ADAT MINANGKABAU
C. Tingkatan, Sifat dan Sistem Adat Minangkabau
Adat Minangkabau mencakup suatu spektrum dari yang paling umum hingga yang paling khusus, dari paling permanen dan tetap hingga yang paling sering berubah-ubah. Pada tataran konsepsional adat Minangkabau terbagi pada empat kategori 1. Adat nan sabana adat adat 2. Adat nan
157 diadatkan, 3. Adat nan teradat dan 4. Adat istiadat. Pertama, adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah dan keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai norma dan hukum di dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai
―adat nan indak lakang de paneh, indak lapuak dek hujan,diasak indak layua, dibubuik indak mati”. Adat nan sabana adat bersumber dari alam. Pada hakekatnya adat ini ialah kelaziman yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Maka adat Minangkabau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu melahirkan konsep dasar pelaksanaan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yakni adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah dan syara’ managto adat mamakai‖. Dari konsep itu lahir pulalah filsafat orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru. Adat nan sabana adat menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di Minangkabau, sebagai landasan utama dari norma hukum dan aturan-aturan masyarakat Minangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan dan peraturan-peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat sabana adat.
Kedua adat nan diadatkan adalah adat buatan yang dirancang dan disusun oleh nenek moyang orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aturan yang berupa adat nan diadatkan disampaikan dalam pepatah petitih, mamangan, pantun, dan ungkapan bahasa yang berkias hikmah. Masyarakat Minangkabau mempercayai dua orang tokoh sebagai perancang, perencana, penyusun adat nan diadatkan yaitu Datuak
158 Katumanggungan dan Datuk Perpatiah Nan Sabatang. Inti dari adat yang diadatkan yang dirancang dan melaksanakan pemerintahan yang berdaulat pada otokrasi namun tidak sewenang-wenang sedangkan adat yang disusun Datuak Perpatih Nan Sabatang intinya demokrasi, berdaulat kepada rakyat dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Sepintas kedua konsep adat itu berlawanan, namun dalam pelaksanaannya kedua konsep itu bertemu, membaur dan saling mengisi. Gabungan keduanya melahirkan demokrasi yang khas di Minangkabau. Diungkapkan dalam ajaran adat Minangkabau sebagai berikut: ―bajanjang naiak, batanggo turun. Naiak dari janjang nan di bawah, turun dari tango nan di ateh, titik Dari langiek, tabasuik dari bumi.
Penggabungan kedua sistem ini ibarat hubungan Legislatif dan Eksekutif di sistem pemerintahan saat ini.
Ketiga adat nan teradat adalah ketentuan alat yang disusun di nagari untuk melaksanakan adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan nagari adat ini disusun oleh para tokoh dan pemuka negara melalui musyawarah dan mufakat dari pengajian itu lahirlah istilah ―adat salingka Nagari”. Adat nan teradat disebut juga adat babuhua sentak artinya dapat diperbaiki, diubah, dan diganti fungsi utamanya yakni sebagai peraturan pelaksanaan dari adat Minangkabau. Seperti penerapannya upacara batagak penghulu, turun mandi, sunat Rasul dan perkawinan yang selalu dipengaruhi oleh ketentuan agama yaitu syarak mangato aadaik mamakaikan. Adat nan taradat merupakan kebiasaan setempat yang dapat berbeda-beda pada setiap nagari. Kebiasaan ini pada awalnya dirumuskan
159 oleh Ninik Mamak pemangku nagari yang bertujuan untuk mewujudkan adat dan istiadat yang pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Contohnya di daerah Pariaman, untuk menjemput calon pengantin pria atau marapulai maka keluarga calon pengantin wanita atau Anak Daro menyerahkan sejumlah uang yang dinamakan dengan uang jemputan. Seperti kata pepatah ―lain padang lain belalang lain bubuk lain ikannya, cupak sepanjang batuang, adat salingka nagari.
Keempat adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat mama dalam suatu nagari. Peraturan ini menampung segala kemauan anak nagari yang sesuai menurut alua jo patuik, patuik jo mungkin. aspirasi yang disalurkan ke dalam adat-istiadat ialah aspirasi yang sesuai dengan adat adat jo limbago, manuruik barih jo balabeh, manuruik ukuran cupak jo gantang, manuruik alua jo patuik.
Ada dua proses terbentuknya adat istiadat yakni: 1) berdasarkan usul dari anak Nagari, anak kemenakan dan masyarakat setempat, 2) berdasarkan fenomena atau gejala yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Ini diungkapkan dalam Kato Pusako ―tumbuah bak pari digaro, tumbuah bak bijo disiang, elok dipakai, buruk dibuang, elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan‖. Adat istiadat umumnya tampak dalam bentuk kesenangan anak Nagari seperti kesenian langgam dan tari dan olah raga.
Ddikatakan bahwa adat istiadat merupakan kebiasaan yang berfungsi menampung kesukaan atau kesenangan orang banyak yang tidak bertentangan
160 dengan adat nan diadatkan misalnya ada main layang-layang habis panen padi, berburu di musim panas, batagak batu sesudah ada yang meninggal.
Keempat macam adat di atas adalah adat Minangkabau semuanya dan menjadi suatu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat dikatakan adat Minangkabau kalau kurang salah satu. Bukanlah adat Minangkabau jika hanya berfokus pada adat istiadat akan tetapi melawan hukum alam dan bukanlah pula adat Minangkabau jika hanya berbicara tentang pengangkatan penghulu tetapi tidak memberi ruang untuk berlakunya adat yang dipakai oleh orang kebanyakan.
Sifat adat Minangkabau sebagai akibat logis dari jenis adat diatas maka dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu yang lestari dan yang berubah. Selagi masyarakat Minangkabau menganut ajaran agama Islam dan beriman serta bertaqwa kepada Allah maka nilai-nilai yang terkandung di dalam ketentuan adat nan sabana adat akan lestari sepanjang masa. seseorang yang mengaku orang Minangkabau harus mematuhi ketentuan-ketentuan agamanya yang dipakaikan dalam adat tersebut. Demikian juga struktur masyarakat Minangkabau yang tersusun menurut garis ibu di mana pewarisan sako dan pusako yang telah ditetapkan oleh nenek moyang masyarakat Minangkabau Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatiah Nan Sabatang akan tetap menurut garis Ibu.
Seseorang hanya berhak mewarisi Sako (Penghulu Adat) kalau lai tumbuh di bukunyo. Artinya yang bersangkutan jelas silsilah atau ranjinya menurut keturunan garis ibu yang ikatannya adalah bertali darah yang dikenal
161 dengan ungkapan : ‗biriak-biriak turun ka sasak, tibo disasak makan-makan, dari niniak turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan‖. Begitu juga pewarisan pusako (pusaka) pada dasarnya tetap melalui garis keturunan Ibu.
Kedua contoh ketentuan adat tadi tidak akan mengalami perubahan dan bersifat sangat prinsip dalam struktur masyarakat dan adat Minangkabau.
Tentu saja tidak seluruh jenis adat, nan tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan. Jenis adat nan teradat dan adat istiadat yang dapat berubah sesuai dengan situasi dan lingkungan serta kemajuan zaman. Ketentuan ini diungkapkan dengan pepatah ―sakali aia gadang sakali tapian baranjak, walaupun barubah disitu situ juo, sakali gadang batuka, sakali peraturan berubah, namun adat baitu juo‖. Artinya sekali air banjir maka tapian mandi ikut berubah walaupun berubah perubahannya hanya di sekitar tempat ini juga jika terjadi perubahan keadaan dan lingkungan maka peraturannya pun ikut berubah tidak terkecuali adat Minangkabau. Pada umumnya adat Minangkabau itu bersifat terbuka dan fleksibel hal ini sejalan dengan ungkapan yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: “dimano bumi dipijak disitu langit dijunjuang dimano ranting dipatah disinan aia disauk, masuk kandang kambing mangambiak masuk kandang kabau malanguah, tibo di rantau induak samang dan dunsanak cari dahulu”.
Dengan demikian ketika kita hendak memahami adat Minangkabau maka perlu kita ketahui adalah nan ampek (yang 4) yang merupakan dasar dari patokan hidup masyarakat Minangkabau yang diungkapkan secara sederhana dalam bentuk nan ampek Patoka, yaitu 1) asal suku Minangkabau
162 adalah 4: Koto, Piliang, Bodi, dan Chaniago, 2) mula-mula adat diciptakan oleh nenek moyang suku bangsa Minangkabau adalah empat: adat bajanjang naik batanggo turun, adat babarih babalabeh, adat baukua jo bajangko, dan adat batiru bataladan, 3) jalan yang harus dilalui dalam hidup ini ada empat;
jalan mendatar, jalan mendaki, lajan melereng, dan jalan menurun, 4) Ajaran adat ada empat; raso, pareso, malu dan sopan, 5) Dasar nagari ada empat;
taratak, dusun, koto dan nagari, 6) Kato-kato ada empat; kato pusako, kato mufakat, kato kamudian dan kato dulu, 7) Hukum ada empat; hukum ilmu, hukum kurenah, hukum sumpah dan hukum perdamaian.
Terkait kelembagaan adat Minangkabau, satu hal yang sangat penting bagi masyarakat Minangkabau bahwa adat itu adalah suatu limbaga (lembaga) dan mengandung unsur-unsur yang terdiri dari lembaga juga.
Penghulu adalah lembaga, urang sumando adalah lembaga. Demikian juga perkawinan, suku, hukum, semuanya adalah lembaga. Dalam pepatah dikatakan ―adat diisi limbaga dituang”. Jadi adat adalah sesuatu yang diisi, dipenuhi dan dilaksanakan. Sedangkan lembaga adalah suatu jabatan, suatu aturan dasar atau perundang-undang yang dibentuk dan ditetapkan untuk jangka waktu lama. Lembaga tidak boleh sering diubah atau diganti, lembaga harus permanen. Secara legalistik atau kelembagaan adat Minangkabau dapat dirangkum dalam limbago nan sapuluah terdiri dari: 1) cupak nan duo, 2) Kato nan Ampek, 3) undang-undang nan ampek (lembaga yang sepuluh terdiri dari: takaran yang dua, kata yang empat dan undang-undang4 denyang empat). Pertama cupak nan duo. Cupak adalah adalah alat takaran. Alat takar
163 lain sering disebut seperti gantang, teraju, bungka. Maksud alat-alat ini adalah simbol lembaga hukum yang menjadi acuan bagi masyarakat dalam menjalankan dan mengembangkan adatnya. Masyarakat yang sederhana mungkin dapat melaksanakan perdagangan dengan ukuran kira-kira misalnya menjadi beras menjual beras sekarung jagung seonggok dan seterusnya.
Masyarakat yang teratur mengharuskan adanya takaran yang pasti seperti l kg dan sebagainya maka cupak, bungka, taraju adalah lembaga lambang keteraturan yang diciptakan dengan lembaga adat. Cupak nan duo adalah cupak usali dan cupak buatan. Kedua cupak ini menjamin perubahan dan kontinuitas dalam adat Minangkabau. Cupak usali adalah alat yang baku dan permanen sedang cupak buatan adalah hal yang ditetapkan oleh orang cadiak pandai dan mamak di nagari-nagari untuk merespon situasi dan perubahan zaman. Namun keduanya, yang tetap dan yang berubah, adalah lembaga yang diakui dalam adat.
Kedua Kato nan Ampek. Kato atau kata adalah salah satu lembaga yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau. Tanpa kato, Minangbau kehilangan legitimasinya. Dalam masyarakat Minangkabau tempo dulu kekuasaan dan undang-undang dipegang oleh raja dan penghulu karena keturunannya. Dalam masyarakat agamis kekuasaan disandarkan pada otoritas wahyu dan dalam masyarakat modern yang demokratis hukum berdasarkan pada konstitusi dan undang-undang tertulis. Bagi masyarakat Minangkabau kesahihan suatu hukum diukur dengan adanya ada tidaknya kato-kato adat yang mendasarinya. Undang-undang dibuat oleh cerdik pandai,
164 mufakat dibuat oleh seluruh kaum, hukum diputuskan oleh penghulu. Akan tetapi landasan dan acuannya adalah kato. Suatu pernyataan atau keputusan harus sesuai dengan salah satu dari empat macam kato yakni kato pusako, atau kato mufakat, kata dahulu batapati dan kato kudian kato cari. Kato pusako adalah pepatah petitih dan segala undang-undang adat Minangkabau yang sudah diwarisi turun-temurun dan sama di seluruh alam Minangkabau.
Kata Pusako ini merupakan acuan tertinggi dan tidak dapat diubah.
Jumlahnya sangat banyak dan merupakan kompilasi kebijaksanaan yang diambil dari falsafah alam takambang jadi guru. Kato mufakat adalah hasil mufakat kaum dan para penghulu yang harus dipatuhi dan dijalankan bersama-sama. Mufakat di Minangkabau haruslah dengan suara bulat dan tidak dapat dilakukan voting. Ini terungkap dalam pepatah adat: ―kemenakan barajo ka mamak, mama barajo ka penghulu, penghulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana, bana bardiri sendirinyo. Kato dahulu batapati artinya keputusan yang sudah diambil dengan suara bulat haruslah ditepati dan dilaksanakan. Sedangkan kato kudian kato bacari artinya keputusan itu ada kemungkinan tidak dapat dijalankan karena suatu hal. Dalam hal ini harus dicari pemecahannya, dilakukan musyawarah dan dibuat kesepakatan baru.
Adalah bertentangan dengan adat jika suatu keputusan harus dipaksakan tanpa memberi peluang untuk mengajukan keberatan atau banding. Ketiga undang-undang nan ampek. Nenek moyang masyarakat Minangkabau sudah menetapkan undang-undang yang menjadi dasar pemerintahan pada zaman
165 dahulu mencakup pemerintahan Luhak dan Rantau, pemerintahan Nagari dan peraturan yang berlaku untuk suku dan nagari, juga peraturan untuk individu.
Undang-undang nan ampek terdiri atas undang-undang luhak dan rantau, undang-undang nagari, dan undang-undang nan duo puluah. Undang-undang luhak dan rantau menyatakan bahwa di daerah luhak berlaku pemerintahan oleh penghulu, sedang di daerah Rantau berlaku pemerintahan oleh raja-raja. Bunyi undang-undang ini adalah sebagai berikut: Luhak bapangulu, rantau barajo, bajalan samoindak tasunduak, malenggang samo indak tapampeh‘. Masyarakat Minangkabau meyakini adanya kesatuan genealogis dalam semua negara di wilayah Minangkabau dan juga kesatuan genealogis penduduknya. Karena itu adat Minangkabau sebagai produk budaya juga merupakan satu kesatuan. Nenek moyang masyarakat Minangkabau diyakini turun dari puncak gunung Marapi dan nagari tertua di Minangkabau adalah Nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar sekarang.
Orang-orang satu keturunan menurut garis keturunan Ibu berkelompok membentuk sebuah suku dan dipimpin oleh seorang laki-laki yang disebut Penghulu. Aturan ini berlaku di wilayah Minangkabau yang lebih dahulu berkembang yaitu di luhak Tanah Datar. luhak Agam dan luhak Limapuluh Koto.
Dalam perkembangannya, di daerah Rantau, meskipun terdapat juga suku-suku dan penghulu tiap-tiap rantai dipimpin oleh seorang raja yang biasanya berasal dari daerah luhak juga atau mendapat mandat dari Raja Pagaruyung. Undang-undang nagari menentukan syarat-syarat pembentukan
166 suatu nagari yang dirumuskan sebagai berikut: ―nagari bakaampek suku, dalam suku babuah paruik, basawah, baldang, babalai, bamasajik, balabuah, batapian”.
Undang-undang nagari berisi aturan dasar dan syarat-syarat berdirinya sebuah nagari yaitu syarat-syarat yang menunjukkan kemampuan penduduk beberapa kampung untuk menjadikan suatu susunan masyarakat yang lebih teratur. Nagari boleh dibentuk jika sudah terdapat empat suku yang masing-masing suku itu harus terdiri dari beberapa paruik. Suatu nagari harus mencukupi dibidang ekonomi dan budaya, mempunyai sawah ladang, balai adat dan masjid, sarana transportasi, air bersih dan lapangan bermain.
Undang-undang dalam nagari mengatur hak dan kewajiban penduduk nagari yang bunyinya: ―Barek samo dipikuo, ringan samo dijinjing,saciok bak ayam, sadanciang bak basi, sakik basilau, mati bajanguak, salah batimbang, hutang babayie”. Artinya saling menolong, seiya sekata, rukun, sakit dan kematian saling melihat dan membesuk, salah dihukum dan hutang dibayar. Di sini sangat berperan mekanisme kontrol yang bernama rasa malu.
Undang-undang ini juga mengatur tata hubungan warga masyarakat dalam sebuah nagari. Sistem yang dipakai adalah tipikal masyarakat komunal.
Setiap orang secara alami langsung menjadi warga negara demokrasi karena para penghulu sangat dekat dengan masyarakatnya. Musyawarah dan mufakat dilaksanakan tanpa diwakilkan begitu pula dengan gotong-royong, kebersamaan dalam menghadapi segala masalah dalam negeri dan keamanan dilaksanakan secara bersama-sama. Semua warga nagari dapat menganggap
167 bahwa dirinya akan dibantu secara bersama-sama oleh masyarakat jika dia mengalami kesusahan dan yang mendesak untuk menjaga hubungan yang harmonis dan saling tolong-menolong antar semua warga. Anggota masyarakat nagari selalu berusaha berkomunikasi dengan semua orang dengan bahasa yang tidak langsung ada juga mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau baik dalam hubungan yang formal maupun tidak formal sesuai dengan kata pepatah adat:
“tigo adat nan tajolo; pertamo sambah manyambah, kaduo sirih jo pinang, katigo baso jo basi, banamo adat sopan santun”. Rangkaian kata-kata pusaka ini menyatakan bahwa kata adat Minangkabau secara sederhana dapat disimpulkan perwujudannya menjadi tiga hal yaitu pasambahan, siriah jo pinang dan baso basi.
Pasambahan. Di sini terlihat bahwa adat Minangkabau sarat dengan formalitas dan interaksi yang dikemas sedemikian rupa sehingga acara puncaknya tidak sah, tidak valid, jika belum disampaikan dengan bahasa formal yang disebut pasambahan. Acara-acara adat mulai dari yang simpel seperti India yaitu menyampaikan undangan untuk menghadiri suatu acara hingga yang sakral dan diagungkan sebagai cara kebesaran adat seperti
―batagak gala‖ yaitu pengangkatan seseorang menjadi penghulu selalu dilaksanakan dengan sambah manyambah.
Sambah manyambah di sini tidak ada hubungannya dengan menyembah Tuhan dan masyarakat Minangkabau tidak menyembah penghulu atau orang-orang terhormat dalam kaumnya. Menyembah di sini dimaksud dalam pasal
168 bahan katun artinya pihak yang berbicara atau berdialog mempersembahkan kata-katanya dengan penuh hormat dan sopan santun serta dijawab dengan cara yang penuh hormat dan sopan santun pula. Waktu itu digunakan satu harian bahasa Minangkabau tertentu yang mempunyai format baku.
Format bahasa pasambahan ini penuh dengan kata-kata klasik pepatah-petitih dan sering pula di hiasi dengan pantun-pantun. Bahasa pasambahan ini berbeda dalam variasi dan penggunaan kata tanya dengan kata sehari-hari.
Namun secara umum dapat dikatakan ada suatu format standar yang berlaku bagi seluruh masyarakat Minangkabau.
Pelaksanaan persembahan dalam adat Minangkabau digariskan penentuan peran masing-masing pihak dalam setiap pembicaraan. Pihak-pihak yang berbicara ditentukan kedudukannya secara formal.
Sirih jo Pinang. Sirih jo Pinang adalah lambang formalitas dalam interaksi komunikasi adat Minangkabau. Setiap acara penting dimulai dengan menghadirkan sirih dan kelengkapannya seperti buah pinang, gambir kapur dan kulit kerang biasanya ditaruh diatas carano pada kursi terbuat dari logam yang diserahkan kepada hadirin. Makna sirih adalah secara simbolik sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaraan. Suatu pembelian dapat juga berupa barang berharga meskipun nilai simbolik suatu pembelian tetap lebih utama dari nilai intrinsiknya.
Dalam pepatah ada disebutkan ―sirih nan diateh diatas ameh nan di bawah‖.
Sirih dan Pinang juga mempunyai makna pemberitahuan adat yang lahiriah baik pemberitahuan yang ditujukan kepada orang tertentu atau pada khalayak
169 ramai. Baso basi satu lagi unsur adat Minangkabau yang penting dan paling meluas penerapannya adalah bosa-basi atau basa-basi. Bahkan anak-anak harus menjadi basa-basi. Tuntutan menjaga basa-basi yang ingin mewajibkan setiap individu yang berhubungan dengan orang lain harus selalu menjaga dan memelihara kontak dengan orang di sekitarnya secara terus-menerus dalam interaksi sosial. Sebagai orang Minangkabau tidak boleh individualistis dalam kehidupannya.
Baso-basi atau sopan santun diimplementasikan dengan cara yang baku.
Walaupun tidak dapat dikatakan normal tapi basa-basi berfungsi menjaga selain hubungan yang harmonis antara setiap anggota masyarakat nagari. Hal ini sekaligus menjamin setiap orang diterima dalam masyarakat akan memenuhi tuntutan hidup bermasyarakat sesuai dengan yang berlaku di nagari itu.
Selain itu pada upacara-upacara seperti kelahiran khitanan perkawinan dan kematian selalu diadakan cara agar dengan format yang khusus dan baku tetapi terdapat sedikit berbeda antara satu negara dengan negara lainnya sesuai dengan prinsip adat selingkar nagari. Undang-undang dalam nagari juga mengatur tentang adat-istiadat yang berhubungan dengan hiburan dan rekreasi seperti landai pertandingan layang-layang dan berburu. Undang-undang nan duopuluah adalah Undang-undang-Undang-undang pidana yang yang terdiri 20 pasal dimana 8 pasal atau ―salah nan salapan‖ merupakan tindak pidana. Dan 12 pasal berikutnya berisi nama-nama tuduhan dan dugaan tindak kejahatan.
Delapan pasal terdiri dari perbuatan yang menimbulkan kekacauan umum,
170 perbuatan tidak senonoh, perampokan, pencurian, penyebab penyerangan dan pembunuhan, penipuan, pemberian bahan yang mengandung racun untuk membunuh atau menyebabkan seseorang sakit, pembakaran rumah atau bangunan dengan sengaja. Dan enam berisi nama-nama tuduhan dan berisi nama-nama kecurigaan atau dugaan tindak kejahatan. Kejahatan yang dibutuhkan atau diduga dilakukan hanya dapat dihukum jika terbukti secara meyakinkan. Empat undang-undang inilah yang pegangan para penghulu dalam menjalankan pemerintahan di nagari - nagari dengan dibantu oleh Manti, Malin dan Ubalan.
Semenjak zaman kerajaan Pagaruyung ada tiga sistem adat yang dianut oleh Suku bangsa Minangkabau yaitu Kelarasan (sistem) Koto Piliang, Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Panjang. Kelarasan Koto Piliang adalah gagasan adat yang digariskan oleh Datuk Ketumanggungan. Ciri yang menonjol dari adat Koto Piliang adalah otokrasi atau kepemimpinan menurut garis keturunan yang dalam istilah adat disebut sebagai ―menetes dari langit
Semenjak zaman kerajaan Pagaruyung ada tiga sistem adat yang dianut oleh Suku bangsa Minangkabau yaitu Kelarasan (sistem) Koto Piliang, Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Panjang. Kelarasan Koto Piliang adalah gagasan adat yang digariskan oleh Datuk Ketumanggungan. Ciri yang menonjol dari adat Koto Piliang adalah otokrasi atau kepemimpinan menurut garis keturunan yang dalam istilah adat disebut sebagai ―menetes dari langit