Top PDF Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Pemeriksaan fisik keadaan umum pasien lemah. Tingkat kesadaran composmentis: Tanda-tanda vital Respiration 34 x/menit, pasien mengalami takikardi dikarenakan Nadi 112x/menit, normal anak (70- 11x/menit), Suhu 39 0 C. Berat badan 12 Kg, berdasarkan WHO berat badan ideal anak usia 3 tahun adalah 11,3 s/d 16,2kg dan tinggi badan 80 cm, lingkar kepala 45 cm. Untuk pemeriksaan tanda-tanda vital pada anak nilai normal dari masing-masing tanda vital tersebut yaitu suhu tubuh 36,5 – 37,5 o C, RR 20-30 kali/menit (Alimul, 2010). IMT : 3,60 X 2 + 8= 15,2 Kg Pemeriksaan kepala mesochepal, rambut hitam. Mata konjungtiva tidak anemis. Telinga simetris,bersih adaserumen. Hidung bersih, ada serumen. Mulut mukosa kering, mulut bersih dan gigi bersih. Leher tidak ada pembekakan tiroid. Dada (thoraks) inspeksi pengembangan dada kanan dan kiri simetris, tidak ada retraksi dada, palpasi tidak ada nyeri tekan, perkusi sonor, auskultasi tidak ada suara napas tambahan. Hal ini membuktikan bahwa pasien mengalami infeksi saluran napas non pneumonia yang ditandai dengan tidak adanya retraksi dada bagian bawah ke arah dalam, dan tidak ada napas cepat (Widoyono, 2008).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

11 PENGARUH PEMBERIAN NAFAS DALAM DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP KEBERSIHAN JALAN NAFAS PADA ANAK INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA)

11 PENGARUH PEMBERIAN NAFAS DALAM DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP KEBERSIHAN JALAN NAFAS PADA ANAK INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA)

Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasy experiment) dengan Nonequivalent Pretest-Posttest Design adalah untuk mengetahui kebersihan jalan nafas kelompok eksperimen perlakuan nafas dalam dan batuk efektif pada anak ISPA di Puskesmas Dau Malang.Sampel pada penelitian ini sebanyak 15 orang anak ISPA yang mengunjungi Puskesmas Dau Malang. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampling secara Quota Sampling, dimana pengambilan sampel disesuaikan dengan proporsi yang ditentukan yaitu sebanyak 15 anak yang diberikan perlakuan nafas dalam dan batuk elektif. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah anak yang mengalami ISPA, anak usia 6 – 8 tahun, ibu bersedia membimbing anak melakukan tindakan pemberian nafas dalam dan batuk efektif selama 3 kali sehari (pagi, siang dan sore) dalam 3 hari, diagnosa medis ISPA, sadar, dan dapat mengikuti perintah. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pemberian
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

ini dipicu oleh gangguan pada mekanisme alami tubuh manusia, namun sebagian besar disebabkan oleh virus. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya karena sistem kekebalan tubuh akan membentuk perlawanan untuk membunuh virus-virus tersebut (Setyanto, 2011). Pada pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut sering mengalami pilek atau dalam bahasa medis disebut rinitis. Rinitis merupakan iritasi atau peradangan mukosa hidung yang ditandai dengan sekret yang mengalir melalui hidung, hidung tersumbat, dan disertai dengan bersin, gatal pada hidung. Saat mengalami gatal-gatal pada hidung pasien seringkali mengusap hidungnya terlalu kencang, serta menekan hidung terlalu kuat saat mengeluarkan sekret melalui hidung. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya rinitis (Handy, 2017). Riwayat kesehatan sekarang, ibu pasien mengatakan An.Z panas sejak tanggal 7 Februari 2017 tepatnya saat malam hari lalu pada tanggal 8 februari 2017 jam 09.45 diperiksakan ke puskesmas. Demam pada ISPA terjadi karena infeksi bakteri, virus atau patogen lain yang merangsang pelepasan pirogen endogenus (interleukin, faktor nekrosis tumor, dan interferon), pirogen ini bekerja di hipotalamus yang merupakan tempat pemicu produksi prostaglandin yang menimbulkan respon dingin menyebabkan gigil, vasokonstriksi, dan penurunan perfusi perifer untuk membantu menurunkan kehilangan panas dan memungkinkan suhu tubuh meningkat ke nilai acuan yang baru (Kyle, 2015). Demam dengan suhu mencapai 39,5 o sampai 40,5 o C, anoreksia merupakan hal yang umum yang disertai dengan penyakit masa kanak-kanak, muntah bersamaan dengan penyakit , sumbatan nasal yang dapat mempengaruhi pernapasan, keluaran nasal yang munngkin konsistensinya encer atau kental tergantung pada tipe dan tahap infeksi, serta batuk yang menjadi gambaran umum dari penyakit pernapasan serta menjadi bukti selama fase akut, sakit tenggorok merupakan keluhan anak yang paling sering ditandai dengan menolak untuk minum atau makan per oral (Wong, 2008).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan ISPA.

Upaya Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan ISPA.

Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi faktor resiko yang dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian anak. Penyebab terjadinya infeksi saluran pernapasan akut dikarenakan bakteri dan virus yang mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan dengan ditandai munculnya gejala demam, batuk, hidung tersumbat dan adanya suara tambahan. Masalah yang sering muncul pada pasien ISPA yaitu ketidakefektifan bersihan jalan napas. Pravelensi ISPA di provinsi Jawa Tengah berjumlah 3,6%. Tujuan penelitian untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien ISPA dengan melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa, intervensi keperawatan, melakukan implementasi, dan mengevaluasi tindakan yang dilakukan. Metode penelitian dengan menggunakan metode deskriptif pada tanggal 09 -11 Februari 2017 melalui pendekatan studi kasus. Dalam memperoleh data, penulis menggunakan beberapa cara diantaranya melalui rekam medik, wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi dari jurnal maupun buku. Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x jam kunjungan dengan intervensi teknik semi fowler, inhalasi uap manual dan fisioterapi dada didapatkan hasil ketidakefektifan bersihan jalan nafas teratasi. Kesimpulan bahwa teknik semi fowler, inhalasi uap manual dan fisioterapi dada terbukti efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas pada anak ISPA. Teknik ini dapat dilakukan kapan saja dan baik karena tidak memiliki efek samping. Kata Kunci : bersihan jalan napas, inhalasi manual, fisioterapi dada.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut) mempunyai gejala yang ringan biasanya diawali dengan demam, batuk, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan.Anak bayi dan balita tidak dapat mengatur bersihan jalan napas secara memadai sehingga anak bayi dan balita dengan ISPA bila tidak segera ditangani akan tidak efektif bersihan jalan napasnya. anak bayi dan balita yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas beresiko tinggi untuk sesak napas dan meninggal. Metode yang dapat dilakukan untuk menangani bersihan jalan napas ini sesuai dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kebersihan jalan napas, salah satu tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dengan mandiri adalah dengan inhalasi uap, fisioterapi dadadan batuk efektif. Setelah melakukan tindakan mandiri inhalasi uap, fisioterapi dada dan batuk efektif sputum dapat keluar maka dapat disimpulkan bahwa bersihan jalan napas dapat teratasi. Intervensi dilanjutkan ibu pasien secara mandiri di rumah untuk memberika inhalasi uap,fisioterapi dada dan batuk efektif jika anaknya kambuh lagi.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG MENGALAMI ISPA DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI RUANG ANAK RSUD BANGIL PASURUAN

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG MENGALAMI ISPA DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI RUANG ANAK RSUD BANGIL PASURUAN

ISPA merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang salah satu atau lebih dari saluran pernapasan mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksinya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Kemenkes, 2010). ISPA di sebabkan oleh virus, bakteri dan reketsia (Widoyono,2011:204), dan infeksi ini paling sering terjadi pada anak karena beberapa faktor seperti terpapar asap rokok, pencemaran lingkungan, makanan yang kurang bersih dan lain-lain, anak akan mengalami masalah pernafasan berupa sesak nafas, kesulitan bernafas, batuk dan bentuk-bentuk masalah lainnya sebagai akibat infeksi saluran pernafasan. Karena itu masalah yang berhubungan dengan pernafasan pada ISPA yang paling utama adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas, yang pada akhirnya akan mengganggu sistem pernafasan klien (Saputri,2013).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BRON

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BRON

Ibu klien mengatakan sebelum masuk di ruang alamanda anaknya dirawat di RS mesuji selama 4 hari dengan keluhan sesak, kejang, dan batuk. Klien mempunyai riwayat ISPA pada tanggal 24 Oktober 2017 pukul 00.10 wib dibawa ke IGD RSUD Dr.H. Abdul Moeloek oleh keluarganya dikarenakan sesak semakin bertambah dan tidak ada perubahan. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan RR: 26 x /menit, suhu: 37 o c, nadi120 x /menit .

27 Baca lebih lajut

UPAYA MEMPERTAHANKAN BERSIHAN JALAN NAPA

UPAYA MEMPERTAHANKAN BERSIHAN JALAN NAPA

Keluhan utama, pasien batuk produktif dan tidak bisa mengeluarkan dahak. Batuk merupakan mekanisme membersihkan saluran nafas dan suatu reaksi pertahanan tubuh yang dapat melindungi paru-paru (Susanti, Kountul & Buntuan, 2013). Batuk merupakan suatu refleks pertahanan yang timbul karena adanya iritasi pada trakeobronkial. Batuk juga merupakan suatu proses infeksius karena adanya virus maupun bakteri (Saputra, 2010). Masa inkubasi kuman Microbacterium tuberkulosis bervariasi selama 2-12 minggu, namun dapat berlangsung selama 4-8 minggu. Selama masa inkubasi, kuman dapat memperbanyak diri hingga mencapai jumlah 10 3 -10 4 (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2012). Microbacterium tuberkulosis lebih sering menyerang bagian apeks paru atau pada bagian lobus bawah dekat pleura, kemudian bakteri akan difagosit oleh makrofag, namun ada sebagian kuman yang tidak bisa dihancurkan sehingga kuman TB dapat membentuk lesi ditempat tersebut yang dinamakan fokus primer ghon (Black & Hawks, 2014).. Lokasi infeksi primer ini dapat membentuk rongga yang berisi massa seperti keju yang terdiri atas basil tuberkel, limfosit yang mati dan jaringan paru nekrotik, kemudian material ini dapat menuju saluran trakeobronkial sehingga kuman akan dikeluarkan oleh tubuh melalui mekanisme batuk sebagai suatu respon fisiologis.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Keefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Di RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro.

Upaya Meningkatkan Keefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Di RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro.

Tindakan yang keempat yaitu mengajarkan klien nafas diafragma, latihan ini bertujuan untuk mengurangi serta mengontrol sesak nafas yang terjadi juga memperbaiki ventilasi (pertukaran gas) tanpa meningkatkan kerja pernafasan, nafas diafragma dilakukan dengan cara tangan berada di otot-otot diafragma yaitu di Prosesus Xipoideus (PX) yang merupakan bagian bawah tulang dada/sternum kemudian tarik nafas melalui hidung dan tahan 3 hitungan rasakan pengembangan otot-otot diafragma (perut) lalu hembuskan (Khotimah, 2013). Selanjutnya mengajarkan latihan nafas dalam dan batuk efektif, nafas dalam berfungsi untuk membuka jalan nafas yang mengalami perlengketan dan membuat mukus masuk ke dalam saluran nafas besar untuk di keluarkan, nafas dalam dilakukan dengan cara menghirup udara melalui hidung secara perlahan dan mengeluarkannya melalui mulut dengan mulut seperti meniup (Smeltzer & Bare, 2013). Batuk efektif merupakan salah satu tindakan keperawatan yang efektif untuk membantu mengeluarkan dahak yang melekat pada jalan nafas dan menjaga paru-paru tetap bersih jika batuk efektif dilakukan dengan benar (Muttaqin, 2008). Batuk efektif dilakukan dengan cara menarik nafas kemudian ditahan 3-5 detik setelah itu hembuskan secara perlahan, ambil nafas yang kedua dan menginstruksikan kepada pasien untuk mulai membatukkan kuat dari dada dengan hentakan lembut 2x batuk dan tampung dahak pada pot sputum (Priyanto, 2010).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Tuberkulosis Paru.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Tuberkulosis Paru.

batuk efektif dengan meminta pasien nafas dalam terlebih dahulu dengan satu tangan diletakan pada dada dan tangan yang lain diletakan pada perut, yang mana bagian yang mengembang adalah abdomen, kemudian meminta pasien menghirup nafas dari hidung selama 2 detik dan menghembuskannya lewat mulut, dilakukan sebanyak 3 kali dan pada nafas dalam yang ketiga saat ekspirasi meminta pasien membatukan dengan kuat didapatkan hasil dahak tidak keluar. Apabila pasien anak belum mampu melakukan batuk efektif, perawat dapat memposisikan anak dengan posisi posterior basal segmen atau posisi kaki lebih tinggi dari kepala yang dapat dilakukan dengan meletakan bantal atau alat bantu lainnya dibawah kaki sehingga memudahkan dahak untuk keluar (Harden, 2009). 3.6.4 Keempat, penulis menganjurkan pasien untuk meminum air hangat
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Keefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik.

Upaya Meningkatkan Keefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik.

Penulis mengambil dan menguraikan mengenai: Upaya meningkatkan bersihan jalan nafas pada pasien penyakit paru obstruktif kronik. Upaya meningkatkan kebersihan jalan nafas berdasarkan pemberian asuhan keperawatan ini dilaksanakan pada tanggal 12-14 Februari 2017 mulai dari pengkajian, analisa data, prioritas diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi. Komponen kunci dan pondasi proses keperawatan adalah pengkajian. Dilakukan pengkajian pada hari Sabtu 12 Februari 2017 di rumah sakit. Sumber yang diperoleh dari status pasien wawancara dengan pasien dan keluarga pasien. Data yang di peroleh sebagai berikut: umur 91 tahun, jenis kelamin laki-laki, agama islam, pekerjaan wirausaha, suku Jawa, masuk ruang HCU tanggal 12 Februari 2017, diagnosa medis PPOK, penanggung jawab pasien: umur 55 tahun, jenis kelamin laki-laki, agama islam, pekerjaan wirausaha, pendidikan SMA, suku Jawa. Hubungan dengan pasien anak. Alasan pasien masuk rumah sakit: pasien mengeluh sesak nafas dan batuk.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Upaya Memperbaiki Kebersihan Jalan Nafas Pada Pasien Pneumonia.

Upaya Memperbaiki Kebersihan Jalan Nafas Pada Pasien Pneumonia.

Penyebab pneumonia yaitu Streptococcus pneumonia merupakan flora normal pada kerongkongan manusia sehat. Ketika daya tahan tubuh mengalami penurunan yang dapat disebabkan karena usia tua, masalah gizi, maupun gangguan kesehatan, bakteri tersebut dapat memperbanyak diri setelah menginfeksi. Infeksi yang terjadi pada individu umumnya dapat menimbulkan gejala panas tinggi, nafas terengah, berkeringat, dan denyut jantung meningkat cepat. Akibatnya bibir dan kuku dapat membiru karena tubuh mengalami kekurangan oksigen. Bahkan pada kasus yang parah, pasien akan menunjukan gejala menggigil, mengeluarkan lendir hijau saat batuk, serta nyeri pada dada (Misnadiarly, 2008)
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENGERTIAN Bronchopneumoni | Karya Tulis Ilmiah

PENGERTIAN Bronchopneumoni | Karya Tulis Ilmiah

Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mngakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. Secara singkat patofisiologi dapat digambarkan pada skema proses.

19 Baca lebih lajut

PENGERTIAN Bronchopneumoni

PENGERTIAN Bronchopneumoni

Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mngakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. Secara singkat patofisiologi dapat digambarkan pada skema proses.

9 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK BRONKOPNEUMONIA DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI RUANGAN ZAM- ZAM RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH SURABAYA

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK BRONKOPNEUMONIA DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI RUANGAN ZAM- ZAM RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH SURABAYA

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas segala rahmat hidayat dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Anak Bronkopneumonia dengan Ketidakefektifan bersihan jalan nafas di ruang Zam-Zam Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya. Adapun tujuan dari karya tulis ilmiah ini adalah untuk melaksanakan tugas akhir asuhan keperawatan anak dengan bronkopneumonia.

15 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BRONKITIS DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS (Bronkitis Dengan Masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas) - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BRONKITIS DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS (Bronkitis Dengan Masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas) - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas. NIC airway management antara lain buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thust bila perlu, posisikan klien intuk memaksimalkan ventilasi, identifikasi klien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan, pasang mayo bila perlu, lakukan fisioterapi dada bila perlu, keluarkan secret dengan batuk dan suction, auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan, lakukan suction pada mayo, berikan bronkodilator bila perlu, berikan pelembab udara kassa basah NaCl lembab, atur intake atau cairan mengoptimalkan keseimbangan dan monitor respirasi dan status O2.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif

Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif

NOC Label: - Respiratory Status : Gas exchange - Respiratory Status : ventilation - Vital Sign Status Kriteria Hasil : - Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang ad[r]

11 Baca lebih lajut

Contusio Pulmonum Trauma Abdomen

Contusio Pulmonum Trauma Abdomen

Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan nafa[r]

25 Baca lebih lajut

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GAGAL NAFAS (BANTUAN VENTILASI MEKANIK) | Karya Tulis Ilmiah LP LK Gagal Napas

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GAGAL NAFAS (BANTUAN VENTILASI MEKANIK) | Karya Tulis Ilmiah LP LK Gagal Napas

Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan nafa[r]

23 Baca lebih lajut

Askep ventilator gagal napas

Askep ventilator gagal napas

Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan nafa[r]

21 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...