• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : AKIBAT HUKUM PERCERAIAN TERHADAP

D. Akibat Perceraian Terhadap Harta Bersama

Persoalan harta bersama setelah terjadinya pemutusan hubungan perkawinan adalah merupakan masalah yang sangat penting untuk dijamin sebab menyangkut kehidupan khususnya bagi pihak iteri setelah berpisah dari suami sebelum ataupun tidak sama sekali isteri untuk melakukan perkawinan selanjutnya. Hal ini dapat dilihat dari Yuisprudensi Mahkamah Agung tanggal 9 Oktober 1968 No. 89 K/Sip/1969 yang menyebutkan bahwa selama seorang janda tidak kawin lagi dan selama hidupnya harta bersama yang dipegang olehnya tidak dapat dibagikan guna menjamin penghidupannya. Hal yang menjadi pertimbangan adalah bahwa masyarakat Indnesia yang menjunjung tinggi adanya persamaan hak atau yang lebih dikenal dengan emansipasi wanita adalah telah sesuai.

Mengenai pembagian harta bersama sebagai akibat putusnya perkawinan karena perceraian diatur dalam Pasal 37 UU Nomor 1 Tahun 1974 yang menentukan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya maing-masing. Menurut penjelasan resmi Pasal itu dapat diketahui bahwa yang dimakud dengan hukumnya masing-masing ialah hukum agama, hukum adat dan hukum lain-lainnya.

Memperhatikan Pasal 37 dan penjelaan resmi atas Pasal terebut tidak memberikan keseragaman hukum positif tentang bagaimana harta bersama apabila terjadi perceraian. Tentang yang dimaksud pasal ini dengan kata “diatur”, tiada lain dari pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian. Maka sesuai dengan cara pembagian, undang-undang menyerahkannya kepada “hukum yang hidup” dalam

lingkungan masyarakat dimana perceraian dan rumah tangga berada. Kalau kita kembali kepada Penjelaan Pasal 37 tersebut, maka Undang-Undang memberi jalan pembagian :

1. Dilakukan berdasar hukum agama jika hukum agama itu merupakan kesadaran hukum yang hidup dalam mengatur tata cara perceraian.

2. Aturan pembagiannya akan dilakukan menurut hukum adat jika hukum tersebut merupakan kesadaran hukum yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan atau :

3. Hukum lain-lainnya

Jika pada Pasal 35 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 pembuat undang- undang telah berani dengan tegas meletakkan dasar hukum lembaga harta bersama dalam perkawinan, sebagaimana lembaga hukum yang seragam untuk semua ikatan perkawinan di negara Republik Indonesia., tetapi yang menyangkut pemecahan pembagian atas lembaga itu pembuat undang-undang tidak meletakkan cara pengaturan hukum yang seragam dalam pemecahannya apabila terjadi perceraian. Barangkali dalam pemecahannya apabila terjadi perceraian sekurang-kurangnya pembuat undang-undang masih ragu-ragu tentang hukum apa yang benar-benar hidup dalam soal perceraian dan pembagian harta kekayaan. Sebenarnya kalau tejadi keraguan dalam soal ini kita rasa keraguan dalam cara pemecahannya tentu juga dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam meletakkan lembaga harta bersama itu pun pembuat undang-undang kalau begitu masih ragu-ragu.

Keraguan dalam menetapkan ketentuan hukum dalam harta bersama apabila terjadi perceraian akan banyak membawa kesulitan di dalam menyelesaikan perselisihan dan dari segi kejiwaan. Hal ini akan membawa efek yang kurang baik ditinjau dari segi sosial psiklogi baik bagi pihak-pihak yang berperkara maupun bagi lingkungan masyarakat sekitarnya. Ambil misalnya contoh antara suami isteri terjadi perceraian. Keduanya beragama Islam hingga perceraiannya pun dilakukan di Pengadilan Agama. Tiba persoalan mengenai harta perkawinan, suami bilang yang berlaku adalah hukum Islam, sebab itu harus diputuskan oleh Pengadilan Agama. Si isteri lain pula pendiriannya dan memajukan gugatan pembagian tersebut kepada Pengadilan Negeri. Memang benar bahwa mengenai pembagian harta bersama yang diperoleh selama perkawinan tidak ada disebut dalam PP Nomor 45 Tahun 1975, sehingga yang berwenang untuk mengadili perselisihan dan pembagian perkara yang menyangkut harta bersama adalah pengadilan umum. Tetapi dengan penjelasan Pasal 37 UU Nomor 1 Tahun 1974 tersebut yang dinyatakan harta bersama dan hukum lain-lainnya. Dari penjelasan ini bukankah misalnya bagi mereka yang beragama Islam berhak membawa persoalan itu kepada Pengadilan Agama, sekalipun PP Nomor 9 Tahun 1975 tidak menyebut hukum agama in casu Agama Islam. Dengan demikian seseorang tidak melanggar kompetensi absolut jika seseorang meminta pembagian harta bersama dalam perkawinan dibawa ke Pengadilan Agama. Sebab dengan menyatakan hukum agama yang mengatur persengketaan sesuatu tentu lebih kompetenlah Pengadilan Agama yang akan menyelesaikannya, sehingga tidak berlaanan dengan PP Nomor 45 Tahun 1975.

Dengan demikian jika dalam persoalan ini pembuat Undang-Undang telah berani melembagakan harta perkawinan dengan ketentuan hukum positif, maka secara logikanya pun harus juga ditentukan hukum positif yang seragam atau spesifik secara diferensiasi.74 Misalnya ditentukan dengan perceraian harta bersama dibagi dua antara suami isteri.

Penegasan semacam ini akan menghilangkan perbedaan penafsiran yang menjauhkan tujuan hukum ini demi keseragaman. Ataupun jelas ditentukan secara diferensiasi, misalnya bagi yang beragama Islam pembagian harta bersama karena perceraian diatur menurut hukum Islam. Akan tetapi barangkali dalam pikiran pembuat Undang-Undang mengenai hal ini merasa dan berpendapat lebih baik tidak ditentukan satu aturan pemecahan positif dengan maksud diserahkan saja kepada kehendak dan kesadaran masyarakat, dan hakimlah nanti yang akan mencari dan menemukan kesadaran hukum masyarakat untuk dituangkan sebagai hukum obyektif.

Atau pembuat undang-undang berpikir tidak usaha ditentukan one way traffic sebagai satu saluran secara positif, sebab berdasar kenyataan kesadaran

hukum yang hidup dalam masyarakat, tentang hal ini masih menuju perkembangan bentuk yang lebih serasi sebagai akibat meluasnya interaksi antara segala unsur kesadaran yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia.75 Namun terlepas dari masalah di atas jika melihat pada keputusan-keputusan Pengadilan tentang

       74

Ibid, hal.77

75

pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian, pada dasarnya sudah menuju trend yang terarah ke satu jurusan kaidah yang dipergunakan sebagai hukum obyektif yang berbunyi : dengan tejadinya perceraian antara suami isteri, harta bersama yang diperoleh selama pekawinan harus dibagi dua bersama antara suami isteri.

Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa putusan Pengadilan dalam prakteknya, seperti pertimbangan pengadilan Tinggi Tebing Tinggi tanggal 30 Desember 1971 No.389/1971 sesuai dengan kesadaran perkembangan hukum Indonesia dipandang adil, bahwa harta bersama (harta bersama), yang harus dibagi dua diantara suami dan isteri apabila terjadi perceraian (dibenarkan oleh Mahkamah Agung tanggal 23–5-1973, No.31 K/Sip/1972).

Demikian juga putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi tanggal 2 Juli 1973 No.129/1972 yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Tebing Tinggi tanggal 2 Juli 1973 No.385/1973 dengan tegas menyatakan bahwa dengan adanya perceraian harta bersama harus dibagi dua diantara suami dan isteri. Demikian juga putusan Pengadilan Negeri Tasik Malaya tanggal 27 Maret 1968 No.44/1967, Pengadilan Tinggi Bandung tanggal 3 Desember 1970 No.198/1969 memutuskan bahwa barang campuran kaya antara suami isteriharus dibagi dua karena bercerai. Begitupun keputuan Pengadilan Negeri Tegal tanggal 16 Maret 1972 No.27/1971 dan putusan Pengadilan Negeri Waingapu, memutuskan : barang guna kaya dibagi dua antara suami dan isteri apabila terjadi perceraian.

Dari keputusan-keputusan di atas jelas dapat dilihat arah yang ditempuh oleh Pengadilan sebagai salah satu lembaga pencipta hukum dalam kehidupan sesuatu bangsa, yaitu menuju pembagian yang sama (bagi dua) antara suami dan isteri tentang harta bersama apabila terjadi perceraian.

Akan tetapi jika bertanya, apakah kaidah yang diambil peradilan-peradilan itu benar-benar merupakan hukum obyektif yang hidup dalam seluruh kalangan masyarakat bangsa, mungkin masih merupakan image yang belum diuji kebenarannya dengan kesadaran masyarakat sebab pada satu segi, yurisprudensi tersebut lebih banyak berorientasi pada literatur yang ditulis oleh sarjana-sarjana Belanda berdasar pendapat dan penyelidikan yang dilakukan pada abad ke-19 yang lewat, dan belum ada penyelidikan yang seksama secara ilmiah dilakukan pada maa akhir-akhir ini.

Mungkin tidak seluruhnya rumusan kaedah itu benar-benar merupakan hukum obyektif yang hidup dalam penghayatan kesadaran hukum masyarakat bangsa secara utuh.

Ketidak tegasan aturan tentang peraturan pembagian harta bersama maka khususnya bagi umat Islam telah dikeluarkan ketentuan hukum yang disebut dengan Kompilasi Hukum Islam.76 Dalam konsideran Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret No. 07/KMA/1985 No. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukkan Pelaksanaan Proyek Pembagian Hukum Islam

       76

melalui Yurisprudensi atau yang lebih dikenal dengan proyek KHI, dikemukakan ada 2 (dua) pertimbangan yaitu :

1. Bahwa sesuai dengan fungsi peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia terhadap jalannya pengadilan di semua lingkungan peradilan di Indonesia, khususnya di lingkungan Peradilan Agama, perlu mengadakan Kompilasi Hukum Islam yang selama ini menjadikan hukum positif di Pengadilan Agama 2. Bahwa guna mencapai maksud tersebut, demi meningkatkan kelancaran

pelaksanaan tugas, sinkronisasi dan tertib administrasi dalam proyek pembangunan hukum Islam melalui yurisprudensi, dipandang perlu membentuk suatu tim proyek yang susunannya terdiri dari para pejabat Mahkamah Agung dan Departemen Agama Republik Indonesia.

Keterangan di atas memberikan penjelasan bahwa langkah awal dari usaha untuk mewujudkan dari Kompilasi Hukum Islam ditandai dengan adanya kerjasama antara Badan Peradilan lewat Mahkamah Agung dengan Lembaga Eksekutif melalui Departemen Agama.

Abdur Rahman: menyatakan Kompilasi Hukum Islamini sebagai keberhasilan umat Islam Indonesia pada pemerintahan orde baru ini. Sebab dengan demikian, nantinya umat Islam di Indonesia akan mempunyai pedoman fiqh yang seragam dan telah menjadi hukum positif yang wajib dipatuhi oleh seluruh bangsa Indonesia yang beragama Islam. Dengan ini diharapkan tidak akan terjadi kesimpang siuran keputusan dalam lembaga- lembaga Peradilan Agama dan sebab-sebab khilaf yang disebabkan oleh masalah fiqh akan dapat diakhiri.77

       77

Abdur Rahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta : Akademika Presindo, 1992), hal.20.

Kompilasi Hukum Islam mengatur tentang harga bersama sebagaimana tertuang dalam Bab XIII, Pasal 85 sampai dengan Pasal 97 yaitu sebagai berikut : Pasal 85 :

Adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri.

Pasal 86 :

(3) Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan.

(4) Harta isteri tetap menjadi hak isteri dan dikuasai penuh olehnya, demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya.

Pasal 87 :

(3) Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian kawin.

(4) Suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melaksanakan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sodaqah atau lainnya.

Pasal-pasal yang disebutkan di atas merupakan pokok-pokok hukum harta bersama. Masing-masing pasal berkaitan satu sama lain. Berikut ini, penulis akan mendeskripsikan tafsir pasal-pasal dimaksud dalam kerangka penjelasan makna aturan hukum harta bersama.

Pasal 85 Kompilasi Hukum Islam pada dasarnya mempertegas bahwa eksistensi harta bersama bukan berarti menafikan eksistensi harta pribadi (harta bersama) suami dan isteri. Hal ini menyebabkan adanya percampuran harta bawaan suami dan isteri. Masing-masing pihak, suami atau isteri berhak untuk menguasai harta bawaan mereka masing-masing secara penuh.78 Selanjutnya Pasal 87 Kompilasi Hukum Islam lebih memperjelas bahwa harta bawaan dimaksud dapat

       78

bersumber dari warisan atau hibah. Keberadaannya di bawah pengawasan masing- masing, kecuali ada perjanjian tertentu antara suami dan isteri.

Pasal 88 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan apabila terjadi perselisihan antara suami isteri tentang harta bersama, maka penyelesaian perselisihan itu diajukan kepada Pengadilan Agama.

Pasal 88 Kompilasi Hukum Islam mempertegas proses penyelesaian perselisihan harta bersama apabila terjadi perselisihan. Proses awal yang dilakukan adalah mengajukan permasalahan yang ada ke Pengadilan Agama. Penyelesaian sengketa harta bersama di Pengadilan Agama ditempuh dengan mengajukan gugatan. Gugatan harta bersama selain diajukan secara terpisah, juga dapat digabung dengan gugatan perceraian (kumulasi objektif). Secara praktis dan rasional dapat diselesaikan bersamaan dengan cara mendudukan gugat pembagian harta bersama sebagai gugat assessor terhadap gugatan perceraian.79 Jika gugat perceraian ditolak, otomatis gugat pembagian harta bersama dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvantkeliek verhlaard). Namun jika gugat cerai dikabulkan, terbuka kemungkinan

pula mengabulkan pembagian harta bersama sepanjang barng-barang yang diajukan dalam gugatan dapat dibuktikan sebagai harta bersama. Hal ini diatur dalam Pasal 86 ayat (1) dan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang No.7 Tahun 1989 sebagaimana

       79

M. Yahya Harahap, Berbagai Pandangan Terhadap Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta : Yayasan Al-Hikmah, 1993/1994), hal.293

diubah dengan UU No. 3 Tahun2006. Sistem penggabungan adalah demi terciptanya prinsip bahwa peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan.80

Pasal 89 Kompilasi Hukum Islam : suami bertanggung jawab menjaga harta bersama, harta isteri maupun hartanya sendiri.

Pasal 90 Kompilasi Hukum Islam : isteri turut bertanggung jawab menjaga harta bersama, maupun harta suami yang ada padanya.

Pasal 89 Kompilasi Hukum Islam bertujuan memberikan penegasan tehadap kewajiban suami untuk bertanggung jawab terhadap harta bersama, demikian juga halnya terhadap harta isteri maupun hartanya sendiri. Di samping itu, isteri juga mendapatkan amanah untuk membantu suami dalam mempertanggung jawabkan harta bersama, maupun harta suaminya sendiri. Hal ini merupakan makna eksplisit dari Pasal 90 Kompilasi Hukum Islam.

Pasal 91 Kompilasi Hukum Islam :

1. Harta bersama sebagaimana tersebut dalam Pasal 85 di atas dapat berupa benda berwujud dan tidak berwujud.

2. Harta bersama yang berwujud dapat meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak dan surat-surat berharga.

3. Harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban 4. Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu pihak

atas persetujuan pihak lainnya.

Pasal 91 Kompilasi Hukum Islam merupakan klasifikasi harta bersama kepada dua bentuk, yakni harta berwujud (benda tidak bergerak, benda bergerak dan surat-surat berharga) dan benda tidak berwujud (hak dan kewajiban). Pada pasal ini ditegaskan pula bahwa harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan

       80

terhadap berbagai perjanjian yang dilakukan. Baik suami maupun isteri harus sama- sama mengetahui dan menyetujui keberadaan harta bersama apabila dalam status sebagai jaminan.

Pasal 92 Kompilasi Hukum Islam :

Suami isteri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama.

Jika dikaitkan dengan proses perpindahan tangan harta bersama ditegaskan dalam Pasal 92 harus sepengetahuan dan seizin kedua belah pihak.

Pasal 93 Kompilasi Hukum Islam

1. Pertanggung jawaban terhadap hutang suami atau isteri dibebankan pada hartanya masing-masing.

2. Pertanggung jawaban hutang yang dilakukan untuk kepentingan keluarga, dibebankan pada harta bersama

3. Bila harta bersama tidak mencukupi, dibebankan pada harta suami

4. Bila harta suami tidak ada atau tidak mencukupi dibebankan kepada harta isteri.

Kemudian, satu hal logis berkaitan dengan hutang piutang keluarga dijelaskan pada Pasal 93 Kompilasi Hukum Islam. Pada pasal ini dinyatakan bahwa baik suami maupun isteri bertanggung jawab atas hutang masing-masing. Selanjutnya apabila hutang dimaksud untuk kepentingan keluarga, maka penyelesaian dibebankan kepada harta bersama. Bila harta bersama tidak mencukupi, dibebankan pada harta suami. Bila harta suai tidak ada atau tidak mencukupi dibebankan kepada harta isteri.

Pasal 94 Kompilasi Hukum Islam

1. Harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai isteri lebih dari seorang , masing-masing terpisah dan berdiri sendiri.

2. Pemilikan harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai isteri lebih dari seorang sebagaimana tersebut ayat (1) dihitung pada saat berlangsungnya akad perkawinan yang kedua, ketiga atau yang keempat.

Pasal 94 Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa bentuk harta bersama dalam perkawinan poligami, masing-masing terpisah dan tersendiri. Aturan ini sejalan dengan ketentuan Pasl 65 ayat (1) huruf b dan c Undang-Undang No. 1 Tahun 1974. Asas dalam perkawinan poligami adalah terbentuknya beberapa harta bersama sebanyak isteri yang dikawini suami. Terbentuknya masing-masing harta bersama setiap isteri dihitung sejak tanggal berlangsungnya perkawinan dan masing- masing harta bersama terpisah dan tersendiri.

Pasal 95 Kompilasi Hukum Islam :

1. Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 24 ayat (2) huruf c Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 dan Pasal 136 ayat (2), suami atau isteri dapat meminta Pengadilan Agama untuk melakukan sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama, seperti judi, mabuk, boros dan sebagainya.

2. Selama sita dapat dilakukan penjualan atas harta bersama untuk kepentingan keluarga dengan izin Pengadilan Agama.

Jika Pasal 98 Kompilasi Hukum Islam mengatur perihal harta bersama dan kaitannya dengan perkawinan poligami, Pasal 95 Kompilasi Hukum Islam mengatur tentang sita jaminan terhadap harta bersama tanpa permohonan gugatan cerai yang dapat dilakukan bila suami atau isteri melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keberadaan harta bersama seperti mabuk, boros dan lain sebagainya. Di samping itu pula bahwa selama sita jaminan berlaku, penjualan terhadap harta bersama dapat dilakukan bila untuk kepentingan keluarga yang

bersangkutan dengan catatan harta berdasarkan izin Pengadilan Agama yang bersangkutan terlebih dahulu.

Pasal 96 Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa :

(1) Apabila terjadi cerai mati, maka separuh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama.

(2) Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau isteri yang isteri atau suaminya mempunyai hutang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama.

Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam :

Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

Pasal 96 dan 97 Kompilasi Hukum Islam menjelaskan kedudukan harta bersama apabila salah satu pihak, baik suami maupun isteri meninggal dunia, demikian juga halnya jika terjadi cerai hidup. Pada Pasal 96 Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bila salah seorang diantara suami isteri meninggal dunia, maka separuh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama. Pasal 96 Kompilasi Hukum Islam juga menjelaskan posisi harta bersama bila salah seorang pasangan suami isteri hilang. Jika ini terjadi, maka harta harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya secara hakiki atau secara hukum berdasarkan putusan Pengadilan Agama. Sementara itu Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam lebih khusus menjelaskan posisi harta bersama bila suami atau isteri cerai hidup. Pada pasal ini ditegaskan bahwa masing-masing pihak berhak mendapat seperdua dari harta bersama, kecuali diatur lain dalam perjanjian perkawinan.

Inilah ketentuan-ketentuan yang menurut M. Yahya Harahap dapat diringkas sebagai berikut :

1. Harta bersama terpisah dari harta pribadi masing-masing

a. Harta pribadi tetap menjadi milik pribadi dan dikuasai sepenuhnya oleh pemiliknya (suami atau isteri)

b. Harta bersama menjadi harta bersama suami isteri terpisah sepenuhnya dari harta pribadi.

2. Harta bersama terwujud sejak tanggal perkawinan dilangsungkan : a. Sejak itu dengan sendirinya terbentuk harta bersama

b. Tanpa mempersoalkan siapa yang mencari

c. Juga tanpa mempersoalkan atas nama siapa terdaftar

3. Tanpa persetujuan bersama : suami atau isteri mengasingkan atau memindahkan a. Hutang untuk kepentingan keluarga, dibebankan kepada harta bersama

b. Dalam perkawinan serial atau poligami, wujud harta bersama terpisah antara suami dengan masing-masing isteri.

4. Apabila perkawinan pecah (mati atau cerai) : a. Harta bersama dibagi dua

b. Masing-masing mendapat setengah bagian

c. Apabila terjadi cerai mati bagiannya menjadi tirkah d. Sita marital atas harta bersama di luar gugat cerai

Ketentuan ini perluasan dari Pasal 24 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1975. Suami isteri meminta sita marital kepada Pengadilan Agama apabila salah satu pihak boros atau penjudi.81

Di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang pembagian harta bersama yaitu surat An Nisa ayat (32) dijelaskan : “Bagi laki-laki mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan”.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa dalam penyelesaian terhadap harta bersama berdasarkan nash Al Qur’an, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Kompilasi Hukum Islam.

Dalam penjelasan di atas dapat diketahui Kompilasi Hukum Islam dijadikan sebagai hukum positif Pengadilan Agama. Untuk melihat bagaimana eksistensi dari penerapan Kompilasi Hukum Islam di dalam menyelesaikan sengketa harta bersama maka penulis melakukan wawancara dengan Muh. Arief Musi, Ketua Pengadilan

       81

Agama Klas I A Medan yang menyebutkan bahwa disamping Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Yurisprudensi Mahkamah Agung juga diterapkan Kompilasi Hukum Islam dalam penyelesaian harta bersama. Kompilasi Hukum Islam merupakan hukuman terapan yang lebih tepat diberlakukan di Indonesia dalam kasus harta bersama, tidak ada alternatif lain. Pada dasarnya hukum adat sama dengan aturan yang terkandung dalam Kompilasi Hukum Islam. Menurut beliau, harta bersama dalam fiqh Islam termasuk dalam kajian syirkah, meskipun tidak dalam konteks munakahat. Materi hukum harta bersama dalam Kompilasi Hukum Islam sudah dapat dikatakan memenuhi rasa keadilan. Nusyuz tidak menghilangkan hak atas harta bersama. Masing-masing pihak baik suami ataupun isteri berhak memperoleh bagian separuh.82

Sependapat dengan Irsan Mukhtar adalah pendapat Hilman Lubis (Panitera Pengadilan Agama Klas I A Medan). Berdasarkan wawancara yang dilakukan menambahkan bahwa hak wanita atas harta bersama berdasarkan Kompilasi Hukum Islam sudah tepat dan adil untuk saat ini. Berkaitan dengan pandangan fiqih Islam

Dokumen terkait