Doa adalah senjata seorang mukmin. Ketajaman senjata, serta ketepatannya dalam mengenai sasaran, sangatlah ditentu- kan bagaimana cara menggunakannya, demikian juga doa. Allah SWT memerintahkan berdoa dan menjanjikan untuk menga bul- kan doa, maka jika doa dilakukan dengan adab-adab nya pasti terka bulkan, karena Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Adab- adab tersebut adalah:
a. Memantapkan iman dan tauhid kepada Allah, dan menyam-
but perintah-perintah-Nya, meninggalkan la rangan-Nya,
ko mit men dengan aturan-Nya, yakin dengan janji-Nya, ter- masuk janji akan dikabulkannya doa. Allah berkata:
اَذِإ ِعا
َدلا َةَوْعَد ُبي ِجُأ ۖ ٌبي ِرَق ي ِّن�ِإَف ي ِّن�َع يِداَبِع َكَلأ َس اَذِإ َوَ
َنو ُد ُشْ َي� ْمُهَلَعَل ي ِب� اوُنِمْؤُيْلَو يِل اوُبي ِجَت ْسَيْلَف ۖ ِناَعَد
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-
Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. al-
Baqarah: 186).
b. Tidak tergesa gesa dalam pengabulan, dengan terus berdoa sampai Allah mengabulkan doanya. Dalam hadits dikatakan:
َلاَق َ َلــ َسَو ِهْيَلَع ُ َلا َل َص ِ َلا َلوــ ُسَر َنأ َةَ ْي� َرــُه ي ِب�َ
أ ْن َعَ
ْب َجَت ْسُي ْ َلَف ُت ْو َع َد ْدَق ُلو ُقَيَف ْل َج ْعَي ْ َل ا َم ْ ُك ِد َحَأ
ِل ُبا َجَت ْسُي
ي ِل
Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah bersabda:
“Dika bulkan seseorang di antara kalian selama tidak tergesa- gesa, dia mengatakan aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan untuk ku.” [45]
c. Menjaga kehalalan makan, minum, pakaian dan lain-lain- nya.
Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas terkenal sebagai seorang saha- bat yang sangat terkabul doanya. Beliau pernah meminta Rasulullah agar mendoakan supaya ia menjadi orang yang terkabul doanya, nabi pun mendoakan dan memberikan nasihat kepadanya agar selalu menjaga kehalalan makanan:
َل َص ِه ِلْو ُسَر َدْن ِع ُةَيآلا ِه ِذَه ْتَيِلُت : َلاَق ساَبَع ِن ْب�ا ِنَع
اًبِّيَط ًلَلَح ِضْرَألا َين� اَ ِم اْوُُك ُساَنلا اَُي�َأ َي� ( : ََل َسَو ِهْيَلَع ُه
ْنأ َه ُعْدا ،ِه َلْو ُسَر َي� : َلا َقَف ، َصاَق َو ي َب�َ
أ ِن ْب� ُد ْع َس َماُ
َقَف (
َ َل َسَو ِهْيَلَع ُه َل َص ُي ِب�َنلا ُ
َل َلاَقَف ، ِةَوْع َدلا َبا َجَت ْسُم ي ِن�َلَعْبَي�
ي ِذَلاَو ، ِةَوْع َدلا َبا َجَت ْس ُم ْنُكَت َك َم َعْط َم ْب ِطأ ُد ْع َس َي� « :َ
ِهِف ْو َج ي ِن� َما َرَلا َةَمْقُللا ُف ِذْقَيَل َدْبَعلا َنِإ ، ِه ِدَيِب ٍدَمَ ُم ُسْفَن
َن ِم ُه ُمْ َل َتَبَن ٍدْبَع ا َ ُي�أَو ، ا ًمْوَي َن ْي� ِعَب ْرَ
أ ُلَ َع ُهْن ِم ُلَب َقَتُي ا َمَ
» ِهِب َلْوأ ُراَنلاَف َب� ِّرلاَو ِت ْح ُسلاَ
Dari Ibnu Abbas berkata bahwa ayat ini dibacakan di
hadapan Nabi saw., “Wahai manusia makanlah dari apa-
apa yang di bumi dan kondisi halal dan baik, lantas Sa’ad bin Abi Waqqas berdiri dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, doakan saya menjadi orang yang terkabul doanya.’ Nabi bersabda kepadanya: ‘Ya Sa’ad perbagusilah (usahakan halal)
makananmu maka engkau menjadi orang yang dikabulkan doa, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan- Nya. Sungguh seorang hamba menelan satu suapan di dalam rongganya maka tidak diterima darinya amalan selama empat puluh hari, begitu juga dengan hamba mana saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram dan riba neraka lebih berhak baginya.” [46]
Rasulullah saw. telah menegaskan bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal akan menjadi penyebab terkabulnya doa, begitu juga sebaliknya mengkonsumsi barang dan memakai pakaian yang haram akan menyebabkan tertolaknya doa. Sebagaimana dikatakan dalam hadits:
اَ ُي�أ َي� َ َل َسَو ِهْيَلَع ُ َلا َل َص ِ َلا ُلو ُسَر َلاَق َلاَق َةَ ْي� َرُه ي ِب�َ
أ ْن َعَ
َن ي�ِن ِمْؤ ُ ْلا َر َمأ َ َلا َنِإ َو اًبِّيَ
َط َلِإ ُلَبْقَي َل ٌبِّيَط َ َلا َنِإ ُساَنلا
ِتاَبِّيَطلا ْنِم اوُُك ُل ُسُرلا اَ ُي�َأ َي� { َلاَقَف َن ي�ِل َسْرُ ْلا ِهِب َرَمَأ اَ ِب�
َن ي� ِذَلا اَ ُي�َأ َي� { : َلاَقَو } ٌ ي�ِلَع َنوُلَمْعَت اَ ِب� ي ِّن�ِإ اً ِلاَص اوُلَ ْعاَو
ُلي ِطُي َل ُجَرلا َر َك َذَو َلاَق } ْ ُكاَنْق َز َر ا َم ِتاَبِّيَط ْن ِم اوُُك اوُنَمآ
ُه ُم َعْط َمَو ِّبَر َي� ِّبَر َي� ِءا َم َسلا َلِإ ُه َدَي ُد ُ َي� َ َب�ْغَأ َثَع ْشَأ َرَف َسلا
َن�أَف ِما َرــَ ْل ِب� َي َِ
ّذــُغَو ٌما َرَح ُه ُسَبْلَمَو ٌما َرَح ُهُب َ ْثسَمَو ٌما َرَح
َكِل َذِل ُبا َجَت ْسُي
46 ) HR Thabarony dalam Al Ushat no : 6495.Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw. bersabda: “Wa- hai manusia sesungguhnya Allah itu baik, tidak mene rima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah meme rintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul, Dia berirman: ‘Wahai para Rasul makan lah dari yang baik-baik, dan beramallah shalih, sesung- guhnya Aku mengetahui apa yang kalian lakukan.’ Dia berir man: ‘Wahai orang-orang beriman makanlah dari yang baik apa yang Kami rezekikan kepada kalian.’ Dia berkata: ‘Dan beliau menyebutkan seorang laki-laki memperpanjang perjalanan, kusut, berdebu memanjangkan menadahkan tangan nya ke langit, wahai Rabbku, wahai Rabbku, wahai Rabbku, tapi makanannya haram, pakaiannya haram, dan
gizinya haram. Bagaimana dikabulkan?” [47]
d. Memulai dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu dilanjutkan dengan shalawat kepada Rasulullah. Shalawat
dan salam merupakan pembuka istijabah, dan sanjungan
kepada Allah, pengantar istijabah. di antara mukaddimah
yang sangat dikabulkan Allah adalah sebagai berikut:
َناَنلا َناَنلا َتنأ َلإ َلإ ل َد ْملا َكل َنأب� َكلأ ْسأ ي ن�إ َمُهللا
ِما َرك ِإلاَو ِلَلَبلا وُذ ِضْرألاو ِتاَواَمسلا ُعْيدب
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau, bahwa sesungguhnya milik-Mu lah segala pujian, tidak ada Ilaah kecuali Engkau, yang Maha Penyayang, Maha
Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi, Pemilik kebe- saran dan kemuliaan.” [48]
ْدَلوُي ْ َل َو ْدِلَي ْ َل ي ِذَلا ُد َم َصلا ُد َحلا ُ َلَأ ْ
أ َي� َكُلَ
أ ْسَ
أ ي ِّن�ِإ َمُهَ
َللا
ُروُف َغْلا َتْنأ َكَنِإ ي ِب�وَ
ُنُذ ي ِل َرِفْغَت ْنَأ ٌدَحَأ اًوُفُك َُل ْنُكَي ْ َل َو
ُ ي� ِحَرلا
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Engkau, ya Allah Yang Esa Dzat yang hati seluruh hamba tertuju kepa da-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada satu pun yang sebanding dengan-Nya hendaknya Engkau meng am puni aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun,
Maha Pengasih.” [49]
ٍضا َم
َك ِدَيِب ي ِق�َي ِص َن� َكِتَمَأ ُن ْب�اَو َكِدْبَع ُن ْب�اَو َك ُدْبَع ي ِّن�ِإ َمُهَللا
َتْيَ َس َكَل َوُه ٍ ْسا ِّ ُكِب َكُلَأ ْسَأ َكُؤاَضَق َي ِن� ٌل ْدَع َكُ ْكُح َي ِن�
ْوأ َكِباَتِك ي ِن� ُهَتَ
ْلَن ْن�َأ ْوَأ َكِقْل َخ ْنِم ا ًدَحَأ ُهَتَْلَع ْوَأ َك َسْفَن ِهِب
ي ِب�ْلَق َعيِب َر َنآْرُقْلا َلَعْبَق� ْنَأ َك َدْنِع ِبْيَغْلا ِْلِع ي ِن� ِهِب َتَْث�ْأَت ْسا
)دمأ هاور( ي�هِّ َ
َباَهَذَو ي ِن� ْز ُح َء
َل ِجَو يِر ْدَص َروُنَو
48 HR. Ibnu Hibban No. 49449 HR. Abu Dawud No. 835, Ibnu Majah No.3847, Ahmad No.21963, Ibnu Abi Syaibah 7/57
“Ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra hamba-Mu laki-laki, putra hamba-Mu perempuan, ubun- ubunku di tanganMu, hukum-Mu berlaku pada diriku, adil padaku keputusan-Mu, aku mohon kepada-Mu dengan semua nama Engkau beri nama dengannya diri-Mu, atau Engkau turunkan pada kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib-Mu di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur›an musim semi hatiku, cahaya dadaku, hilangnya kesedihanku, perginya kesusahanku.” [50]
َكِتَزِعِب َكُلَأ ْسَأ ُدْيِ ُي� اَ ِل ُلاَعَف َي� ِدي ِبحَلا ِشر َعلا اَذ َي� ُدو ُدَو َي�
َن َك ْرأ َ
َأ َلَم ي ِذّلا َكِرْوُنِبَو ُماَضُي َل يِذّلا َ ِكْلُ ِب� َو ُماَُق� َل ْي ِق�لا
. ِن�َ َمْ َق�
ْنَأ َك ِشْرَع
“Wahai Dzat Maha Pengasih, wahai Dzat yang memiliki Arsy yang mulia, wahai Dzat yang melakukan apa yang dikehendaki, aku mohon kepada-Mu dengan izzah-Mu yang tidak basa dicapai oleh siapapun, kerajaan-Mu yang tidak bisa digeser, dan cahaya-Mu yang memenuhi pojok
arsy-Mu hendaklah Engkau merahmatiku.” [51]
e. Mencari waktu waktu yang mustajabah, seperti setelah shalat wajib, hari Jum’at terutama antara waktu jeda dua
50 HR. Ahmad No.3528, 4091, Thabrani No.10198
51 Doa ma’tsur dari tabi’in Abi Muallaq diceritakan oleh Syekh Abu Ghuddah
dalam tahqiq kitab risalah Mustarsyidin, makna benar diambil dari lafaz Al- Qur’an dan hadits.
khutbah, ketika imam duduk di mimbar dan setelah ‘asar sampai maghrib, ketika sedang sakit, ketika bepergian, ketika hujan, antara adzan dan iqamat, dan pada sepertiga malam terakhir.
f. Mendoakan untuk saudaranya muslim. Dikatakan dalam hikmah salaf: “Kalau engkau menginginkan dikabulkan doa, berdoalah dengan lisanmu yang tidak pernah engkau gunakan maksiat. Lalu ditanyakan: ‘Siapa yang tidak pernah maksiat dengan lisannya?’ Jawabnya: ‘Gunakan lisan saudaramu, biar dia mendoakan engkau, dan engkau mendoakan dia pasti doa itu tekabulkan, untuk yang didoakan dan yang mendoakan.” Nabi bersabda:
ْ َلَف ِ ِلِن ْن�َم ي ِن� ِءاَد ْر َدلا َب�أ ُتْيَتَ
أَف َما َشلا ُت ْم ِدَق َلاَق َناَوْف َص ْنَعَ
ُتْل ُقَف َما َعْلا َجَ ْلا ُدي ِ ُق�أ ْتَلا َقَف ِءاَد ْر َدلا َمَ
أ ُت ْد َجَو َو ُه ْد ِجُ
أَ
َ َل َسَو ِهْيَلَع ُ َلا َل َص َي ِب�َنلا
َنِإَف ٍ ْي�َن ِب� اَنَل َ َلا ُعْداَف ْتَلاَق ْمَعَن
ٌةَبا َجَت ْس ُم ِبْيَغْلا ِرْهَظِب ِهي ِخَأ
ِل ِِل ْس ُ
ْلا ِءْرَ ْلا ُةَوْعَد ُلوُقَي َن َك
ُ َك َو ُ ْلا ُكَل َ ْلا َلاَق ٍ ْي�َن ِب� ِهي ِخَأ
ِل ا َع َد اَ َ ُك ٌ َك َو ُم ٌكَل َم ِه ِسأ َر َدْن ِعْ
ِءاَد ْر َدلا َب�أ ُتي ِقَلَف ِقو ُسلا َلِإ ُت ْجَرَنَ
َن� َلاَق ٍلْثِِب� َكَل َو َن ي� ِمآ ِهِب
َ َل َسَو ِهْيَلَع ُ َلا َل َص ِّي ِب�َنلا ْنَع ِهي ِوْ َي�
َكِلَذ َلْثِم ي ِل َلاَقَف
Dari Shafwan berkata, aku datang ke Syam, maka aku mendatangi Abu Darda› di rumahnya, tapi aku tidak mendapatkannya, dan kudapati Ummu Darda›, dia berkata:
“Apa engkau ingin haji tahun ini? Aku berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Doakan kita dengan kebaikan, karena Rasulullah bersabda: ‘Doanya seorang muslim untuk saudaranya ketika tidak bertemu adalah mustajab, di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan menjaganya, setiap kali berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat itu berkata: Amin dan untuk engkau seperti itu.’ Lantas aku pergi ke pasar dan bertemu dengan Abu Darda› beliau berkata kepadaku seperti itu, beliau riwayatkan dari Nabi saw.” [52]
g. Mengangkat kedua tangan :
Termasuk sunah ketika berdoa mengangkat kedua tangan, kecuali di waktu-waktu tertentu yang Rasulullah berdoa di kesempatan itu dan tidak mengangkat tangan yang mengisyaratkan bahwa hal itu tidak disyariatkan. Seperti doa ketika khutbah, adapun doa secara mutlak disukai untuk mengangkat tangan. Adapun dalil yang mensyariatkan mengangkat tangan adalah:
ا ً
ْي� َخ اَمِ ِب� ُ ُلأ ْسَي ِهْي َدَي ٌدْبَع ِهْيَلإ َط ُسْبَي ْنَ
أ ي ِي� ْحَت ْسَي ََ
َلا َنإ
. ِن ْي�َتَبِئا َخ اَ ُهُدُ َي�َف
Sesungguhnya Allah malu seorang hamba membentangkan kedua tangannya meminta dengannya kepadaNya kebaikan
lantas mengembalikan keduanya dengan hampa. [53]
52 HR. Muslim No. 4914
.ا ًرَف َص اَ ُهَدُ َي�َف ِهْي َدَي ُدْبَعْلا َعَفْ َي� ْنَأ ي ِ�َت ْسَي ٌ ي�ِرَك
ٌي ِي�َح َ َلا َنِإ
Sesungguhnya Allah Pemalu Mulia Dia malu seorang hamba mengangkat kedua tanggannya lantas mengembalikan keduanya dalam kondisi zero. [54]