Top PDF Proposal Teaching Factory 2017

Proposal Teaching Factory 2017

Proposal Teaching Factory 2017

antara competensi based training (CBT) dan production based training (PBT). Dengan demikian untuk semua guru mata pelajaran diharapkan mengintegrasikan teaching factory pada perencanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran sehingga seluruh mata pelajaran dapat saling mendukung dan menunjang bahwa teaching factory merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas kompetensi siswa khususnya pada kompetensi skill. Bagi guru-guru produktif penekanan pembelajarannya siswa harus lebih banyak mendapatkan alokasi waktu untuk kegiatan praktik, karena esensi program teaching factory berada pada intensitas dan kapasitas siswa melakukan praktek baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan industri. Dengan demikian siswa betul-betul dibentuk dan dilatih segi kompetensi skillnya, etos kerjanya, disiplin kerja, budaya kerja. Secara intensif kegiatan itu dilakukan dan berulang sehingga kualitas lulusan sesuai dengan harapan dunia industri sehingga lulusannya akan mudah diserap oleh dunia kerja.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

B.A LELANG GAGAL Pengadaan Bahan Praktek Teaching Factory

B.A LELANG GAGAL Pengadaan Bahan Praktek Teaching Factory

Sesuai dengan hasil evaluasi tersebut diatas, dimana tidak ada penyedia yang lulus evaluasi penawaran, maka Pokja Pengadaan barang/Jasa Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong Tahun Anggaran 2017 menyatakan bahwa pelelangan gagal. Selanjutnya akan dilaksanakan pengumuman Lelang Ulang sesuai jadwal yang akan diatur kemudian.

3 Baca lebih lajut

Kata kunci: Teaching factory, Kompetensi, Kewirausahaan

Kata kunci: Teaching factory, Kompetensi, Kewirausahaan

Sementara di SMKN 4 Yogyakarta dan SMKN 5 Yogyakarta, siswa yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik wirausaha ialah siswa yang mendapatkan bantuan modal dari pemerintah daerah. Siswa diminta untuk membuat proposal usaha. Dari proposal usaha yang dibuat, guru kemudian memberikan penilaian. Jika proposal usaha yang diajukan layak dan berpotensi selanjutnya siswa akan diberikan modal untuk menjalankan usaha yang telah direncanakan tersebut. Dengan kegiatan ini, siswa juga mendapatkan pengalaman secara langsung mulai dari perencanaan, produksi, sampai dengan pemasaran dan manajemen keuangan. Contoh usaha yang berhasil dilaksanakan oleh siswa ialah pada program keahlian tekstil, jasa boga dan salon kecantikan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL TEACHING FACTORY DI SEKOLAH KEJURUAN

PENGEMBANGAN MODEL TEACHING FACTORY DI SEKOLAH KEJURUAN

Tujuan dari pembelajaran teaching factory menyadarkan bahwa mengajar siswa seharusnya lebih dari sekedar apa yang terdapat dalam buku. Peserta didik tidak hanya mempraktikan soft skill dalam pembelajaran, belajar untuk data bekerja secara tim, melatih kemampuan komunikasi secara interpersonal, tetapi juga mendapatkan pengalaman secara langsung dan latihan bekerja untuk memasuki dunia kerja. Pembelajaran teaching factory mengajarkan kepada siswa bagaimana menemukan masalah, membangun prototype, belajar membuat proposal bisnis, dan belajar untuk mempresentasikan solusi yang mereka miliki. Proses pembelajaran teaching factory peserta didik belajar tentang keterampilan yang penting untuk dikuasai, seperti bagaimana cara untuk memenuhi tingkat waktu dan dugaan-dugaan yang mungkin muncul, membangun dan bekerja dalam tim dan bekerja sama dengan beragam orang yang memiliki kemampuan dan bakat yang beragam.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Juklak Bantuan Pengembangan Teaching Factory SMK Tahun 2018

Juklak Bantuan Pengembangan Teaching Factory SMK Tahun 2018

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 11/D/BP/2017 Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Pemerintah di Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, perlu menetapkan Peraturan Kuasa Pengguna Anggaran Satuan Kerja Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan tentang Petunjuk Pelaksanaan Bantuan PemerintahTeaching Factory Tahun 2018;

22 Baca lebih lajut

09 PS 2017 Bantuan Pengembangan Teaching Factory

09 PS 2017 Bantuan Pengembangan Teaching Factory

Pola pembelajaran Teaching Factory dirancang berbasis produksi barang/jasa dengan mengadopsi dan mengadaptasi standar mutu dan prosedur kerja industri, akan memberi pengalaman pembelajaran kompetensi kontingensi terutama soft skill seperti etos kerja disiplin, jujur, bertanggungjawab, kreatif-inovatif, karakter kewirausahaan, bekerjasama, berkompetisi secara cerdas dan sebagainya. Kompetensi tersebut sangat langka diperoleh melalui pendidikan kejuruan yang diselenggarakan secara konvensional, yang pada pembelajarannya hanya dilaksanakan sampai pada pencapaian kompetensi keahlian sebagai hard skill.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

pelaksanaan teaching factory untuk meningkatkan kompetensi dan jiwa kewirausahaan siswa sekolah mene

pelaksanaan teaching factory untuk meningkatkan kompetensi dan jiwa kewirausahaan siswa sekolah mene

Sementara di SMKN 4 Yogyakarta dan SMKN 5 Yogyakarta, siswa yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik wirausaha ialah siswa yang mendapatkan bantuan modal dari pemerintah daerah. Siswa diminta untuk membuat proposal usaha. Dari proposal usaha yang dibuat, guru kemudian memberikan penilaian. Jika proposal usaha yang diajukan layak dan berpotensi selanjutnya siswa akan diberikan modal untuk menjalankan usaha yang telah direncanakan tersebut. Dengan kegiatan ini, siswa juga mendapatkan pengalaman secara langsung mulai dari perencanaan, produksi, sampai dengan pemasaran dan manajemen keuangan. Contoh usaha yang berhasil dilaksanakan oleh siswa ialah pada program keahlian tekstil, jasa boga dan salon kecantikan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Evaluasi Program Pembelajaran Teaching Factory di Sekolah USAha Perikanan Menengah

Evaluasi Program Pembelajaran Teaching Factory di Sekolah USAha Perikanan Menengah

Peserta didik yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SUPM Negeri Tegal kelas XII (kelas tiga) program keahlian teknologi pengolahan hasil perikanan yang berjumlah 33 orang. Alasan diambilnya peserta didik dari kelas xii tersebut sebagai responden, dengan pertimbangan karena mereka telah mengikuti semua materi pembelajaran secara tuntas. Berdasarkan angket yang diberikan kepada responden menunjukan untuk pertanyaan pertama tentang apakah peserta didik telah dibekali materi kewirausahaan sebelum mengikuti program pembelajaran teaching factory, semua peserta didik memilih jawaban “ya”. Selanjutnya dengan pertanyaan kedua, tentang apakah peserta didik telah dibekali pengetahuan awal proses produksi, semua peserta didik juga memberikan jawaban “Ya”. Dengan perolehan jawaban yang demikian maka dapat diindikasikan bahwa kedua indikator terkait penyiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran teaching factory di SUPM Negeri Tegal telah benar-benar dilaksanakan dengan baik.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DI SMK N 2 PENGASIH KULON PROGO

PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DI SMK N 2 PENGASIH KULON PROGO

Dalam pelaksanaan program teaching factory sekolah bersama dengan DU/DI telah berupaya maksimal dalam pemeliharaan peralatan, hal ini dapat terlihat dari pengecekan kondisi peralatan dan perlengkapan yang dilakukan secara berkala yaitu setiap satu bulan sekali, selain itu pemanfaatannya juga telah sesuai dengan fungsi masing-masing alat. Jika terjadi kerusakan alat, teknisi secara tanggap melakukan perbaikan atau penggantian. Teknisi bertanggung jawab atas perlengkapan dan peralatan sehingga penggunaannya dapat terkontrol dengan baik dan tidak mengganggu selama melaksanakan proses produksi/jasa. 5. Pengajar
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

contoh proposal teaching speaking throug

contoh proposal teaching speaking throug

problems faced in the speaking class activities and make the students more desirable to communicate and interact in many possibilities they have. Students have to use the opportunity to express their opinions and feelings and to get some information and teachers have to make a situation which can involve students in real communication. Harmer (2007:69) explain that activities in CLT typically involve students in real or realistic communication, where the successful achievement of the communicative task they are performing is at least as important as the accuracy of their language use. It show that CLT method is classifed an effective and effecient method. By using the CLT method, the teachers give enough opportunites to the students participating in teaching learning process for example in teaching speaking. Therefore, the teachers have to transform the silent in active of printed simbols into living speech. She has to make all words, phrases, and sentences in the book play a usefull part in real situation by using CLT, the teachers can ensure that the language being learned by her students is realistic and living. Moreover, the students can carry on their duties or teacher’s instruction with good humor and enjoyment.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Teaching Factory Untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

Teaching Factory Untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

memaksimalkan potensi siswanya, memfasilitasi siswanya untuk berkembang, dan mampu menciptakan kondisi yang kondusif agar siswa nyaman, senang dan tertarik untuk belajar. Teaching factory membutuhkan sosok guru yang seperti itu, tidak hanya dari gelar yang diperolehnya. Dengan demikian diharapkan teaching factory dapat terlaksana dengan baik dan menciptakan kualitas lulusan SMK yang kompeten dan siap kerja.

6 Baca lebih lajut

Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Teaching Factory Di SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo

Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Teaching Factory Di SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo

Peningkatan kualitas pendidikan juga harus menjadi perhatian semua pihak, agar bisa membantu menghasikan sumber daya yang trampil, berkarakter dan siap memasuki dunia kerja baik di industri dalam negeri maupun manca negara. Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut pembelajaran yang punya link & match dengan industri perlu dipersiapkan, untuk itu peneliti melakukan penelitian tentang Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Teaching Factory di SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo. Adapun tujuan penelitian ini adalah : Mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran berbasis Teaching Factory di SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan teaching factory di SMK RSBi Yogyakarta

Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan teaching factory di SMK RSBi Yogyakarta

Teaching factory tidak berarti adanya kegiatan pendidikan dan pelatihan disebuah perusahaan atau pabrik sebagaimana di jerman. Di Jerman kegiatan belajar mengajar dilakukan di dalam sebuah pabrik atau perusahaan sedangkan pemerintah mengajarkan materi-materi teoritik di sekolah selama satu sampai dua hari per minggu. Teaching factory adalah suatu metode pendidikan dan pelatihan yang berkebalikan dengan pola pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan di Jerman. Dalam teaching factory, sekolah melaksanakan kegiatan produksi atau layanan jasa yang merupakan bagian dari proses belajar mengajar. Dengan demikian sekolah diharuskan memiliki sebuah pabrik, workshop atau unit usaha lain untuk kegiatan pembelajaran.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Model pengelolaan teaching factory berbasis potensi sekolah dan wilayah/geografis

Model pengelolaan teaching factory berbasis potensi sekolah dan wilayah/geografis

Permasalahan terkait dengan perubahan struktur kesempatan kerja di ere revolusi industri 4.0 dan adanya kesenjangan kompetensi dihadapi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini. Program revitalisasi SMK yang saat ini berjalan memiliki peran yang sangat penting sebagai upaya menyiapkan lulusan SMK menjadi tenaga kerja terampil yang siap kerja di berbagai sektor ekonomi seperti pertanian, industri, pariwisata, bahkan ekonomi kreatif. Program ini sekaligus menjawab pemasalahan terkait penyiapan sumber daya manusia yang unggul untuk mengolah potensi ekonomi yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Teaching Factory menjadi bagian 10 langkah revitalisasi SMK yang canangkan pemerintah, namun terasa belum optimal. Pembelajaran TeFa memiliki karateristik dan penekanan pada pembekalan para peserta didik dengan kompetensi yang relevan dengan DUDI, karakter kewirausahaan (technopreneurship) dengan melibatkan DUDI sebagai mitra utama. Beberapa SMK telah sukses melaksanakan pembelajaran TeFa, namun ada juga SMK yang telah mencoba namun berhenti di jalan.
Baca lebih lanjut

269 Baca lebih lajut

Teaching factory: upaya peningkatan mutu lulusan dan strategi pendanaan di SMK

Teaching factory: upaya peningkatan mutu lulusan dan strategi pendanaan di SMK

Tefa dapat menjadi salah satu inovasi pembelajaran di sekolah untuk pengembangan kompetensi guru dan peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran model Tefa melibatkan industri mitra de[r]

106 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PENCAPAIAN KUALITAS LULUSAN D3 TEKNIK ELEKTRO DENGAN MODEL TEACHING FACTORY

PENINGKATAN PENCAPAIAN KUALITAS LULUSAN D3 TEKNIK ELEKTRO DENGAN MODEL TEACHING FACTORY

Results of the assessment showed that the implementation of teaching factory model of the learning process D3 Electrical Engineering done quite well, starting from the standard of competence, media, lecturers, students, use and maintenance, production, marketing, evaluation has been structured well enough. But there are still shortcomings in the establishment of management due to the formation of management, the management structure remains unclear resulted in the implementation of the model is less than the maximum teaching factory in the Department of Electrical Engineering D3. Implementation of teaching factory in D3 Electrical Engineering UN PGRI Kediri has been going pretty well, the resulting product has a quality worth selling, economical and multifunctional, the students are expected after graduation in addition to be absorbed in the industrialized world are working as interpreneur and employers on the products they produce so with the application of teaching factory, the quality D3 Electrical Engineering increasing
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN BALANCE SCORECARD (BSC)DALAM PENERAPAN TEACHING FACTORY DI POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA

PENGEMBANGAN BALANCE SCORECARD (BSC)DALAM PENERAPAN TEACHING FACTORY DI POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengukuran kinerja organisasi dengan menerapkan model Balanced Scorecard dimana item-item kuesionernya digali dan dikembangkan dari konsep Teaching Factory yang dilaksanakan pada Politeknik ATK Yogyakarta. Pengukuran kinerja tersebut melibatkan Dosen, Karyawan, Mahasiswa, Alumni dan Perusahaan (user) pengguna lulusan Politeknik ATK Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket, wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis statistic deskriptif kuantitatif dan dengan menafsirkan hasil pengukuran menggunakan kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) berdasarkan analisis kebutuhan, diperlukannya sistem pengukuran kinerja yang handal, komprehensif, terukur, dan berimbang di ATK Yogyakarta, seperti pengukuran kinerja menggunakan model Balanced Scorecard yang perancangannya disesuaikan dan mengadopsi konsep Teaching Factory. (2) Ditinjau dari keempat aspek Balanced Score Card, Program Studi Teknik Pengolahan Kulit (TPK) memiliki rata-rata skor kinerja yang lebih baik dari Program Studi Teknologi Pengolahan Produk Kulit (TPPK). (3). Secara keseluruhan Program Studi TPK maupun TPPK memiliki kinerja yang masuk dalam kategori baik, sehingga hal ini membuktikanbahwa kinerja organisasi Politeknik ATK Yogyakarta, berdasarkan 4 (empat) perspektif Balanced Scorecard dalam kondisi yang baik. (4) Hasil rata-rata skor Balanced ScorecardProgram Studi TPK dan Program Studi TPPK dibandingkan dengan data analisis 7 assessment parameter dalam implementasi Teaching Factory mendapatkan hasil akhir yang signifikan/ sinergis.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

OVERVIEW PELAKSANAAN TEACHING FACTORY TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA SMK MEMASUKI DUNIA INDUSTRI

OVERVIEW PELAKSANAAN TEACHING FACTORY TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA SMK MEMASUKI DUNIA INDUSTRI

Pendidikan SMK memiliki tujuan untuk mempersiapkan lulusannya dapat bersaing dalam dunia kerja sesuai jurusannya. Saat ini banyak sekali pengangguran yang diciptakan dari lulusan SMK. Hal ini dikarenakan kemampuan yang dimiliki siswa SMK tidak sesuai dengan yang diinginkan industri. Kesiapan kerja dibutuhkan oleh lulusan SMK agar dapat memilih dan mempersiapkan diri sesuai kompetensi dalam memasuki dunia kerja. Untuk itu dibutuhkan kurikulum yang dapat membentuk karakter dan kompetensi siswa yaiu kurikulum 2013. Teaching factory merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang mendukung kurikulum K13. Model teaching factory ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi produktif siswa SMK dengan menggunakan enam langkah, yaitu menerima pemberi order, menganalisa order, menyatakan kesiapan mengerjakan order, mengerjakan order, melakukan quality control, dan menyerahkan order. Pendidikan kejuruan inilah yang mempersiapkan untuk memiliki profesi yang sesuai dengan bidang keahliannya. Pendekatan yang dilakukan untuk mengetahui dampak dari teaching factory ini dengan observasi pada guru maupun siswa yang terlibat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan pengalaman mengetahui kondisi di industri dari teaching factory maka siswa dapat memiliki kesiapan kerja yang sesuai dengan industri. Kesiapan kerja yang dimiliki juga akan berpengaruh untuk mengurangi angka pengangguran yang ditimbulkan oleh lulusan SMK.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Komparasi Model Pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar

Komparasi Model Pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar

yang diterapkan kurang lebih sama, dan kedua model pembelajaran ini pada dasarnya memiliki banyak kesamaan, yaitu sama-sama berbasis proyek serta sama-sama menuntut peran aktif siswa dalam proses pembelajaran, sehingga sangat memungkinkan jika keaktifan belajar yang diperoleh juga relatif sama. Namun dalam pelaksanaan atau penerapannya, model pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning memiliki perbedaan, dimana dalam penerapan model pembelajaran Teaching Factory siswa dituntut untuk berperan sebagai penerima order atau pekerja yang akan menyelesaikan sebuah pesanan yang diberikan oleh pemberi order, sedangkan dalam model pembelajaran Project Based Learning siswa secara langsung diberikan tugas untuk membuat sebuah proyek. Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran animasi 2D dan 3D dengan menggunakan model pembelajaran Teaching Factory pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II menggunakan model pembelajaran Project Based Learning pada siswa kelas XI Multimedia SMKN 1 Janapria tahun ajaran 2019/2020, diketahui bahwa tidak ada perbedaan keaktifan belajar siswa menggunakan model pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning. Hal ini terlihat dari data keaktifan belajar siswa setelah diberikan perlakuan, untuk kelas eksperimen I nilai rata-rata keaktifan belajar sebesar 63,50 sedangkan untuk kelas eksperimen II nilai rata-rata keaktifan belajar siswa sebesar 63,37. Dari data tersebut menunjukan bahwa model
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MODEL PEMBELAJARAN TEACHING FACTORY UNTUK PENINGKATAN JIWA KEWIRAUSAHAAN PADA PENDIDIKAN VOKASI

MODEL PEMBELAJARAN TEACHING FACTORY UNTUK PENINGKATAN JIWA KEWIRAUSAHAAN PADA PENDIDIKAN VOKASI

Pemerintah terus mendorong sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk bekerjasama dengan dunia industry meningkatkan kapasitas produknya. Upaya ini selain untuk meningkatkan kompetensi siswanya dalam bidangnya, tapi juga mendorong kompetensi gurunya. Sebab, baik siswa maupun gurunya sama-sama mendapatkan peningkatan kompetensi dari hasil kerjasama dengan dunia industri. Kebijakan pengembangan Unit Teaching Factory sebagai salah satu usaha meningkatkan profesionalisme dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan guru, siswa, dan staf. Dengan adanya program Teaching
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...