Industri batubara Indonesia dalam satu dekade terakhir telah mengalami pertumbuhan yang dramatis. Tingkat produksi telah berkembang dari sekitar 100 juta ton pada tahun 2001 menjadi sekitar 360 juta ton pada tahun 2011, meningkat lebih dari tiga kali lipat hanya dalam kurun waktu 10 tahun.
Tak kalah dramatisnya adalah meningkatnya penjualan internasional dari 65 juta ton pada tahun 2001 menjadi sekitar 300 juta ton pada tahun 2011, yang mencatatkan Indonesia sebagai eksportir batubara terbesar di dunia saat ini.
Seiring dengan pertumbuhan ini, diperlukan adanya pertumbuhan yang sepadan dalam peralatan dan sumber daya manusia. Salah satu hasil yang nampak adalah adanya kekurangan sumber daya manusia dalam setiap tingkatan operasional dan manajerial di industri pertambangan Indonesia. Tidak lagi dapat diasumsikan bahwa personil yang berkualitas akan tersedia saat dibutuhkan untuk ekspansi lebih lanjut.
Adaro Energy telah berhasil mencapai tingkat pertumbuhan sumber daya manusia yang setara dengan tuntutan permintaan dalam industri. Semakin jelas terlihat bahwa untuk melanjutkan pertumbuhannya, Adaro harus mengembangkan dan memupuk keterampilan dari para staf dan operator.
Keputusan kemudian diambil untuk mendirikan Adaro Institut guna mengakomodir kebutuhan pelatihan dan pengembangan ini. Staf senior yang sesuai direkrut atau direalokasi dari dalam organisasi Adaro untuk kebutuhan institut ini, fasilitas pun didirikan, dan pusat pelatihan dan pengembangan yang berlokasi di Jakarta resmi dibuka pada tanggal 23 Mei 2011.
Peserta Mining Professional Development Program (MPDP) dengan Michael Arlantis, Priyadi, dan Djohan Nurjadi.
Michael Arlantis
Manager People Development
Michael memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun dalam bidang pengembangan SDM. Sebelum bergabung dengan Adaro pada tahun 2010, beliau menjabat di PT Freeport Indonesia dan PT Coca Cola Distribution Indonesia. Michael adalah lulusan Middlebury College, Amerika Serikat jurusan Ekonomi dan Bahasa Mandarin.
Menjalankan Adaro
Dalam sambutannya, Bapak Teddy Rachmat menekankan bahwa tujuan dari didirikannya institut ini adalah untuk mengembangkan tingkat keterampilan karyawan, dan untuk menanamkan standar etika dan sosial tertinggi di Adaro Energy.
Pada tahun yang sama, Adaro Institute mengadakan berbagai program pelatihan dan pengembangan utama bagi karyawan Adaro, lulusan terpilih, dan siswa prospektif. Sebanyak 4.624 karyawan berpartisipasi dalam program pengembangan kepemimpinan dan manajerial dasar di tahun 2011.
Program Pengembangan Karyawan
Untuk Pengembangan Kompetensi Dasar, Adaro Institute menyediakan pelatihan untuk Kemampuan yang Dihasilkan oleh Nilai-Nilai (Value-Driven Capability), Kecakapan dalam Bahasa Inggris dan Keterampilan Menggunakan Komputer. Adaro Institute telah menyelenggarakan 47 sesi pelatihan basic-value driven bagi 946 peserta. Lima puluh empat karyawan telah lulus pelatihan Kecakapan Bahasa Inggris dalam 6 tingkat kecakapan yang berlangsung selama 7 bulan. Pada tahun 2011, untuk pertama kalinya Adaro Institute mengadakan pelatihan komputer untuk modul Microsoft Office secara internal yang diikuti 250 peserta yang terbagi dalam beberapa tingkat keahlian yang berbeda.
Adaro Institute telah menyelenggarakan pelatihan bagi 1.137 karyawan untuk modul kepemimpinan dan 1.167 karyawan telah mengikuti pelatihan kompetensi manajerial, melampaui target yang ditetapkan, yaitu 948 karyawan.
Sebagai bagian dari pengembangan kompetensi profesional, Adaro Institute telah membantu Adaro Energy dan Adaro Indonesia dalam menyelenggarakan pelatihan manajemen proyek, keahlian presentasi, dan sumber daya manusia, di antara serangkaian pelatihan kompetensi teknis yang dilaksanakan oleh masing-masing anak perusahaan Grup Adaro.
Program Pengembangan Lulusan Baru
Mining Professional Development Program (MPDP) merupakan program pengembangan awal yang dirancang untuk mengidentifikasi dan mengembangkan para sarjana berbakat yang baru menyelesaikan pendidikan universitas dengan berbagai latar belakang kesarjanaan teknik, termasuk pertambangan, geologi, geoteknik, dan teknik sipil. Adaro Institute memulai program ini pada bulan Januari 2011 dan telah merekrut dua batch dengan total 22 peserta. Para sarjana baru ini mempelajari berbagai aspek industri pertambangan batubara mulai dari tambang sampai pelabuhan, yang meliputi eksplorasi tambang, eksploitasi, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan serta analisa statistik produksi. Kurikulum dirancang bukan hanya untuk mempelajari aspek operasional melalui sesi tatap muka di dalam kelas yang mengandalkan teori, melainkan juga meliputi pembelajaran praktek dan pengalaman. Peserta program juga mempelajari aspek kepemimpinan dan manajerial untuk meningkatkan keahlian lunak (soft skills) dalam mengatasi situasi yang berkaitan dengan sumber daya manusia ataupun bisnis. Adaro Institute berencana untuk mempersiapkan dan mengembangkan dua batch tambahan sebagai antisipasi bisnis ke depan seiring pertumbuhan perusahaan pada tahun 2012. Adaro Institute juga berencana untuk menyelenggarakan satu program baru untuk para lulusan baru ini dengan menjadikan ilmu pemasaran sebagai fokus pelatihan.
Program Magang
Adaro Institute meyakini bahwa program magang yang terstruktur dengan baik akan memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan menyeleksi tenaga berbakat sejak dini. Pada tahun 2011, Adaro Institute juga memperkenalkan Adaro Internship Program (AIP) yang telah direvisi untuk mengembangkan siswa secara strategis dalam program dan mempersiapkan para tenaga berpotensi untuk memenuhi kebutuhan bisnis ke depannya. Sejak program ini direvisi dan dicanangkan kembali, Adaro Institute telah menerima 19 peserta magang untuk berbagai jenis pekerjaan, dari operasi pertambangan sampai administrasi, dimana 5 di antaranya berasal dari universitas luar negeri.
President Direktur, Garibaldi Thohir, dan Chief Operations Officer, Chia Ah Hoo, dalam acara peresemian Adaro Institute
Kami melakukan benchmark dengan beberapa perusahaan batubara dan energi untuk memastikan kebijakan Adaro telah sesuai dengan best practice
industri yang dimaksud, dengan bantuan konsultan yang melakukan audit atas remunerasi dan tingkat kepuasan kerja. Kesuksesan program tersebut pada tahun 2011 dapat dinilai dari retention rate yang mencapai 97%, atau melebihi standar industri.
Tim HR, GA dan IT Adaro Energy
Sejak awal beroperasinya, Adaro konsisten membentuk lingkungan kerja yang memiliki nilai kebersamaan antar karyawan serta karyawan dan manajemen. Filosofi ini merupakan fondasi dalam membangun tim yang unggul dan akan terus menjadi fokus di masa depan.
Lanny Anggraeni
HRGA Deputy GM
Lanny telah berpengalaman lebih dari 15 tahun di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Manajemen Operasi. Sebelum bergabung dengan Adaro pada tahun 2011, Lanny menjabat di Nokia Indonesia, Johnson & Johnson Indonesia, dan Nutrifood Indonesia. Beliau menyandang gelar MBA jurusan Manajemen SDM dari pendidikannya di University of Illinois di Chicago, Amerika Serikat, dan Sarjana Ekonomi jurusan Manajemen dari Universitas Tarumanagara.
1,40 1,97
2,47 97% 95%
Biaya Pelatihan Adaro Energy (AS$ million) Retention rate Adaro melebihi standar industri
pada tahun 2011
Menjalankan Adaro
Lahir dan dididik di Afrika Selatan dan sekarang menjadi warga negara AS, saya seorang insinyur pertambangan melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman. Saya adalah generasi ketiga yang dipekerjakan di industri pertambangan dan dalam dua tahun terakhir saya bekerja sebagai konsultan di Adaro Energy khususnya pada bagian pengembangan usaha yang dipimpin oleh Alastair Grant. Selama kurun waktu tersebut saya terlibat dalam beberapa proyek-proyek penting antara lain akuisisi PT Mustika Indah Permai (MIP) yang diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan portofolio batubara Adaro. Selain itu, dibantu oleh beberapa tenaga internal, saya juga melakukan evaluasi terhadap kemungkinan peluang untuk melakukan upgrade batubara Adaro dengan melakukan pengurangan kadar airnya agar kandungan panasnya dapat meningkat sehingga nilai komersial batubara Adaro juga meningkat khususnya di pasar di mana Adaro aktif dengan tingkat kompetisi yang tinggi.
Hubungan saya dengan Adaro dimulai sejak tahun 1991, kala itu Adaro masih merupakan perusahaan kecil. Saat itu saya telah bekerja pada Northwest Corporation sebuah perusahaan konsultan selama 20 tahun. Perusahaan tersebut memperoleh kontrak yang besar dari Bank Dunia untuk melakukan konsultasi kemungkinan Perusahaan Listrik Negara (PLN) membeli batubara melalui pasar terbuka dengan penawaran yang kompetitif. Sebelumnya PLN membeli seluruh kebutuhan batubara dari PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA) (perusahaan tambang batubara milik Pemerintah) dan tidak berdasarkan proses penawaran yang transparan. Dalam proyek tersebut saya bekerja untuk dapat menghasilkan penilaian teknis yang komprehensif terhadap para penawar (bidders) untuk menentukan kesanggupan para penawar dalam menyediakan batubara dan keandalan penawar yaitu keamanan persediaannya. Adaro pada saat itu dinilai dapat memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan sehingga ditetapkan sebagai pemenang dan memperoleh kontrak kerja penyedia batubara kepada PLN. Kontrak tersebut merupakan bagian yang berperan penting dalam pekerjaan saya di PLN, dalam hal ini saya melakukan kajian kelayakan perbankan atas kondisi tambang Tutupan milik Adaro yang saat ini merupakan tambang batubara tunggal terbesar di Asia.
Sebelum bekerja di Indonesia, saya bekerja selama 15 tahun di India dan Mongolia untuk beberapa proyek pembiayaan batubara baik yang dibiayai oleh Bank Dunia maupun perusahaan swasta lainnya. Sejak awal bekerja dengan Adaro saya merasa senang dan puas dan saya menerima kesempatan untuk kembali bersama dengan keluarga Adaro dan bekerja untuk menangani beberapa proyek batubara Adaro di Indonesia. Dibandingkan dengan pesaing-pesaing lainnya di pasar internasional, batubara termal Indonesia secara umum memiliki banyak keunggulan yang kompetitif. Keunggulan-keunggulan tersebut utamanya meliputi kadar debu yang rendah (kurang dari 5% dibandingkan 20% kadar debu batubara di Australia dan Afrika Selatan), kadar sulfur yang rendah (sekitar 0,5% dibandingkan umumnya 1%) dan biaya transportasi yang lebih rendah dibandingkan
Saya sangat yakin dengan pentingnya pertambangan bagi perekonomian nasional dan manfaat dampak pertambangan bagi masyarakat di sekitar operasi tambang. Tentu untuk mendapatkan manfaat tersebut, perusahaan-perusahaan tambang harus memiliki sikap yang bertanggung jawab, minimal dapat mematuhi seluruh regulasi pemerintah yang berlaku. Perusahaan tambang dengan taraf international seperti Adaro, mampu melampaui standar minimum Pemerintah dan mampu menyediakan banyak manfaat lainnya bagi masyarakat setempat antara lain dengan melakukan pelayanan kesehatan, bantuan keuangan bagi sekolah sekitar dan perpustakaan, meningkatkan tingkat keahlian dan perbaikan taraf hidup masyarakat setempat. Tambahan lainnya, bahwa perusahaan seperti Adaro memiliki kepedulian khusus dalam mempertahankan kondisi lingkungan dan pengembangannya secara berkelanjutan dalam jangka panjang dan merupakan hal yang sangat penting dalam membangun hubungan dengan masyarakat setempat dan kepercayaan investor. Area tambang yang telah dikelola dengan baik dapat menjadi aset yang bernilai bagi masyarakat sekitar dengan menciptakan perkebunan, pertanian dan lahan industry serta danau yang dapat dikembangkan dengan membangun budidaya perikanan skala besar. Indonesia dengan iklim tropis yang subur memungkinkan dilakukan pemulihan dan penanaman kembali dengan cepat pada lokasi pertambangan dan hal itu sangat baik untuk pengembangan jangka panjang yang berkelanjutan. Hal lainnya yang juga penting dalam pengembangan ketrampilan kerja oleh perusahaan pertambangan (mekanik, peralatan operator, perawat, staff kantor dan lain-lain) secara ekonomi dapat mudah dialihkan kepada masyarakat sekitar pasca penambangan.
Saya sangat mencintai Asia baik penduduknya, sejarahnya yang ribuan tahun, tradisi dan seni budaya, musik serta karya sastra. Senang sekali bisa kembali ke Indonesia dan berpartisipasi dalam