• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akad Pembiayaan Pada Bank Syariah dan Lembaga

BAB III. AKAD PADA PERBANKAN SYARIAH DAN LEMBAGA

B. Akad Pembiayaan Pada Bank Syariah dan Lembaga

bank konvensional, yaitu tidak terlepas dari menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Adiwarman A. Karim sebagai berikut:

Pada dasarnya, produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga bagian dasar, yaitu:

a. Produk penyaluran dana (financing);

b. Produk penghimpunan dana (funding); dan c. Produk jasa (service).163

Kemudian Adiwarman A. Karim menyebutkan “Penghimpunan dana di bank syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam pengimpunan dana masyarakat adalah prinsip wadiah dan mudharabah”.164

Dahlan Siamat, “Dalam menyalurkan dana kepada nasabah, secara garis besar terdapat 4 (empat) kelompok prinsip operasional syariah, yaitu prinsip jual beli (bai’), sewa beli (ijarah wa iqtina), bagi hasil (syirkah) dan pembiayaan lainnya”.165 Hal yang sama juga dikemukakan Adiwarman A. Karim, sebagai berikut:

Dalam menyalurkan dananya pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi ke dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu:

a. Pembiayaan dengan prinsip jual-beli b. Pembiayaan dengan prinsip sewa c. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil

163Adiwarman A. Karim, Bank Islam; Analisis Fiqh dan Keuangan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm. 107

164Ibid., hlm. 107.

165Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, hlm. 192.

d. Pembiayaan dengan akad pelengkap.166

Selain berbagai produk di atas, bank syariah menjalankan fungsinya sebagai penghubung antara pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang kelebihan dana, bank syariah dapat pula melakukan berbagai pelayanan kepada nasabah. Jasa perbankan itu antara lain:

a. Sharf

Sharf adalah transaksi pertukaran antara uang dengan uang. Pengertian pertukaran uang yang dimaksud disini adalah pertukaran valuta asing, dimana mata uang asing dipertukarkan dengan mata uang domestik atau mata uang lainnya.167

b. Ijarah

Jenis kegiatan ijarah antara lain penyewaan kotak simpanan (safe deposit box) dan jasa tata letak laksana administrasi dokumen (custodian). Bank mendapat imbalan sewa dari jasa tersebut.168

Kemudian dalam menjalankan operasionalnya baik bank syari’ah dalam sistem perekonomian menjalin hubungan antara para pihak tidak terlepas dari adanya hubungan hukum dalam bentuk perjanjian. Perjanjian dalam sistem ekonomi syariah dan banka syariah dikenal dengan akad. Akad dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/46/Pbi/2005 Tentang Akad Penghimpunan Dan Penyaluran Dana Bagi Bank Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, merupakan suatu hal yang sangat esessial, oleh karena itu setiap pelaku dalam industri perbankan syariah, termasuk pengelola bank/pemilik dana/pengguna dana,

166Adiwarman A. Karim, Op.Cit., hlm. 97.

167Gemala Dewi, Op.Cit., hal.96.

168Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, Ekonisia, Yogyakarta, 2005, hal.101.

serta otoritas pengawas harus memiliki kesamaan cara pandang terhadap Akad-Akad produk penghimpunan dan penyaluran dana bank syariah.

C. Klausul Akad dan Alasan Penetapan Klausul Penyelesaian Melalui Pengadilan Negeri

Berdasarkan hasil penelaahan beberapa akad pembiayaan yang dijadikan alat pengikat dalam hubungan hukum perekonomian dan perbankan syariah di Kota Banda Aceh diketahui bahwa para pihak menuangkannya dalam bentuk akad. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh adanya akad pembiayaan pada bank syariah seperti akad pembiayaan murabahah, akad pembiayaan mudharabah, akad al istishna dan berbagai jenis akad pembiayaan lainnya.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dalam berbagai akad pembiayaan tersebut mengatur berbagai klausul yang mengatur tentang hak dan kewajiban para pihak. Adapun klausul yang biasanya dimuat dalam akad pembiayaan pada bank yang melaksanakan prinsip syariah antara lain :

1. Klausul pengertian yang memuat tentang istilah yang akan digunakan dalam akad.

2. Klausul mengenai Jenis, Jumlah (total) Pembiayaan dan Penggunaannya 3. Klausul mengenai objek dan kepemilikan objek yang diperjanjikan

4. Jangka waktu pembiayaan yaitu mengenai lamanya pembiayaan dan jangka waktu pelunasan oleh debitur penerima pembiayaan.

5. Pembayaran angsuran dan denda

6. Klausul mengenai force majeure, yaitu jika keterlambatan pembayaran angsuran karena kejadian di luar kekuasaan dan kemampuan para pihak.

7. Klausul mengenai pengakuan kewajiban (hutang) 8. Klausul mengenai jaminan

9. Klausul mengenai Asuransi

10. Klausul mengenai syarat-syarat yang harus diperhatikan penerima pembiayaan dan tergantung pada jenis pembiayaan.

11. Klausul mengenai kewajiban lain-lain pihak kedua (debitur)

12. Klausul pernyataan, yaitu mengenai tata cara eksekusi seluruh jaminan apabila pembiayaan tidak dilunasi pada waktu yang telah ditentukan.

13. Klausul mengenai biaya-biaya dalam pembiayaan meliputi : bea materai, biaya percetakan, biaya notaris, PPAT dan biaya lainnya.

14. Klausul mengenai Penyelesaian Perselisihan

Klausula ini menerangkan cara penyelesaian sengketa, bila suatu hari nanti pemberian pembiayaan ini bermasalah.

15. Klausul mengenai Pemberitahuan Domisili 16. Klausul mengenai pemberitahuan

Klausul ini menerangkan bahwa semua pemberitahuan mengenai akad ini dianggap disampaikan secara baik dan sah, bila dikirim dengan surat tercatat.

17. Klausul mengenai Ketentuan Tambahan

Berdasarkan uraian klausul akad pembiayaan tersebut di atas, diketahui bahwa dalam setiap akad pembiayaan pada perbankan selain memuat mengenai berbagai persyaratan dalam penyaluran pembiayaan sesuai dengan jenis pembiayaan, hak dan kewajiban para pihak dan berbagai klausul lainnya, juga memuat klausul penyelesaian sengketa. Klausul penyelesaian sengketa ini dimaksudkan sebagai pilihan atau jalan yang dapat ditempuh oleh para pihak apabila terjadi perselisihan dalam pelaksanaan akad tersebut. Dalam hal ini para pihak dapat memilih salah satu mekanisme yang diatur dalam akad.169

Hal ini sebagaimana ditunjukkan pada beberapa akad pembiayaan yang diambil sebagai sampel, antara lain :

1. Akad Pembiayaan Al Musyarakah pada Bank Syariah Mandiri Banda Aceh170 --- Pasal 15 --- PENYELESAIAN PERSELISIHAN

--- Apabila terjadi perbedaan pendapat dalam memahami atau menafsirkan bagian-bagian dari isi atau terjadi perselisihan dalam melaksanakan Perjanjian ini, maka NASABAH dan BANK akan berusaha untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk

mufakat.--- Apabila usaha menyelesaikan perbedaan pendapat atau perselisihan melalui musyawarah untuk mufakat tidak menghasilkan keputusan yang disepakati oleh kedua belah

pihak,--- Maka dengan ini NASABAH dan BANK sepakat untuk menunjuk dan menetapkan serta memberi kuasa kepada Pengadilan Negeri Banda Aceh dan/atau Pengadilan Negeri di daerah setempat untuk memberikan putusannya, menurut tata cara dan prosedur berarbitrase yang ditetapkan oleh dan berlaku di Badan

tersebut.---169Iskandar Muda dan Amrizal, Staf Bagian Pembiayaan Bank Syariah Mandiri dan Bank BRI Syariah di Banda Aceh, Wawancara tanggal 2 dan 3 April 2012

170Akad Pembiayaan Al Musyarakah pada pada Bank Syariah Mandiri Banda Aceh.

 Putusan Pengadilan Negeri Banda Aceh dan/atau Pengadilan Negeri di daerah setempat bersifat final dan mengikat.---2. Akad Pembiayaan pada Bank BRI Syariah Banda Aceh171

--- Pasal 19 ---- PENYELESAIAN PERSELISIHAN ---1. Apabila dikemudian hari terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran atas hal-hal yang tercantum didalam Akad ini atau terjadi perselisihan atau sengketa dalam pelaksanaan Akad ini, Para Pihak sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat;- ---2. Dalam hal, penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat 1

Pasal ini tidak mencapai kesepakatan, maka Para Pihak bersepakat, dan dengan ini berjanji serta mengikatkan diri satu terhadap yang lain, untuk menyelesaikannya melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) menurut Peraturan dan Prosedur Arbitrase yang berlaku didalam Badan Arbitrase tersebut;- ---3. Para Pihak sepakat, dan dengan ini mengikatkan diri satu terhadap

yang lain, bahwa keputusan yang telah ditetapkan oleh BASYARNAS tersebut sebagai keputusan tingkat pertama dan terakhir;- ---4. Tanpa mengurangi tempat pokok BASYARNAS di Jakarta yang ditentukan didalam Peraturan dan Prosedur Arbitrase BASYARNAS, Para Pihak bersepakat memilih tempat pelaksanaan Arbitrase di Kota tempat cabang BANK berada. Namun penunjukan dan pembentukan Arbiter atau Majelis Arbitrase dilakukan oleh ketua BASYARNAS;-5. Mengenai pelaksanaan (eksekusi) putusan BASYARNAS, sesuai

dengan ketentuan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 8 Tahun 2008, Para Pihak sepakat bahwa Para Pihak dapat meminta pelaksanaan (eksekusi) putusan BASYARNAS tersebut pada setiap Pengadilan Agama di wilayah hukum Republik Indonesia;- ---3. Akad Wakalah Pembiayaan pada PT Bank Mega Syari’ah Banda Aceh172

171Akad Pembiayaan pada Bank BRI Syariah Banda Aceh

172Akad Wakalah Pembiayaan pada PT Bank Mega Syari’ah Banda Aceh

-- Pasal 16 --- PENYELESAIAN PERSELISIHAN

---1. Apabila di kemudian hari terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran atas hal-hal yang tercantum di dalam Akad ini atau terjadi perselisihan atau sengketa dalam pelaksanaan Akad ini, Para Pihak sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat;- ---2.-Dalam hal musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud ayat

1 Pasal ini tidak tercapai, maka Para Pihak bersepakat dan dengan ini berjanji serta mengikatkan diri satu terhadap yang lain, untuk menyelesaikannya melalui mediasi;---3.-Dalam penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat 2

tidak mencapai kesepakatan, maka Para Pihak bersepakat, dan dengan ini berjanji serta mengikatkan diri satu terhadap yang lain, untuk menyelesaikannya melalui Pengadilan Negeri di Banda Aceh;- ---4. Akad Pembiayaan Al Qardh pada Bank Aceh Syariah

--- Pasal 16 --- PENYELESAIAN PERSELISIHAN ---1. Dalam hal terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran atas hal-hal

yang tercantum di dalam surat perjanjian ini atau terjadi perselisihan atau sengketa dalam pelaksanaannya, maka para pih ak sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat.

2. Apabila musyawarah untuk mufakat telah diupayakan namun perbedaan pendapat atau penafsiran, perselisihan atau sengketa tidak dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak, maka para pihak bersepakat, dan dengan ini berjanji serta mengikatkan diri untuk menyelesaikannya melalui Mahkamah Syariah Provinsi Nanggro Aceh Darussalam di Banda Aceh menurut prosedur beracara yang berlaku di dalam Mahkamah Syariah tersebut.

3. Para pihak sepakat, dan dengan ini mengikatkan diri satu terhadap yang lain, bahwa pendapat hukum (legal opinion) dan/atau putusan yang ditetapkan oleh badan arbitrase muamalat Indonesia tersebut bersifat final dan mengikat (final and binding).

Berdasarkan contoh sampel di atas, jelaslah bahwa dalam setiap akad pembiayaan yang dibuat antara pihak bank syariah dengan nasabahnya selalu tercantum atau memuat klausul penyelesaian sengketa/penyelesaian perselisihan. Klausul ini sebagaimana dijelaskan sebelumnya merupakan klausul yang mengatur mengenai mekanisme penyelesaian perselisihan yang dapat dipilih oleh para pihak apabila terjadi suatu perselisihan akibat pembiayaan dimaksud. Dalam hal ini klausul dimaksud para pihak dapat memilih penyelesaian melalui musyawarah, arbitrase, pengadilan agama/mahkamah syar’iyah maupun melalui pengadilan negeri.173

Adanya berbagai mekanisme penyelesaian sengketa yang dimuat dalam akad khususnya yang dilakukan melalui lembaga litigasi yaitu pengadilan agama/mahkamah syariyah dan melalui pengadilan negeri, masih dimuat dalam dua contoh akad di atas, yaitu pada akad pembiayaan Bank Syariah Mandiri dan Akad Pembiayaan PT Bank Mega Syariah, sedangkan pada akad pembiayaan Bank BRI Syariah dan Bank Aceh Syariah telah ditetapkan bahwa apabila dilakukan melalui lembaga litigasi, maka yang dipilih adalah pengadilan agama/mahkamah syar’iyah.

Menurut T. Rudi Haris dan Desri Yufita, bahwa Alasan Penetapan Klausul Penyelesaian Melalui Pengadilan Negeri, hal ini hanya mengikuti prosedur penyelesaian sengketa yang menjadi kelengkapan suatu akad saja dan telah dipakai sejak bank syariah mulai menyalurkan pembiayaan. Hal ini menurut pihaknya hanya

173Iskandar Muda dan Amrizal, Staf Bagian Pembiayaan Bank Syariah Mandiri dan Bank BRI Syariah di Banda Aceh, Wawancara tanggal 2 dan 3 April 2012

sebagai pelengkap saja dan terhadap perselisihan yang terjadi tidak pernah dilakukan penyelesaian melalui lembaga litigasi karena pihak bank lebih memilih penyelesaian melalui forum musyawarah, karena penyelesaian sengketa dengan jalan perdamaian atau musyawarah merupakan suatu penyelesaian yang sesuai dengan kultur masyarakat yang beradat dan bersendikan syara’. Kalaupun harus melalui jalan lain pihaknya lebih memilih forum arbitrase sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian sengketa, dimana menurut ketentuan btersebut forum arbitrase mengedepankan kebebasan para pihak walaupun sampai saat ini juga tidak pernah dilakukan.174

Syahrul Rizal membenarkan bahwa pencantuman pengadilan negeri sebagai lembaga penyelesaian sengketa perbankan syariah sebagaimana yang dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri adalah wajar mengingat dalam kontrak bisnis di lembaga keuangan syariah termasuk pembiayaan pada bank syariah masih mengacu pada KUH Perdata sehingga untuk memulai suatu transaksi secara syariah juga berpedoman pada KUH Perdata, di samping juga memenuhi sebagian pelaku bisnis syariah juga berasal luar yang beragama Islam. Hal tersebut merupakan pilihan terakhir apabila upaya penyelesaian di luar pengadilan tidak berhasil.175

Keterangan di atas menunjukkan bahwa pihak perbankan syari’ah dalam penyelesaian sengketa lebih mengutamakan penyelesaian sengketa melalui lembaga

174T. Rudi Haris dan Desri Yufita, Kepala Bagian Pembiayaan PT Bank Mega Syariah Banda Aceh dan Staf Pelayanan Bank Syariah Mandiri Banda Aceh, tanggal 2 dan 3 April 2012 .

175Syahrul Rizal, Advokad dan Penasehat Hukum di Kota Banda Aceh, Wawancara tanggal 26 juni 2012

non litigasi khususnya dengan mengutamakan melakukan forum musyawarah, melalui mediasi perbankan, maupun melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) atau lembaga arbitrase lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa dalam pelaksanaannya proses penyelesaian sengketa perbankan syariah yang diupayakan pihak-pihak melalui forum arbitrase, merupakan realita perubahan kecenderungan manusia dalam masyarakat yang harus diterima. Apabila selama ini mekanisme penyelesaian sengketa mengikuti pola yang terstruktur melalui pengadilan negeri, maka pilihan forum arbitrase lebih mengedepankan kebebasan para pihak dalam menetapkan bentuk lain dari proses yang serupa, namun melalui mekanisme yang lebih sederhana dan diharapkan di dalam mekanisme tersebut tidak terjadi distorsi pada penegakan hukum sehingga hasilnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat.

BAB IV

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DUALISME DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN DAN

AKIBAT HUKUMNYA

A. Faktor Penyebab Terjadinya Dualisme Dalam Penyelesaian Sengketa