Penyakit Kardiovaskuler Pada Lansia

Top PDF Penyakit Kardiovaskuler Pada Lansia:

HUBUNGAN ANTARA KRONOTIPE DENGAN RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULER PADA PESERTA POSYANDU LANSIA DI  Hubungan Antara Kronotipe Dengan Risiko Penyakit Kardiovaskuler Pada Peserta Posyandu Lansia Di Kecamatan Kartasura.

HUBUNGAN ANTARA KRONOTIPE DENGAN RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULER PADA PESERTA POSYANDU LANSIA DI Hubungan Antara Kronotipe Dengan Risiko Penyakit Kardiovaskuler Pada Peserta Posyandu Lansia Di Kecamatan Kartasura.

Kronotipe merupakan pilihan atau preferensi setiap individu dalam fase bangun dan tidur nya yang akan mencerminkan pada variasi ritme sirkardian dalam tubuh. Misalignment ritme sirkardian yang terjadi akibat dari kualitas tidur yang tidak baik, sehingga mempunyai dampak bagi kesehatan tubuh yang mempengaruhi terjadinya risiko penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kronotipe dengan risiko penyakit kardiovaskuler pada peserta posyandu lansia di Kecamatan Kartasura. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah responden penelitian ini sebanyak 70 sampel peserta posyandu lansia dipilih dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling . Penelitian ini dimulai dari penyebaran dan penulisan lembar persetujuan kepada responden, kuesioner Morningness-Eveningness Questionaire Self-Assesment Version (MEQ- SA), dan kuesioner Skor Kardiovaskuler Jakarta. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelatif Pearson. Kronotipe terbanyak adalah tipe kronotipe pagi dan risiko penyakit kardiovaskuler terbanyak pada pilihan risiko tinggi . Hasil penelitian didapatkan hubungan terbalik bahwa tidak terdapat korelasi antara kronotipe dengan risiko penyakit kardiovaskuler dengan r = -0,071 ( p = 0,561, p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KRONOTIPE DENGAN RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULER PADA PESERTA POSYANDU LANSIA DI  Hubungan Antara Kronotipe Dengan Risiko Penyakit Kardiovaskuler Pada Peserta Posyandu Lansia Di Kecamatan Kartasura.

HUBUNGAN ANTARA KRONOTIPE DENGAN RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULER PADA PESERTA POSYANDU LANSIA DI Hubungan Antara Kronotipe Dengan Risiko Penyakit Kardiovaskuler Pada Peserta Posyandu Lansia Di Kecamatan Kartasura.

Latar Belakang : Kronotipe merupakan pilihan atau preferensi setiap individu dalam fase bangun dan tidur nya yang akan mencerminkan pada variasi ritme sirkardian dalam tubuh. Misalignment ritme sirkardian yang terjadi akibat dari kualitas tidur yang tidak baik, sehingga mempunyai dampak bagi kesehatan tubuh yang mempengaruhi terjadinya risiko penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kronotipe dengan risiko penyakit kardiovaskuler pada peserta posyandu lansia di Kecamatan Kartasura.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan Antara Kronotipe Dengan Risiko Penyakit Kardiovaskuler Pada Peserta Posyandu Lansia Di Kecamatan Kartasura.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan Antara Kronotipe Dengan Risiko Penyakit Kardiovaskuler Pada Peserta Posyandu Lansia Di Kecamatan Kartasura.

Fakhruddin, H., & Nisa, K. 2013. Pengaruh Senam Jantung Sehat Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa pada Lansia di Panti Sosial dan Lanjut Usia Tresna Werdha’ Natar Lampung Selatan. Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. vol.2. no.5. pp.76-84.

6 Baca lebih lajut

KLASIFIKASI KODEFIKASI PENYAKIT DAN TINDAKAN SISTEM SIRKULASI (KARDIOVASKULER)

KLASIFIKASI KODEFIKASI PENYAKIT DAN TINDAKAN SISTEM SIRKULASI (KARDIOVASKULER)

Modul ini dibuat khusus untuk bahan ajar praktikum mata kuliah “ Klasifikasi Kodefikasi Penyakit Terminologi Medis I” pada semester 1 program studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul. Dengan topik Modul Praktikum “ Klasifikasi Kodefikasi Penyakit dan Tindakan Sistem Sirkulasi (Kardiovaskuler)”.

18 Baca lebih lajut

Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada DM Tipe 2

Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada DM Tipe 2

OSA merupakan suatu bentuk umum gangguan pernapasan saat tidur, melibat- kan kolaps saluran napas atas yang menyebab kan siklus kejadian fi siologis berulang sepanjang malam, termasuk hipoksemia intermiten dan terbangun dari tidur. Walaupun ilmu kedokteran untuk gangguan tidur berkembang pesat dan kesadaran meningkat akan dampak tidur terhadap kesehatan, OSA masih sering under-diagnosed dan apabila dibiarkan, OSA dapat menyebabkan berbagai komplikasi kardiovaskuler, metabolik, neuroendokrin, dan infl amasi. Obesitas, OSA, diabetes, dan penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang umum dijumpai pada populasi, dengan beban ekonomi dan sosial yang tinggi. 4,5,6
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Seiring dengan meningkatnya usia, terjadi proses menua. Fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan suatu keadaan yang normal pada proses menua. Lansia memproduksi jumlah saliva yang lebih sedikit pada keadaan istirahat, saat berbicara maupun saat makan. Laju aliran saliva juga rendah. Keadaan ini disebabkan karena atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan pertambahan usia yang akan menurunkan produksi saliva. Selain kuantitas saliva, degenerasi kelenjar saliva menyebabkan penurunan viskositas dan kandungan protein saliva khususnya musin yang berperan dalam melindungi jaringan mulut terhadap kekeringan. Hal ini menyebabkan mulut kering atau xerostomia sering ditemukan pada lansia. 7,12,19
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

PERAN KOLESTEROL HDL TERHADAP PENYAKIT KARDIOVASKULER DAN DIABETES MELLITUS

PERAN KOLESTEROL HDL TERHADAP PENYAKIT KARDIOVASKULER DAN DIABETES MELLITUS

Salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler adalah dislipidemia, yang merupakan kelainan metabolisme lipid. Dislipidemia ditandai dengan adanya peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida serta penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Kejadian dislipidemia di masyarakat semakin meningkat akibat perilaku yang cenderung mengkonsumsi makanan rendah serat dan tinggi lemak 2 . Dari laporan hasil penelitian

8 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI SPIRITUAL TERHADAP STRES

PENGARUH TERAPI SPIRITUAL TERHADAP STRES

Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Pemenuhan kebutuhan spiritual yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang begitu juga dengan pasien gagal jantung. Gagal jantung merupakan salah satu dari penyakit kardiovaskuler, penyakit gagal jantung mempunyai resiko kematian mendadak yang cukup tinggi dan dapat terjadi kapan saja.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambara kebutuhan spiritualitas pada pasien dengan gagal jantung di Instalasi Elang RSUP Kariadi Semarang. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan survey. Sampel diambil menggunakan teknik consecutive sampling, di ruang Instalasi Elang RSUP Kariadi selama delapan belas hari dan diperoleh 102 responden. Pengambilan dengan melengkapi kuesioner Spiritual Needs Questionnaire (SpNQ) dan dianalisis dengan analisa univariat.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

PKV merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial sehingga semua faktor resiko perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan, baik primer maupun sekunder. Faktor resiko tersebut ada yang bisa dimodifikasi seperti: dislipidemia, hipertensi, merokok, obesitas dan diabetes melitus, serta yang tidak hiss dimodifikasi seperti: usia jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga serta riwayat PKV sebelumnya. Agar pencegahan dapat lebih berhasil maka semua faktor resiko yang dapat dimodifikasi harus dikendalikan secara serentak.

10 Baca lebih lajut

AlexanderBenyS G2A009146 Bab1PerbedaanProfilLipidPadaPasienInfarkMiokardAkutDanPenyakitJantungNon

AlexanderBenyS G2A009146 Bab1PerbedaanProfilLipidPadaPasienInfarkMiokardAkutDanPenyakitJantungNon

Penyakit kardiovaskuler merupakan jenis penyakit yang melibatkan jantung atau pembuluh darah. Penyakit ini masih merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), 63% penyebab kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kronis dengan penyakit kardiovaskuler sebagai penyebab utamanya. 1 American Heart Association melaporkan terdapat satu kematian terjadi di Amerika setiap 30 detiknya karena penyakit kardiovaskuler. 2 Pada tahun 2000, penyakit ini menjadi penyebab utama kematian di Indonesia dan memiliki prevalensi sebesar 9,2% pada tahun 2007. 3 Menurut data survey, penyakit kardiovaskuler juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 menunjukkan adanya peningkatan pada semua jenis penyakit kardiovaskuler dari tahun sebelumnya. 4
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MALNUTRISI PADA LANSIA DI POSYANDU KAWURI SEJAHTERA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG TAHUN 2016 - UDiNus Repository

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MALNUTRISI PADA LANSIA DI POSYANDU KAWURI SEJAHTERA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG TAHUN 2016 - UDiNus Repository

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat diketahui bahwa responden yang mengalami malnutrisi lebih banyak dialami pada lansia yang tidak rutin dalam melakukan aktifitas fisik dengan persentasenya sebesar 61,9 % dibandingkan lansia yang rutin dalam melakukan aktifitas fisik dengan persentase sebesar 31,3 %. Dari analisis data antara aktifitas fisik dengan kejadian malnutrisi pada lansia yang menggunakan Uji Chi Square, diperoleh nilai signifikan p = 0,036 (p.value < 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa Ho (Hipotesis nihil) ditolak dan Ha (hipotesis alternatif) diterima sehingga terdapat hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian malnutrisi pada lansia. Dari perhitungan Ratio Prevalens diperoleh nilai RP sebesar 0,280 atau RP < 1, hal ini bersifat protektif sehingga dapat dikatakan bahwa aktifitas fisik merupakan faktor pencegah untuk terjadinya malnutrisi pada lansia.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Kadar Ldl-Kolesterol Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Kejadian Stroke Iskemik Di RSUD Dr. Moewardi.

PENDAHULUAN Hubungan Kadar Ldl-Kolesterol Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Kejadian Stroke Iskemik Di RSUD Dr. Moewardi.

Menurut Center Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, dari tahun 1997 sampai 2010, jumlah penderita diabetes melitus yang berusia 35 atau lebih dengan penyakit jantung atau stroke meningkat 4,2 juta- 7,2 juta. Pada tahun 2010, jumlah penderita diabetes melitus yang berusia 35 tahun atau lebih dilaporkan 1,9 juta mengalami komplikasi stroke.

4 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Derajat Merokok Dengan Prevalensi PPOK dan Bronkitis Kronik di BBKPM Surakarta Tahun 2012.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Derajat Merokok Dengan Prevalensi PPOK dan Bronkitis Kronik di BBKPM Surakarta Tahun 2012.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) ditujukan untuk mengelompokkan penyakit-penyakit yang mempunyai gejala berupa terhambatnya arus udara pernapasan (Djojodibroto, 2009). Keterbatasan aliran udara ini biasanya bersifat progresif dan terkait dengan respon inflamasi dari paru akibat dari gas atau partikel berbahaya (GOLD, 2007). Berbagai akibat yang ditimbulkan karena adanya respon inflamasi tersebut yaitu gejala utama sesak napas, batuk, dan produksi sputum yang meningkat (PDPI, 2011).

4 Baca lebih lajut

Ringkasan - POTENSI PROTEKTIF MAKANAN TRADISIONAL MINANGKABAU TERHADAP PENYAKIT KARDIOVASKULER.

Ringkasan - POTENSI PROTEKTIF MAKANAN TRADISIONAL MINANGKABAU TERHADAP PENYAKIT KARDIOVASKULER.

Perubahan pola konsumsi dari makanan tradisional ke makanan gaya barat yang tinggi kalori dan tinggi protein adalah penyebab utama meningkatnya penyakit kardiovaskuler di negara berkembang. Sebuah studi di Jepang oleh Kato et al (1987) melaporkan terdapat hubungan erat antara peningkatan konsumsi makanan yang kaya lemak seperti mentega, keju, roti, ham dan sosis dengan peningkatan kematian akibat penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler. Di negara-negara kepulauan Pasifik perubahan pola konsumsi yang tinggi serat dan karbohidrat pada saat masih di negara asal ke pola makanan negara barat setelah kepindahan mereka ke Selandia Baru dan Australia menyebabkan peningkatan berat badan serta risiko penyakit kardiovaskuler lain (Kato et al., 1987). Makanan tradisional Minang adalah makanan yang kaya serat, kaya rempah bumbu, tinggi ikan dan tinggi kelapa. Telah terjadi kesalahan persepsi tentang makanan minang oleh karena ketakutan yang berlebihan terhadap kelapa. Studi pendahuluan memperlihatkan bahwa makanan minang yang mengandung kelapa bukanlah penyebab terjadinya penyakit jantung koroner pada penderita jantung koroner di Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan untuk memperlihatkan potensi protektif terhadap penyakit kardiovaskuler pada makanan minang melalui penelitian jumlah konsumsi ikan, bumbu dan rempah pada masyarakat Sumbar.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Lansia dalam Mengatasi Kekambuhan Penyakit Reumatik di Posyandu Lansia Kelurahan Karangasem Kecamatan Laweyan Kota Surakarta

Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Lansia dalam Mengatasi Kekambuhan Penyakit Reumatik di Posyandu Lansia Kelurahan Karangasem Kecamatan Laweyan Kota Surakarta

Pengujian hipotesis penelitian menggunakan tehnik korelasi product moment diperoleh kesimpulan “terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang penyakit reumatik dengan sikap lansia dalam mengatasi kekambuhan penyakit reumatik di Posyandu Lansia Kelurahan Karangasem Kecamatan Laweyan Kota Surakarta”. Berdasarkan tabulasi data hubungan sikap lansia ditinjau dari pengetahuan menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan lansia, maka semakin baik sikap lansia dalam mengatasi kekambuhan penyakit reumatik di Posyandu lansia Kelurahan Karangasem Kecamatan Laweyan Kota Surakarta.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

tentang GAGAL GINJAL KRONIK REFERAT ....

tentang GAGAL GINJAL KRONIK REFERAT ....

Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria, yang ditandai dengan p[eningkatan ureun dan kreatinin. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73m². Batasan penyakit ginjal kronik 1

13 Baca lebih lajut

MAKALAH PENYAKIT KARDIOVASKULER

MAKALAH PENYAKIT KARDIOVASKULER

Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan vaskuler. Cardiac yang berarti jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem sirkulasi darah yang terdiri dari jantung komponen darah dan pembuluh darah. Pusat peredaran darah atau sirkulasi darah ini berawal dijantung, yaitu sebuah pompa berotot yang berdenyut secara ritmis dan berulang 60-100x/menit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir dari jantung, ke seluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri atas arteri, arteriol, dan kapiler kemudian kembali ke jantung melalui venula dan vena
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Efek Pemberian N-Acetylcysteine Oral terhadap Kadar hsCRP Serum pada Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis | Prasetyo | Jurnal Mutiara Medika 936 2684 1 PB

Efek Pemberian N-Acetylcysteine Oral terhadap Kadar hsCRP Serum pada Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis | Prasetyo | Jurnal Mutiara Medika 936 2684 1 PB

Inflamasi dan stres oksidatif merupakan faktor risiko kardiovaskuler pada pasien chronic kidney disease (CKD).N-asetilsistein (NAS) mengandung thiol sebagai antioksidan yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan memperlihatkan penurunan angka kejadian kardiovaskuler pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan menentukan efek NAS oral (2 x 600 mg/hari) terhadap kadar petanda inflamasi pada pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Perlakuan diberikan selama 8 minggu pada 32 pasien (80% laki-laki, usia 42±7 tahun) yang menjalani regular CAPD. Sebelum perlakuan pasien dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 16 pasien.Sitokin proinflamasi (high-sensitivity C- reactive protein/hsCRP) diukur sebelum dan sesudah perlakuan dengan NAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian NAS, secara bermakna menurunkan kadar hsCRP (-1,50±1,32 vs 0,56±1,25 pg/mL, p<0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa pemberian NAS per- oral mampu menurunkan kadar hsCRP pasien CAPD.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

MAKALAH PENYAKIT KARDIOVASKULER

MAKALAH PENYAKIT KARDIOVASKULER

Dari pemaparan diatas, penulis memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan maupun ilmu alam lainnya penting sekali memahai anatomi sistem kardiovaskuler secara tepat agar terhindar dari kelalaian baik itu dirumah sakit maupun di alam yang berkaitan dengan perubahan fungsi tubuh akibat kurangnya aktifitas positif untuk memberikan kesehatan terhadap jantung sebagai pusat kehidupan.

9 Baca lebih lajut

MAKALAH PENYAKIT KARDIOVASKULER

MAKALAH PENYAKIT KARDIOVASKULER

Jantung berbentuk seperti pir/kerucut seperti piramida terbalik dengan apeks (superior-posterior:C-II) berada di bawah dan basis ( anterior-inferior ICS ?V) berada di atas. Pada basis jantung terdapat aorta, batang nadi paru, pembuluh balik atas dan bawah dan pembuluh balik. Jantung sebagai pusat sistem kardiovaskuler terletak di sebelah rongga dada (cavum thoraks) sebelah kiri yang terlindung oleh costae tepatnya pada mediastinum. Untuk mengetahui denyutan jantung, kita dapat memeriksa dibawah papilla mamae 2 jari setelahnya. Berat pada orang dewasa sekitar 250-350 gram. Hubungan jantung dengan alat sekitarnya yaitu: a) Dinding depan berhubungan dengan sternum dan kartilago kostalis setinggi kosta III-I.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...