• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prasangka Sosial

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 129-137)

BAB IV HAMBATAN-HAMBATAN KOMUNIKASI

A. Hambatan Internal Komunikasi Antarumat

3. Prasangka Sosial

Prasangka sosial antarumat beragama, disebabkan karena dua hal, yakni (a) karena adanya perbedaan idiologis dan (b) adanya persaingan pragmatis diantara kelompok-kelompok keagamaaan tersebut. Pertama, perbedaan idiologis antara umat berbeda agama di kota Sukabumi nampak sangat jelas. Dengan berbeda idiologi pasti berbeda pandangan teologinya. Perbedaan idiologi kadang-kadang menimbulkan prasangka sosial yang negatif antarkelompok keagamaan. Umat agama tertentu hanya mengakui kebenaran agamanya masing-masing dan menganggap remeh keyakinan agama orang lain. Sehingga muncul prasangka sosial negatif antarumat beragama satu dengan yang lainnya. Tetapi prasangka sosial ini, tidak sampai melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap suatu agama tertentu. Misalnya, umat Kristiani memangdang umat Islam sebagai domba-domba tersesat yang perlu diselamatkan dan menjadi murid-murid Kristus. Sebaliknya umat Islam seringkali menyebut kapir kepada orang-orang Kristen, karena mereka tidak mempercayai Allah sebagai

119 satu-satunya Tuhan dan tidak mengimani Nabi Muhammad saw. sebagai nabi penutup akhir zaman. Begitupula umat Kristiani sering menyebut umat Saksi Yehuwa sebagai aliran sesat. Tetapi prasangka-prasangka negatif tersebut, hanya bersifat personal tidak melembaga di dalam komunitas agama masing-masing. Sehingga tidak terekspos ke luar dan tidak sampai mengganggu kerukunan hidup antarumat beragama.

Selanjutnya, kalau prasangka sosial mengarah kepada penghinaan terhadap ideologi dan teologi suatu agama tertentu, maka masalahnya menjadi lain. Karena keyakinan seseorang terhadap agamanya menjadi prinsip mendasar yang sangat sensitif. Bila keyakinan seseorang dilecehkan oleh penganut agama lain, maka akan timbul reaksi yang keras dari penganut agama itu. Kondisi, ini sering terjadi dalam perjalanan dan kehidupan agama di dunia. Misalnya, ketika Salman Rusydi, Novelis berkebangsaan India asal Inggris, mengarang buku, “The Satanic Verses” (ayat-ayat setan) yang melecehkan al-Quran dan umat Islam, maka muncul reaksi keras dari seluruh komunitas muslim di seluruh dunia. Bahkan Ayathullah Khamaeni memberi fatwa wajib hukumnya untuk menangkap Salman dalam keadaan hidup atau mati. Kemudian pelecehan juga muncul dari Novelis asal Denmark melalu kartun yang menggambarkan Nabi seorang teroris. Selanjutnya Penghinaan serupa juga muncul dari seorang senator Belanda, bernama Greet Wilders melalui film, “Fitna” yang mengilustrasikan Islam sebagai yang mengagungkan kekerasan.

Pelecehan-120

pelecehan ini mendapat perlawanan keras dari seluruh Umat Islam di dunia.

Jadi berdasarkan pengalaman sejarah, umat Islamlah yang menjadi objek penghinaan dan pelecehan umat agama tertentu di dunia. Apakah mereka cemburu dengan kemajuan Islam di dunia saat ini? Apakah mereka masih menyimpan dendam sejarah? Atau mereka iri dengan ajaran Islam yang relevan dengan perkembangan sains modern? Atau masalah apa? Mungkinkan mereka dendam dengan perilaku kekerasan yang dilakukan segelintir umat Islam di belahan dunia lain dan negeri kita selama ini? Wallahu alam. Perilaku kekerasan tersebut, dikecam oleh semua umat manusia di dunia, tidak hanya umat agama lain tetapi juga dikecam oleh umat Islam sendiri. Karena sesungguhnya ajaran Islam yang dipraktekan Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengajarkan kekerasan. Sebab Islam adalah agama “rahmatan lil’alamin” – rahmat untuk seluruh alam. Oleh karena itu, tidak bisa digeneralisasi, ketika segelintir kecil umat Islam melakukan kekerasan, misalnya, seperti perilaku kekerasan dengan melakukan BOM yang dilakukan oleh jaringan teroris Nurdin M. Top selama ini, bukan berarti semua umat Islam seperti itu. Dengan demikian, pelecehan seperti yang telah disebutkan di atas, tidak perlu terjadi, kalau mereka memahami makna “pluralistik” Artinya bahwa kita hidup berada dalam perbedaan, dengan perbedaan itu kita harus saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya. Jadi tidak mesti saling menghina dan melecehkan, karena akan mengganggu peradaban dunia yang damai dan harmonis.

121 Kedua, persaingan pragmatis antara kelompok agama yang satu dengan kelompok agama yang lain, terlihat di berbagai dimensi kehidupan seperti, dimensi ekonomi, politik, dan pendidikan. Persaingan dalam bidang ekonomi terjadi persaingan sehat antara komunitas muslim yang pribumi dengan kelompok Tionghoa yang Kristen. Bahkan dalam beberapa even diantara mereka saling membantu satu dengan yang lainnya. Kemudian persaingan dalam bidang politik terjadi antara politisi muslim dengan politisi Kristen di saat pemilihan umum legislatif dan pemilihan ketua DPRD. Sementara persaingan dalam bidang pendidikan terjadi, ketika pendirian sekolah-sekolah berbasis Kristen dengan muslim sekitar. Termasuk persaingan promosi jabatan dari guru menjadi kepala sekolah, dan dari kepala sekolah menjadi pengawas dan kepala dinas pendidikan.

Dengan demikian prasangka-prasangka sosial diantara penganut berbeda agama kerap muncul di benak dan sikap mereka, sehingga kadang-kadang prasangka seperti ini mengganggu hubungan yang harmonis diantara penganut agama. Bahkan dengan prasangka tersebut tumbuh sikap dan perilaku untuk menjauh dan mengambil jarak serta tidak mau berhubungan dengan orang atau kelompok lain. Terkadang melahirkan sikap dan perilaku merugikan orang atau kelompok agama lain. Prasangka-prasangka sosial yang sering muncul adalah Prasangka-prasangka dari kaum muslim terhadap kelompok Kristen, terutama isu Kristenisasi dan penginjilan. Akan tetapi prasangka kaum muslim terhadap Hindu, Budha/Kong Hu Cu dan Saksi

122

Yehuwa tidak terlalu nampak, karena menurut kelompok muslim agama-agama yang disebutkan terakhir tidak mengganggu aqidah umat Islam. Paling-paling kalau pun ada mengenai isu kesenjangan sosial dan ekonomi antara orang muslim yang pribumi dengan orang Tinghoa keturunan.

Sedangkan prasangka dari kelompok Kristen terhadap orang muslim adalah, bahwa orang muslim sebagai kelompok mayoritas merasa dirinya lebih hebat, suka mengatur yang minoritas, sok berkuasa dan kurang memberi kebebasan kepada umat Kristiani terutama dalam pendirian tempat ibadah, seperti yang pernah disampaikan Hadiana salah seorang Pengurus Majlis Gereja Kristen Indonesia (GKI). Dalam hubungannya dengan kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, Mar’at (1981:115) mengatakan bahwa, timbulnya sikap prasangka banyak ditentukan oleh faktor-faktor, sebagai berikut:

a. Kekuatan faktual yang terlihat hubungan antara mayoritas dan minoritas.

b. Fakta akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan minoritas.

c. Fakta mengenai kesempatan untuk usaha pada mayoritas dan minoritas.

d. Fakta mengenai unsur geografik, dimana keluarga minoritas mereduksi daerah-daerah tertentu.

e. Posisi dan peran dari sosial ekonomi yang pada umumnya dikuasai oleh kelompok minoritas.

f. Potensi energi eksistensi dari kelompok minoritas dalam mempertahankan kehidupannya.

123 Pendapat Mar’at di atas, sungguh relevan dengan kondisi yang terdapat di Kota Sukabumi, bagaimana kelompok mayoritas (muslim) selalu menginginkan perlakuan yang istimewa dari pihak pemerintah kota, baik dalam mendapatkan bantuan finasial, fasilitas keagamaan maupun dalam mengakses bidang politik, ekonomi, dan pendidikan. Kondisi tersebut, menurut Ismatullah “Biasanya kelompok mayoritas di suatu daerah selalu mendapatkan perlakuan yang istimewa dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat lain.” Dan itu terjadi manapun, di Ambon, Papua, Aceh termasuk di Sukabumi”. Oleh karena, kelompok minoritas terutama kaum Kristiani merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah, terutama dalam beberapa hal, yakni: (a) masalah bantuan finansial dan fasilitas keagamaan, (b) akses menjadi pegawai negeri, (c) promosi jabatan di dinas pendidikan, dan (d) masalah ketersediaan guru agama Kristen di sekolah-sekolah negeri.

Kemudian umat Kristiani juga merasa dianggap remeh oleh kelompok mayoritas (muslim), menurut mereka kehidupan agama kami diatur oleh kelompok mayoritras, misalnya ketika mendirikan tempat ibadah gereja, rumah panti jompo, dan mendirikan sekolah Kristen, betapa susahnya, harus mendapat izin pemerintah, izin lingkungan dan sebagainya. Bahkan kami mendapat pertentangan dari kaum mayoritas.

Prasangka yang paling tajam dari kelompok Kristen adalah tentang keberadaan agama baru Saksi Yehuwa. Menurut mereka, ”Saksi Yehuwa sangat mengganggu ketenangan kaum Kristen, dan mengusik keyakinan mereka

124

tentang Yesus Kristus yang sudah berabad-abad diyakini kebenarannya”. Dengan adanya Saksi Yehuwa di Kota Sukabumi, kaum Kristen merasa kecolongan, mengapa ada yang mengaku bagian dari kami, tetapi memiliki dogma yang berbeda. Oleh karena itu, kaum Kristen mengganggap mereka sesat. Karena sesat, mereka harus diluruskan. Padahal selama ini, kelompok agama lain tidak pernah mengungkit-ungkit kepercayaan kami. Kalau pun muncul masalah bukan karena persoalan keyakinan kami, tetapi masalah lain, misalnya, masalah kesenjangan sosial, ekonomi dan politik.

Kemudian, prasangka dari kelompok agama Hindu terhadap umat agama-agama lain, relatif cukup positif. Mereka memandang bahwa umat beragama yang terdapat di Sukabumi sangat familier dan bersahabat, satu sama lain saling mendukung keberadaan dan aktifitas agama masing-masing. Khususnya terhadap umat kami Hindu sebagai umat yang paling minoritas. Namun, sedikit ada ganjalan, ketika gereja akan didirikan di Secapa Polri, mendapat reaksi dari kalangan muslim, dan umat Hindu juga terkena imbasnya ketika saat itu sedang menyelesaikan pembangunan Pure di dalam komplek Scapa tersebut. Walupun sebenarnya umat Islam tidak protes terhadap umat Hindu, tetapi ekses dari pendirian gereja tersebut.

Begitupula prasangka dari umat Budha terhadap agama-agama lain juga sangat bangus, bahwa, semua umat beragama di sukabumi sudah saling pengertian, satu sama lain, bahkan sudah sering melakukan kerjasama dalam bidang sosial dan kemasyarakatan, seperti bakti sosial,

125 mengadakan perayaan 17 Agustusan bersama, dan mengadakan olah raga Taichi bersama setiap hari senin sampai jumat, mulai jam 6.00 – 7.00 pagi, tempatnya di depan Vihara Widhi Sakti. Namun, relatif terdapat ganjalan psikologis, ketika agama baru Saksi Yehuwa muncul di Sukabumi.

Selanjutnya, bagaimana prasangka-prasangka sosial pemuka dan umat Saksi Yehuwa terhadap agama-agama lain, seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Pemuka-pemuka agama Saksi Yehuwa, mengakui peran sosial, politik dan ekonomi umat agama lain begitu sangat besar memberikan konstribusi terhadap pembangunan Kota Sukabumi. Karena mereka sudah lama berada di Sukabumi, bahkan sejak ratusan tahun yang lalu. Pemuka-pemuka agama Saksi, memandang bahwa agama lain sudah membangun kerjasama yang baik dalam berbagai hal, sedangkan kami belum, karena keberadaan kami di sukabumi secara dejure resmi baru diakui tahun 2001-an, walaupun secara defacto sudah hidup sejak 15 tahun yang lulu. Tetapi terdapat ganjalan psikologis dengan agama Katolik dan protestan, karena terdapat perbedaan teologis yang sangat prinsipil. Saksi Yehuwa, tidak mengakui adanya doktrin “Ttitunggal”, tidak mengakui adanya neraka, dosa waris, dan hari Natal. Perbedaan teologis inilah mempengaruhi hubungan diantara mereka, sehingga diantara mereka saling curiga satu sama lain. Kondisi ini sangat potensial mengganggu kerukunan hidup antarumat beragama di Kota Sukabumi, bahkan akan menjadi BOM waktu, kalau tidak diantisipasi sejak sekarang.

126

Efek dari prasangka-prasangka tersebut, ”menjadikan orang lain sebagai sasaran prasangka, misalnya mengkambinghitamkan diantara mereka satu sama lain, melalui stereotipe, diskriminasi, dan penciptaan jarak sosial” (liliweri, 2003:15-16). Dengan demikian, prasangka sosial akan menjadi sumber yang potensial munculnya perpecahan/disintegrasi yang dapat mengakibatkan konflik antara penganut agama di Sukabumi. Ketika kondisi demikian terjadi, maka akan terjadi pula kemandegan komunikasi sosial antarkelompok, ras, etnik atau golongan. Dengan kata lain, prasangka menjadi sumber potensial disharmonisasi dan disintegrasi. Disharmonisasi dan disintegrasi dalam perspektif ini muncul karena adanya kesenjangan informasi serta sikap sinis dan persaingan yang didasarkan bukan atas prestasi melainkan pada rasa kalah dan tidak percaya diri. Dengan demikian prasangka akan menjadi jarak sosial diantara berbagai kelompok agama yang cendrung tidak adaptif, tidak fleksibel, bersikap tertutup dan keengganan untuk membuka diri karena berbagai alasan yang tidak rasional.

Dalam dokumen KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DAN AGAMA (Halaman 129-137)