• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab Terjadinya Dualisme dalam Penyelesaian

BAB III. AKAD PADA PERBANKAN SYARIAH DAN LEMBAGA

A. Faktor Penyebab Terjadinya Dualisme dalam Penyelesaian

Geliat perkembangan perbankan syari'ah maupun lembaga keuangan lain non bank yang semakin pesat dengan makin banyaknya perbankan syari'ah yang lahir dalam perbankan nasional. Perkembangan yang muncul tidak hanya bank dan lembaga keuangan tetapi berbagai bentuk hubungan hukum dengan konsep syari'ah. Demikian pula halnya dengan bank konvensional juga menghadirkan nuansa baru dengan melahirkan sistem syari'ah dalam perbankan konvensional. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya BRI Syari'ah, BNI Syari'ah, Bank Syari'ah Mandiri dan sebagainya yang sebelumnya dikenal dengan nama besarnya sebagai bank konvensional.

Perkembangan perbankan syari'ah di Indonesia tidak diikuti secara linear oleh perkembangan peraturan perundang-undangan, terutama mengenai penyelesaian sengketa. Umumnya, Perbankan syari'ah tidak menggunakan syari'ah sebagai landasan hukum bagi penyelesaian perkara.

Perkembangan selanjutnya, muncul beberapa permasalahan hukum yang harus diatur lebih lanjut. Salah satunya adalah bank Islam masih tunduk pada dua sistem hukum berbeda, peran dewan syariah dan pengawasannya, kedudukan fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam perundang-undangan, serta hukum materiil perbankan syariah. Begitu pula hal nya jika terjadi sengketa dalam perbankan syariah, masih menjadi pertanyaan lembaga mana yang mesti menyelesaikan masalah ini walaupun sebenarnya telah diatur secara tegas dalam UU No. 3 Tahun 2006 jo UU No. 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama atau yang dicantumkan dalam akad yang dibuat oleh para pihak.

Pada bagian terdahulu juga telah dijelaskan bahwa p enyelesaian sengketa perbankan syari’ah juga masih ditemukan adanya akad pembiayaan yang membuka peluang penyelesaian sengketa perbankan syariah. Dengan kata lain kewenangan penyelesaian sengketa perbankan masih termasuk kewenangan peradilan umum, sebagaimana sengketa perbankan pada umumnya. Persoalan hukum berkenaan Bank Syari’ah menyangkut prinsip dan ketentuan hukum syari’ah, karenanya jajaran pengadilan (negeri) dapat menangani sengketa perbankan syari’ah. Hal ini juga didukung dengan adanya ketentuan Pengadilan Negeri dapat menggunakan syari’ah sebagai landasan hukum bagi penyelesaian perkara sengketa perbankkan syari’ah.

Menurut Pasal 55 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan

Syari’ah (UU Perbankan Syari’ah), penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah dapat diselesaikan dengan cara :

(1)Penyelesaian sengketa Perbankan Syari’ah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.

(2)Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad.

(3)Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Syari’ah.

Adanya ketentuan jelas menggambarkan bahwa penyelesaian sengketa perbankan/ekonomi syari’ah walaupun telah ada kewenangan Pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah dalam penyelesaian sengketa perbankan syariah namun tetap saja dapat dilakukan melalui pengadilan negeri. Dalam hal terjadi sengketa keperdataan termasuk hak milik antara orang beragama Islam dan non Islam mengenai obyek sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 UU Pengadilan Agama, maka cara penyelesaiannya diatur dalam Pasal 50 yang isinya sebagai berikut:

1. Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud Pasal 49, khusus mengenai obyek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.

2. Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam, obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.

Adapun mengenai perkara ekonomi syari’ah termasuk sengketa perbankan syariah sebagaimana objek penelitian ini adalah sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 49 huruf (i) UU No.3 Tahun 2006 yang telah disebutkan di atas. Dengan kata lain, perkara ekonomi syari’ah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah” yang dalam penyelesaiannya merupakan kewenangan Pengadilan Agama menjangkau kalangan non muslim yang bertransaksi (menggunakan akad) syari’ah.

Berkaitan dengan penyelesaian sengketa di bidang Perbankan Syari’ah pada lembaga Peradilan Agama, dengan dasar UU Pengadilan Agama kompetensi absolutnya telah jelas serta hakim tidak berhak menolak untuk menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya, dengan alasan belum ada ketentuan yang mengatur. Hakim berkewajiban menciptakan hukum (to creat the law). Atau untuk mengisi kekosongan hukum, maka konsep yang dterapkan oleh Peradilan Umum berupa pengadilan niaga sebagai pengadilan khusus, setidaknya dapat dipakai acuan sebelum Peradilan Agama mengadakan pengkhususan pengadilan yang diatur dengan UU Pengadilan Agama.176 Namun kewenangan untuk mengadili perkara ekonomi syariah termasuk dalam hal ini sengketa perbankan syariah, direduksi oleh Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (UU Perbankan Syari’ah) Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. Sementara pada Ayat (2) dikatakan ” Dalam hal para

176Hj. Hurriyah AB, Hakim Mahkamah Syariyah Banda Aceh, Wawancara Tanggal 26 Maret 2012

pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad”. Padahal dalam akad para pihak cenderung menyebutkan bahwa dalam hal penyelesaian sengketa memilih dilakukan melalui pengadilan Negeri.

Sementara jika dikaitkan dengan pasal tersebut, yang menyatakan: Pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Pengadilan Syari’ah Islam yang diatur dengan Undang-Undang Mahkamah Syar’iyah di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Sekarang Provinsi Aceh) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Daerah Istimewa NAD, yang oleh UU Kekuasaan Kehakiman, tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 15 ayat (2) disebutkan bahwa: Peradilan Syari’ah Islam di Propinsi NAD merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan Pengadilan Agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan Pengadilan Agama dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan pengadilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan umum.

Adanya dualisme pengaturan mengenai kompetensi dalam menyelesaikan perkara Perbankan syariah berdampak tidak adanya kepastian hukum. Lembaga mana yang berhak untuk menanganinya. Sebagai contoh dalam pelaksanaan penyaluran pembiayaan perbankan ditemui adanya penggunaan sertifikat tanah milik pihak ketiga sebagai agunan pembiayaan. Dalam pelaksanaan pembiayaan tertunggak sehingga mengharuskan bank syariah melakukan eksekusi agunan sebagai upaya pelunasan pembiayaan. Hal ini tentunya merugikan pemilik sertifikat sehingga mengajukan

gugatan kepada pihak debitur bank ke Pengadilan Negeri dan mengikutsertakan bank sebagai tergugat. Padahal gugatan tersebut dapat saja diajukan ke Mahkamah Syariah atau Pengadilan Agama sebagaimana diatur UU Bank Syariah. Kondisi seperti ini dapat juga terjadi pada perjanjian atau akad yang diselenggarakan berdasarkan prinsip syariah lainnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dianalisis bahwa faktor penyebab terjadinya dualisme dalam penyelesaian sengketa perbankan syari’ah adalah penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah adalah adanya ketentuan hukum yang diterbitkan oleh pembuat undang yang mengatur kewenangan mengadili dari dua lembaga peradilan yaitu Pengadilan Agama (Mahkamah Syariyah di Aceh) dengan peradilan umum.

Kewenangan Peradilan Agama mengadili sengketa ekonomi syari’ah merupakan kewenangan absolut yang dilimpahkan oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah serta Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Adanya dualisme dalam hal kewenangan mengadili sengketa ekonomi syari’ah yaitu antara Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dengan penjelasan pasal 55 ayat (2) huruf (d) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, dimana secara eksplisit memberi ruang opsi penyelesaian sengketa Perbankan syari’ah melalui Peradilan Umum. Selain itu, adanya dualisme ini juga diakibatkan karena adanya pencantuman klausul penyelesaian sengketa yang dimuat dalam akad, dimana masih terdapat akad pembiayaan bank syariah yang

memuat klausul penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri mengikuti prosedur penyelesaian sengketa pada bank konvensional.

Oleh karena itu, diharapkan seiring dengan berjalannya seluruh proses transaksi dalam industri keuangan dan perbankan syariah, perlu diupayakan untuk penyelesaian sengketa antara nasabah dengan pihak bank syariah mengupayakan langkah antisipatif, pemerintah melalui Majelis Ulama untuk membentuk ketentuan penyelesaian sengketa yang seragam bagi dunia perbankan syariah.

B. Akibat Hukum Dualisme Dalam Penyelesaian Sengketa Perbankan