• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran lokasi Penelitian

Berikut ini peneliti akan memaparkan secara singkat profilPadang Kalang dusun Ngoyo desa Manyoe yang merupakan tempat peneliti melakukan penelitian yang masih banyak belum beragama.

Padang Kalang nama aslinya Panti Bongu nama sungai kecil yang seseorang bernama Bongu menimba air untuk keperluan hidupnya.

Kemudian Kalang nama sebuah kuda atau Orang Wana bilang Nyara yang hidup disekiar Padang yang penuh dengan alang – alang, yang di kenallah sekarang dengan sebutan Padang Kalang.

Dakwah di Padang Kalang di mulai pada tahun 2016 yang mana warga Padang Kalang keseluruhannya masih menganut kepercayaan mereka masih menutup diri dari dunia luar, pada tahun itu para da‟i Yayasan Muslim Asia (AMCF) membentuk tim ekspedisi dakwah yang di kordinir oleh Ustadz Ridwan Rahimi bersama empat da‟i yang lainya yaitu Abdul Ghani, Muhammad Sholeh, Andi Arzam dan Bapak Umar Basyir sebagai penerjemah, target ekspedisi dakwah yang dibentuk awal mulanya bukan Padang Kalang akan tetapi Padang Tangkal, dua jam perjalanan kaki dari Padang Kalang. Para da‟i ketika melakukan ekspedisi hanya sekedar melewati Padang Kalang, ataupun sesekali sebagai tempat singgah beristirahat, warga Padang Kalang ketika sering melihat

para da‟i ada yang curiga, ada yang takut bahkan ada yang menjauh, mereka mengira para da‟i punya niat jahat kepada mereka karena asing bagi mereka.

Ekspedisi dakwah terus dilakukan para da‟i mulai melakukan pendekatan dan bersilaturahim kesalah seorang kepala suku Padang Kalang dan anggotanya, membagikan bekal perjalanan sekedarnya seperti garam, petsin, kopi, dan permen, minum kopi dan makan bersama mereka. Setiap ekspedisi para da‟i terus melakukan pendekatan dan silaturahim, ketika sudah dekat dan sudah saling kenal mulai berbicara tentang pembinaan masyarakat di bawah binaan da‟i – da‟i. Kepala suku di Padang Kalang ketika melihat para da‟i serius ingin melakukan pembinaan dan melihat ada kebaikan dan mashlahat bagi kehidupan mereka, kepala suku dan beberapa tokoh adat memberikan tawaran dan tantangan ke da‟i – da‟i, mereka mengatakan kalau memang serius ingin membina di Padang Kalang buatkan kami tempat ibadah (Masjid).

Dakwah di Padang Kalang terus di lakukan, pengislaman dilakukan para da‟i, beberapa warga Padang Kalang mengikrarkan syahadat, dengan demikian pada tahun berikutnya di bangunlah masjid oleh Yayasan Muslim Asia (AMCF), sebagai pusat pembinaan rohani dan pendidikan anak – anak. Kemudian Yayasan Muslim Asia (AMCF) juga melakukan program perbaikan rumah muallaf dengan bantuan papan dan

kayu sarana untuk mengumpulkan mereka dan tidak berpindah – pindah, karena kebiasaan Suku Wana suka berpindah – pindah.

Dakwah pedalaman Suku Wana harus memilki perhatian yang sangat besar oleh ummat ini. Tidak hanya datang kemudian pergi, pengislaman tampa pembinaan mereka akan kembali murtad ditambah lagi dari kendala bahasa, tenaga yang ekstra untuk berjalan kaki, makanan yang minim. Akan tetapi keberlangsungan dakwah harus terus hidup demi tegaknya kalimat tauhid di bumi Wana.

Dengan strategi yang sudah dilaksanakan dakwah di Padang Kalang terus mengalami perkembangan, respon orang – orang yang belum beragama yang tinggal di Padang Kalang baik dengan Islam.

Mereka sedang mempelajari Islam dari orang yang sudah di Islamkan, bertanya apa itu Islam, bagaimana setelah Islam.

Selanjutnya pada tahun 2017 Yayasan Muslim Asia (AMCF) dengan program pengiriman da‟i jaulah ramadhan, mengirim dua da‟i yaitu Ustadz Samsul Bahri dan penulis itu sendiri.

Penulis pertama kali ke padang kalang tahun 2017 selama 40 hari hanya satu kepala keluarga yang islam, dakwah terus berlangsung setelah kembali pada tahun 2019 satu kampung sudah memeluk islam, anak – anak sudah tau baca iqra, sholat, hafalan surah pendek semua fasih bacaannya. Tidak lagi memakan babi, jangankan mau makan di pelihara saja mereka tidak mau. Ini keberkahan dakwah hidayah turun

kepada mereka. Sebelum penulis di kirim dan datang melakukan penelitian sambil membina masyarakat muallaf di Padang Kalang, Yayasan Muslim Asia sudah mengirim da‟i – da‟i untuk membina mereka, dai – da‟i yang terlibat yaitu Samsul Bahri, Rouf Sholihin, dan Asmadin.

Mereka inilah yang terus bergerak melancarkan program – program dakwah Yayasan Muslim Asia (AMCF), berkontribusi naik turun gunung untuk suksesnya dakwah di pedalaman Suku Wana.

Dengan dakwah yang mereka lakukan di Padang Kalang adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran islam sedikit demi sedikit sudah mulai di hilangkan. Padungku yang Islami, penikahan secara Islami, pengobatan cara dukun dengan ruqyah, mengurus jenazah secara Islam.

1. Sejarah Desa

Desa Menyo‟e merupakan salah satu desa dari 14 desa (empat belas) desa yang ada di kecamatan Mamosalato Kabupaten Morowali Utara, merupakan desa yang berbatasan langsung dangan Kabupaten Tojo Una-una.

Menyo‟e adalah dasa pedalaman yang terletak 56 KM barat laut, dari Ibu Kota kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara. Desa ini memiliki jumlah penduduk 1.257 jiwa dangan jumlah kepala keluarga sebanyak 307 KK. Desa ini memiliki 4 Dusun dan 10 RT, serta memliki wilayah dengan luas 36.113 Hekto Are (Ha). Letak koordinat desa ini adalah Lat 1‟22.49 11‟ S, Lon 121‟46.87 19‟ E. Secara geografis desa ini

terletak pada bantangan 500 Meter Pegunungan.Menurut sejarahnya, desa Menyo‟e berawal dari kerajaan Wana yang berada di lereng pegunungan ± 6 Km sebelah barat desa Menyo‟e saat ini.Desa Menyo‟e diambil dari nama sebuah sungai yang mengalir di wilayah daerah tersebut sejak tahun 1920.

Desa ini memiliki penduduk dangan latar belakang kesukuan 100%

Wana yang menggunakan bahasa sehari-hari yakni bahasa Taa. Desa ini berdiri pada 26 juni 1976 yang awalnya hanya berjumlah 16 kepala keluarga dan akhirnya berkembang menjadi sebuah desa dengan jumlah penduduk yang cukup banyak diantara beberapa desa pedalaman.

Awal pembentukannya desa ini diperjuangkan oleh Bapak Yan Karau yang selanjutnya ditunjuk oleh Bapak Bupati Poso waktu itu, sebagai kepala desa perintis di Desa Menyo‟e. Pada masa itu, dasa Menyo‟e menjadi bagian dari kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Poso.

Seiring perkembangan pemekaran, saat ini desa Menyo‟e menjadi bagian dari Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara. Meskipun umur desa Menyo‟e telah terhitung cukup tua yakni mencapai angka 43 tahun, akan tetapi desa Menyo‟e masih sangat jauh dari kata sejahtera hal ini disebabkan karena sangat terisolasinya desa Menyo‟e secara geografis serta kurangnya perhatian pemerintah sebelumnya akibat pembagian wilayah yang sangat luas dari kabupaten-kabupaten sebelum Morowali Utara. Pemerintahan desa Menyo‟e telah dipimpin oleh 4 kepala desa

yakni: Yan Karau (1976-1995), Abd.Manaf Liwu (1995-2004), Sulwinsis Dowo (2004-2016), Sinton Pasimbo (2016-Sekarang).

2. Aspek Geografis a. Letak Geografis

Secara geografis, desa Menyo‟e berada pada koordinat Lat 1‟37.4397‟S Lon 121‟78.0893E.dengan batas wilayah sebagai berikut:

1) Sebelah utara : desa kasiala, kabupaten Tojo Una-una 2) Sebelah timur : desa uematopa, hutan lindung

3) Sebelah selatan : desa uepakatu 4) Sebelah barat : hutan lindung b. Topografi wilayah

Wilayah desa Menyo‟e merupakan daerah yang terletak di wilayah pegunungan, perbukitan, dataran tinggi. Dengan luas wilayah ±36.113 Ha.

Ketinggian tanah 1.120 m diatas permukaan laut.

Berdasarkan kondisi topografinya wilayah desa Menyo‟e dikategorikan sebagai berikut :

1) Ketinggian wilayah pada koordinat desa Menyo‟e yakni antara 1.120 mdpl sampai 2.200 mdpl.

2) Ketinggian 1.120 mdpl, memiliki luas sebesar 22.154 Ha atau 61%

dari luas wilayah. Sedangkan kemiringan lahan di desa Menyo‟e sangat berpariasi dan diklasifikasikan sebagai daerah dengan bentangan pegunungan dan perbukitan terbesar.

3) Tingkat kemiringan 29-85° merupakan tingkat kemiringan wilyah yang paling luas.

c. Klimatologi

Desa Menyo‟e temasuk wilayah yang beriklim tropis, dengan musim yakni kemarau ( September-Maret) dan musim hujan (April-Agustus) dengan temperatur suhu udara rata-rata berkisar antara 20,03°C-32,78°C, dimana suhu maksimum terjadi pada bulan Oktober dan November dengan suhu 33,8°C, serta suhu terendah yang mencapai 14°C pada malam hari didusun Padalempe pada pertengehan bulan september setiap tahunnya.

3. Demografis

a. Pembagian administratif desa

Desa Menyo‟e secara administratif termasuk wilayah Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah.

Secara administrasi desa Menyo‟eterbagi menjadi 4 dusun yaitu:

Dusun I Menyo‟e Dusun II Menyo‟e Dusun III Ngoyo Dusun IV Padalempe

b. Jumlah penduduk

Jumlah penduduk desa Menyo‟e bardasarkan jenis kelamin tahun 2016 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1

Berikut adalah agama/aliran kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat desa Menyo‟e sebagai berikut:60

60Rpjm desa Menyo‟e 2016-2022

Tabel 5.2

NO AGAMA JUMLAH

1 ISLAM 230 ORANG

2 KRISTEN 730 ORANG

3 HINDU DAN BUDHA 0 ORANG

4 KEPERCAYAAN LAIN 270 ORANG

JUMLAH 1.231 ORANG

d. Gambaran umum masyarakat

Masyarakat desa Menyo‟e adalah bagian dari masyarakat Suku Ta‟a Wana yang merupakan salah satu suku terasing yang ada di Sulawasi, sebagai suku terasing, pemahaman keagamaan mereka masihlah sangat minim, seputar kepercayaan, mereka masih percaya terhadap roh-roh leluhur (Animisme) dan juga terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan ghaib (Dinamisme). Jika ditanya tentang keyakinan mereka, mereka mengatakan bahwa mereka adalah khalaik dan meyakini bahwasanya hanya ada satu pencipta yang mereka sebut dengan “Pue”.

Di Menyo‟e, kehidupan masyarakatnya masih sangat sederhana, masyarakat hidup dengan hasil pertanian berupa padi ladang, kemiri, coklat, dll dan ada juga yang mencari hasil hutan seperti damar, madu, gaharu dll. sedangkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti pakaian mereka harus membeli di pasar yang berada di Kecamatan yang

berjarak sangat jauh melintasi gunung dan hutan. karena lokasinya yang berada jauh didalam hutan dengan medan pegunungan yang ekstrim membuat akses kendaraan menuju desa ini sangat sulit. untuk bisa sampai ke kecamatan dan jalanan beraspal masyarakat hanya memiliki dua pilihan yang pertama berjalan kaki dengan durasi perjalanan antara 7-9 jam, atau menggunakan ojek, namun untuk ojek hanya bisa dilakukan jika bukan sedang musim hujan dan cuaca sedang cerah. Belum ada listrik PLN yang menerangi desa ini, untuk penerangan mereka mengandalkan PLTA yang di buat oleh desa, belum ada jaringan telekomunikasi di desa ini sehingga masyarakat masih mengandalkan surat yang dititip kepada orang lain untuk berkomunikasi dengan orang yang jauh. Bahasa sehari-hari yang mereka gunakan yaitu bahas suku Ta‟a, sedangkan untuk bahasa Indonesia masih banyak dari masyarakat Menyo‟e yang tidak memahaminya.