• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Strategi Dakwah di Suku Wana

Dakwah tentunnya sudah ada contoh yang di ajarkan dari Nabi kita tercinta tinggal bagaimana kita meneladani beliau, akan tetapi memang ada hal –hal di setiap daerah masyarakatnya memiliki karakter yang berbeda, bahasa, cara berpikir.

Untuk strategi yang akan peneliti jelaskan merupakan strategi dakwah yang selama ini telah dilakukan oleh dua organisasi yang berperan dalam perkembangan dakwah di pedalaman Morowali Utara yaitu, Yayasan Muslim Asia (AMCF), Dewan Dakwah Indonesia (DDI),

yayasan Al-Muhajirin serta strategi yang diberikan oleh da‟i. Berikut ini strategi yang mereka lakukan:

1. Dakwah Dengan Pendekatan Sejarah

Sejarah Suku Wana memang ada kemiripan dengan islam seperti Orang Wana memelihara jenggot, bersunat, mantra – mantra mereka menggunakan basmalah, mereka mengenal seorang Nabi bernama Janggo Wawu, mereka juga mengetahui bahwa ada seorang Nabi yang terdampar kapalnya di gunung tua ketika banjir besar.Dengan mendengar cerita ini kita bisa mencari persamaan, menceritakan kepada mereka bahwa sekarang akhir zaman telah di utus Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad membawa Al-Qur‟an yang memerintahkan untuk bersunat dan memelihara jenggot. Kemudian kita ceritakan tentang kisah Nabi Nuh, Nabi Sulaiman yang pertama kali menggunakan kalimat bismillah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Umar Basyir selaku da‟i yang mana beliau adalah orang asli Suku Ta‟a wana yang memiliki kelebihan berupa pengetahuan tentang sejarah Suku Ta‟a Wana yang yang telah banyak dilupakan oleh Suku Ta‟a Wana itu sendiri. Beliau berdakwah mengajak saudara-saudaranya memeluk Islam dengan menggunakan pendekatan sejarah, beliau menceritakan tentang sejarah-sejarah Suku Ta‟a Wana, sejarah-sejarah kehidupan Suku Ta‟a, tentang gunung tua dan pohon kehidupan yang konon katanya berada di gunung tua kemudian dengan pengetahuannya beliau kemudian mengaitkannya

dengan agama Islam sehingga terbentuk kedekatan antara Suku Ta‟a dengan agama Islam dan membuat mereka tertarik untuk mempelajari agama Islam lebih dalam. Berikut wawancara dengan Bapak Umar Basyir:

“Cara yang paling bagus buat masyarakat tertarik dengan Islam itu dengan sejarah, ceritakan mereka tentang sejarah Suku Ta‟a karena banyak itu yang tidak paham sejarah, terus itu kita putar kita kasih kaitkan sama Islam”61.

Sejarah sangat penting untuk diketahui karena dengan sejarah kita bisa mengambil banyak mamfaat, sebagai bahan pengetahuan dan acuan untuk mengembangkan sesuatu.

2. Membangun Masjid

Fungsi masjid tidak terbatas hanya sebagai tempat beribadah kaum muslimin saja. Namun lebih dari itu, pada masa Rasulullah Saw hampir seluruh kegiatan kaum muslim semuanya dilakukan di masjid mulai dari urusan ibadah, pertemuan umat Islam, pendidikan, strategi perang hingga urusan politik negara semuanya dilakukan di masjid. Bahkan hal yang paling pertama dilakukan oleh Rasulullah ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah adalah membangun masjid. Ustadz Ridwan Rahimi mengatakan:

“Mesjid itu ciri Islam yang paling mudah dikenali, bangun masjid itu banyak manfaatnya, tempat ibadah, tempat belajar tempat susun

61Bapak Umar Basyir, dai pedalaman Morowali Utara, wawancara, Ahad, 05 mei 2019.

di pedalaman”62

Masjid merupakan syiar dan simbol kaum muslimin yang paling mudah dikenali, sehingga dengan mendirikan masjid diharapkan selain sebagai tempat pengajaran keIslaman untuk masyarakat Padang Kalang, sebagai tempat perencanaan pergerakan untuk titk selanjutnya , Yayasan Muslim Asia (AMCF) pada tahun 2017 sudah membangu masjid terlebih dahulu akan tetapi baru satu kepala keluarga yang baru di Islam kan.

3. Membuat Kampung Binaan Sebagai Percontohan

Dakwah dan ajakan masuk Islam terus di lakukan di pedalaman Suku Wana, terlebih di sekitar perkampungan Padang Kalang yang masih banyak khalaik atau kepercayaan. Tidak mudah juga kalau hanya sekedar ajakan tampa ada pendekatan, Padang Kalang yang satu kampung sudah di Islamkan tentunya akan menjadi contoh terhadap yang lain, karena tabiat manusia cendrung melihat dzohirnya, apa yang dilihat itu yang di nilai.

Di sinilah peran kita selanjutnya bagaimana menjadikan Padang Kalang sebagi kampung yang awalnya belum Islam setelah Islam banyak mengalami kemajuan, awalnya rumah berlantai dan berdinding dari bambu kemudian di ganti dengan papan, atap yang dari daun menjadi atap seng, memberikan bantuan air bersih, membangun sekolah, menata

62Ust Ridwan Rahimi, koordinator dai AMCF wilayah, wawancara, , kamis 06 juni 2019.

rapi perkampungan, menjaga kebersihan, memberdayakan sehingga dengan adanya kemajuan pembangunan dan perubahan fisik inilah akan menarik simpati untuk yang belum beragama mau memeluk agama Islam.

“Kita buat satu kampung yang akan jadi contoh buat masyarakat bahwa Islam itu agama yang bagus, agama yang perhatian, kuat persaudaraannya supaya banyak yang tertarik dengan Islam”63

Dengan memperhatikan pembangunan fisik ini persaudaran kita akan semakin kuat dengan saudara kita yang baru memeluk Islam, menjadikan mereka lebih nyaman aman dan lebih fokus memperdalam ilmu agama dan merasa di perhatikan.

4. Mengirim Da‟i

Masyarakat Padang Kalang adalah masyarakat yang awam yang masih sangat minim pemahaman keagamaannya sehingga dibutuhkan orang yang mampu membimbing mereka dan memberikan pemahaman keIslaman yang lebih mendalam kepada mereka, mengajarkan tauhid, seperti apa yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Ghani:

“Mereka itu masyarakat yang masih awam, jadi perlu ada yang bimbing mereka, mengejarkan Islam kepada mereka, supaya mereka paham agama”64

63Ust Abdul Ghani, koordinator dai pedalaman AMCF Morowali Utara, wawancra, jum‟at, 07 juni 2019.

64ust Abdul Ghani, koordinator dai pedalaman AMCF Morowali Utara, wawancara, rabu, 07 juni 2019.

Bahkan bukan hanya itu saja pengutusan da‟i ke Padang Kalang diharapkan selain mengajarkan kepada mereka ilmu agama sekaligus juga dapat mengajarkan kepada mereka ilmu-ilmu umum yang lainnya seperti membaca, menulis, berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan lancar, dan juga dapat memberdayakan masyarakat dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki oleh da‟i.

5. Pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting, bahkan menuntut ilmu dalam agama Islam merupakan sebuah kewajiban yang dibebankan bagi setiap muslim. Untuk membagi pengetahuan kepada anak-anak Padang Kalang baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum yang lain, maka pendidikan menjadi salah satu bentuk strategi sangat penting dan tidak bisa dianggap remeh. Dengan pendidikan yang memadai anak-anak akan mampu memilih jalan kehidupan yang lebih baik dimasa depan, dan dapat mengambil peran untuk mensejahterakan kampung halamannya. Oleh sebab itulah pendidikan menjadi salah satu strategi yang dilakukan baik oleh AMCF yayasan Al-Muhajirin adalah dengan melalui pendidikan.

Seperti yang yang dilakukan oleh yayasan Al Muhajirin yang telah mendirikan SDIT Al-Muhajirin di dusun ngoyo dan juga AMCF yang bekerjasama dengan Aisyiyyah yang mendirikan sekolah alam di Padang Kalang. hasil wawancara dengan Ustadz Ridwan Rahimi:

“Kita mendirikan sekolah ini supaya anak-anak disini walaupun di pedalaman mereka dapat memperoleh pendidikan selayaknya anak-anak yang lain, tetapi tentu saja pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan yang berlandaskan Islam”65

Dengan pendidikan inilah sebagai sarana untuk membangun pondasi pemahaman anak – anak terlebih pemahaman agama mereka, yang tadinya anak – anak di sibukkan menghabiskan waktu hanya sekedar bermain dengan bersekolah waktu mereka tidak sis – sia akan tetapi lebih bermamfaat.

6. Dakwah dengan akhlak

Ustadz Gunawan yang merupakan da‟i yang bertugas di Padang Kalang mengatakan bahwa:

“Dalam berdakwah itu yang paling penting juga menunjukkan akhlak yang baik kepada penduduk, kita tunjukkan beginilah akhlaknya orang Islam supaya masyarakat merasa senang dangan kita, kalau sudah senang sudah dekat untuk diarah-arahkan itu jadi tidak terlalu susah” 66

Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam, beliau mudah diterima dakwahnya di karena akhlaknya, di manapun orang pasti senang dengan akhlak yang baik. Sudah menjadi hal yang biasa bahwa hal yang paling

pertama yang dilihat oleh masyarakat terhadap orang baru adalah tampilan luarnya dan akhlak kelakuannya sehari-hari. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh Ustadz Gunawan dalam berdakwah, dengan menunjukkan akhlak yang baik membuat masyarakat merasa nyaman terhadap kita sehingga mudah untuk diambil hatinya, dan ketika hati masyarakat telah diambil masyarakat telah senang dengan kita maka untuk kedepannya mengarahkan masyarakat akan mudah.

7. Penyaluran Bantuan

Suku Wana berada di bawah garis kemiskinan, mereka hanya mengandalkan dari hasil tanam – tanaman, berpindah – pindah kebun kemudian jauh dari tempat yang satu dengan yang lainnya. jauh dari kehidupan luar, untuk memenuhi kebutuhan hidup sandang pangan dan papan sangat sulit, dan untuk mendapatkan uang sangat susah.

Untuk menguatkan Islam mereka dan daya tarik kepada yang belum beragama. Maka dari itu bantuan - bantuan perlu di salurkan kepada mereka, memberikan bantuan sembako, pakaian layak pakai, rumah layak huni, panel surya dan sebagainya. Hasil wawancara dengan Ustadz Ridwan Rahimi:

“Kita kasih ke mereka bantuan-bantuan, bantuan sembako, pakaian-pakaian bekas layak pakai terus juga kita kasih mereka seng dan panel surya supaya mereka makin tertarik dengan Islam

mereka”67.

Bantuan yang di berikan kepada mereka sangat bermamfaat dan mereka sangat senang, membantu memenuhi kebutuhan untuk hidup yang lebih layak.

8. Menikah

Pernikahan sesuatu yang saklar dalam kehidupan ini, denganya mendekatkan yang jauh, menyatukan dari satu keluarga dengan yang lainnya, kedekatan emosional dan menyatukan hati. Untuk itu menikahi wanita Wana juga salah satu strategi dakwah, apalagi kalau menikahi anak tokoh yang berpengaruh. Pergerakan dakwah akan semakin mudah dan aman, pembinaan jangka panjang pastinya tidak di ragukan lagi, mencetak generasi baru yang Islami, kampung yang Islami, mengadakan perubahan jangka waktu yang lama maka terciptalah perkampungan Islam yang besar.

Da‟i Yayasan Muslim Asia (AMCF) Ustazd Gunawan asal Ambon telah menempuh strategi dakwah ini, begitu juga dengan penulis selama melakukan penelitian melihat mashlahat dan peluang dakwah sangat besar, maka menikah dengan penduduk asli dari Suku Wana yang belum lama memeluk islam.

67Ust Ridwan Rahimi, koordinator dai AMCF wilayah, wawancara, kamis, 06 juni 2018.

66 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka peneliti mengambil beberapa kesimpulan yaitu:

1. Gambaran Masyarakat Suku Wana adalah merupakan salah satu Suku terasing yang ada di Sulawasi Tengah, sebagai Suku terasing, pemahaman kehidupan mereka masihlah seputar kepercayaan, mereka masih percaya terhadap roh-roh leluhur (Animisme) dan juga terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan ghaib (Dinamisme). Mereka menyebut keyakinan mereka dengan istilah khalaik dan meyakini bahwasanya hanya ada satu pencipta yang mereka sebut dengan “Pue”.

2 Strategi dakwah dan program yang telah dilakukan oleh AMCF, DDI, yayasan Al-Muhajirin, dan da‟i seperti pendekatan sejarah, membangun masjid, membuat kampung binaan sebagai percontohan, mengirim da‟i, pendidikan, akhlak, penyaluran bantuan dan menikah membuahkan hasil yang luar biasa untuk menarik hati lebih banyak Orang – Orang Suku Wana memeluk Islam.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti uraikan diatas maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:

1. Kepada Yayasan Dakwah di Indonesia

Kehidupan serta kelangsungan dakwah di daerah pedalaman juga membutuhkan perhatian, setiap uluran tangan kita merupakan berkah yang selalu dinantikan oleh saudara-saudara kita di pedalaman, apabila tidak mampu menghadirkan diri kita ditengah-tengah mereka, maka bantulah mereka dengan apa yang kita punya, sekecil apapun itu namun sangat berarti bagi mereka. kepada seluruh yayasan dakwah di Indonesia agar bersama-sama membantu perjuangan dakwah di pedalaman agar saudara-saudara kita di pedalaman lebih banyak memeluk islam.

Organisasi Islam di Indonesia begitu banyak dan besar namun kebanyakan hanya berpusar di perkotaan dan kurang untuk memperhatikan masyarakat pedalaman, sehingga banyak masyarakat pedalam yang merasa tidak diperhatikan. Maka saran peneliti untuk organisasi Islam di Indonesia agar tidak hanya memfokuskan kegiatannya di kota namun juga mulai berusaha untuk berfokus juga di pedalaman.

2. Kepada Para Da‟i

Tugas dakwah bukan hanya tugas para da‟i akan tetapi tugas semua umat muslim. Dan kepada para dai juga agar sekiranya lebih memperhatikan masyarakat pedalaman karena di zaman sekarang ini banyak da‟i yang lebih suka dan senang mendapat tugas di daerah perkotaan yang mudah dengan semua akses yang tersedia namun ketika mendapat tugas atau tanggung jawab di daerah pedalaman banyak yang

tidak bertahan lama, bahkan ada yang menolak dengan alasan tidak memiliki akses,kekurangan dana, komunikasi yang sulit dengan masyarakat pedalaman dan masih banyak lagi alasan yang lainnya. Oleh karenanya peneliti ingin menyampaikan kepada seluruh da‟i agar tidak pilih-pilih tempat dalam berdakwah, berdakwahlah dengan ikhlas tanpa mengharapkan pamrih, dan bisa jadi satu ayat yang kita sampaikan di pedalaman lebih bernilai dari pada satu juz yang kita sampaiakan di kota.

69

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quranul Al-Karim

Al-Bukhari, Muhammad Bin Ismail. 1422 H.Shahih Al Bukhari. Dar Thuq An Najah.

Al-Qahthani, Said Ali. 1994. Dakwah Islam Dakwah bijak. Cet. I; Jakarta:

Gema Insani Press.

Al-Qurthubiy, Abu Abdullah Muhammad Bin Ahmad Bin Abu Bakar Bin Farhu Al-Anshoriy Al-Khuzrajiy Syamsuddin. 1384 H/ 1964 M.

Tafsir Al-Qurtubiy. Al-Qohirah: Darul Kutub Al-Mishriyah.

Amin Edi,25 agustus 1997. “Islam, Politik, dan Demokrasi Agama”. Pelita.

Amrin, Tatang M. 1995. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

An-Naisaburiy, Muslim Bin Al-Hajaj Abu Al-Husni Al-Qusyairy. Shahih Muslim. Bairut : Daru Ihya At-Taratsi Al-Arabi.

At-Thobariy, Abu Ja‟far. 1420 H/ 2000 M.Jaami‟ul Bayan Fi Ta‟wil Al

Effendi, Satria. 2009. Ushul Fiqih. Jakarata: Kencana.

Eickelman, Dale F dan James Piscatori. 1998. Ekspresi Politik Muslim, terj. Rofik Suhud. Cet. I; Bandung: Mizan.

Gaus AF, Ahmad. 1998. “Isu Kebebasan Beragama”. KOMPAS,Selasa, 14 juli.

Bulan Bintang.

Kuntowijoyo. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Cet.I; Bandung: Mizan.

Khallaf, Abdul Wahhab. 2002. Kaidah-Kaidah Hukum Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Madjid, Nurcholih. 1997. Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya Dalam Pembangunan di indonesia. Cet. Ke-1; Jakarta: Paramadina.

Munir, M. 2009. Metode Dakwah. Cet. Ke-3; Jakarta: Kencana.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka.

Rahman, Fazlur. 1997. Islam, terj. Ahsin Muhammad. Cet. III; Bandung:

Pustaka.

Syukir,Asmuni. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya : Al Ikhlas.

Suminto, Aqib. 1990/1991. “Dakwah dan Perubahan Sosial”, Mimbar Agama dan Budaya, no. 19TH. IX.

Syafe‟I, Rachmat. 1999. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia.

Usman, Husaini & Purnomo Setiady Akbar.2004. Metodologi Penelitian Sosial: Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Wizarah Auquf Wa Asy-Syu‟uni Islamiyah. 1404-1427 H. Al-Mausu‟atuh Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. Kuwait: Darussalam.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Morowali_Utara (diaksespada17/09/2018).

RIWAYAT HIDUP

Herfandi Oktavianto, lahir di desa Lambur kecamatan Muara Saba kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi, pada tanggal 16 Oktober 1989. Merupakan anak pertama dari empat bersaudara, Hervandi Oktavianto, Hervina Oktavianti, Fitriana dan Firdaus. Lahir dari pasangan suami istri Arifin dan Herawati.

Riwayat pendidikan yang pernah ditempuh yaitu: SD Negeri No.14/x Lambur Kec. Muara Saba kab. Tanjung Timur Jambi (1995-2001), Madrasah Diniyah Awaliyah Ass‟diyah Lambur Kec. Muara Saba kab. Tanjung Timur Jambi (1998-2001), MTs DDI Pulau Kecil Reteh Inhil Riau (2001-2004), MA DDI Pulau Kijang Reteh Inhil Riau (2004-2007), mengambil progran Diploma Dua (D2) Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam Ma‟had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar (2015-2018), juga mengambil program Strata Satu (S1) pada Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Agama Ialam Universitas Muhammadiyah Makassar (2015-2019). Alamat tinggal di Makassar Jl.Sultan Alauddin No. 259 Makassar.

LAMPIRAN

PANDUAN WAWANCARA Panduan wawancara dai

1. Nama 2. Umur 3. Agama

4. Bagaimana latar belakang keagamaan anda?

5. Sudah berapa lama anda berdakwah di Padang Kalang?

6. Apa yang memotivasi anda berdakwah di Padang Kalang?

7. Apa yang menjadi kendala dan tantangan selama anda berdakwah di Padang Kalang?

8. Apakah ada strategi khusus yang anda gunakan dalam berdakwah?

9. Seperti apa strategi tersebut?

10. Apakah strategi tersebut efektif?

11. Seberapa efektif strategi tersebut?

12. Bagaimana dampak strategi yang dilakukan?

13. Selama anda berdakwah apakah pernah terjadi gesekan atau konflik dengan warga Suku Wana?

14. Apa yang memotifasi anda untuk menikah di Padang kalang?

15. Bagaimana setelah menikah dampaknya terhadap dakwah?

16. Bagaimana respon keluarga istri yang sudah dan belum beragama?

PANDUAN WAWANCARA Panduan wawancara warga

1. Nama 2. Umur 3. Agama

4. Kapan dakwah mulai masuk di Padang Kalang?

5. Dai dari yayasan mana yang dikirim di Padang Kalang?

6. Berapa lama dai di Padang Kalang?

7. Bagaimana cara mereka mengajak orang-orang untuk masuk agama Islam?

8. Apakah yayasan dakwah yang masuk ke Padang Kalang pernah memberikan bantuan-bantuan?

9. Bantuan-bantuan apa saja yang pernah mereka berikan?

10. Seberapa sering dai dan yayasan melakukan kegiatan?

11. Apakah ada dampak yang anda rasakan dari kegiatan yang dilakukan oleh yayasan dakwah?

12. Apakah pernah terjadi gesekan atau konflik antar dai dengan warga yang belum beragama?

DOKUMENTASI

Orang Wana yang tinggal di hutan dan belum beragama

Warga Padang Kalang membuat nasi bambu persiapan padungku

Pernikahan adat Suku Wana di Padang Kalang

Anak Suku Wana belum beragama melaksanakan sunat adat

Rumah kuburan Suku Wana yang belum beragama

Masjid AMCF di Padang Kalang tahun 2017

Sekolah Alam Aisyiyah di Padang Kalang

Bantuan sembako, seng, panel surya, pakaian layak pakai dll.

Warga Padang Kalang 2017 belum beragama

Warga Padang Kalang 2019 sudah memeluk Islam

Silaturahim bersama Da‟i Dewan Dakwah Indonesia di Dusun Ngoyo

Pemberian pemahaman keagamaan dai AMCF kepada muallaf Padang Kalang

Tokoh atau tau tua yang di tuakan bersama 12 orang di Suku Wana bersyahadat di Bulan Ramadhan, tempat mereka lebih jauh dari Padang

Kalang

Rumah asli Warga Padang Kalang 2017 sebelum ada bantuan dari AMCF