Top PDF Sistem Peringatan Dini Bahaya Kebakaran pada Lahan Gambut

Sistem Peringatan Dini Bahaya Kebakaran pada Lahan Gambut

Sistem Peringatan Dini Bahaya Kebakaran pada Lahan Gambut

meningkatnya Tinggi Muka Air (TMA) yang menyebabkan rendahnya kandungan air pada lahan gambut. Penelitian ini merancang suatu sistem peringatan dini adanya potensi kebakaran pada lahan gambut. metode dilakukan dengan cara mengukur TMA serta besaran fisik lainnya seperti kelembapan tanah dan suhu udara. Pengukuran tinggi air menggunakan sensor ultrasonik yang dapat merespon setiap perubahan TMA. Data dan informasi dari sensor diolah dengan menggunakan hardware dan software agar dapat dikonversi dalam bentuk angka dan disimpan dalam memori eksternal secara periodik. Sistem informasi peringatan dini akan memberikan infomasi adanya potensi kebakaran jika hasil pengukuran sensor terhadap TMA lebih dari 40 cm. Informasi peringatan dini berupa tulisan “POTENSI BAHAYA KEBAKARAN” yang dikirimkan dengan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT PE

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT PE

Jenis-jenis pohon hutan memiliki ciri-ciri khas didalam mengantisipasi bahaya kebakaran. Secara alami jenis pohon tertentu seperti gmelina (Gmelina arborea), ampupu (Eucalyptus alba), angsana (Pterocarpus indicus) dan gamal (Gliricidia sepium) di lahan kering dapat tumbuh kembali jika terbakar. Demikian pula jenis pohon tanah-tanah (Combretocarpus imbricatus) dan galam (Malaleuca leucadendron) di lahan bergambut memiliki sifat mudah tumbuh kembali jika terbakar. Ini menunjukkan bahwa jenis-jenis tersebut tahan terhadap kebakaran walaupun batangnya telah mengalami kerusakan. Jenis-jenis pohon penekan tumbuh alang-alang dan pakisan di lahan gambut belum banyak diketahui, tetapi indikator jenis-jenis adaptif terhadap kebakaran adalah : (1) memiliki sifat tumbuh cepat, (2) dapat tumbuh kembali setelah terbakar, (3) memiliki tajuk yang tebal dan lebar, (4) memiliki daun lebar, dan (5) memiliki zat alelopati. Jenis tanaman karet (Hevea braziliensis) memiliki sifat menggugurkan daun dan bertajuk tebal tetapi berdaun kecil. Jika tidak dipelihara dengan baik tanaman ini cukup rawan terbakar. Jenis- jenis yang mulai dikembangkan seperti jenis jelutung (Dyera polyphylla), belangiran ( Shorea belangeran) dan gemor (Alseodaphne helobhylla) memiliki ciri khas masing-masing dimana memerlukan pemeliharaan intensif pada tahap awal penanaman. Hasil uji coba yang dilakukan di Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, 2 jenis pertama adalah jenis lokal yang adaptif di lahan gambut terdegradasi.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengembangan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan dan Dispersi Asap Berbasis Data Model

Pengembangan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan dan Dispersi Asap Berbasis Data Model

Sistem pembakaran yang dilakukan masyarakat biasanya telah terkendali dan cepat padam karena bagaimanapun masyarakat ingin secepatnya mengusahakan lahannya. Lahan yang lama terbakar, apalagi sampai berhari-hari menyebabkan kegiatan penanaman tertunda dan sesungguhnya hal tersebut akan sangat merugikan petani itu sendiri. Sumber asap yang kedua adalah asap non-pertanian, asap semacam ini dihasilkan oleh kegiatan pembersihan lahan pekarangan pada saat musim kemarau. Telah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa saat musim kemarau melakukan kegiatan pembersihan lahan pekarangan. Lahan pekarangan yang ditumbuhi rerumputan dibersihkan, rumput tebasan kemudian dibuat gunungan dan dibakar. Rumput hasil pembersihan lahan pekarangan biasanya masih belum kering namun langsung dilakukan pembakaran. Pembakaran rumput dalam keadaan belum kering akan menghasilkan asap yang tebal. Kegiatan semacam ini hampir dilakukan setiap rumah tangga pada saat musim kemarau sehingga apabila dikumpulkan akan menghasilkan asap tebal yang dilepaskan ke lingkungan. Sumber asap dari kegiatan non-pertanian dapat juga terjadi karena adanya bawas (semak belukar) yang terbakar. Kebakaran bawas pada saat musim kemarau akan menimbulkan kebakaran hebat, selain membakar vegetasi dan serasah dipermukaan juga berpotensi membakar lahan gambut sehingga akan menimbulkan kobaran api yang besar yang disertai kepulan asap tebal. Kebakaran semacam inilah yang merupakan penyumbang asap terbesar di wilayah Rasau Jaya.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

Realisasi Sistem Peringatan Kebakaran Melalui Layanan SMS dan MMS

Realisasi Sistem Peringatan Kebakaran Melalui Layanan SMS dan MMS

Abstrak: Kebakaran di rumah-rumah sering terjadi, hal ini disebabkan karena berbagai hal, misalnya hubungan arus pendek pada jaringan listrik atau kebocoran LPG (Liquefied Petroleum Gas). Untuk mengantisipasi hal tersebut, dibutuhkan suatu sistem yang dapat mendeteksi secara dini adanya potensi bahaya kebakaran dan juga dapat melakukan tindakan awal dalam penanganan kebakaran agar tidak meluas. Makalah ini, mengetengahkan salah satu penggunaan mikrokontroler ATMega16 pada sistem peringatan kebakaran, piranti ini menggunakan dua buah sensor untuk pendeteksian kebakaran, yaitu sensor suhu LM35 dan sensor asap AF-30. Selain dapat melakukan pendeteksian potensi kebakaran, sistem dapat melakukan tindakan awal dalam penanganan kebakaran berupa penyemprotan air melalui sprinkle, serta memiliki kemampuan mengirimkan informasi keadaan rumah berupa gambar kepada owner ketika adanya potensi kebakaran melalui layanan MMS (Multimedia Message Service). Selain itu, alarm dan penyemprot dapat diaktifkan/ non-aktifkan oleh owner melalui layanan SMS (Short Message Service). Setelah dilakukan pengujian pada sensor suhu, sensor asap, buzzer, pompa penyemprot, pengiriman/penerimaan SMS, pengiriman MMS, dan pengujian system peringatan kebakaran secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa sistem peringatan bahaya kebakaran dapat bekerja dengan baik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Penilaian Risiko Kebakaran Lahan Gambut di Sumatera

Penilaian Risiko Kebakaran Lahan Gambut di Sumatera

Deteksi lainnya untuk menyusun suatu sistem penilaian bahaya kebakaran adalah dengan menunjukkan kemungkinan terbakarnya bahan bakar untuk kondisi iklim yang beragam (Deeming 1995 dalam Hoffman et.al. 1999). Indeks kekeringan didefinisikan sebagai bilangan yang menunjukkan pengaruh bersih (net effect) dari evapotranspirasi dan presipitasi yang menghasilkan kekurangan (defisiensi) kelengasan secara kumulatif pada lapisan organik tanah yang dalam maupun pada lapisan tanah yang lebih dangkal. Karena itu, indeks kekeringan merupakan suatu jumlah atau besaran yang berhubungan dengan kemudahan terbakar (flammability) bahan organik. Contoh pada kasus ini adalah indeks kekeringan Keetch- Byram, yang dikembangkan tahun 1968 di Negara bagian Florida, Amerika Serikat. Di Indonesia sistem ini diperkenalkan oleh Deeming pada tahun 1995 di propinsi Kalimantan Timur, untuk mengukur tingkat kebakaran pada daerah-daerah di sepanjang daerah tepi pantai utara Samarinda dan Balikpapan. Sistem ini berdasarkan indeks musim kemarau Keetch-Byram dan telah terbukti sebagai alat yang baik untuk memprediksi kebakaran (Hoffman et.al. 1998).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

SISTEM PERINGATAN DINI DETEKSI DAN PEMADAM KEBAKARAN BERBASIS RASPBERRY PI

SISTEM PERINGATAN DINI DETEKSI DAN PEMADAM KEBAKARAN BERBASIS RASPBERRY PI

Kebakaran merupakan hal yang sangat sering terjadi terutama pada rumah yang ditinggal pergi oleh penghuninya. Ketika terjadi kebakaran, intensitas api saat diketahui cenderung sudah membesar sehingga sulit untuk ditanggulangi. Untuk itu pada penelitian ini telah dirancang dan dibuat suatu sistem peringatan dini pendeteksi kebakaran yang dapat menginformasikan kepada penghuni rumah. Sehingga penghuni dapat menanggulangi/mencegah terjadinya kebakaran. Pada sistem ini menitikberatkan pada metode pendeteksian kebakaran dengan menggunakan 4 buah sensor yaitu flame sensor 5 kanal, photoelectric IR break beam sensor, sensor gas MQ-5 dan MQ-7. Hal ini bertujuan untuk memperoleh tingkat keakurasian yang tinggi sehingga dapat menghindari adanya kesalahan informasi. Keluaran sistem yang berupa kondisi tingkat bahaya akan mengaktifkan pemadaman otomatis, dan disampaikan ke penghuni berupa alarm, SMS Gateway dan notifikasi email. Informasi tersebut berisi gambar kondisi ruangan sehingga dapat dimonitor jarak jauh melalui internet. Raspberry pi digunakan untuk membaca inputan sensor dan sebagai server. Hasil percobaan menunjukkan ketika tegangan flame sensor 5 kanal lebih dari 4V maka sistem mengirim SMS, email ke penghuni serta mengaktifkan alarm dan water solenoid valve untuk menyiram air. Ketika konsentrasi gas LPG diatas 1000 ppm atau CO 200 ppm maka sistem mengirm SMS ke penghuni berisi konsentrasi gas melebihi ambang batas. Sistem membutuhkan waktu untuk pengiriman SMS rata-rata 6 detik.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Prototipe Pendeteksi Titik Api Kebakaran Lahan Berbasis Arduino Uno R3 Dengan Peringatan Dini Melalui Website

Prototipe Pendeteksi Titik Api Kebakaran Lahan Berbasis Arduino Uno R3 Dengan Peringatan Dini Melalui Website

sebagai input, sensor MQ-2 mengukur ketebalan asap di sekitar node modul ESP8266 dan NRF24L01 sebagai alat pengirim dan penerima wireless dari data yang telah didapat membantu sistem dalam pengiriman hasil data ke web monitoring. Sistem website ini masih menggunakn website komunitas tidak menggunakan webserver. Dari beberapa penelitian yang ada, penulis membuat pengembangan penelitian yaitu Prototipe Pendeteksi Titik Api Kebakaran Lahan Berbasis Arduino Uno R3 Dengan Peringatan Dini Melalui Website. Elemen dasar dari munculnya api ialah adanya konsentrasi asap CO, sehingga penulis menggunakan sensor Asap MQ-2 sebagai parameter agar dapat menentukan berapa nilai ppm konsentrasi pada asap tersebut dan Falme sensor sebagai indikator yang mendeteksi adanya titk api di lahan. Menggunakan sensor DHT11 agar dapat mengetahui berapa suhu dan kelembaban di sekitar lahan . Menggunakan Module ENC28J60 sebagai protocol internet dan Module Arduino Uno R3 sebagai mikro kontroler. Sistem ini juga memiliki webserver mempunyai data base yang menyimpan semua pembacaan sensor ke MySQL Sistem pendeteksi juga dapat di akses secara online dengan mengakses website www.sipemantauhutan.id dan bekerja mendeteksi secara real time selama 24 jam. 3. Perancangan Sistem Pendeteksi kebakaran Lahan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

kebakaran di rawa lahan atau gambut di sumatra masalah dan solusi

kebakaran di rawa lahan atau gambut di sumatra masalah dan solusi

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, selama tahun 1997-2000 (didanai oleh the World Bank), Pemerintah Daerah Jambi mendapatkan dukungan dari PT Amythas yang bekerja sama dengan Wetlands International –Indonesia Programme (WI-IP) untuk mengembangkan suatu Rencana Pengelolaan Daerah Penyangga Taman Nasional Berbak. Dalam dokumen ini, direkomendasikan beberapa aksi (tindakan) berdasarkan prioritasnya. Kegiatan tersebut antara lain penanganan kebakaran di daerah penyangga termasuk penanaman tanaman tahan api, peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya dan akibat kebakaran, dan juga program pengelolaan daerah tangkapan air untuk mencegah keringnya hutan rawa gambut (lebih lengkap disajikan pada bagian Pengalaman yang diperoleh dari Proyek ISDP Berbak-Jambi 1997-2000 di bawah). Sebagai kelanjutan dari perencanaan ini, WI-IP (dengan bantuan dana dari Global Environment Facility - GEF) telah memulai mengimplementasikan beberapa aktivitas yang direkomendasikan oleh dokumen tersebut sejak Oktober 2000. Aktivitas-aktivitas tersebut antara lain kampanye penyadaran, peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan, dan peningkatan status daerah Sembilang sebagai sebuah Taman Nasional. Salah satu pertimbangan perubahan status Sembilang menjadi Taman Nasional adalah fakta bahwa letak geografisnya sangat berdekatan dengan TN Berbak di Jambi. Oleh karena itu, dengan merubah status kawasan Sembilang, pengelolaan dan koordinasi kedua kawasan ini di masa depan akan dapat lebih terkoordinasi.
Baca lebih lanjut

193 Baca lebih lajut

UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN SEBAGAI ANTISIPASI DINI TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN DI PUSDIKLAT MIGAS CEPU

UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN SEBAGAI ANTISIPASI DINI TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN DI PUSDIKLAT MIGAS CEPU

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pusdiklat Migas Cepu telah melaksanakan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran antara lain dengan penyediaan sarana pemadam kebakaran seperti APAR, hydrant, fire alarm dan pintu daruratdan usaha usaha lain seperti adanya sistem grounding, pemasangan papan peringatan sebagai antisipasi dini sebagai upaya terhadap bahaya kebakaran. Saran yang dapat diberikan adalah upaya perusahaan meningkatkan perawatan dan pengecekan sarana tersebut dengan baik agar siap pakai apabila terjadi kebakaran dan peningkatan pengawasaan terhadap upaya- upaya tersebut.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Pengadaan Barang. Pengadaan Alat Sistem Deteksi Dini Bencana Kebakaran Lahan Gambut. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa YAYASAN WWF INDONESIA

Pengadaan Barang. Pengadaan Alat Sistem Deteksi Dini Bencana Kebakaran Lahan Gambut. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa YAYASAN WWF INDONESIA

Dalam implementasinya, WWF Indonesia membagi wilayah kerja di koridor RIMBA menjadi 3 wilayah intervensi (cluster), yaitu wilayah intervensi 1 (cluster 1) yang focus pada intensifikasi komoditas perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet yang berada di luar kawasan lindung; wilayah intervensi 2 (cluster 2) yang focus pada upaya rehabilitasi lahan gambut melalui pembangunan bendungan (canal blocking) dan penghijauan di Kawasan Hutan Lindung (HL) Londerang; wilayah intervensi 3 (cluster 3) yang fokus pada peningkatan ekonomi masyarakat lewat pembangunan mikro hidro dan pengembangan komoditas kopi.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Sistem Komunikasi Peringatan Dini Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau

Sistem Komunikasi Peringatan Dini Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau

Gambar 1 memperlihatkan perkem- bangan jumlah hotspot dan luas areal yang terbakar sejak tahun 2011-2015, yang mencapai puncaknya pada tahun 2014 (KLHK, 2016). Tahun 2015 jumlah hotspot dan luas kebakaran mengalami penurunan, tetapi terjadi kabut asap di Riau yang sangat parah, yang disebabkan banyaknya kawasan terbakar di daerah sekitarnya, seperti Jambi dan Sumatra Selatan, yang asapnya mengarah ke Riau. DKPR (2015) menyebutkan faktor pemicu Karhutla di Riau dari aspek iklim dan kondisi geografis yaitu: (1) dominasi lahan gambut, (2) cuaca ekstrim, (3) kanalisasi (pengeringan) lahan gambut secara berlebihan, (4) arah angin, dan (5) pola pemukiman dan pembukaan lahan secara sporadis. Adapun aspek tata ruang dan sosial ekonomi meliputi: (1) belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Riau, (2) pilihan masyarakat untuk membuka lahan dengan membakar, (3) terbatasnya kemampuan masyarakat untuk menerapkan sistem pembukaan lahan tanpa bakar, (4) adanya perusahaan yang membuka lahan dengan membakar untuk alasan efisiensi, (5) pesatnya usaha perkebunan kelapa sawit, dan (6) tidak dijaga dan dikelolanya areal konsesi perusahaan sehingga berpotensi dikuasai masyarakat.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN GAMBUT Kajian Teologi Ekofeminisme

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN GAMBUT Kajian Teologi Ekofeminisme

Kaum ekofeminisme mengasalkan krisis ekologi ini pada suatu antroposentrisme, yang adalah juga androsentrisme. Proritas kepentingan manusia dalam masyarakat industri, khususnya kaum laki- laki yang memegang kekuasan ekonomi dan politik menjadi sebab kerusakan ekologis ini (Clifford, 2002: 365). Dalam penilaian ekofeminisme, sebab riil dari krisis ekologi adalah pola pikir dan tata nilai yang inheren termaktub di dalam sistem patriarkat. Oleh karena itu, gender, kelas, ras, dan alam, semuanya mesti secara bersama dipadukan dalam sebuah teori agar masyarakat bisa melangkah melampui patriarkat. Analisa kaum ekofeminis memberi perhatian pada pola pikir patriarkat yang tidak saja berciri hierarkis tetapi juga dualistik. Analisa hierarkis itu bersifat dualistik manakala ia menempatkan nilai yang lebih tinggi pada salah satu sisi dari pasangan berdasarkan alasan-alasan yang sewenang-wenang. Dualisme hierarkis selalu mengandaikan pola pikir “atas/bawah” yang semena-mena memberikan nilai yang lebih tinggi kepada apa yang dianggap “atas” dengan ongkos yang mesti dipikul oleh apa yang “di bawah”. Secara historis, peninggian homo sapiens selalu memakan ongkos yang ditanggung oleh spesies-spesies lain dan sumber-sumber daya alam. Oleh karena itu, dualisme hierarkis berada pada fondasi upaya manusia untuk mendominasi alam non- insani atas nama “kemajuan” sebagaimana yang didefi nisikan segmen tertentu dalam masyarakat. Segmen ini—kaum laki-laki yang memegang kekuasaan ekonomi dan politik—menentukan apa arti “kemajuan” itu dalam bingkai politik dan ekonomi (Clifford, 2002: 367). Kaum ekofeminis menuntut digantikannya gagasan dualisme hierarkis dengan paham holistik. Istilah yang dipergunakan untuk menerangkan holisme organis yang mendasari ekofeminis ini adalah “jaring kehidupan”. Jaring kehidupan secara lebih persis dan konkret memperlihatkan relasi kekerabatan spesies manusia dengan alam seluruhnya. Holisme egalitarian adalah sejenis kesadaran yang mengakui bahwa semua bagian dari alam ini saling bergantung dan saling bertaut, suatu jaring keragaman yang saling berpaut dan rumit. Masing-masing tahap dari setiap ekosistem yang menjadi biosfer memiliki nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Holisme egalitarian tidak memaksudkan suatu kesetaraan di antara berbagai spesies sehingga membuat segala sesuatu kepada keseragaman. Masing-masingnya memiliki suatu peran untuk dimainkan di dalam jaring kehidupan ini (Clifford, 2002: 368).
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Penyuluhan kampanye peringatan Bahaya Rokok

Penyuluhan kampanye peringatan Bahaya Rokok

Melihat perilaku remaja saat ini dimana merokok bukanlah sesuatu yang asing lagi namun sudah menjadi sesuatu yang lumrah, maka untuk mencegah semakin meningkatnya konsumsi rokok dikalangan remaja mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo (UHO) mengadakan kegiatan penyuluhan tentang “Bahaya Rokok” pada siswa/siswi tingkat SMP di kota Kendari. Penyuluhan ini bertujuan untuk mempromosikan tentang bahaya rokok bagi tubuh. Penyuluhan dilakukan di tingkat SMP karena seperti yang kita lihat pada zaman sekarang merokok bukan hanya terjadi di kalangan orang dewasa namun sudah marak di kalangan anak remaja.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Peringatan Bahaya Rokok Bergamb

Pengaruh Peringatan Bahaya Rokok Bergamb

Dalam hal memasarkannya perusahaan rokok melakukan berbagai cara untuk menarik minat perokok untuk mengkonsumsi rokok yang dijualnya. Mulai dengan iklan menggunakan media televisi, penggunaan billboard, menggunakan bungkus rokok yang menarik bagi perokok dan lain sebagainya. Di Indonesia saja masih banyak iklan rokok yang ditampilkan di televisi tanpa ada batasan jam pemunculan iklan tersebut. Sehingga aturan Permenkes dinilai mandul dalam membatasi iklan rokok. Sejak 24 Juni 2014 telah diterapkan pula peringatan bahaya rokok yang baru yang memiliki gambar. Aturan penempelan gambar bahaya merokok itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 109/2012. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah menyosialisasikan lima gambar yang dipasang di bagian ’’kepala’’ bungkus rokok. (kompas.com) Oleh karena itulah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peringatan bahaya rokok bergambar yang kini diterapkan oleh pemerintah terhadap intensi berhenti merokok.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

kampanye peringatan Bahaya rokok artikel

kampanye peringatan Bahaya rokok artikel

Seharunya pelajar belum dan mungkin lebih baik tidak bisa merokok hingga ke masa depannya, namun fakta berbicara lain. Justru yang paling banyak merokok adalah mereka yang berstatus pelajar. Maka tidak heran, ada banyak makalah bahaya merokok bagi pelajar yang terus-menerus ditulis. Menarik memang. Alasan seorang pelajar akhirnya merokok sangat beragam, setidaknya kami ringkas sebagai berikut:

9 Baca lebih lajut

PENGENDALIAN BAHAYA KEBAKARAN MELALUI OP

PENGENDALIAN BAHAYA KEBAKARAN MELALUI OP

Terjadinya bencana kebakaran di kota kota besar di Indonesia terutama dikawasan perumahan jumlahnya meningkat dengan cukup cepat. Kawasan perumahan yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi dan jarak antar rumah yang cukup rapat, merupakan salah satu tempat yang sering mendapat bencana tersebut. Penataan lahan perumahan yang mendukung terhadap pengendalian bencana kebakaran dirasa sangat diperlukan. Penelitian ini akan mengkaji undang undang dan peraturan pemerintah lainnya serta standar nasional Indonesia yang terkait dengan pengelolaan kawasan perumahan dan bencana kebakaran. Perbandingan tata kelola lahan perumahan dengan negara lainnya juga ditampilkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas. Selanjutnya juga diberikan rekomendasi agar pengelolaan tata lahan perumahan dapat mendukung terhadap pengendalian bahaya kebakaran.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Sifat Fisik Dan Kimia Asap Kebakaran Vegetasi Di Atas Lahan Gambut Skala Laboratorium

Analisis Sifat Fisik Dan Kimia Asap Kebakaran Vegetasi Di Atas Lahan Gambut Skala Laboratorium

Faktor biofisik dari kebakaran hutan adalah ketinggian. Ketinggian memiliki efek negatif terhadap kebakaran hutan. Semakin tinggi suatu daerah maka intensitas terjadinya kebakaran akan berkurang. Ketinggian mempengaruhi iklim dan suhu. Ketinggian juga berkorelasi dengan kepadatan penduduk, daerah yang tinggi cenderung kurang penduduknya dan karena itu aktivitas manusia pun kurang. Hujan juga memiliki pengaruh yang sama seperti ketinggian, intensitas hujan yang tinggi membuat hutan menjadi lembab (Hadi 2008). Peristiwa kebakaran pada umumnya sangat sulit dibuktikan karena selalu dimulai dengan adanya api kecil yang berawal dari kelalaian pengguna api rutin saat pembakaran lahan, peristiwa yang bersifat insidentil seperti pembakaran akibat tujuan kriminal, punting rokok, dan peristiwa alam. Sumber-sumber api utama lahan di masyarakat yang tertinggi adalah bersumber dari kegiatan petani ladang dan penangkap ikan (Akbar et al. 2011)
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Spatio-Temporal Sequential Pattern Mining Untuk Deteksi Dini Kebakaran Pada Lahan Gambut Di Provinsi Riau

Spatio-Temporal Sequential Pattern Mining Untuk Deteksi Dini Kebakaran Pada Lahan Gambut Di Provinsi Riau

Berdasarkan beberapa penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola sequential dapat ditemukan dari data spatio-temporal seperti titik panas dan pola sequential yang dihasilkan dapat digunakan untuk memprediksi kemunculan titik panas atau kebakaran dan deteksi dini pada kebakaran. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengambil topik tentang pemanfaatan data spatio-temporal untuk melakukan deteksi dini kebakaran pada lahan gambut berdasarkan pola sequential dari data spatio-temporal-nya. Teknik data mining yang akan digunakan adalah algoritme Douglas-Peucker dan substring tree structure, seperti yang diusulkan oleh Cao et al. (2005). Keluaran dari teknik ini adalah pola sequential kemunculan titik panas di lahan gambut di provinsi Riau. Studi kasus akan difokuskan pada provinsi Riau dengan data berupa data titik panas tahun 2000 sampai 2015 yang diperoleh dari FIRMS. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak terkait dalam melakukan deteksi dini dan pengendalian kebakaran di lahan gambut di provinsi Riau berdasarkan aspek spasial dan temporalnya.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Kajian Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran di Kompleks Pasar Johar Semarang

Kajian Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran di Kompleks Pasar Johar Semarang

Pasar Johar area can become an example of building complex with some problems related to its function as market and relate to preventative utility of fire.. Network utility which are n[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...