• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADAPTASI TANAMAN SAGU (Metroxylon spp) PADA LAHAN MARJINAL, POTENSI TEGAKAN, DAN KAPASITAS

Dalam dokumen Prosiding FKPTPI 2017 Ambon (Halaman 46-51)

PRODUKSI PATI SAGU DI PULAU SERAM PROVINSI MALUKU

Samin Botanri1), Muhammad Riadh Uluputty2), dan Marwan Yani Kamsurya1) 1)

Fakultas Pertanian Univ. Darussalam Ambon

2)

Fakultas Pertanian Univ. Pattimura Ambon

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian bertujuan mengungkapkan kemampuan tanaman sagu beradaptasi pada kondisi lahan marjinal, potensi tegakan, dan kapasitas produksi pati sagu di P. Seram Provinsi Maluku. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-November 2009, merupakan penelitian survey yang dilakukan pada 3 wilayah sampel, yaitu Luhu, Sawai, dan Werinama. Petak sampel ditetapkan dengan menggunakan metode non-random

sampling secara beraturan (systematic sampling). Data dianalisis secara deskriptif dan

tabular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman sagu dapat tumbuh pada kondisi lahan tereduksi (marjinal) dengan pH mencapai 4,3. Kondisi lahannya senantiasa tergenang, baik permanen maupun temporer. Berdasarkan jumlah populasi tanaman sagu, jenis sagu yang memiliki daya adaptasi yang tinggi sampai sempit terhadap berbagai kondisi habitat, secara berurutan M. rumphii Mart (tuni). > M. longispinum Mart. (makanaro) > M. sylvestre Mart (ihur). > M. sagu Rottb. (molat) > M.

microcanthum Mart (durirotang). Jenis tanaman sagu M. rumphii Mart. dikategorikan

sebagai jenis sagu yang memiliki tingkat toleransi yang luas/lebar (eury tolerance) terhadap kondisi habitatnya. Jenis tanaman sagu M. longispinum Mart., M. sylvestre Mart., dan M. sagu Rottb. dikategorikan sebagai jenis sagu dengan tingkat toleransi sedang (meso tolerance). Sedangkan jenis tanaman sagu M. microcanthum Mart. dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki tingkat toleransi sempit (steno

tolerance). Potensi sagu di P. Seram mencapai 3,22 juta rumpun, pohon 1,47 juta

individu, dan pohon panen ± 350 ribu individu. Sagu M. rumphii Mart dan M. sylvestre merupakan jenis tanaman sagu dengan kapasitas produksi pati tinggi, mencapai 566,04 dan 560,68 kg/batang. Sedangkan kapasistas produksi pati sagu jenis M. longispinum dan M. sagu masing-masing hanya sekitar 245,21 dan 237,22 kg/batang.

Kata kunci : adaptasi, marjinal, sagu, dan produksi pati.

PENDAHULUAN

Potensi sagu terbesar di dunia terdapat di Indonesia, dari total 2 juta hektar sagu dunia, sekitar 51,3 % tumbuh dan berkembang di negara kita, atau sekitar 1,1 juta hektar (Flach, 1983 dan Budianto, 2003). Sedangkan berdasarkan perkiraan Suryana (2007) dikatakan bahwa sagu nasional kita kurang lebih 60 % dari total area sugu dunia. Di beberapa negara lain seperti Papua New Guinea (PNG), Malaysia, dan Thailand luas area sagunya tidak banyak. Dari luas area sagu yang besar itu, kebanyakan terdapat di Provinsi Papua dan Maluku, diperkirakan mencapai 95 % dari total luas area sagu nasional.

Di dalam pandangan orang Maluku dan Papua, tanaman sagu merupakan komoditas dengan multifungsi, artinya berbagai bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. Bagian paling penting yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat adalah pati sagu atau aci sagu. Pada masa yang lampau pati sagu atau tepung sagu dijadikan sebagai bahan pangan pokok penghasil karbohidrat bagi orang Papua dan Maluku, namun sekitar 15-25 tahun terakhir ini terjadi perubahan

pola konsumsi masyarakat yang beralih ke beras dan terigu. Perubahan ini berimplikasi pada pemanfaatan tepung sagu sebagai bahan pangan semakin berkurang bahkan terabaikan. Di dalam masyarakat Maluku pada masa sekarang ini mencari tepung sagu atau produk olahan sagu lebih sulit dibandingkan dengan mencari beras dan terigu. Sebagai masyarakat Maluku, terasa bahwa tanaman ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, baik pemerintah daerah apalagi pemerintah pusat. Padahal tanaman ini memiliki keunggulan karena mampu bertahan hidup pada kondisi lahan marjinal yang tidak memungkinkan jenis tanaman pangan maupun tanaman perkebunan bisa tumbuh.

Pada kondisi lahan yang marjinal itu di Provinsi Maluku tumbuh dan berkembang 5 jenis sagu, yaitu : 1) Metroxylon rumphii Mart. (sagu tuni), 2) M. sagu Rottb. (molat), 3)

M. sylvestre Mart. (ihur), 4) M. longispinum Mart. (makanaru), dan 5) M. microcanthum

Mart. (duri rotan) (Louhenapessy, 2006; Bintoro, 2008; dan Rostiwati et al. 2008)). Dikatakan lebih lanjut oleh Notohadiprawiro dan Louhenapessy (1993) bahwa tanaman sagu memiliki kisaran kondisi pertanaman yang relatif luas, mulai dari lahan tergenang sampai dengan lahan kering, yang penting kandungan lengas tanah terjamin cukup tinggi. Dikatakan lebih lanjut oleh Botanri (2010) bahwa secara umum tanaman sagu tumbuh pada 2 kondisi habitat, yaitu lahan kering dan lahan basah (tergenang). Pada kondisi lahan tersebut tanaman sagu mampu tumbuh dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sejumlah potensi tegakan berbagai jenis tanaman sagu yang mampu tumbuh dengan baik.

Selain itu, pada kondisi habitat yang kurang menguntungkan itu, tanaman sagu masih mampu untuk dapat menghasilkan atau berproduksi, yang ditunjukkan melalui hasil pati sagu (tepung sagu). Dalam kaitan tersebut, maka penelitian ini bertujuan mengungkapkan kemampuan tanaman sagu untuk dapat beradaptasi pada kondisi lahan yang bersifat marjinal, potensi tegakan dan kapasitas produksi tanaman sagu di P. Seram Provinsi Maluku.

METODE PENELITIAN

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survey, dilakukan di Pulau Seram. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-November 2010. Pengamatan dilakukan pada 3 wilayah sampel, yaitu (1) Luhu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), (2) Sawai, Kabupaten Maluku Tengah (MT), dan (3) Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Analisis parameter tanah dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah (BPT) Bogor.

2. Metode Pengumpulan Data

a. Pengamatan Sifat Lahan

Tipe habitat ditentukan berdasarkan sifat lahan tempat tumbuh sagu. Pada setiap tipe habitat diamati sifat tanah. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm menggunakan bor tanah. Alasan sampai kedalaman 60 cm, terkait dengan kedalaman perakaran sagu, yakni sebagian besar berada pada kedalaman tersebut. Kemasaman tanah (pH, H2O) ditetapkan dengan menggunakan pH meter tanah, sedangkan pH (KCl) ditetapkan di laboratorium. Untuk mengetahui sifat fisik tanah, sampel diambil menggunakan ring.

b. Pengamatan tanaman sagu

Pengamatan dilakukan pada petak kuadrat berukuran 20 m x 20 m. Plot-plot pengamatan ini dibuat pada berbagai tipe habitat, yaitu habitat lahan kering (TTG), tergenang temporer air tawar (T2AT), tergenang temporer air payau (T2AP), dan tergenang permanen (TPN). Petak sampel ditetapkan dengan menggunakan metode non-random sampling (penarikan contoh tak acak), secara beraturan (systematic sampling) (Kusmana, 1997). Pengukuran atau pengamatan tanaman sagu meliputi :

1. Jumlah rumpun pada setiap unit contoh, pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah rumpun setiap jenis sagu. Satu rumpun dianggap sebagai satu tanaman.

2. Jumlah individu per rumpun, pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah individu per rumpun dengan memisahkan menjadi beberapa fase pertanaman. Penentuan fase pertanaman didasarkan pada kriteria yang dikembangkan BPPT (1982 dalam Haryanto dan Pangloli 1992). Pengamatan tanaman sagu pada masing-masing petak kuadrat yang disusun atau ditentukan secara sistematis, dipisahkan menurut tipe habitat. Pemisahan ini dimaksudkan untuk keperluan penetapan jumlah rumpun tiap-tiap varietas/subvarietas sagu.

3. Produksi pati sagu. Parameter ini ditetapkan dengan cara menimbang hasil panen per batang (pohon panen). Penimbangan dilakukan dengan cara menimbang pati sagu basah yang telah dimasukkan ke dalam wadah yang disebut ”tumang”. Kemudian dikoreksi dengan jumlah tumang pada setiap batang panen. Pada setiap tipe habitat diambil tiga batang untuk diukur besarnya produksi pati sagu.

3. Analisis data

Data hasil penelitian yang diperoleh didekati menggunakan analisis deskriptif. Sedangkan data potensi sagu dianalisis menggunakan analisis tabulasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kondisi Habitat Tanaman Sagu

Kondisi habitat tanaman sagu di P. Seram sangat bervariasi, hasil riset menunjukkan bahwa tanaman sagu tumbuh dan berkembang pada berbagai tipe habitat, yaitu : (1) habitat pasang-surut air payau, (2) habitat tergenang air tawar, (3) habitat tergenang permanen, dan (4) habitat lahan kering. Habitat pasang-surut air payau adalah habitat yang berdekatan atau berbatasan dengan vegetasi nipah (mangrove). Tanaman sagu pada tipe habitat ini pada umumnya tumbuh di bagian belakang nipah, dari bagian pesisir ke arah daratan. Tanaman sagu di sini biasanya mengalami perendaman apabila terjadi air pasang, dan kondisi habitatnya mengering jika air laut surut. Habitat tergenang air tawar adalah habitat tanaman sagu yang mengalami perendaman air apabila terjadi hujan dan tergenang selama beberapa waktu, yakni sekitar satu sampai dua minggu atau paling lama satu bulan. Apabila tidak terjadi hujan selama beberapa waktu, kondisi habitatnya akan mengering. Habitat tergenang permanen adalah tipe habitat sagu yang mengalami genangan air selama lebih dari satu bulan. Air genangan bisa berasal dari air hujan atau air sungai.

Habitat lahan kering adalah kondisi habitat tempat tumbuh sagu tidak pernah mengalami genangan air, apakah dari air hujan, sungai atau air laut. Kondisi lahan pada tipe habitat ini pada umumnya memiliki kelerengan agak datar, artinya tidak datar sama sekali atau miring sehingga tidak memungkinkan air sungai, air laut, ataupun air hujan yang jatuh atau yang masuk ke areal habitat sagu tersebut tidak menyebabkan genangan, air tersebut akan diteruskan masuk ke sungai, kolam atau daerah agak cekung yang dapat menampung air, atau seringkali masuk ke tipe habitat tergenang.

Deinum (1984 dalam Notohadiprawiro dan Louhenapessy 1993) menyebutkan bahwa habitat asli tanaman sagu adalah tepian parit dan sungai yang becek, tanah berlumpur, akan tetapi secara berkala mengering. Lahan sekitar parit pada umumnya berupa lahan kering, sedangkan pada pinggiran sungai, kebanyakan tergenang air atau relatif basah, meskipun ada pula yang kering. Flach (1983) menyebutkan bahwa habitat tumbuh yang baik untuk pertanaman sagu adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam, kaya mineral dan bahan organik, air tanah berwarna coklat dan bereaksi agak masam. Apabila akar nafas terendam air secara terus menerus akan menghambat pertanaman, dan dengan sendirinya menghambat pembentukan karbohidrat berupa pati dalam pokok batangnya.

Tempat tumbuh sagu terdapat di tanah yang lembab, di sepanjang tepi sungai, di sekitar danau dan tanah berawa (Atmawidjaja, 1992). Tanaman sagu dijumpai juga di tempat dimana terdapat pohon nipah di muara sungai. Tanah lempung berpasir merupakan tempat tumbuh yang baik, sebaliknya di tanah gambut pertanaman sagu cukup merana. Pada jalur transisi antara hutan sagu dan hutan tropika basah, dimana sesekali digenangi air, sagu tumbuh dengan baik. Tanaman sagu dapat pula tumbuh pada tanah-tanah organik, akan tetapi sagu yang tumbuh pada kondisi tanah yang demikian biasanya menunjukkan berbagai gejala defisiensi terhadap beberapa unsur hara tertentu yang ditandai oleh berkurangnya jumlah daun dan umur sagu yang lebih panjang mencapai 15-17 tahun (Flach 1997).

Apabila dilihat dari kemungkinan hidup tanaman sagu berdasarkan kisaran keadaan hidrologi, maka Notohadiprawiro dan Louhenapessy (1993) menyatakan bahwa kisaran keadaan hidrologi tempat tumbuh sangat lebar. Sagu dapat hidup pada keadaan lahan yang tergenang, sampai kondisi lahan yang tidak tergenang asalkan kondisi kadar air tanah (lengas tanah) terjamin cukup tinggi. Kondisi kadar air yang tinggi ini dapat disebabkan oleh genangan berkala, daya tahan menyimpan air banyak, misalnya karena mengandung bahan organik banyak, maupun oleh air tanah dangkal. Pada genangan tetap, pertanaman sagu pada fase semai masih baik, akan tetapi pada fase pembentukan batang (tiang dan pohon) laju pertanamannya sangat lambat, jumlah pohon masak tebang per hektar sedikit dan produksi pati per pohon rendah. Pertanaman dan produksi tampak cukup baik pada lahan dengan genangan berkala atau yang tidak tergenang.

Di daerah rawa pantai dengan kadar garam (salinitas) tinggi tanaman sagu masih dapat tumbuh, ditemukan bercampur dengan nipah. Akan tetapi perkembangan fase pembentukan batang dan pembentukan pati terhambat. Secara alamiah di daerah rawa pasang surut zone sagu berada di belakang zone nipah yang lebih tenggelam (Notohadiprawiro dan Louhenapessy, 1993).

2. Adaptasi Sagu Pada Lahan Marjinal

Lahan marginal adalah lahan yang mempunyai potensi rendah sampai dengan sangat rendah untuk menghasilkan tanaman pertanian atau dapat disebut sebagai lahan yang mempunyai mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas. Potensi yang sangat rendah pada lahan marginal ini disebabkan oleh sifat tanah, lingkungan fisik, atau kombinasi dari keduanya yang kurang menguntungkan bagi pertanaman tanaman (Tufaila el at., 2014).

Beberapa faktor pembatas yang menyebabkan terjadinya lahan marjinal antara lain adalah kondisi kemasaman tanah (pH) yang rendah, misalnya kurang dari 5.0, memiliki kesuburan tanah yang rendah yang ditunjuukkan oleh Kapasistas Tukar Kation (KTK) yang rendah, kandungan unsur hara tersedia sedikit, kepadatan (bulk density) yang tinggi, kandungan air yang berlebih (surplus) atau kurang (defisit), tekstur berliat, lapisan top soil tipis, dll. Hasil analisis sifat kimia tanah di bawah tegakan tanaman sagu di P. Seram Provinsi Maluku disajikan pada berikut.

Tabel 1. Kondisi sifat kimia tanah di bawah tegakan tanaman sagu di P. Seram, Maluku

Pada Tabel di atas tampak bahwa tanaman sagu di Pulau Seram tumbuh dan berkembang pada kondisi lahan dengan pH (H2O) berkisar 4,47-5,63. Hal ini menunjukkan bahwa sagu dapat tumbuh pada kondisi pH yang bersifat masam, sebagian besar berupa rawa-rawa yang senantiasa tergenang. Jika genangan semakin lama, kondisi habitat menjadi semakin tereduksi sehingga pH tanah bertambah masam. Hal ini ditunjukkan oleh pH (KCl) yang dapat mencapai 4,3. pH (KCl) biasanya dijadikan petunjuk mengenai kemasaman potensial, yaitu taraf pH tanah terendah yang dapat dicapai apabila kondisi tanah tereduksi. Kemasaman yang rendah ini dapat pula didorong oleh kadar Fe dan Al yang sangat tinggi (rata-rata Fe 3,08% dan Al 4,99%). Kategori ini berdasarkan kriteria BPT Bogor (2005). Fe dan Al merupakan kation yang dapat memberikan akses masam karena kedua kation ini memiliki kemampuan dalam memecahkan (hidrolisis) molekul air sehingga ion hidrogen dalam tanah dapat meningkatkan hidrogen yang meningkat berpengaruh terhadap penurunan pH tanah. Meskipun pH tanah dapat turun mencapai 4,3, tetapi tanaman sagu mampu untuk beradaptasi pada kondisi dengan kemasaman yang rendah tersebut. Dengan demikian, maka dapat dikatakanj bahwa tanaman sagu merupakan salah jenis tanaman yang memiliki tingkat tolerasni dengan kondisi kemasaman yang rendah. Rostiwati et al. (2008) mengemukakan bahwa tanaman sagu tumbuh baik pada tanah berlumpur, air tanah berwarna coklat dan bereaksi agak masam, dan sangat toleran terhadap pH 3,5-6,5.

Kandungan unsur hara nitrogen di dalam habitat sagu di p. Seram Maluku rata-rata sebesar 0,19%, termasuk kategori rendah menurut kriteria Landon (1986 dalam Syekhfani, 1997). Nitrogen paling tinggi ditemukan pada tipe habitat T2PAT kedalaman 0-30 cm mencapai 0,26%. Rendahnya kandungan nitrogen tanah ini menunjukkan bahwa sumber nitrogen tanah terbatas. Nitrogen tanah biasanya berasal dari bahan organik yang memiliki kandungan protein tinggi (Stevenson, 1994). Sumber bahan organik yang lain dapat berasal dari pengikatan nitrogen bebas oleh mikroba tanah, air hujan, atau melalui pemupukan. Rendahnya kandungan nitrogen tanah dapat pula karena nitrogen inorganik terserap oleh tanaman sagu dan vegetasi lain dalam habitat tersebut.

Secara umum pada semua tipe habitat di lahan sagu pulau Seram Maluku memiliki rasio C/N ≤ 20, merupakan rasio yang termasuk dalam kategori rendah. Rasio C/N merupakan petunjuk untuk menjelaskan mengenai kecepatan proses perombakan bahan organik berupa dekomposisi dan mineralisasi unsur hara yang terikat secara kimia dalam bentuk senyawa kompleks (Hardjowigeno, 2003). W olf and Snyder (2003) mengemukakan bahwa rasio C/N merupakan salah satu variabel yang menentukan cepat atau lambatnya proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik dalam membebaskan unsur hara yang terkandung di dalamnya terutama nitrogen. Rasio C/N ≤ 20% mengandung makna bahwa perombakan bahan organik berlangsung cepat, dan sebaliknya apabila rasio C/N melebihi 20%, kecepatan perombakan akan berlangsung lambat. Jika perombakan berlangsung lambat, pelepasan unsur hara terutama nitrogen akan terhambat (Handayanto, 1994 dalam Botanri et al., 2001).

Kapasistas tukar kation (KTK) di habitat sagu dapat mencapai 26,69 cmol(+)/kg, termasuk kategori tinggi menurut kriteria BPT Bogor (2005). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi habitat sagu cukup subur, artinya unsur hara yang berada di dalam tanah dalam kondisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sagu. KTK yang tinggi merupakan petunjuk bahwa tanah memiliki penyanggah (buffer) terhadap unsur hara (Syekhfani, 1997). Tanah-tanah yang memiliki KTK tinggi terhindar dari pencucian unsur hara (leaching) sehingga unsur hara senantiasa tetap berada dalam jangkauan perakaran. Hardjowigeno (1992) mengemukakan bahwa KTK merupakan sifat kimia tanah yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah, karena unsur hara terdapat dalam kompleks jerapan koloid, unsur-unsur hara tersebut tidak mudah hilang tercuci oleh air.

Kandungan fosfor dalam tanah rata-rata sebesar 0,05%, termasuk kategori sangat tinggi menurut kriteria BPT Bogor (2005). Walaupun kandungan fosfor termasuk kategori tinggi, namun dapat dimungkinan tidak tersedia bagai tanaman, halmini dikarenakan dapat difiksasi oleh Fe, Al, Mn, Cu, dan Zn pada tanah masam.

Kandungan kation basa pada umumnya termasuk kategori sangat tinggi. Tingginya kation-kation basa ini dapat dikarenakan oleh pengaruh bahan induk tanah yang sebagian besar berasal dari bahan coral dan limestone.

3. Adaptasi Tanaman Sagu Pada Tipe Habitat Berbeda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat. Dari lima jenis tanaman sagu yang tumbuh dan berkembang dalam wilayah P. Seram, hanya tiga jenis sagu yang ditemukan tumbuh pada semua tipe habitat yaitu M. rumphii Mart., M. sylvestre Mart. dan M. longispinum Mart. (Lampiran 1). Dua jenis tanaman sagu yang lain yakni M. microcanthum Mart. dan M. sagu Rottb. ditemukan pada tipe habitat terbatas. Jenis M. microcanthum Mart. hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG), sedangkan jenis M. sagu Rottb. hanya ditemukan pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN). Hal ini menunjukkan bahwa tiga jenis tanaman sagu yang disebutkan pada bagian awal memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai tipe habitat, sedangan dua jenis yang lain memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan tipe habitat yang relatif terbatas.

Dalam kaitan dengan habitat tergenang, Levitt (1980) mengemukakan bahwa penggenangan dapat memunculkan tiga macam cekaman secara berurutan yaitu : 1) cekaman tekanan turgor sebagai akibat potensi air meningkat, 2) cekaman defisit oksigen, dan 3) cekaman ionik oleh unsur mangan (Mn2+) dan besi (Fe2+). Jika terjadi penggenangan, mula-mula memunculkan cekaman air yakni peningkatan cekaman turgor, diikuti dengan cekaman sekunder berupa kekurangan oksigen dalam air, implikasi berikut adalah terjadi cekaman ionik. Ketika oksigen di dalam air berkurang, maka potensial oksidasi-reduksi menurun, implikasi selanjutnya adalah terjadi akumulasi Mn2+ dan Fe2+ yang bersifat meracun (toxic). Tubuh tanaman pada kondisi cekaman karena genangan, maka akan menciptakan resistensi (katahanan) melalui penghindaran (avoidance) dan toleransi (tolerance). Penghindaran terhadap cekaman defisit oksigen terjadi melalui pembesaran ruang antar sel (intercellular space) misalnya dengan meningkatkan volume perakaran yang dapat mencapai 70 %. Sedangkan toleransi terhadap cekaman berlangsung melalui penghindaran terhadap akumulasi senyawa yang bersifat toxic atau toleransi terhadap akumulasi senyawa itu. Skema adaptasi tanaman pada kondisi tergenang yang menyebabkan cekaman terhadap defisit oksigen tersaji pada gambar berikut (Gambar 1).

Gambar 1. Diagram ketahanan tanaman terhadap kondisi defisit oksigen (Levitt, 1980)

Apabila interaksi tanaman sagu dengan tipe habitat ini dijadikan ukuran atau acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasi tanaman sagu terhadap tipe habitatnya, tampak bahwa kemampuan adaptasi diantara jenis sagu dengan tipe habitat relatif berbeda. M. rumphii Mart. secara keseluruhan mempunyai kemampuan adaptasi yang

Dalam dokumen Prosiding FKPTPI 2017 Ambon (Halaman 46-51)