• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adat dalam Upacara Daur Hidup (Rite de passage) 1. Adat Istiadat Kehamilan

ADAT MELAYU

E. Adat dalam Upacara Daur Hidup (Rite de passage) 1. Adat Istiadat Kehamilan

Adat kehamilan merupakan ritual dan upacara yang dilakukan pada masa kehamilan tradisi ini dimaksudkan agar kelak mendapatkan anak ataupun zuriah yang baik dan sang ibu selama masa kehamilan tidak mengalami masalah-masalah kehamilan terutama pada saat hamil sulung (hamil anak pertama). Calon ibu beserta Sang suami dan keluarga diharuskan berpatang larang selama masa kehamilan. Segala tingkah laku yang diperbuat akan mempengaruhi kelak bagi perkembangan dan kehidupan sang jabang bayi.

Pantang larang ini tidak hanya diperuntukkan bagi sang ibu tapi juga untuk suami dan keluarga yang lain. Seorang perempuan yang hamil dilarang bekerja keras. Segala geraknya dibatasi, tidak boleh menewati tempat-tempat berpenunggu, harus berpakain bersih dan berdandan yang rapi, dan juga selalu memakai harum-haruman. Sang calon ibu juga harus meminum ramuan-ramuan yang tertentu, melakukan amalan tertentu, misalnya membaca surat Yusup di awal-awal kehamilan hingga akan melahirkan, hal ini sangat dipercaya kelak akan mendapatkan anak yang baik dan tampan seperti nabi Yusup. Pembacaan surat Yusup ini dilakukan tiap-tiap selesai shalat lima waktu dan shalat-shalat sunat lainnya. Semakin sering mambaca surat Yusup maka akan semakin baik untuk jabang bayi. Selain itu juga calon ibu

125 diharapkan berjalan pagi mengarungi embun melekat di rumput-rumput, meminum air kelapa muda, meminum air ujung rambut sesudah dan sebagainya. Maksud petunjuk dan semua larangan itu, memudahkan dan selamat melahirkan serta anak yang dilahirkan menjadi anak yang sempurna.

Semua keluarga diminta untuk menjaga perasaannya supaya tidak kecewa, tidak cemas dan khawatir. Semua perasaan tersebut akan mempengaruhi watak dan perkembangan anak di dalam kandungan.

Sang calon ayah, sejak istrinya hamil haruslah berhati-hati ketika melakukan pekerjaan dan tindakkan. Misalnya tidak boleh membunuh binatang, memaku sesuatu, mengikat sesuatudengan tali atau rotan, menyacak kayu pagar Yang runcing dan sebagainya. Semua pantang larang tersebut jika dilanggar dikhawatirkan bisa menyebabkan lerjadinya sesualu yang tidak diinginkan terhadap sang jabang bayi. Beberapa pantang larang di dalam kehamilan sebagai berikut:

Pantang larang untuk sang ibu adalah:

a) Tidak diperkenankan untuk melalui atau melewati tempat jemuran kain.

Hal ini dikhawatirkan anaknya akan dalam keadaan melintang;

b) Tidak diperkenankan untuk membelah ikan dibagian kepak, terutama jika ikan itu besar, takut kelak anak yang dilahirkan menjadi cacat atau sumbing bibirnya;

c) Tidak diperbolehkan membelah puntung kayu, dikhawatirkan anaknya akan kelak cacat

d) Tidak boleh mencacak pagar, ditakutkan akan susah ketika melahirkan;

126 e) Tidak boleh mengikat tali, rotan atau akar, sukar ketika melahirkan

f) Tidak dibenarkan seseorang itu melewati atau melintas dibelakang kepada perempuan hamil yang sedang duduk, takut menyerupai orang yang duduk di belakang. Jika hendak lewat di belakang hendaklah diberitahu dahulu;

g) Tidak boleh melilit kain atau sesuatu di leher, ditakutkan kaki si anak akan terlilit tali pusat ketika lahir;

h) Tidak boleh dilakukan sang calon ibu adalah membicarakan (menggunjingkan) keburukan orang lain, hal ini nantinya dikhawatirkan sang anak akan menyerupai kepada orang yang dicacinya.

Pantang larang untuk sang ayah adalah:

a) Tidak diperbolehkan seorang suami ketika istrinya sedang hanmil untuk melakukan perbuatan mengikat-ngikat tali dengan simpul mati dikhawatirkan akan sukar bagi istrinya ketika melahirkan:

b) Tidak melakukan pekerjaan yang jarang diperbuat, umpamanya pergi berburu atau kerja memancing (kecuali memang pekerjaan tetap, dikhawatirkan si anak akan cacat;

c) Tidak diperkenankan membunuh sembarangan kepada hewan tertentu, karena akan mendatangkan petaka kepada si anak ketika lahir nanti, atau malah menyebabkan kematian;

d) Tidak diperkenankan mencacak pagar atau tiang rumah yang sifatnya menetap, bersebab akan mendatangkan kesukaran ketika istrinya melahirkan

127 e) Pada saat sang istri memasuki kehamilan tiga bula tidak dibenarkan lagi berjalan keluar rumah sewaktu magrib, jika hal ini dilakukan dikwatirkan sang anak nantinya akan menangis di waktu malam.

Upacara yang dilakukan pada masa kehamilan adalah sebagai berikut a. Meniga Bulan

Meniga bulan adalah rangkaian upacara kehamilan yang dilaksanakan pada usia kandungan tiga bulan, menurut perhitungan bidan. Tujuan upacara dimaksudkan sebagai permohonan kepada Allah Swt agar bayi dalam kandungan sehat dan selamat, melihat kesehatan sang calon ibu, dan memberitahukan kepada semua keluarga agar calon ibu yang sedang hamil dapat dijaga bersama-sama.

Sebelum upacara dilaksanakan, keluarga pihak suami menemui keluarga istri untuk berunding keluarga pihak suami yang berkunjung membawa sesisir pisang dan segantang beras lengkap dengan lauk pauknya kedatangan kunjungan dari pihak suami diterima oleh pihak keluarga istri dengan gembira karena dari bawaannya mereka sudah dapat menebak bahwa mereka harus bersiap-siap untuk menerima anggota baru bagi keluarga mereka oleh karena keluarga kedua belah pihak bertemu mereka bermusyawarah mencari dan menentukan saat yang baik untuk melakukan upacara meniga bulan dalam masyarakat musyawarah ini harus diputuskan tempat mengadakan upacara meniga bulan (biasanya yang paling baik di rumah perempuan yang hamil itu).

128 Lambang-lambang yang terkandung dalam unsur-unsur upacara sebagai berikut:

1. Pisang, mengandung makna agar anak berbudi pekerti yang manis bertingkah laku yang baik sehingga ia disenangi orang seperti orang menyenangi pisang

2. Beras berarti menyatakan rasa syukur atas rahmat yang diberikan Tuhan karena telah mengabulkan permintaan untuk mendapatkan anak

3. Mayang pinang diibaratkan sebagai cermin yang dapat menunjukkan keadaan urat-urat dan anak yang terdapat dalam perut wanita yang sedang hamil itu

4. Pasu merupakan tempat air yang dapat menghindarkan dari gangguan roh halus dan setan terutama gangguan dari hantu air.

5. Menurut keyakinan mandi air rendaman Mayang di dalam Pasundan bagi uang itu akan menghindarkan penyakit yang datang dari luar rumah maupun yang dibawa oleh angin lalu karena angin lalu selalu diikuti oleh hantu-hantu dan setan-setan selama itu wanita hamil itu dilarang mandi ke sumur agar terhindar dari gangguan hantu air

b. Menempah bidan. Bidan atau menentukan bidan adalah persiapan yang akan membantu dalam melahirkan kelak menempah bidan biasanya dilakukan sebelum kandungan memasuki usia 7 bulan menempah bidan dilakukan oleh sang suami atau orang tua pihak perempuan namun sebelum bidan yang ditetapkan membantu melahirkan nantinya biasanya bidan yang

129 dipilih diundang ke rumah untuk melihat dan memeriksa kehamilan terlebih dahulu di saat pemeriksaan itulah nantinya pihak keluarga meminta kepada dukun untuk membantu melahirkan kan nantinya pada umumnya dan yang diminta melakukan tugas tersebut tidak menolak kecuali karena sebab-sebab tertentu sejak saat itu sang suami dan keluarga dari kedua belah pihak disibukkan persiapan dengan upacara menempah bidan.

Menempah bidan dianggap sangat penting karena berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan sang bayi dan sang calon ibu.Bidan yang ditempah itu biasanya dua orang yaitu bidan atas dan bidan bawah. Bidan atas nantinya bekerja mengurus sang calon ibu, sedangkan bidan bawah mengurus sang bayi yang baru lahir. Agar upacara berjalan dengan lancar dan baik, pihak keluarga dari kedua belah pihak akan mempersiapkan segala keperluan upacara dengan sebaik-baiknya.

Tempat upacara biasanya dilakukan di rumah keluarga pihak perempuan namun adakalany juga di lakukan di rumah sang bidan. Ketentuan tempat upacara ini tidaklah teramat penting, tergantung dari kesepakatan antara keluarga dengan sang bidan.

Tujuan yang terkandung dalam upacara menempah bidan ialah untuk membuat ikatan dengan bidan yang akan membantu secara penuh proses melahirkan. Dilaksanakannya upacara menempah bidan menyiratkan secara tegas keinginan pihak keluaraga benar-benar mengharapkan sang bidan untuk merawat dan membantu melahirkan, dengan adanya upacara ini sang

130 bidan akan memperlihatkan keikhlasan hatinya untuk merawat sang calon ibu sejak dari mulai hamil sampai selesai melahirkan.

c. Lenggang perut atau melenggang perut.

Lenggang perut adalah upacara kehamilan yang dilakukan pada bulan ke-7 untuk perempuan yang mengandung anak pertama tujuan upacara ini adalah agar perempuan yang mengandung tersebut tidak mengalami kesulitan ketika melahirkan anak nantinya selain itu

d. Menujuh bulan

Menuju bulan adalah upacara yang dimaksudkan untuk melihat apakah usia kehamilan calon ibu sudah memasuki usia kandungan 7 bulan atau belum upacara ini dilakukan setelah selesai upacara menempah bidan yang dilakukan sebelum usia kehamilan 7 bulan upacara dalam menuju bulan ini adalah lenggang perut maksud upacara ini adalah suatu adat yang dijalankan kepada seseorang istri yang telah genap tujuh bulan atau tujuh purnama masa kehamilan. Saat itulah dipanggil bidan untuk memeriksa dan menentukan apakah calon ibu yang hamil tersebut telah genap tujuh bulan atau tidak. Alat-alat yang dibutuhkan dalam upacara ini adalah tujuh helai kain (kalau dapat tujuh warna yang berlainan satu dengan lannya), segantang beras, sabutik (sebiji) nyiur atau kelapa, beberap urat benag mentah, sebatang damar (lilin lebah), sedikit minyak kelapa atau minyak urat, sedikit lilin, satu tempat sirih atau tepak yang cukup lengkap isinya, pengkeras uang sebanyak lima suku di dalam tepak itu.

131 2. Adat Istiadat Kelahiran

Orang Melayu meyakini, anak adalah amanah dari Tuhannya, serla dilahirkan dalam keadaan suci. Orang Melayu merasa berkewajiban untuk menjaga, memelihara, melaksanakan serta menyempurnakan tanggungjawab mereka pada anaknya, baik lahiriah maupun batiniah sampai anak menjadi orang, yakni manusia yang sempurna lahiriah dan batiniahnya. Bahkan, kewajiban dan tanggung jawab itu terus berlanjut sampai ke akhir hayatnya.

Untuk mewujudkan agar anaknya jadi orang, orang Melayu sejak dini sudah mulai menanamkan nilai luhur yang bersumber dari ajaran agama, adat dan tradisi serta norma sosial yang ada di dalam masyarakat yang digali dari ungkapan dan pantun. Berhasil atau tidaknya seseorang anak menjadi orang sangatlah tergantung kepada orang tua, keluarga serta anggota masyarakatnya.

Anak yang berbudi pekerti di lingkungan masyarakat yakni anak yang sempurna, baik lahir maupun bathinnya dengan dijiwai oleh nilai luhur yang terdapat di dalam Pakaian Nan Delapan belas atau Sifat Nan Delapanbelas pada diri pribadi anak.

a. Menanam Ari-Ari (kakak bayi)

Pada masa awal, pemotongan tali pusat dilakukan dengan menggunakan sebilah rotan atau kulit bambu yang ditajamkan. Alat ini sebelum digunakan dibersihkan supaya tidak terjadi infeksi pada pusat bayi.

Sedangkan ari-ari dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam periuk tanah disertai dengan asam dan garam, lalu disimpan dan dijaga dengan baik. Konon, setelah tanggal pusat barulah ari-ari itu ditanam. Inilah

132 yang dikatakan: darah emak menyimbah bumitembuni merabuk tanah pusaka anak watan mendapat gelaran ketak besar menjadi pahlawan Ari-ari atau disebut juga dengan kakak sibayi untuk menanamnya (baca: menguburkan) mempunyai syarat tertentu. Kakak si bayi yang hendak ditanam dimasukan ke dalam lubang yang digali di tanah, kemudiannya setelah ditimbun di atasnya di lingkupi oleh tempurung yang berlubang, kemudian dimasukan sepotong bambu yang kononnya sebagai rongga ataupun lubang untuk udara.

Di atas tanah diberikan dua batang lilin yang menyala atau lampu cangkok. Maksudnya adalah untuk mengusir atau mencegah hantu setan. Sebelum Tuk (Mak) Bidan kembali ke rumah, telah membacakan doa atau mantera padakakak si bayi yang di tanam itu. Ketika si bidan dalam perjalanan, ia tidak boleh memalingkan muka ke kiri atau ke kanan, apalagi kalau ditegur ataupun disapa. Ini dikhawatirkan kelak si bayi akan menjadi juling atau mata picing. Apabila bidan telah selesai melakukan upacara penanaman kakak si bayi, maka selesailah acara tersebut. Bubur pusat yang telah diperbuat itu boleh dimakan oleh semua yang hadir. Terkadang diakhiri pula dengan makan bersama yang disertai dengan pembacaan do'a selamat.

Adapun pengertian yang diberikan kepada ambang yang terkandung dalam unsur upacara tanggal pusat itu, yaitu:

1. Bubur pusat yang berwarna merah dan putih berarti suci dan ikhlas.

133 2. Bubur yang berasa asin (lemak) supaya dapat menghadapi kehidupan ini dengan tabah didalam kesukaan dan kedukaan.

Mengajakanak-anak mengecap dan mencicipi buburpusat itu dan membagikan uang, maksudnya Supaya kelak si anak menjadi murah hati.

3. Lilin yang dinyakkan ketika menanam tembuni mempunyai maksud untuk menghaku jin yang akan mengganggu tembuni. Jika tembuni terganggu, si bayi di rumah juga terganggu.

4. Tuk (Mak) Bidan yang pulang setelah menanam tembuni tidak boleh melihat ke kanan atau ke kiri, bermaksud supaya mata si anak kelak tidak menjadi juling.

b. Tanggal Pusat

Tanggal pusat adalah ritual yang dilakukan setelah waktunya pusat bayi tanggal. Waktu ritual, biasanya telah ditentukan oleh bidan begitu bidan mengetahuinya ia akan memberitahukan kepada keluarga agar bersiap untuk melakukan upacara tanggal pusat saat tanggal pusat mempunyai arti bahwa bayi benar-benar dalam keadaan sehat dan sempurna di Bengkalis keluarga yang mengadakan upacara mengundang tetangga terutama anak-anak diundang untuk menghadiri upacara tersebut dengan mengajak anak-anak mengecap atau mencicipi bubur pusat itu dan membagikan uang sen maksudnya nanti agar disenangi di dalam

134 masyarakat dan murah hati untuk menolong orang lain bila dia diperlukan).

c. Naik Buaian.

Naik buaian merupakan rangkain upacara yang dilakukan untuk adalah istilah merupakan tradisi yang ada di masyarakat Langgam Pelalawan.

Naik buaian dilalui dengan beberapa prosesi yaitu menjojak aie (menjejak air), menjojak tanah (menjejak tanah), membayar hutang bidan, dan bertindik bagi anak perempuan. Tradisi ini dilaksanakan 10 hari, 15 hari, atau 25 hari setelah melahirkan dan seterusnya. Jika belum melaksanakan naik buaian, ibu dan anak yang dilahirkan belum boleh mandi ke sungai. Naik buaian dilaksanakan dan dipimpin oleh seorang bidan dengan beberapa pembantunya, dan dihadiri oleh kaum pedusi (perempuan) saja. Tata cara pelaksanaan naik buaian sebagai berikut:

Menyiapkan ramuan (bahan-bahan) antara lain terdiri dari kulit pinang, tujuh jenis daun yang sudah mati, jantung pisang kapok, tiga putung api, ampas kelapa, dan penampi. Ramuan diletakan dalam penampi, ampas kelapa ditabur di atas ramuan tadi. Penampi tersebut di bawa ke depan pintu. Anak dimasukkan dalam penampi lalu diayun liga kali.

Setelah itu anak dijejakkan ke tanah yang ditaruh dalam talam (tanah yang diambil biasanya dari tanah perkarangan masjid. Lalu anak menjojak aie dan kemudian dinaikkan ke atas buaian yang terbuat dari kain hitam.

1) Manjojak Aie

135 Manjojak aie (menjejak air) adalah upacara ketika anak yang baru lahir pertama kali dibawa mandi ke air. Sebelum di bawa mandi diadakan doa selamat dan bacaan mantera-mantera agar anak jauh dari pengaruh roh halus dan selamat hidup di dunia. Dahulu untuk manjojak aie ini anak dibawa mandi ke sungai tetapi sekarang sudah dilakukan di dalam rumah.

2) Tindik Dobung

Pelaksanaan tindik dobung dilakukan oleh dukun beranak dan sekarang bisa dilakukan oleh bidan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat tindik dobung berguna untuk menghilangkan pengaruh roh gaib pada anak. Jika anakperempuan tidak ditindik dabung ada kemungkinan anak tersebut akan menjadi teman makhluk halus ataula menjadi bodoh.

3) Membayar Utang ke Bidan

Setelah proses itu selesai, maka acara dilanjutkan membayar utang ke bidan atau di kemudian hari (tidak ada syarat umur). Yang dibayar ke bidan (sebanyak bidan yang membantu proses kelahiran.

4) Pijak Tanah

Pihak tanah memijakkan kaki bayi yang baru lahir dan kaki ibunya ke tanah pada hari yang ke-45 selepas bersalin. Upacara ini disebut juga adat turun tanah. Adat ini dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat Bengkalis, hanya tatacara dan ketentuannya saja yang berbeda satu daerah dengan daerah lainnya. Bahan yang disediakan

136 untuk upacara ini ialah beras kunyit, bertih, tepung tawar, dua biji kelapa, seekor ayam,sebiji telur ayam sirih pinang selengkapnya 7 biji ketupat 7 biji lebat sebuah timba upih dijadikan limas dan jantung pisang bahan tersebut disediakan sebagai persembahan kepada orang halus di air upacara pijak tanah ini dilakukan pada waktu pagi yaitu pada masa bayang-bayang 10 langkah panjangnya jika upacara itu dilakukan secara besar-besaran baik akan diarak ke tepi sungai atau ke tanah lapang di hadapan rumah bomo dan bidan bertindak sebagai ketua melakukan upacara api dihidupkan untuk membakar rumput pahit atau daun kering atau benda lain yang berbau apabila dibakar dan asapnya naik ke udara untuk keselamatan bayi itu

5) Turun Mandi dan Timbang Utang

Turun mandi dan timbang ulang merupakan upacara lurun mandi dapat dilakukan setelah anak berumur seminggu. Anak yang baru lahir ini ada yang menyebutnya bayi, lapi juga ada yang menyebutnya upiang. Dalam upacara . turun mandi ibu dan bayi dibawa ke sungai atau perigi. Di situ ibu dan bayi di mandikan oleh bidan, Ada berbagai bahan dan peralatan yang dipakai bidan dalam upacara itu. Di antaranya ada juga yang nemandikan ayam setelah ibu dan bayi dimandikan. Ada pula yang menghanyutkan puntung.

memasukkan lading ke dalam air, menanam keladi| pada tepian dsb.

Upacara turun mandi di tepian kira-kira berlangsung satu jam.

137 Setelah itu anak diambil oleh bidan, lalu kembali ke rumah bersama dengan ibunya. Di rumah anak itu ditidurkan di atas buaian.

Sementara itu dihidangkan minum- makan kepada hadirin, sebagai tanda suka cila. Dalam hidangan ini sering dihidangkan ketupat.

Seusai minum-makan itu dibacakanlah doa sebagai tanda bersyukur kepada Allah serta untuk mendapatkan keselamatan selanjutnya.

6) Bertindik

Bertindik dilakukan khusus pada anak perempuan. Biasanya dilakukan saat usia anak sebelum 40 hari. Ini dimaksudkan karena pada usia tersebut telinga si anak masih lembut dan lebih cepat sembuh jika dibandingkan setelah umur tersebut. Namun tradisi tersebut saat ini hampir hilang. Saat ini tradisi tindik tidak lagi tergantung dari waktu dan umur si anak. Di beberapa remaja putri, ada sebagian dari mereka belum ditindik, dan biasanya tindik dilakukan tergantung dari keinginan sang anak atau ketika telah memiliki anting. Tradisi bertindik awalnya dilakukan oleh dukun yang membantu persalinan, alat-alat yang digunakan biasanya berupa jarum tindik, benang. dan minyak kunyit. Jarum digunakan untuk menindik telinga si anak, setelahnya dimasukan benang agar telinga yang telah ditindik tidak menyatu lagi. Sedangkan minyak kunyit berfungsi/agar telinga si anak tidak infeksi. Saat ini bertindik dilakukan oleh bidan atau mantri. Prosesinya pun tidak serumit yang

138 dilakukan dukun, sembuhnyapun lebih cepat dan telinga si anak tidak mengalami kudisan.

7) Mengasuh dan Membesarkan Anak

Mengasuh anak dilakukan oleh ibu, kakak perempuan, ataupun anggota sanak saudara perempuan lainnya dari pihak ibu. Sambil mengasuh biasanya didendangkan "buai anak"atau "timang anak sebagai nyanyian-nyanyian pengantar tidur. Nyanyian ini memiliki Irama yang syahdu dan melenakan, sehingga membuat anak-anak kecil tertidur.

Syair-syair (lirik; senikata)-nya pada umumnya bersajak, berisikan nasehat dan tunjuk ajar, serta kerinduan dan kasih sayang. Lirik-lirik tidak hanya berisi harapan dan doa untuk anak yang ditimang tetapi juga bermanfaat bagi orang lain yang mendengarkannya.

Di setiap daerah penyebutan nyanyian ini memliki berbeda-beda, misalnya bedundung (Talang Mamak), nandong (Kuantan), nandung (Indragirn), onduo (Rokan), bagandu (Kampar) yang berisi nasihat-nasihat kepada bayi atau kerinduan-kerinduan yang tidak terkira.

Berikut contoh teks bedundang Talang Mamak Sapu tangann inai geminai siku kaluang Kalau baru bersahabat handai makan siruh sekapur surung Berangkup tiang tanah bersarang di ujung bumi Sepantun kita berdua, siapa nan kasih menjunjungi Kaiau iya tikaikan kali mumbung jangan patai Kalau kita semua baek adat jangan dilangkahi Kalau iya tikalkan kaik mumburng jangan dipatahi Kaiau budi bahasa baek semua adal dijunjungi.

139 8) Sunat Rasul

Sunat Rasul Anak Perempuan

Upacara bersunat rasul dilakukan juga terhadap anak perempuan.

Tujuan upaara ini|; ialah untuk memenuhi sunnah rasul sebagaiseorang muslimah. Akan tetapi pelaksanaan bersunat rasul anak perempuan tidak pernah dilakukan perayaan besar seperti pada anak laki. Perbedaan perayaan tersebut disebabkan anak laki-laki akan mengalami perasaan sakit dan pederitaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan anak perempuan. Berdasarkan kenyataan ini, maka menurut pandangan orang Melayu Bengkalis, upacara sunat rasul untuk anak laki-laki harus dirayakan lebih besar daripada anak perempuan.Apabila orang tua akan melaksanakan upacara bersunat untuk anak perempuannya, maka ia akan mengundang beberapa orang tetangganya yang terdekat dan seorang perempuan tukang sunat. Sebelum upacara tersebut dilakukan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat dan benda-benda keperluan sunat seperti lilin, gunting keci, kapas, tujuh macam bunga-bunga. Setelah tukang sunat datang, anak perempuan yang akan disunat dimandikan oleh tukang sunat dengan air dari tujuh macam bunga- bungaan tadi. Setelah siap, dipakaikan dengan pakaian baru lengkap dengan perhiasannya.

Tujuan upaara ini|; ialah untuk memenuhi sunnah rasul sebagaiseorang muslimah. Akan tetapi pelaksanaan bersunat rasul anak perempuan tidak pernah dilakukan perayaan besar seperti pada anak laki. Perbedaan perayaan tersebut disebabkan anak laki-laki akan mengalami perasaan sakit dan pederitaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan anak perempuan. Berdasarkan kenyataan ini, maka menurut pandangan orang Melayu Bengkalis, upacara sunat rasul untuk anak laki-laki harus dirayakan lebih besar daripada anak perempuan.Apabila orang tua akan melaksanakan upacara bersunat untuk anak perempuannya, maka ia akan mengundang beberapa orang tetangganya yang terdekat dan seorang perempuan tukang sunat. Sebelum upacara tersebut dilakukan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat dan benda-benda keperluan sunat seperti lilin, gunting keci, kapas, tujuh macam bunga-bunga. Setelah tukang sunat datang, anak perempuan yang akan disunat dimandikan oleh tukang sunat dengan air dari tujuh macam bunga- bungaan tadi. Setelah siap, dipakaikan dengan pakaian baru lengkap dengan perhiasannya.