• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dialog Antarumat Beragama

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 188-194)

BAB IV HAMBATAN-HAMBATAN KOMUNIKASI

C. Cara Mengatasi Hambatan Komunikasi

2. Dialog Antarumat Beragama

Dialog antarumat beragama, sebagai upaya untuk mencairkan kebekuan diantara umat beragama, menghilangkan saling curiga, memperkecil perbedaan, menyamakan persepsi antarumat beragama dan membangun kebersamaan semua umat beragama. Sehingga tujuan intinya adalah terwujudnya kerukunan hidup antarumat beragama di Kota Sukabumi. Dialog antarumat beragama dalam perspektif Blumer (dalam, Bachtiar, 2006:249-250) “merupakan interaksi yang dilakukan seseorang yang berhubungan dengan kegiatan manusia yang lain”. Interaksi tersebut dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok, hal ini disebut sebagai tindakan

178

bersama yang dibatasi sebagai organisasi sosial dari perilaku tindakan-tindakan berbagai manusia. Manusia-manusia yang terlibat dalam dialog tersebut adalah pemuka agama dari berbagai agama yang ada di Kota Sukabumi.

Dialog antarumat beragama, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (a) melalui kegiatan seremonial keagamaan, seperti perayaan hari natal, tahun baru Islam, tahun baru imlek dan kegiatan Cap Go me, dan (b) melalui kegiatan ilmiah, seperti seminar dan diskusi.

Pertama, kegiatan seremonial keagamaan dilakukan setiap tahun, misalnya Perayaan Natal Bersama 2007, dilakasanakan pada tanggal 28 Desember 2007 di Gedung Gede Pangrango Scapa Polri Sukabumi, dengan mengambil tema “Tuhan Yesus Juru Selamat Dunia.” Perayaan Natal tahun 2008, pada tanggal 29 Desember 2008, dengan mengambil tema, “Mari Kita Selamatkan Genersi Muda di Dunia.” Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama, Kristen Katolik, Protestan, Islam, Hindu, dan Budha. Dihadiri pula oleh tokoh pejabat pemda Kota Sukabumi, diantaranya, wali Kota Sukabumi, Muslih Abdussyukur, wakil wali kota, Mulyono dan didampingi pejabat lainnya, serta kepala Kandepag Kota Sukabumi Abu Bakar. Menarikanya, dalam perayaan tersebut, di samping wakil kota memberikan sambutan, juga mengadakan nyanyi bersama semua tokoh agama, dengan judul “kemesraan.” Lebih menarik lagi, grup kesenian yang memeriahkan acara Natal tersebut, adalah kolaborasi anak-anak muda Kristen dan pemuda-pemuda beragama Islam.

179 Demikian pula pada perayaan natal bersama tahun 2009, dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2008, tempat di gedung yang sama yaitu Gedung Gede Pangrango. Tema saat itu, “Bersatulah Selamatkan Generasi Ini.” Pada perayaan Natal ini juga, dihadiri oleh tokoh lintas agama dan pejabat pemerintah Kota, yakni wakil wali Kota Sukabumi, Mulyono didampingi oleh asda 2 Deden, kepala bidang Kesra Ipin Saripin dan hadir pula kepala Kandepag Abu Bakar, dan tokoh agama-agama lain.

Kemudian ketika umat Islam mengadakan peringatan Tahun Baru Hijrah 1430 H, tepatnya tanggal 1 Muharram 1430 H bertepatan dengan tanggal 29 Desember 2009. Pada peringatan ini diadakan “Pawai Ta’aruf” 1 Muharram 1430 H. tingkat Kota Sukabumi. Bersamaan dengan Perayaan Natal bersama di Gedung Gede Pangrango. Pawai Ta’aruf tersebut disaksikan oleh berbagai umat beragama di Kota Sukabumi, baik Kristen, Hindu, Budha/Konghucu, dan Saksi Yehuwa. Mereka menyaksikan pawai tersebut secara santai dan rilek, seperti penuturan beberapa penganut Kristen Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha.

Selanjutnya, ketika perayaan Tahun Baru Imlek 2560 (Tahun Kerbau Api) bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2009 di Wihara Dharma Sakti, juga dihadiri beberapa tokoh agama dan pejabat Pemda Kota Sukabumi. Bahkan tidak hanya pejabat pemerintah dan tokoh agama, tetapi juga setiap tahun baru imlek disaksikan oleh orang-orang muslim sekitar. Dalam tahun baru imlek, wali kota tidak memberi sambutan tetapi hanya menengok kurang lebih 15 menit dan didakan obrolan dengan pengurus vihara dan pandita di

180

sana. Dialog yang dilakukan sekitar ulang tahun imlek tersebut, berlangsung secara singkat.

Setiap perayaan tahun baru imlek ada beberapa rangkaian kegiatan, diantaranya menampilkan kesenian barongsai dan sisingaan. Kesenian barongsai atau sisingaan ditampilkan menjelang detik-detik tahun baru imlek, yaitu mulai jam 23.00 sudah dimulai. Kesenian itu disaksikan oleh masyarakat lintas agama yang berada di sekitar Vihara Whidi Sakti. Di samping itu kegiatan lain yang paling ditunggu-tunggu masyarakat sekitar adalah pawai Cap Go Meh.16 Sebelum pawai dimulai diadakan seremonial terlebih dahulu, salah satunya pidato wali Kota Sukabumi. Pidato wali kota pada perayaan Cap Go Meh tahun 2009, “mengharapkan seluruh umat beragama terutama umat Budha/Kong Hu Cu melalui perayaan Cap Go Meh ini dapat menjadi perekat rasa persatuan dan kesatuan kita di dalam keberagaman. Setelah acara seremonial selesai, langsung pawai Cap Go Meh dibuka oleh Wali Kota. Pawai Cap Go Meh menampilkan berbagai kesenian terutama barongsai dan sisingaan.

Pawai Cap Go Meh ini menarik, mengapa menarik? Karena personil barongsai dan sisingaan kebanyakan orang-orang muslim. Di dalam grup kesenian tersebut personilnya gabungan antara orang-orang budha dengan orang-orang muslim, bahkan kebanyakan orang muslim. Ini sesuatu yang luar biasa, betapa kerukunan hidup antarumat beragama

16 Perayaan pada tanggal 15 setelah detik-detik tahun baru imlek, setiap tahunnya. Pada acara ini diadakan pawai barongsai sebagai tradisi kesenian orang-orang Tionghoa.

181 terwujud melalui berbagi kegiatan kesenian. Melalui kesenian itu terjadi dialog melalui pesan-pasan verbal dan pesan nonverbal antarumat beragama. Dialog melalui pesan verbal betapa asyiknya orang Budha/Konghucu berinteraksi dengan penganut agama lain, terutama dengan orang-orang muslim di sana. Baik antara personil grup kesenian, maupun antara pejabat pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat setempat menyatu dengan orang-orang yang sedang merayakan kegiatan tahun barunya.

Kedua, dialog antarumat beragama melalui kegiatan ilmiah, seperti seminar dan diskusi panel. Kegiatan seminar yang pernah dilaksanakan dua tahun terakhir yaitu seminar lintas iman, yang diselenggarakan pada bulan september 2008. Kemudian menjelang kampanye Pemilu 2009, diadakan seminar tentang Sosialisasi Pemilu dan Revitalisasi Kerukunan Umat Beragama, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2009, dengan tema, “Berkat Sosialisasi Pemilu dan Revitalisasi Kerukuan Umat beragama, Demi Raih Prestasi Pesta demokrasi Yang Sukses, Sejuk dan Berkualitas di Kota Sukabumi.”.” Dalam seminar itu dihadiri oleh semua tokoh agama dan politisi partai politik dari berbagai partai yang ada di Kota Sukabumi.

Tujuan diselenggarakannya seminar tersebut adalah: a. Konsolidasi, sinkronisasi dan sinergi antara seluruh

komponen masyarakat, FKUB, KPU dan stekhorders guna menciptakan pesta demokrasi yang suskse, sejuk dan berkualitas di Kota Sukabumi.

b. Menciptakan kesamaan persepsi dan kesepahaman agar terhindar dari resiko black campaign, character

182

assassination dari dan pada suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), persaingan yang sehat antar partai, antar caleg dan juga menciptakan mental siap menang dan siap kalah.

c. Membantu tugas KPU dalam rangka sosialisasi PEMILU sekaligus sebagai ikhtiar pencerdasan politik bagi tokoh masyarakat, pemuka agama dan stekholders, yang kemudian supaya diteruskan pada masyarakat sekitar mereka khususnya tentang cara mudah “mencontreng.” d. Menegaskan pada semua pihak, bahwa Pemilu adalah

sementara. Sedang membangun Kota Sukabumi dengan penuh kerukunan atau persaudaraan semua warga adalah selamanya.17

Berdasarkan tujuan seminar tersebut, intinya bahwa pelaksanaan Pemilu 2009 sebagai sebuah pesta demokrasi lima tahunan dapat berjalan lebih demokratis dan berkualitas. Sehingga pemilu tersebut menjadi pemilu yang indah tanpa ekses dan tidak mengganggu tatanan kehidupan sosial serta kerukunan hidup antarumat beragama. Oleh karena itu, seminar ini diharapkan semua pihak yang terlibat dalam pemilu, baik langsung maupun tidak langsung, mulai calon anggota legislatif (caleg), tokoh partai, KPU, panwaslu, pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh agama untuk memiliki sikap dewasa. Sehingga pemilu di Kota Sukabumi dapat berjalan tertib, aman dan damai.

Demikian pula, dialog antarumat beragama, dapat dilakukan melalui pertemuan rutin tiga bulan sekali dan

183 pada momentum-momentum penting yang diprakarsai FKUB. Pertemuan tiga bulan sekali sebagai ajang silatuhami dan mempererat pesaudaraan diantara tokoh lintas agama. Kemudian pertemuan lain sifatnya kondisional tergantung masalah-masalah yang dihadapi oleh umat beragama. Misalnya, ketika terjadi pertistiwa peledakan BOM di depan Gereja Sidang Kristus (GSK) 2000, dan peledakan BOM yang kedua tahun 2001. Semua tokoh agama secepatnya merespon dan langsung mengadakan pertemuan, untuk berdialog mencari akar masalah dari peristiwa tersebut.

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 188-194)