Operasional penambangan yang dijalankan oleh Adaro dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak terprediksi yang dapat berdampak negatif terhadap bisnis perusahaan. Kondisi ini dapat meliputi hujan deras dan banjir. Dampak tersebut bisa mengakibatkan gangguan operasional di sepanjang rantai pasokan batubara, mulai dari penambangan dan transportasi jalan sampai ke operasi tongkang dan pemuatan kapal. Untuk memitigasi risiko cuaca, Adaro telah menjalankan sejumlah inisiatif misalnya memprioritaskan pengeringan pit dengan memasang sistem pengerukan tambahan untuk membersihkan lumpur dari pit dan meningkatkan kinerja pemompaan untuk pengeringan pit, serta melindungi jalur angkutan terhadap cuaca untuk mengurangi waktu henti yang disebabkan oleh hujan.
Harga Envirocoal ditetapkan berdasarkan harga batubara global. Siklus dan fluktuasi harga batubara global dapat membawa dampak yang material terhadap kinerja keuangan perusahaan. Sebagai komoditas, batubara memiliki harga global yang berfluktuasi karena dinamika penawaran dan permintaan, faktor geopolitik, dan perubahan pada ekonomi dunia. Adaro terus berfokus untuk membangun aset berjangka panjang dan berbiaya rendah, dengan meningkatkan efisiensi dan integrasi dari rantai pasokan batubara untuk mengelola risiko fluktuasi harga batubara global.
Bahan bakar merupakan komponen biaya signifikan yang meliputi sekitar 25% dari biaya penambangan Adaro. Adaro menanggung seluruh risiko fluktuasi harga bahan bakar karena biaya bahan bakar untuk semua kontraktor penambangan dikelola oleh Adaro dan tidak disertakan dalam harga kontrak. Akibatnya, kenaikan yang signifikan pada harga bahan bakar akan mengakibatkan kenaikan pada biaya. Kompensasinya, semua kontraktor berkomitmen untuk mengurangi konsumsi bahan bakar secara bertahap.
Adaro terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan batubara dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak sebagai bagian dari strategi perusahaan. Hal Pola Cuaca yang Tidak Wajar dan Tidak Musiman Siklus dan Fluktuasi Harga Komoditas Global Fluktuasi Harga Bahan Bakar
Tinjauan Korporasi
Laba perusahaan mendapatkan lindung nilai secara alami karena sebagian besar pendapatan dan biaya bermata uang dolar Amerika Serikat. Seluruh penjualan ekspor dan sebagian besar penjualan domestik dihargai, ditagih, dan dibayarkan dalam dolar Amerika Serikat, sementara sisanya sebagian besar dalam Rupiah. Beban pokok penjualan dan biaya operasional juga berdenominasi dan dibayarkan dalam dolar Amerika Serikat sementara sisanya terutama dalam Rupiah.
ini juga meliputi pembangunan pembangkit listrik mulut tambang berkapasitas 2x30 MW yang telah dirancang untuk menggunakan batubara Adaro yaitu E4000 (Wara) dan akan menyediakan daya bagi operasional penambangan Adaro, serta penandatanganan tiga kontrak tongkang baru yang meliputi ketentuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Adaro juga telah menandatangani kontrak lindung nilai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar secara selektif. Pada bulan Juni 2011, Adaro membuat kontrak swap bahan bakar yang meliputi 80% dari kebutuhan bahan bakar untuk semester kedua tahun 2011, sementara di bulan Agustus, Adaro juga membuat kontrak serupa yang meliputi 80% dari kebutuhan bahan bakar untuk kuartal pertama tahun 2011.
Operasional Adaro di wilayah tambang maupun bagian lain dari rantai pasokan batubara sangat bergantung kepada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan alat berat, mesin, dan perlengkapan engineering lainnya yang dibutuhkan. Hal ini dapat meliputi ekskavator, dump truck, bulldozer, grader, truk angkutan, fasilitas peremukan batubara, sistem penanganan material, dan perlengkapan engineering lainnya untuk memelihara fasilitas jalan dan sungai. Pada tahun 2011, Adaro membuat kesepakatan pasokan jangka panjang dengan sejumlah pemasok terkemuka untuk alat berat yang akan dikirimkan sampai tahun 2004.
Adaro mengakui bahwa kuantitas deposit batubara bersifat terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Selain dari pertumbuhan secara organik, akuisisi akan membantu strategi perusahaan secara keseluruhan dalam rangka menciptakan nilai maksimum dari batubara Indonesia melalui pertumbuhan yang berkesinambungan dan diversifikasi. Pada tahun 2011, Adaro telah mengakuisisi kepemilikan mayoritas atas dua perusahaan yang terletak di Sumatera, dan terus mencari target akuisisi secara selektif di Kalimantan dan Sumatra Selatan. Adaro lebih memprioritaskan akuisisi dan pengembangan deposit yang masih belum digarap daripada tambang yang telah beroperasi, karena harga jual yang lebih murah dan Adaro dapat menggunakan pengetahuan khususnya untuk mengembangkan deposit batubara menjadi aset jangka panjang yang menguntungkan, sehingga menciptakan nilai maksimum bagi para pemegang saham. Berikut ini adalah uraian mengenai risiko yang berkaitan dengan pertumbuhan secara non organik melalui akuisisi deposit batubara:
• Risiko operasional: Tantangan operasional dalam mengembangkan deposit yang belum digarap adalah dalam hal pengembangan transportasi yang efisien dan berbiaya rendah, karena deposit batubara yang ada biasanya terletak jauh di wilayah daratan. Adaro berencana untuk mereplika model bisnisnya yang terintegrasi secara vertical di wilayah operasional yang ada di Kalimantan dan menerapkannya di deposit batubara yang lainnya dalam rangka mengembangkan aset jangka panjang yang berbiaya rendah.
• Risiko komersial: Salah satu risiko komersial adalah daya pemasaran dari batubara berperingkat rendah, karena peluang pengembangan lahan mentah di Indonesia pada umumnya merupakan batubara jenis ini. Adaro meyakini bahwa era batubara murah telah usai dan batubara subbituminus akan mendapatkan permintaan yang lebih tinggi di masa depan, terutama di pasar-pasar berkembang Asia. Adaro memiliki teknologi yang telah terbukti untuk batubara dengan tingkat kelembaban yang tinggi, pertama dengan E 5000 Envirocoal di tahun 90-an dan kemudian dengan Wara E 4000 selama tiga tahun terakhir. Kedua produk batubara ini sebelumnya dianggap tidak layak dipasarkan karena nilai panasnya yang rendah dan tingkat kelembaban yang Adaro berupaya untuk mengurangi risiko fluktuasi suku bunga dengan melakukan swap suku bunga dari bunga variabel menjadi bunga tetap. Adaro Indonesia dan SIS membuat kontrak swap suku bunga untuk mendapatkan lindung nilai bunga mengambang menjadi bunga tetap dengan relationship bank.
Fluktuasi Nilai Tukar Kemampuan untuk Mendapatkan Alat Berat, Mesin, dan Perlengkapan Engineering Lainnya Pertumbuhan Non Organik melalui Akuisisi Deposit Batubara Fluktuasi Suku Bunga
Laporan Manajemen
4
Adaro memandang pengembangan Independent Power Producer (IPP) domestik sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang untuk menyediakan pengembalian yang stabil dan meminimalkan volatilitas yang terkandung pada kegiatan memproduksi dan menjual batubara di pasar global. Selain itu, proyek-proyek ini akan menciptakan permintaan bagi batubara berperingkat rendah. Pada bulan Juni 2011, Konsorsium J-Power-Adaro-Itochu memenangkan tender untuk membangun pembangkit listrik bertenaga batubara berkapasitas 2.000 megawatt (MW) di Jawa Tengah. Adaro akan mencari proyek IPP lainnya secara selektif, yang cocok dengan rencana strategis perusahaan dan layak secara ekonomi. Pengembangan IPP yang dilakukan Adaro terpapar terhadap risiko politik, ekonomi, lingkungan, dan operasional, sebagaimana diuraikan berikut ini:
• Risiko komersial: Fluktuasi harga batubara dapat membawa dampak yang material terhadap marjin laba proyek IPP Adaro. Untuk memitigasi risiko ini, biaya bahan bakar dialihkan ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) di atas harga bahan bakar yang ditentukan di awal sebagaimana yang tertera pada Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement / PPA). Peran Adaro dalam bisnis IPP adalah untuk penyediaan batubara dan menjual batubara dengan basis CIF pada harga pasar menurut harga acuan Indonesia.
• Risiko politik: Perubahan pada situasi politik dapat berdampak pada hubungan antara Adaro dan PLN sebagai pembeli. Untuk memitigasi risiko politik, Adaro bertujuan untuk memastikan bahwa PPA mengandung klausul yang menyatakan bahwa pemerintah akan menerima perubahan kesepakatan kontrak dalam situasi politik.
• Risiko lingkungan: Pembangkit listrik bertenaga batubara pada umumnya dipandang sebagai kontributor utama emisi CO2, sehingga berdampak terhadap perubahan iklim. Pembangkit listrik bertenaga batubara Adaro yang berkapasitas 2.000 MW akan merupakan pembangkit listrik pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi modern ultra-supercritical (USC) dan menjadi model pembangkit listrik yang sangat efisien. Fitur penting dari proyek ini adalah penggunaan batubara subbituminus Indonesia sebagai bahan bakarnya, yang memiliki kandungan abu yang rendah dan sulfur yang sangat rendah. Adaro berkomitmen pada lingkungan dan bertujuan untuk menggunakan teknologi yang modern dan efisien pada proyek-proyek IPP yang akan datang, yang terlihat memerlukan biaya pembangunan yang lebih tinggi, tetapi menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi juga dan mengeluarkan emisi yang lebih rendah.
tinggi. Adaro akan menggunakan pengetahuan ini untuk mengembangkan pasar bagi batubara yang memiliki nilai panas yang lebih rendah lagi dan tingkat kelembaban yang lebih tinggi. Selain itu, Adaro terus mempelajari kelayakan teknologi peningkatan mutu batubara untuk mengurangi kelembaban dan meningkatkan nilai panas secara permanen. Risiko komersial lainnya yang timbul dari akuisisi deposit batubara adalah penentuan nilai wajar dari aset berdasarkan ukuran dan kualitas sumber daya. Untuk memitigasi risiko ini, Adaro selalu mengadakan uji tuntas (due diligence) yang komprehensif dengan dukungan konsultan pertambangan internasional yang terkemuka untuk mengidentifikasi total cadangan dan sumber daya yang dapat ditambang dan menentukan nilai wajar aset.
• Risiko legal: Pengenalan terhadap konsep otonomi daerah di Indonesia pada tahun 2001 lalu, yang mendelegasikan penerbitan ijin pertambangan kepada otoritas daerah, telah menimbulkan ketidakpastian dalam industri penambangan karena adanya masalah yang tumpang tindih. Untuk memitigasi risiko ini, Adaro selalu melakukan uji tuntas legal yang komprehensif sebelum mengakuisisi, untuk memastikan bahwa aset yang ditargetkan telah memiliki perijinan yang diperlukan melalui proses yang sah dan taat hukum licenses through a legitimate and lawful process.
Melangkah Lebih Jauh ke Hilir dengan Bisnis IPP