• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Kekerabatan: Patriarki

Patriarki merupakan salah satu di antara bentuk kekerabatan dalam kebudayaan. Kekerabatan merupakan hubungan kekeluargaan seseorang dengan orang lain yang mempunyai hubungan darah atau keturunan yanag sama dalam satu keluarga.32 Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Setiap suku di Indonesia memiliki sistem kekerabatan yang berbeda- beda. Sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Semenjak dahulu kala, sistem kekerabatan menarik perhatian para ahli ilmu-ilmu sosial. Hal ini disebabkan karena manusia ingin mengetahui sejarah perkembangan kehidupan keluarga dalam masyarakat, sebagai sustau sistem sosial yang menyeluruh. (Soerjono Soekanto: 2003: 42).

Dalam bahasa lain, kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari

32 Dewi Sulastri, Pengantar Hukum Adat, (Bandung: Pustak Setia, 2005), hlm. 27

30 beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.

Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar.

Suatu kelompok adalah kesatuan individu yang diikat oleh sekurang- kurangnya 6 unsur, yaitu:

1. Sistem norma-norma yang mengatut tingkah laku warga kelompok, 2. Rasa kepribadian kelompok yang disadari semua warganya,

3. Interaksi yang intensif antarwarga kelompok,

4. Sistem hak dan kewajiban yang mengatur interaksi antarwarga kelompok,

5. Pemimpin yang mengatur kegiatan-kegiatan kelompok, dan

6. Sistem hak dan kewajiban terhadap harta produktif, harta kosumtif, atau harta pusaka tertentu. Dengan demikian hubungan kekerabatan merupakan unsur pengikat bagi suatu kelompok kekerabatan.33 Biasanya tidak semua kelompok memiliki ke-6 unsur tersebut di atas.

Karena itu, selain wujudnya berbeda-beda, ada pula yang berbeda nilainya.

Demikian pula nilai dari kelompok-kelompok kekerabatan berbeda-beda, karena tidak adanya satu atau dua di antara ke-6 unsur tersebut. Ada 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi sosialnya, yaitu:

1. Kelompok kekerabatan berkorporasi (corporate kingroups), yang

33 Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 24

31 sifatnya eksklusif dan biasanya memiliki semua ke-6 unsur tersebut.

Istilah ―berkorporasi‖ umumnya menyangkut unsur (6) diatas, yaitu adanya hak bersama atas sejumlah harta. Jumlah warga dalam kelompok seperti ini biasanya terbatas.

2. Kelompok kekerabatan kadangkala (occasional kingroups), yang seringkali tidak memiliki unsur yang tersebut dalam (6). Kelompok jenis ini biasanya terdiri dari banyak anggota, sehingga interaksi yang terus- menerus dan intensif tidak mengkin lagi, tetapi hanya berkumpul kadang- kadang saja.

3. Kelompok kekerabatan menurut adat (circumscriptive kingroup), yang biasanya tidak memiliki unsur-unsur (4). (5), dan (6), dan kadang-kadang bahkan juga unsur (3). Kelompok-kelompok ini bentuknya sudah sedemikian besar, sehingga warganya seringkali sudah tidak saling mengenal. Mereka umumnya hanya mengetahui tentang keberadaan seseorang (sebagai warga kelompok) berdasarkan tanda-tanda yang ditentukan adat. Rasa kepribadian kelompok seringkali juga ditentukan oleh tanda-tanda adat tersebut.34

Orang disebut berkerabat dengan seseorang apabila orang tersebut mempunyai hubungan ‖darah‖ (sebenarnya hubungan gen) dengan seseorang individu tadi, baik melalui ibunya maupun melalui ayahnya. Walaupun orang- orang yang masih saling mempunyai ‖hubungan darah‖ tentu sangat besar

34 Koentjaraningrat, Pengantar..., hlm. 43

32 jumlahnya, mereka tentu hanya mengenal beberapa saja di antaranya, dan mengetahui seluk-beluk ikatan kekerabatannya dengan mereka, karena dari seluruh kerabat yang dimiliki seseorang (yaitu kerabat ‖biologis‖nya), hanya sebagian kecil saja yang merupakan kerabat ‖sosiologis‖nya. Bagi seorang individu, kaum kerabat ‖sosiologis‖ dibedakan berdasarkan: 1) adanya hubungan kekerabatan, 2). Kesadaran akan hubungan kekerabatannya; 3) pergaulan berdasarkan hubungan kekerabatan.35 Dalam istilah yang lain pembagian ini dinamakan masyarakat genealogis dimana para anggotanya terikat pada suatu garis garis keturunan yang sama dari satu leluhur baik secara langsung karena hubungan darah (keturunan) atau secara tidak langsung karena pertalian perkawinan atau pertalian adat.

Hubungan kekerabatan yang ditentukan oleh prinsip-prinsip keturunan yang bersifat selektif, mengikat sejumlah kerabat yang bersama-sama memiliki sejumlah hak dan kewajiban tertentu, misalnya hak waris atas harta, gelar pusaka, lambang-lambang dan lain-lain. Prinsip keturunan juga mempunyai fungsi untuk menentukan keanggotaan dalam kelompok-kelompok kekerabatan, terutama dalam kelompok-kelompok kekerabatan yang bersifat linear yaitu:36

1. Prinsip patrilineal, yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pria, sehingga semua kaum kerabat ayah termasuk dalam batas kekerabatannya, sedangkan semua kaum kerabat ibu berada di luar batas itu; Anak menghubungkan diri dengan ayahnya

35 Koentjaraningrat, Pengantar..., hlm. 124

36 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, (Jakarta: Prenada, 2014), hlm. 105

33 (berdasarkan garis keturunan laki-laki). Sistem kekerabatan ini anak juga menghubungkan diridengan kerabat ayah berdasarkan garis keturunan laki-laki secara unilateral. Di dalam susunan masyarakat Patrilineal yang berdasarkan garis keturunan bapak (laki-laki), keturunan dari pihak bapak (laki-laki) dinilai mempunyai kedudukan lebih tinggi serta hak-haknya juga akan mendapatkan lebih banyak.

Susunan sistem kekerabatan patrilineal berlaku pada masyarakat Batak dan Bali.

2. Prinsip matrilineal, yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan wanita, sehingga semua kaum kerabat ibu termasuk dalam batas kekerabatannya, sedangkan semua kaum kerabat ayah berada di luar batas itu; Anak menghubungkan diri dengan ibunya (berdasarkan garis keturunan perempuan). Sistem kekerabatan ini anak juga menghubungkan diri dengan kerabat ibu berdasarkan garis keturunan perempuan secara unilateral. Dalam masyarakat yang susunannya matrilineal, keturunan menurut garis ibu dipandang sangat penting, sehingga menimbulkan hubungan pergaulan kekeluargaan yang jauh lebih rapat dan meresap di antara para warganya yang seketurunan menurut garis ibu, hal mana yang menyebabkan tumbuhnya konsekuensi (misalkan, dalam masalah warisan) yang jauh lebih banyak dan lebih penting daripada keturunan menurut garis bapak. Susunan sistem kekerabatan Matrilinel berlaku pada masyarakat Minangkabau.

34 3. Prinsip bilineal, yaitu yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pria bagi hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu, dan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan wanita bagi hak-hak dan kewajiban-kewajiban lain pula, sehingga untuk keperluan-keperluan tertentu seorang individu menggunakan kedudukannya sebagai kerabat ayahnya, dan di kesempatan lain sebagai kerabat ibunya;.

4. Prinsip bilateral, yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pria maupun wanita. Anak menghubungkan diri dengan kedua orangtuanya. Anak juga menghubungkan diri dengan kerabat ayah-ibunya secara bilateral. Dalam sistem kekerabatan parental kedua orang tua maupun kerabat dari ayah-ibu itu berlaku peraturan-peraturan yang sama baik tentang perkawinan, kewajiban memberi nafkah, penghormatan, pewarisan. Dalam susunan parental ini seorang anak hanya memperoleh semenda dengan jalan perkawinan, maupun langsung oleh perkawinannya sendiri, maupun secara tak langsung oleh perkawinan sanak kandungnya, memang kecuali perkawinan antara ibu danayahnya sendiri. Susunan sistem kekerabatan parental berlaku pada masyarakat Jawa, Madura, Kalimantan dan Sulawesi.

Masyarakat Batak menganut sistem kekerabatan patriarki. Ciri umum dari orang Batak adalah menarik keturunan dari garis ayah/laki-laki. Simbol atau lambang keturunan dalam masyarakat Batak adalah marga. Misalnya, jika

35 ayah memiliki marga Siregar, maka seluruh anaknya baik laki-laki maupun perempuan diberi marga Siregar. Demikian juga marga yang lain.

Adapun ciri masyarakat dengan sistem kekerabatan patrilineal adalah:

1. Kesatuan kemasyarakatan yang organisasinya didasarkan atas ketunggalan silsilah pancar laki-laki (kebapakan).

2. Anggota dan penerus silsilah adalah anak laki-laki 3. Anak perempuan akan pergi meningalkan marganya 4. Kehidupan masyarakatnya ditopang oleh harta pusaka

5. Pada awalnya tidak ada harta pencarian atau harta bersama, baru kemudian berkembang harta pencarian yang menjadi embrio harta bersama.

6. Harta tersebut kepemilikannya individual dan terlepas dari harta pusaka, dan akhirnya dapat diwaris oleh anak perempuan.37

Hubungan kekerabatan yang terdapat dalam masyarakat sangat kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh perubahan sosial. Meskipun secara teori, perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan menyebabkan terjadinya golongan-golongan yang berbeda pendiriannya dan juga menyebabkan terjadinya disorganisasi pada struktur.38 Keseimbangan hak antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa hal dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya lokal. Kelompok-kelompok masyarakat lebih kuat mempunyai pengaruh lebih besar daripada kelompok yang lebih kecil. Biasanya

37 Hilman Hadikusuma, Hukum..., hlm 78

38 (Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto: 2010: 46)

36 orang atau kelompok masyarakat lembah yang tidak terikat dalam satu suku akan meminta perlindungan kepada suku-suku yang lebih kuat, tentu dengan beberapa konsekuensi. Kelompok-kelompok masyarakat lebih kuat berfungsi sebagai patron yang memberikan perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang menjadi klient-nya.

Patriarki dalam masyarakat di seluruh dunia berkembang. Perlahan dari peran yang dikembangkan dalam kebudayaan pramodern—di mana ukuran fisik dan seluruh sistem otot para lelaki yang lebih unggul, bersama dengan peran biologis wanita yang melahirkan anak—menghasilkan suatu pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, yang masih berlaku hingga sekarang. Kaum lelaki menjadi penyedia kebutuhan hidup dan pelindung dalam menghadapi dunia di luar keluarga itu. Tanggung jawab yang mendalam sedemikian dapat memberikan otonomi dan kesempatan yang relative besar. Pembagian kerja ini menyebabkan berkembangnya peran- peran sosial yang terbatas bagi kedua jenis kelamin, dan terciptanya perbedaan kekuasaan dalam beberapa hal lebih menguntungkan kaum lelaki.