HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. a. Hasil Analisis Teks
Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil analisis data pada level teks. Terdapat beberapa bagian dari teks berita berjudul “Hitungan Cepat, Gatot-T Erry Unggul dalam Satu Putaran” yang dikutip dalam analisis teks. Bagian-bagian teks berita dikutip dan dikaji dengan menggunakan metode linguistik kritis.
UNSUR DATA dan HAL YANG DILIHAT
Representasi dalam anak kalimat
1. “Gatot-T Erry Unggul Dalam Satu Putaran”.
Penggunaan pola S-P pada anak kalimat ini menjadikannya terlihat sebagai sebuah peristiwa (penting). Dalam hal ini, aktor (Gatot-T Erry) ditampilkan sebagai subjek untuk menonjolkan kehadirannya dalam teks. Di sini terlihat bagaimana pasangan Ganteng, yang merupakan pihak yang menjadi representasi tokoh politik dari ideologi politik penulis, ditampilkan dengan kesan yang kuat. Pada penulisan di halaman surat kabar, ukuran font pada kalimat “Gatot-T Erry Unggul Dalam Satu Putaran” juga dibuat lebih besar dibanding anak kalimat yang lain.
2. “Keunggulan pasangan ini hampir di seluruh kabupaten/kota”.
Penggunaan kata hampir dalam kalimat ini terkesan berlebihan, mengingat kata hampir di atas menggantikan kata sepuluh (kabupaten/kota) dari 25 kabupaten/kota yang ada. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa penulis merasa senang dengan keunggulan
pasangan (Ganteng) tersebut, sehingga mempengaruhi pemilihan kata yang dipakai.
3. “...di Pemilukada Sumut ini mereka melihat ada kejutan”.
Penggunaan kata kejutan (kata benda/nomina) menunjukkan bahwa penulis ingin menonjolkan kata “kejutan” di dalam kalimat ini. Adanya “kejutan” akan mengalami sedikit degradasi penonjolan seandainya dibuat menjadi kata kerja. Contoh: “....di Pemilukada Sumut ini mereka terkejut melihat...”
4. “...KPU menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh masyarakat Sumut...”.
Penggunaan kata KPU dalam kalimat ini menggantikan kata Irham Buana Nasution sebagai aktor aktualnya. Hal ini dilakukan untuk menampilkan keberadaan serta citra positif lembaga pemerintah itu di dalam teks.
5. “Proses ini pertaruhan yang sangat penting bagi KPU untuk membuktikan kepada khalayak ramai bahwa KPU bisa bekerja netral, imparsial, dan profesional.”
Tampak adanya dramatisasi pada kalimat ini dengan penggunaan kata pertaruhan. Hal ini menciptakan asosiasi bahwa KPU adalah lembaga yang tidak main-main dalam mengurus proses pemilu atau pemilukada. Kalimat ini menampilkan citra positif dari KPU dan (mungkin) sekaligus mengantisipasi skeptisime di dalam masyarakat.
Representasi dalam kombinasi anak kalimat
1. Pasangan Effendi Simbolon-Jumiran malah melakukan lompatan drastis bahkan mengalahkan pasangan Gus Irawan-Soekirman.
Penggunaan anak kalimat “bahkan mengalahkan pasangan Gus Irawan-Soekirman” memberikan penegasan terhadap
frasa lompatan drastis yang dialami pasangan Effendi Simbolon-Jumiran. Dalam pandangan masyarakat, termasuk penulis berita ini, barangkali pasangan Gus Irawan-Soekirman merupakan calon pasangan yang akan meraih suara tinggi.
2. “Gatot-T Erry, yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hanura, Patriot, dan PKNU ini, juga unggul di...”
Penyisipan anak kalimat “yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hanura, Patriot, dan PKNU ini” menciptakan koherensi lokal yang membentuk sebuah pengertian tertentu. Bisa jadi, kalimat ini dimaknai dengan: Karena diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hanura, Patriot, dan PKNU, maka pasangan Ganteng berhasil menang. Atau bisa pula: Dengan modal dukungan dari partai-partai sederhana seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hanura, Patriot, dan PKNU, pasangan Ganteng ternyata mampu menang.
3. “Di seluruh TPS, tak ada gangguan keamanan yang terjadi karena disebabkan konflik horizontal, atau karena masyarakat yang keberatan karena tidak bisa memilih.”
Gabungan antara anak kalimat yang berupa fakta “tak ada gangguan keamanan yang terjadi” dengan fakta lain “konflik horizontal atau masyarakat yang keberatan karena tidak bisa memilih” menciptakan koherensi yang menunjukkan ideologi dari penulis. Konflik horizontal atau masyarakat yang keberatan karena tidak bisa memilih dipandang sebagai hal yang dapat menyebabkan terganggunya keamanan Pemilukada. Hal tersebut memang wajar dan sangat memungkinkan. Tetapi dengan penampilan seperti dalam gabungan anak kalimat di atas, akan terlihat bahwa penulis, dalam hal ini, telah mendiskreditkan masyarakat. Masyarakat (awam) dianggap sebagai kelompok yang cenderung membuat
keonaran atau kerusuhan.
Representasi dalam rangkaian antarkalimat
1. Pasangan nomor urut 5, Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi unggul dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Sumatera Utara berdasarkan hitungan cepat (quick
count) sejumlah lembaga survei, Kamis
(7/3). Keunggulan pasangan ini hampir di seluruh kabupaten/kota.
Kalimat pertama “Pasangan nomor urut 5, Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi unggul dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Sumatera Utara berdasarkan hitungan cepat (quick count) sejumlah lembaga survei, Kamis (7/3)” dan kalimat kedua “Keunggulan pasangan ini hampir di seluruh kabupaten/kota” terangkai membentuk suatu pengertian bahwa keunggulan pasangan Ganteng sangat dominan.
2. “Data sampel yang masuk 98,92 persen pada pukul 16.15 WIB. Hasilnya, pasangan Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi dipastikan menang satu putaran,” sebut Manajer Research LSI Setia Darma dalam siaran pers quick
count di salah satu hotel di Medan,
Kamis (7/3). Berdasarkan sampling error berkisar satu persen, katanya, maka perolehan pasangan Gatot-Erry tetap di atas 30 persen, baik error-nya naik atau kurang satu persen.”
Rangkaian antar kalimat di atas membentuk suatu pengertian yang seluruhnya mempertegas kemenangan calon pasangan Ganteng.
3. Terkait hasil quick count yang disampaikan dari sejumlah lembaga survei, KPU menyatakan tidak terpengaruh dan tidak berpedoman kepada hasil lembaga-lembaga quick
count, karena bukan merupakan hasil
yang sesungguhnya dari proses penghitungan suara. Karena hasil
seluruhnya nanti melalui proses manual yang dilakukan penyelenggara di seluruh tingkatan, dimulai dari perhitungan suara di TPS, PPS, PPK, KPU kabupaten/kota, dan akhirnya KPU Provinsi.
Dalam rangkaian antar kalimat di atas, terdapat dua pihak (partisipan) yang ditampilkan, yaitu lembaga survei dan KPU. Di antara dua partisipan tersebut, ada yang lebih ditonjolkan daripada yang lain. Partisipan yang lebih ditonjolkan dalam kalimat tersebut adalah KPU. Hal ini terlihat dari penggunaan kalimat yang didominasi oleh pernyataan KPU tentang peristiwa Pemilukada tersebut. Lembaga survei hanya ditampilkan sebagai partisipan pasif.
Relasi
1. “Data sampel yang masuk 98,92 persen pada pukul 16.15 WIB. Hasilnya, pasangan Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi dipastikan menang satu putaran,” sebut Manajer Research LSI Setia Darma dalam siaran pers quick
count di salah satu hotel di Medan,
Kamis (7/3).
Penyisipan kutipan langsung oleh Manajer Research LSI Setia Darma seperti kalimat di atas menunjukkan bahwa terdapat relasi/hubungan yang setara antara wartawan dengan Manajer Research LSI sebagai partisipan publik. Selain itu, di seluruh bagian teks berita, tidak ada tertulis sesuatu yang merupakan pendapat masyarakat.
2. “Laporan wartawan Analisa di sejumlah kabupaten/kota juga pasangan nomor urut 5 juga unggul.”
Adanya kalimat di atas mengindikasikan bahwa terdapat relasi antara khalayak pembaca dengan wartawan.
3. “Terkait hasil quick count yang disampaikan dari sejumlah lembaga survei, KPU menyatakan tidak terpengaruh dan tidak berpedoman
kepada hasil lembaga-lembaga quick
count, karena bukan merupakan hasil
yang sesungguhnya dari proses penghitungan suara. Karena hasil seluruhnya nanti melalui proses manual yang dilakukan penyelenggara di seluruh tingkatan, dimulai dari perhitungan suara di TPS, PPS, PPK, KPU kabupaten/kota, dan akhirnya KPU Provinsi.”
Kalimat ini memiliki relasi yang tampak jelas dengan pihak KPU, sebagai partisipan publik. Adanya relasi ini bukan semata bagaimana sebuah peristiwa dikemas dalam berita, melainkan juga bagaimana kekuatan sosial dalam masyarakat direpresentasikan ke dalam teks berita.
Identitas
1. “Pasangan nomor urut 5, Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi unggul dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Sumatera Utara berdasarkan hitungan cepat (quick
count) sejumlah lembaga survei, Kamis
(7/3). Keunggulan pasangan ini hampir di seluruh kabupaten/kota.”
Kalimat yang digarisbawahi dalam kutipan di atas menunjukkan identitas wartawan dalam menanggapi keadaan/fakta mengenai unggulnya pasangan Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi. Di dalam kalimat tersebut terdapat kata “hampir” yang merupakan kesan tersendiri dari sang wartawan. Kata tersebut mengesankan bahwa ia setuju dengan keadaan tersebut. Dengan kata lain, ia memposisikan dirinya di pihak pasangan Ganteng.
2. “Aman dan lancar”
Adanya sub-judul seperti demikian di atas mengidentifikan bahwa wartawan menganggap bahwa pemilukada berlangsung dengan tanpa hambatan. Wartawan mengidentifikasikan dirinya seperti pihak KPU yang mengemukakan persepsi seperti itu. Persepsi
tentang “aman” dan “lancar” di sini terkesan berupa subjektivitas dari wartawan maupun pihak KPU, mengingat keadaan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat Golput sangat tinggi bahkan melebihi jumlah masyarakat yang memilih. Adanya fakta mengenai jumlah Golput yang tinggi ini dianggap bukan merupakan hambatan oleh wartawan. Hal ini bisa jadi dikarenakan wartawan telah puas dengan hasil tersebut.
3. “Satu putaran”
Selanjutnya sub-judul “Satu putaran” juga mengindikasikan hal senada. Pilihan kata “Satu putaran” mengesankan bahwa wartawan/penulis ingin agar pemilukada segera selesai dengan hasil seperti yang diumumkan oleh lembaga-lembaga survei.
4. “Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut, Irham Buana Nasution didampingi komisioner Surya Perdana, dan sekretaris KPU Rajab Lubis, mengatakan, proses pemungutan suara berlangsung lancar, aman, dan hampir tidak ada kendala teknis yang dihadapi, walupun ada laporan beberapa tempat kekurangan surat suara, namun sudah diatasi dan jumlahnya tidak signifikan. Di seluruh TPS tak ada gangguan keamanan yang terjadi karena disebabkan konflik horizontal, atau karena masyarakat yang keberatan karena tidak bisa memilih. Dalam kesempatan itu, KPU menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh masyarakat Sumut yang dengan keberagamnnya dan perbedaan serta latar belakang agama, etnik, budaya, dan kultur, sudah mempraktikkan proses demokrasi yang menarik. Di wilayah-wilayah yang selama ini dikhawatirkan terjadi konflik horizontal dan struktural masyarakat Sumut sudah membuktikan hal itu tidak terjadi. Masyarakat telah membuktikan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam
proses demokrasi,” kata Irham Buana.” Kalimat di atas, khususnya pada bagian yang digarisbawahi, menunjukkan identitas KPU dalam memandang masyarakat yang plural dan beragam latar belakang agama, etnik, budaya, dan kulturnya, sebagai kelompok yang fragil atau rawan untuk menciptakan konflik.
5. Irham Buana mengingatkan seluruh penyelenggara pemilu, terutama KPPS dan PPS yang menjadi titik rawan dalam perhitungan suara ini, untuk benar-benar menjaga hasil proses perhitungan dengan seluruh dokumen, sehingga tak ada kecurangan.
Dalam kalimat di atas, terlihat adanya pandangan pesimis atau negatif yang menjolok oleh KPU terhadap KPPS dan PPS. Hal itu ditandai dengan penggunaan kata “terutama”.
Intertekstualitas
1. “Data sampel yang masuk 98,92 persen pada pukul 16.15 WIB. Hasilnya, pasangan Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi dipastikan menang satu putaran,” sebut Manajer Research LSI Setia Darma dalam siaran pers quick
count di salah satu hotel di Medan,
Kamis (7/3).
Kutipan langsung di atas menandakan bahwa ungkapan tersebut penting untuk menyokong pesan utama yang ingin disampaikan dari teks berita tersebut secara keseluruhan. Seperti diketahui bahwa pesan inti dari teks berita tersebut adalah ingin menyampaikan keunggulan pasangan Ganteng. Sehingga pemuatan kutipan langsung tersebut merupakan bagian dari pembentukan wacana oleh wartawan/media yang bersangkutan. Cara pengutipan ini merupakan sebuah bentuk intertekstual yang manifest.
2. “Berdasarkan sampling error berkisar satu persen, katanya, maka perolehan
pasangan Gatot-Erry tetap di atas 30 persen, baik error-nya naik atau kurang satu persen.”
Kalimat di atas merupakan bentuk kalimat yang lahir dari ungkapan/suara yang lain yang hadir sebelumnya. Dalam sistem quick count, terdapat apa yang disebut dengan istilah SE (sampling error) yang diperoleh setelah pencoblosan selesai. Sampling error yang ditetapkan pada sebuah pemilu biasanya berkisar satu persen.
3. “Irham Buana mengingatkan seluruh penyelenggara pemilu, terutama KPPS dan PPS yang menjadi titik rawan dalam perhitungan suara ini, untuk benar-benar menjaga hasil proses perhitungan dengan seluruh dokumen, sehingga tak ada kecurangan.”
Penggunaan kutipan secara tidak langsung seperti di atas telah melewati proses abstraksi dari pandangan sang wartawan. Di sini, teks dihadirkan kembali tidak seperti sedia kala, melainkan telah mengalami elaborasi serta asimilasi.