KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Manajemen
B. Rukun Tetangga
2. Akhlak dan Religiusitas a.Pengertian Akhlak
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah akhlak ini sering disamakan
29
Bila dilihat dari segi bahasa (etimologi) perkataan akhlak (bahasa Arab)
adalah bentuk jamak dari kata khulk dalam kamus al-Munjid berarti budi
pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Asmaran As, 1994:1).
Sedang Ahmad Amir mengatakan bahwa akhlaq ialah kebiasaan
kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu,
maka kebiasaannya itu disebut akhlak. Contohnya bila kehendak itu
dibiasakan memberi, maka kebiasaan itu ialah akhlak dermawan (Asmaran
As, 1994:1).
Artinya sebuah perbuatan itu dilakukan secara sadar, tidak terpaksa
dan berulangkali sehingga perbuatan itu telah mapan dan mudah
mengerjakannya tanpa pertimbangan dan pemikiran terlebih dahulu.
Jadi khulk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat
yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ
timbul berbagai macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. Apabila kondisi
jiwa (sifat) tadi menimbulkan perbautan baik dan terpuji menurut
pandangan syariat dan akal pikiran, maka disebutlah budi pekerti yang
tercela (Asmaran As, 1994:3).
b. Macam-macam Akhlak
Berdasarkan baik dan buruknya perbuatan yang dilahirkan oleh
sifat atau kondisi jiwa menurut pandangan syari’at dan akal pikiran tersebut.
Maka akhlakpun ada 2 macam yaitu :
1) Akhlak yang terpuji
30
a) Maaf, kata maaf berasal dari bahasa Arab, yaitu al-afw. Al-afw
sebagai istilah ajaran akhlak dalam Islam berarti bahwa seseorang
menghapus kesalahan atau membatalkan melakukan pembalasan
terhadap orang yang berbuat jahat atas dirinya ( Asmaran As,
1994:213).
b) Tawakkal atau tawakkul (bahasa Arab) berasal dari kata kerja (fi’il)
W-K-L, yang berarti mewakilkan atau menyerahkan. Jika dilihat dari
segi istilah, tawakkal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah
dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti
akibat dari suatu keadaan. Imam Ghozali merumuskan definisi
tawakkal itu sebagai berikut : “tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala tatkala menghadapi suatu kepentingan,
bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala
ditimpa bencana, dengan jiwa yang terang dan hati tentram ( Asmaran
As, 1994:223).
c) Sabar, secara etimologi sabar berarti teguh hati tanpa mengeluh
ditimpa bencana. Yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian
Islam ialah tahan menderita sesuatu yang tidak disenangi dengan ridho
dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah ( Asmaran As, 1994:228).
d) Merasa cukup (Qonaah) artinya suka menerima apa yang ada,
maksudnya rela dengan pemberian yang telah dianugerahkan Allah
SWT kepada dirinya, karena merasa bahwa memang itulah yang
31
e) Dan masih banyak lagi akhlak terpuji ini, seperti: bersyukur, jujur,
amanah, at-taubah, asy-syaja’ah dan sebagainya.
2) Akhlak yang tercela
Yang termasuk akhlak yang tercela ini antara lain :
a) Dengki (hasad) yaitu menginginkan orang lain kehilangan sesuatu
yang baik (Kamil, 1988:133).
b) Dendam (hiqd) yaitu keadaan jiwa di mana rasa permusuhan seorang
pemarah mencekam kukuh dalam jiwanya (Kamil, 1988:136).
c) Kesombongan yaitu keadaan jiwa yang memandang tinggi diri sendiri
(izza) dan rasa diri hebat (ta‟azhushum)(Kamil, 1988:154).
d) Dan masih ada lagi seperti riya’, bakhil, laba, bohong, amarah, kianat
dan sebagainya.
c. Materi Akhlak
Yang dimaksud dengan materi akhlak disini adalah isi dari ajaran
akhlak itu sendiri. Pada pokoknya materi akhlak itu adalah meliputi akhlak
terpuji yang harus dimiliki dan akhlak yang tercela yang harus dijauhi dalam
hubungannya kepada Allah, diri sendiri, sesama manusia dan makhluk lain
atau alam sekitar. Dan dalam pembahasan ini hanya mengenai akhklak
manusia terhadap Allah dan sesama manusia.
1) Akhlak manusia terhadap Allah
Manusia sebagai makhluk Allah memiliki tugas dan kewajiban
untuk beriman kepada-Nya dan sebagai kesempurnaan iman yaitu dengan
merealisasikannya dalam bentuk amal (taqwa). Yang dimaksud disini
32
yang merupakan manifestasi iman dan taqwa itu antara lain adalah
syukur atas nikmat yang Allah berikan dan sabar atas bencana yang Allah
timpakan (Kamil, 1988:16).
Ikhlas dalam setiap perbuatan, mohon ampun pada-Nya atas
segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat, baik lahir maupun batin,
selalu bertawakal atas segala doa dan usaha yang telah dilakukan. Dan
dengan kekuatan iman inilah sesungguhnya manusia mampu menghadapi
segala persoalan hidup dengan akhlak yang mulia, tidak mudah
terpancing oleh hal-hal yang tidak baik.
2) Akhlak terhadap sesama manusia
Mengenai akhlak manusia terhadap sesama manusia ini,
meliputi akhlak kepada kedua orang tua, guru, saudara, teman, tetangga
dan anak yatim serta fakir miskin. Untuk lebih jelasnya adalah sebagai
berikut:
a) Akhlak terhadap kedua orang tua
Islam telah mewajibkan kepada umatnya untuk berbakti
kepada kedua orang tua. Adapun cara berbakti kepada kedua orang tua
tersebut di antaranya adalah :
(1) Mematuhi ibu bapak dalam setiap perilakunya kecuali jika anak
diperintahkan berbuat maksiat, ini tidak perlu dipatuhi.
(2) Banyak mendoakan dan meminta ampun bagi mereka.
(3) Tidak boleh keluar rumah jika mereka tidak mengizinkan.
(4) Segera mengindahkan panggilan mereka jika mereka
33
(5) Mendoakan mereka lebih-lebih setelah mereka wafat. Banyak
mengulang firman Allah “Ya Allah, kasihinilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil” (Ulwan,
1992:49).
b) Akhlak terhadap guru
Guru adalah orang yang sangat berjasa bagi umat manusia di
muka bumi ini, karena lewat gurulah manusia mengetahui
rahasia-rahasia alam (ilmu pengetahuan), maka Nabi SAW berwasiat agar
siswa itu memiliki adab terhadap gurunya antara lain sebagai berikut :
(1) Seorang murid hendaknya bersikap tawadhuk (rendah hati)
kepada gurunya.
(2) Seorang murid hendaknya memandang gurunya dengan penuh
hormat.
(3) Seorang murid hendaknya duduk di depan gurunya dengan
sopan, tenang, merendah diri dan hormat, mendengarkan,
memperlihatkan dan menerimanya tanpa menoleh kesana-kemari
kecuali jika perlu, tidak gelisah karena mendengar kegaduhan,
terutama saat guru mengajar (Ulwan, 1992:71-74).
c) Akhlak terhadap saudara
Yang dimaksud saudara di sini adalah saudara kandung.
Terhadap saudara kandung hendaklah memiliki sifat mencintai
mereka sehingga dapat berbuat lembut dan baik kepada mereka,
34
ikut merasakan duka cita mereka, serta siap memberikan
pertolongan dan bantuan (Ulwan, 1992:51).
d) Akhlak terhadap teman
Yang dimaksud teman di sini adalah saudara muslim yang
kita sering bergaul dengannya. Islam telah mengajarkan tata cara dan
kewajiban terhadap sesama teman, yaitu antara lain :
(1) Mengucapkan salam jika ketemu
(2) Menjenguk jika teman sakit
(3) Mendoakan jika bersin, dengan “Alhamdulillah” (orang yang bersin) dan mendengar “Yarhamukallah” serta“Yahdikumullah”
bagi yang bersin.
(4) Memenuhi undangannya, jika saudara kita (teman) memberi
undangan untuk menghadiri hajatnya maka kita wajib
menghadirinya.
e) Akhlak terhadap tetangga
Yang dimaksud tetangga disini adalah orang yang hidup
dalam lingkungan kita atau yang lebih luas lagi, sering kita sebut
masyarakat. Dalam hal ini ada beberapa kewajiban yang harus
diperhatikan oleh masing-masing, antara lain :
(1) Menunjukkan wajah yang jernih terhadap mereka.
(2) Tidak menyakiti mereka, baik yang lesan maupun perbuatan.
(3) Menghormati dan tenggang rasa terhadap mereka.
35
f) Akhlak terhadap fakir miskin dan anak yatim piatu
Terhadap fakir miskin dan anak yatim piatu hendaklah bersikap :
(1) Menyayangi dan menghormati mereka
(2) Memberi bantuan kepada mereka
d. Dasar dan Tujuan Pembinaan Akhlak
1) Dasar pembinaan akhlak
Sebagai dasar pembinaan akhlak ini adalah al-Qur’an dan al -Hadits. Dalam surat Ali Imron Ayat 104 yang berbunyi :
Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah
dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”
(Departemen Agama, 1989:93).
2) Tujuan Pembinaan Akhlak
Karena pembinaan mengandung unsur pendidikan, sedang
akhlak (budi pekerti) adalah jiwa dari pendidikan Islam, maka tujuan
pembianaan akhlak sama dengan tujuan pendidikan Islam yaitu
pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup mengahasilkan
orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun wanita, jiwa yang bersih,
kemaauan yang keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, tahu
arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, tahu
membedakan buruk dengan baik, memilih suatu fadhilah karena cinta
fadhilah, menghindari suatu perbuatan yang tercela dan mengingat Tuhan
36
e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
Untuk tercapainya pembinaan akhlak ini, ada 2 faktor yang
mempengaruhi, yaitu pertama faktor dari dalam diri manusia itu sendiri,
maksudnya adalah adanya kemauan menahan diri (mujahadah) dan melatih
diri (riyadhah), yakni bersusah payah melakukan amal perbuatan yang
bersumberkan akhlak yang baik, sehingga menjadi kebiasaan dan sesuatu
yang menyenangkan (Kamil, 1988:93).
Dan yang kedua adalah faktor dari luar diri manusia tersebut.Ada 4
lingkungan yaitu lingkungan keluarga, Madrasah (sekolah), masyarakat
(mujtama‟) dan masjid (maqomulibadah), yang keempat lignkungan pendidikan inididi dalam konsep pendidikan Islam biasanya disebut dengan
istilah “catur pusat pendidikan Islam”
1) Lingkungan Keluarga
Para ahli ilmu pendidikan Islam sepakat mengakui bahwa
lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan
anak didik. Maka sudah semestinyalah setiap keluarga muslim berusaha
untuk menciptakan lingkungan keluarganya masing-masing menjadi
lingkungan yang paedagogisreligius, lingkungan yang penuh nilai-nilai
pendidikan dan keagamaan yang indah.
2) Lingkungan Madrasah (sekolah)
Lingkungan madrasah (sekolah) menjadi sangat besar
pengaruhnya terhadap perkembangan anak-anak didik, karena memang
37
karena itu, maka menjadi kewajiban umat Islam untuk menyelenggarakan
sekolah yang Islami.
3) Lingkungan Masyarakat (Mujtama‟)
Lingkungan masyarakat besar pula pengaruhnya terhadap
perkembangan anak didik, karena dalam kenyataannya, lebih-lebih
setelah anak memasuki Murahiq (remaja), anak akan menghabiskan
sebagaian besar waktunya utnuk berada di lingkungan masyarakatnya.
Oleh karena itu menjadi tugas para orang tua dan pendidik untuk
memulihkan teman-teman pergaulan anak-anaknya dengan teman-teman
yang baik budi pekertinya, dan menjauhkan mereka bergaul dengan
teman-teman yang buruk budi pekertinya.
4) Lingkungan Masjid (MaqamulIbadah)
Berdasarkan sunah Rasulullah, masjid bukanlah hanya sekedar
pusat aktifitas peribadahan hanya sekedar pusat aktifitas peribadahan
didalam Islam tapi juga sebagai pusat sosial dan budaya, serta
aktifitas-aktifitas umat Islam lainnya. Walaupun saat ini terlihat ada pengurangan
fungsi masjid, namun msih tetap sebagai pusat berbagai aktifitas umat
Islam. Dan tidak mungkin umat Islam dalam hidup kesehariannya dapat
terlepas dari masjid dan tempat-tempat iabadah lainnya (Tauhied,
38 3. Religiusitas
a. Definisi Religiusitas
Menurut Harun Nasution dalam Jalaluddin, pengertian agama
berdasarkan asal kata, yaitu al-din, religi, (relegere, religare), dan agama.
Al–din (Semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mempunyai arti menguasai, menundukkan, patuh, utang,
balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (Latin) atau relegere berarti
mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun
kata agama terdiri dari a = tidak, gam = pergi yang mengandung arti tidak
pergi, tetap ditempat atau diwarisi turun temurun (Jalaluddin, 2005:12).
Dengan demikian, makna yang terdapat dalam istilah-istilah diatas
bahwa pada umumnya agama itu mempunyai aturan-aturan dan
kewajiban-kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua orang yang
memeluk agama tersebut. Dimana kesemuanya itu berfungsi untuk mengikat
seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Menurut R.H. Thouless dalam Daradjat, agama ialah proses
hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya,bahwa
sesuatu lebih tinggi daripada manusia (Daradjat, 1991:56). Jadi, agama yaitu
hubungan antara makhluk dengan Tuhan yang berwujud ibadah yang
dilaksanakan dalam bentuk sikap sehari-hari.
Dari istilah agama maka muncullah istilah religiusitas. Anshori
membedakan antara agama atau religi dengan religiusitas. Jika agama
menunjuk pada aspek-aspek formal yang berkaitan dengan aturan dan
39
oleh seseorang dalam hati. Dister juga berpendapat senada dengan Anshori,
yang mengartikan religiusitas sebagai keberagamaan karena adanya
internalisasi agama ke dalam diri seseorang. Selain itu, Monks dkk. juga
memaknai keberagamaan itu sebagai keterdekatan yang lebih tinggi dari
manusia kepada Yang Maha Kuasa dimana itu memberikan rasa aman
(Risnawita S, 2014:169). Semakin manusia mengakui adanya Tuhan dan
kekuasaan-Nya, maka akan semakin tinggi tingkat religiusitasnya.
Dari berbagai pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan tingkat religiusitas adalah kadar atau tingkat pengabdian
seseorang terhadap agama yang diyakini dan dianutnya, dalam hal ini yaitu
agama Islam.
b. Faktor yang Mempengaruhi Religiusitas
Robert H. Thouless mengemukakan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan sikap religiusitas seseorang, yaitu:
1) Pengaruh pendidikan dan berbagai tekanan sosial (faktor sosial).
2) Berbagai pengalaman yang membantu sikap keberagamaan atau
religiusitas seseorang terutama pengalaman keindahan dan kebaikan di
dunia lain (faktor alami), konflik moral (faktor moral) dan pengalaman
emosional keagamaan (faktor efektif).
3) Faktor-faktor yang sebagian atau seluruhnya timbul dari kebutuhan yang
tidak terpenuhi terutama kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih,
harga diri dan ancaman kematian.
4) Faktor intelektual yaitu berbagai proses pemikiran verbal (Thouless,
40 c. Fungsi Religiusitas
Nico Syukur Dister mengemukakan empat fungsi
(emosional-efektif, sosio-moral, intelektual-kognitif dan psikologis) dari religiusitas,
yaitu:
1) Untuk mengatasi frustasi
Ketika seseorang mengalami frustasi maka dia akan mencoba
mengatasinya dengan mengesampingkan kebutuhan atau keinginannya
akan hal yang bersifat keduniawian kepada Tuhan.
2) Untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat
Dimana dalam sebuah agama itu terdapat norma-norma yang
mengatur kehidupan manusia, sehingga dengan adanya religiusitas maka
kehidupan masyarakat akan baik dan tertib.
3) Untuk memuaskan intelek yang ingin tahu
4) Untuk mengatasi ketakutan
Setiap manusia yang mempunyai keyakinan bahwa Tuhan
selalu berada didekatnya maka kecemasan dan ketakutan yang tidak
beralasan akan dapat hilang (Dister, 1992:74).
d. Dimensi Religiusitas
Hurlock dalam M. Nur Ghufron dan Rini Risnawita S mengatakan
bahwa religi terdiri dari dua unsur yaitu keyakinan terhadap ajaran agama
dan pelaksanaan akan ajaran agama. Glock dan Stark membagi dimensi
religiusitas menjadi lima dimensi. Dimana pendapat Glock dan Stark
tersebut sesuai dengan lima aspek agama Islam tentang aspek-aspek
41 1) Dimensi keyakinan
Menunjukkan tingkatan sejauh mana keyakinan seorang muslim
terhadap kebenaran ajaran agamanya. Seperti keyakinan tentang Allah,
adanya malaikat, surga, para Nabi, dan sebagainya.
2) Dimensi praktik agama atau peribadatan
Menunjukkan tingkat kepatuhan muslim dalam melaksanakan
kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya. Seperti menunaikan shalat,
zakat, puasa, haji, dan sebagainya.
3) Dimensi feeling atau penghayatan
Dimensi penghayatan yaitu menunjukkan perasaan keagamaan
yang pernah dialami dan dirasakan seperti merasa dekat dengan Tuhan,
tentram saat berdoa, tersentuh ketika mendengar ayat kitab suci, merasa
takut ketika berbuat dosa, merasa senang doanya dikabulkan, dan
sebagainya.
4) Dimensi pengetahuan agama
Menunjukkan seberapa jauh tingkat pengetahuan dan
pemahaman muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya terutama yang ada
dalam Al-Qur’an, hadits, pengetahuan fikih, dan sebagainya.
5) Dimensi pengamalan
Menunjukkan sejauh mana implikasi atau pengaruh ajaran
agamanya terhadap perilaku seorang muslim dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini menyangkut tentang hubungan dengan sesama manusia dan
hubungan dengan lingkungannya (Risnawita S, 2014:169).
42 1) Kemampuan Melakukan Differensiasi
Artinya kemampuan dengan baik dimaksudkan sebagai individu
dalam bersikap dan berperilaku terhadap agama secara obyektif, kritis,
berfikir secara terbuka. Individu yang memiliki sikap religiusitas tinggi
yang mampu melakukan diferensiasi, akan mampu menempatkan aspek
rasional sebagai salah satu bagian dari kehidupan beragamanya, sehingga
pemikiran tentang agama menjadi lebih kompleks dan realistis.
2) Berkarakter Dinamis
Apabila individu telah berkarakter dinamis, agama telah mampu
mengontrol dan mengarahkan motif-motif dan aktivitisnya. Aktivitas
keagamaan semuanya dilakukan demi kepentingan agama itu sendiri.
3) Integral
Keberagaman yang matang akan mampu mengintegrasikan
atau menyatukan sisi religiusitasnya dengan segenap aspek kehidupan
termasuk sosial, ekonomi.
4) Sikap Berimbang Antara Kesenangan Dunia Tanpa Melupakan Akhirat
Seorang yang memiliki sikap religiusitas tinggi akan mampu
menempatkan diri antara batas kecukupan dan batas kelebihan. Sikap
religiusitas dalam hal perilaku konsumtif berdasarkan kepada akhlak
seseorang. Akhlak dan rasional menempati posisi puncak yang menjadi
43 D.Kajian Pustaka
Kajian pustaka disini adalah hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya yang mempunyai tema dan tujuan yang hampir sama dengan
penelitian ini. Maka dari itu, ada beberapa kajian yang telah dilakukan oleh
peneliti yang lain, yang relevan dengan penelitian ini dengan segala kemampuan,
penulis berusaha menelusuri dan menelaah beberapa hasil kajian pustaka yang di
dapat dari beberapa skripsi yaitu:
1. Skripsi Darmi (2012) berjudul, Korelasi Religiusitas Remaja Dengan Perilaku
Sosial Di Masyarakat Lingkungan Perindustrian Kelurahan Ngempon,
Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang Tahun 2012. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa (1) religiusitas remaja di Kelurahan Ngempon masuk
dalam kategori sedang, (2) perilaku sosial di kelurahan Ngempon masuk dalam
kategori tinggi, (3) Ada korelasi antara religiusitas remaja dengan perilaku
sosial di masyarakat lingkungan perindustrian Kelurahan Ngempon.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian secara kuantitatif untuk
Korelasi religiusitas remaja dengan perilaku sosial di masyarakat lingkungan
perindustrian Kelurahan Ngempon, Kec. Bergas, Kab. Semarang terbukti
bahwa r hitung lebih besar dari r tabel pada taraf signifikan (0,444) lebih besar
dari nilai r table 5% (0,297) dan 1% (0,361) atau dapat dikatakan 0,297
<0,444> 0,361.
Persamaan skripsi Darmi (2012) dengan penelitian ini adalah
kegiatan yang Religiusitas oleh Remaja berpengaruh dengan tindakan atau
sikap remaja dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan perbedaannya terletak
44
remaja dengan perilaku sosial di masyarakat. Pada penelitian ini adalah
Manajemen Rukun Tetangga dalam Membina Akhlak dan Religiusitas Remaja.
2. Skripsi Sabariyah (2012) berjudul, Model Pembinaan Oran gtua Pada Akhlak
Remaja di Desalebak, Kec. Bringin, Kab. Semarang Tahun 2012. Hasil
penelitian menunjukkan semakin intensif orang tua dalam membina anak,
maka akhlak yang diharapkan orang tua akan sesuai harapan yaitu mengikuti
ajaran Agama Islam.
Persamaan skripsi Sabariyah (2012) dengan penelitian ini adalah
tujuan penelitian yaitu pembinaan Akhlak Remaja. Sedangkan perbedaannya
terletak pada variabel pertama, dari skripsi Sabariyah (2012) adalah Model
Pembinaan Oran gtua, sedangkan pada penelitian ini adalah Manajemen Rukun
Tetangga dalam Membina Akhlak Remaja.
3. Skripsi Diah Ayu Sita Resmi (2018) berjudul, Implementasi Pendidikan
Karakter berbasis Nilai-nilai Religiusitas melalui Ekstrakurikuler Keagamaan
Islam di SMP Negeri 3 Salatiga Tahun 2017. Hasil penelitian
dapatdiketahuibahwa, Implementasi Pendidikan Karakter berbasis Nilai-nilai
Religiusitas melalui Ekstrakurikuler Keagamaan Islam di SMP Negeri 3
Salatiga Tahun 2017, dapat di praktikkan di lingkungan sekolah, masyarakat
maupun dalam kehidupan sehari-hari. Konsep pendidikan karakter berbasis
nilai-nilai Religiusitas di SMP Negeri 3 Salatiga Tahun 2017 adalah Ketaatan
beribadah, Kejujuran, Tanggung jawab, Kedisiplinan, Semangat belajar,
Kemandirian, Kritis, Kreatifdaninovatif, Kasihsayangdankepedulian,
45
Persamaan skripsi Diah Ayu Sita Resmi (2018) dengan penelitian ini
adalah tujuan penelitian yaitu peningkatan Nilai-nilai Religiusitas Anak
melalui sebuah perbuatan yang sudah direncanakan. Sedangkan perbedaannya
terletak pada cara-cara yang dilakukan dalam merubah sikap religiusitas anak,
dari skripsi Diah Ayu Sita Resmi (2018) adalah peran Pendidikan Karakter
berbasis Nilai-nilai Religiusitas melalui Ekstrakurikuler Keagamaan Islam,
sedangkan pada penelitian ini adalah Manajemen Rukun Tetangga dalam
46 BAB III
METODE PENELITIAN