BAB VII KONSEP LABA
A SURANSI P RUDENTIAL S YARIAH
Akhir-akhir ini, banyak sekali bermunculan produk asuransi berbasis syariah seperti bumiputera yang mengeluarkan bumiputera syariah, prudential dengan Prulink Syariah Assurance Account dan sebagainya. Fenomena ini ditandai dengan munculnya, PT Asuransi Takaful Indonesia yang berdiri pada tahun 1994, sebuah perusahaan asuransi yang berbasis syariah. Fenomena ini mengundang sebuah pertanyaan. Apa keunggulan dari produk asuransi syariah?
Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan besar yang harus menjadi pertimbangan bagi kita semua. Hotbonar Sinaga, direktur utama Jamsostek, mengatakan bahwa keunggulan asuransi syariah bukan hanya berdasarkan sisi syariah seperti tidak adanya riba dalam investasi, unsur judi ataupun tidak dipenuhi dengan faktor ketidakpastian. Keunggulan nyata dari asuransi syariah, seperti juga produk keuangan syariah lainnya, tak lain adalah bagi hasil atau mudharabah. Karena itulah dalam asuransi syariah tidak dikenal adanya risk transfer tetapi lebih dikenal dengan nama risk sharing.
Keunggulan utama tersebut menciptakan keunggulan lainnya, yang membedakan produk ini secara nyata dengan produk non syariah. Dalam mekanisme pembayaran kontribusi dari nasabah, langsung dipisahkan menjadi dua yakni pertama masuk ke rekening tabarru’ atau proteksi dan yang kedua masuk ke rekening tabungan bagi hasil. Jadi sejak awal sudah dipisahkan. Kelebihannya dibandingkan asuransi konvensional dengan adanya rekening bagi hasil menunjukan bahwa sebagian premi memang sudah dialokasikan untuk dibagikan hasilnya berupa imbal hasil investasi kepada para pemegang polis.
Berbeda halnya dengan asuransi konvensional, karena tidak ada pemisahan premi maka pada tahun awal pembentukan cadangan, tidak ada sama sekali bagian yang menjadi hak nasabah pemegang polis. Sebagai akibatnya, bila pemegang polis tidak sanggup lagi melanjutkan melakukan penjualan polis kembali kepada perusahaan asurani untuk mendapatkan nilai tunai yang akan diterimanya bisa nihil. Kalaupun ada, besarnya nilai tunai pada tahun-tahun awal akan jauh berbeda dengan akumulasi premi yang pernah dibayarkannya.
Adanya rekening bagi hasil memungkinkan perusahaan asuransi syariah membagikan porsi hasil investasi dengan nasabah pemegang polis bila tidak terjadi klaim dalam satu tahun periode polis. Dalam asuransi konvensional, dikenal apa yang dinamakan no claim bonus. Yaitu, bonus yang akan diperoleh para pemegang polis khususnya dalam asuransi kerugian jika untuk beberapa tahun penutupan polis tidak pernah ada klaim yang diajukan. Dalam asuransi syariah, dengan adanya sistem bagi hasil memungkinkan pemberian bonus kepada tertanggung walapun penutupan polis baru saja berlangsung selama satu tahun. Pilihan bonus ini diberikan alternative bermacam-macam seperti disetorkan tunai, mengurangi premi periode perpanjangan, dihibahkan ke berbagai yayasan dalam bentuk infak dan shadaqah.
Namun, kendalanya di negara Indonesia produk asuransi syariah belum begitu dikenal oleh masyarakat sehingga banyak pihak yang belum mengetahui keunggulan asuransi ini. Berbeda dengan negara tetangga yakni, Malaysia, Brune,i dan Singapura. Karena promosi gencar yang mereka lakukan menyebabkan pasar produk syariah tidak
hanya dinikmati oleh kalangan muslim tetapi juga pihak non muslim. Tampaknya hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. (Sumber : www.vibiznews.com)
D. PROSPEK ASURANSI SYARIAH
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menargetkan pangsa pasar industri asuransi syariah mencapai lima persen pada 2012. Optimisme tersebut didorong oleh akan hadirnya sejumlah pelaku asuransi syariah baru dan bertambahnya bank syariah di Indonesia. Ketua Umum AASI, M Shaifie Zein, mengatakan dari total pangsa pasar asuransi syariah, asuransi jiwa syariah masih akan tetap memegang peran yang besar. Per 31 Maret 2010, pangsa pasar asuransi jiwa syariah mencapai 3,28 persen dan asuransi kerugian dan reasuransi syariah 2,15 persen.
Secara total asuransi syariah Indonesia kini mencatat pangsa pasar 2,96 persen. ”Pesimisnya insya Allah kita bisa mencapai pangsa lima persen pada 2013, tetapi dengan bertambahnya bank dan asuransi syariah menimbulkan optimisme pangsa bisa mencapai lima persen pada 2012,” menurut Shaifie. Shaifie menambahkan, kenaikan rata-rata pangsa asuransi syariah Indonesia yang sebesar 0,7 persen per tahun pun membuatnya cukup yakin target lima persen dapat tercapai. ”Untuk mencapai pangsa lima persen pertumbuhan pun tidak boleh kurang dari 48 persen,” tukasnya. Ia pun optimistis dengan kehadiran sejumlah pelaku asuransi syariah yang akan turut mendorong industri asuransi syariah. Baru-baru ini perusahaan asuransi jiwa syariah Al Amin memperoleh izin dari Bapepam LK. Sementara, asuransi lainnya yang dalam daftar adalah Jaya Proteksi. ”Ada juga satu asuransi jiwa dari Malaysia yang ingin masuk ke Indonesia dan dua unit asuransi jiwa dan kerugian, tapi waktunya belum tahu kapan,” paparnya. Hingga akhir tahun ini ia memprediksi pangsa pasar asuransi syariah mencapai 3,6-3,7 persen, (sumber: republika.co.id)
Disisi lain, Asuransi syariah di Indonesia terbilang masih kurang berkembang dibandingkan negara Malaysia. Namun, kedepan Insya Allah Indonesia akan menjadi lebih baik Hal itu berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Global Islamic Financial yang menyebutkan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu pusat Takaful dunia pada 2015 Direktur Utama Asuransi Takaful Indonesia, Agus Edi mengatakan, prospek sektor asuransi syariah di Indonesia sebenarnya dapat tumbuh lebih pesat dibandingkan periode sebelumnya Indonesia diperkirakan dalam waktu 10 tahun mendatang, golongan masyarakat ini merupakan kekuatan yang luar biasa baik dari sisi konsumsi maupun produksinya.
Banyak pihak menyatakan bahwa ekonomi syariah dapat berkembang pesat di tengah krisis ekonomi saat ini, karena sistem ekonomi kapitalis atau sosialis yang diagung-agungkan dan diperkirakan mampu mensejahterakan masyarakat ternyata tidak terbukti. Bahkan sebaliknya menimbulkan keserakahan, ketidakadilan, dan bersifat merusak tatanan kehidupan manusia. Sebab, sistem ekonomi kapitalis mengandung beberapa unsur yang bertentangan dengan syariah Islam. Dalam menghadapi kondisi saat ini tentu masyarakat membutuhkan solusi dalam berekonomi sehingga mampu mandiri secara ekonomi serta dapat mewujudkan kesejahteraan yang hakiki.
Peranan asuransi syariah di dalam negeri selama ini belum besar. Ini juga dialami oleh perbankan syariah yang baru menyumbang 3 persen dari market share perbankan
nasional meskipun telah berjalan terlebih dahulu dibandingkan asuransi syariah. Melihat hal itu, jelas asuransi syariah memiliki potensi yang besar dikemudian hari, paling tidak dapat menguasai market share hingga 97 persen dengan cara mensyariahkan unsur-unsur yang belum syariah. Akan tetapi sistem syariah tak luput dari hambatan. Misalnya permodalan, secara umum permodalan yang dimiliki oleh asuransi syariah relatif kecil dibandingkan pemain asuransi konvensional terutama yang joint venture.
Akibatnya perusahaan akan terkendala dalam melakukan promosi, sosialisasi, dan ekspansi. Untuk menutup kendala ini perusahaan harus menambah modal agar rencana kerja perusahaan dapat berjalan dengan baik. Kendala lainnya adalah sumber daya insani yang mempunyai kemampuan teknis dan mempunyai komitmen memajukan ekonomi syariah jumlahnya sangat terbatas. Selain kendala tersebut di atas, terdapat pula kendala lain yang dapat menghambat perkembangan asuransi syariah kedepannya yaitu, belum adanya regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berupa UU Asuransi Syariah. Karena sampai saat ini, teknis dan operasi lembaga asuransi syariah hanya diatur melalui surat Keputusan Menteri Keuangan saja.
Tak lupa juga peranan Dewan Syariah Nasional (DSN) yang menjadi penting dalam mengeluarkan fatwa-fatwa yang berkaitan dengan asuransi syariah. Bisa melalui riset yang intensif sehingga fatwa-fatwa yang dikeluarkan dapat mendorong lebih cepat pertumbuhan asuransi syariah. DSN juga diharapkan dapat berperan lebih jauh dalam sosialisasi kepada masyarakat, terutama masyarakat muslim. Dewan Asuransi Indonesia melaporkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir ini kecenderungan industri asuransi jiwa di Indonesia adalah:
• Konsumen lebih menyukai produk yang bersifat tabungan dibanding dengan jaminan perlindungan murni.
• Peningkatan peranan agen pemasaran menjadi seperti penasehat keuangan tidak hanya sebagai perantara saja.
Dengan kecenderungan tersebut, tampak bahwa pasar di negara maju sudah jenuh. Sedangkan di negara berkembang masih terbuka luas. Kemudian, peningkatan kesadaran konsumen terhadap haknya serta ketersediaan pilihan yang paling sesuai telah memacu perusahaan asuransi untuk senantiasa meningkatkan pelayanannya agar tetap mampu bersaing secara sehat. Selanjutnya, perubahan pola hubungan kerja pada masa ini telah membuat orang merasa perlu untuk menjaga kepastian adanya penghasilan ketika keaadan tiba-tiba berubah sulit, maka produk bersifat tabungan lebih disukai. Demam globalisasi juga mempercepat hubungan bsinis internasional dan investasi di berbagai sektor dan aspek usaha. Terakhir, sistem informasi merupakan kunci keberhasilan bisnis masa kini, terbukti bahwa sampai saat ini yang menguasai informasilah yang menguasai pasar.
Berdasarkan faktatersebut bahwa, ada lebih dari 180 juta Muslim di Indonesia dan kesadaran akan keislamannya terus meningkat, merupakan peluang pasar yang lebar. Permintaan terhadap kehadiran lembaga keuangan syariah di berbagai tempat terus meningkat. Krisis ekonomi akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa Indonesia memerlukan konsep lain dalam menata perekonomiannya. Lembaga ekonomi syariah adalah pilihan yang paling sesuai. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar, di samping juga mendidik masyarakat, diperlukan lebih banyak bank syariah, dan kini telah mulai bermunculan asuransi syariah sebagai counterpart-nya. Kehadiran lembaga keuangan
syariah baru akan memacu persaingan yang sehat untuk pengembangan kualitas yang pada akhirnya akan menguintungkan bangsa dan Negara.
Dari daftar perusahaan asuransi, secara abjat pada saat ini jumlah perusahaan asuransi di Indonesia ada 51. Salah satunya adalah PT Asuransi Takaful Keluarga yang merupakan satu-satunya perusahaan asuransi syariah di Indonesia yang tetap survive sampai saat ini (2008). Yang menarik adalah bahwa PT Asuransi Takaful Keluarga ternyata mampu menyisihkan 42 perusahaan lain yang sudah jauh lebih lama beropersi. Apa artinya? Tentu anda lebih berkompeten dalam meredaksikan dan mengilustrasikan apa yang anda pikirkan, (sumber: Zonaekis.com, 17 Mei 2011). Daftar perusahaan asuransi syariah di Indonesia s.d. 10 Juli 2008, adalah sebagai berikut:
Asuransi Syariah
1. PT Asuransi Takaful Umum 2. PT Asuransi Takaful Keluarga 3. PT Asuransi Syariah Mubarakah 4. PT MAA Life Assurance
5. PT MAA General Assurance 6. PT Great Eastern Life Indonesia 7. PT Asuransi Tri Pakarta
8. PT AJB Bumiputera 1912
9. PT Asuransi Jiwa BRIngin Life Sejahtera 10. PT Asuransi BRIngin Sejahtera Artamakmur 11. PT Asuransi Binagriya Upakara
12. PT Asuransi Jasindo Takaful 13. PT Asuransi Central Asia
14. PT Asuransi Umum BumiPuteraMuda 1967 15. PT Asuransi Astra Buana
16. PT BNI Life Indonesia 17. PT Asuransi Adira Dinamika 18. PT Staco Jasapratama
19. PT Asuransi Sinar Mas
20. PT Asuransi Tokio Marine Indonesia 21. PT Asuransi Jiwa SinarMas
22. PT Tugu Pratama Indonesia 23. PT Asuransi AIA Indonesia
24. PT Asuransi Allianz Life Indonesia 25. PT Panin Life, Tbk
26. PT Asuransi Allianz Utama Indonesia 27. PT Asuransi Ramayana, Tbk
28. PT Asuransi Jiwa Mega Life 29. PT AJ Central Asia Raya 30. PT Asuransi Parolamas 31. PT Asuransi Umum Mega 32. PT Asuransi Jiwa Askrida 33. PT Asuransi Jiwasraya (Persero) 34. PT Equity Financial Solution 35. PT Asuransi Kredit Indonesia 36. PT Asuransi Bintang, Tbk
37. PT Asuransi Bangun Askrida 38. PT Prudential Life Assurance 39. PT Jasaraharja Putera
40. PT AIG Life
41. PT Asuransi Karyamas Sentralindo 42. PT Asuransi Jiwa Sequis Life Reasuransi Syariah
1. PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo) 2. PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre) 3. PT Maskapai Reasuransi Indonesia (Marein) Broker Asuransi dan Reasuransi
1. PT Fresnel Perdana Mandiri 2. PT Asiare Binajasa
3. PT Amanah Jamin Indonesia
4. PT Asrinda Re-Brokers dan AA Pialang Asuransi 5. PT Madani Karsa Mandiri
6. PT Aon Indonesia (Sumber: abuubaidah pada 27/12/2008).
SEDANGKAN PERUSAHAAN ASURANSI UMUM DENGAN PREMI BRUTO RP 200 MILYAR