• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ESKATOLOGI DALAM AGAMA-AGAMA

B. Eskatologi dalam agama-agama

2. Agama-agama Non-Semitik

a. Agama Zoroaster (1700 – 1500 SM)

Konsep eskatologi dalam agama Zoroaster lebih memiliki coraknya yang sangat rinci. Eskatologi pribadi dan umum atau kosmos bergabung menjadi satu ketika nasib seseorang telah berakhir di dunia ini.29

Peristiwa-peristiwa eskatologis yang lebih luas terdapat dalam Kitab Zend Avesta yang semuanya terinci dalam The Sacred Book of The East (SBE)30. Di sana dijelaskan bahwa menjelang alam semesta

26

Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 109-111.

27

Pemahaman tentang shirath oleh masyarakat Islam awam hampir sama dengan pemahaman dalam agama Zoroaster, bahwa shirath itu adalah jembatan yang sangat kecil seperti rambut dibelah tujuh. Tapi menurut Quraish Shihab pengertian itu tidak sejalan dengan makna shirath yang sebenarnya adalah sebuah jalan yang lebar yang seakan-akan pejalan pada shirath tersebut ditelan oleh jalan lebar tersebut. Shihab, Perjalanan Menuju Keabadian, h. 146.

28

Chittick, "Eskatologi," h. 516.

29

Werblowsky, "Eschatology," h. 149.

30

The Sacred Book of The East merupakan karya terbesar dari F. Max Muller (1823-1900) yang terdiri atas 50 jilid, dicetak di Oxford antara tahun 1879 dengan tahun 1910. Buku ini

xxvii

mengalami hari terakhir akan muncul tiga juru selamat yaitu Aushedar, Aushera-mah dan Shayoshant. Kedatangan juru selamat yang terakhir itulah yang akan memusnahkan kelaliman dan menegakkan keadilan hingga terbangun kerajaan Ahura Mazda sepenuhnya di muka bumi. Kerajaan Ahura Mazda akan berlangsung selama seribu tahun. Setelah berakhirnya kerajaan tersebut, alam semesta mengalami kehancuran yang sangat besar.

Kehancuran bumi dan alam semesta bukan berarti kehidupan telah berakhir, tetapi Tuhan akan membentuk alam kehidupan baru. Di alam inilah tubuh jasmani dibangkitkan kembali (bodily resurrection) (Yasna, 30:7 31:21, 32:5, 34:1). Setiap manusia akan diadili sesuai dengan catatan perbuatannya pada hari kebangkitan itu. Setelah diadili manusia akan melewati suatu titi ujian yang disebut civento peretu yang di bawahnya terdapat arus gelombang dari cairan logam yang bernyala-nyala. Titi ujian itu lebih halus dari rambut dibelah tujuh. 31

Setiap orang yang berbuat kebajikan selama hidupnya melawati titi ujian tersebut dengan begitu cepat dan mudahnya. Lalu mereka dipersilahkan masuk menikmati hidup kekal dan bahagia di dalam paridaeza (surga) yang di dalamnya terdapat berbagai ragam karunia dan anugerah yang tiada hingganya. Akan tetapi bagi mereka yang berbuat dosa dan kejahatan serta menantang dan menyangkal Ahura Mazda akan terjerumus ke dalam gelombang panas tersebut. Mereka akan masuk ke dalam gehannama (neraka). Pada akhirnya mereka mendapatkan siksaan berisikan salinan lengkap dari berbagai kitab suci. Lihat Yoesoef Sueb, Agama-agama Besar di Dunia (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996), cet. III, h. 230.

31

tiada taranya. Di neraka, selain para manusia yang melakukan dosa dan kejahatan, para setan pun akan ikut dijebloskan ke dalamnya terutama Angra Mainyu.

Doktrin eskatologi dalam agama Zoroaster dipandang memiliki kaitan yang sangat erat terhadap ajaran Yahudi, Kristen, dan Islam. Khususnya pada kebangkitan dari kematian, civento peretu (titi ujian), paridaeza (surga) dan gehannama (neraka). Banyak istilah-istilah dari agama Zoroaster telah menjadi perbendaharaan kata dari ajaran-ajaran agama Yahudi dan Kristen, seperti istilah setan, mesias, dan sebagainya.32 b. Agama Hindu (1400 SM) dan Buddha (560 SM)

Agama Hindu dan Buddha memiliki corak yang hampir sama ketika membicarakan masalah akhir hidup manusia. Kedua agama ini tidak memiliki konsep eskatologi yang panjang dan rumit. Dalam Hindu, tujuan hidup manusia adalah moksa, yang dicapai manusia setelah mereka melalui kehidupan berkali-kali (punarbawa). Mereka yang telah melakukan catur marga (bakti, jnana, karma, yoga) dengan baik tidak akan melalui kehidupan terus menerus tetapi akan mencapai moksa, yaitu bersatu dengan Brahman.

Upanisad menerangkan bahwa surga dan neraka bukan suatu tempat dan bukan pula suatu bentuk yang pasti melainkan suatu state of mind yaitu keadaan-keadaan pikiran, yakni pikiran bahagia atau pikiran menderita. Kalau pikiran dalam keadaan senang dan bahagia maka itulah surga. Bila pikiran sedih dan menderita maka itulah neraka. Surga dan

32

Umairoh, "Konsep Eskatologi Menurut Agama Zoroaster dan Pengaruhnya Terhadap Eskatologi Agama-agama Ibrahim," (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2002), h. 55-56 ; lihat juga Sueb, Agama-agama Besar di Dunia, h. 255.

xxix

neraka ada dalam pikiran, baik pikiran pada waktu masih hidup, maupun pikiran yang membungkus roh sesudah mati. Sebagaimana diketahui bahwa roh seseorang semasih hidup dibungkus oleh pikiran (sukma sarira/stula sarira) yang tidak lain adalah jasad atau tubuh manusia itu sendiri. Pada waktu meninggal stula sarira hancur menjadi abu karena dibakar, tetapi jiwa/roh dan pikiran tidak bisa terbakar dan lepas seperti angin yang tetap dibungkus oleh pelembungan.

Orang yang sudah mati, jika pikirannya masih melekat dengan dunia, ia akan tertarik kembali ke dunia atau lahir kembali. Sebaliknya jika roh dan pikirannya telah menghilangkan kemelakatan duniawi dengan menjalankan catur marga, ia akan bersatu dengan Brahman, yaitu moksa. Roh tidak akan mengalami kelahiran kembali serta mencapai kebahagiaan tertinggi.33

Dalam Agama Buddha, ajaran tentang eskatologi baik di dalamnya menyangkut surga dan neraka atau kehidupan setelah kematian tidak pernah ada. Bikkhu Acharn Suchar Abhijato34 mengungkapkan bahwa dosa akan dibalas di kehidupan ini atau yang akan datang. Akibatnya akan langsung dirasakan dalam pikiran. Adapun surga dan neraka sudah berada dalam diri seseorang, di kehidupan ini dan juga setelah kehidupan ini berakhir. Surga dan neraka bukan sebuah tempat tapi sebuah perasaan. Bila manusia melakukan sesuatu yang buruk, maka ia merasa buruk, inilah

33

Cudamani, Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Yayasan Wisma Karma, 1987), h. 99.

34

Acharn Suchart Abhijato, Kenikmatan Inderawi adalah Menyakitkan, Kumpulan Ceramah Dhamma (Jakarta: Kalyasiri, 2007), h. 88-90.

neraka dan tepat di kehidupan ini, begitu pula dengan surga. Surga dan neraka adalah keadaan pikiran.35

Bila semua bentuk keinginan dibasmi, daya kemampuan kamma berhenti bekerja, maka seorang terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian dan mencapai nibbana, yaitu tujuan hidup paling puncak dan berkah yang paling tinggi. Dalam lingkaran kelahiran ini manusia akan melewati 31 alam kehidupan. Kelahiran bisa terjadi di alam yang lain berdasarkan pada karma baik atau buruk dari makhluk yang bersangkutan. Jika manusia telah melenyapkan semua kotoran batin, meraka tidak akan terlahir kembali di salah satu dari 31 alam tersebut.36

Perbedaan yang sangat tajam antara moksa dan nibbana adalah bahwa konsep moksa dalam Hindu masih terdapat unsur jiwa atau roh manusia yang nantinya akan bersatu dengan Brahman, tetapi dalam Buddha tidak dikenal istilah jiwa, karena yang ada hanyalah pikiran atau kesadaran semata. Walaupun begitu salah satu persamaannya adalah tentang konsep surga dan neraka yang merupakan keadaan perasaan dan pikiran seseorang bukan sebuah tempat tersendiri.

c. Agama Tao (640 SM) dan Konghucu (551 SM)

Ajaran Konghucu maupun Tao tidak ada penjelasan yang detail tentang konsep eskatologinya seperti neraka, surga, dan kebangkitan. dalam ajaran Tao, tidak ada sedikitpun ajaran tentang kematian, surga, neraka, dan kebangkitan. Sama halnya dengan ajaran Konghucu. Salah

35

Ven. Narada Mahathera, Sang Buddha dan Ajaran-Ajarannya Bagian II (Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama, 1992), h.188.

36

Cornelis Wowor, Hukum Kamma Buddhis (Jakarta: CV. Mitra Kencana Buana, 2004), h. 91-99.

xxxi

seorang murid Konghucu pernah bertanya tentang kehidupan setelah mati, dan jawabannya: "pelajarilah dirimu terlebih dahulu, nanti kamu akan mengetahui seperti apa kehidupan setelah mati itu".37 Berdasarkan penjelasan Khonghucu ini, banyak orang menganggap bahwa Khonghucu tidak bicara tentang kehidupan setelah mati. Keduanya hanya mengajarkan untuk selalu ingat kepada roh leluhur dengan cara mendoakan dan menghormatinya. Kepercayaan orang China tentang banyak dewa dan leluhur yang harus dihormati telah lama berurat berakar.

Seiring dengan berjalannya waktu dan persinggungan dengan berbagai macam agama dan kepercayaan lain, kepercayaan orang China terhadap neraka dan surga mulai menghinggapi kehidupan mereka. Hal ini bisa dilihat dari berbagai ukiran di beberapa klenteng yang memperlihatkan begitu ganasnya neraka. Kasus lain di Indonesia adalah bahwa orang China percaya kalau orang yang mati tidak langsung masuk surga tapi terlebih dahulu masuk ke neraka untuk mempertanggungjawabkan dosa-dosa mereka. Setelah dosa mereka terhapus, baru mereka masuk ke surga atau terlahir kembali untuk memperbaiki kesalahan mereka di dunia. Mereka menganggap bahwa surga tidak ubahnya seperti dunia saat ini. Orang yang mati juga membutuhkan peralatan-peralatan seperti rumah, perabotan rumah, kendaraan, uang, hiburan, dan sebagainya.

Neraka memiliki susunan struktur pemerintahan seperti yang ada di dunia. Jika di dunia memiliki penguasa, maka di neraka juga memiliki

37

M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia (Jakarta: Pelita Kebajikan, 2005), h. 54-59.

penguasa. Raja atau penguasanya dikenal Yen Lo Wang dan dia mempunyai pegawai-pegawai. Para pegawai Yen Lo Wang ini digambarkan sebagai orang yang memiliki wajah menakutkan atau menyeramkan. Ada yang mukanya seperti anjing, kerbau, kambing, monyet dan yang menakutkan lainnya. Hal yang sungguh menggelikan adalah bahwa kasus suap ternyata tidak sekedar terjadi di dunia, karena mereka meyakini bahwa kasus suap atau sogok berlaku di sana. Mereka yang mati dapat dimudahkan atau diringankan hukumannya di neraka dengan memberi suap kepada para pegawai neraka. Biasanya alat sogoknya adalah semangka.38

Dari seluruh konsep eskatologi agama-agama di atas, penulis merangkum konsep eskatologi ke dalam dua bentuk. Pertama, konsep eskatologi yang berdiri sendiri, artinya konsep eskatologi dalam suatu agama tertentu tidak dipengaruhi oleh ajaran agama manapun. Kedua, konsep eskatologi yang telah terpengaruh oleh ajaran agama lainnya. Ini disebabkan oleh pertemuan secara langsung di antara satu agama dengan agama lainnya di masa silam.

38

M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Tao (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 7-14.

xxxiii

Dokumen terkait