regimen dosis

Top PDF regimen dosis:

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Seperti diketahui, karena biosintesis protein terjadi di hati, maka normalitas fungsi hati secara tidak langsung turut menentukan kapasitas ekskresi ginjal. Jadi jumlah dan kecepatan ekskresi renal tidak hanya ditentukan oleh fungsi ginjal, tetapi juga fungsi kardiovaskular dan hati, selain faktor fisiko- kimiawi obat itu sendiri. Obat obat yang memiliki rasio ekskresi renal tinggi (misalnya golongan penisilin dan glukuronat), ekskresinya lebih tergantung dari perubahan kecepatan aliran darah di ginjal dibandingkan obat yang memiliki rasio ekskresi renal rendah (misalnya digoksin, furosemid, dan tetrasiklin). Perubahan aliran darah ginjal sering dapat disamakan dengan perubahan LFG ketika menyesuaikan regimen dosis pada gagal ginjal (Hakim, 2013).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG - Repositori Universitas Andalas

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG - Repositori Universitas Andalas

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR.. DJAMIL PADANG SKRIPSI SARJANA FARMA[r]

1 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Regimen dosis amlodipin pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*.. Regimen dosis bisoprolol pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*.[r]

11 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Seperti diketahui, karena biosintesis protein terjadi di hati, maka normalitas fungsi hati secara tidak langsung turut menentukan kapasitas ekskresi ginjal. Jadi jumlah dan kecepatan ekskresi renal tidak hanya ditentukan oleh fungsi ginjal, tetapi juga fungsi kardiovaskular dan hati, selain faktor fisiko- kimiawi obat itu sendiri. Obat obat yang memiliki rasio ekskresi renal tinggi (misalnya golongan penisilin dan glukuronat), ekskresinya lebih tergantung dari perubahan kecepatan aliran darah di ginjal dibandingkan obat yang memiliki rasio ekskresi renal rendah (misalnya digoksin, furosemid, dan tetrasiklin). Perubahan aliran darah ginjal sering dapat disamakan dengan perubahan LFG ketika menyesuaikan regimen dosis pada gagal ginjal (Hakim, 2013).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 pasien hipertensi dengan gagal ginjal yang menjalani hemodialisis periode Maret-Mei 2016, obat antihipertensi yang paling banyak diberikan adalah amlodipin, dan yang paling sedikit diberikan adalah nifedipin. Persentase pengobatan antihipertensi yang diberikan yaitu amlodipin (38%), candesartan (36%), bisoprolol (21%), nifedipin (15%). kesesuaian dosis penggunaan obat antihipertensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah tepat dosis.

2 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Faktor penting dalam pemberian obat adalah menentukan dosis obat terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya efek toksik. Penentuan dosis obat ini sangat tergantung pada farmakokinetik dan farmakodinamik obat. Pada gagal ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat yang efektif dan aman bagi tubuh (Nasution,2003).

4 Baca lebih lajut

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG - Repositori Universitas Andalas

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG - Repositori Universitas Andalas

Masalah kesehatan yang paling sering ditemui pada lansia adalah penyakit kronis yang kadang timbul secara akut dan akan diderita sampai meninggal Masharahiet al., 2007.. Hasil peneliti[r]

3 Baca lebih lajut

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG.

KAJIAN KETEPATAN REGIMEN DOSIS DAN JENIS OBAT PADA PASIEN GERIATRI PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP DR. M. DJAMIL PADANG.

Sehingga dapat memberikan informasi tentang penggunaan obat yang tepat pada pasien geriatri penderita DM tipe 2 di Poliklinik Khusus Penyakit Dalam RSUP.. Djamil Padang, berdasarkan li[r]

6 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Pengobatan yang benar benar bermanfaat diperlukan oleh pasien dengan gangguan ginjal. Penyesuaian dosis yang sering dilakukan berupa penurunan dosis, perpanjangan interval pemberian obat atau gabungan keduanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi golongan obat antihipertensi dan kesesuaian dosis obat antihipertensi menurut The Renal Drug Handbook pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret-Mei 2016.

14 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI APOTEKER DALAM MENANGANI KEJADIAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPS) PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO - repository perpustakaan

KONTRIBUSI APOTEKER DALAM MENANGANI KEJADIAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPS) PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO - repository perpustakaan

Hipertensi/tekanan darah tinggi merupakan penyakit peringkat ke-3 penyebab kematian di Indonesia. Identifikasi DRPs pada pengobatan penting dalam rangka mengurangi morbiditas, mortalitas dan biaya terapi obat. Hal ini akan sangat membantu dalam meningkatkan efektivitas terapi obat terutama pada penyakit-penyakit yang sifatnya kronis, progresif dan membutuhkan pengobatan sepanjang hidup seperti hipertensi. Pemberian intervensi oleh apoteker dapat menurunkan DRPs. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan dan intervensi terhadap permasalahan yang terkait dengan pengobatan pada pasien hipertensi rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan analisis deskriptif dan pendekatan waktu prospektif pada pasien hipertensi rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Dari 62 pasien yang masuk dalam populasi penelitian, terdapat 67 kasus DRPs pada 40 pasien. Masalah DRPs: efek terapi yang tidak optimal 14,9%; efek yang tidak diinginkan dari terapi 1,49%; indikasi yang tidak ditangani 22,4%; reaksi yang tidak dinginkan (non alergi) 61,19%. Penyebab DRPs: obat yang tidak tepat 1,5%; Kombinasi yang tidak pantas atau adanya interaksi obat dengan makanan 58,8%; indikasi baru bagi terapi obat muncul 20,8%; regimen dosis tidak cukup 2,8%; waktu penggunaan atau interval dosis yang tidak tepat 1,5%; obat yang dikonsumsi kurang 11,8% dan penyebab lain 2,8%. Intervensi apoteker terhadap DRPs: mengajukan perlakuan yang diperbolehkan oleh dokter 5,9%; mengajukan perlakuan perlakuan yang tidak diperbolehkan oleh dokter 32,8%; obat diganti dengan 1,5%; dosis diganti menjadi 2,9%; obat dihentikan 2,9%; obat baru mulai diberikan 31,3%; perlakuan lain (spesifik) 86,5%. Hasil intervensi apoteker terhadap DRPs: hasil dari perlakuan tidak diketahui 26,86%; seluruh masalah terselesaikan 38,8%; sebagian masalah terselesaikan 1,5%; masalah tidak terselesaikan, karena pasien tidak kooperatif 1,5%; masalah tidak terselesaikan, karena dokter tidak kooperatif 31,34%. Kontribusi apoteker dalam menangani DRPs dengan hasil intervensi dengan hasil intervensi tertinggi yaitu seluruh masalah terselesaikan dengan persentase 38,8%.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes Pada Penggunaan Antidiabetik Oral di Tiga Puskesmas di Kota Medan Periode April - Juni 2015

Potensi Interaksi Obat Antidiabetes Pada Penggunaan Antidiabetik Oral di Tiga Puskesmas di Kota Medan Periode April - Juni 2015

Perlu pengaturan regimen dosis metformin ketika terapi furosemid dimulai atau dihentikan, 31 Metformin – Hidrok lorotiazid Farmakodina mik Minor 2 Hidroklorotiazi dakanmeningkat kan[r]

22 Baca lebih lajut

Penggunaan obat sitostatika non antibiotik pada pengobatan kemoterapi anak berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula schwartz dan counahan-barratt di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2010.

Penggunaan obat sitostatika non antibiotik pada pengobatan kemoterapi anak berdasarkan laju filtrasi glomerulus menggunakan formula schwartz dan counahan-barratt di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2010.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data demografi pasien (umur dan tinggi badan), regimen dosis terapi sitostatika golongan antibiotika dan non antibiotik yang diterima pasien, dan data kreatinin serum pasien. Pasien yang dimaksud adalah anak-anak yang menjalani kemoterapi di bangsal rawat inap yang berusia antara 0 – 12 tahun yang telah menerima terapi obat sitostatika dan memiliki data laboratorium kreatinin serum. Setiap pasien dapat menyumbang satu atau lebih dari satu kasus. Setiap kasus dievaluasi berdasarkan data kreatinin serum dan evaluasi regimen dosis dikaji untuk pasien yang mengalami penurunan LFG kurang dari
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Induksi Persalinan 1. Definisi Induksi Persalinan - Gambaran Induksi Persalinan dan Out Come di RSU Muhammadiyah Sumatera Utara Tahun 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Induksi Persalinan 1. Definisi Induksi Persalinan - Gambaran Induksi Persalinan dan Out Come di RSU Muhammadiyah Sumatera Utara Tahun 2013

Dengan demikian, manfaat yang lebih banyak didapatkan dengan memberikan regimen dosis yang lebih tinggi dibandingkan dosis yang lebih rendah. Di Parkland hospital penggunaan regimen oksitosin dengan dosis awal dan tambahan 6 mU/menit secara rutin telah dilakukan hingga saat ini. Sedangkan di Birmingham Hospital di University Alabama memulai oksitosin dengan dosis 2 mU/menit dan menaikkannya sesuai kebutuhan setiap 15 menit yaitu menjadi 4, 8, 12, 16, 20, 25, dan 30 mU/menit. Walaupun regimen yang pertama tampaknya sangat berbeda, jika tidak ada aktifitas uterus, kedua regimen tersebut mengalirkan 12 mU/menit selama 45 menit ke dalam infuse. (Cunningham, 2013)
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

WIBOWO Bagus Saputra 22010111110063 Lap.KTI Bab4

WIBOWO Bagus Saputra 22010111110063 Lap.KTI Bab4

Nominal 3 Rasionalitas penggunan antibiotik secara kualitatif Penilaian rasionalitas antibiotik dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian diagnosis, indikasi, regimen dosis, keamana[r]

9 Baca lebih lajut

Easy Menstrual Pain Relief Regimen That Works

Easy Menstrual Pain Relief Regimen That Works

Title: Easy Menstrual Pain Relief Regimen That Works Word Count: 504 Summary: The article talks about the easy pain relief regimen that women, especially those who are always sufferin[r]

1 Baca lebih lajut

Penatalaksanaan Kusta Dengan Regimen Rifampisin, Ofloksasin Dan Minosiklin

Penatalaksanaan Kusta Dengan Regimen Rifampisin, Ofloksasin Dan Minosiklin

Tetrasiklin diketahui terdeposit pada tulang dan gigi, dimana agen obat ini dapat tembus pada barier plasenta dan diekskresikan pada air susu. Namun hal ini belum dapat dipastikan apabila minosiklin diberikan dalam dosis tunggal, tetapi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan sebaiknya minosiklin tidak diberikan pada wanita hamil. Efek teratogenik dari ofloksasin juga sebaiknya tidak dilupakan, sehingga regimen ROM dikontraindikasikan pada wanita hamil. Dan pada anak-anakdibawah 5 tahun. Untuk keadaan ini pengobtaan kusta yang tepat adalah pemberian MDT-PB

26 Baca lebih lajut

Hubungan Dukungan Dengan Beban Keluarga Dalam Mengikuti Regimen Terapeutik Pada Anggota Keluarga Yang Mengalami Halusinasdi Rsj Daerah Pemprovsu Medan Chapter III IV

Hubungan Dukungan Dengan Beban Keluarga Dalam Mengikuti Regimen Terapeutik Pada Anggota Keluarga Yang Mengalami Halusinasdi Rsj Daerah Pemprovsu Medan Chapter III IV

Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel sedapat mungkin mewakili populasi. Jika jumlah sampel lebih besar dari 100, maka kita dapat mengambil sampel antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana serta sempit luasnya wilayah pengamatan setiap subjek. Pengambilan sampel penelitian ini adalah 15% dari 334 orang yang sedang mengikuti regimen terapeutik yaitu berjumlah 50 orang keluarga/wali yang memiliki anggota

24 Baca lebih lajut

Show all 5439 documents...