• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akselerasi Nilai-nilai dan Pendekatan Pendidikan Agama

GENEALOGI PENDIDIKAN TOLERANSI BERAGAMA

D. Akselerasi Nilai-nilai dan Pendekatan Pendidikan Agama

Manusia adalah mahluk sosial. Apakah kita suka atau tidak, hampir semua yang kita lakukan dalam segala aktifitas kehidupan kita, selalu berkaitan dengan orang lain. Sedikit sekali sesuatu yang kita lakukan benar-benar soliter dan sangat jarang kesempatan kita benar-benar hanya sendirian. Jadi kajian mengenai bagaimana kita dapat berinteraksi satu sama lain, dan apa yang terjadi ketika kita berinteraksi dengan orang lain adalah satu ikhwal paling mendasar yang menarik dalam kehidupan manusia.78

75 Khaled Abou El Fadl, The Place of Tolerance in Islam (Beacon Press, 2002), 3–5.

76 Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan (Penerbit Serambi, 2006), 27.

77 Andrew F. March, “Political thought, modern Islamic,” dalam Routledge

Encyclopedia of Philosophy, 1 ed. (London: Routledge, 2016), 1, https:// doi.org /10.

4324 /9780415249126-S111-1.

78 Pip Jones, Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Fungsionalisme hingga

Kajian-kajian interaksi sosial atau dalam bahasa lainnya di istilahkan dengan tatanan kehidupan masyarakat, baik dari segi posisi yang dipegangnya maupun yang berkaitan dengan tugas yang diembannya sebagai pelayan bagi masyarakat. Demikian juga kajian tentang Islam yang telah lama eksis di bumi nusantara ini, sangat berkaitan erat dengan kehidupan interaksi sosial masyarakat, karena memang sejarahnya Islam berkembang di Nusantara ini diawali dengan pola interaksi antara pendatang dengan pribumi.

Islam Indonesia merupakan realitas yang tidak lagi bisa diabaikan oleh para akademisi. Gelombang kembangkitan kembali Islam telah menerpa negeri ini sepanjang dua dekade terakhir sehingga semakin sulit untuk menyebut Islam sebagai sebuah kekuatan marginal yang berada di tepi peradaban Indonesia.79 Menurut Ibn Khaldun bahwa asfek agama dan kehidupan sosial kemasyarakatan sulit dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang. Untuk menguatkan pandangan tersebut, Ibn Khaldun menyebutkan bahwa suatu ikatan sosial, kohesi sosial dan solidaritas yang kukuh akan sangat ditentukan oleh saling keterkaitan antara nilai-nilai dasar kehidupan masyarakat, yaitu agama, dengan kata lain, solidaritas sosial akan ditentukan oleh dua hal utama yakni faktor kekerabatan atau keturunan dan kedua faktor agama, bahkan agama menempati posisi tersendiri dalam kajian Ibn Khaldun, kekerabatan dan keagamaan akan sirna, apabila solidaritas justru dibangun di atas nilai-nilai materialis dan kepentingan politik tertentu.80

Teori pertukaran (exchange), Homans menjelaskan hubungan-hubungan sosial, antara dua individu, atau antar kelompok. Pertukaran yang dimaksudkan oleh Homans adalah “pertukaran sosial” (Social exchange) yang tidak hanya melibat materi, melainkan merupakan pertukaran non-materi yang lazimnya terjadi dalam sebuah hubungan sosial. Pertukaran sosial tentu saja mengambil bentuk dan dimensi yang berbeda dengan pertukaran ekonomi, yang melibatkan emosi, namun menurut Homans tidak keluar dari prinsip dasar pertukaran dalam ekonomi yang asasnya adalah pilihan rasional. Jadi, fenomena sosial merupakan tindakan yang dilakukan individu yang diarahkan kepada orang lain, yang basis unit analisisnya adalah individu. Oleh karena itu, fenomena atau realitas sosial yang dijelaskan, dalam kategorisasi George Ritzer, adalah realitas sosial mikro-subjektif. Bukan struktur atau norma yang bekerja dalam hubungan sosial, melainkan pertimbangan stimulus respon, atau hadiah (reward) dan sangsi (punishment).81

79 Mark Woodward, Java, Indonesia and Islam, 1st ed, Muslims in Global Societies Series 3 (Dordrecht ; New York: Springer, 2011), 34.

80 Fuad Baali dan ʻAlī Wardī, Ibn Khaldun and Islamic Thought-Styles, a Social

Perspective (G.K. Hall, 1981), 21; Lihat juga: Wahyuni, Agama dan Pembentukan Struktur Sosial: Pertautan Agama, Budaya, dan Tradisi Sosial (Jakarta: Kencana, 2018),

4.

81 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Modern Sociological Theory (McGraw-Hill, 2004), 263.

Alain Locke memberikan kontribusi besar pada filosofi demokrasi progresif ketika ia menghadirkan komunitas manusia sebagai yang tak disederhanakan diatur dalam psikologis atau kelompok, pada gilirannya, membutuhkan prinsip-prinsip hubungan antar kelompok. Dengan demikian, Locke mengembangkan konsep timbal balik fungsional yang memungkinkan kita untuk mengevaluasi dinamika kelompok kurang demokratis. Ini adalah kemajuan dari teori demokrasi liberal klasik yang ditemukan dalam karya John Locke, di mana demokrasi adalah pengaturan antara individu yang dapat membangun demokrasi melalui prinsip toleransi.82

Lingkungan masyarakat juga menjadi unsur pendukung terpenting untuk menerapkan pendidikan yang rahmatan lil’ alamin, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ali Ahmad Madkur dalam kitabnya “Manahij at Tarbawiyah, Assasuha wa Tathbiqatuha” mengatakan bahwa konsep lingkungan masyarakat terdiri dari empat unsur penting yaitu:(a) Kumpulan orang-orang yang kemudian menjadi satu kelompok; (b) Interaksi sosial antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka; (c) Sistem/aturan yang dapat mengatur hubungan sosial antara yang satu dengan yang lainnya; (d) Keyakinan dan pemahaman sebagai ideologi terpenting yang akan membentuk lingkungam masyarakat yang bernilai dan berwibawa.83

Perdebatan teori tentang toleransi dalam kajian ini penulis menutupnya dengan apa yang telah dikemukakan oleh Harun Nasution, bahwa jiwa toleransi dapat dipupuk melalui usaha-usaha sebagai berikut: Mencoba melihat kebenaran yang ada di dalam agama lain, memperkecil perbedaan di antara agama-agama yang ada, menonjolkan persamaan-persamaan yang ada dalam agama-agama, memupuk rasa persaudaraan berdasarkan prinsip mahluk ciptaan Tuhan, memusatkan usaha pada pembinaan individu dan kelompok masyarakat menuju manusia yang baik menjadi tujuan beragama dari semua monoteis, mengutamakan pelaksnaan ajaran-ajaran yang membawa kepada menghargai sesama, menjauhkan praktek serang menyerang antar agama yang berbeda.84

Mencetak calon pemimpin bangsa tidak akan pernah terlepas dari kondisi pendidikan yang ada, siapa saja yang kini telah menjadi orang sukses atau mengemban jabatan yang tertinggi atau jabatan apa saja adalah hasil produk dari proses pendidikan yang selama ini masih terus berubah seiring dengan

82 Greg Moses, “Two Lockes Two Keys: Tolerance and Reciprocity in a Culture of Democracy,” dalam The Critical Pragmatism of Alain Locke, ed. oleh Leonard Harris, 1999, 278–299.

83 Tobroni dkk, Memperbincangkan Pemikiran Pendidikan Islam: Dari

Idealisme Substantif Hingga Konsep Aktual (Jakarta: Kencana, 2018), 201; Lihat juga:

’Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-tarbiyah al-Islamiyah: usuluhu wa-tatbiqatuh (Maktabat al-Falah lil-Nashr wa-al-Tawzi’, 2002).

84 Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran (Jakarta: Mizan, 1998), 275.

perkembangan zaman yang ada, namun di sisi lain praktek korupsi yang dilakukan oleh beberapa penguasa, baik dari tingkat pusat maupun daerah, merupakan cerminan dari produk pendidikan kita yang sudah mengalami hasil buram sangat tidak diinginkan sebagaimana tujuan pendidikan baik sebagai filosofis maupun sosiologis. Pendidikan selama ini hanya melihat sebagai momen ritualisasi yang cenderung tidak begitu signifikan, apalagi menghasilkan insan-insan pendidikan yang memiliki karakter manusia dan memiliki sifat toleran terhadap adanya perbedaan dalam setiap kegiatan sosial.

Berdasarkan uraian di atas sangat urgen untuk menjadikan pendidikan toleransi sebagai sebuah pelajaran khusus di pupuk dalam setiap jenjang pendidikan, baik tingkat pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Berbagai upaya dilakukan oleh stekholder lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan tersebut, karena keberhasilan sebuah lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh usaha-usaha oleh seluruh warga sekolah dalam menumbuh kembangkan solidaritas peserta didik dengan berbagai macam bakat yang mereka miliki, bakat inilah yang diasah di sekolah melalui kegiatan intar dan ekstra sekolah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dari pihak lembaga agar tidak terbengkalai waktu maupun jam pelajaran.

Bagan: 2. 1 Diskripsi Penelitian

Bagan: 2.1 kerangka pemikiran wujud toleransi berupa perilaku hormat menghormati, terbuka dan menghargai perbedaan individu dan kelompok masyarakat, dan tidak bersikap diskriminatif, dasar hukumnya yakni Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 tahun 2003 pasal 13 ayat 1, kemudian di ajarkan melalui pendidikan formal, nonformal, informal agar hasil sikap toleran terwujud dalam sikap: Menghormati hak dan kewajiban antar umat beragama, membangun sarana umum secara bersama, membantu korban kecelkaan dan korban bencana alam, memiliki sikap gotong royong, menghormati ibadah orang lain, tidak memaksakan agama kepada orang lain, tidak mudah terprovokasi oleh info dari media sosial, menerima pemimpin baik sekala lokal, maupun nasional yang sesuai dengan ketentuan yang sudah berlaku dan disepakati, meskipun berbeda dari suku, agama, ras dan golongan. Untuk lebih jelasnya model pembelajaran berbasis tuhan dan kepercayaan:

Bagan: 2. 2

Kurikulum Minaret College

Bagan 2.2 analisis tujuan pendidikan nasional secara umum, intinya bagaimana peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan berdasarkan kepercayaan agamanya, menganalisis pembelajaran berbasis agama (religion based learning), pembelajaran berbasis pribadi dan fisik sosial (physical personal and social learning), pembelajaran berbasis disiplin (discipline based learning), dan pembelajaran interdisipliner (interdisciplinary learning).85

85 Report to the Australian Government Department of Education, Science and Traning. Encouraging Tolerance and Social Cohesion through School Education, (Sydney, Erebus International, July 2006). 30.

http://www.curriculum.edu.au/verve/_resources/Encouraging_Tolerance_Final_ Report.pdf

BAB III

RELIGIUSITAS DAN MULTI ETNIS