• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adanya Provokator

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 157-162)

BAB IV HAMBATAN-HAMBATAN KOMUNIKASI

B. Hambatan Eksternal Komunikasi Anatarumat

2. Adanya Provokator

Dua kali peledakan BOM di Sukabumi, pertama, BOM yang meledak di depan Geraja Sidang Kristus (GSK) tahun 2000, dan kedua di rel kereta api setelah seorang jemaat Kristen pulang kebaktian membawa bingkisan dari gereja HKBP tahun 2001. Kedua peledakan BOM tersebut, telah mengganggu ketentraman masyarakat kota Sukabumi, terutama hubungan antarumat beragama. Peledakan BOM juga menurut Weber (1992) sebagai, ”sebuah tindakan sosial yang diarahkan kepada individu atau kepada beberapa individu lainnya”. Tindakan peledakan BOM tersebut, dimaknai oleh semua umat beragama bernuansa negatif, karena bertujuan untuk membikin suasana kacau balau, dan retaknya hubungan antarumat beragama di Sukabumi.

Peristiwa pengeboman itu tidak diketahui siapa pelaku penge-BOM-annya, siapa dalangnya, dan apa motifnya. Sampai sekarang (2009) saat penelitian ini dilakukan tidak pernah ditemukan siapa pelakuknya. Apakah oknum penganut agama tertentu atau bukan? Apakah orang Sukabumi sendiri atau orang luar? Indikasi kuat, diduga peristiwa tersebut dilakukan oleh orang luar yang ingin mengacaukan suasana di Sukabumi. Sebab kalau pelakunya orang Sukabumi, pasti sudah tertangkap sejak dulu. Akan tetapi sampai sekarang tahun 2009 pelaku pemboman itu belum tertangkap, sehingga dugaan kuat dilakukan oleh seseorang dari luar Sukabumi. Siapa seseorang dari luar itu? Apakah penganut agama tertentu? Kalau penganut agama tertentu dari agama apa? Sebab ajaran agama apa pun (Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Saksi

147 Yehuwa) tidak ada sepotong ayat pun yang membolehkan melakukan kekerasan seperti pemboman tersebut. Bahkan setiap agama menganjurkan untuk saling mengasihi dan menyayangi antarsesama umat manusia. Misalnya, Islam sebagai agama universal menjadi rakhmat bagi seluruh alam semesta ini, sebagaimana firman Allah, berbunyi, “Dan tidaklah Aku mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rakhmat7 bagi seluruh alam (manusia).” (QS. Al-Anbiya (21):107) Kemudian dalam ayat lain Allah menyuruh Umat Islam untuk menghormati dan menyayangi umat lain yang berbeda agama, seperti yang difirmankan Allah, berbunyi: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]:8).

Sehubungan dengan itu, Quraisy Sihab (1996:489) mengemukakan, bahwa di dalam Islam dianjurkan kepada umatnya untuk membangun persaudaraan sesama manusia, yang disebut, “ukhuwah insaniyyah” (basyariyyah) artinya persaudaraan dengan seluruh umat manusia. Sabda Nabi saw. berbunyi, “Jadikanlah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari muslim). Atau “ukhwah wathaniyyah wa an-nasab” (persaudaran dalam keturunan dan sesama warga bangsa. Lebih tegas, Allah berfirman di dalam al-Quran, yang berbunyi: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang

7 Dapat memberikan manfaat kepada semua manusia di muka bumi ini, baik kepada manusia maupun kepada makhluk-makhluk lain.

148

perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat (49):13).

Begitupula dalam doktrin agama Kristen, di dalam Al-Kitab banyak ayat-ayat yang menganjurkan kasih sayang antarsesama, diantaranya: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik, bagi semua orang (Roma, 12:17). Lebih tegas ayat berikutnya, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma, 12:18). Kedua ayat ini, menganjurkan kepada seluruh umat Kristiani untuk menumbuhkan kasih sayang antarsesama umat manusia, baik itu yang seagama maupun yang tidak.

Selanjutnya dalam agama Hindu terdapat pesan moral menganjurkan umat memikliki kasih kepada sesama. Seperti yang disabdakan dalam Bhagavad Gita, IX. 29, berbunyi “Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk. Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi.” Pemeluk agama Hindu juga mengenal arti Ahimsa dan “Satya Jayate Anertam”. Mereka diharapkan tidak suka (tidak boleh) membunuh secara biadab tapi untuk kehidupan pembunuhan dilakukan kepada binatang berbisa (nyamuk)

149 untuk makanan sesuai swadarmanya, dan diminta jujur dalam melakukan segala pikiran, perkataan dan perbuatan.8

Kemudian dalam agama Budha, jelas terdapat pula kasih sayang yang diajarkan Budha kepada umatnya, sebagaimana yang dimuat dalam sabda-sabda Budha Gotama, yakni, “Kebencian tak dapat dipadamkan dengan kebencian. Hanya sikap tidak membenci yang dapat mengakhirinya. Inilah hukum yang abadi” Dhammaphada, I:5). Lalu dalam bait berikutnya, “Banyak orang tidak menyadari, bahwa dalam permusuhan mereka akan binasa. Bagi yang telah sadar, segala permusuhan pun segera diakhiri” (Dhammaphada, I:6).

Begitupula dalam agama Saksi Yehuwa, yang berpegang teguh kepada Al-Kitab Injil relatif sama dengan Kristen Protestan dan katolik, meyatakan bahwa terdapat beberapa ayat dalam Al-Kitab mengenai kasih, diantaranya, “Paulus menasehati, “Dalam hal kasih persaudaraan, milikilah kasih sayang seorang terhadap yang lain. Dalam hal memperlihatkan hormat, hendaklah saling mendahului.” (Rm. 12:10) Dan Petrus menandaskan pokok ini lebih jauh, dengan mengatakan, “Di atas segalanya, kasihilah satu sama lain dengan sungguh-sungguh, karena kasih menutup banyak sekali dosa” (1. Ptr. 4:8).9

Berdasarkan ajaran agama-agama tersebut, sesungguhnya semua agama menganjurkan perdamaian dan

8 http//Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Hindu, tanggal 15 Oktober 2009.

9 Menara Pengawal – Memberitakan Kerajaan Yehuwa, tanggal 15 September 2009.

150

kasih sayang terhadap sesamanya, walaupun satu sama lain memiliki perbedaan, baik perbedaan karena doktrin teologi, ritual keagamaan, maupun standar moral. Dengan perbedaan-perbedaan itu, bukan berarti umat manusia harus bermusuhan, tetapi harus saling mengenal dan mengasihi. Dengan saling mengenal dan mengasihi umat manusia akan hidup rukun, damai dan tentram. Tetapi mengapa sebagian manusia ada yang berbuat kekerasan dan teror. Padahal betapa mulianya ajaran agama tersebut. Namun, dalam setiap agama selalu ada yang memaknai ajaran agama secara keliru, sehingga ia berani melakukan tindakan kekerasan. Misalnya di dalam agama Islam, ada sekelompok kecil orang yang salah dalam memaknai “jihad”, menurutnya jihad itu melakukan kekerasan, teror dan tindakan anarkis. Padahal makna, “jihad”10 yang sebenarnya ialah berjuang di jalan Allah untuk melawan hawa nafsu dan menghindari perbuatan maksiat.

Di dalam agama Kristen juga ada kelompok yang bergaris keras, walaupun tidak menyebut nama kelompoknya, tetapi gerakannya telah terbukti melakukan kekerasan, seperti yang terjadi di Kupang NTT dan di Ambon Maluku. Peristiwa yang terjadi di Kupang ialah penyerbuan Kaum Kristen terhadap masjid-masjid, sekolah-sekolah

10 Pengerahan seluruh potensi dalam menangkis musuh. Dalam hukum Islam, jihad mempunyai makna yang sangat luas, yaitu segala bentuk usaha maksimal untuk menerapkan ajaran Islam dan pemberantasan kejahatan serta kezaliman, baik terhadap diri pribadi maupun dalam masyarakat. Ulama fikh membagi jihad menjadi tiga bentuk, yaitu (a) berjihad melawan musuh secara nyata, (b)berjihad melawan setan, dan (c) berjihad terhadap diri sendiri (Ensiklopi Islam, 1997:315).

151 Islam, dan berbagai fasilitas lainnya. Hampir 23 masjid dibakar, 7 (tujuh) sekolah Islam di rusak, Kantor Pengadilan Agama Kupang dihancurkan, dan asrama Haji Kupang juga tak luput dari sasaran pembakaran dan perusakan massa (dalam, Husaini, tt:133). Peristiwa tersebut, tepatnya terjadi pada tanggal 30 Nopember 1998 dikenal dengan istilah “Tragedi Kupang.” Kemudian pada tanggal 19 Januari 1999, peristiwa serupa terjadi lagi di Ambon Maluku, yaitu ketika umat Islam sedang merayakan Idul Fitri tiba-tiba diserang oleh kelompok kaum Kristiani yang menyebabkan berberapa orang meninggal dunia dan ratusan orang luka-luka. Peristiwa itu dikenal dengan istilah “Idul Fitri Berdarah.”

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 157-162)