/ inflow darah ke dalam pembuluh darah paru (pembentukan kapiler) menghasilkan terjadinya pengembangan paru. Paru yang mengembang menghasilkan vascular bed yang besar sehingga darah dapat mengalir secara fisiologis. Penelitian hubungan antara RPBV dan durasi respirasi sebelum dilakukan penjepitan tali pusat, menyimpulkan bahwa transfusi plasental adalah sebuah konsekuensi yang tidak dapat dielakkan dari permulaan proses pengembangan paru, namun ahli obstetri dan ahli anak, hanya memiliki sedikit perhatian terhadapnya(Phillip, 2004)
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU PENJEPITAN TALI PUSAT TER (1)

PENGARUH WAKTU PENJEPITAN TALI PUSAT TER (1)

diselimuti kain kering dan hangat untuk mencegah kehilangan panas. Dalam 1 menit pertama talipusat dijepit dan dipotong. Bayi diletakkan dalam posisi prone di dada ibu untuk inisiasi menyusu dini dan skin to skin contact, sementara ibu ikut membantu menjaga kehangatan bayi, lindungi ibu dan bayi dengan kain atau handuk kering dan hangat untuk mencegah kehilangan panas. Proses Inisiasi menyusu dini dilakukan agar kebersamaa ibu dan bayinya skin to skin contact tidak terputus dan dapat memulai menyusui bayinya. Dengan melihat kenyataan yang ada, maka praktik penjepitan tali pusat dini khususnya pada persalinan normal perlu ditinjau ulang.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Perawatan Tali Pusat Dengan Memakai Kasa Alkohol 70% Dan Kasa Kering Terhadap Waktu Putusnya Tali Pusat

Pengaruh Perawatan Tali Pusat Dengan Memakai Kasa Alkohol 70% Dan Kasa Kering Terhadap Waktu Putusnya Tali Pusat

Tali pusat di potong segera setelah dilahirkan. Tali pusat mula- mula dijepit pada dua tempat dan kemudian dipotong dengan gunting di antara dua tempat penjepitan tersebut. Beberapa orang beranggapan bahwa menunda penjepitan tali pusat akan membuat bayi memperoleh banyak oksigen. Ini tidak benar, karena meskipun darah terus mengalir ke dalam ataupun keluar antara plasenta dan bayi, darah tidak mengandung oksigen. Jumlah darah yang dialirkan ke bayi dipengaruhi oleh waktu penjepitan tali pusat dan posisi bayi dalam hubungannya dengan plasenta. Saat rahim berkontraksi, rahim memeras darah keluar dari plasenta melalui tali pusat ke dalam tubuh bayi. Bila tali pusat dijepit pada saat ini, bayi akan mempunyai volume darah yang lebih tinggi. Diantara kontraksi, jantung bayi memompa darah kembali ke plasenta (denyut jantung bayilah yang menyebabkan tali pusat berdenyut). Jika tali pusat dijepit diantara waktu kontraksi volume darah bayi akan lebih rendah. Jadi waktu penjepitan dan pemotongan tali pusat tidak banyak mempengaruhi tingkat oksigen bayi tetapi mempengaruhi volume darah (Simkin, Whalley & Keppler. 2001, hal. 88).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Evidence base case report Delayed Clamping of Umbilical Cord in Term Baby

Evidence base case report Delayed Clamping of Umbilical Cord in Term Baby

terdapat peningkatan drastis sirkulasi pulmonal yang membutuhkan 40%-55% dari curah jantung. Oleh karena itu diperlukan volume darah yang cukup agar perfusi organ vital lainnya tetap adekuat. Kontraksi uterus selama persalinan menyebabkan kompresi plasenta dan terjadi transfer darah dari plasenta menuju janin yang dapat meningkatkan tekanan dan volume darah sehingga meningkatkan perfusi seluruh tubuh termasuk paru. Peningkatan perfusi paru menyebabkan capillary erection pada kapiler dan menarik cairan dari alveolus melalui membran kapiler sehingga udara dapat masuk dengan mudah. Jika volume darah yang dialirkan dari plasenta tidak adekuat (seperti pada penjepitan tali pusat dini), maka bayi akan mengambil darah dari organ lain sehingga dapat mengakibatkan hipoperfusi organ tersebut. Sebaliknya, pada penjepitan tali pusat tunda, tali pusat yang tidak dijepit memungkinkan peningkatan volume darah, kadar oksigen dan keseimbangan pH. Peningkatan sel darah merah dan peningkatan kadar oksigen darah dapat menstimulasi pusat respirasi untuk memulai bernapas. 23
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERAWATAN TALI PUSAT DENGAN LAMA LEPAS TALI PUSAT PADA BAYI BARU LAHIR DI BPM MUJIASIH PANDAK BANTUL YOGYAKARTA TAHUN 2014 NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Perawatan Tali Pusat dengan Lama Lepas Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir di BPM Mujiasih Pandak B

HUBUNGAN PERAWATAN TALI PUSAT DENGAN LAMA LEPAS TALI PUSAT PADA BAYI BARU LAHIR DI BPM MUJIASIH PANDAK BANTUL YOGYAKARTA TAHUN 2014 NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Perawatan Tali Pusat dengan Lama Lepas Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir di BPM Mujiasih Pandak B

Dari hasil penelitian pada tabel 7 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mengalami lama lepas tali pusat dalam waktu normal dengan prosentase 70% (21 responden), lima responden (16,67%) mengalami cepat lepas dan 4 responden (13,3%) mengalami lama lepas dengan waktu lebih dari 7 hari, luka yang kering akan lebih cepat sembuh dari pada basah, ada beberapa faktor yang mempengaruhi lama lepas tali pusat yaitu timbulnya infeksi pada tali pusat, cara perawatan tali pusat, kelembapan tali pusat dan kondisi sanitasi lingkungan dan ada beberapa faktor pendukung pengeringan dan pelepasan tali pusat bayi yaitu kebersihan daerah tali pusat, nutrisi ASI, kepatuhan ibu dalam merawat tali pusat. Dan dampak pada psikologis ibu, membuat ibu menjadi cemas, khawatir dan takut dengan kesehatan bayinya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

GAMBARAN CARA PERAWATAN TALI PUSAT DAN LAMA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BAKI SUKOHARJO.

GAMBARAN CARA PERAWATAN TALI PUSAT DAN LAMA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BAKI SUKOHARJO.

perawatan tali pusat yang higienis (Depkes RI, 2003). Baik tidaknya pengetahuan tentang kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: umur, pendidikan, paritas karena semakin bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir maka akan makin tinggi keinginannya untuk mengetahui kesehatan dalam dirinya dan juga akan menambah suatu tingkah laku atau kebiasaan yang sehat dalam diri masyarakat (Notoatmodjo, 2002).

9 Baca lebih lajut

Prika Maulina Agaristi 22010112130211 Lap.KTI Bab2

Prika Maulina Agaristi 22010112130211 Lap.KTI Bab2

Indeks koil tali pusat yang abnormal meliputi hipokoil (tali pusat dengan indeks koil tali pusat < 10 th persentil dari rata-rata indeks koil tali pusat) dan hiperkoil (tali pusat dengan indeks koil tali pusat > 90 th persentil dari rata-rata indeks koil tali pusat). Indeks koil tali pusat abnormal telah dilaporkan memiliki hubungan dengan luaran yang buruk, seperti IUGR, indeks ponnderal rendah, meconeum stained liquor , skor Apgar rendah pada menit pertama dan menit kelima, ketuban pecah dini, perdarahan post partum, korioamnionitis, kelainan hipertensif, abnormalitas kromosom, dan lain-lain. 9,16,17 Selain itu terdapat faktor risiko maternal pada koil pembuluh darah abnormal, seperti umur ekstrim, obesitas, diabetes melitus gestasional, dan preeklampsia. 11
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Edo Sun de Putra 22010112130065 Lap.KTI Bab6

Edo Sun de Putra 22010112130065 Lap.KTI Bab6

Sedangkan Indeks Koil Tali Pusat dengan hypocoiling berpengaruh terhadap nilai indeks ponderal yang tinggi 6.2 Saran Indeks koil tali pusat dapat dijadikan sebagai salah satu faktor [r]

1 Baca lebih lajut

STUDI LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI ANTARA UMBILICAL CORD CLAMP DAN BENANG KATUN STERIL (Di PMB Restu Ibu Dan Polindes Barokah Jatirogo Kabupaten Tuban)

STUDI LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI ANTARA UMBILICAL CORD CLAMP DAN BENANG KATUN STERIL (Di PMB Restu Ibu Dan Polindes Barokah Jatirogo Kabupaten Tuban)

Pendahuluan Salah satu indikator penyebab Kematian bayi adalah infeksi neonatal. Infeksi neonatal mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman. Terkait pada tali pusat yang bisa menjadi jalan masuk untuk terjadinya suatu keadaan proses infeksi, penggunaan alat pengikat tali pusat ini juga dapat mempengaruhi lepasnya tali pusat. Bidan PMB (Praktik Mandiri Bidan) Restu Ibu merupakan salah satu bidan yang menggunakan Umbilical Cord Clamp sebagai alat pengikat tali pusat sedangkan Bidan di Polindes Barokah menggunakan benang katun steril sebagai alat pengikat tali pusat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Perbedaan pengikatan tali pusat antara Umbilical Cord Clamp dan benang katun steril terhadap lama pelepasan tali pusat pada bayi di PMB Restu Ibu dan Polindes Barokah Jatirogo Kabupaten Tuban. Metode Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan penggunakan pendekatan Retrospektif. Populasi penelitian seluruh bayi usia 1-12 bulan di PMB Restu Ibu dan Polindes Barokah Kabupaten Tuban bulan Juli-Agustus sebanyak 72 bayi. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel 60 neonatus. Cara pengumpulan data menggunakan wawancara kemudian data diolah dengan menggunakan Uji Spearman, variabel dalam penelitian ini adalah alat pengikat tali pusat dan lama pelepasan tali pusat. Hasil Penelitian didapatkan bahwa sebagian besar lama pelepasan tali pusat yang diikat dengan Umbilical Cord Clamp dalam kategori normal sebanyak 21 neonatus (70%). Sebagian besar lama pelepasan tali pusat yang diikat dengan benang katun steril dalam kategori normal sebanyak 16 neonatus (53,3%). Walaupun sama dalam kategori normal namun terdapat perbedaan dalam rata-rata didapatkan rata-rata pada neonatus yang menggunakan benang katun steril lama lepasnya tali pusat 5,3 hari sedangkan neonatus yang menggunakan Umbilical Cord Clamp rata-rata lama pelepasan tali pusat 6,9 hari. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa neonatus yang menggunakan benang katun steril lebih cepat mengalami pelepasan tali pusat dari pada yang menggunakan Umbilical Cord Clamp. maka disarankan untuk para petugas kesehatan diharapkan menggunakan benang katun steril sebagai alat pengikat tali pusat.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERBEDAAN LAMA LEPAS TALI PUSAT PERAWATAN DENGAN MENGGUNAKAN KASA STERIL DIBANDINGKAN KASA ALKOHOL  PERBEDAAN LAMA LEPAS TALI PUSAT PERAWATAN DENGAN MENGGUNAKAN KASA STERIL DIBANDINGKAN KASA ALKOHOL DI DESA BOWAN KECAMATAN DELANGGU.

PERBEDAAN LAMA LEPAS TALI PUSAT PERAWATAN DENGAN MENGGUNAKAN KASA STERIL DIBANDINGKAN KASA ALKOHOL PERBEDAAN LAMA LEPAS TALI PUSAT PERAWATAN DENGAN MENGGUNAKAN KASA STERIL DIBANDINGKAN KASA ALKOHOL DI DESA BOWAN KECAMATAN DELANGGU.

Infeksi masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada periode neonatus. Di Negara berkembang hampir sebagian besar neonatus yang di rawat mempunyai kaitan dengan masalah infeksi (Aminullah, 2006). Periode neonatus mengandung resiko yaitu terjadinya infeksi terutama pada tali pusat yang merupakan luka basah dan dapat menjadi pintu masuknya kuman tetanus yang sangat sering terjadi menjadi penyebab kematian bayi baru lahir. Tali pusat merupakan jalan masuk infeksi, yang dapat dengan cepat menyebabkan sepsis. Teknik perawatan yang bersih pada saat mengklem, memotong dan mengikat tali pusat selanjutnya merupakan prinsip utama yang sangat penting untuk mencegah terjadinya sepsis karena infeksi tali pusat (Widowati, 2003).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perbedaan Lama Lepas Tali Pusat Perawatan dengan Menggunakan Kasa Steril dibandingkan Kasa Alkohol di Desa Bowan Kecamatan Delanggu

Perbedaan Lama Lepas Tali Pusat Perawatan dengan Menggunakan Kasa Steril dibandingkan Kasa Alkohol di Desa Bowan Kecamatan Delanggu

Infeksi masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada periode neonatus. Di Negara berkembang hampir sebagian besar neonatus yang di rawat mempunyai kaitan dengan masalah infeksi (Aminullah, 2006). Periode neonatus mengandung resiko yaitu terjadinya infeksi terutama pada tali pusat yang merupakan luka basah dan dapat menjadi pintu masuknya kuman tetanus yang sangat sering terjadi menjadi penyebab kematian bayi baru lahir. Tali pusat merupakan jalan masuk infeksi, yang dapat dengan cepat menyebabkan sepsis. Teknik perawatan yang bersih pada saat mengklem, memotong dan mengikat tali pusat selanjutnya merupakan prinsip utama yang sangat penting untuk mencegah terjadinya sepsis karena infeksi tali pusat (Widowati, 2003).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

1 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DENGAN LAMA PELEPASAN TALI PUSAT PADA BAYI DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA TAHUN 2009 Erlin Juliandini

1 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DENGAN LAMA PELEPASAN TALI PUSAT PADA BAYI DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA TAHUN 2009 Erlin Juliandini

Tali pusat akan terlepas selambat-lambatnya dalam waktu 14 hari atau rata-rata 5-7 hari setelah bayi lahir (Suryani dan Retno, 2002). Meskipun ada pula bayi yang membutuhkan waktu hanya 3 hari untuk proses pelepasan tali pusat (Kadrik N, 2004). Proses penyembuhan luka terjadi melalui hemostasis pada 4 jam pertama, inflamasi pada 24 sampai dengan 48 jam pertama, pembentukan jaringan granulasi pada 46 jam hingga 5 hari, lalu kemudian maturasi pada hari ke 5 hingga terlepas lalu dengan waktu yang berbulan-bulan terbentuk jaringan baru (Stabistone, 2006). Berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil wawancara pada ibu nifas ternyata bayi yang tali pusatnya lepas dalam keadaan kering sejumlah 34 bayi (85%) dan sisanya 6 bayi (15%) lepas dalam keadaan basah dan mengeluarkan cairan. selain itu, tidak ada bayi yang mengalami kejadian infeksi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA BA

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA BA

Reflks grasping : positif 12.Sistem saraf Refleks moro : positif 13.Abdomen Bentuk : simetris Penonjolan pada tali pusat pada saat menangis : tidak ada penonjolan sekitar tali pusat p[r]

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERSEPSI IBU TENTANG INFEKSI TALI PUSAT DENGAN PERILAKU PERAWATAN TALI PUSAT DI BPS ISTRI YULIANI GENTAN SLEMAN TAHUN 2009

HUBUNGAN PERSEPSI IBU TENTANG INFEKSI TALI PUSAT DENGAN PERILAKU PERAWATAN TALI PUSAT DI BPS ISTRI YULIANI GENTAN SLEMAN TAHUN 2009

perawatannya, sehingga jika seorang ibu memiliki persepsi yang baik, maka akan melakukan perawatan yang benar pula dalam perawatan tali pusat. Adanya motivasi demi kesehatan bayinya akan berpengaruh terhadap perilaku yang semakin baik dalam melakukan perawatan tali pusat. Teori Soekanto (2001) menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang akan meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat responden yang paling sedikit memiliki perilaku yang baik dalam perawatan tali pusat tetapi memiliki persepsi yang kurang baik yaitu sebanyak 2 responden atau 4,55% dari jumlah responden. Hal ini menujukkkan bahwa perilaku perawatan tali pusat tidak hanya dipengaruhi oleh persepsi yang dimiliki. Masih banyak variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap perawatan tali pusat, diantaranya adalah motivasi responden, sikap dan lainnya. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan antara persepsi ibu tentang infeksi tali pusat dengan perilaku perawatan tali pusat di BPS Istri Yuliani Gentan Sleman Tahun 2009.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PENGGUNAAN TOPIKAL ASI DENGAN PERAWATAN KERING TERHADAP LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI

PERBANDINGAN PENGGUNAAN TOPIKAL ASI DENGAN PERAWATAN KERING TERHADAP LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI

Kulit bayi memliliki pH 6,34 pada saat lahir dan berubah menjadi 4,95 dalam waktu 4 hari karena adanya kolonisasi flora normal. Cara perawatan tali pusat yang tidak higie- nis, memudahkan masuknya bakteri patogen yang dapat mengganggu kerja dari flora normal dan perubahan pH kulit di sekitar puntung tali pusat sehingga terjadi infeksi. Terjadinya infeksi menghambat proses pe- ngeringan dan pelepasan tali pusat. Pembe- rian ASI yang dini dan sering akan membe- rikan antibodi kepada bayi untuk melawan infeksi (Lumsden H., 2012).

5 Baca lebih lajut

Kultura Juni 2016.compressed

Kultura Juni 2016.compressed

Derajat kesehatan dunia menurut WHO (World Health Organization)menyatakan bahwa tetanus dan penyakit infeksi merupakan penyebab utama kematian bayi. Tetanus neonatorum dan infeksi tali pusat menjadi penyebab kesakitan dan kematian secara terus menerus diberbagai Negara. Infeksi pada tali pusat pada tahun 2008 berjumlah 65% kemudian meningkat menjadi 80% pada tahun 2009 di Kota Datar Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, kondisi ini menumjukkan bahwa infeksi tali pusat di kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang dapat diprediksi angka infeksi tali pusat semakin meningkat. Rendahnya pengetahuan tentang perawatan tali pusat diduga turut menjadi faktor penyebab tingginya angka kematian akibat infeksi tali pusat. Dari hasil survey pendahuluan data rekapitulasi mulai bulan Januari sampai dengan Desember 2014 di Klinik Sutrianingsih Tanjung Morawa Kab. Deli Serdang Tahun 2015 berjumlah 35 orang ibu post partum, peneliti melakukan wawancara kepada 5 ibu post partum, hasil wawancara ibu post partum tidak mengetahui tentang perawatan tali pusat dan peneliti juga menemukan sebanyak 2 bayi baru lahir mengalami masalah pada tali pusat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan tali pusat berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, paritas dan sumber informasi. Penelitian ini bersifat deskriftif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner yang diberikan langsung kepada responden dengan jumlah sampel 35 responden yang diambil dengan tehnik total sampling. Hasil penelitian ditemukan mayoritas pengetahuan cuku sebanyak 17 responden (48,57%), mayoritas responden berdasarkan umur dengan pengetahuan cukup yaitu umur >36 tahun sebanyak 6 responden (17,14%), mayoritas responden berdasarkan pendidikan berpengetahuan cukup yaitu pendidikan SMA sebanyak 6 responden (17,14%), mayoritas responden berdasarkan pekerjaan berpengetahuan cukup dengan pekerjaan IRT sebanyak 11 responden (31,43%), mayoritas responden berdasrkan paritas berpengetahuan cukup dengan paritas multipara sebanyak 11 responden (31,43%), mayoritas responden berdasarkan sumber infomasi berpengetahuan cukup dengan sumber informasi secara langsung sebanyak 12 responden (34,28%).Saran kepada Klinik Sutrianingsih agar lebih meningkatkan penyuluhan kepada ibu post partum tentang perawatan tali pusat sesuai standart operasional prosedur sehingga pada saat kembali kerumah ibu dapat merawat tali pusat bayi.
Baca lebih lanjut

186 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN PUSTAKA LOTUS BIRTH - Lotus Birth

BAB II KAJIAN PUSTAKA LOTUS BIRTH - Lotus Birth

Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah praktek meninggalkan tali pusat yang tidak diklem dan lahir secara utuh, yang menghasilkan pengkleman internal alami dalam 10-20 menit pasca persalinan. Tali pusat kemudian kering dan akhirnya lepas dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah lahir.

8 Baca lebih lajut

Hubungan antara Umbilical Coiling Index dengan Skor Makros- kopis dan Mikroskopik Maturitas Vili pada Kehamilan Normal

Hubungan antara Umbilical Coiling Index dengan Skor Makros- kopis dan Mikroskopik Maturitas Vili pada Kehamilan Normal

Pemeriksaan tali pusat dan plasenta melalui penilaian indeks tali pusat adalah hal yang mudah dan murah untuk dilakukan; serta dapat digunakan untuk memperkirakan masa depan dan kelainan yang mungkin terjadi pada bayi dan ibu. Pemeriksaan secara makroskopis dimulai di ruang persalinan, diikuti dengan peng- ambilan spesimen untuk diperiksa secara mi- kroskopik; dengan menggunakan kriteria Scott & Jordan. 11

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...