• Tidak ada hasil yang ditemukan

( PROFIT AND LOSS SHARING ) PENENTUAN BUNGA DIBUAT PADA WAKTU AKAD

Dalam dokumen Bahan Ajar Teori Akuntansi (Halaman 148-153)

BAB VII KONSEP LABA

( PROFIT AND LOSS SHARING ) PENENTUAN BUNGA DIBUAT PADA WAKTU AKAD

DENGAN ASUMSI SELALU UNTUNG (OPPURTUNITY COST)

PENENTUAN BESARNYA NISBAH BAGI HASIL DIBUAT PADA SAAT AKAD DENGAN MEMPERHATIKAN KEMUNGKINANUNTUNGATAURUGI.

BESARNYA PERSENTASE BERDASARKAN PADA JUMLAH UANG (MODAL) YANG DIPINJAMKAN B

ESARNYA NISBAHBAGI HASIL DISESUAIKAN PADA KEUNTUNGAN/KERUGIAN YANG MUNGKIN AKAN DIPEROLEH BERTDASARKAN PERSENTASE TERTENTU PEMBAYARAN BUNGA TETAP SEPERTI YANG

DIJANJIJKAN OLEH PIHAK NASABAH (BAIK UNTUNG ATAU RUGI)

RISIKO UNTUNG ATAU RUGI AKAN DITANGGUNG OLEHKEDUABELAHPIHAK.

JUMLAH PEMBAYARAN BUNGA TETAP SEKALIPUN

NASABAH UNTUNG (BOOMING) JUMLAH PEMBAGIAN ATAU PEMBAYARAN

SECARA PROPORSIONAL.

KEBERADAAN BUNGA DIRAGUKAN KEHALALANNYA, OLEH SYARIAH TERMASUK ISLAM

TIDAK ADA KEABSAHAN MENGENAI BAGI HASIL NAMUNDAPATDIIMPELEMTASIKANDALAMPRAKTIK BISNIS.

CENDERUNG EKSPLOITATIF DAN TIDAK ADIL DIDASARKAN AKAD DAN KESEPAKATAN KEDUA BELAHPIHAK

TERJADINEGATIVESPREAD TIDAKADANEGATIVESPREAD

Sumber: diadaptasi dari Triyuwono, 2001, 43

C. KONSEP KEPEMILIKANDAN PENILAIAN ASET

Ciri utama dalam konsep kepemilikan menurut syariah adalah legitimasi kepemilikan tergantung pada unsur moralitas. Dalam kepemilikan aset (aset) umumnya didasarkan pada konsep historis dan dicatat sebesar harga perolehannya sesuai dengan harga pada saat pembelian atau perpindahan hak antara penjual dengan pembeli dengan mengutamakan

pada prinsip amanah-Nya. Oleh karena Allah SWT-lah semata-mata merupakan pemilik mutlak terhadap aset atau harta yang kita miliki. Manusia hanya sebagai penerima titipan, terhadap aset untuk dipergunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan tuntunan syariah. Sebab Allah SWT. akan meminta pertanggungjawaban terhadap pengelolaan dan penggunaan aset tersebut, secara adil dan benar. Sekecil apapun aset yang dimiliki tidak akan lepas dari pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Allah SWT. yang Maha Adil tersebut (kelak di hari akhir). Dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah dijelaskan sebagai berikut:

o Surah Ali Imran; 189, artinya: “Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.”

o Surah Al Baqarah; 29, artinya: “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”

o Dalam Hadits Rasulullah SAW: “Orang yang menguasai tanah yang tidak bertuan tidak lagi berhak atas tanah itu jika setelah tiga tahun menguasainya ia tidak menggarapnya dengan baik”.

Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya yang tidak efisien dan tidak produktif harus dihindarkan agar mampu menciptakan tingkat produktivitas, dan efisiensi dalam upaya untuk menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan umat, berdasarkan konsep dan prisnip syariah. Sehingga dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya atau asset tersebut hendaknya selalu memperhatikan hal-hal (prinsip) berikut:

1. Kekayaan atau kepemilikan harus tetap tersebar (QS. Al Hasyr: 7) secara terus menerus diantara semua lapisan masyarakat.

2. Pembayaran zakat harus sebanding dengan kekayaan yang dimilikinya. 3. Penggunaan yang berfaedah, penekanan penggunaan ‘dijalan Allah SWT’. 4. Pengunaan yang tidak merugikan, menghindari kepemilikan mutlak. 5. Kepemilikan yang sah. (QS, An-Nisa: 29)

6. Adanya keseimbangan pemanfaatan (QS, Al-isra: 29 dan An Nisa: 36-37). 7. Penggunaan yang sesuai hak, untuk kemaslahatan umat.

8. Pemanfaatan untuk kehidupan manusia dalam mencapai ridha Allah, mengedepankan hukum waris bila yang bersangkutan telah meninggal dunia.

D. DASAR PENILAIAN HARTA (ASET)

Dalam penilaian harta (aset) adalah masa atau periode satu tahun (telah sampai haulnya), terutama untuk dasar penilaian dan pengenaan zakat dan pajak. Sebagai dasar utama adalah ditekankan dengan mekanisme perhitungan zakat yaitu mencapai nisab dan haul-nya. Dalam QS, Adz-Dzaariyaat: 19, artinya: “Dan pada harta-harta mereka untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak bahagian." Demikian pula dalam hadits Rasulullah SAW, “Tidak ada zakat yang dikenakan terhadap harta benda yang dimiliki kurang dari satu tahun.” Berdasarkan hal tersebut maka dasar penilaian harta dalam praktik bisnis (muhasabah) berdasarkan syariah adalah telah sampai haulnya (periode satu tahun), dan setiap akhir periode dilakukan penilaian berdasarkan prinsip akuntansi untuk menentukan besarnya zakat maupun pajaknya.

Hameed (2000; 20): Value at current (market price) and then pay zakah (on it). Hal ini menunujukkan bahwa current value akan lebih sesuai dibandingkan dengan historical cost dalam pembayaran zakat, karena dalam konsep current value telah memperhitungkan atau menyesuaikan dengan kondisi (inflasi maupun deflasi) ekonomi pada masa tersebut. Jadi dasar penilaian utama yang digunakan dalam Islam adalah historical cost, namun dengan tetap memperhatikan unsur current value dan hal berikut:

 Sistem ini didasarkan atas dasar transaksi perolehan aset.

 Menggunakan konsep kehati-hatian (prudent concept) atau konservatisme dan pertanggungjawaban (responsibility) sebagai wujud pengelolaan terutama kepada Allah SWT dan pemilik modal (investor).

 Dalam realisasinya dikaitkan dengan konsep penandingan (matching principles).  Menggunakan dasar periodically sebagai dasar penilaian dan alokasi aset secara

wajar dan objektif (fair).

E. LABA DALAM KONTEKS SISTEM EKONOMI TANPA BUNGA

Riba adalah salah satu hal yang dilarang dalam Islam. Larangan riba telah jelas dimuat dalam Al Qu’ran dan Hadits Rasulullah SAW. sebagai berikut:

 (QS; 3; 130), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwallah kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

 (QS; 2; 275-279), “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit jiwa. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhan-Nya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusan terserah kepada Allah. Orang-orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan sembayang, dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala pada sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran padanya dan tidak pula mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwallah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman, maka jika kamu tidak mengerjakannya (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul- Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.

 (QS; 4; 161), “Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”

 (QS; 30; 39), “Dan sesudah riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak akan menambah pada sisi Allah. Dan jika apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang

meliptakangandakan pahalanya.”

QS. An Nissa: 160-161, “Maka disebabkan kezhaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka yang (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.”

QS. Al Baqarah: 278-279, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”

Selanjutnya dalam hadits Rasulullah SAW. dijelaskan antara lain sebagai berikut:

 Dari Usamah bin Zaid, Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya riba itu bisa terjadi pada jual beli secara laibilitas (kredit). (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).  Dari Abu Said Al Khudri, Rasulullah SAW. bersabda: “Jangan melebih-lebihkan satu

dengan yang lainnya, jangan menjual perak untuk perak kecuali keduanya setara, dan jangan melebih-lebihkan satu dengan yang lainnya, dan jangan menjual sesuatu yang tidak tampak.” (HR. Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Masa’i dan Ahmad)

 Dari Ubada bin Sami, Rasulullah SAW bersabda: “Emas untu emas, perak untuk perak gandum untuk gandum. Barang siapa membayar lebih atau menerima lebih dia telah berbuat riba. Pemberi dan penerima sama saja (dalam dosa).”

Jabir berkata bahwa Rasullah SAW. Mengutuk orang yang menerima riba, orangh yang membayarnya dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka semuanya sama.” (HR. Muslim).

 Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasullah SAW berkata, “Pada malam perjalananku Mi’raj, aku melihat orang-orang yang perutnya seperti rumah, didalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku bertanya kepada Jibril, siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan riba.”

 Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa SAW bersabda, “Riba itu memiliki tujuh puluh tingkatan, adapun tingkat yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya sendiri.”

Di sisi lain Al Qur’an juga memberikan anjuran bagi pemberi pinjaman (kreditur) untuk memberikan keringanan jika peminjam (debitur) mengalami kesulitan dalam membayar. Hal ini ditegaskan dalam QS; 2 ayat 280: “Jika orang berlaibilitas itu dalam kesukaran, maka beri tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan sebagian atau seluruh laibilitas, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahu.” (QS; 2; 280).

Sebagai mana diuraikan sebelumnya, riba dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu Riba Utang Piutang (riba duyun) dan Riba Jual Beli (riba buyu’). Dalam Ilmu Fiqih bahwa riba adalah identik dengan bunga, termasuk riba laibilitas pilaibilitas ini, yang dikelompokkan menjadi Riba Nasi’ah adalah riba karena pertukaran yang sejenis dan jumlahnya dilebihkan karena adanya tenggang waktu/jangka waktu, sedangkan Riba

Fadhl, yaitu bila pertukaran barang yang sejenis, tapi jumlahnya tidak seimbang (mistlan bi mitslin) atau suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwa yang dikeluarkan tanggal 16 Desember 2003, telah menyatakan bahwa bunga bank tersebut identik dengan riba dan riba itu hukumnya haram. Sehingga dalam perekonomian khususnya di bidang perbankan dan sektor riel lainnya untuk mewujudkan konsepsi sistem perekomian islam atau sesuai dengan aqidah Islam tersebut, telah didirikan beberapa perbankan syariah dan beberapa unit usaha syariah lainnya seperti, asuransi syariah, pembiayaan syariah, pegadaian syraiah, reksadana syariah, dan koperasi syariah. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Munas NU di Bandar Lampung dan Bogor; agar PBNU mendirikan bank Islam dengan sistem tanpa bunga (Batsul Masail, Munas Bandar Lampung, 1992).

F. KONSEPTIME VALUEOF MONEY (TVM) DALAM ISLAM

Konsep TVM (positive preference) menyebutkan bahwa nilai komoditi saat ini lebih tinggi dibanding masa depan (Achsien, 2000, 43). Karena konsep ini merupakan pola ekonomi yang normal, sistematis dan rasional. Diskonto dalam masalah ini berkaitan dengan tingkat bunga. Padahal dalam Islam sistem bunga dilarang, terutama dalam penilaian investasi, diskonto, dan sebagai cost of capital.

Selanjutnya dalam Islam uang dan kekayaan harus digunakan untuk kebiasaan

baik bukan untuk eksploitasi, dalam pemanfaatannya tidak boleh berlebih-lebihan dan tidak boleh dibiarkan sia-sia menganggur. Sehingga capital budgeting yang didasarkan pada diskonto untuk menilai proyek atau investasi bertentangan dan tidak dibenarkan menurut syariat Islam. Selain itu sistem bunga (interest) sebagai salah satu faktor diskonto yang dilarang merupakan bentuk praktik riba. Sehingga sebagai alternatif penggantinya adalah menggunakn tingkat pengembalian (rank of return), bukan rate of return. Sebagai contoh untuk saham (investasi) dengan memperhatikan EPS (earning per share), dengan tetap memperhatikan konsep profit and loss sharing.

G. RELEVANSI KONSEP LABA BERBASIS HISTORISDENGANBUSINESS INCOME

Bahwa konsep business income lebih relevan dari pada konsep laba berbasis historis, karena nilai historis yang dijadikan dasar penilaian dan pengukuran atas aset atau transkasi yang akan dikenakan zakat tidak bisa mengakui transaksi pada nilai wajarnya, yang ditunjukkan dengan nilai saat ini. Historical cost juga gagal mengatasi prinsip realisasi, karena historical cost tidak bisa mengakui kenaikan nilai yang belum direalisasi atas aset yang dimiliki perusahaan pada periode tertentu.

Sedangkan konsep laba business income lebih relevan karena kesesuaiannnya dengan mekanisme zakat yang mengakui dan meniali aset (harta) berdasarkan nilai sekarang (current value) dan sistem tanpa bunga yang ada dalam Islam. Current value dalam praktik akuntansi dapat digunakan sebagai dasar penilaian dan pengukuran dengan menggunakan

net realizable value (replacement cost). Current value ini didasarkan pada nilai masukan dan nilai keluaran. Bila nilai masukan dinyatakan dalam satuan kini maka perhitungan laba sama dengan historical cost, tetapi laba yang dihasilkan mencakup penahanan keuntungan dan kerugian ini direalisasi atau tidak melalui penjualan atau pertukaran.

Lebih lanjut Hendriksen dan Van Breda (2000, 306) memberikan rumusan secara aljabar tentang laba dengan dasar current cash equivalent sebagai berikut:

Laba = NSUM + NSUP*)

*) NSUM = Nilai satuan usaha dalam satuan harga masukan kini

NSUP = Nilai satuan usaha dalam satuan nilai pasar dari masing-masing aset Namun perlu diingat bahwa untuk memperolah laba tersebut harus memperhatikan prinsip ekonomi (berkorban seefisen mungkin untuk mencapai laba yang proporsional) sesuai dengan prinsip syariah dalam Islam yaitu:

1. Saling ridha (‘an taradhin), adanya keikhlasan antar para pihak (penjual dan pembeli)

2. Halal-Thayib (halalan thayiban), barang yang diperjualbelikan harus bebas dari unsur yang merugikan menurut prinsip syariah.

3. Bebas riba dan eksploitasi (dzulm), tidak mengandung unsur bunga dan bentuk eksploitasi dari penjual (kreditur) kepada pembeli (debetur)

4. Bebas manipulasi (ghoror), tidak ada unsur penipuan atau rekayasa yang hanya menguntungkan salah satu pihak.

5. Saling menguntungkan (ta’awun), bahwa dalam proses jual beli para pihak memperoleh manfaat masing-masing sesuai dengan akad dan perjanjiannnya

6. Tidak membahayakan (mudharat), barang atau jasa yang diperjualbelikan/diserahterimakan tidak membawa mudharat bagi dirinya, masyarakat dan lingkungan.

7. Anti monopoli dan spekulasi (masyir), tidak dibenarkan adanya praktik monopoli dan spekulasi, karena menyangkut masalah keadilan dan ketidakpastian.

BAB XII

Dalam dokumen Bahan Ajar Teori Akuntansi (Halaman 148-153)