• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nama : Abdi Gunawan, AmD

Pekerjaan : Karyawan Gerai Halo Telkomsel

Tanggal/waktu wawancara : Minggu, 26 Mei 2013, pukul 15.30 WIB

Tempat : Ruang Tamu Rumah Saudara Abdi Gunawan, Jl. Cendrawasih No. 45, Citaman Jernih, Perbaungan, Serdang Bedagai.

Tanya (T): “Saudara Abdi ini benar sudah langganan Analisa?”

Jawab (J): “Kalau langganan enggak. Cuman di kantor ada. Ya kadang baca kalau sempat, kadang enggak.”

T: “Terkait berita pemilukada kemarin, saudara Abdi baca enggak yang tanggal 8 kemarin, yang headline-nya itu?”

J: “Headline apa ini?”

T: Ha...yang ini?

J: “Hitungan cepat ini?” T: “Iya.”

J: “Kalau baca ya gak sempat lah. Paling cuma nengok judulnya aja.”

T: “Gak baca sikit-sikit isinya?”

J: “Gak baca. Tengok judulnya Gatot ni unggul ya unggul lah dia.”

T: “Baca Analisa udah berapa lama?”

J: “Berapa lama ya? Enggak tau lah berapa lama bacanya.”

T: “Maksudnya sejak kapan mulai pernah baca Analisa?”

J: “Gak tau lah kapan. Kuliah mungkin.”

T: “Yang dibaca apa aja dari Analisa?”

J: “Yang dibaca biasanya paling lowongan kerja. Iklan-iklan itulah yang jual-jual

HP itu aja paling. Seputar Sumut aja lah paling.”

T: “Kalau baca Analisa Ada gak hal-hal yang berseberangan dengan pemikiran dengan saudara Abdi?”

J: “Berseberangan kayak mana ya?”

T: “Kadang gak yang gak setuju. Ada berita. Kok berita kayak gini?”

J: “Gak ada sih. Ya diikuti aja. Karena kan gak tau faktanya itu kayak mana.”

T: “Kalau seandainya ada berita yang kebetulan saudara tau bagaimana faktanya tetapi ketika diberitakan saudara Abdi merasa beritanya gak sesuai dengan fakta. Pernah gak terjadi yang seperti itu?”

J: “Kayaknya gak pernah lah. Karena kan beritanya lain dari yang apa kita, jauh

kali lah kadang. Orang ini kadang beritanya macam-macam.”

T: “Ini waktu edisi tanggal 8 maret waktu itu, judulnya itu kelihatan tidak judulnya yang kalimat “Hitungan cepat”-nya? Waktu itu.”

J: “Lihat. Tapi yang lebih nampak yang tulisan ininya aja.”

T: “Yang Gatot itu?”

J: “Iya. Ini aja kan. Kalau udah unggul ya berarti unggul lah dia kan.”

T: “Gak ada baca dalamnya? Dalamnya gak ada dibaca?”

J: “Kebanyakan angka. Payah. Peninglah. Sekian persen sekian persen.”

T: “Waktu itu waktu di...ya mungkin di kantor. Rekan-rekan kantor, ada gak pada ngomongin soal pilkada. Hasilnya gimana?”

J: “Ya sempatlah...namanya kan...di Sumut. kan gak mungkin gak cerita tentang

daerah sendiri. Ya pasti sedikit enggaknya dari koran dari TV kan itu-itu aja.” T: “Mereka pada cerita apa aja waktu itu?”

J: “Ya Gatot menang lagi. Karena kan setidaknya dia udah punya nama lah untuk

yang sebelumnya. Walau kemarin itu dia bermasalah sama gubernurnya kan dia jadi naik. Jadi punya nama. Ya otomatis dah kenal semua orang ya banyaklah yang milih dia. Sementara yang lain-lainnya kan banyak yang kurang inilah sama orang. Banyak yang gak tau ini siapa, ini siapa.”

T: “Kalau saudara Abdi waktu milih siapa?” J: “Kalau untuk apa ya...”

T: “Nyoblos waktu itu?” J: “Gak nyoblos.”

T: “Jadi Golput waktu itu.” J: “Golput”

T: “Golput. Nah, saudara Abdi ini kan golput, ada berita bahwa Gatot itu menang, itu gimana perasaannya?”

J: “Ya, kalau Gatot menang ya biasa ajalah. Kayak mana lagi, orang sebelumnya pun memang dia yang megang.”

T: “Kira-kira ada ah mungkin ini gak pantes menang. Ada gak perasaan kayak gitu? Ada mungkin ada perasaan, walaupun saudara Abdi nggak milih, ada perasaan salah satu pasangan yang lain yang lebih layak menang?”

J: “Kayaknya gak ada lah. Karena pun aku kurang ini sebenarnya. Karena

mungkin kurang tau ya di masyarakat calon-calon itu seperti apa. Yang kita tau kan dulu kan Gatot itu kan wakil gubernur, udah tau kita..oh gini, ya gitu aja. Kalau memang apa ya berarti dialah.”

T: “Kira-kira golput itu kenapa? Alasannya apa waktu itu?” J: “Apanya...”

T: “Udah gak percaya lagi atau gimana?”

J: “Kayaknya sama aja sih gitu-gitu aja. Makanya mau dipilih pun sama aja.”

T: “Gak berpengaruh ya?” J: “Iya.”

T: “Gak merubah kehidupan?” J: “hee..Enggak.”

T: “Jadi itu alasannya ya?” J: “Iya.”

T: “Tapi saudara Abdi ini berlangganan Analisa ya, sementara Analisa ini memberitakan Gatot menang gitu. Nah, gimana ini, apakah menurut saudara Abdi ini hendak menampilkan kemenangan Gatot ini secara terang-terangan atau gimana ini? Kalau melihat dari beritanya.”

J: “Melihat dari beritanya. Ya gak cuma di koran kan. Di TV pun kadang karena

dia pasangan yang udah unggul ya dia ditampilkan. Ditonjolkan dia menang. Artinya dia banyak dipilih. Ya kalau si koran itu memberitakan itu gk tau lah kita kayak mana. Setidaknya kan mungkin yang kalah dibilang.”

T: “Dari konten Analisa, biasanya saudara Abdi sering baca rubrik bagian mana?”

J: “Ya kayak yang saya bilang tadilah. Lowongan kerja...iklan..”

T: “Kurang tertarik dengan berita-berita politiknya ya?”

J: “Olahraga paling. Kalau yang lain kurang. Kalau ada peristiwa apa gitu.

Kayak mana berita di TV kan kita pingin tahu kayak mana detailnya.” T: “Tapi berita politiknya kurang tertarik ya?”

T: “Malas ya.” J: “Malas”

T: “Nah, ini ada beberapa pertanyaan lagi. Ini dengan keadaan menangnya Gatot, kira-kira kondisinya gimana waktu itu? apakah kondisinya saat itu memang aman?”

J: “Aman gimana ini?”

T: “Maksudnya kondisi...mungkin lalu lintas..” J: “Biasa aja.”

T: “Atau obrolan di tempat kerja, warung-warung..”

J: “Biasa aja. Kayak memang gak ada pengaruhnya. Sama aja.”

T: “Sama aja ya. Jadi kalau menurut saudara Abdi lah ini, yang seharusnya lebih pantas untuk diangkat jadi berita dari gambaran di hari H waktu itu, kira-kira apa yang lebih pantas untuk diangkat?”

J: “Pantas apa ini? Pas pemilunya?”

T: “Iya, waktu di hari H waktu itu, di samping fakta bahwa Gatot itu menang. Kira-kira apa yang lebih pantas diangkat?”

J: “Kayaknya lebih banyak golputnya daripada ini..”

T: “Seharusnya itu jadi lebih ditonjolkan gitu ya, lebih jadi perhatian gitu ya.”

J: “Iya lah. Artinya kan orang Medan banyak yang udah gak percaya lagi. Mau

dipilih pun sama aja. Ntah pun orang itu gak ada waktunya. Gak tau juga kita. Setidaknya kan orang memang banyak yang golput kan. Ya itu aja.”

T: “Seharusnya itu diangkat ya.” J: “Iya.”

T: “Okelah itu aja saudara Abdi, terima kasih banyak. Selamat sore.” J: “Sore.”

Medan, 1 Juni 2013 Telah diketahui dan disetujui