Top PDF Pengembangan instrumen pengukuran nilai kerja sama siswa

Pengembangan instrumen pengukuran nilai kerja sama siswa

Pengembangan instrumen pengukuran nilai kerja sama siswa

Langkah-langkah metode penelitian dan pengembangan terdiri 10 tahap (Sugiyono, 2013, p. 408) yaitu: pertama, Penilaian diawali dengan adanya potensi dan masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang apabila didayagunakan akan memiliki nilai tambah sedangkan masalah adalah penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Kedua, pengumpulan data atau mengumpulkan informasi dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah. Ketiga, desain produk perlu ditunjukkan dalam gambar kerja, bagan atau uraian ringkas, sehingga akan memuahkan pihak lain untuk memahaminya. Keempat, Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk sudah baik, lebih baik dari sebelumnya. Validasi produk dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk yang dirancang tersebut. Kelima, setelah produk divalidasi akan diketahui kekurangan atau kelemahannya sehingga bagian yang kurang atau lemah dapat diperbaiki atau direvisi. Keenam, Uji coba produk pada awalnya dapat diujicobakan pada kelompok terbatas. pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi apakah produk yang dihasilkan sudah lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan produk sebelumnya. Ketujuh, dari kegiatan uji coba produk akan diketahui sejauh mana keefektifan dan keefisienan produk tersebut sehingga bagian yang kurang baik dilakukan perbaikan atau penyempurnaan produk. Kedelapan, Setelah pengujian terhadap produk berhasil dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting maka selanjutnya produk diterapkan dalam lingkup yang lebih luas. Kesembilan, kegiatan revisi produk tahap ini dilakukan apabila dalam pemakaian dalam lingkup luas masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Kesepuluh, Bila produk yang telah dihasilkan dinyatakan efektif dan layak maka dapat ditindaklanjuti dengan pembuatan produk masal atau produk siap diperbanyak.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES BERKELANJUTAN PADA PENGUKURAN KEMAMPUAN KONEKSI DAN PENALARAN MATEMATIS

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES BERKELANJUTAN PADA PENGUKURAN KEMAMPUAN KONEKSI DAN PENALARAN MATEMATIS

3 Sani (2015: 57) mengungkapkan karakteristik pembelajaran matematika saat ini adalah lebih fokus pada kemampuan prosedural, komunikasi satu arah, pengaturan kelas monoton, low order thinking skill, bergantung pada buku paket, lebih dominan soal rutin dan pertanyaan tingkat rendah. Penyajian materi diberikan berdasarkan urutan fakta, konsep, definisi, prinsip, dan teorema dari suatu materi pelajaran, dilanjutkan dengan pemberian contoh dan non contoh, serta pemberian latihan soal untuk penguatan konsep. Hal ini menyebabkan siswa kurang punya kesempatan untuk menggunakan caranya sendiri dalam memecahkan suatu masalah. Siswa terbiasa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran. Jika diberikan masalah yang tidak sama dengan contoh yang diberikan guru, siswa cenderung mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya, meskipun masalah tersebut masih terkait dengan konsep atau prinsip yang sama.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pengembangan instrumen pengukuran kreativitas menulis cerita fantasi siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Kalasan

Pengembangan instrumen pengukuran kreativitas menulis cerita fantasi siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Kalasan

Pada Kompetensi Dasar 4.4 Menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur dan penggunaan bahasa. (Titik Harsiati, 2016,p.11) Berdasarkan KD tersebut, maka kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah menulis teks cerita fantasi, dengan menekankan pada kreativitasnya

9 Baca lebih lajut

Pengembangan instrumen pengukuran toleransi pada mahasiswa sekolah menengah pertama

Pengembangan instrumen pengukuran toleransi pada mahasiswa sekolah menengah pertama

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana guru mengukur toleransi, mengembangkan instrumen toleransi dan mengukur kecenderungan toleransi siswa SMP Negeri 40 Purworejo. Jenis penelitian ini termasuk penelitian dan pengembangan (R & D). Subyek penelitian adalah siswa SMP Negeri 40 Purworejo sebanyak 152 orang. Analisis yang digunakan adalah validitas isi, validitas konkurensi, validitas konstruk dan reliabilitas instrumen. Pengukuran nilai toleransi pada siswa SMP Negeri 40 Purworejo belum menggunakan instrumen standar, tetapi hanya sebatas penilaian formal saja. Setelah menganalisa faktor instrumen terakhir, menemukan instrumen pengembangan toleransi siswa terdiri dari 41 item, yaitu 20 item faktual dan 21 butir valensi. Instrumen terdiri dari 8 indikator total varian beban faktor instrumen akhir yang dapat menjelaskan varian toleransi kumulatif dari 8 faktor sebesar 70.150%. Hasil uji validitas konkurensi memperoleh korelasi data faktual dan valensi yang signifikan (rxy = 0,829). Analisis keandalan menghasilkan indeks keandalan 0,866, menunjukkan instrumen memiliki tingkat keandalan yang tinggi
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Efektivitas Instrumen Tes Pengukuran Nilai Konsumsi Oksigen Maksimal (VO2 Maks) Untuk Siswa SMA

Efektivitas Instrumen Tes Pengukuran Nilai Konsumsi Oksigen Maksimal (VO2 Maks) Untuk Siswa SMA

Segala puji bagi Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya sebagai penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Efektivitas Instrumen Tes Pengukuran Nilai Konsumsi Oksigen Maksimal (VO2 Maks) Untuk Siswa SMA (Studi Kasus di SMA PGRI 01 Kendal). Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan ini dengan segenap kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Drs. Eri Pratiknyo Dwikusworo, M.Kes selaku pembimbing utama dan Drs.Taufiq Hidayah, M.Kes selaku pembimbing pendamping yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan, arahan, dan bimbingan dengan penuh kesabaran kepada penulis.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Pengembangan dan Validasi Instrumen Pengukuran Efektivitas Tim di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Pengembangan dan Validasi Instrumen Pengukuran Efektivitas Tim di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

memiliki hasil yang valid. Penelitian pengembang- an alat ukur juga dilakukan oleh Cantu (2007) dengan menggunakan 12 dimensi dalam pem- buatan alat ukur, yaitu komunikasi, pengambilan keputusan, kinerja, customer focus, rapat tim, continuous improvement, penanganan konflik, ke- pemimpinan, pemberdayaan, trust, kohesivitas atau hubungan tim, pengakuan dan imbalan. Hasil analisis dari penelitian tersebut membentuk enam faktor yang mengukur efektivitas tim, yaitu kerja tim, pengambilan keputusan, dukungan kepemimpinan, kepercayaan dan penghormatan, pengakuan dan imbalan, dan fokus pelanggan. Faktor yang diperoleh menunjukkan konsep dimensi yang telah valid sebagai faktor pem- bangun efektivitas tim. Penelitian pengembangan alat ukur efektivitas tim sebelumnya dilakukan pada konteks perusahaan sementara penelitian pengembangan alat ukur efektivitas tim yang berfokus pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM di Indonesia masih belum pernah dilakukan. UMKM memiliki proses kerja dan latar belakang karyawan yang berbeda dengan per- usahaan besar dan merupakan pelaku ekonomi yang mayoritas.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN IKLIM SEKOLAH BERBASIS WEB.

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN IKLIM SEKOLAH BERBASIS WEB.

Penelitian ini bertujuan menghasilkan instrumen pengukuran iklim sekolah.  Tahun  pertama  penelitian  (dari  dua  tahun  yang  direncanakan)  difokuskan  pada  pengembangan  konten  instrumen  pengukuran  iklim  sekolah  dengan  desain  penelitian  Design  and  Development  Research  (DDR).  Pengembangan  konten  dilakukan  melalui  FGD  yang  melibatkan  Kepala  Sekolah,  guru,  orangtua,  siswa  dan  unsur  Dinas  Pendidikan  dan  Keolahragaan  Kabupaten  Gunungkidul.  Berdasarkan  kajian  literatur  dan  FGD  dihasilkan  substansi  instrumen  pengukuran  iklim  sekolah  yang  mencakup  tiga  dimensi  iklim  sekolah,  yaitu  akademik,  fasilitas/fisik  dan  sosial  dengan  model  mirip  skala  Likert.  Untuk  dimensi  akademik  terdiri  atas  pbm,  pendampingan  orangtua,  norma, ekstrakurikuler, ketenagaan. Adapun untuk dimensi lingkungan fisik  meliputi  sub  dimensi  keamanan  fasilitas,  lingkungan  fisik  sekolah.  Untuk  dimensi  sosial  terdapat  keamanan  sosial  emosioanal,  ikatan  sosial,  pendampingan  orangtua  dan  hubungan  dengan  masyarakat.  Masing‐masing  dimensi  tersebut  kemudian  dijabarkan  ke  dalam  indikator‐indikator.  Instrumen ditujukan kepada tiga stakeholder, yaitu guru, siswa dan orangtua  yang  memuat  pertanyaan  berbeda  meskipun  dimensi  yang  dicakup  sama.  Instrumen  telah  melalui  tahap  validasi  konten  oleh  dua  orang  pakar.  Data  hasil  uji  coba  dianalisis  dengan  menggunakan  rumus  korelasi  Product  Moment  Pearson  dan  untuk  analisis  reliabilitas  menggunakan  rumus  Cronbach’s Alpha. Uji coba tahap 1 dan tahap 2 masing‐masing melibatkan 90  dan  270  responden.  Hasil  uji  coba  menunjukkan  secara  umum  instrumen  memiliki  korelasi  butir  dengan  skor  total  instrumen  yang  memenuhi  syarat  dan reliabel. 
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kemampuan Literasi Informasi Berbasis Efikasi Diri (Self Efficacy)

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kemampuan Literasi Informasi Berbasis Efikasi Diri (Self Efficacy)

Jika membahas mengenai standar pengukuran literasi informasi, terdapat dua standar pengukuran yang kerap dijadikan acuan dan panduan. Yang pertama adalah standar pengukuran literasi informasi yang direkomendasikan oleh AASL (American Association of School Librarians). Sesuai dengan nama organisasinya mereka merekomendasikan 3 kategori literasi informasi khusus bagi siswa sekolah, yaitu kategori 1 literasi informasi, kategori 2 pembelajar mandiri, dan kategori 3 tanggung jawab social. Pada setiap kategori tersebut terdapat sub dan sub-sub kategori yang lebih spesifik. Standar pengukuran literasi informasi yang kedua adalah rekomendasi dari ACRL (Association of College and Research Libraries) yang didesain untuk dikembangkan bagi subjek mahasiswa dan para professional (Stewart, 2011).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengukuran Faktor Koreksi Jarak pada Instrumen MOTIWALI.

Pengukuran Faktor Koreksi Jarak pada Instrumen MOTIWALI.

b) Floating tide gauge. Prinsip kerja alat ini berdasarkan gerakan naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat. Pengukuran tinggi muka air oleh alat ini dilakukan dengan mendeteksi pergerakan naik turun dari air. Perubahan tinggi pada permukaan air akan menyebabkan pelampung begerak vertikal (naik turun), pelampung dan penahan beban diikat dengan kabel dan dihubungkan dengan sebuah katrol yang terdapat pada enkoder, sehingga gerakan pelampung dapat memutar katrol. Perputaran yang terjadi pada katrol akan dikonversikan menjadi suatu sinyal digital dan ditransfer ke unit data logger melalui kabel transduser. Di dalam data logger unit sinyal listrik tersebut diproses sehingga menjadi nilai yang terukur gauge (Djaja, 1987).
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN LITERASI EKOLOGI UNTUK MENGUKUR KESIAPAN BERPERILAKU RAMAH LINGKUNGAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS - UNS Institutional Repository

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN LITERASI EKOLOGI UNTUK MENGUKUR KESIAPAN BERPERILAKU RAMAH LINGKUNGAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS - UNS Institutional Repository

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang telah memberikan anugerah-Nya, sehingga penelitian dan penulisan tesis ini dapat diselesaikan tepat waktu. Tesis ini berjudul Pengembangan Instrumen Pengukuran Literasi Ekologi untuk Mengukur Kesiapan Berperilaku Ramah Lingkungan Pada Sekolah Menengah Atas. Penulis menyadari, penyusunan tesis ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

15 Baca lebih lajut

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kapasitas dan Modal Sosial Organisasi, Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan.

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kapasitas dan Modal Sosial Organisasi, Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan.

Optimalisasi output pembangunan secara sosial dan ekonomi, juga perlu ditambah nilai ekologis, sehingga ada kemampuan manfaat yang berkelanjutan. Berdasarkan penelitian (WRI, 2000 dalam Cahyandito, 2006) ditemukan bahwa adanya masalah ekologi terkait degradasi tanah atau hilangnya kesuburan tanah, dapat diakibatkan oleh erosi akibat air dan angin, penggaraman dan pengasaman tanah. Degradasi kualitas tanah berdampak pada penurunan kemampuan tanah menguraikan sampah/limbah. Tanah yang tandus (kering) sebagai akibat dari degradasi sumber daya tanah seperti terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta dapat disebabkan oleh erosi oleh air, dan penggunaan zat-zat kimia (pestisida).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN MASYARAKAT TERKAIT PENYAKIT ASMA SKRIPSI

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN MASYARAKAT TERKAIT PENYAKIT ASMA SKRIPSI

hasil pengukuran dapat dipercaya dan relevan. Uji validitas konten dilakukan untuk mengetahui kelayakan isi kuesioner. Apabila semua ahli telah memberi persetujuan maka kuesioner dapat dikatakan valid secara konten. Kemudian, kuesioner yang valid secara konten harus dilanjutkan ke uji pemahaman bahasa untuk mendapatkan masukan dan saran terkait penyusunan kuesioner. Pengujian kuesioner juga harus melalui uji kualitas instrumen yang menghasilkan data kuantitatif sebagai bahan uji reliabilitas. Uji reliabilitas ini gunanya mengetahui konsistensi hasil pengukuran dari kuesioner tersebut. Pada uji kualitas instrumen, responden harus dipilih berdasarkan teknik sampling yang memadai untuk pengambilan sampel pada populasi yang tidak homogen, salah satunya purposive sampling sedangkan pengisian kuesioner dapat menggunakan single trial administration. Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan berbagai metode antara lain metode Cronbach Alpha berbasis kovarians aitem. Nilai koefisien Alpha harus >0,60 agar dapat dikatakan reliabel. Seleksi aitem dilakukan untuk membantu dalam perolehan nilai koefisien Alpha yang diinginkan. Domain pengetahuan dapat diseleksi berdasarkan koefisien korelasi Point-Biserial sedangkan domain sikap dan tindakan dapat diseleksi berdasarkan koefisien korelasi Pearson Product Moment.
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

2 INSTRUMEN PENGUKURAN KINERJA 1

2 INSTRUMEN PENGUKURAN KINERJA 1

Jika suatu penilaian dikenakan kepada kelompok yang sama dua kali secara berurutan, beberapa variasi skor dapat terjadi karena adanya fluktuasi pada memori sesat, perhatian, usaha kelelahan, ketegangan emosional, tebak-tebak dan sejenisnya. Sebaliknya jika dilaksanakan dalam waktu yang lama antara tes pertama dan tes kedua variasi skor kemungkinan disebabkan oleh pengaruh pengalaman belajar, perubahan kesehatan, lupa dan lain-lain. Variasi skor juga mungkin akan terjadi jika tes essay atau penilaian type unjuk kerja siswa lainnya yang dinilai oleh penilai yang berbeda.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pengembangan instrumen pengukuran disiplin untuk siswa sekolah menengah pertama

Pengembangan instrumen pengukuran disiplin untuk siswa sekolah menengah pertama

Berhasil hasil penelitian dapat dismpulkan sebagai berikut: (1) Pengukuran kedisiplinan pada peserta didik SMP Negeri 40 Purworejo belum menggunakan instrumen yang baku, namun hanya sebatas pematauan terhadap penilaian formal saja misalnya pemantauan daftar hadir dmaupun daftar pelanggaran yang tercatat pada bagian bimbingan dan konseling; (2) Setelah dilakukan analisis faktor instrumen final pengembangan instrument kedisiplinan kedisiplinan peserta didik terdiri dari 30 butir yaitu 15 butir faktual dan 15 butir valensi. Uji validitas konkuren telah dilakukan hasilnya korelasi data faktual dan valensi signifikan (r xy =0,8169). Analisis reliabilitas menghasilkan indeks reliabilitas 0,879, menunjukkan instrumen memiliki relibilitas tinggi; (3) Tingkati kedisiplinan didik SMP Negeri 40 Purworejo 67,11% termasuk tinggi.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kesejahteraan Siswa

Pengembangan Instrumen Pengukuran Kesejahteraan Siswa

Dalam pengukuran kesejahteraan subjektif perlu dikaitkan dengan indikato- indikator subjektif. Penggunaan indikator subjektif dibutuhkan karena memiliki keunggulan, diantaranya dapat digunakan untuk melakukan diagnosa awal terhadap kelompok masyarakat/individu yang memiliki kesejahteraan rendah serta untuk mengevaluasi dampak kebijakan terhadap masyarakat (Thompson & Aked, 2009). Indikator subjektif apa yang digunakan tergantung pada pilihan cara pandang terhadap konsep kesejahteraan. Perspektif siswa mengenai kesejahteraan diperlukan untuk menyusun alat ukur. Oleh karena itu pengembangan instrumen kesejahteraan siswa ini akan disusun berdasarkan konsep yang telah ditemukan pada penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Karyani, dkk (2014) .
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN KEGOTONGROYONGAN SISWA

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN KEGOTONGROYONGAN SISWA

Sikap kegotongroyongan merupakan salah satu aspek afektif, sehingga dalam pengukuran untuk penilainnya berbeda dengan hasil belajar. “Karakter merupakan bagian dari ranah afektif.” (Mardapi). Pengukuran untuk sikap kegotongroyongan dapat melalui observasi dan penilaian diri. “A da dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif, yaitu metode observasi dan metode laporan-diri. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan, reaksi psikologi, atau keduanya. Metode laporan-diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun, hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri. ” (Andersen dalam Mardapi). Metode laporan diri bisa dilakukan dengan memberikan penilaian sendiri melalui pengisian instrumen skala penilaian berupa kuisioner.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengembangan instrumen pengukuran sikap tanggung jawab siswa madrasah aliyah

Pengembangan instrumen pengukuran sikap tanggung jawab siswa madrasah aliyah

Dewasa ini instrumen yang dikembangkan dan digunakan di sekolah adalah instrumen tes pengambilan kompetensi inti kognitif dan psikomotor. Guru kurang memperhatikan penilaian kompetensi inti sikap sosial. Bahkan penilaian sikap sosial masih terkesan jauh dari kriteria penilaian karena hanya asal-asalan tanpa menggunakan instrumen yang baku untuk mengukurnya. Penilaian kompetensi inti sikap sosial sulit dilakukan karena instrumen yang disediakan pemerintah format-format penilaian afektif Kurikulum 2013 terlalu banyak dan guru akan kehilangan waktu mengajar jika harus melakukan semua penilaian afektif yang ada. Disamping itu ada batasan nilai minimal yang harus diberikan pada siswa yaitu B, sehingga terkesan hanya formalitas. Instrumen yang digunakan oleh guru dalam melakukan penilaian kompetensi inti sikap sosial dapat dikatakan sebagai instrumen yang belum baik. Untuk mendapatkan nilai sangat baik (A) dan baik (B) guru hanya melakukan pengamatan sikap siswa selama di kelas tanpa adanya indikator-indikator penilaian melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, maupun jurnal. Guru menyadari betul pentingnya penilaian kompetensi inti sikap sosial dalam kegiatan pembelajaran demi mencapai tujuan pendidikan, namun beberapa guru tidak melakukan penilaian dan tidak mempersiapkan instrumen yang baik guna melakukan penilaian tersebut karena alasan-alasan yang telah dipaparkan di atas. Maka dari itu dipandang perlu untuk mengembangkan instrumen non tes untuk mengukur sikap peserta didik seperti yang termuat dalam Kurikulum 2013.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN TENGGANG RASA PESERTA DIDIK

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN TENGGANG RASA PESERTA DIDIK

nilai karakter bangsa diajarkan pada siswa dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi (PT). Hal tersebut dengan mengacu pada pernyataan dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.” Artinya melalui pendidikan diharapkan setiap warga Negara khususnya peserta didik memiliki nilai-nilai karakter yang baik seperti : kreatif dan mandiri. Dengan memiliki nilai-nilai karakter yang baik, maka jati diri peserta didik akan baik pula.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengembangan instrumen pengukuran sikap proaktif siswa SMA Negeri 1 Klirong Kebumen

Pengembangan instrumen pengukuran sikap proaktif siswa SMA Negeri 1 Klirong Kebumen

a. Berdasarkan hasil studi leteratur diperoleh 6 indikator yang dapat menggambarkan sikap proaktif, yaitu (1) kesadaran diri, (2) imajinasi, (3) suara hati, (4) kehendak bebas, (5) berinisiatif, dan (6) bertanggung jawab atas respon yang diberikan. Setelah dilakukan 12 langkah pengembangan instrumen sikap proaktif siswa diperoleh 11 indikator yang menggambarkan sikap proaktif siswa, yaitu (1) bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan, (2) mampu melakukan tindakan yang benar saat pembelajaran di kelas, (3) mampu memilih keputusan yang benar dengan berprinsip pada yang benar, (4) memiliki prinsip moral dalam berperilaku, (5) memahami potensi akademik untuk menunjang karir pendidikan, (6) memiliki sikap terbuka, (7) memiliki gambaran alternatif cita-cita lain, (8) mampu mengakui kegagalan diri, (9) menyadari cita-cita, (10) memiliki
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengembangan Teknik dan Instrumen Penilaian Hasil Belajar dan Pengolahan Nilai DAFTAR ISI

Pengembangan Teknik dan Instrumen Penilaian Hasil Belajar dan Pengolahan Nilai DAFTAR ISI

Pengembangan Instrumen Penilaian dan Pedoman Penskoran .... Daftar Pustaka ...[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...