BAB VII KONSEP LABA
SISTEM TANPA BUNGA ( FREE INTEREST SYSTEM )
B. P ERBEDAAN R IBA , B UNGA , DAN S ISTEM B AGI H ASIL 1) Riba dan Bunga
Secara konseptual antara riba dan bunga seringkali tidak jelas. Namun secara bahasa sebenarnya cukup jelas, bahwa riba adalah bermakna ziyadah (tambahan). Dari sisi linguistik, riba berarti juga tumbuh dan membesar. Namun secara teknis dalam praktik bisnis riba ini berarti pengambilan tambahan dari harga pokok atau modal secara batil atau bertentangan dengan prinsip syariah. Antonio, (2001), mengungkapkan bahwa terdapat benang merah yang jelas bahwa riba adalah pengambilan tambahan baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam, secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamallah dalam Islam. Karena adanya tambahan dan diperjanjikan terlebih dahulu.
Dalam Al Qur’an Surah An-Nissa: 29, Allah SWT, berfirman yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamu dengan jalan bathil…” Dalam kaitannya dengan pengertian batil tersebut, Ibnu Al-Arabia al Maliki, dalam kitabnya Ahkam Al-Qur’an berpendapat: “Pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud riba dalam ayat tersebut yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti penyeimbang yang dibenarkan syariat.”
Transaksi pengganti atau penyeimbang adalah transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara tidak adil dan cenderung merugikan pihak yang lemah. Seperti dalam transaksi jual beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek. Dalam transaksi sewa, si penyewa membayar upah sewa karena adanya manfaat sewa yang dinikmati termasuk menurunnya nilai ekonomis suatu barang karena pengunaan si
penyewa (lesse). Dalam transaksi jual beli pembeli membayar di atas harga atau imbalan barang yang diterimanya.
Demikian pula dalam proyek, bagi hasil, para pihak berhak mendapatkan keuntungan karena penyertaan modal dan turut menanggung risiko bisnis yang mungkin terjadi setiap saat. Demikan pula dana, tidak akan berkembang dengan sendirinya hanya karena faktor orang yang menjalankan dan mengusahakannya. Bahkan ketika orang tersebut dalam menjalankan kegiatan bisnisnya belum tentu, memperolah hasil untung. Hal ini tergantung upaya dan usaha yang dilakukannya dan kehendak Sang Maha Pencipta Allah SWT. Pengertian senada juga disampaikan oleh mayoritas ulama sepanjang sejarah Islam dari berbagai Mazhab Fiqhiyyah. Badr ad-Dii al-Ayni pengarang Kitab Umdatu Qari Syarah Shahih Bukhari mengatakan, “Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harga pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.” Imam Sarakhsi dari Mazhab Hanafi berpendapat bahwa, “Riba adalah tambahan yang diisyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya iwadh atau padanan yang dibenarkan oleh syariah atas penambahan tersebut.”
Secara garis besar riba sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, terbagi dalam dua kelompok yaitu: Riba Utang-Piutang (Riba Duyun) dan Riba Jual-Beli (Riba Buyu’). Riba Utang-Piutang terbagi dua yaitu Riba Qardh dan Riba Jahiliyah, sedangkan Riba jual beli terbagi dalam dua bagian pula, yaitu Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah.
2) Bunga dan Sistem Bagi Hasil
Bunga tersebut sebenarnya telah lama dinyatakan tidak objektif dan ada unsur eksploitasi golongan kaya terhadap golongan miskin. Plato (427-347 SM), bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat. Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin. Hal ini menunjukan bahwa bunga tersebut hanya mendasarkan pada prinsip keuntungan semata yang cenderung mengabaikan keadilan. Selain itu Aristoteles (384-322 SM), bahwa fungsi uang adalah sebagai alat tukar (medium of exchange) bukan merupakan alat untuk menghasilkan tambahan kekayaan melalui bunga.
Bahkan bangsa Yahudi (Israel), telah pula menyatakan dalam beberapa Kitab Suci mereka sebagai berikut:
Kitab Eksodus (Keluaran) 22; 25, Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang umatku, orang yang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia, dan janganlah engkau bebankan bunga terhadapnya.
Kitab Deuteronomy (Ulangan) 23; 19, Janganlah engkau membungkan uang kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan.
Kitab Levicitus (Imamat) 35; 7, bahwa janganlah kamu mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya Saudaramu bisa hidup diantaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba. Umat Kristiani pada dasarnya dalam memandang bunga terbagi 3 bagian, yaitu:
Pandangan Pendeta Awal (Abad I-XII), bahwa larangan mengambil bunga merujuk kepada Old Testament yang juga diimani oleh umat Kristiani (St. Basil; 329-379 M, St. Gregory dary Nyssa; 335-395 M, St. John Chrysostom; 344-407 M, St. Ambrose, dll; 1033-1109 M). Sedangkan dalam bentuk undang-undang (Canon) misalnya dalam Council of Elvira di Spanyol tahun 306 M, dan Council of Vienne tahun 1311. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa:
1) Bunga adalah semua bentuk yang diminta sebagai imbalan yang melebihi jumlah barang yang dipinjamkan diawal.
2) Mengambil bunga adalah suatu dosa yang dilarang baik dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
3) Keinginan atau niat untuk mendapat imbalan melebihi apa yang dipinjamkan adalah suatu dosa.
4) Bunga harus dikembalikan kepada pemiliknya.
5) Harga barang yang tinggi untuk penjualan secara kredit juga merupakan bunga yang terselubung.
Pandangan Para Sarjana Kristen (Abad XII-XV) antara lain; Robert of Courcon (1152-1218 M), William Auxxerre (1160-1220 M), St. Raymond of Pennafore (1180-1278 M), St. Bonaventure (1221-1274 M) dan St. Thomas Aquinas (1225-1274 M), mereka menyatakan bahwa:
1) Bunga dibedakan menjadi interest dan usury.
2) Niat atau perbuatan untuk mendapatkan keuntungan dengan memberikan pinjaman adalah suatu dosa yang bertentangan dengan konsep keadilan.
3) Mengambil bunga dari pinjaman diperbolehkan, namun haram atau tidaknya tergantung niat si pemberi utang.
Pandangan Para Reformis Kristen (Abad XVI-Abad XIX) antara lain; John Calvin (1509-1564 M), Charles du Moulin (1500-1566 M), Claude Saummaise (1588-1653 M), Martin Luther (1483-1546 M), Melancthon (1497-1560 M) dan Zwingli (1484-1531 M) mereka berpendapat bahwa:
1) Dosa apabila bunga memberatkan peminjam.
2) Uang dapat membiak (kontra dengan pendapat Aristoteles). 3) Tidak menjadikan bunga sebagai sebagai dasar profesi. 4) Jangan mengambil bunga dari orang miskin.
Berdasarkan hal tersebut di atas secara jelas bahwa sebagian besar ketentuan, dan pendapat mereka tidak membolehkan praktik bunga yang berlebih-lebihan apalagi dengan orang miskin di dalam masyarakat. Hal ini sejalan juga dengan ayat di bawah ini diambil dari Kitab Injil; Lukas 6: 34-35, sebagai berikut: “Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang lain, karena kamu berharap akan menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan hakmu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Maha Tinggi, sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat”.
ketentuannya berkaitan dengan bunga (riba) tersebut, sebagai berikut. 1) Pandangan Dunia Islam:
- Dewan Studi Islam Al Azhar, Cairo (Mesir), berpandangan bahwa bunga dalam segala bentuk pinjaman adalah riba yang diharamkan (Konferensi DSI Al Azhar, Muharrom 1385 H/Mei 1965 M).
- Rabithah Alam Islamy, bunga bank yang berlaku dalam perbankan konvensional adalah riba yang diharamkan, (Keputusan No. 6 Sidang ke-9, Mekkah 12-19 Rajab 1406 H).
- Majma’ Fiqih Islamy, (OKI), seluruh tambahan dan bunga atas pinjaman yang jatuh tempo dan nasabah tidak mampu membayarnya, demikian pula tambahan (atau bunga) atas pinjaman dari permulaan perjanjian adalah dua gambaran dari riba yang diharamkan secara syariah, (Kep. No. 10 MMFI, Konferensi OKI ke-2, tanggal 22-28 Desember 1985, di Cairo Mesir).
2) Pandangan Ulama Indonesia:
- Nahdhatul Ulama, sebagian ulama mengatakan bunga sama dengan riba, sebagian lain mengatakan tidak sama dan sebagian lain mengatakan hukumnya syubhat. Tetapi dalam salah satu keputusannya, NU memberikan rekomendasi; agar PB NU mendirikan bank Islam NU dengan sistem tanpa bunga (Bahtsul Masail), (Munas Bandar Lampung, 1992).
- Muhammadiyah, bunga yang diberikan oleh bank-bank milik negara kepada nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlaku, termasuk perkara “mustasyabihat”. Kemudian menyarankan kepada PP Muhamadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi sistem perekonomian khususnya lembaga perbankan yang sesuai dengan aqidah Islam, (Lajnah Tarjih, Sidoarjo, 1968).
- Majelis Ulama Indonesia, berpendapat 1) Bunga bank sama dengan riba, 2) Bunga bank tidak sama dengan riba, dan 3) Bunga bank humumnya sama dengan Syubhat, tetapi MUI harus berupaya untuk mendirikan bank syariah sebagai alternatif.
- Di sisi lain menurut hukum fiqih, bahwa para ulama bersepakat bahwa hukum riba adalah haram, namun persoalannya adalah apakah bunga bank sama dengan riba? Karen Riba itu sebenarnya terbagi dalam empat bagian, yaitu: Riba Qard, Riba Jahiliyah, Riba Fardl, dan Riba Nasiah. Jadi bila dilihat dari ketentuan fiqih-nya bahwa bunga bank tersebut termasuk dalam kategori Riba Nasiah (Karena pertukaran yang sejenis dan jumlahnya dilebihkan dalam jangka waktu tertentu).
3) Dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah:
Ketentuan tentang riba termaktub dalam Al Qur’an antara lain: dalam Surah Ali Imran, 130, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwallah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keuntungan.” Dalam surah lain (Al Baqarah; 278-279), artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwallah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW, bersabda dalam beberapa hadits beliau tentang riba antara lain: yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa SAW bersabda, “Riba itu
memiliki tujuh puluh tingkatan, adapun tingkat yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya sendiri.” Selanjutnya ayat lain dalam Al Qur’an dan Hadits Rasululaah SAW berkaitan dengan riba ini akan diuraikan lebih jauh pada sub bab tersendiri.
Berdasarkan beberapa pandangan dan dalil naqli maupun aqli yang diuraikan di atas maka seyogyanya pengambilan bunga perlu dipertimbangkan lebih jauh terutama dalam praktik perbankan konvensional. Hal ini agar tercipta rasa keadilan dan eksploitasi golongan kaya terhadap miskin tidak terjadi, seperti kondisi sekarang. Dalam ekonomi yang berprinsip syariah, maka bunga harus dihindarkan dan diganti dengan sistem bagi hasil. Mengapa demikian? Karena hanya terdapat alasan-alasan lemah untuk membolehkan bunga bank (pembenaran bunga) dan pada dasarnya pembenaran tersebut dapat ditolak; seperti anggapan-anggapan berikut bahwa:
Bunga untuk konsumtif dilarang, tapi untuk kegiatan produktif dibolehkan.
Oppurtunity cost yang hilang disebabkan penggunaan uang oleh pihak lain (time value of money).
Boleh mengambil bunga karena alasan darurat.
Pada tingkat wajar, tidak masalah bunga dibebankan (adh’afan mudha’afah/usury). Uang sebagai komodoti dapat disewakan, karena itu ada harganya (hasil sewa
uang) adalah bunga.
Uang dapat dianggap sebagai komoditas bunga sebagai upah menunggu (abstinence concept).
Nilai uang sekarang (net present value) lebih besar daripada nilai uang pada masa depan (future value) karena adanya penurunan nilai uang akibat inflasi dan bunga sebagai penyeimbang laju inflasi.
Di zaman Rasulullah SAW belum/tidak ada bank, dan bank bukan syakhsiyyah mukallafah.
Oleh karena alasan-alasan lemah tersebut maka pembolehan bunga dalam praktik bisnis (perbankan) dapat ditolak atau dibantah. Sebab kalau kita mempelajari lebih jauh lagi ketentuan atau ayat-ayat tentang riba maka akan semakin nyata dampak (kerugian) bila riba yang identik dengan bunga tersebut dibolehkan. Apalagi bila dikaitkan dengan konsep
oppurtunity cost, siapakah yang dapat menjamin bahwa masa yang akan datang itu pasti untung (dalam konsep Oppurtunity Cost). Kemudian apakah selama ini kondisi ekonomi atau perbankan dalam keadaan darurat terus? Bisa pula terjadinya penurunan nilai uang atau inflasi yang tidak mutlak terjadinya, karena dapat pula akibat adanya deflasi. Bisa jadi bunga merupakan penyebab utama terjadinya inflasi. Demikan pula pembolehan bunga dapat berakibat merusak moral, sebab bagi si berpiutang (kreditur) dapat menimbulkan sifat egois, zhalim, bakhil (lebih mencintai harta), sedangkan bagi si berhutang melahirkan benih kebencian, beban yang besar, serta rasa permusuhan. Sehingga jauh rasa persaudaraan dan prisnip saling tolong menolong. Hubungan bisnis semata-mata didasarkan pada prinsip ekonomi (oriented profit) yang dipakai para kaum orientalis, hal ini sangat tidak sesuai dengan prisnip ekonomi islam. Yang mendasarkan pada prinsip saling tolong menolong (ta’awun), dalam menjalankan amanah (titipan) dari Allah SWT. Yaitu menuju taqwallah sehingga selamat di dunia dan akhirat. Dengan demikian, konsep atau prinsip Sistem Bagi Hasil menjadi satu-satunya solusi alternatif pilihan, terutama dalam pengelolan perekonomian berbasis syariah, dalam praktik bisnis (al muhasabah wal
muamallah).
Selanjutnya dalam menciptakan sistem bagi hasil tersebut, sebagaimana yang digunakan dalam konsep akuntansi konvensional maka dalam akuntansi syariah pun, khususnya untuk LKS (lembaga keuangan syariah), menggunakan dua sistem pencatatan (asumsi dasar) seperti Cash Basis dan Accrual Basis. Cash Basis; prinsip akuntansi yang mengharuskan pengakuan biaya dan pendapatan pada saat terjadinya. Sedangkan Accrual Basis; prinsip akuntansi yang membolehkan pengakuan biaya dan pendapatan didistribusikan pada beberapa periode dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, (Fatwa MUI, Nomor: 14/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sistem Distribusi Bagi Hasil Usaha dalam Lembaga Keuangan Syariah). Selanjutnya kedua sistem itu dapat digunakan dalam LKS, tetapi demi untuk kemaslahatn (al-ashlah) umat MUI menyarankan dalam pencatatan sebaiknya digunakan sistem basis akrual; akan tetapi dalam distribusi hasil usaha (profit sharing revenue) hendaknya ditentukan atas dasar penerimaan yang benar-benar terjadi (cash basis). Demikian pula dalam akad atau pemufakatan bisnis harus ditentukan dan disepakati sistem mana yang dipilih.
Secara lebih jelas perbedaan bunga dan bagi hasil dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 10
PERBEDAAN BUNGADAN BAGI HASIL