HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. b.1. Wawancara dengan wartawan Harian Analisa
Wawancara dengan wartawan surat kabar Harian Analisa dimaksudkan untuk menggali informasi yang berhubungan dengan proses pembuatan berita seputar wacana keunggulan pasangan Ganteng dalam hasil hitung cepat pemilukada Sumatera Utara yang terbit pada tanggal 8 Maret 2013. Informasi yang digali bertujuan untuk mengetahui bagaimana suatu praktik diskursus yang melibatkan banyak pihak—termasuk wartawan, anggota redaksi, pembaca, dan tokoh-tokoh—dilakukan. Hasil yang diperoleh membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana kognisi sosial wartawan yang menulis berita serta hubungannya dengan media tempat ia bekerja.
Sebelum melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu menghubungi salah seorang teman yang kebetulan juga bekerja di surat kabar Harian Analisa. Dari teman ini, akhirnya peneliti dipertemukan dengan wartawan yang menulis berita tersebut. Adapun wartawan yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah wartawan yang melakukan peliputan sekaligus yang menulis langsung berita yang menjadi bahan kajian. Pertemuan pertama peneliti dengan wartawan tersebut berlangsung pada hari Senin, tanggal 13 Mei 2013 di ruang tunggu lantai dua kantor Harian Analisa, Medan, sekitar pukul 10.30 WIB sampai pukul 10.45 WIB. Pada pertemuan itu peneliti sempat berbincang-bincang secara informal layaknya seperti berkenalan dengan seseorang pada umumnya.
Dalam perbincangan itu, peneliti menanyakan sedikit mengenai kinerja surat kabar Harian Analisa. Masalah itu di antaranya menyangkut perihal belum stabilnya situs online Harian Analisa pasca perbaikan (maintenance) dan
upgrading yang dilakukan oleh bagian yang mengurusi situs online Harian
Analisa. Peneliti mencoba menjelaskan bahwa sejak diperbarui (sekitar bulan
April 2013), situs online Harian Analisa menjadi sulit diakses, terutama pada bagian mesin pencarian (search engine). Hal itu kemudian ditanggapi oleh wartawan tersebut. Ia mengakui bahwa hal tersebut benar adanya dan sedang dalam proses perbaikan.
Selain itu, masih pada kesempatan itu, peneliti juga menanyakan sedikit tentang proses pembuatan berita di Harian Analisa mulai dari proses pengumpulan bahan hingga berita itu jadi dan diterbitkan. Peneliti juga menanyakan perihal mengenai penerimaan tulisan artikel opini yang dikirim oleh pembaca. Sang informan kemudian menjelaskan dengan cukup panjang. Ia memulai dari proses pembuatan berita. Ia menjelaskan bagaimana wartawan-wartawan dan seluruh staf anggota redaksional di HarianAnalisa bekerja.
Di pagi hari, biasanya, para wartawan dan seluruh staf anggota redaksional berkumpul untuk rapat (briefing) membahas tentang berita-berita apa saja yang akan diangkat. Mereka membahas mulai dari tema yang paling penting yang ada pada hari itu berdasarkan tanggalnya, apakah ada hari penting tertentu (peringatan hari sesuatu, misalnya Hari Kebangkitan Nasional, dan sebagainya), atau apakah ada peristiwa-peristiwa penting tertentu (misalnya ada pemilukada, pembukaan Pekan Olahraga Daerah, dan lain-lain), atau sampai apakah ada suatu kejadian besar tertentu (pemboman, gempa bumi, dan sebagainya).
Dari tema yang ada, kemudian mereka akan membentuk sebuah wacana yang berkaitan dengan tema tersebut. Misalnya jika pada hari itu ada pemilukada, maka pada rapat pagi itu, mereka akan mempersiapkan sesuatu yang akan diangkat atau ditonjolkan dari tema tersebut di ruang redaksi. Dari rapat pagi itu kemudian para awak wartawan yang akan terjun ke lapangan dibagikan tugas. Ada yang akan mencari informasi di TPS, ada yang meliput di jalanan, ada yang di kantor KPU, dan sebagainya. Kemudian setelah para wartawan tersebut mengirimkan bahan-bahan berita hasil liputan mereka ke bagian redaksi, para anggota redaksi akan melakukan proses pengolahan bahan-bahan berita tersebut untuk dijadikan berita yang siap diterbitkan. Proses pengolahan bahan berita tersebut meliputi proses pengeditan (editing). Dalam proses editing, redaksi hanya mengubah atau melakukan pengeditan pada kosakata dan kalimat-kalimat yang mubazir. Dalam proses editing, redaksi tidak dapat mengubah informasi yang berupa angka atau data-data karena hal tersebut merupakan suatu ketetapan atau fakta yang mutlak yang ada di lapangan.
Setelah seluruh proses pengolahan berita selesai, sebuah berita biasanya akan diperiksa kembali, apakah ada sesuatu yang dapat menimbulkan konflik di masyarakat jika sampai berita tersebut diturunkan, seperti adakah terkandung unsur SARA di dalamnya. Proses pemeriksaan kembali (check dan re-check) ini biasanya juga melibatkan pemimpin redaksi sebagai penanggung jawab tertinggi. Apabila seluruh konten berita telah dinyatakan aman, maka berita siap diterbitkan. Selanjutnya wartawan tersebut juga menjelaskan bagaimana proses dan mekanisme artikel yang dikirimkan oleh pembaca. Dalam kebijakan Harian
Analisa, tulisan yang akan dipertimbangkan untuk dimuat adalah tulisan yang
sesuai dengan tema yang ada di hari penerbitan. Jika seorang pengirim artikel ingin agar tulisannya dapat dipertimbangkan untuk ditayangkan, maka tulisannya harus selambat-lambatnya tiba di meja redaksi pada H-2 dari hari penerbitan. Artinya, seorang pengirim artikel harus sudah mengirimkan tulisannya jauh-jauh hari ke Harian Analisa, sesuai jalur yang dipilih. Jika memilih jalur online ( e-mail), maka pengirim artikel bisa mengirimkan tulisannya pada H-2, sedangkan jika memilih mengantar langsung ke kantor Harian Analisa, maka ia harus memperhitungkan jarak tempuh untuk menuju kantor Harian Analisa agar tidak terlambat. Misalnya, tulisan yang berhubungan dengan Hari HIV/AIDS yang akan ditayangkan pada tanggal 1 Desember, harus sudah ada di meja redaksi selambat-lambatnya tanggal 29 November.
Dari pertemuan pertama yang singkat itu, peneliti kemudian membuat janji untuk bertemu untuk melakukan wawancara dengan wartawan tersebut. Akhirnya dipilih hari Sabtu, tanggal 18 Mei 2013 pada jam yang sama (10.30 WIB). Pada Jumat malam sekitar pukul 20.30 WIB, peneliti mencoba menghubungi sang wartawan melalui telepon genggam untuk memastikan apakah esoknya pertemuan dapat dilangsungkan. Namun, wartawawan tersebut mengatakan bahwa ia sedang berada di kampung halamannya di Tanjung Pandan karena ada urusan mendadak dan pertemuan dibatalkan. Ia mengatakan akan kembali ke Medan pada hari Minggu (19 Mei 2013). Ia mengganti hari pertemuan menjadi Senin, tanggal 20 Mei 2013 pada pukul 11.00 WIB.
Barulah pada hari Senin, tanggal 20 Mei 2013, wawancara akhirnya dapat dilangsungkan. Sesuai perjanjian dalam percakapan melalui telepon genggam pada Jumat malam, wawancara berlangsung tepat pukul 11.08 WIB. Wawancara berlangsung sekitar 50 menit di ruangan tunggu (lobby) di lantai dua kantor
Harian Analisa yang berlokasi di jalan Jend. Ahmad Yani nomor 39-45, Medan.
Ruangan itu tidak dibatasi oleh tembok. Ruangan itu merupakan bagian dari jalan menuju ruangan redaksi. Pada saat itu, suasana di ruangan itu awalnya sepi. Ada beberapa petugas kebersihan yang sedang bekerja. Ada yang mempersiapkan alat penghisap debu, ada yang mengepel lantai, dan ada yang menyapu. Sesaat kemudian setelah wawancara berlangsung, suasana menjadi riuh oleh suara mesin penghisap debu dan beberapa tamu lainnya yang datang. Wawancara tetap berlansung tanpa hambatan berarti, walaupun sesekali wartawan yang menjadi informan harus menyapa sapaan dari orang-orang yang hilir mudik di ruangan itu. Di tengah wawancara, informan juga sempat menerima telepon dari kerabatnya, namun hal itu hanya berlangsung sebentar dan tidak menjadi masalah.
Seluruh proses wawancara didokumentasikan dalam bentuk rekaman suara dan juga video. Namun, dokumentasi yang berbentuk video tidak utuh sejak awal wawancara dimulai. Dalam pendokumentasian tersebut, informan tidak merasa terganggu karena alat perekam hanya digeletakkan di atas meja.
Pada wawancara itu, peneliti tidak menggunakan bahasa yang terlalu formal dalam menyampaikan pertanyaan. Hal ini dilakukan untuk membuat proses wawancara berjalan lancar dan lugas. Demikian juga halnya dengan informan dalam menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan. Beliau juga tidak menggunakan gaya bicara yang terlalu formal. Hal ini membuat wawancara menjadi alami dan tidak kaku.
Wartawan Harian Analisa yang menjadi informan penelitian ini juga merupakan sosok pribadi yang ramah. Beliau selalu menjawab pertanyaan peneliti dengan serius dan apa adanya. Pada saat percakapan yang tidak berkaitan dengan penelitian, beliau juga berbicara dengan ramah. Begitu juga dengan saat pertemuan pertama, pembicaraan di telepon seluler ketika membuat perjanjian
untuk waktu wawancara. Hal ini membuat proses wawancara menjadi mudah dan lancar.
Pada awalnya, peneliti telah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada informan jauh-jauh hari sebelum pertemuan berlangsung. Hal ini peneliti lakukan untuk lebih mempersiapkan hal-hal yang akan ditanyakan. Adapun pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelum wawancara pada saat itu adalah:
1. Dalam pembuatan/penulisan teks berita ini, seperti kita ketahui, ada beberapa inisial wartawan yang tertera, siapakah penulis utama yang paling dominan?
2. Bagaimana pandangan Bapak terhadap peristiwa atau kabar kemenangan pasangan Ganteng dalam hasil quick count?
3. Bapak sendiri apakah termasuk pribadi yang pro dengan kemenangan Ganteng?
4. Kira-kira, apa implikasi yang paling Bapak rasakan atas kabar kemenangan pasangan Ganteng pada waktu itu (7 Maret 2013)?
5. Apakah berita yang akhirnya terbit dan diedarkan ini melibatkan proses editing di ruang redaksi, dalam arti adakah melibatkan pihak selain Bapak dan teman-teman wartawan yang meliput?
6. Lalu, adakah perubahan yang terjadi dalam hal rangkaian kalimat, paragraf, atau kosakata, setelah proses editing?
7. Adakah perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya mengubah makna pesan dari tulisan pra-edited?
8. Pada tampilan di surat kabar, kalimat “Gatot-T Erry Unggul Dalam Satu Putaran” ditulis lebih besar dan menjolok, apa alasannya?
9. Mengapa di dalam teks berita ini tidak ada dimasukkan pendapat dari masyarakat awam?
10.Bagaimana tanggapan Bapak mengenai fakta tingginya jumlah Golput pada hari pencoblosan?
11.Bagaimana dengan sub-judul “Aman dan lancar” dan “Satu Putaran”? Apakah persepsi KPU tentang aman dan lancar itu sejalan dengan persepsi Bapak dan teman-teman Analisa?
Namun, pada saat wawancara berlangsung, peneliti tidak terlalu terpaku pada pertanyaan yang telah dipersiapkan tersebut. Meskipun demikian, pada akhirnya seluruh pertanyaan yang peneliti utarakan kepada informan tidak berubah banyak dari apa yang telah disiapkan. Ada beberapa pertanyaan tambahan yang peneliti ajukan di samping pertanyaan-pertanyaan yang telah dipersiapkan di atas. Pertanyaan tambahan tersebut di antaranya menyangkut aspek eksternal media dalam mempengaruhi isi pemberitaan di Harian Analisa, seperti ideologi yang dianut masyarakat Sumatera Utara, aspek historis, dan pihak-pihak eksternal (pengiklan, tokoh-tokoh masyarakat tertentu, dan sebagainya). Hasil dari pertanyaan tambahan tersebut kemudian peneliti gunakan untuk melakukan analisis tahap ketiga, yaitu sociocultural practice. Dalam wawancara, pertanyaan tambahan tersebut diajukan di bagian akhir.