Top PDF Pentingnya Pendampingan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak

Pentingnya Pendampingan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak

Pentingnya Pendampingan Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak

Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, professional, bertanggungjawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi masa depan. Iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan budaya belajar di kalangan masyarakat terus dikembangkan rasa percaya diri dan budaya belajar di kalangan masyarakat terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif dan keinginan untuk maju. (Jenny R.E. Kaligus, 1991, :98)
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERANAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL PADA ANAK

PERANAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL PADA ANAK

emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada anak sampai remaja, mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tututan dan tanggung jawab), membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi, memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual, memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya, untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan dan memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai suami istri/suami, orang tua, anggota masyarakat.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak pada Keluarga Nelayan

Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak pada Keluarga Nelayan

Dalam penelitian ini peneliti akan mengambarkan dan mendeskripsikan secara objektif GDQ IDNWXDO PHQJHQDL´ SHUDQDQ RUDQJ tua dalam pendidikan anak (Studi Kasus pada Keluarga Nelayan di Desa Sungai Jaga B Kecamatan Sungai Raya Kabupaten BHQJND\DQJ´ Adapun sumber data dalam penelitian bersifat kualitatif ini sebagai berikut: ´ Menurut Satori, dkk (2011: 145) menyatakan, ³6XPEHU GDWD SULPHU DGDODK VXPEHU GDWD \DQJ ODQJVXQJ PHPEHULNDQ GDWD NHSDGD SHQJXPSXO GDWD´ Sedangkan Sumber data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya. 1) Teknik pengumpulan data adalah berupa: a. Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus GLNXPSXONDQ GDODP SHQHOLWLDQ´ 2EVHUYDVL PHUXSDNDQ PHWRGH \DQJ SDOLQJ GDVDU dan paling tua, karena dengan cara-cara tertentu kita terlibat dalam proses mengamati. b. Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab (Satori, dkk 2011:130). c. Studi dokumentasi yaitu menyimpulkan dokumen dan data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. (Satori dan Komariah, 2011: 149).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perceraian Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak Dalam Islam

Perceraian Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak Dalam Islam

Sebagai akibat bentuk pengabaian tersebut, anak menjadi bingung, resah, risau, malu, sedih, sering diliputi perasaan dendam, benci, sehingga anak menjadi kacau dan liar. Dikemudian hari mereka mencari kompensasi bagi kerisauan batin sendiri diluar lingkungan keluarga, yaitu menjadi anggota dari suatu gang kriminal; lalu melakukan banyak tindakkan amoral dan kriminal. Pelanggaran kesetiaan loyalitas terhadap patner hidup, pemutusan tali perkawinan, ketidak teraturan dalam keluarga. Semua ini juga memunculkan kecenderungan menjadi timpang pada anak-anak dan remaja. Setiap perubahan dalam relasi personal antara suami-istri menjurus pada arah konflik dan perceraian. Maka perceraian merupakan faktor penentu bagi pemunculan kasus-kasus neurotik, tingkah laku a-susila, dan kebiasaan delinkuen (tindakkan tak terpuji).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Komunikasi Interpersonal

Orang Tua dan Anak dalam Pendidikan Seksual

Komunikasi Interpersonal Orang Tua dan Anak dalam Pendidikan Seksual

meliputi seluruh aspek kehidupan, baik fisik, psi- kis maupun sosial. Kehidupan seks manusia me- nyangkut masalah kepribadian, sehingga apabila dijumpai suatu kelainan dalam kehidupan seks, sebagian besar disebabkan masalah-masalah yang bersifat psikis. Sehingga untuk dapat menyajikan pendidikan seks yang tepat dan terarah dibutuhkan peran serta orangtua sebagai orang yang terdekat dan privat untuk mengarahkan, hal ini tentunya sa- ngat tergantung dari kedekatan emosional orangtua dan anak yang diwujudkan dalam bentuk komu- nikasi interpersonal dan pola asuh yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari (Miqdad, 1997: 15). Pola asuh orangtua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Menurut Baumrind (http://wangmuba.com, diunduh 20 Agustus 2009) terdapat empat macam pola asuh orangtua, yaitu (1) Pola Asuh Demokratis; adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orangtua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat; (2) Pola Asuh Otoriter; sebaliknya cenderung me- netapkan standar yang mutlak harus dituruti, bia- sanya diikuti dengan ancaman-ancaman, misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orangtua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Orangtua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.; (3) Pola Asuh Permisif ; atau pemanja biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cende- rung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh orangtua, namun orangtua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak; (4) Pola Asuh Penelantar; Orangtua tipe ini pada umum- nya memberikan waktu dan biaya yang sangat mi- nim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribandinya, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat- hemat untuk anak mereka.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Akhlak Anak Di Keluarga

Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Akhlak Anak Di Keluarga

Orang tua adalah ayah dan ibu seorang anak,baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Pada umumnya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan dan merawat anak. Orang Tua adalah figur yang baik bagi anak-anaknya karena orang tualah yang menjadi seorang pendidik pertama kali bagi anak, anak banyak meniru dari perbuatan dan perilaku orang tua. Orang tua terkadang lupa dan mungkin belum tahu bagaimana melakukan tugas pendidikan yang mulia ini dalam keluarga. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan keluarga sangat menentukan bagaimana akhlak anak, sebelum anak keluar dari lingkungan keluarga. Jadi pendidikan akhlak yang telah didapat di rumah yang akan dijadikan tuntunan anak selanjutnya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Implementasi Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Bidang Pendidikan

Implementasi Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Bidang Pendidikan

Anak, keluarga, dan masa depan bangsa merupakan tiga hal yang saling berkaitan. Di antara tiga hal itu, keluarga mempunyai kedudukan kunci dan sentral. Perkembangan dimulai dan dimungkinkan dalam keluarga. Oleh karenanya, pengaruh keluarga amat besar pada proses perkembangan, pengembangan potensi, dan pembentukan pribadi anak. Komunikasi orang tua dengan anak, pergaulan antara orang tua dan anak, sikap pergaulan orang tua terhadap anaknya, serta rasa dan penerimaan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya akan membawa dampak pada kehidupan anak di masa kini, dan juga di hari tua. Demikian pula dengan anak ketika memasuki sekolah. Peranan dan partisipasi orang tua masih tetap dibutuhkan lewat bimbingan belajar kepada anak, pengawasan di luar jam sekolah, ataupun dalam bentuk kerjasama dengan sekolah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERSEPSI ORANG TUA TENTANG PENDIDIKAN SEKS ANAK USIA DINI.

PERSEPSI ORANG TUA TENTANG PENDIDIKAN SEKS ANAK USIA DINI.

... Iya, itu memberikan kayak semacam pengajaran atau pengenalan kepada anak tentang jenis kelaminnya anak, tingkah laku anak, sikap anak yang baik itu seperti apa. Kemarin sempat ada pelatihan guru TK, disitu memang sempat dibahas masalah seks ini. Ada salah satu orang tua yang tanya, bagaimana sih cara orang tua agar bisa menerangkan kepada anak tentang seks itu? Mungkin memang masih banyak orang tua yang merasa sungkan,merasa tabu, takutnya salahpaham jika harus menerangkan secara langsung.. lalu, dijawab seperti ini mbak, sebagai orang tua harus bisa menerangkan pada anak dengan bahasa halus dan mudah dimengerti anak, misalnya mengenalkan alat kelamin, ya harus diperkenalkan dengan istilah aslinya, agar anak memahami sejak awal (Wcr 19 S2)..
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

PERANAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK PADA KELUARGA NELAYAN

PERANAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK PADA KELUARGA NELAYAN

Dalam penelitian ini peneliti akan mengambarkan dan mendeskripsikan secara objektif dan faktual mengenai” peranan orang tua dalam pendidikan anak (Studi Kasus pada Keluarga Nelayan di Desa Sungai Jaga B Kecamatan Sungai Raya Kabupaten B engkayang” Adapun sumber data dalam penelitian bersifat kualitatif ini sebagai berikut: ” Menurut Satori, dkk (2011: 145) menyatakan, “Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”. Sedangkan Sumber data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya. 1) Teknik pengumpulan data adalah berupa: a. Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian”. Observasi merupakan metode yang paling dasar dan paling tua, karena dengan cara-cara tertentu kita terlibat dalam proses mengamati. b. Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab (Satori, dkk 2011:130). c. Studi dokumentasi yaitu menyimpulkan dokumen dan data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. (Satori dan Komariah, 2011: 149).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERANAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ANAK USIA DINI

PERANAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ANAK USIA DINI

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu daawaatin mustajaabaatun: daâwatu al-muzhluumi, watu al-musaafiri, dawatu waalidin ala walidih,” (Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.) 11 (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828). Entah apa alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya. Saking bencinya, seorang ibu bisa sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Seri pendidikan orang tua: bermain bersama anak usia dini

Seri pendidikan orang tua: bermain bersama anak usia dini

Memahami perkembangan anak akan membantu orang tua untuk memiliki ekspektasi yang wajar terhadap anak. Misalnya tidak menuntut bahwa anak usia 2 tahun dapat duduk manis selama berjam-jam atau berharap anak 3 tahun untuk tidak marah ketika mainannya direbut.

32 Baca lebih lajut

Pengalaman Orang Tua Mendampingi Anak Tunarungu Menonton Program Berita dan Makna Aktivitas Pendampingan.

Pengalaman Orang Tua Mendampingi Anak Tunarungu Menonton Program Berita dan Makna Aktivitas Pendampingan.

Shelly Dhamayanti, 210110070343, 2013. Skripsi ini berjudul “ Studi Fenomenologi mengenai Pengalaman Orang Tua Mendampingi Anak Tunarungu Menonton Program Berita dan Makna Aktivitas Pendampingan”. Pembimbing Utama Drs. H. Aceng Abdullah, M.Si dan Pembimbing Pendamping Dr. Hj. Nuryah Asri Sjafirah, S.Sos., M.Si., Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

2 Baca lebih lajut

Microsoft Word   PENTINGNYA KELEKATAN ORANG TUA DALAM INTERNAL WORKING MODEL UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK

Microsoft Word PENTINGNYA KELEKATAN ORANG TUA DALAM INTERNAL WORKING MODEL UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK

Fenomena yang terjadi sekarang ini adalah banyaknya kasus kriminal yang dilakukan oleh anak, seperti yang dijelaskan oleh Rokan (2004), anak melakukan bunuh diri disebabkan beberapa alasan, karena dimarahi orang tua, rindu ibu yang sudah meninggal dan akibat perceraian orang tua. Kondisi cukup penting untuk mendapat perhatian. Ada fenomena lain yang perlu dipikirkan bersama adalah meningkatnya permasalahan sosial anak yang juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan khususnya perbaikan gizi seperti meningkatnya jumlah anak terlantar. Menurut data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2002 terdapat anak terlantar usia 5 -18 tahun sebanyak 3.488.309 anak di 30 provinsi; sedangkan balita yang terlantar berjumlah 1.178.82 orang; anak jalanan tercatat ada 94.674 anak; anak nakal 193.155; anak yang membutuhkan perlindungan khusus sekitar 6.686.936 anak, dan yang potensial terlantar sebanyak 10.322.674 anak. Meskipun data populasi kenakalan anak di Indonesia masih berkisar 193.115 anak, namun ibarat fenomena gunung es, diduga angka kenakalan dan permasalah sosial lainnya yang sebenarnya sekitar 10 kali lipat. (Tambunan,2003).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pentingnya Pola Komunikasi Orang Tua Terhadap Perkembangan Pubertas Remaja

Pentingnya Pola Komunikasi Orang Tua Terhadap Perkembangan Pubertas Remaja

Kesiapan merupakan keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban dalam cara tertentu terhadap situasi. Menurut Hanifah Sejumlah 78 persen anak remaja mengatakan bahwa tidak ada penjelasan yang disampaikan orang tuanya tentang tanda-tanda pubertas. Apabila keluarga tidak memenuhi kebutuhan remaja yang menjalani masa pubertas, sementara remaja tersebut mengalami tahap-tahap tersulit dalam tumbuh kembangnya, maka dapat berpotensi terjadi kegagalan tumbuh kembang remaja dan menimbulkan masalah kesehatan remaja, seperti kebingungan akibat perubahan yang terjadi pada dirinya, gangguan body image, menarik diri, perilaku seks bebas, tindak kekerasan remaja, gangguan identitas seksual dan depresi. 27 Perilaku seksual berisiko, kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual merupakan dampak jangka panjang dari penurunan usia menarche. Kesiapan remaja putri dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, tingkat pengetahuan dan jumlah sumber informasi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan pengasuhan yang optimal dari orang tua untuk meluruskan persepsi anak agar anak tidak takut menarche. 28 Status kesehatan usia remaja sangatlah penting terutama kesehatan reproduksi usia remaja hingga dewasa muda. Dari sudut pandang kesehatan, tindakan menyimpang yang cenderung mengkhawatirkan bagi remaja adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas (Unprotected Sexuality), penyebaran penyakit kelamin (Sexual Transmitted Disease) dan kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak dikehendaki (Adolescent Unwanted Pregnancy). Masalah- masalah tersebut akhir-akhir ini dapat menimbulkan masalah sertaan lainnya yaitu unsafe aborsi
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Komunikasi Interpersonal Orang tua dan Anak tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Komunikasi Interpersonal Orang tua dan Anak tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Penelitian ini berjudul tentang Komunikasi Interpersonal Orang tua dan Anak Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi. Dengan memilih studi deskriptif kuantitatif, peneliti akan menggambarkan bagaimana anak, khususnya remaja berkomunikasi dengan orang tua tentang kesehatan reproduksi, dan bagaimana orang tua berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi menurut pandangan anak itu sendiri. Teori- teori yang dianggap relevan terhadap penelitian ini adalah Komunikasi, Komunikasi Interpersonal, Remaja, dan Pendidikan Kesehatan Reproduksi. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa siswi SMA Negeri 12 Medan, yang duduk di kelas kelas I (1-7) dan II ( IPA 1-6 dan IPS 1-3). Untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus Solvin (1960) (Sevilla dkk, 1993:161) dengan nilai kritis 10%, dan tingkat kepercayaan 90%, maka diperoleh sampel sebanyak 88 siswa. Teknik penarikan sampel yang digunakan ialah Proportional Stratified Random Sampling dan teknik undian. Teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan metode kuesioner (Field Research) dan metode kepustakaan (Library Research). Adapun teknik analisis datanya menggunakan analisis tabel tunggal, dengan penggunaan Statistical Product and System Solution (SPSS). Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, hampir seluruh siswa mengetahui secara benar tentang materi pendidikan kesehatan reproduksi, selain itu komunikasi interpersonal orang tua dan siswa tentang kesehatan reproduksi telah berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil dari kuesioner, masih terdapat beberapa siswa yang masih merasa malu dan segan untuk berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi, namun mayoritas siswa sudah memiliki sikap yang terbuka dengan orang tua. Sikap terbuka, percaya, mendengarkan, dan memahami telah dimiliki oleh para siswa ketika berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dengan orang tua. Terdapat beberapa siswa yang orangtuanya cenderung menaruh curiga dan memaksakan kehendak, namun itu semata demi kebaikan anaknya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL ANAK USIA DINI

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL ANAK USIA DINI

Don Operario, profesor pada Universitas Oxford di Inggris mengatakan bahwa kajian tersebut memberikan ‘bukti lebih jauh’, terhadap kegunaan pendidikan seks komprehensif dan ketidak efektifitas dari pendekatan penolakan hubungan seks saja. Bagaimanapun, kajian tersebut tidak menunjukkan bagaimana pendidik harus mengimplementasikan pendidikan seks komprehensif pada ruang kelas, demikian kata Operario, yang mempelajari pendidikan seks. ‘Kita memerlukan pemahaman lebih baik terhadap cara yang paling efektif untuk memberikan tipe pendidikan dalam rangka untuk memaksimalkan pemahaman murid dan penerimaan komunitas’, kata Operario. Maka yang menjadi permasalahan disini penulis mengambil kesimpulan bahwa permasalahan anak sangat urugen dan factual sehingga penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan kajian yaitu bagaimana pendidikan seks itu tidak dianggap tabu dikalangan anak dengan itu orang tua bisa membimbingnya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui 1) Fungsi dan Peran Penting Pendidikan Seksual Pada Anak Usia Dini, 2) Permasalahan Seksualitas Pada Anak, 3) Peran orang tua dalam pendidikan seksual pada anak usia dini
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Orang Tua dengan Anak

Orang Tua dengan Anak

Dalam psikologi, ada yang dinamakan “siklus kedukaan”. Ketika orang dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan, secara disadari atau tidak, dia akan berusaha menyangkal kondisi itu. Selain itu, orang juga bisa mewujudkan kedukaan tersebut dengan cara marah, entah marah kepada dirinya sendiri atau orang sekitar yang terdekat. Pendampingan yang bersifat netral dapat membuat orang keluar dari masa ini. Ketika kedua tahapan ini dapat diatasi, yang bersangkutan dapat masuk ke dalam tahapan perundingan. Di sini ia mulai mencari cara untuk berkompromi, mulai bisa melihat sisi positif dari kejadian yang dialaminya, dan mencari-cari jalan penyelesaiannya. Jadi, ada tahapan depresi (sedih, perasaan tertekan) dan ada tahapan dimana orang mulai bisa menerima kenyataan yang harus dihadapinya, hingga akhirnya orang tersebut masuk pada tahapan penerimaan, yaitu bisa menerima kenyataan hidup secara objektif (yang sebenarnya).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Hubungan antara Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Hubungan antara Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Fenomena tentang bentuk-bentuk pertukaran sosial yang terjadi antara orangtua dengan PAUD yaitu, setiap hari jumat di sekolah TAPAS selalu ada infaq. Infaq dalam TAPAS tidak menentukan nominal yang harus diinfaqkan, dalam arti infaq tersebut dilakukan secara sukarela. Apabila ada uang lebih orangtua biasanya juga memberi bantuan seadanya seperti alat-alat tulis. Di dalam TAPAS tidak diharuskan selalu membantu dengan uang, hal ini bukan paksaan melainkan kesadaran dari pihak orang tua sendiri. Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka secara spesifik rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini bagaimana bentuk-bentuk pertukaran sosial yang terjadi antara orangtua dengan lembaga PAUD di Taman Pembinaan Anak Sholeh (TAPAS) Gedeg, Mojokerto.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan antara Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Hubungan antara Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak 0-6 tahun, fenomena maraknya (PAUD) yang kian hari kian meningkat pertumbuhannya membuat Pendidikan Anak Usia Dini menerapkan biaya yang sangat mahal, di samping maraknya Pendidikan PAUD yang mahal ada salah satu PAUD yang di selenggarakan gratis yaitu TAPAS (Taman Pendidikan Anak Sholeh) yang ada Di Kota Mojokerto, Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, .DEXSDWHQ 0RMRNHUWR 0HODOXL PHWRGH ³Dgama dan bermain merupakan metode EHODMDU \DQJ WHUEDLN EDJL DQDN´. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pertukaran antara orangtua dengan lembaga TAPAS. Blau mengutarakan bahwa interaksi sosial yang dilakukan selalu didasarkan pada reward intrinsik dan reward ekstrinsik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. lokasi penelitian yaitu di Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Subyek dalam penelitian ini adalah ustadzah, wali Santri, pengurus dan donatur yang terdapat TAPAS, data diperoleh melalui participant observert, in-depth
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Self Control Dan Penerimaan Orang Tua Terhadap Tingkat Kecemasan Orang Tua Pada Keberhasilan Pendidikan Anak Autis

Self Control Dan Penerimaan Orang Tua Terhadap Tingkat Kecemasan Orang Tua Pada Keberhasilan Pendidikan Anak Autis

Sering kali terjadi berbagai reaksi emosional yang cukup tertekan melihat kondisi anaknya, dikarenakan kontrol pribadi orang tua yang kurang, sehingga sering kali kurang tepat dalam mengambil keputusan bagi anaknya, berbagai cara dilakukan sampai mencari berbagai second opinion dari beberapa dokter dan shopping therapi atau shopping school (pindah-pindah tempat terapi). Tingkat pengetahuan dan pendidikan orang tua mempengaruhi penerimaan orang terhadap anak yang menderita autis, proses menerima anak autis bukanlah hal mudah karena orang tua harus menghadapi segala keterbatasan yang ada pada penderita dan kenyataan bahwa autisme tidak dapat disembuhkan secara keseluruhan. Tidak jarang kondisi ini menimbulkan kecemasan orang tua terhadap masa depan dan kelangsungan pendidikanya anak autis dikedepanya nanti.. Dalam survei yang dilakukan Florida Institute of Technology tercatat sebanyak dua pertiga orang tua muda mengkhawatirkan anaknya dapat terdiagnosis Autism spectrum Disorder (ASD) (www.parentingindonesia.com, 2010).
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...