• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akar Masalah Pembangunan

Dalam dokumen RPJMN Kehutanan 2015 2019 (Halaman 61-72)

3.4 Permasalahan Pembangunan

3.4.5 Akar Masalah Pembangunan

Uraian tentang kinerja pembangunan kehutanan yang masih rendah dapat dikerucutkan menjadi satu pernyataan bahwa “Indonesia mempunyai potensi sumberdaya hutan yang luar biasa besar tetapi telah gagal mengkapitalisasinya menjadi kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan.” Berdasarkan penelaahan berbagai laporan dan hasil lokakarya selama 3 dekade terakhir, serta konsultasi pakar diketahui bahwa akar penyebab kegagalan tersebut adalah buruknya tata kelola dan tata kuasa kehutanan yang berakibat pada tidak lestarinya pengelolaan hutan di Indonesia. Gambar 5 menyajikan hasil analisis akar masalah pembangunan kehutanan.

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 57

Berdasarkan analisis akar masalah di atas, dapat dijabarkan beberapa masalah pokok yang selama ini berkontribusi nyata kepada kegagalan pembangunan kehutanan Indonesia, yaitu:

1. Paradigma pembangunan kehutanan yang tidak berbasis ekosistem, melainkan berbasis komoditi (kayu, non kayu, jasa lingkungan, kawasan) melalui instrumen perizinan pemanfaatan komoditi; satu komoditi satu izin dan izin pemanfaatan komoditi tersebut juga dipisah-pisahkan menurut fungsi hutan. Berbagai penelitian membuktikan bahwa perizinan bidang kehutanan telah menimbulkan biaya transaksi yang sangat tinggi. Akibatnya, efisiensi dan optimalisasi pengelolaan sulit dicapai dan kemungkinan terjadi tumpang tindih antar izin sangat besar.

2. Paradigma pembangunan kehutanan tidak berlandaskan keadilan dalam konteks keberpihakan pada pelaku usaha akibat bias pemahaman skala usaha yang diidentikkan dengan pelakunya, sehingga skala kecil disamakan dengan pengelolaan oleh masyarakat yang cenderung hanya untuk subsisten. Sistem perizinan yang ada memprioritaskan pengusahaan hutan skala besar yang cenderung mengabaikan kapital sosial lokal yang memiliki ketergantungan terhadap sumberdaya hutan. Implikasinya alokasi kawasan hutan untuk pengelolaan atau pemanfaatan oleh masyarakat sangat rendah dan upaya pemerintah di dalam peningkatan kapasitas masyarakat untuk pengelolaan hutan juga sangat lemah.

3. Paradigma command and control yang sangat kaku. Akibat dari paradigma ini adalah penggunaan instrumen perizinan sebagai andalan utama bagi pengelolaan sumberdaya hutan; sementara itu, instrumen dalam bentuk insentif dan disinsentif sangat kurang berkembang. Pada dasarnya pemegang izin hanya melaksanakan apa yang telah digariskan oleh pemerintah. Implikasi dari perizinan adalah perlunya birokrasi pengawasan yang membutuhkan anggaran yang besar. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa birokrasi pengawasan yang ada belum dapat menunjukkan akuntabilitas dengan kinerja yang baik.

4. Kawasan hutan masih belum memiliki kepastian untuk mendukung penguatan pencapaian kinerja pembangunan, bahkan setelah Keputusan MK No 45/PUU-IX/2011 dan MK N0 35/PUU-IX/2012, penafsiran tentang kawasan hutan membutuhkan penafsiran baru untuk menguatkan legitimisasinya. Keengganan Kementerian Kehutanan untuk membuka dialog dengan sektor lain justru akan melemahkan dukungan kepada sektor kehutanan. Tumpang tindih penggunaan lahan dan tenurial sangat banyak terjadi, bahkan seringkali melibatkan kekerasan yang memakan korban jiwa. 5. Peraturan pada level Peraturan Menteri sering berubah sehingga menimbulkan ketidakpastian, baik hukum maupun usaha. Sangat lazim disuarakan oleh pelaksana di lapangan bahwa pekerjaan mereka adalah menunggu peraturan yang baru, karena sebelum peraturan lama dimengerti dan dijalankan sudah muncul peraturan baru.

6. Regulasi yang berlebihan dan kurang tepat sehingga menyulitkan dunia usaha untuk melakukan inovasi dan terobosan. Produksi bahan baku sulit

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 58

berkembang karena biaya transaksi yang sangat tinggi akibat dari prosedur yang sangat berbelit. Harga kayu log sulit mencapai tingkat kompetitif karena pemerintah melarang ekspor log; kayu bulat dari hutan alam menghadapi industri pengolahan yang sudah ketinggalan jaman sehingga tidak efisien, sementara kayu bulat dari hutan tanaman menghadapi struktur pasar yang oligopsonistik. Nilai tambah dapat tercipta jika industri pengolahnya efisien; tidak semua pengolahan dapat menciptakan nilai tambah. Aplikasi teknologi yang lebih maju karena tidak adanya insentif akibat dari peraturan yang ada. Contohnya, Silin terganjal oleh aturan bahwa semua investasi di hutan alam menjadi milik pemerintah.

7. Ketiadaan pengelola hutan yang efektif di lapangan, sehingga menyebabkan sekitar 22,8 juta ha kawasan hutan produksi dan 28,8 juta ha kawasan hutan lindung seolah “tidak bertuan”. Kondisi telah mendorong maraknya aktivitas illegal, seperti pembalakan liar, pembukaan kebun, pertambangan, dan sebagainya. Organisasi KPH yang diharapkan mampu menjadi pengelola hutan di lapangan hingga saat ini masih belum menunjukkan kinerja yang diharapkan.

8. Organisasi kehutanan tidak efektif, dicirikan oleh pembagian urusan pemerintahan antara pusat dan daerah yang belum membagi habis pengurusan hutan dan terkonsentrasinya pelaksanaan kewenangan pengurusan kehutanan pada pemerintah pusat. Selain itu, organisasi kehutanan, baik pusat maupun daerah, memiliki ciri organisasi birokratik yang kaku dengan kompetensi SDM yang dinilai kurang memadai dalam menjalankan tugas dan fungsinya, serta sistem administrasi negara yang tidak transparan dan akuntabel. Dalam hal organisasi pengelola hutan di tingkat tapak, Permendagri 61/2010 memandatkan struktur organisasi KPH yang seragam dan belum sepenuhnya memberikan kewenangan pengelolaan otonom bagi organisasi KPH untuk mengelola hutan secara profesional. Selain itu, organisasi KPH belum didukung oleh kebijakan penyediaan SDM yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan.

9. Pasar kayu bulat yang sangat terdistorsi sehingga harganya terlalu rendah. Beberapa faktor yang berperan dalam mendistorsi pasar kayu bulat adalah integrasi vertikal, struktur industri yang tidak kompetitif, dan kebijakan larangan ekspor kayu bulat, termasuk kayu bulat dari hutan tanaman. Harga kayu bulat di dalam negeri jauh lebih rendah dibandingkan harga kayu bulat di pasar internasional. Implikasinya banyak perusahaan yang tidak berproduksi, realisasi produksi kayu bulat dibawah target, demikian juga pada industri pengolahan kayu, sehingga membuka peluang pasok kayu illegal.

10. Riap yang terlalu rendah, khususnya untuk hutan alam. Secara umum, laju pertumbuhan hutan alam adalah sangat rendah, sehingga kurang menarik untuk dipilih sebagai wahana investasi pengelolaan hutan lestari. Sebagai patokan, pemanenan kayu optimal terjadi ketika nilai laju pertumbuhan tegakan sama dengan tingkat suku bunga. Riap hutan alam yang sangat

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 59

rendah dapat menyebabkan investasi jangka panjang di hutan alam secara finansial tidak layak.

11. Property rights yang tidak terdefinisi dengan baik. Pemberian konsesi atau izin pemanfaatan kayu di hutan alam tidak menghasilkan “property rights” yang terdefinisi dengan baik, dicirikan oleh beberapa unsur seperti dapat dipindahtangankan, dapat ditegakkan dan eksklusif. Tarif iuran izin yang sangat rendah mendorong peminat usaha pemanfaatan hasil hutan kayu untuk dapat menguasai areal hutan yang sangat luas, melebihi kemampuan untuk menjaganya.

12. Lemahnya sinergi perencanaan sektor-sektor berbasis lahan (kehutanan, perkebunan, pertambangan) dan penataan ruang dalam konteks pembangunan berkelanjutan, sehingga tidak menjamin terwujudnya kawasan hutan tetap sebagai basis penegakan hukum. Implikasinya adalah lemahnya kepastian usaha dan penegakan hukum untuk mendukung dilaksanakannya pengelolaan jangka panjang.

13. Lemahnya sinkronisasi kebijakan kehutanan, perindustrian, dan perdagangan dalam mengembangkan iklim usaha yang menarik dan meningkatkan nilai tambah.

14. Rendahnya kapasitas pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati. Hingga saat ini pengelolaan kawasan konservasi yang cukup intensif baru dilakukan untuk kawasan taman nasional. Kawasan konservasi lain dan hutan lindung belum dikelola secara memadai. Demikian juga, konservasi berbagai jenis dilindungi dan/atau terancam punah masih sangat lemah.

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 60

BAB 4

KETERKAITAN DENGAN SEKTOR LAIN

4.1. Bidang Perencanaan

Perencanaan kegiatan kehutanan dan pemantapan kawasan hutan akan selalu bersinggungan dengan berbagai pihak, termasuk kementerian/lembaga, yang berkepentingan dengan pengelolaan dan pemanfaatan lahan. Badan pertanahan nasional (BPN) sebagai salah satu institusi pemerintah yang mengurusi kepemilikan dan penguasaan atas lahan (tanah)mempunyai posisi yang sangat strategis untuk ikut mewujudkan kesepakatan batas-batas kawasan hutan dengan peruntukan lainnya yang jelas dan sah (legitimate). Konflik tenurial seringkali dimulai dengan ketidakjelasan batas kawasan hutan dan penggunaan serta peruntukan lahan yang dalam sejarah pertanahan memang membingungkan banyak pihak. Hal yang sama dijumpai dalam konflik areal pertanian, perkebunan, pertambangan, transmigrasi, masyarakat sebagai individu dan sebagai kelompok, institusi pemerintah dan swasta. Dengan demikian keterlibatan berbagai pihak terkait sangat diperlukan sehingga pemantapan kawasan hutan harus menjadi prioritas untuk diselesaikan. Belum tercapainya koordinasi dan kesepakatan yang sempurna oleh semua pemangku kepentingan menjadikan luasan hutan tidak pernah sama dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu kepastian kawasan menjadi salah satu penyebab pengelolaan hutan menjadi tidak optimal.

Dalam tahap perencanaan, keberadaan kawasan hutan sangat terkait dengan proses penataan ruang, khususnya ruang darat dan pesisir. Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang merupakan pengganti Undang-Undang terdahulu, yaitu Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya (Pasal 1 angka 1). Selanjutnya, dalam Pasal 1 angka 2, dinyatakan bahwa tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang serta dalam Pasal 1 angka 4, dinyatakan bahwa pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Oleh karena itu, kawasan hutan yang merupakan salah satu bentuk ruang di dalam wilayah administratif akan sangat terkait dengan proses penataan ruang yang dilakukan di dalam wilayah yang bersangkutan. Permasalahan yang banyak timbul adalah dalam proses penataan ruang yang seringkali tidak menyesuaikan dengan keberadaan kawasan hutan karena adanya kebutuhan lahan untuk kegiatan pembangunan sektor lain.

Penataan ruangadalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang (UU 26/2007, Pasal 1 angka 5). Berkaitan dengan hal tersebut, pada awal tahun 1980an, Kementerian Kehutanan

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 61

telah menerbitkan peta kawasan hutan wilayah provinsi, yaitu Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan (RPPH) yang lebih dikenal sebagai Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Peta ini merupakan hasil kesepakatan berbagai instansi di daerah yang membagi wilayah provinsi ke dalam: 1) hutan suaka alam dan wisata; 2) hutan lindung; 3) hutan produksi terbatas; 4) hutan produksi (tetap); 5) hutan produksi konversi (yang dapat dikonversi); 6) hutan negara bebas; dan 7) areal penggunaan lain.Dalam perkembangannya, dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, maka dilakukan padu serasi antara TGHK dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP). Berdasarkan hasil padu serasi menurut undang-undang tata ruang tersebut, fungsi kawasan hutan menjadi: 1) Hutan Suaka Alam, terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, dan cagar biosfir; 2) Hutan Pelestarian Alam, terdiri dari taman nasional, taman hutan raya (Tahura), taman wisata alam, hutan penelitian dan hutan pendidikan; 3) hutan lindung, terdiri dari hutan lindung (daratan) dan hutan lindung gambut; 4) hutan produksi, terdiri dari hutan produksi terbatas, hutan produksi (tetap), hutan produksi lainnya; dan 5) areal pertanian dan non pertanian. Dalam proses ini, banyak lahan kawasan hutan, terutama hutan produksi dan hutan lindung yang berubah peruntukannya menjadi bukan kawasan hutan, seperti lahan perkebunan dan pertanian.

Penataan kawasan hutan tidak hanya dilakukan terhadap wilayah daratan tetapi juga dilakukan terhadap wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang ditunjuk sebagai kawasan hutan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Pasal 1 angka 3). Oleh karena itu, kawasan hutan juga mencakup wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang sebagian besar merupakan hutan lindung dan kawasan konservasi. Meskipun belum banyak kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang ditunjuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, namun dalam implementasinya di lapangan, perlu adanya keserasian, baik dalam tahap perencanaan maupun pengelolaan untuk menghindari terjadinya duplikasi atau tumpang tindih peruntukan. Dalam undang-undang ini, wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut (Pasal 1 angka 2) dan pulau kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya (Pasal 1 angka 3).Salah satu upaya penting yang dilaksanakan adalah Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil didefinisikan sebagai upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya (Pasal 1 angka 19).

Upaya konservasi yang dilakukan oleh Kementerian Kehutanan adalah melalui penunjukan dan pengelolaan kawasan konservasi perairan dalam bentuk Kawasan

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 62

Suaka Alam Laut (Cagar Alam Laut dan Suaka Margasatwa Laut) dan Kawasan Pelestarian Alam Laut (Taman Nasional Laut dan Taman Wisata Alam Laut) berdasarkan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.Dalam konteks undang-undang konservasi keanekaragaman hayati ini, upaya konservasi sumberdaya alam hayati adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya (Pasal 1 angka 2).Selanjutnya, kawasan konservasi yang dikategorikan sebagai kawasan suaka alam (KSA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan (Pasal 1 angka 9); dan kawasan pelestarian alam (KPA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (Pasal 1 angka 13). Sedangkan dalam undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan (Pasal 1 angka 20).

Dari sudut pandang konservasi, wilayah pesisr dan pulau-pulau kecil dipandang sebagai suatu ekosistem khas, yang perlu dikonservasikan sehingga banyak lokasi telah ditunjuk dan ditetapkan sebagai kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam yang pemanfaatan lebih lanjut tidak besifat ekstraktif. Hal ini seringkali dipandang sebagai tidak produktif oleh masyarakat sekitar dan terutama pemerintah daerah karena tidak memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Selain itu, banyak sektor pembangunan yang berbasis lahan, dalam perencanaan pembangunannya tidak memperhatikan status lahan sehingga seringkali terjadi tumpang tindih kepentingan yang berkepanjangan dan menyebabkan terhambatnya kegiatan pembangunan dimaksud. Hal ini seringkali menimbulkan dualisme pandangan masyarakat, yaitu lingkungan vs pembangunan, dan mendorong ke arah perhitungan ekonomi sesaat (quick cash) yang akan lebih mementingkan keuntungan jangka pendek yang nyata dengan kerusakan jangka panjang dibandingkan dengan keuntungan yang bersifat intangible dan berjangka panjang. Pemberlakuan otonomi daerah juga telah mendorong pembentukan

daerah otonom barudalam bentuk pemekaran wilayah administrasi

pemerintahan,baik kabupaten/kotamaupun provinsi. Pembentukan daerah otonom ini seringkali tidak memperhatikan status kawasan yang ada, sehingga terjadi konflik pemanfaatan lahan, sebagai contoh adalah pembangunan kabupaten Wakatobi di Provinsi Sulawesi Selatan yang tumpang tindih dengan Taman Nasional Wakatobi.Hal ini menyebabkan kepastian hukum pengelolaan ataupun pemanfaatan kawasan untuk kepentingan pembangunan dimaksud menjadi tidak jelas.

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 63

Wilayah daratan dan perairan Indonesia, dibagi habis ke dalam wilayah administrasi pemerintahan, yaitu provinsi dan kabupaten/kota.Sejalan dengan diberlakukannya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pasal 1, ayat (5) menyatakan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerahotonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahandan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturanperundang-undangan.Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuanmasyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yangberwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dankepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkanaspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pasal 1 ayat (6)) diterjemahkan kedalam wilayah administrasi kabupaten/kota. Berdasarkan undang-undang ini, daerah otonom mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, termasuk diantaranya adalah melaksanakan dan menata wilayahnya.

Pengaturan penataan ruang yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dan provinsi merupakan upaya pembentukan landasan hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang (UU 26/2007, Pasal 1 angka 9). Oleh karena itu, pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk menata kawasan yang termasuk ke dalam wilayah administrasinya sesuai dengan kepentingan pembangunan daerah yang bersangkutan serta peraturan perundang- undangan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya, kawasan yang merupakan wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (UU 26/2007, Pasal 1 angka 20), dikategorikan ke dalam kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan(UU 26/2007, Pasal 1 angka 21), dan kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan (UU 26/2007, Pasal 1 angka 22). Oleh karena itu, dengan tujuan pembangunan wilayah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pemerintah daerah dapat mengajukan perubahan tata ruang wilayah yang bersangkutan sehingga terjadi perubahan peruntukan lahan yang berujung pada ketidakpastian kawasan.

Menurut ketentuan Pasal 3, UU 26/2007, penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan: a) terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan; b) terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia; dan c) terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 64

lingkungan akibat pemanfaatan ruang. Sesuai dengan tujuan penataan ruang ini, maka perlu adanya keterpaduan dan keserasian berbagai kepentingan pembangunan mulai dari tahap perencanaan, termasuk pengalokasian kawasan hutan secara jelas dan tegas sehingga dapat diketahui kawasan hutan tetap di masing-masing wilayah administrasi kabupaten/kota maupun provinsi. Hal ini terkait dengan ketentuan Pasal 17 yang menyatakan bahwa: (1)muatan rencana tata ruang mencakup rencana struktur ruang dan rencana pola tata ruang; (2) Rencana struktur ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi rencana sistem pusat permukiman dan rencana sistem jaringan prasarana; (3) rencana pola ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi peruntukan kawasan lindung dan kawasan budi daya; (4) peruntukan kawasan lindung dan kawasan budi daya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi peruntukan ruang untuk kegiatan pelestarian lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, dan keamanan; (5) dalam rangka pelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dalam rencana tata ruang wilayah ditetapkan kawasan hutan paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas daerah aliran sungai. Ketentuan ini dikhawatirkan dapat mendorong terjadinya perubahan status kawasan hutan yang telah ditunjuk sebagai hutan tetap di wilayah provinsi maupun kabupaten/kota, khususnya di luar Pulau Jawa yang masih mempunyai kawasan hutan lebih dari 30 persen, sekaligus membuat tata ruang wilayah yang bersangkutan menjadi tidak pasti (unsecured land uses). Padahal dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, dinyatakan bahwa rencana tata ruang sebagai hasil dari pelaksanaan perencanaan tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 merupakan acuan bagi pemanfaatan ruang untuk seluruh kegiatan yang memerlukan ruang melalui kegiatan pembangunan sektoral dan pengembangan wilayah (PP 15/2010, Pasal 23).

Berkaitan dengan keberadaan kawasan hutan di wilayah administrasi yang bersangkutan, dinyatakan bahwa dalam hal terdapat bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya, terhadap bagian kawasan hutan tersebut mengacu pada ketentuan peruntukan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya (PP 15/2010, Pasal 30 ayat (1)). Selanjutnya, bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah provinsi yang akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya (PP 15/2010, Pasal 30 ayat (2)). Kurangnya keterpaduan dalam tahap perencanaan di tingkat daerah ini menyebabkan banyak kawasan hutan yang sudah berubah fungsi dan pemanfaatannya sebelum adanya ijin pelepasan kawasan hutan walaupun telah secara tegas dinyatakan dalam Pasal 31 bahwa: (1) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan; (2) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya diintegrasikan

Background Study RPJMN Kehutanan 2015 – 2019: Final Report 65

dalam perubahan rencana tata ruang wilayah; (3) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan sebelum ditetapkan perubahan rencana tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Dalam pelaksanaan Otonomi Khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam

Dalam dokumen RPJMN Kehutanan 2015 2019 (Halaman 61-72)

Dokumen terkait