• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Kerukunan Hidup Antarumat Beragama

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 46-53)

BAB II KOMUNIKASI, AGAMA DAN BUDAYA

A. Komunikasi Antarumat Beragama

4. Kajian Kerukunan Hidup Antarumat Beragama

Kajian tentang kerukunann hidup antarumat beragama telah banyak dilakukan oleh para pakar dan peneliti sebelumnya. Misalnya, Dadang Kahmad (2000:175) bahwa “konsep kerukunan antarumat beragama pernah dirumuskan dan ditetapkan oleh pemerintahan Orde Baru dengan melibatkan semua tokoh agama-agama (Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha) yang ada di Indonesia. Selama masa Orba, relatif tidak ada konflik antarpumat beragama. Mungkin orang mengira bahwa itu merupakan keberhasilan dalam menerapkan konsep kerukunan.” Namun ketika di Poso, Sambas, Sampit, Kupang dan Ambon terjadi kerusuhan dan kekerasan yang bernuansa agama, maka konsep kerukunan antarumat beragama kembali dipertanyakan. Apakah penerapan konsep kerukunan hidup antarumat beragama selama ini berjalan dengan baik sesuai dengan ketulusan para tokoh dan pemeluk agama masing-masing atau hanya kamuplase yang dipaksakan? Banyak orang menduga bisa menduga bahwa kerukunan hidup antarumat beragama di masa Orde Baru seolah-olah direkayasa oleh para pemimpin dan penguasa pada saat itu, sehingga terkesan dipaksakan dan berbau sangat politis. Karena pemerintahan Orde baru saat

36

itu selalu mengedepankan pendekatan keamanan (security approach) dan represif dalam melaksanakan pembangunan nasional, termasuk pembangunan bidang keagamaan. Padahal pendekatan seperti itu akan menjadi BOM waktu, pada suatu saat akan muncul kembali, kalau penerapan konsep kerukunan tidak menembus akar masalah yang dihadapi oleh agama-agama tersebut.

Oleh karena itu, menurut Kahmad (2000:175) adalah: “Perlu pengkajian ulang terhadap konsep kerukunan antaraumat beragama yang selama ini diterapkan pemerintah. Ia tidak lagi hanya sebagai bungkus formal dari kenyataan pluralitas agama di Indonesia, tetapi harus menjadi motivator bagi terbentuknya kesadaran beragama dan berteologi di Indonesia. Jika tidak, maka konflik antaragama tidak bisa terhindarkan, akan selalu meledak. Bila terjadi, hal ini akan mengahancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik aspek politis, ekonomi maupun sosial budaya”.

Sejalan dengan pemikiran Kahmad, Hugh Goddard seorang Kristiani Inggris, yang ahli teologi Islam, dalam studinya, Menepis Standar Ganda: Membangun saling pengertian Muslim Kristen (2000:2-8) mengingatkan bahwa:

“Demi kerukunan antarumat beragama, harus dihindari penggunaan standar ganda (double standards). Orang-orang Kristen ataupun Islam, misalnya, selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya; biasanya standar yang ditunjukkan bersifat ideal dan normatif. Sedangkan terhadap agama lain yang lebih

37 bersifat realistis dan historis. Melalui standar ganda inilah, muncul prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh suasana hubungan antarumat beragama”.

Kedua pendapat pakar di atas, menunjukkan bahwa kerukunan hidup antarumat beragama hendaklah memperhatikan lima hal, yakni : (a) Harus menembus akar masalah yang dialami oleh berbagai agama, (b) mencari titik persamaan dari ajaran-ajaran agama tersebut yang bisa didialogkan, (c) memupuk kesadaran para penganut agama bahwa perbedaan itu suatu yang alamiah dan satu sama lain harus saling menghormati, (d) membangun kebersamaan dalam berbagai aktifitas kemasyarakatan dan kenegaraan/pemerintahan, dan (e) menyusun formulasi agreemen/kesepakatan diantara semua agama-agama resmi dalam menyelesaikan berbagai masalah diantara para penganut agama tersebut.

Selain itu, diantara para penganut agama yang berbeda, satu sama lain saling terbuka dan bersikap jujur bila terdapat masalah diantara mereka. Dengan bersikap jujur dan terbuka, maka beban-beban psikologis yang selama ini mengganjal diantara mereka dapat didialogkan dan mencari solusi terbaik bagi keduanya. Sebaliknya, apabila diantara mereka bersikap tertutup seperti menyimpan bara dalam api, maka lambat laun api itu akan menyala, dan kemungkinan konflik akan terjadi.

Penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati Djamas tahun 1992 mengenai Konflik Dan Kerukunan Antarumat Beragama di Daerah (Kasus di Tangerang). Penelitian ini

38

menggunakan case study (studi kasus) dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian tersebut, mengungkapkan bahwa situasi kehidupan antarumat berbeda agama di lingkungan masyarakat Tangerang ditandai oleh adanya hubungan pasif. Kondisi tersebut tercipta karena adanya hubungan pasif dan tidak adanya kebutuhan untuk melakukan interaksi sosial dan ekonomi di antara pemeluk berbeda agama. Hubungan antarkomunitas agama yang berbeda ditandai oleh corak hubungan mayoritas dan minoritas, serta antara ketegangan (tension) dan penyesuaian (adaptation). Kelompok minoritas memerlukan kekuatan (power) yang berfungsi sebagai penekanan untuk mengurangi ketegangan dan menjamin keberadaan kelompok minoritas. Kegiatan keagamaan di lingkungan masing-masing komunitas agama berfungsi untuk memperkuat solidaritas kelompok masing-masing.

Berikutnya, penelitian yang dikemukakan oleh Nurharmi (1994) tentang Kehidupan Antarumat Beragama di Pemukiman Transmigrasi Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode case studi (studi kasus) dengan pengumpulan data observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sosial yang terbentuk dalam proses interaksi sosial antara pendatang dengan penduduk aslinya (pribumi) menunjukan hal yang positif. Hal itu disebabkan oleh adanya sikap saling menghormati, toleransi, dan solidaritas dari penduduk asli dengan para transmigran (pendatang). Dari kondisi demikian terjadi perubahan sikap yang memperkuat terbentunya hubungan kerja untuk kepentingan bersama.

39 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kustini (1995) tentang Proses Pembangunan Keagamaan di Daerah (Kasus di Desa Bantaran Baturetno, Bantul). Penelitian ini menggunakan metode case study (studi kasus) dengan pendekatan evaluatif, berupaya mengevaluasi keberhasilan pembangunan bidang keagamaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pebangunan kehidupan beragama ditandai dengan ketaatan masyarakatnya dalam menjalankan perintah-perintah agama dan terbinanya kerukunan umat beragama.

Kemudian, penelitian Ibnu Hajar (1998) yang mengambil judul, Dinamika Interaksi Antaretnik dalam Mewujudkan Keserasian di Kodya Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perbedaan varian pendidikan, durasi menetap, dan agama bukan merupakan penghalang bagi terwujudnya keserasian sosial.

Penelitian kelompok yang dilakukan oleh Imam Baehaqi (2002) (sebagai koordinator) dengan anggotanya Yudi Hartono, Abdul Rozaki, dan Saiful Huda sodiq tentang Hubungan antaragama di Tiga Kota: Yogyakarta, Solo, dan Salatiga menggunakan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa di Kota Solo dalam kehidupan antarumat berbeda agama, apabila seseorang mengalami konflik dengan orang lain, orang yang bersangkutan akan menghadapinya melalui empat tahapan, yakni: “ngalah (mengalah), ngalih (pindah), ngrasani (konfrontasi)” (Baehaqi, 2002:76). Ngalah (mengalah)

40

dalam pandangan orang Solo menunjukan suatu kearifan sosial, yakni orang yang mengalah akan mendapatkan ganjaran yang besar. Dengan tindakan mengalah diharapkan orang lain dapat memahami apa yang diharapkannya. Jika dengan mengalah orang lain tidak juga memahaminya, maka jalan yang ditempuh adalah ngalih (pindah) untuk menghindari ketegangan yang dimungkinkan dapat memuncak. Langkah ketiga membicarakan permasalahan yang dihadapi secara intern dengan kelompoknya. Jika langkah ketiga telah ditempuh tetapi permasalahan masih tidak dapat diselesaikan juga, maka tidak ada jalan lain lagi kecuali melakukan tindakan-tindakan konfirmatif (ngamuk). “Nilai-nilai normatif agama merupakan alat yang efektif untuk menghukum realitas sosial yang dicita-citakan masyarakat Solo” (Baehaqi, 2002:78).

Keragaman dalam beragama dalam suatu keluarga dapat ditemui pada masyarakat Yogyakarta. ”Perbedaan agama dalam suatu keluarga pada masyarakat Yogyakarta merupakan cerminan dari adanya sikap toleransi antarumat berbeda agama” (Baehaqi, 2002:110). Namun demikian ketegangan antarumat berbeda agama tetap saja terjadi dalam hal pembangunan sarana peribadatan dan pola dakwah yang dinilai kurang santun dari suatu kelompok agama (Baehaqi, 2002:135-139).

Pada masyarakat Salatiga, ”agama Islam merupakan agama mayoritas. Interaksi sosial keagamaan dan hubungan antartokoh agama di Salatiga tampak terbangun dengan baik, terbuka dan komunikatif, bahkan cenderung sosialistik” (Baehaqi, 2002:187). ”Relasi antartetangga yang

41 mendalam dalam banyak hal akan dapat menjadi saudara, saling menghargai, menghormati, dan saling tolong-menolong” (Baihaqi, 2002:202).

Kemudian Solatun (1994) dalam penelitiannya tentang Islam dan Etika Komunikasi Antarumat Berbeda Agama Menurut Studi Pandangan Islam Tekstual yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif dan teknik hermeneutik. Hasil penelitian menjelaskan bahwa, ”pendekatan etis dalam komunikasi antarumat berbeda agama menurut pandangan Islam secara tekstual dapat merupakan suatu pendekatan alternatif dalam komunikasi antarumat berbeda agama yang memungkinkan transaksi komunikatif itu efektif, produktif, dan menghasilkan pertukaran makna secara mutualistik”.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Wawan Hermawan (2005) tentang Komunikasi Antarumat Berbeda Agama di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap individu maupun kelompok dalam komunikasi antarumat berbeda agama menunjukkan adanya sikap saling menghormati antarpemeluk agama yang berbeda, namun adanya sikap kehati-hatian diantara kelompok keagamaan terhadap berkembangnya kecemasan akan adanya penguasaan satu kelompok keagamaan terhadap kelompok keagamaan yang lain.

Terakhir, penelitian Marsel Robot (2008) tentang, ”Konstruksi Harmoni Antara Salib dan Bulat Sabit – Sebuah Etnografi Komunikasi A dan antaragama Antara Komunitas Panggol (Katolik) Komunitas Wuni (Islam) di Ntaram

42

Manggarai (Plores Barat) Nusa Tenggara Timur”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dan observasi partisipatorif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Ntaram dipersatukan oleh perbedaan agama, suku, dan tradisi kekuasaan. Nilai utama yang mempersatukan mereka adalah ca naang agu ca wa’u artinya sedarah dan seketurunan.

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 46-53)