ADAPTIF DALAM PELAYANAN IMIGRASI KBRI KUALA LUMPUR
Setelah membaca bab ini, para pembelajar diharapkan dapat menjelaskan konsep Adaptif dalam pelayanan imigrasi untuk meningkatkan kinerja organisasi.
Penyelenggara pelayanan publik harus terus melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan membuat gagasan baru. Khususnya perubahan yang makin cepat seperti perubahan teknologi, peraturan, kebijakan dan kondisi sosial ekonomi politik yang tentunya akan menuntut perubahan pola dalam pelayanan publik. Kita sebagai atase imigrasi tidak dapat menolak keadaan dan harus cepat beradaptasi dengan situasi perubahan tersebut.
A. Konsep Adaptif dalam Jabatan Tugas Atase Imigrasi
Pemimpin yang merupakan pionir-pionir agen perubahan dalam birokrasi dituntut untuk mampu beradaptasi dan menjadi contoh yang baik bagi timnya. Diibaratkan seperti anak panah yang melesat menuju sasaran yang telah ditentukan, seorang pemimpin harus adaptif menghadapi perubahan, cepat merespons masalah, dan tepat memberikan solusi.
“Tidak ada lagi pola pikir lama, tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi
kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona
nyaman, harus berubah. Sekali lagi, kita harus berubah. Kita harus
membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, menuntut kita harus cepat
beradaptasi dengan perkembangan zaman”
-Joko Widodo-
Sebagai Atase Imigrasi, kami harus mampu membuat adaptasi terhadap situasi pelayanan keimigrasian di KBRI Kuala Lumpur dengan jumlah WNI yang berada di Malaysia baik legal (≤ 2.100.000 orang) maupun ilegal (≥ 2.000.000 orang) harus berani membuat perubahan secara mendasar dan tertata sesuai SOP. Sementara itu konsep adaptif jika dilihat dari teori birokrasi adalah untuk mengikis pengaruh minor neotradisionalisme, maka hal yang paling penting adalah suatu transformasi budaya menuju birokrasi modern yang organis adaptif. Dalam hal ini adalah birokrasi yang terbuka terhadap gagasan inovatif, peka terhadap perubahan-perubahan lingkungan, penekanan pada peningkatan produktivitas, profesionalisme, pelayanan dan peningkatan kualitas sumber daya aparatnya. Model birokrasi adaptif akan kenyal terhadap guncangan dana ketidakpastian yang melanda lingkungannya. Organis adaptif antar jenjang hierarki relatif lebih longgar tidak terkungkung pada prosedur-prosedur administratif yang formalistis.
BAB 3
ADAPTIF DALAM PELAYANAN IMIGRASI KBRI KUALA LUMPUR
Setelah membaca bab ini, para pembelajar diharapkan dapat menjelaskan konsep Adaptif dalam pelayanan imigrasi untuk meningkatkan kinerja organisasi.
Penyelenggara pelayanan publik harus terus melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan membuat gagasan baru. Khususnya perubahan yang makin cepat seperti perubahan teknologi, peraturan, kebijakan dan kondisi sosial ekonomi politik yang tentunya akan menuntut perubahan pola dalam pelayanan publik. Kita sebagai atase imigrasi tidak dapat menolak keadaan dan harus cepat beradaptasi dengan situasi perubahan tersebut.
A. Konsep Adaptif dalam Jabatan Tugas Atase Imigrasi
Pemimpin yang merupakan pionir-pionir agen perubahan dalam birokrasi dituntut untuk mampu beradaptasi dan menjadi contoh yang baik bagi timnya. Diibaratkan seperti anak panah yang melesat menuju sasaran yang telah ditentukan, seorang pemimpin harus adaptif menghadapi perubahan, cepat merespons masalah, dan tepat memberikan solusi.
“Tidak ada lagi pola pikir lama, tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi
kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona
nyaman, harus berubah. Sekali lagi, kita harus berubah. Kita harus
membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, menuntut kita harus cepat
beradaptasi dengan perkembangan zaman”
-Joko Widodo-
Sebagai Atase Imigrasi, kami harus mampu membuat adaptasi terhadap situasi pelayanan keimigrasian di KBRI Kuala Lumpur dengan jumlah WNI yang berada di Malaysia baik legal (≤ 2.100.000 orang) maupun ilegal (≥ 2.000.000 orang) harus berani membuat perubahan secara mendasar dan tertata sesuai SOP. Sementara itu konsep adaptif jika dilihat dari teori birokrasi adalah untuk mengikis pengaruh minor neotradisionalisme, maka hal yang paling penting adalah suatu transformasi budaya menuju birokrasi modern yang organis adaptif. Dalam hal ini adalah birokrasi yang terbuka terhadap gagasan inovatif, peka terhadap perubahan-perubahan lingkungan, penekanan pada peningkatan produktivitas, profesionalisme, pelayanan dan peningkatan kualitas sumber daya aparatnya. Model birokrasi adaptif akan kenyal terhadap guncangan dana ketidakpastian yang melanda lingkungannya. Organis adaptif antar jenjang hierarki relatif lebih longgar tidak terkungkung pada prosedur-prosedur administratif yang formalistis.
Jika dikaitkan dengan seorang Atase Imigrasi, yang mempunyai peluang untuk berhubungan dengan pihak luar, menyerasikan nilai-nilai sehingga membuat konsep kerja yang terus menerus mencari hal-hal baru, menyesuaikan dengan perkembangan dan selalu belajar dari pengalaman masa lalu. Karakteristik seorang atase imigrasi yang adaptif ditujukan ke arah kemampuan memecahkan masalah-masalah secara efektif dan daya inovatif. Nilai-nilai sentral yang ditanamkan adalah efektif, efisien, etos profesional, sifat-sifat adaptif, responsif serta keberanian untuk mengambil risiko.
B. Permasalahan Tugas Kerja Atase Imigrasi Mewujudkan Adaptif
Permasalahan tugas kerja yang dihadapi saat menjalankan tugas dalam mewujudkan konsep adaptif dalam pelayanan imigrasi. Atase imigrasi KBRI KL dihadapi permasalahan utama yaitu harus mampu beradaptasi dengan permasalahan yang beragam dari PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang ada di Malaysia. Pemerintah Indonesia melalui KBRI KL menyikapi serius berbagai isu menyangkut pekerja migran Indonesia (PMI). Adapun isu besar yang menjadi perhatian KBRI KL yaitu masalah deportasi, pemulangan warga yang ada di shelter dan kasus penganiayaan terhadap PMI.
PMI yang tertangkap pada operasi pendatang asing tanpa izin (PATI) tidak semuanya memiliki uang sehingga menjadi faktor biaya pemulangan. Jika dikaitkan dengan dokumen mereka, KBRI tentu bisa membantu dan diupayakan untuk diskusi dengan pemerintah Malaysia membahas masalah deportasi.
C. Strategi Mencapai Adaptif dalam Pelayanan Imigrasi
Strategi mencapai pelayanan imigrasi yang adaptif adalah dengan pemanfaatan sistem imigrasi yang bukan hanya berfungsi administratif, melainkan juga menyangkut dengan keamanan dan wibawa negara, dan adaptif dengan teknologi informasi atau komitmen dengan era revolusi industri 4.0.
Strategi Si-Ancol dan SMS Gateway merupakan strategi yang masuk dalam konsep adaptif. Sehingga semua kantor imigrasi di Indonesia maupun perwakilan di luar negeri menjadi lebih tertib sesuai SOP dalam penerapan pelayanan paspor, SPLP dan visa.
Jika dikaitkan dengan seorang Atase Imigrasi, yang mempunyai peluang untuk berhubungan dengan pihak luar, menyerasikan nilai-nilai sehingga membuat konsep kerja yang terus menerus mencari hal-hal baru, menyesuaikan dengan perkembangan dan selalu belajar dari pengalaman masa lalu. Karakteristik seorang atase imigrasi yang adaptif ditujukan ke arah kemampuan memecahkan masalah-masalah secara efektif dan daya inovatif. Nilai-nilai sentral yang ditanamkan adalah efektif, efisien, etos profesional, sifat-sifat adaptif, responsif serta keberanian untuk mengambil risiko.
B. Permasalahan Tugas Kerja Atase Imigrasi Mewujudkan Adaptif
Permasalahan tugas kerja yang dihadapi saat menjalankan tugas dalam mewujudkan konsep adaptif dalam pelayanan imigrasi. Atase imigrasi KBRI KL dihadapi permasalahan utama yaitu harus mampu beradaptasi dengan permasalahan yang beragam dari PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang ada di Malaysia. Pemerintah Indonesia melalui KBRI KL menyikapi serius berbagai isu menyangkut pekerja migran Indonesia (PMI). Adapun isu besar yang menjadi perhatian KBRI KL yaitu masalah deportasi, pemulangan warga yang ada di shelter dan kasus penganiayaan terhadap PMI.
PMI yang tertangkap pada operasi pendatang asing tanpa izin (PATI) tidak semuanya memiliki uang sehingga menjadi faktor biaya pemulangan. Jika dikaitkan dengan dokumen mereka, KBRI tentu bisa membantu dan diupayakan untuk diskusi dengan pemerintah Malaysia membahas masalah deportasi.
C. Strategi Mencapai Adaptif dalam Pelayanan Imigrasi
Strategi mencapai pelayanan imigrasi yang adaptif adalah dengan pemanfaatan sistem imigrasi yang bukan hanya berfungsi administratif, melainkan juga menyangkut dengan keamanan dan wibawa negara, dan adaptif dengan teknologi informasi atau komitmen dengan era revolusi industri 4.0.
Strategi Si-Ancol dan SMS Gateway merupakan strategi yang masuk dalam konsep adaptif. Sehingga semua kantor imigrasi di Indonesia maupun perwakilan di luar negeri menjadi lebih tertib sesuai SOP dalam penerapan pelayanan paspor, SPLP dan visa.
D. ANCOL (Antrean Cara Online)
Latar belakang dari pembuatan inovasi ini karena pada saat kami datang di KBRI Kuala Lumpur, pelayanan keimigrasian dapat dibilang semrawut, tidak jelas, tidak ada SOP serta terjadinya praktik percaloan dengan menjual nomor Antrean oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan sudah beberapa kali Atase sebelumnya kami terjerat permainan tersebut, diperiksa dan ditangkap KPK.
Booking Antrean secara
online, yang diberi nama SI-ANCOL. layanan ini bertujuan untuk memperbaiki sistem pelayanan paspor agar lebih baik. Selama ini diketahui Antrean permohonan paspor di KBRI KL selalu menumpuk bahkan biasanya menunggu berjam-jam. Layanan Si-Ancol juga bertujuan untuk
memberikan kepastian pelayanan dan mengurangi Antrean pemohon paspor dan SPLP di KBRI Kuala Lumpur.
Layanan ini dapat diakses melalui situs web dan ponsel berbasis Android, pengguna nantinya dapat melakukan
booking antrean, pemohon
mengisi data yang diperlukan kemudian pemohon diminta untuk melampirkan foto diri untuk verifikasi data nantinya dan setelah itu memilih hari dan waktu yang tersedia di sistem.
Tahapan atau langkah prosedural dalam melaksanakan strategi Si-Ancol yaitu Dengan keterbatasan biaya, kami bekerja sama dengan pihak ketiga yang mau bekerja dengan biaya/ongkos yang baru bisa didapat setelah pekerjaan selesai, karena ini semua dengan menggunakan biaya pribadi dulu.
Kendala atau regulasi yang dihadapi pada saat melaksanakan strategi Ancol adalah sama dengan kendala dari pelaksanaan LACI dan Si-Ponco dikarenakan tidak adanya SOP yang jelas dalam pelayanan keimigrasian, sehingga kami tidak menemui adanya kendala regulasi dalam penerapan Si-Ancol.
Menghadapi hambatan atau kendala pelaksanaan Si-ANCOL, di mana Si-Ancol adalah Antrean Online Anti Calo yang dalam penerapan pendaftaran Antrean online disertai pengambilan foto wajah juga Online, namun di satu sisi terdapat kendala karena pada dasarnya tingkat pengetahuan pekerja migran Indonesia selanjutnya disebut PMI di luar negeri Gagap Teknologi (GAPTEK) akan tetapi kami tidak memikirkan itu karena keharusan penertiban agar pemohon paspor tidak datang
D. ANCOL (Antrean Cara Online)
Latar belakang dari pembuatan inovasi ini karena pada saat kami datang di KBRI Kuala Lumpur, pelayanan keimigrasian dapat dibilang semrawut, tidak jelas, tidak ada SOP serta terjadinya praktik percaloan dengan menjual nomor Antrean oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan sudah beberapa kali Atase sebelumnya kami terjerat permainan tersebut, diperiksa dan ditangkap KPK.
Booking Antrean secara
online, yang diberi nama SI-ANCOL. layanan ini bertujuan untuk memperbaiki sistem pelayanan paspor agar lebih baik. Selama ini diketahui Antrean permohonan paspor di KBRI KL selalu menumpuk bahkan biasanya menunggu berjam-jam. Layanan Si-Ancol juga bertujuan untuk
memberikan kepastian pelayanan dan mengurangi Antrean pemohon paspor dan SPLP di KBRI Kuala Lumpur.
Layanan ini dapat diakses melalui situs web dan ponsel berbasis Android, pengguna nantinya dapat melakukan
booking antrean, pemohon
mengisi data yang diperlukan kemudian pemohon diminta untuk melampirkan foto diri untuk verifikasi data nantinya dan setelah itu memilih hari dan waktu yang tersedia di sistem.
Tahapan atau langkah prosedural dalam melaksanakan strategi Si-Ancol yaitu Dengan keterbatasan biaya, kami bekerja sama dengan pihak ketiga yang mau bekerja dengan biaya/ongkos yang baru bisa didapat setelah pekerjaan selesai, karena ini semua dengan menggunakan biaya pribadi dulu.
Kendala atau regulasi yang dihadapi pada saat melaksanakan strategi Ancol adalah sama dengan kendala dari pelaksanaan LACI dan Si-Ponco dikarenakan tidak adanya SOP yang jelas dalam pelayanan keimigrasian, sehingga kami tidak menemui adanya kendala regulasi dalam penerapan Si-Ancol.
Menghadapi hambatan atau kendala pelaksanaan Si-ANCOL, di mana Si-Ancol adalah Antrean Online Anti Calo yang dalam penerapan pendaftaran Antrean online disertai pengambilan foto wajah juga Online, namun di satu sisi terdapat kendala karena pada dasarnya tingkat pengetahuan pekerja migran Indonesia selanjutnya disebut PMI di luar negeri Gagap Teknologi (GAPTEK) akan tetapi kami tidak memikirkan itu karena keharusan penertiban agar pemohon paspor tidak datang
berdesakan di tengah malam secara walk-in dan menghindari calo nomor Antrean pada saat walk-in. inovasi Ancol dibuat agar PMI dengan senang hati datang ke KBRI, dengan hanya menggunakan scan barcode Ancol sudah dapat langsung menuju ruangan wawancara dan langsung dipanggil oleh petugas, dalam waktu ±5 menit seluruh proses selesai
E. Sistem Informasi Paspor Berbasis SMS Gateway
Pemanfaatan teknologi SMS untuk memudahkan publik mendapatkan informasi terkait pelayanan
imigrasi berupa persyaratan pembuatan paspor atau SPLP, tarif pelayanan, konfirmasi penyelesaian dokumen dan lokasi pengambilan dokumen.
Strategi dari pembuatan SMS Gateway karena pada umumnya PMI kita tinggal dan bekerja jauh dari Kuala Lumpur, maka kondisi ini membutuhkan strategi pelayanan yang bersifat adaptif terkait waktu dan jarak. Sehingga strategi pelayanan imigrasi yang adaptif tersebut dilaksanakan dengan terobosan menggunakan SMS
Gateway. Para PMI tidak perlu bolak balik ke Kuala Lumpur hanya untuk
memeriksa atau menanyakan apakah paspor/SPLP sudah selesai atau belum. PMI hanya perlu mengirim SMS dan akan mendapat jawaban paspor sudah siap atau belum dan kapan dapat diambil.
Tahapan awal adalah pada saat proses wawancara, petugas loket imigrasi harus memastikan pemohon memasukkan nomor HP yang benar, kemudian pada saat menyerahkan resi pembayaran, petugas akan menjelaskan apabila pemohon ingin mengetahui paspor/SPLP sudah siap atau belum, dapat SMS ke nomor layanan SMS Gateway.
Dari sisi internal KBRI KL, menyiapkan 1 (satu) nomor untuk digunakan sebagai SMS Gateway serta perangkat komputer dan aplikasi dari SMS
Gateway tsb dengan menggunakan fasilitas celcom.
Kendala atau regulasi baik internal maupun eksternal yang dihadapi pada saat melaksanakan strategi SMS Gateway. Untuk kendala internal sendiri, kami tidak menemui kendala, tetapi dari segi eksternal, PMI harus benar-benar diberi pemahaman yang jelas oleh petugas loket mengenai tata cara SMS Gateway tersebut. Strategi menghadapi hambatan tersebut dan solusi apa yang digunakan saat terkendala dengan SMS Gateway adalah Kami mengarahkan petugas loket untuk memastikan bahwa setiap PMI tahu dan mengerti penggunaan SMS Gateway, sebelum PMI meninggalkan loket wawancara.
F. Peningkatan Kinerja dan Capaian Tugas dengan ANCOL dan
SMS Gateway
Capaian tugas dengan inovasi Ancol dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda yaitu dari sisi pekerja migran Indonesia (PMI) dan dari sisi petugas. Jika dilihat dari sisi PMI jadi memiliki kejelasan kapan tanggal dan jam kedatangannya, tidak perlu mengantre dari malam hanya untuk mendapatkan nomor Antrean pelayanan keimigrasian.
berdesakan di tengah malam secara walk-in dan menghindari calo nomor Antrean pada saat walk-in. inovasi Ancol dibuat agar PMI dengan senang hati datang ke KBRI, dengan hanya menggunakan scan barcode Ancol sudah dapat langsung menuju ruangan wawancara dan langsung dipanggil oleh petugas, dalam waktu ±5 menit seluruh proses selesai
E. Sistem Informasi Paspor Berbasis SMS Gateway
Pemanfaatan teknologi SMS untuk memudahkan publik mendapatkan informasi terkait pelayanan
imigrasi berupa persyaratan pembuatan paspor atau SPLP, tarif pelayanan, konfirmasi penyelesaian dokumen dan lokasi pengambilan dokumen.
Strategi dari pembuatan SMS Gateway karena pada umumnya PMI kita tinggal dan bekerja jauh dari Kuala Lumpur, maka kondisi ini membutuhkan strategi pelayanan yang bersifat adaptif terkait waktu dan jarak. Sehingga strategi pelayanan imigrasi yang adaptif tersebut dilaksanakan dengan terobosan menggunakan SMS
Gateway. Para PMI tidak perlu bolak balik ke Kuala Lumpur hanya untuk
memeriksa atau menanyakan apakah paspor/SPLP sudah selesai atau belum. PMI hanya perlu mengirim SMS dan akan mendapat jawaban paspor sudah siap atau belum dan kapan dapat diambil.
Tahapan awal adalah pada saat proses wawancara, petugas loket imigrasi harus memastikan pemohon memasukkan nomor HP yang benar, kemudian pada saat menyerahkan resi pembayaran, petugas akan menjelaskan apabila pemohon ingin mengetahui paspor/SPLP sudah siap atau belum, dapat SMS ke nomor layanan SMS Gateway.
Dari sisi internal KBRI KL, menyiapkan 1 (satu) nomor untuk digunakan sebagai SMS Gateway serta perangkat komputer dan aplikasi dari SMS
Gateway tsb dengan menggunakan fasilitas celcom.
Kendala atau regulasi baik internal maupun eksternal yang dihadapi pada saat melaksanakan strategi SMS Gateway. Untuk kendala internal sendiri, kami tidak menemui kendala, tetapi dari segi eksternal, PMI harus benar-benar diberi pemahaman yang jelas oleh petugas loket mengenai tata cara SMS Gateway tersebut. Strategi menghadapi hambatan tersebut dan solusi apa yang digunakan saat terkendala dengan SMS Gateway adalah Kami mengarahkan petugas loket untuk memastikan bahwa setiap PMI tahu dan mengerti penggunaan SMS Gateway, sebelum PMI meninggalkan loket wawancara.
F. Peningkatan Kinerja dan Capaian Tugas dengan ANCOL dan
SMS Gateway
Capaian tugas dengan inovasi Ancol dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda yaitu dari sisi pekerja migran Indonesia (PMI) dan dari sisi petugas. Jika dilihat dari sisi PMI jadi memiliki kejelasan kapan tanggal dan jam kedatangannya, tidak perlu mengantre dari malam hanya untuk mendapatkan nomor Antrean pelayanan keimigrasian.
Dari sisi petugas sendiri, dengan kepastian jadwal pemohon yang akan datang dan dapat memilih hari dan jam, petugas lebih mudah dalam bekerja dengan kuota yang telah ditetapkan.
Capaian SMS Gateway: dengan inovasi ini, PMI mendapat kepastian mengenai kesiapan paspor/SPLP serta mengurangi biaya untuk bolak balik ke KBRI. Data pen-dukung jumlah penyelesaian kerja sebelum strategi Ancol dan SMS Gateway dilaksana-kan, dan data pendukung jumlah penyelesaian kerja setelah strategi Ancol dan SMS Gateway dilaksanakan. Terlihat dari Si-ANCOL per hari dengan kuota 300-400 orang pemohon per hari. Dan SMS Gateway per hari yang menggunakan fasilitas lebih dari 400 orang.
Keberhasilan Si-Ancol dan Sistem Informasi Paspor berbasis SMS
Gateway didukung oleh Stakeholder internal dan eksternal yang
berkontribusi. Stakeholder internal adalah petugas pelayanan yang sudah menjalan pekerjaan sesuai SOP, dan Stakeholder eksternal adalah SIMKIM Dirjen Imigrasi, Kementerian Luar Negeri melalui Bagian Kerumahtanggaan dan Keuangan KBRI Kuala Lumpur serta Celcom Malaysia.
Strategi Si-Ancol dan Sistem Informasi Paspor berbasis SMS Gateway belum pernah dilakukan di KBRI lain, sampai dengan saat ini di Tahun 2020. Belum ada kedutaan/perwakilan ataupun kantor imigrasi di Indonesia yang
menggunakan inovasi ini, hanya Atase Imigrasi di KBRI Kuala Lumpur merupakan pencetus awal dari inovasi ini. Dan yang sudah mengikuti dalam penerapan inovasi ini setelah kami mendapatkan penghargaan dari Hasan Wirayudha Award Kemlu adalah KBRI Singapura, KJRI Johor Bahru, KJRI Kota Kinabalu, KRI Tawau dan akan mengikuti KJRI Kuching dan KJRI Penang.
Hari ini, aku baru ngurus paspor pakai online mudah banget cukup 3 hari
& ada pemberitahuan dari SMS, itu dijamin selesai. Silakan datang ke KBRI KL. -Natalia Sagala
Dari sisi petugas sendiri, dengan kepastian jadwal pemohon yang akan datang dan dapat memilih hari dan jam, petugas lebih mudah dalam bekerja dengan kuota yang telah ditetapkan.
Capaian SMS Gateway: dengan inovasi ini, PMI mendapat kepastian mengenai kesiapan paspor/SPLP serta mengurangi biaya untuk bolak balik ke KBRI. Data pen-dukung jumlah penyelesaian kerja sebelum strategi Ancol dan SMS Gateway dilaksana-kan, dan data pendukung jumlah penyelesaian kerja setelah strategi Ancol dan SMS Gateway dilaksanakan. Terlihat dari Si-ANCOL per hari dengan kuota 300-400 orang pemohon per hari. Dan SMS Gateway per hari yang menggunakan fasilitas lebih dari 400 orang.
Keberhasilan Si-Ancol dan Sistem Informasi Paspor berbasis SMS
Gateway didukung oleh Stakeholder internal dan eksternal yang
berkontribusi. Stakeholder internal adalah petugas pelayanan yang sudah menjalan pekerjaan sesuai SOP, dan Stakeholder eksternal adalah SIMKIM Dirjen Imigrasi, Kementerian Luar Negeri melalui Bagian Kerumahtanggaan dan Keuangan KBRI Kuala Lumpur serta Celcom Malaysia.
Strategi Si-Ancol dan Sistem Informasi Paspor berbasis SMS Gateway belum pernah dilakukan di KBRI lain, sampai dengan saat ini di Tahun 2020. Belum ada kedutaan/perwakilan ataupun kantor imigrasi di Indonesia yang
menggunakan inovasi ini, hanya Atase Imigrasi di KBRI Kuala Lumpur merupakan pencetus awal dari inovasi ini. Dan yang sudah mengikuti dalam penerapan inovasi ini setelah kami mendapatkan penghargaan dari Hasan Wirayudha Award Kemlu adalah KBRI Singapura, KJRI Johor Bahru, KJRI Kota Kinabalu, KRI Tawau dan akan mengikuti KJRI Kuching dan KJRI Penang.
Hari ini, aku baru ngurus paspor pakai online mudah banget cukup 3 hari
& ada pemberitahuan dari SMS, itu dijamin selesai. Silakan