BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Adat Istiadat Suku Wana
Disetiap suku yang ada di seluruh nusantara memiliki adat istiadat masing – masing, ada yang melestarikannya ada juga sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit disebabkan generasi turun temurun yang mulai tidak memperhatikan karna perkembangan zaman yang semakin maju dengan dunia tehnologi yang canggih, internet yang yang menjelajahi dunia dalam waktu singkat alat komunikasi dan informasi yang begitu mudah.
Berbeda dengan Suku Wana yang hidup kental dengan adat istiadat, tanah masih berstatus tanah adat, hukum yang berlaku hukum adat, Orang Wana masing banyak tinggal dihutan tidak memiliki status dalam negeri ini, bahkan sangat takut dengan dunia luar, pemerintah sudah banyak melakukan upaya pendekatan dan pembinaan mereka malah lari dan menjauh, mereka punya cerita tentang apa itu pemeritah, pemerintah pemahaman mereka pemerintahan zaman penjajahan belanda, yang mana nenek moyang mereka bercerita bahwa kalau kita sudah di bina dan dibuatkan rumah kemudian di bunuh, itulah sebabnya mereka masih enggan berkampung.
1. Padungku
Acara adat yang digelar setiap tahun setelah panen padi Suku Wana menyebutnya acara padungku, acara ini merupan bentuk kesyukuran mereka kepada pu‟e atau tempat mereka bergantung karena setelah panen padi, padungkudiadakan antara bulan mei dan juni jika sudah terdengar bahwasanya di Padang Kalang sudah akan di adakan acara padungku maka tampa ada undangan Orang – Orang Wana yang dari berbagai tempat akan berdatangan menghadiri acara padungku ini.
Semua yang hadir dalam ritual ini masing – masing mempersiapkan jamuan makanan, mulai dari pemotongan ayam bahkan babi persembahan jamuan makanan yang spesial di hidangkan dengan minuman pongas yang memabukkan, manu tunu ayam bakar dan wawu
tunu babi bakar sebagai acara makan besar, ritual pemotongan di adakan di lumbung padi mengalirkam darah kemudian di husabkan ke sudut lumbung padi itu menandakan padungku, ada baku atau nasi biasa di masak dalam bambu ada baku puyu atau nasi pulut, dalam bahasa Ta‟ di namakan tenobol, ada juga baku wungu rayanira atau nasi yang di bungkus dalam daun,
Malam setelah makanan sudah di masak Orang – Orang yang hadir berkumpul membawa hidangan di rumah tokoh yang dituakan atau ketua adatsetelah semua terkumpul mereka makan bersama, acara sampai pagi tau tua orang tua, anak muda makan dan minum sampaimabuk, pemuda pemudi berkumpul disatu titik dengam musik dan dero laki –laki dan wanita berpasangan bergandengan dan bergoyang akan tetapi bukan bagian dari adat istiadat Wana kebiasan ini di pengaruhi oleh dari orang yang sudah beragama nasrani, puncak acara di pagi esoknya orang Wana bilang pantonawu, betul betul makan dan minum sampai mabuk sampai terkadang ada yang berkelahi diantara sesama bersaudara akibat pengaruh mabuk pongas.
2. Pernikahan
Pernikahan Suku Wana bisa dibilang unik adat istiadatnya mudah tapi tidak juga menggampangkan ada proses pelamaran juga dengan syarat – syarat adat yang harus di penuhi, seorang laki –laki yang ingin melamar seorang wanita Wana yang sudah pernah dilihatnya dan laki –
laki tersebut menyukainya dia harus membeli alat – alat perlengkapan wanita seperti cermin, sisir, heanbody, parfum, bedak, pewangi ketiak, pewarna bibir, penerang alis, baju dan celana, sabun mandi, sikatgigi, odol, sikat pakaian, sarung, alat – alat tersebut di bungkus dalam sarung disimpan dalam pelastik kemudian di kirim keorang yang paham adat untuk di serahkah kepada orang tua wanita, tanda jika di terimanya lamaran alat –alat yang dikirim langsung di terima dan tidak kembali, akan tetapi jika alat – alat tersebut bermalam di rumah wanita kemudian wanita atau kedua orang tuanya menolak maka alat –alat tersebut di kembalikan dengan denda satu atau dua piring.
Peroses setelah pelamaran kedua keluarga yang ingin melangsungkan acara adat pernikahan mencari persiapan apa yang harus di hidangkan dalam pernikahan saling melengkapi apa yang di butuhkan seperti beras, ayam, pongas, dan babi, jika wanita membeli satu ekor babi untuk peria seharusnya dua ekor, malam setelah semua hidangan tinggal di santap, pesta berlangsung dan mabuk – mabukan.
Pagi hari dilanjut dengan pernikahan adat Suku Wana para tau tua kepala adat, tokoh adat berkumpul di rumah wanita, sebelum acara ritual pernikahan ada adat mamongo atau bapinang makan pinang daun sirih, tiula yang membuat mulut jadi merah, tempat menyimpannya namanya selapa, mamongo untuk penyemangat sambil minum pongas lagi, sambil
bercerita dengan pengaruh mabuk pongas menyerahkan syarat –syarat adat pernikahan seperti dula meja seperti gong kecil piring dan sarung.
Piring yang diatasnya ada sarung diserahkan kemudian diputar tiga kali tanda pernikahan sudah sah, kemudian piring dan sarung di bagi – bagi ke tokoh adat tau tua yang duduk hadir dalam pernikahan, makanya persediaan sarung dan piring harus pas untuk dibagikan, kemudian dula untuk yang sudah menikah, Selanjutnya semua tokoh adat memberikan nasehat pernikahan kepada kedua penganten, jika kedepan kedua mempelai mengalami masalah dalam rumah tangganya maka tokoh adat yang mendapatkan piring atau sarung bisa memberikan nasehat kepada keduanya.
3. Perceraian
Jika suami istri tidak lagi ada kecokan dalam rumah tangganya adat perceraian di berlakukan juga dalam Suku Wana, Orang Wana sering menyebutnya maga‟a muni atau cerai ulang, perceraian sangat besar dendanya bagi yang melanggar pernikahan adat dalam Suku Wana harus menyediakan lebih banyak piring sarung dan uang sesuai permintaaan adat jika sudah selesai permintaan dianggap sudah bercerai, jika tidak dipenuhi tidak aman, contoh kasus selingkuh misalnya yang selingkuh harus di cari sampai dapat kemudian di bunuh, seiring waktu tidak lagi di bunuh akan tetapi denda uang tunai.
4. Sunat
Keturunan Wana mulai nenek moyang mereka terdahulu sampai generasi anak sekarang pasti bersunat, suatu keberanian dan kehormatan jika sudah bersunat, merasa malu jika sudah mulai besar belum bersunat, cara tradisional yang mereka lakukan jika ingin bersunat tampa obat bius tapi ada cara agar supaya tidak menyakitkan yaitu dengan diurut dulu sampai tidak mengalir darah ke ujung fital, kemudian cara memotongnya tidak mengenai urat darah, memasukkan kayu keujung fital memotong dengan parang.
Ada syarat – syarat yang harus dihadirkan ketika ingin bersunat yaitu pinang, daun sirih, tiula pakaian, dan sarung. Begitulah suku wana di identik dengan benda – benda tersebut.
5. Penyembuhan
Tradisi pengobatan Suku Wana dikenal di kalangan Orang Wana yaitu mamago, caranya aneh dan unik, sambil memukul dua gong dan gendang ada yang dari kulit ular atau monyet, sambil menari dua orang laki – laki dan wanita, sebelum ritual tentunya tidak pernah ketinggalan bapinang, itu ciri khas Orang Wana.
Syarat – syarat yang diperlukan yaitu pinang, daun sirih, kapur, rebung, wunga, rica di simpan dalam cangkir, pongas, tebako, kulit jagung pengganti kertas rokok, colo, suyu atau penerang, daun pisang, kain sarung, pakaian, kain putih untuk penarih.
Cara pengobatan Suku Wana mengarah ke perdukunan, menari berteriak sambil memanggil roh nenek moyang mereka, sampai ada yang kesurupan.
6. Kematian
Kematian Orang – Orang Wana yang belum beragama sangat mengiris hati, dari generasi yang tak terhitung sampai generasi sekarang masih sedikit yang beragama, kemana para ahli agama,da‟i, sarjana muslim, cendikiawan muslim, pejuang dakwah terhitung jari yang mau masuk kepedalaman Suku Wana, di karenakan tempat – tempat mereka jauh di dalam hutan, medan dan cuaca yang ekstrim, bertaruh nyawa dari penyakit malaria yang terkadang menyerang para da‟i, kematian selalu mengintai mereka, akan tetapi dakwah belum sampai kepada mereka, bagaimana kita menjawab di hadapan Allah.
Penulis sudah beberapa bulan hidup bersama orang wana, mereka miskin, garam dan penyedap rasa bagaikan emas bahkan berbulan – bulan ada yang makan tampa rasa, rumah yang tidak layak huni, siapa yang tidak tercabik –cabik hati melihat kondisi mereka miskin dan tidak beragama.
Ini tugas dan tanggung jawab semua kaum muslimin karena semua kita akan ditanya tentang ini, mereka akan menuntut dihadapan Allah mati belum sampai dakwah, setiap beberapa waktu selalu terdengar ada yang
sakit mati dan belum beragama ini yang harus kita pikirkan bersama dan berjuang bersama agar islam masuk di hati –hati mereka.
Suku Wana pengurusan jenazahnya sesuai dengan adat Wana, dimandikan di pakaikan pakaian, di masukkan dalam peti, bersamaan dengan pakaian yang lain kemudian di kuburkan. Sebelumnya keluarga si mayit membawa air dalam bambu untuk mencuci tangan orang – orang menguburkanya, membawa nasi satu bungkus untuk simayit, kemudian sarung, membuatkan rumah – rumah diatas kuburnya, sarung dibawa pulang kemudian membuatkan rumah besar disambunng dengan rumah si mayit, membuatkan tas – tas kecil yang di dalamnya ada pinang, daun sirih, kapur, tembako kertas dari kulit jagung, uang, di buatkan rokok sebanyak enam belas batang, sarung yang dari kuburan tadi dilipat jika ada keluarga simayit datangmereka menangis diatas sarung.
Kemudian setelah tiga hari semua keluarga berkumpul membuat hidangan untuk makan bersama, untuk bagian simayit nasi satu bungkus, ayam bakar, kemudian lima harinya di buat acara yang sama, setelah dihari ke enam belas dibuat acara yang sama lagi, hari ketiga dinamakan pancea ira, hari kelima dinamakan purasambali kemudian hari keenam belas dinamakan mata.
Di hari keenam belas puncak acara kematian membuat hidangan seperti acara padungku, semua orang – orang wana berkumpul meskipun bukan keluarga, ritual oleh tokoh adatnya membuat tempat kecil dari kulit
batang pisang yang isinya pinang, daun sirih,kapur, tembako kulit jagung, disimpan di tepi jalan kemudian sang tokoh adat berbicara kepada pue melalui perantara kapongo, agar supaya semua yang hadir di acara tidak diganggu oleh hal – hal yang jahat. Malam di acara setelah makan bersama istirahat sebentar kemudian keluarga dekat simayit berteriak histeris, memukul badan bahkan ada yang menggunakan parang sambil mengamuk dalam keadaan mabuk pongas.
Keesokan harinya keluarga ke kuburan simayit membawakan api, untuk orang yang merokok, silo, pisang di gantung, tebu ditanam, beras dihambur, nasi bambu, daging babi atau ayam, pinang, daun sirih, kapur, tembako kulit jagung, dan alat – alat yang lain semua disimpan diatas kuburan simayit.